• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian 1. Pembahasan Khusus

PELAKSANAAN PELATIHAN

D. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Pembahasan Khusus

1.1. Hasil Studi Pendahuluan

Berdasarkan deskripsi data hasil studi pendahuluan pada lokasi uji coba dari 6.503 penduduk desa Suntenjaya, terdapat 670 jiwa atau 180 kepala keluarga yang tinggal di kampung Pasir Angling. Penduduk kampung Pasir Angling yang dijadikan sasaran uji coba model, rata-rata sebelumnya bermata pencaharian sebagai petani hortikultura penggarap lahan Perhutani dengan jenis sayur-sayuran (kubis, kentang, tomat, cabai dan sawi). Namun semenjak diberlakukannya larangan dari pemerintah daerah untuk menggarap lahan dengan jenis tanaman tersebut, masyarakatnya lebih banyak menganggur. Dari gambaran tersebut, menunjukkan bahwa menganggurnya masyarakat diakibatkan tingkat kemampuan masyarakat petani yang masih sangat terbatas sehingga tidak mampu untuk mengembangakan kejenis komoditas lain sesuai anjuran pemerintah daerah.

Rendahnya kemampuan masyarakat petani tersebut berkaitan erat dengan kurangnya keterlibatan mereka dalam aktivitas lain untuk mengembangkan keterampilannya selain bertani sayuran. Dari studi awal yang dilakukan juga menunjukkan kalau keterlibatan masyarakat petani penggarap dalam aktivitas bidang pertanian dan yang lainnya masih belum dilakukan secara optimal. Anggota masyarakat masih tertap mengharapkan agar diperbolehkan untuk melakukan aktivitas seperti

bertani sayur-sayuran. Sedangkan untuk melakukan kegiatan lain, seperti beralih usaha dengan jenis komoditas lain, selain kemampuan dan keterampilan yang belum dimiliki dengan baik juga terbentur pada masalah modal atau baya. Di samping itu, rendahnya tingkat pendidikan turut mempersulit masyarakat untuk melakukan aksesibilitas dan pasar, sehingga masyarakat kampung Pasir Angling lebih memilih bekerja serabutan atau menjadi kuli cangkul di lahan petanian lain yang tidak terkena larangan. Kegiatan inipun tidak memberi jaminan, karena keberadaannya yang musiman atau tidak tetap.

Melihat kondisi masyarakat Pasir Angling yang serba terbatas tersebut, maka perlu diberdayakan dalam bentuk pelatihan keterampilan Dengan pelatihan keterampilan, masyarakat akan memiliki pengetahuan dan keterampilan baru yang dapat dijadikan sumber usaha menggantikan usaha sebelumnya. Dari sepuluh warga belajar yang dijadikan subjek dalam penelitian ini pada awalnya hanya menginginkan diberikannya pelatihan keterampilan bertani pisang. Namun mengingat hasil panen yang cukup lama sementara kebutuhan pokok harus segera terpenuhi, mereka mengharapkan diberikan jenis pelatihan yang lebih cepat mendatangkan hasil. Setelah diadakan pendekatan kepada beberapa instansi terkait dan calon nara sumber seperti Dinas Pertanian, BLKP, BBDAH, dan BPPLS, dan calon warga belajar sendiri, maka disepakati untuk menambah kegiatan dari bertanam pisang, ditambah dengan usaha beternak sapi dan kelinci serta keterampilan berjual beli. Alasan

pengembangan usaha ini selain adanya keterkaitan antara keterampilan yang satu dengan yang lain, dan adanya dukungan dari berbagai pihak, juga usaha tersebut tidak dilarang. Keempat jenis keterampilan yang akan dijadikan usaha, dilatihkan dalam satu paket pelatihan keterampilan secara terpadu. Di samping itu, hasil dari salah satu jenis keterampilan yang dilatihkan seperti keterampilan berjual beli, setelah selesai pelatihan dapat langsung mereka terapkan dan dapat langsung dinikmati hasilnya. Keterampilan jual beli dilakukan dengan melakukan jual beli pisang yang dibeli dari desa Suntenjaya dan desa lain, dikumpulkan, lalu dijual kepasar. Kegiatan ini dilakukan sambil menjalankan dan menunggu usaha yang lain mendatangkan hasil.

Dalam penyusunan program pelatihan yang diberikan sebagai upaya pemberdayaan, keterlibatan masyarakat merupakan hal yang penting. Dengan melibatkan masyarakat dalam penyusunan program tentu akan mendapatkan dukungan terhadap pelaksanaan rencana program yang akan diberikan. Pernyataan ini sejalan dengan ungkapan Boone dan Shearon, (1973), dan Boyle, (1981) ; bahwa dukungan masyarakat diperlukan untuk (1) mendapatkan persetujuan pada rencana yang telah dibuat dan mempermudah pelaksanaan, (2) membuat keputusan tentang situasi, dan atau arah/pemecahan bagi kebutuhan-kebutuhan serta masalah-masalah yang telah dirumuskan, (3) memberi kesempatan memperoleh pengalaman belajar pada anggota masyarakat

tani yang dilibatkan dalam perencanaan maupun pelaksanaan program kegiatan belajar.

Kegiatan pembelajaran dan pelatihan diperlukan, karena dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Prinsip-prinsip yang dilakukan pada pembelajaran dan pelatihan harus mengacu kepada keberpihakan kepada masyarakat atau kelompok, yaitu bersifat informal dan terbuka, prinsip kemitraan, saling menghargai, ketauladanan, kepemimpinan, keberlanjutan, saling membelajarkan dan belajar berdasarkan pengalaman.

1.2. Hasil Ujicoba Model

Penguji cobaan model dilakukan sebanyak dua kali, yaitu melalui uji coba tahap pertama dan kedua. Pada prinsipnya kegiatan uji coba tahap petama sama dengan tahap kedua, hanya pada uji coba tahap pertamma waktunya lebih terbatas. Materi yang diuji cobakan yaitu: selain kegiatan teoritis juga kegiatan teknis dengan mempraktekkan langsung seperti, memilih dan melakukan pembibitan pisang dari anakan dan bonggol, penyemaian dan penanaman, pemanenan, pemilihan bibit sapi dan kelinci yang baik untuk digemukkan dan dibudidayakan, serta cara melakukan jual beli hasil dari yang mereka jalankan. Sedangkan kegiatan non teknis lainnya yang dilakukan pengujian adalah; menguji bahan belajar (modul) yang telah dipersiapkan. Jenis pengujian untuk melihat keterbacaan, pemahaman, bentuk dan isinya.

Hasil penilaian pada ujicoba tahap pertama menunjukkan kalau pengetahuan peserta pelatihan secara umum sesuai materi yang diujicobakan, ternyata masih banyak yang belum memahami benar dan belum terampil. Dari 60 item yang diujicobakan baik yang dilakukan secara tertulis dan melalui observasi sebelumnya rata-rata baru menguasai : untuk pengetahuan 13,5 (54 %), keterampilan 38,7 (38,7 %) dan sikap 22,6 (66,6 %). Setelah diberilkan pelatihan dan dilakukan post-test dari kegiatan ujicoba tahap pertama, para warga belajar sudah menunjukkan peningkatan, yaitu rata-rata: untuk pengetahuan 19 (76 %), keterampilan 71,5 (71,5 %) dan sikap 32,9 (82,25 %).

Sedangkan hasil pengujian bahan belajar yang sebelumnya dari keempat jenis keterampilan dijadikan satu, secara umum peserta menyarankan agar dipisahkan menjadi beberapa bagian sesuai jenis keterampilan yang dikembangkan. Untuk bentuk yang sebelumnya ukuran folio diubah menjadi ukuran kwarto, dan isi bahan belajar seperti kalimat agar lebih disederhanakan.

Dari hasil uji coba tahap pertama menunjukkan kalau model layak untuk dikembangkan, namun masih ada beberapa faktor yang perlu diperbaiki, diantaranya seperti: (1) tutor tidak terlalu mendominasi jalannya pelatihan, atau warga belajar diberi kebebasan untuk beraktifitas dan bertanya, dan (3) pelatihan harus lebih berorientasi untuk melihat hasil dari pada proses, dan pembagian tugas agar diberikan secara merata kepada seluruh anggota kelompok belajar.

Setelah dilakukan revisi berdasarkan hasil uji coba tahap pertama, maka di dalam uji coba tahap kedua warga belajar telah banyak dan mampu menguasai materi baik teori maupun praktek. Hasil ini terlihat adanya peningkatan rata-rata pada evaluasi akhir (post-test) seperti : untuk pengetahuan menjadi 23 (92 %) keterampilan 78,6 (78,6) dan sikap 34,9 (87,25 %). Keberadaan bahan belajar sebagai pendukung pelatihan juga dianggap peserta selain lebih menarik dan sederhana, juga dirasa lebih mudah untuk dipahami.

1.3. Keefektifan Model Pelatihan

Hasil analisis deskriptif dilakukan dengan membandingkan data dari setiap evaluasi pertama dan kedua, yang dilanjutkan dengan melakukan perbandingan atau melihat perbedaan dengan uji statistik non parametrik (uji wilcoxon). Dengan uji wilcoxon dapat dijadikan sebagai petunjuk mengenai seberapa jauh keefektifan dari model pelatihan keterampilan usaha terpadu yang dikembangkan terhadap kemampuan petani dalam beralih komoditas.

Hasil implementasi model pelatihan keterampilan usaha terpadu ternyata mampu memberdayakan masyarakat dalam mengembangkan kemampuan berusaha. Analisis pengujian efektifitas dilakukan dengan melihat: (1) hasil perhitungan tiga aspek seperti; pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari warga belajar, dan (2) nilai rata-rata dari ketiga aspek. Dari hasil perhitungan memperlihatkan terdapat

peningkatan atau perbedaan dan yang signifikan pada warga belajar, yang hasilnya bila dibandingkan antara sebelum dan sesudah diberikan pelatihan, adalah sebagai berikut:

a) Pengetahuan :

Pada aspek pengetahuan, sebelum dilakukan tindakan uji coba tahap kedua kepada warga belajar terlebih dahulu diberikan tes tertulis dengan menggunakan pilihan berganda. Tes ini dilakukan dengan mengambil hasil tes akhir dari hasil uji coba tahap pertama untuk dijadikan sebagai awal atau sebagai ukuran kemampuan awal pada tahap kedua. Dari hasil tes tertulis tersebut, yaitu hasil dari sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dimasukkan kedalam tabel penolong untuk tes wilcoxon. Dari 25 item pertanyaan yang diberikan, diperoleh nilai rata-rata (jumlah jawaban benar dibagi jumlah peserta) sebesar 19. Setelah dilakukan tindakan diperoleh rata-rata sebesar 23, dengan jenjang terkecil adalah 0. Dengan demikian dari tabel kritis uji wilcoxon untuk n = 10, dengan kesalahan alfa 0,05 maka T tabel = 8. Karena jenjang terkecil adalah 0, dan ternyata lebih kecil dari 8, maka terdapat perbedaan pengetahuan warga belajar antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan (Ho ditolak). Dengan demikian perbedaan yang dimaksud adalah terdapat perubahan positif dari pengetahuan warga belajar.

b) Keterampilan :

Pada aspek keterampilan, dari 25 item pernyataan yang dituangkan kedalam lembaran observasi dan diuji menggunakan skala likert dengan empat pilihan kecakapan. Hasil tes sebelum dan sesudah dilakukan tindakan melalui skala likert tersebut, dimasukkan kedalam tabel penolong untuk tes wilcoxon. Hasil sebelum dilakukan tindakan uji coba tahap kedua (hasil akhir tahap satu) terhadap warga belajar diperoleh nilai rata-rata sebesar 71,5 dan setelah dilakukan tindakan diperoleh nilai rata-rata sebesar 78,6, dengan jenjang terkecil 0. Dengan demikian dari tabel kritis uji wilcoxon untuk n = 10, dengan kesalahan alfa 0,05 maka T tabel = 8. Karena jenjang terkecil adalah 0, dan ternyata lebih kecil dari 8, maka terdapat perbedaan keterampilan warga belajar antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan (Ho ditolak). Dengan demikian perbedaan yang dimaksud adalah terdapat perubahan positif dari keterampilan warga belajar.

c) Sikap:

Pada aspek sikap, pengujiannya juga dilakukan menggunakan pernyataan yang dituangkan kedalam skala likert melalui empat pilihan sikap. menunjukkan adanya peningkatan atau perubahan sikap dari warga belajar walaupun tingkat signifikannya relatif kecil. Hasil sebelum dan sesudah dilakukan tindakan melalui skala likert ini juga dimasukkan kedalam tabel penolong untuk tes wilcoxon. Dari 10 item pernyataan

yang diberikan, perolehan rata-rata warga belajar sebelum dilakukan tindakan uji coba tahap kedua adalah 32,9 dan setelah dilakukan tindakan diperoleh nilai rata-rata sebesar 34,9, dengan jenjang terkecil tetap 0. Dengan demikian dari dari tabel kritis uji wilcoxon untuk n = 10, dengan kesalahan alfa 0,05 maka T tabel = 8. Karena jenjang terkecil adalah 0, dan ternyata lebih kecil dari 8, maka terdapat perbedaan sikap warga belajar antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan ( Ho ditolak). Dengan demikian perbedaan yang dimaksud adalah terdapat perubahan positif dari sikap warga belajar.

Dengan mencermati hasil-hasil perhitungan tersebut, terhadap kelompok yang diberikan tindakan, terdapat perbedaan antara sebelum dan sesudah diberikan tindakan. Perbedaan tersebut merupakan efek dari model pelatihan keterampilan usaha terpadu, dimana efek model pelatihan yang dikembangkan memberikan dampak positif kepada warga belajar. Hasil analisis ini dapat menjawab permasalahan dalam penelitian, bahwa model pelatihan keterampilan usaha terpadu dalam memberdayakan masyarakat tani mengembangkan kemampuan berusaha terbukti efektif.

2. Pembahasan Umum

Penelitian ini secara praktis bertujuan untuk memberdayakan masyarakat petani penggarap lahan Perhutani di Desa Suntenjaya, yang dilakukan melalui pelatihan. Dengan pemberian pelatihan, masyarakat petani yang sebelumnya tidak memiliki mata pencaharian tetap, akan dapat

menemukan dan mengembangkan keterampilan baru yang dapat dijadikan sebagai pengganti mata pencaharian sebelumnya yang telah dilarang.

Secara umum kondisi kehidupan masyarakat petani penggarap lahan Perhutani di desa Suntenjaya masih berada dalam garis kemiskinan. Diantara penyebabnya adalah selain rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan untuk berkembang, juga tidak dimilikinya modal dalam bentuk dana usaha dan hanya menghandalkan modal tenaga. Para petani penggarap lahan Perhutani yang bermodalkan tenaga ini, dalam menjalankan usahanya sebagai petani sayuran dilakukan dengan cara bagi hasil atau sebagai buruh tani. Usaha yang mereka jalankan lebih banyak dimodali oleh para juragan atau para pemilik modal yang bertempat tinggal diluar desa Suntenjaya, sehingga para pemilik modallah yang lebih berperan dan mendominasi usahanya dari pada si petani sendiri.

Ketidakberdayaan yang dialami masyarakat petani desa Suntenjaya selain disebabkan oleh keterbatasan modal usaha, dan rendahnya tingkat pendidikan yang rata-rata hanya tamat Sekolah Dasar (SD), juga ditambah dengan tidak dimilikinya pengetahuan dan keterampilan lain yang dapat digunakan sebagai alternatif. Keterampilan bertani sayuran yang dimiliki masyarakat rata-rata diperoleh dengan cara belajar secara alami atau turun temurun dari orang tua mereka maupun dari sesama petani, sehingga dengan diberlakukannya larangan untuk bertani sayuran atau tanaman semusim masyarakat desa Suntenjaya tidak dapat berbuat banyak. Di samping adanya juga faktor lain yang menjadi penyebab masyarakat petani

kurang berkembang, seperti sikap yang selalu pasrah pada nasib. Kondisi semacam ini memberi tekanan terhadap sosiokultur pada kehidupan masyarakat petani yang akan selalu hidup dalam ketidakberdayaan. Pernyataan ini sejalan dengan ungkapan Soewardi (1972) dalam Safuri (2003:216) yang menyatakan; bahwa ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia khususnya di Jawa lebih disebabkan oleh faktor-faktor struktur dan terutama kultural yang mewarnai kehidupan ekonomi elit dengan ekonomi rakyat. Faktor-faktor kultur tersebut diantaranya adalah tidak berorientasi ke masa depan, tidak suka menabung untuk peningkatan investasi atau karena penghasilannya yang sudah tidak mencukupi, kurang ulet dan cepat menyerah, suka berpaling keakhirat, lamban dan kurang respon terhadap pembaharuan. Faktor-faktor struktur yang menghambat keberdayaan masyarakat, adalah lemahnya akses terhadap unsur-unsur kemajuan seperti modal, teknologi, manajemen, informasi dan pemasaran.

Ketidakberdayaan petani hortikultura membuat mereka semakin terdesak, bukan saja terhadap lingkungan eksternal yang diluar sektor pertanian, tetapi juga internal dalam kehidupan petani yang semakin terpuruk dan rawan konflik perebutan lahan atau perambahan hutan yang semakin luas karena sumber-sumber potensi alam yang semakin menipis serta distribusi pendapatan yang tidak merata. Distribusi pendapatan ini mempunyai konsekuensi terhadap laju pertumbuhan ekonomi, karena dengan semakin tidak meratanya distribusi pendapatan, makin tinggi pula kesenjangan pendapatan. Pendapatan masyarakat selagi masih menjadi

petani sayur banyak ditentukan oleh modal atau biaya, namun saat ini tidak cukup hanya dengan biaya, akan tetapi harus ditambah dengan modal pengetahuan dan keterampilan baru.

Dengan diberikannya pelatihan keterampilan usaha terpadu, masyarakat sebagai warga belajar dapat memanfaatkan pengalaman yang telah dimiliki sebagai sumber belajar potensial untuk dikembangkan. Pernyataan ini cukup beralasan, karena di dalam kegiatan pembelajaran berdasarkan empowering process, selalu menekankan pendekatan yang memperluas pengalaman warga belajar untuk memperoleh pemahaman dan mengontrol segala kekuatan yang ada di masyarakat seperti kekuatan sosial, ekonomi dan politik. Proses pembelajaran yang dilakukan dalam pelatihan keterampilan usaha terpadu selalu dikaitkan dengan masalah-masalah dan kebutuhan warga belajar, serta mengutamakan kerjasama dalam menemukan pemecahannya. Dalam aplikasinya, pembelajaran dan pelatihan diawali dengan pembentukan kelompok belajar dan penyiapan sumber belajar. Sumber belajar mengembangkan kepemimpinan partisipatif dan secara bertahap mengalihkan tanggung jawab belajar kepada kelompok. Kegiatan ini didukung oleh pengembangan proses dan hubungan-hubungan demokratis, yang dalam pembelajarannya juga mengintegrasikan proses replektif dan tindakan, serta menggunakan metode yang tepat untuk meningkatkan rasa percaya diri bagi warga belajar (Trisnamansyah, 1993 :9).

Dari uraian yang digambarkan diatas, ada dua asumsi yang perlu diperhatikan dalam memberdayakan masyarakat miskin. Pertama, ketidakberdayaan kelompok miskin dianggap sebagai akibat dari syndrom kemiskinan yang melekat pada kehidupan kelompok miskin itu sendiri.

Kedua, ketidakberdayaan itu dianggap sebagai konsekuensi dari bentuk

pengelolaan pelayanan diskriminatif yang dilakukan oleh pemerintah sebelumnya, kelompok sekarang dianggap sebagai korbannya. Bagi masyarakat petani hortikultura menganggap asumsi kedua ada kebenarannya, karena orientasi pembangunan yang kurang memperhatikan rakyat kecil. Eksploitasi yang dilakukan oleh para pemilik modal kepada petani mengakibatkan harga jual produksi pertanian menjadi rendah, karena pemilik modal yang menentukan harga jualnya. Sebagai akibatnya masyarakat akan terus selalu dalam lingkaran kemiskinan.

Pemberian pelatihan keterampilan usaha terpadu mampu memberikan daya dorong kepada warga belajar, karena selain dalam program pembelajarannya menyajikan bahan belajar yang memiliki muatan keterampilan, juga mengembangkan model yang berorientasi kepada kehidupan, dan menolong warga belajar untuk lebih menyadari nilai-nilai internal dan eksternal. Kegiatan ini juga dapat mendorong warga belajar untuk berusaha sendiri mencari dan menyerap informasi baru, mengembangkan tujuan dan komitmen sendiri, berusaha turut membantu masyarakat agar dapat memberdayakan dirinya secara terarah dan berkesinambungan.

Pelaksanaan pembelajaran dalam pelatihan keterampilan usaha terpadu dilakukan secara partisipatif, hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya perasaan rendah diri, patah semangat, tidak berdaya terhadap tekanan lingkungan, sikap hormat yang berlebihan diberikan warga belajar kepada sumber belajar. Kegiatan pembelajaran yang dikembangkan dalam pelatihan ini sejalan dengan ungkapan Srinivasan (1977:25), yaitu bertujuan untuk; (1) memperkuat kemampuan warga belajar dalam upaya pemecahan masalah melalui motivasi belajar sepanjang hayat, (2) melengkapi warga belajar dengan berbagai keterampilan untuk menghadapi lingkungan secara baik dengan pemberian keterampilan produktif, dan (3) mengembangkan kemampuan warga belajar dan memperkuat kesadaran diri secara positif, dalam bentuk pembelajaran keterampilan berusaha dan pengenalan potensi diri dan lingkungannya.

Secara umum sesuai hasil pengembangan model dan pembahasan dalam pelatihan keterampilan usaha terpadu, ada empat hal penting yang perlu dilakukan bagi masyarakat petani penggarap lahan Perhutani sebagai upaya alih komoditas. Keempat hal yang direkomendasikan dalam model akhir untuk meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan masyarakat petani selain; (1) pendidikan (pembelajaran dan pelatihan) itu sendiri, juga (2) permodalan, (3) pendampingan, dan (4) kemitraan. Dengan adanya penambahan perlakuan pada hal-hal tersebut, akan dapat meningkatkan atau mengembangkan usaha yang dijalankan warga belajar, sehingga mereka memiliki matapencaharian tetap yang akan berdampak pada

peningkatan pendapatan maupun kehidupan. Masing-masing dari upaya tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Pendidikan (pembelajaran dan pelatihan)

Pemberian pendidikan bagi masyarakat petani penggarap lahan Perhutani, merupakan tuntutan riil yang harus dipenuhi sebagai investasi sumberdaya manusia baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Investasi jangka pendek mencakup peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta pelaksanaan penyuluhan pertanian secara terpogram. Sedangkan untuk jangka panjang mencakup pelayanan pendidikan persekolahan dan kesehatan. Kondisi latar belakang pendidikan masyarakat petani penggarap di Suntenjaya sangat memprihatinkan. Jika dilihat rata-rata tingkat pendidikan petani penggarap di Kabupaten Bandung sangat rendah (90 % berpendidikan SD). Serta anak laki-laki bagi keluarga petani merupakan aset sebagai tenaga kerja yang dapat membantu keluarganya dalam kegiatan mengelola lahan pertanian. Kegiatan seperti ini bertujuan untuk mengurangi biaya produksi dan menambah penghasilan. Walaupun mampu mendatangkan hasil, namum kondisi demikian hanya untuk jangka pendek, sedang bila dilihat dari jangka panjang hakekatnya mengorbankan generasi petani yang memiliki kecakapan dan sesuai

(competence and compatible) dengan tuntunan rill pertanian untuk saat

Dengan pemberian pelayanan pendidikan, kesehatan dan gizi yang mencukupi kapada anak-anak petani, tentu akan melahirkan generasi petani yang relevan dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian. Anak-anak petani yang sehat dan bermutu akan mampu meningkatkan dan menganekaragamkan kegiatan ekonomi keluarga. Dengan demikian lahan yang diolah tidak semata-mata hanya untuk kegiatan bertani saja, akan tetapi dapat digunakan dengan kegiatan berternak dan usaha lainnya. Di samping itu hasil pertanian yang selama ini di jual melalui tengkulak, akan dapat dilakukan sendiri oleh petani.

2) Permodalan

Permodalan bagi semua kegiatan usaha merupakan kebutuhan utama. Hanya saja bagi sebagian masyarakat modal hanya selalu ditafsirkan dalam bentuk materi atau uang, dan mereka tidak menyadari kalau tenaga, pikiran, pengetahuan dan keterampilan juga merupakan modal. Unsur-unsur yang juga merupakan modal tersebut tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain, karena uang tanpa ilmu pengetahuan juga akan kurang bermanfaat. Walaupun demikian memang tidak dapat dipungkiri bahwa modal dalam bentuk uanglah yang dirasakan paling dominan dalam kegiatan usaha termasuk usaha pertanian. Bahkan jumlah permodalan yang dibutuhkan di sektor ini juga membutuhkan investasi yang cukup mahal. Kantor-kantor unit BRI kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung, terutama kecamatan

Lembang sudah menyediakan dana untuk bantuan Kredit Tanpa Agunan (KTA) kepada masyarakat, namun karena adanya keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki masyarakat petani, mereka belum berani atau belum tau cara untuk mendapatkannya. Dengan alasan tersebut, maka selain memberikan pelatihan kepada masyarakat petani penggarap desa Suntenjaya, juga diperlukan penambahan dengan program pendampingan dan kemitraan..

3) Pendampingan

Kegiatan pendampingan merupakan suatu proses belajar dan bekerja bagi petani. Proses pendampingan lebih ditekankan pada unsur pembinaan agar mereka dapat menjalankan usahanya sendiri. Proses pendampingan bukan berarti ketidakpercayaan kita terhadap inisiatif yang dilakukan oleh petani dan anak-anaknya dalam melakukan usaha, tetapi secara empiris bakal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui bangku sekolah apalagi hanya tamat SD dirasa belum cukup memberi bekal secara langsung untuk kegiatan pertanian yang mereka hadapi. Pendampingan dilakukan berkenaan dengan aspek manajemen usaha, penggunaan modal usaha, pengolahan dan pemasarannya. Jika petani atau anak-anak petani tidak dikenalkan sejak dini tentang bagaimana menjaga kelestarian lingkungan, maka selain akan menurunkan hasil produksi pertanian yang akan terus menurun, juga peran hutan sebagai daerah resapan air akan menurun

juga. Petani penggarap lahan Perhutani secara umum dan khususnya di Kecamatan Lembang juga harus dibekali dengan pengetahuan dan

Dokumen terkait