3. Uji koefisein determinasi (Adjusted R 2
5.2 Pembahasan Hasil Penelitian
5.2.1 Pengaruh Regulasi Keuangan Daerah Terhadap Serapan Anggaran
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients B Std. Error Beta 1 (Constant) 5,208 1,344 3,876 0,000 Serapan Anggaran 0,298 0,062 0,458 4,771 0,000
a. Dependent Variable: Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Sumber : Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
t Sig.
Hasil pengujian secara parsial menunjukan bahwa pengaruh regulasi keuangan daerah berpengaruh positif signifikan terhadapan serapan anggaran SKPD di pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dengan menggunakan uji t dan diperoleh hasil nilai t hitung sebesar 2,699 lebih besar dari t tabel 1,987 dan tingkat signifikansi sebesar 0,008 lebih kecil dari α = 0,05 dan koefisien regresi sebesar positif 0,308 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel regulasi keuangan daerah berpengaruh positif signifikan terhadap variabel serapan anggaran SKPD. Hali ini menunjukan bahwa dengan adanya regulasi keuangan daerah akan meningkatkan serapan anggaran SKPD. Penelitian ini berhasil menemukan bukti adanya pengaruh regulasi keuangan daerah terhadap serapan anggaran SKPD di pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dalam pelaksanaan anggaran di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara regulasi keuangan daerah cepat diantisipasi oleh kepala SKPD sehingga pelaksanaan anggaran dapat berjalan tepat waktu. Perubahan terhadap regulasi keuangan daerah terus dilakukan oleh TAPD dan pengelolaan APBD di SKPD dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan dalam Perda APBD.
Hasil pengujian secara simultan diperoleh dari uji F menunjukan nilai F hitung 8,654 lebih besar dari nilai F tabel 2,71 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 maka variabel regulasi keuangan daerah berpengaruh signifikan terhadap serapan anggaran SKPD. Sedangkan dari hasil uji koefisien determinasi di peroleh nilai R2
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian lain terkait serapan anggaran, seperti hasil penelitian Arif (2011) yang menunjukan bahwa faktor sebesar 0,588 memiliki hubungan yang kuat dengan variabel serapan anggaran sebesar 58,8%.
regulasi yang dapat menyebabkan minimnya serapan anggaran. Begitu juga dengan hasil penelitian Kaharuddin (2011) yang menunjukan bahwa faktor regulasi yang meliputi peraturan sering berubah mempengaruhi serapan anggaran. Hal ini disebabkan karena regulasi dibidang keuangan sangat penting dan terjadi hampir diseluruh propinsi di Indonesia dalam pengelolaan keuangan.
5.2.2. Pengaruh Politik Anggaran Terhadap Serapan anggaran
Pengujian pengaruh variabel politik anggaran terhadap serapan anggaran dengan menggunakan uji t dan diperoleh hasil nilai t hitung sebesar 0,236 lebih kecil dari t tabel 1,987 dan tingkat signifikansi variabel politik anggaran sebesar 0,814 lebih besar dari α = 0,05 dan koefisien positif 0,052, hal ini menunjukan bahwa variabel politik anggaran tidak berpengaruh terhadap variabel serapan anggaran. Penelitian ini tidak dapat membuktikan pengaruh politik anggaran terhadap serapan anggaran karena pada tahap perencanaan terhadap program/kegiatan tidak memasukan pokir hasil musrenbang yang dilaksanakan baik ditingkat kab/kota, SKPD, Provinsi dan tingkat pusat. Terjadi tarik menarik antara Legislatif dan Eksekutif sehingga anggaran yang disusun tidak dapat diimplementasikan oleh Pimpinan SKPD.
Hasil pengujian secara simultan diperoleh dari uji F menunjukan nilai F hitung 8,654 lebih besar dari nilai F tabel 2,71 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 maka variabel politik anggaran berpengaruh signifikan terhadap serapan anggaran SKPD. Sedangkan dari hasil uji koefisien determinasi di peroleh nilai R2 sebesar 0,588 memiliki hubungan yang kuat dengan variabel serapan anggaran sebesar 58,8%.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arif (2011) menunjukan adanya pengaruh signifikan antara variabel politik anggaran dalam mempengaruhi serapan anggaran kab/kota di Provinsi Riau. Hal ini ditunjukan pada proses pemilihan kepala daerah yang dilakukan diseluruh kab/kota di Provinsi Riau, yang membuat agenda pelaksanaan anggaran menjadi tertunda. Mengingat iklim politik dimasing-masing daerah tidaklah sama maka unsur politik anggaran disetiap provinsi di Indonesia tidak akan sama jika diterapkan dalam pengelolaan keuangan daerah.
5.2.3. Pengaruh Proses Pengadaan Barang dan jasa Terhadap Serapan Anggaran
Pengujian parsial terhadap variabel proses pengadaan barang dan jasa terhadap serapan anggaran SKPD dengan menggunakan uji t menunjukan hasil t hitung sebesar 0,724 lebih kecil dari t tabel sebesar 1,987 dengan signifikan sebesar 0,471 lebih besar dari nilai α = 0,05 dan koefisien positif 0,068. Hal ini menunjukan bahwa variabel proses pengadaan barang dan jasa tidak berpengaruh terhadap serapan anggaran.
Pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara variabel proses pengadaan barang dan jasa tidak berpengaruh terhadap serapan anggaran dimungkinkan karena tahun 2014-2015 pengesahan ABPD Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dilakukan tempat waktu tetapi pelaksanaan anggaran baru dimulai pada bulan maret sehingga jadwal pengadaan barang dan jasa jadi tertunda. Proses pengadaan barang dan jasa membutuhkan waktu yang panjang sehingga tender baru dapat dilaksanakan pada triwulan II. Menurut PP No.54 tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa, proses pelaksanaan pengadaan barang dan jasa diawali dari tahap
perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan pelaporan, maka pelaksanaan anggaran harus dimulai tepat waktu sehingga pengadaan barang dan jasa dapat terlaksana sesuai ketentuan.
Hasil pengujian secara simultan diperoleh dari uji F menunjukan nilai F hitung 8,654 lebih besar dari nilai F tabel 2,71 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 maka variabel proses pengadaan barang dan jasa berpengaruh signifikan terhadap serapan anggaran SKPD. Sedangkan dari hasil uji koefisien determinasi di peroleh nilai R2
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian oleh Priatno (2013) yang menunjukan bahwa faktor pengadaan barang dan jasa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penyerapan anggaran Satker. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Kuswoyo (2011) yang menunjukan faktor pengadaan barang dan jasa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penumpukan anggaran.
sebesar 0,588 memiliki hubungan yang kuat dengan variabel serapan anggaran sebesar 58,8%.
5.2.4 Pengaruh Komitmen Organisasi Terhadap Serapan Anggaran
Pengujian parsial terhadap variabel komiten organisasi terhadap serapan anggaran dengan nilai t hitung sebesar -0,813 lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 1,987 dengan signifikasi sebesar 0,418 lebih besar dari nilai α = 0,05 dan koefisein sebesar -0,097, maka dapat disimpulkan secara parsial variabel komitmen organisasi tidak berpengaruh terhadap serapan anggaran. Hal ini dikarenakan pimpinan SKPD tidak konsisten terhadap fakta integritas untuk mencapai target
kinerja yang telah disepakati bersama kepala daerah yang seharusnya menjadi acuan dalam mewujudkan visi dan misi dari SKPD yang dipimpinnya.
Hasil pengujian secara simultan diperoleh dari uji F menunjukan nilai F hitung 8,654 lebih besar dari nilai F tabel 2,71 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 maka variabel komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap serapan anggaran SKPD. Sedangkan dari hasil uji koefisien determinasi di peroleh nilai R2
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penellitian oleh Purtanto (2015) yang menunjukan bahwa faktor komitmen manajemen dan perencanaan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap penyerapan anggaran belanja daerah di pemerintah Kota Tegal. Hal ini juga di ungkapkan dalam hasil penelitian Afif (2011) dimana variabel komitmen organisasi berpengaruh terhdap penyerapan anggaran kabupaten/kota di Provinsi Riau. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kebijakan atas anggaran Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terletak pada kepala daerah sehingga tanjung jawab pimpinan SKPD hanya sebatas pelaksanaan anggaran yang dipimpinnya saja.
sebesar 0,588 memiliki hubungan yang kuat dengan variabel serapan anggaran sebesar 58,8%.
5.2.5 Pengaruh Silpa terhadap Serapan Anggaran
Pada hasil penelitian ini, Silpa merupakan variabel moderating yang tidak mampu memoderasi hubungan antara regulasi keuangan daearah, politik anggaran, proses pengadaan barang dan jasa dan komitmen organisasi dengan serapan anggaran. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji residual pada tabel 5.13. Variabel silpa tidak dapat memoderasi ditandai oleh nilai uji residiual yang
dilakukan pada penelitian ini dengan signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari α = 0,05 dan koefisien beta yang bernilai positif 0,458. Hal ini bertentangan dengan teori uji moderat yang dikatakan suatu variabel dapat memoderasi apabila nilai signifikansi lebih kecil dari nilai α = 0,05 dan koefisien beta bernilai negatif. Pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara silpa tidak mampu memoderasi dikarenakan pada tahun 2014-2015 pelaksanaan APBD mengalami rasionalisasi sebanyak dua kali dimana target pendapatan tidak tercapai sehingga dilakukan pengurangan terhadap belanja diseluruh SKPD pada tahun berjalan. Pada tahun 2014-2015 legislatif dan eksekutif terlalu memaksakan anggaran untuk belanja baik balanja langsung maupun tidak langsung tanpa mempertimbangkan target pendapatan secara objektif. Sehingga Perhitungan silpa dilakukan terlebih dahulu agar serapan anggaran dapat meningkat.
Sesuai dengan teori sisa anggaran akhir tahun dapat bersumber dari pelampuan pendapatan ataupun pengehematan belanja pada realisasi APBD sebelumnya akan menghasilkan sisa dana (Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, 2013,87). Secara Faktual, silpa ada dalam laporan keuangan Pemerintah Daerah dan sering digunakan sebagai ukuran dalam menilai kinerja keuangan dan anggaran. Sisa anggaran yang besar menunjukan rendahnya daya serap anggaran untuk belanja atau tingginya kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan pendapatannya diatas target yang telah ditetapkan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN