• Tidak ada hasil yang ditemukan

Temuan, Indikator Keberhasilan dan Keterbatasan Penelitian 1. Temuan Penelitian

PELAKSANAAN PELATIHAN

E. Temuan, Indikator Keberhasilan dan Keterbatasan Penelitian 1. Temuan Penelitian

Dalam penelitian model pelatihan keterampilan usaha terpadu ini peneliti menggunakan subjek penelitian yang diambil secara purposive, dan terpilih sebanyak 10 orang sebagai warga belajar. Untuk kegiatan analisis dari kesepuluh warga belajar yang terpilih digunakan seluruhnya. Dari kegiatan

analisis yang dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif, jawaban kesepuluh warga belajar ditabulasikan kedalam tabel induk penelitian. Berdasarkan tabel induk penelitian tersebut kemudian dianalisis secara rinci sesuai dengan rancangan analisis yang telah dikemukakan sebelumnya.

Dari analisis secara kualitatif ditemukan bahwa kesepuluh warga belajar tersebut mampu diberdayakan melalui sebuah program pelatihan dalam mengembangkan kemampuan berusaha. Selesai mengikuti pelatihan warga belajar dapat mengidentifikasi sumber-sumber yang dapat mendukung rencana usaha yang akan dijalankan. Sumber-sumber tersebut seperti penyandang dana atau modal usaha, pendamping dan mitra kerja dalam menjalankan usaha. Target dari kegiatan pelatihan ini dirasa telah tercapai dan cukup memuaskan. Hasilnya, ditandai dengan tingkat pemahaman peserta terhadap konsep dasar dan manfaat usaha terpadu termasuk dalam kategori baik. Dampak dari pelatihan mampu meningkatkan keterampilan warga belajar yang sebelumnya tidak mereka pahami secara dalam. Di samping itu tingkat kepedulian masyarakat terhadap sesama petani dan lingkungan sangat baik, kalau sebelumnya mereka menjalankan usaha tidak memperhatikan akan dampak lingkungan dan cara bekerjanya lebih banyak secara sendiri-sendiri, setelah mengikuti pelatihan warga belajar mampu memilih dan menentukan usaha secara bersama-sama. Selain jenis keterampilan yang dijadikan usaha sesuai dengan kondisi lingkungan, juga tingkat kepedulian sesama petani dalam menjalankan usaha kelompok semakin tinggi. Jadi secara deskriptif tujuan instruksional baik secara umum maupun khusus telah tercapai.

Temuan dari hasil analisis kualitatif diperkuat oleh temuan dari analisis yang dilakukan secara kuantitatf. Analisis kuantitatif bertujuan untuk melihat hasil perbandingan dua subjek yang berpasangan yaitu warga belajar sebelum dan sesudah pelatihan. Dari hasil analisis kuantitatif diketahui bahwa telah terjadi perbedaan secara nyata antara warga belajar sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan, sehingga dapat dikatakan bahwa pelatihan keterampilan usaha terpadu terbukti efektif dalam memberdayakan warga belajar mengembangkan kemampuan berusaha. Di samping itu dari hasil analisis juga menunjukan bahwa kegiatan pelatihan keterampilan usaha terpadu membawa dampak posistif terhadap warga belajar. Diantara dampak yang ditimbulkan seperti dapat merubah persepsi maupun sikap dari warga belajar dalam menjalankan usaha.

Dari hasil analisis deskriptif maupun uji non parametrik, keduanya menunjukan bahwa tujuan dari penelitian untuk memberdayakan masyarakat petani penggarap dalam menemukan dan menjalankan usaha baru dapat tercapai. Dari hasil temuan di lapangan juga menunjukkan bahwa model pelatihan ini ternyata sesuai dan ideal bagi masyarakat petani penggarap dalam meningkatkan kemampuan berusaha.

Temuan lain dari hasil pelatihan adalah dengan dapat langsung diterapkannya keterampilan jual beli dengan melakukan jual beli pisang. Keterampilan berjual beli dilakukan, selain dengan membeli pisang dari desa Suntenjaya juga dengan membeli pisang dari desa terdekat di luar Suntenjaya. Hasil dari kegiatan berjual beli pisang, keuntungannya mereka gunakan untuk

memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kegiatan ini dilakukan dengan membagi tugas secara bergiliran kepada anggota yang ada dalam kelompok, karena harus dibarengi dengan tugas-tugas lain dari hasil pelatihan yang juga harus tetap dikerjakan.

Selain temuan diatas, diketahui kalau di desa Suntenjaya belum ada yang memberikan bantuan kepada masyarakat dalam bentuk apapun, terutama setelah diberlakukannya larangan untuk menggarap lahan Perhutani. Pelatihan yang diberikan ini hanya bersifat stimulan kepada sebagian kecil masyarakat, sedangkan secara lebih luas masih diperlukan adanya koordinasi dari berbagai pihak atau instansi terkait dalam melakukan pembinaan secara integratif dan komprehensif. Apabila program pembinaan secara terpadu kepada masyarakat petani penggarap lahan Perhutani dapat dilaksanakan, maka sebagian besar masyarakat petani yang tinggal di sekitar hutan atau hidup sebagai masyarakat desa hutan, selain dapat meningkatkan taraf hidup dan hidup mandiri, juga akan mampu mengurangi urbanisasi.

Uraian diatas merupakan gambaran keberhasilan dari penyelenggaran sebuah model pelatihan keterampilan usaha terpadu yang telah dikembangkan. Hasil penyelenggaraan pelatihan bagi petani sebagai upaya alih komoditas tersebut diharapkan akan dapat keberlanjutan dalam bentuk usaha. Dengan adanya keberlanjutan program dalam bentuk usaha, maka masyarakat petani dapat menemukan jenis keterampilan baru yang dapat digunakan untuk meningkatkan pendapatan, yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan kehidupan.

2. Indikator Keberhasilan Penelitian

Keefektifan dari model yang dilaksanakan dapat diketahui dengan melihat tingkat kesesuaian dari model dengan program pelatihan keterampilan usaha terpadu terhadap kebutuhan peserta pelatihan.

Sebagai indikator untuk mengukur keberhasilan model adalah adanya kesesuaian materi pelatihan dengan kebutuhan peserta. Di samping itu program pelatihan yang diselenggarakan memiliki dampak positif sebagai proses perubahan sesuai keinginan petani, yang diantaranya :

a) Masyarakat petani penggarap lahan Perhutani mampu mengembangkan usahanya sebagai upaya alih komoditas.

b) Masyarakat petani menjadi bersemangat untuk berusaha dalam memanfaatkan lahan kembali dengan jenis komoditas yang sesuai

c) Masyarakat petani menjadi memiliki jenis usaha beragam yang dilakukan atau dikerjakan sebagai usaha kelompok.

d) Masyarakat petani menjadi terbuka dan menyadari segala perubahan yang terjadi serta menerima pihak-pihak lain yang ingin membantu

e) Menyadari akan manfaat iklim saling belajar dan bekerjasama baik dengan sesama peserta maupun dengan lingkungan sekitar

f) Menumbuhkan rasa percaya diri dan keinginan untuk menjalankan usaha secara mandiri

g) Masyarakat petani mampu menjalin kerjasama dengan berbagai instansi terkait sehubungan dengan kegiatan usahanya

3. Keterbatasan Penelitian.

Segala keterbatasan yang tidak terhindarkan dalam penelitian ini, tetap diupayakan untuk tidak mengurangi makna dari hasil penelitian.;

Pertama, penelitian pengembangan ini dilaksanakan dalam kelompok

kecil yang memiliki karakteristik tersendiri yaitu petani hortikultura. Padahal masih banyak lagi masyarakat di kecamatan dan desa yang sama yang terkena kebijakan tentang larangan untuk menggarap lahan Perhutani belum memperoleh kesempatan untuk diberikan pelatihan.

Kedua, hasil penelitian dan pengembangan dari model ini hanya baru

diujicobakan pada satu kelompok tani saja, sehingga keefektifan model pelatihan masih perlu diuji cobakan kepada kelompok tani yang lebih luas, terutama kepada masyarakat tani dengan karakteristik yang berbeda, guna memperoleh kekonsistenan keefektifan model pelatihan keterampilan usaha terpadu sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam mengembangkan kemampuan berusaha.

Ketiga, berkaitan dengan lingkup penelitian, terutama dalam

penjabaran komponen yang dijadikan indikator kesesuaian dalam instrument masih dirasakan kurang lengkap. Dengan kekurangan ini, maka masih diperlukan penjabaran lebih lanjut sehingga komponen-komponen model pelatihan keterampilan usaha terpadu dalam upaya alih komoditas, terutama bagi warga belajar atau kelompok petani yang tidak memiliki mata pencaharian tetap lagi akan menjadi lebih sempurna.

Keempat, penelitian ini hanya untuk memberdayakan masyarakat petani melalui sebuah pelatihan agar dapat mengembangkan kemampuan dalam beralih komoditas pada jenis tertentu saja, dan hanya baru pada sebagian kecil masyarakat. Dari hasil penelitian ini masih memungkinkan untuk dilanjutkan dengan pengembangan kejenis keterampilan lain sesuai potensi daerah, terutama diperuntukkan bagi msyarakat petani lain yang belum menerima pelatihan.

Dokumen terkait