• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI PENGARUH LIKUIDITAS, LEVERAGE (Halaman 84-90)

Beta saham

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Penentuan Model Estimasi antara Common Effect Model (CEM) dan Random Effect Model (REM) dengan Uji Lagrange Multiplier

4.6 Pembahasan Hasil Penelitian

4.6.1 Pengaruh CR Terhadap Return Saham

Hasil pengujian secara parsial (uji-t) menunjukkan bahwa Current Ratio (CR), berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Hal ini berarti semakin besar nilai CR, maka semakin tinggi pula return saham. Nilai positif dan signifikan CR membuktikan bahwa manajemen perusahaan yang termasuk dalam sahamperusahan perbankan menunjukkan kemampuan perusahan dalam membayar hutang jangka pendek atau hutang lancarnya dengan baik dan telah berhasil meningkatkan nilai perusahaan bagi pemilik perusahaan sebagaimana

tujuan manajemen keuangan memaksimalkan nilai perusahaan. Menurut Wira (2011) yang menyatakan angka rasio yang besar menunjukkan perusahan

“likuid”, yaitu proses produksi akan lancar karena perusahan bisa membayar semua tagihan jangka pendek dengan baik dan meningkatkan kemampuan operasional perusahan. Jika suatu perusahan mengalami peningkatan kegiatan operasional, dan peningkatan tingkat penjualan, maka permintaan terhadap produk atau jasa yang dihasilkan perusahan akan meningkat. Permintaan terhadap produk atau jasa yang meningkat, akan membuat harga saham dipasar modal juga akan mengalami kenaikkan. Dengan naiknya harga saham perusahan tentunya investor/calon investor akan tertarik untuk berinvestasi dengan mengharapkan return saham yang terus meningkat dari tahun ketahun.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sinaga (2013) dan Thamrin (2012) yang menyatakan bahwa current ratio (CR) berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Namun berbeda dengan penelitian Prastowo (2012) menyatakan bahwa CR berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap return saham pada perusahan Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4.6.2 Pengaruh DER Terhadap Return Saham

Hasil pengujian secara parsial (uji-t) menunjukkan bahwa DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Nilai DER yang positif dan signifikan menunjukkan bahwa utang perusahaan yang meningkat akan meningkatkan laba perusahaan karena utang perusahaan digunakan dengan baik dalam operasional perusahaan. Menurut Wira (2011) rasio utang yang tinggi

belum tentu buruk. Karena hutang bisa berarti buruk, bisa juga berarti bagus. Saat ekonomi sulit dan suku bunga tinggi, perusahan yang memiliki rasio tinggi dapat mengalami masalah keuangan. Sebaliknya saat ekonomi baik dan suku bunga rendah hutang dapat digunakan untuk melakukan ekspansi, yang tujuannya meningkatkan keuntungan perusahan dan beban bunga bisa dibayar dari keuntungan yang diperoleh perusahan. Sebaiknya rasio utang digunakan dalam membandingkan industri yang sejenis. Perusahan perbankan yang kegiatan operasional perusahan sebagian besar adalah hutang yang diperoleh dari dana pihak ketiga. Jika sebuah perusahan mampu menggunakan tingkat rasio hutang yang tinggi untuk melakukan kegiatan usaha yang menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi. Keuntungan yang diperoleh perusahan dari total hutang yang dimiliki akan membuat nilai atau harga saham dipasar modal mengalami kenaikan. Kenaikan harga saham akan membuat tingkat return saham yang diperoleh akan meningkat.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Thamrin (2012) dan Prastowo (2012), yang menyatakan debt to equity ratio (DER) berpengruh positif dan signifikan terhadap return saham. Namuntidak sejalan dengan penelitian oleh Sitepu (2014) yang menyatakan bahwa DER berpengaruh negatif dan signifikan terhadap returnsaham.

4.6.3 Pengaruh ROE Terhadap Return Saham

Hasil pengujian secara parsial (uji-t) menunjukkan bahwa ROE berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini berarti semakin besar nilai ROE, maka semakin tinggi pula return saham. Nilai positif

ROE membuktikan bahwa manajemen perusahaan yang termasuk dalam saham perusahan perbankan telah berhasil meningkatkan nilai perusahaan bagi pemilik perusahaan sebagaimana tujuan manajemen keuangan memaksimalkan nilai perusahaan. Namun tidak signifikannya pengaruh ROE terhadap return saham menunjukkan investor tidak begitu tertarik dengan peningkatan laba perusahaan karena ada faktor lain selain laba bersih yang dapat menarik perhatian investor untuk berinvestasi. Menurut Syahyunan (2015) untuk mengukur tingkat profitabilitas perusahan, salah satunya adalah return on equity (ROE) yang menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahan memaksimalkan modal (equitas) yang dimiliki untuk meningkatkan nilai perusahan. ROE mencerminkan pengaruh dri seluruh rasio lain dan merupakan ukuran kinerja tunggal yang terbaik. Investor sudh pasti menyukai nilai ROE yang tinggi, dan ROE yang tinggi umumnya memiliki korelasi positif dengan harga saham yang tinggi. Namun, ada beberapa faktor lain yang terlibat.

Seperti yang telah dilihat sebelumnya, Leverage keuangan (DER) umumnya akan meningkatkan nilai ROE tetapi juga akan meningkatkan risiko perusahan, yang tidak disukai oleh investor. Jadi jika ROE yang tinggi diperoleh melalui penggunaan utang dalam jumlah yang sangat besar, harga saham kemungkinan akan lebih rendah dari yang seharusnya itu dikarenakan investor memiliki ketakutan, karena laba yang dihasilkan dari nilai ROE yang tinggi akan digunakan untuk menutupi hutang perusahan. Harga saham yang rendah dipasar modal akan membuat return saham yang diperoleh investor akan mengalami penurunan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Putra

(2011) yang menyatakan variabel ROE berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap return saham perusahan perbankan. Namun berbeda dengan penelitian terdahulu Prastowo (2012) yang menyatakan bahwa ROE berpengaruh positifdan signifikan terhadap return saham.

4.6.4 Pengaruh Risiko Sistematis Terhadap Return Saham

Hasil pengujian secara parsial (uji-t) menunjukkan bahwa beta saham (risiko sistematis) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini menunjukkan bahwa investor menganggap risiko sistematis perlu diperhatikan sebagai alat ukur risiko investasi. Menurut Husnan (2015) dalam memilih saham, seorang investor cenderung lebih memilih saham yang bagus dari pada perusahan yang bagus. Saham yang bagus adalah saham dengan harga yang bagus atau mahal, sedangkan perusahaan yang bagus adalah perusahaan yang kinerjanya bagus, produknya diterima dipasar, membayarkan dividen dan memperoleh award dari pihak luar. Tetapi banyak investor yang berpengalaman menganggap bahwa saham bagus yang dapat menghasilkan return yang tinggi harus berasal dari perusahaan yang bagus juga. Jadi untuk berinvestasi investor cenderung melihat kepada harga saham dan investor akan memperhatikan segala resiko yang akan mempengarui harga saham. Menurut Husnan (2015) bagian keuntungan yang tidak terantisipasi yaitu yang berasal dari risiko yang dihadapi para pemodal. Meskipun demikian, sumber risiko tersebut berasal dari faktor yang mempengarui semua perusahan. Semua perusahan akan terkena dampaknya hanya saja intensitasnya mungkin berbeda antara perusahan yang satu dengan perusahan yang lain

inilah yang disebut risiko sistematis.

Risiko sistematis yang tidak bisa dihindarkan atau diversifikasi akan dialami oleh perusahan dan akan membuat harga saham dipasar modal mengalami penurunan jika perusahan tidak bisa mengantisipasi atau meminimalkan resiko yang ada. Harga saham yang mengalami penurunan akan membuat return saham yang diperoleh investor juga akan mengalami penurunan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Nuryatno (2012) yang menyatakan bahwa risiko sistematis yang diproksikan dengan beta saham berpengaruh positif dan tidak signifikan. Namun hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Djajadi (2018) yang menyatakan bahwa risiko sistematisberpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return saham.

BAB V

Dalam dokumen SKRIPSI PENGARUH LIKUIDITAS, LEVERAGE (Halaman 84-90)

Dokumen terkait