BAB IV HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN DAN NOVELTY
4.2 Pembahasan
155 Berdasarkan perhitungan di atas maka dapat dilihat bahwa nilai е1 sebesar 0,793 yang artinya besarnya variabilitas yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel coping strategy dan kecemasan perawat terhadap kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi adalah sebesar 0,318, sedangkan untuk nilai е2 sebesar 0,854 yang artinya variabilitas yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel kecemasan perawat dan kepuasan kerja perawat terhadap kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi sebesar 0,854.
156 dalam rumah sakit, terdapat tenaga-tenaga medis yang bertugas untuk melayani orang yang mengalami gangguan kesehatan, antara lain dokter dan perawat. Dokter, datang merawat hanya sekedar untuk memeriksa dan memberi resep obat.
Sedangkan perawat, merawat secara keseluruhan terhadap pasien dilakukan oleh perawat. Hal tersebut menunjukkan bahwa perawat merupakan salah satu unsur yang vital dalam sebuah rumah sakit. Perawat merupakan salah satu dari beberapa pekerjaan yang memiliki tingkat stres kerja yang tinggi.
Temuan pertama dalam penelitian ini, kecemasan berpengaruh signifikan terhadap coping strategy. Kecemasan adalah perasaan khawatir, gugup atau gelisah tentang sesuatu dengan hasil yang tidak pasti dan dapat mengiringi, mempengaruhi atau menyebabkan depresi (Kajdy et al., 2020).
Kecemasan adalah rasa panik dan rasa takut merupakan bagian dari aspek emosional, sedangkan aspek mental atau kognitif yaitu timbulnya gangguan terhadap perhatian, rasa khawatir, ketidakteraturan dalam berpikir, dan merasa binggung (M. Ghufron & Risnawati, 2014). Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dirasakan oleh seseorang dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Gail W. Stuart, 2007). Kecemasan merupakan perasaan takut atau ketakutan yang tidak dapat dijelaskan dan merupakan respons terhadap stimulus internal dan eksternal yang memiliki tanda dan gejala perilaku, afektif, kognitif dan fisik. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa ansietas merupakan respons tubuh terhadap peristiwa yang terjadi, dimana respons tubuh terhadap peristiwa yang terjadi, dimana respons
157 tubuh tersebut lebih bersifat negatif sehingga menimbulkan ketidaknyamanan bagi klien (Zaini, 2019).
Respon psikologis yang dialami oleh petugas kesehatan terhadap pandemi penyakit menular semakin meningkat karena disebabkan oleh perasaan cemas tentang kesehatan diri sendiri dan penyebaran keluarga (Cheng et al., 2020). Hasil penelitian menyatakan bahwa dari 13 partisipan mengalami kecemasan karena persediaan pelindung belum terpenuhi saat melakukan tindakan kepada pasien. Tenaga kesehatan merupakan kelompok yang sangat rentan terinfeksi penyakit terutama penyakit menular karena berada di garda terdepan penaganan kasus, oleh karena itu mereka harus dibekali APD lengkap sesuai protokol dari WHO (World Health Organzation) sehingga kecemasan yang dialami berkurang.
Hasil penelitian lain selama wabah SARS akut terdapat 89% tenaga kesehatan yang berisiko tinggi mengalami gejala gangguan psikologis salah satunya kecemasan (Wong et al., 2004). Hasil Penelitian (Lai et al., 2020) tentang tenaga kesehatan beresiko mengalami gangguan psikologis dalam mengobati pasien Covid-19, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 50,4% responden memiliki gejala depresi dan 44,6% memiliki gejala kecemasan karena perasaan tertekan. Dalam mengatasi masalah kesehatan mental tenaga kesehatan, perlu dilakukan intervensi dengan membentuk tim medis dalam penanganan psikologis dan menerapkan model kepercayaan kesehatan untuk tenaga kesehatan (Cheng et al,2020).
158 Perasaan cemas dengan dialami oleh perawat dikarenakan mereka adalah garda terdepan yang dapat kontak dengan berbagai jenis penyakit. Perawat memiliki peran ganda bukan hanya sebagai tenaga kuratif yang harus memberika pelayanan kepada pasien saja namun sebagai seorang perawat juga memiliki peran, fungsi dan tanggung jawab pekerjaan pada organisasi tempat kerjanya secara baik sert mampu mengesampingan kondisi lainnya.
Seseorang dapat mengatasi stres dan kecemasan dengan menggerakkan sumber di lingkungan yang berupa modal ekonomi, kemampuan penyelesaian masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya (Stuart, 2007). Semakin tinggi kecemasan yang dialami seseorang maka mekanisme coping strategy yang ada didalam diri sesorang yang akan mengatasi kecemasannya. Mekanisme koping adalah salah satu cara yang dilakukan untuk beradaptasi terhadap stres (Wahyuni, 2017).
Coping strategy juga didefinisikan sebagai strategi untuk memanajeman tingkah laku kepada pemecahan masalah yang paling sederhana dan realitis, berfungsi untuk membebaskan diri dari masalah yang nyata dan tidak nyata, dan koping merupakan semua usaha kognitif dan perilaku untuk mengatasi, mengulangi dan tahan terhadap tuntutan-tuntutan (Trevino dkk. 2012). Respon individu dapat bervariasi tergantung pengetahuannya tentang perilaku coping.
Coping strategy dapat berfokus pada masalah atau menghadapi masalah secara langsung dan ada yang menyelesaikan masalah dengan mengandalkan emosinya. Pada perilaku koping yang kurang baik akan dapat memperparah kondisi seseorang seperti gelisah yang berlebihan sampai berteriak teriak, sesak
159 nafas, tekanan darah meningkat, denyut nadi cepat. Selain itu sesorang dapat mengalami gangguan dalam istirahat, terkadang terjadi halusinasi.
Usaha untuk mengatasi kecemasan tersebut yaitu dengan cara menggunakan coping strategy. Coping strategy merupakan cara yang dilakukan oleh individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri terhadap perubahan, dan respon terhadap situasi yang mengancam. Kemampuan coping diperlukan oleh perawat untuk menghindari kecemasan dan bertahan dalam lingkungan baru. Coping strategy yang dilakukan oleh perawat dalam menghadapi kecemasan sangat beragam tergantung dari masalah yang dihadapi.
Beberapa coping strategy yang dilakukan perawat dalam menghadapi lingkungan baru adalah dengan sering berkonsultasi dengan senior atau supervisor, dan teman sejawat. Perawat yang mengalami kecemasan berusaha untuk mengalihkan kecemasannya dengan beragam cara (coping strategy), seperti olahraga, mendengarkan musik, bermain gadged, nonton tv, nonton film, bermain game, shoping, jalan-jalan ke tempat wisata. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perawat menganggap kecemasannya sebagai kecemasan yang positif maka mereka akan lebih banyak menggunakan coping strategy dengan jenis problem focused coping. Sementara perawat yang menganggap kecemasannya sebagai kecemasan yang negatif maka mereka cenderung menggunakan coping strategy dengan jenis emotional focused coping.
Menurut (Ekawarna, 2018) terdapat tiga komponen coping sebagai berikut: Coping response adalah tindakan sengaja baik secara fisik maupun mental, yang terjadi sebagai respons atau stressor yang dirasakan, dan diarahkan
160 untuk mengubah peristiwa eksternal menjadi status internal. Coping goal adalah sasaran yang akan dicapai oleh respons coping. Sedangkan coping outcome adalah konsekuensi langsung, apakah itu baik atau buruk tentang respons coping.
Dari beberapa pendapat dan penelitian diatas menulis mencoba menyimpulkan, walaupun belum banyak literatur yang berkaitan atau meneliti mengenai apakah kecemasan itu berpengaruh terhadap kemampuan mereka dalam melakukan coping strategy permasalahan dalam diri namun penulis berkesimpulan bahwa coping strategy yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kecemasannya seperti dua sisi mata uang, apabila seseorang memiliki kecemasan tinggi tentunya dia juga akan mengalami kesulitan di dalam melakukan coping strategy terhadap dirinya namun juga bisa sebaliknya ketika dia mengalami kecemasan yang tinggi dia akan berupaya sebaik mungkin menghilangkan kecemasan tersebut ataupun melihat kecemasan tersebut sebagai sesuatu yang positif bagi dirinya.
Hal ini sejalan dengan kesimpulan (Ekawarna, 2018) yang menyatakan bahwa coping strategy sebagai tindakan yang disengaja secara fisik dan mental untuk mengubah peristiwa yang menyulitkan menjadi suatu yang baik. Proses dimana invidu mencoba melakukan suatu tindakan untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan, baik itu berasal dari dalam diri maupun yang berasal dari lingkungan dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi atau masalah.
161 Coping strategy merupakan cara bagi perawat untuk mengelola kecemasannya, ketika coping strategy yang digunakan tepat maka kecemasan menurun dan sebaliknya ketika coping strategy yang digunakan tidak tepat maka kecemasan meningkat. Coping strategy yang ditampilkan individu dapat berbeda-beda tergantung pada masalah yang dihadapi. coping strategy yang tepat dan dapat menyelesaikan masalah akan cenderung untuk diulangi jika perawat dihadapkan pada masalah serupa dimasa mendatang. Sebaliknya jika coping strategy yang digunakan tidak tepat dengan situasi dan kondisi yang dialami, maka perawat tersebut akan kurang dapat mengatasi tekanan dan tuntutan yang ada.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sumbangan efektif coping strategy terhadap kecemasan 34,6 % yang diperoleh dari data koefisien determinan (R square) sebesar 0,346. Hal ini berarti masih terdapat 65,4%
variabel lain yang dapat memengaruhi kecemasan di luar variabel coping strategy seperti yang terdapat dalam faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan antara lain: frustrasi, konflik, ancaman, harga diri dan lingkungan (Schultz D, 1986)
Secara keseluruhan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memahami hasil penelitian ini; Pertama, penelitian hanya dilakukan terbatas pada subjek yang melakukan pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi, sehingga lingkup generalisasinya menjadi sempit. Kedua, sumbangan efektif yang rendah menunjukkan bahwa variabel bebas dalam penelitian ini bukan merupakan faktor utama yang mempengaruhi intervening.
162 Kelebihan dari penelitian ini adalah bahwa hipotesis yang diajukan telah terbukti yaitu terdapat pengaruh antara kecemasan terhadap coping strategy dengan kecemasan. Hal ini semakin menguatkan bahwa coping strategy itu akan mendapatkan perhatian bagi perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi.
Temuan kedua penelitian ini adalah terdapat pengaruh signifikan stres kerja terhadap coping strategy. Menurut (Lazarus, Richard S and Folkman, 1984) mendefinisikan stres sebagai hubungan antara seseorang dan lingkungannya, yang dinilai sebagai beban dan membahayakan kesehatannya.
Mereka menyebutkan tiga tahap penilaian kognitif yang terjadi selama situasi stres sehingga berdampak pada kesejahteraan, yaitu penilaian primer, penilaian sekunder, dan penilaian ulang. Dalam hal ini artinya semakin tidak mampu seseorang mengendalikan beban dan membahayakan sesorang maka semakin sulit bagi sesorang untuk melakukan kontrol terhadap dirinya dan sebaliknya semakin mampu sesorang mengendalikan beban yang membahayakan kesehatan mereka maka semakin mengurangi stres yang mereka alami.
Stres adalah suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang (Robbins, 2003). Pengertian stres kerja adalah situasi faktor yang terkait dengan pekerjaan, berinteraksi dengan faktor dari dalam individu dan mengubah kondisi fisiologi dan psikologi sehinggga keadaannya menyimpang dari normal. Stres kerja dikategorikan apabila seseorang mengalami stres melibatkan juga pihak organisasi tempat orang yang
163 bersangkutan bekerja, Setiap aspek dari lingkungan kerja dapat dirasakan sebagai stres oleh tenaga kerja, tergantung dari persepsi tenaga kerja terhadap lingkungannya, apabila ia merasakan adanya stres ataukah tidak. Stres kerja timbul akibat tidak terwujudnya kepuasan kerja dari pekerjaannya. Stres kerja perlu sedini mungkin diatasi oleh pimpinan agar hal-hal yang merugikan organisasi dapat diatasi.
Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seseorang yang mengalami stres menjadi nervous dan mera-sakan kekuatiran kronis. Mereka sering menjadi marah-marah, agresif, tidak dapat relaks, atau memperlihatkan sikap yang tidak kooperatif. Stres dapat terjadi pada hampir semua pekerja, baik tingkat pimpinan maupun pelaksana, termasuk dalam penelitian ini adalah perawat di rumah sakit. Kondisi kerja yang lingkungannya tidak baik sangat potensial untuk menimbulkan stres bagi pekerjanya. Stres dilingkungan kerja memang tidak dapat dihindarkan, yang dapat dilakukan adalah bagaimana mengelola, mengatasi atau mencegah terjadinya stres tersebut, sehingga tidak menganggu pekerjaan inti sebuah profesi (Notoatmodjo, 2007).
Perawat sebagai sumber daya manusia yang bekerja di rumah sakit, dalam melaksanakan pekerjaannya dihadapkan pada kondisi-kondisi (karakteristik organisasi) yang dapat menimbulkan stres kerja. Menurut Highley dalam (Sanchez-Vega et al., 2018) perawat secara alamiah merupakan profesi yang penuh dengan stres, berdasarkan hasil observasinya sebagai berikut : Setiap hari perawat berhadapan dengan penderita yang kaku, duka cita dan kematian,
164 banyak tugas-tugas perawat tidak diberi penghargaan, tidak menyenangkan dan penuh tekanan, sering diremehkan, menakutkan.
Stres merupakan realitas kehidupan setiap hari. Setiap orang tidak dapat terhindar dari stres. Setiap orang pernah stres dan akan mengalaminya, akan tetapi kadarnya berbeda-beda serta dalam jangka waktu yang tidak sama. Stres sendiri dapat berakibat baik atau buruk pada individu, tergantung pada penilaian dan daya tahan individu terhadap hal, peristiwa, orang dan keadaan yang potensial atau netral kandungan stresnya.
Berdasarkan hal tersebut, maka setiap individu akan mengalami stres karena adanya stimulus (stressor), dimana stimulus tersebut dapat menimbulkan perubahan atau masalah (stres) yang memerlukan cara menyelesaikan atau menyesuaikan kondisi terhadap masalah tersebut (Coping) sehingga individu dapat menjadi lebih baik. Secara garis besar ada dua coping stres, yaitu coping fokus pada masalah dan coping fokus pasa emosi. Individu yang kepribadiannya kuat mempunyai koping stres yang bagus dibanding orang yang kepribadiannya lemah. Coping fokus pada masalah dan coping fokus pada emosi akan lebih ideal apabila ada kombinasi dari kedua jenis coping, problemnya harus dihadapi, suasana hati harus ditangani juga. Ada kalanya saat seseorang stres perlu rekreasi menenangkan pikirannya, alihkan dulu ke emotional coping agar lebih tenang dan rileks setelah itu kembali pada masalahnya.
Coping strategy yang paling sering digunakan adalah pemecahan masalah, diikuti oleh dukungan sosial dan restrukturisasi kognitif. Menurut Folkman dan Lazarus, pemecahan masalah adalah salah satu cara yang lebih
165 efektif untuk mengatasi stres karena berfokus pada perilaku untuk mengelola atau mengubah masalah.(Lazarus, Richard S and Folkman, 1984). Dalam hal hubungan antara stres yang dirasakan dan strategi coping strategy, dalam hasil penelitian (Onieva-Zafra et al., 2020) menunjukkan bahwa di antara tiga domain ini (pemecahan masalah, restrukturisasi kognitif dan dukungan sosial) ada korelasi terbalik, yang menunjukkan bahwa orang yang menderita lebih sedikit stres, akan lebih sering menggunakan strategi ini. Demikian pula, korelasi positif dengan domain berikut menunjukkan bagaimana orang dengan stres yang lebih besar memiliki lebih banyak sifat dan keadaan kecemasan dan menggunakan strategi seperti angan-angan, kritik diri, penarikan sosial dan penghindaran masalah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prediktor terbesar dari stres yang dirasakan adalah sifat kecemasan. Adapun domain atau strategi yang digunakan untuk mengatasi stres, dalam penelitian kami, penggunaan strategi tertentu, seperti pemecahan masalah dan restrukturisasi kognitif, dianggap sebagai prediktor stres yang lebih sedikit, sedangkan penggunaan angan-angan muncul sebagai faktor prediktif stres yang lebih besar.
Meskipun stres tidak dapat sepenuhnya dihilangkan dari kehidupan sehari-hari, cara yang tepat untuk mengatasinya dapat dilakukan untuk menguranginya (Lin et al., 2010). Stres di tempat kerja disebut sebagai stres kerja dan diakui di seluruh dunia sebagai masalah utama yang dihadapi petugas kesehatan (Khamisa et al., 2015). Keperawatan telah diidentifikasi sebagai pekerjaan dengan tingkat stres yang tinggi, terutama dalam pengaturan psikiatri
166 karena struktur dan layanan kesehatan mental sangat tidak stabil (Burke &
Greenglass, 2001). Menurut (Nayomi, 2016) menyatakan bahwa stres melibatkan persepsi individu terhadap tuntutan dan kemampuan yang tersedia untuk menangani stresor, sementara, (Lee et al., 2014) menggambarkan stres kerja sebagai kekuatan apa pun yang menggerakkan faktor psikologis atau fisik di luar jangkauan kemampuan, mengakibatkan ketegangan. Masalah-masalah ini berasal dari tuntutan tertentu dari lingkungan kerja dalam pengaturan kesehatan mental dan masalah dalam memenuhi tuntutan tersebut.
Dampak negatif dari stres kerja diamati pada kesehatan mental profesional (kelelahan, ketidakpuasan kerja, gangguan muskuloskeletal) dan dalam organisasi sebagai ketidakhadiran dan pengurangan efisiensi dan kinerja (Edwards & Burnard, 2003). Selain stresor yang dilaporkan oleh perawat umum, bekerja di lingkungan tertutup dikaitkan dengan stres tambahan yang dirasakan karena tingginya tingkat agresi pasien, kekerasan, ketidakpastian dan bahaya bagi diri mereka sendiri atau orang lain (Mathew et al., 2013)
Berdasarkan hasil pengujian struktural atau inner model diketahui bahwa variabel Kecemasan berpengaruh secara signifikasi terhadap variabel Kinerja Perawat di Rumah Sakit Abdul Manap Kota Jambi. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai coefficient beta sebesar 0,318 dan tingkat signifikan sebesar 0,000 Temuan ketiga penelitian ini adalah terdapat pengaruh signifikan kepuasan kerja terhadap coping strategy. Kepuasan kerja merupakan keadaan mental sesorang merasa nyaman baik dengan kondisi kerja, hubungan antar pribadi, gaji dan kebijkan rumah sakit tentunya apabila hal – ini terpeuhi
167 dengan baik akan berimplikasi kepada kesiapan sesorang dalam menghadapi tekanan kesiapan menghadapai dan menyesuaikan diri merupakan copping stres yaitu kemampuan sekorang dalam memelihara stres dalam batas optimum.
Hidup yang naik-turun tetap dapat di- atur dengan seimbang. Kepuasan kerja dan kebutuhan berprestasi memungkinkan seseorang untuk melakukan pekerjaan sehari-hari dengan penuh semangat, gairah, dan tanpa banyak kesulitan walaupun merasa dilanda kelelahan.
Menurut (Cox, T., Griffiths, A., & Leka, 2005) melaporkan bahwa peningkatan terjadinya konflik intragrup dan tidakmampuan sesorang dalam melakukan coping menyebabkan kurangnya kepuasan kerja di kalangan perawat.
Konflik di bidang keperawatan dikaitkan dengan pergantian pekerjaan yang lebih tinggi, penurunan komitmen kerja, ketidakhadiran, peningkatan keluhan, orientasi staf keperawatan terus-menerus, dan pertimbangan untuk meninggalkan profesinya. Studi terbaru menyimpulkan bahwa perawat di Kanada telah mengurangi jam kerja mereka karena konflik, dan perawat di Jepang meninggalkan peran mereka saat ini sebagai akibat konflik yang belum terselesaikan (Almost, 2006). Kepuasan dan retensi sangat penting bagi petugas kesehatan.
Sejauh ini penelitian banyak menekankan pada perlakukan coping mempengaruhi kepuasan diantarnya Kemampuan memilih strategi coping dipengaruhi oleh dukungan sosial, strategi-strategi menyelesaikan tugas, pemikiran logis, hubungan keluarga dan pekerjaan, manajemen waktu, dan keterlibatan. Proses tersebut selanjutnya akan menghasilkan dampak baik secara
168 individual maupun organisasi. Dampak terhadap individu meliputi: sakit mental, sakit fisik, kepuasan kerja, meningkatnya prestasi, nilai dan pertumbuhan kerja itu sendiri, desain dan struktur organisasi, serta proses organisasi dan hubungan personal. Sedangkan dampak terhadap organisasi meliputi: moral rendah, menurunnya kinerja, tingkat kepindahan meningkat, meningkatnya kemangkiran, dan menurunnya efesiensi (Ekawarna, 2018))
Model Jerrold S. Greenberg (2002) menunjukkan bahwa kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja merupakan suatu bipolar attitude continum, atau rangkaian kesatuan sikap yang mempunyai dua kutub. Keduanya sama-sama merupakan dampak dari stres jabatan. Dengan demikian, stres jabatan dapat dirasakan oleh individu sebagai hal yang positif, yaitu meningkatkan kepuasan kerja individu atau dirasakan sebagai hal yang negatif, yaitu menurunkan kepuasan kerja individu. Dalam hal ini kemampuan dari seseorang bangkit dari rasa kepuasan kerja yang negatif dan manjadikanya sesuatu yang positif tentunya sangat dibutuhkan kepuasan kerja yang menurun tentunya akan meningkat apabila strategi coping yang tepat dapat dilakukan.
Temuan kekempat daripenelitian ini terdapat pengaruh siginifikan kecemasan terhadap kinerja. Kecemasan menurut (Taylor, 1995) yaitu perasaan tegang dan gelisah dengan tidak adanya kemampuan mengatasi suatu masalah atau merasa tidak aman. Perasaan yang tidak menentu ini umumnya tidak menyenangkan dan menimbulkan perubahan pada fisiologis dan psikologis.
Seseorang akan merasa cemas ketika dirinya tidak siap dalam menghadapi ancaman atau tekanan.
169 Kecemasan adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya.
Kecemasan juga merupakan kekuatan yang besar dalam menggerakkan tingkah laku, baik tingkah laku yang menyimpang ataupun yang terganggu. Kedua-duanya merupakan pernyataan, penampilan, penjelmaan dari pertahanan terhadap kecemasan tersebut (Gunarsa, Singgih, 2011)
Kecemasan dialami ketika berfikir tentang sesuatu tidak menyenangkan yang akan terjadi. Respon psikologis yang dialami oleh petugas kesehatan terhadap pandemi penyakit menular semakin meningkat karena disebabkan oleh perasaan cemas tentang kesehatan diri sendiri dan penyebaran keluarga (Cheng et al., 2020).
Kecemasan adalah perasaan khawatir, gugup atau gelisah tentang sesuatu dengan hasil yang tidak pasti dan dapat mengiringi, mempengaruhi atau menyebabkan depresi (Kajdy et al., 2020).
Pandemi Covid-19 telah menyebar luas ke seluruh wilayah Indonesia dan menyebabkan kekhawatiran khususnya di bidang kesehatan. Para professional kesehatan khususnya perawat mengalami dampak psikologis selama masa pandemi ini karena mereka berada di garda terdepan dalam penanganan pasien Covid-19. Penelitian sebelumnya telah menyatakan adanya dampak psikologis yang dalam dan luas pada tingkat individu, komunitas, dan internasional selama wabah infeksi.
Menurut (Pinggian et al., 2021) telah melakukan penelitian pada tahun 2020 dengan metode literatur review dengan merangkum hasil dari beberapa penelitian lain sebelumnya mengenai dampak psikologis yang dialami perawat dan tenaga kesehatan lain. Hasilnya adalah ditemukan prevalensi dampak
170 psikologis seperti stress, kecemasan, depresi ringan hingga berat pada tenaga kesehatan selama masa pandemic.
Selain terjadi kekhawatiran akan keselamatan pribadi mereka, petugas kesehatan juga cemas tentang menularkan infeksi kepada keluarga mereka.
Kecemasan merupakan reaksi yang wajar muncul pada kondisi yang mengancam dan tidak terduga seperti pada wabah pandemi coronavirus.
Banyaknya pasien dan tenaga kesehatan yang terinfeksi Covid-19 dan jumlah kematian yang tinggi juga membawa ketakutan tersendiri pada perawat.
Dampak psikologis yang muncul berupa stress dan kecemasan pada perawat selama merawat pasien di masa pandemi Covid-19 dan merupakan penyebab potensial terjadinya masalah kesehatan mental bagi perawat. Kinerja perawat akan terpengaruh dan pelayanan kesehatan menjadi tidak maksimal karena semakin tinggi kecemasan yang dialami oleh perawat maka akan semakin sulit dalam menjalankan tugas pelayanan kesehatannya.
Pelayanan yang baik tidak terlepas dari adanya kinerja perawat dalam memberikan pelayanan yang baik. Nursalam menyatakan kunci utama dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan adalah perawat mempunyai kompetensi dan kinerja yang tinggi. Kinerja perawat dalam hal ini adalah dapat melakukan asuhan keperawatan yang baik dan sesuai standart operasional prosedur (Nursalam, 2012). Kinerja perawat juga merupakan kemampuan dan keterampilan yang berkaitan dengan uraian tugas seorang perawat berdasarkan lima proses standar asuhan keperawatan yaitu pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi keperawatan.
171 Kinerja perawat sangat ditentukan oleh faktor psikologis perawat yaitu kecerdasan emosional, oleh karena itu kesehatan mental perawat sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kinerja perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan. Dampak psikologis yang dialami secara langsung dikhawatirkan dapat menghambat kemampuan perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perawat di RS Abdul Manap Jambi sudah dapat mengatasi kecemasan secara profesional sehingga tidak mempengaruhi hasil kinerjanya, walaupun dengan tugas, kewajiban dan beban kerja yang berat perawat dapat meminimalkan kemungkinan adanya benturan dan tekanan dalam pekerjaannya tersebut. Adanya insentif yang sepadan dengan beban kerja yang diberikan RS Abdul Manap Jambi kepada perawat, sehingga dapat memacu motivasi karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin. Hal ini berarti bahwa tinggi rendahnya kecemasan yang dimiliki perawat tidak mempengaruhi kinerja perawat itu sendiri.
Temuan kelima dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh signifikan kepuasan kerja terhadap kinerja. Menurut (Kotler & Keller, 2005), kinerja organisasi didefinisikan dalam hal pengembalian rata-rata atas modal yang diinvestasikan, pertumbuhan tahunan laba bersih dan apresiasi harga saham.
Kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja karena pada dasarnya kinerja merupakan faktor ekstenal yang dibutuhkan untuk mencapai suatu kondisi yang nyaman dalam bekerja. Kinerja meliputi aspek fisik dan non fisik.
Faktor fisik dibutuhkan tenaga kependidikan untuk dapat melayani dengan baik
172 dan mencapai kenyamanan dalam bekerja. Sedangkan aspek non fisik meliputi hubungan dengan mahasiswa dan dosen adalah faktor yang akan berpengaruh pada kenyamanan bathin yang dirasakan tenaga kependidikan sebagai manusia dengan jiwa ingin bersosialisasi. Sosialisasi adalah sifat dasar manusia sehingga apabila nyaman dan terjadi hubungan sosialisasi yang harmonis sudah tercapai akan menimbulkan kepuasan dalam bekerja.
Pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja mengkonfirmasi model organizational behaviours. Pegawai akan bekerja secara maksimal apabila tempat bekerja nyaman dan mendukung karena pegawai merasa puas dengan lingkungan kerja yang ada. Kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: pekerjaan yang menantang, penghargaan, kondisi lingkungan kerja dan hubungan interpersonal (Kreitner & Kinicki, 2007). Selain itu gaji dan kondisi kerja yang meliputi karakteristik pekerjan yang baik secara fisik dan non fisik sangat diharapkan oleh tenaga kependidikan untuk bekerja secara maksimal, begitu pula sebaliknya jika lingkungan berkerja buruk maka tenaga kependidikan tidak akan mempunyai kepuasan dalam bekerja oleh sebab itu keadaan maupun situasi yang ada disekitar tenaga kependidikan dalam bekerja harus dijaga sebaik mungkin agar tenaga kependidikan akan merasa nyaman dalam bekerja.
Kinerja seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dan salah satunya adalah faktor kepuasan kerja. Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan hal yang bersifat individual, setiap individual memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda-beda sesuai dengan keinginan dan sistem nilai yang dianutnya.