BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1. Kerangka Konsep
Sugiyono (2013,128) menyatakan bahwa kerangka konsep akan
menghubungkan secara teoritis antara variabel-variabel penelitian, yaitu antara
variabel independen dengan variabel dependen. Secara ringkas kerangka
konseptual yang menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan
anggaran dengan Silpa sebagai variabel moderating dapat dilihat pada gambar 3.1.
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
Kerangka konsep (3.1) menggambarkan pengaruh variabel independen
yaitu Regulasi Keuangan Daerah (X1), Politik Anggaran (X2), Proses Pengadaan Barang dan Jasa (X3) dan Komitmen Organisasi (X4) terhadap variabel dependen
Regulasi Keuangan Daerah (X1)
Politik Anggaran (X2)
Proses Pengadaan Barang dan Jasa (X3)
Komitmen Organisasi (X4)
Silpa (Z)
yaitu Serapan Anggaran (Y), tanpa dan melalui variabel moderating yaitu Silpa
(Z). Hubungan antar variabel diuraikan berikut ini
1. Regulasi dibidang keuangaan daerah merupakan salah satu yang menyebabkan
rendahnya serapan belanja. Disamping itu, terkadang adanya aturan yang
berubah secara cepat dan waktu yang tidak terlalu banyak, membuat pimpinan
SKPD sebagai pelaksana anggaran tidak berani untuk mengimplementasikan
kegiatan fisik, karena takut salah yang dapat berimplikasi hukum. Karena itu
adanya sosialisasi jauh hari tentang peraturan yang dibuat merupakan langkah
tepat untuk menghindari hal tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa perubahan regulasi yang terjadi tidak selalu bisa dilaksanakan secara
langsung, hal ini dikarenakan pihak penyelenggara juga butuh waktu untuk
mempelajari dan memahaminya (Pimpinan SKPD dan Kasubbag Keuangan
sebagai sampel dalam penelitian). Seharusnya dengan ada atau tidaknya
regulasi di bidang keuangan akan berpengaruh terhadap serapan anggaran.
2. Politik anggaran dapat dimaknai sebagai proses pengalokasian anggaran
berdasarkan kemauan dan proses politik baik dilakukan oleh perseorangan
maupun kelompok. Sulit dihindari penggunaan dana publik akan ditentukan
oleh kepentingan politik. Sebagai keputusan politik, kebijakan anggaran sering
melalui proses politik yang panjang dan kompleks. Realisasi dari prinsip ini
antara lain bahwa penyusunan APBD harus mengacu pada komponen dasar
kebijakan publik baik dalam perspektif mikro maupun makro. Kombinasi dua
perspektif ini setidaknya telah terefleksikan dalam muatan UU No.17 Tahun
2013 tentang Keuangan Negara dimana dalam pasal 3 dinyatakan bahwa
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
Hanya saja selain proses kebijakan berdasarkan prinsip diatas yang patut
digarisbawahi adalah adanya proses politik dan partisipasi masyarakat.
Kecenderungan ketidaktepatan pengalokasian anggaran dan pengeluran dapat
menghambat tercapainya visi dan misi Pemda dan terhambatnya penetapan
APBD akibat negosiasi politik. Lobi politik sebuah titik temu yang sering alot
dan disinilah sarat terjadinya konflik yang berpengaruh pada penyerapan
anggaran. Seharusnya dengan iklim politik yang baik akan berpengaruh
terhadap serapan anggaran.
3. Proses pengadaan barang dan jasa merupakan salah satu penyebab dari
minimnya penyerapan anggaran pendapatan dan belanja daerah. Lambatnya
proses pengadaan barang dan jasa ditambah lagi konflik-konflik yang terjadi
selama proses berlangsung semakin memperparah lamanya waktu yang
dibutuhkan untuk implementasi anggaran. Seharusnya dengan adanya proses
pengadaan barang dan jasa secara tepat waktu akan berpengaruh terhadap
serapan anggaran.
4. Komitmen Organisasi, merupakan suatu bentuk perjanjian bersama antara
kepala daerah dan pimpinan SKPD dalam hal menetapkan target kinerja agar
serapan anggaran dapat tercapai sesuai target yang telah disepakati. Tidak
tercapainya komitmen yang dilakukan melalui Perjanjian Kinerja (PK) dalam
melaksanakan APBD, merupakan cerminan dari lemahnya komitmen pimpinan
SKPD dengan Kepala Daerah untuk memenuhi kewajibannya sebagai Pejabat
Daerah yang bertugas untuk mensejahterakan masyarakat. Seharusnya dengan
5. Silpa merupakan sumber penerimaan internal Pemda yang dapat digunakan
untuk mendanai kegiatan-kegiatan tahun berjalan. Sisa anggaran merupakan
saldo dana atau kas daerah pada akhir tahun anggaran yang mencerminkan
ketidakakuratan dalam peramalan (forecasts) anggaran. Sisa ini akan terbawa ke tahun anggaran berikutnya sebagai penerimaan dalam pembiayaan di
APBD. Pada tahun anggaran berikutnya tersebut, sisa anggaran ini disebut sisa
anggaran tahun sebelumnya dan digunakan untuk menutupi defisit anggaran,
mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan, dan mendanai kewajiban lainnya
yang sampai dengan akhir tahun anggaran sebelumnya selesai dibayarkan.
Silpa seharusnya menjadi faktor memperkuat atau memperlemah hubungan
antara regulasi keuangan daerah, politik anggaran, proses pengadaan barang
dan jasa serta komitmen organisasi dengan serapan anggaran.
3.2. Hipotesis Penelitian
Sugiyono (2014: 132) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap
rumusan masalah penelitian, dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan
baru didasarkan pada teori. Hipotesis dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang
merupakan jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan. Berdasarkan rumusan masalah, tinjauan pustaka dan uraian di atas, diajukan dua hipotesis
alternatif dalam penelitian ini (H1 dan H2) sebagai berikut:
H1 : Regulasi keuangan daerah, politik anggaran, proses pengadaan barang dan
jasa serta komitmen organisasi berpengaruh baik secara simultan dan
parsial terhadap serapan anggaran pada SKPD di Pemerintah Provinsi
H2 : Silpa dapat memoderasi hubungan antara Regulasi keuangan daerah,
politik anggaran, proses pengadaan barang dan jasa serta komitmen
organisasi dengan serapan anggaran pada SKPD di Pemerintah Provinsi
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan
teknik statistik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kausalitas (Causal Research)
yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel dependen dengan variabel
independen. Penelitian ini akan melihat pengaruh regulasi keuangan daerah,
politik anggaran, proses pengadaan barang/jasa dan komitmen organisasi terhadap
serapan anggaran di Provinsi Sumatera Utara.
4.2 Lokasi, Waktu dan Jadwal Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Kota Medan pada Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Waktu penelitian
direncanakan pada bulan Oktober 2016 sampai Desember 2016.
4.3 Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 44 SKPD. Terdiri
dari Kepala SKPD dan Kasubbag keuangan di Setiap SKPD Provinsi Sumatera
Utara, sumber data populasi diperoleh dari buku APBD Provinsi Sumatera Utara.
Pada masing-masing SKPD akan diberikan 2 (dua) set kuesioner yang akan diisi
1. Kepala SKPD selaku pengguna anggaran yang memiliki wewenang dalam
pelaksanaan anggaran yang berada dalam penguasaannya;
2. Kasubbag keuangan yang bertugas menjalankan proses penatausahaan
keuangan pada masing-masing SKPD.
Total responden yang menjadi anggota populasi dan akan diberikan kuesioner
sebanyak 88 responden. Sampel penelitian menggunakan metode sensus yaitu
seluruh anggota populasi dijadikan sampel. Daftar populasi dan sampel dapat
dilihat pada (lampiran 1).
4.4 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara
menyebarkan kuesioner secara langsung oleh peneliti kepada responden dan
jawaban atas kuesioner yang diberikan dan di tunggu selama satu minggu karena
waktu tersebut diperkirakan cukup dalam melakukan pengisian kuesioner. Jika
ada yang belum menyelesaikan akan diberikan tambahan waktu selama satu
minggu lagi. Jika tidak selesai juga setelah tambahan waktu maka responden tidak
dijadikan sampel.
Kuesioner serapan anggaran dan proses pengadaan barang dan jasa
merupakan modifikasi dari kuesioner Agus Kirnanda (2014) yang disesuaikan
dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 21 Tahun 2011, tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah dan Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang dan Jasa. Modifikasi dilakukan karena pada kuesioner Agus
Kirnanda (2014) belum ada item pertanyaan untuk pelaksanaan anggaran,
bagian dari pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah pada Permendagri No. 21
Tahun 2011 dan Permendagri 54 Tahun 2010.
Kuesioner untuk regulasi merupakan modifikasi dari kuesioner Inayah
(2010) dan dilakukan penyesuaian dengan objek yang diteliti. Kuesioner politik
merupakan modifikasi dari kuesioner D. Iskandar (2013), modifikasi dilakukan
karena disesuaikan dengan Permendagri No. 21 Tahun 2011. Kuesioner
Komitmen organisasi merupakan modifikasi dari kuesioner Meyer et al. (1993)
dalam Lilis Shakikhah (2014) yang disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi
kepala SKPD terkait dengan Permendagri No. 54 Tahun 2010, tentang Tata Cara
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Daerah. Kuesioner Silpa sebagai variabel moderating merupakan modifikasi dari
kuesioner Parwati (2015) dan dilakukan penyesuaian terhadap objek penelitian.
4.5 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional dari masing-masing varibel merupakan definisi yang
dijadikan sebagai dasar untuk menentukan besarnya nilai dari masing-masing
variabel baik variabel dependen yaitu serapan anggaran (Y) dan variabel
independen yaitu regulasi (X1), politik (X2), proses pengadaan barang dan jasa (X3), dan komitmen organisasi (X4
4.5.1. Serapan Anggaran (Y)
) serta silpa sebagai variabel moderating (Z).
Serapan anggaran dalam penelitian ini adalah kemampuan Kepala SKPD
untuk merealisasikan anggaran yang sudah ditetapkan dalam suatu periode
tertentu . Indikator untuk mengukur penyerapan anggaran adalah (1) realisasi
digunakan adalah skala interval, dengan metode Likert. Pernyataan sikap
responden terhadap sebuah pernyataan diberikan skor pengukuran: 5 (SS = sudah
sepenuhnya), skor 4 (SB = sebagian besar), skor 3 (N = netral), skor 2 (SK =
sebagian kecil), dan skor 1 (SSB = sama sekali belum).
4.5.2. Regulasi Keuangan Daerah
Kepatuhan pada regulasi dibidang keuangan daerah didefenisikan sebagai
seperangkat aturan yang mengatur tentang pelaksanaan anggaran yang harus
dipahami, dipelajari dan di patuhi oleh pengguna anggaran SKPD. Indikator
pengukuran regulasi adalah: (1) pemahaman pengguna anggaran, (2) mempelajari
regulasi, (3) kepatuhan terhadap regulasi. Skala pengukuran yang digunakan
adalah skala interval, dengan metode likert. Pernyataan sikap responden terhadap
sebuah pernyataan diberikan skor pengukuran; 5 (SS = sangat setuju), skor 4 (S =
setuju), skor 3 (N = netral), skor 2 (KS = kurang setuju), dan skor 1 (TS = tidak
setuju).
4.5.3. Politik Anggaran
Politik dalam penelitian ini adalah politik anggaran yang dilakukan oleh
pengguna anggaran untuk melaksanakan kebijakan dalam alokasi anggaran
dengan asas kebutuhan dan keadilan. Indikator mengukuran variabel ini adalah (1)
pengalokasian anggaran, (2) asas kebutuhan, (3) asas keadilan. Skala pengukuran
yang digunakan adalah skala interval, dengan metode likert. Pernyataan sikap
responden terhadap sebuah pernyataan diberikan skor pengukuran; 5 (SS = sangat
setuju), skor 4 (S = setuju), skor 3 (N = netral), skor 2 (KS = kurang setuju), dan
skor 1 (TS = tidak setuju).
Proses pengadaan barang dan jasa merupakan kegiatan untuk memperoleh
barang/jasa oleh SKPD yang dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai
diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa. Indikator
pengukuran dalam proses pengadaan barang dan jasa adalah: (1) perencanaan; (2)
pelaksanaan, (3) monitoring dan (4) pelaporan. Skala pengukuran yang digunakan
adalah skala interval, dengan metode Likert. Pernyataan sikap responden
terhadap sebuah pernyataan yang bersifat positip (favorable) diberikan skor
pengukuran; 5 (SS = sangat setuju), skor 4 (S = setuju), skor 3 (N = netral), skor 2
(KS = kurang setuju), dan skor 1 (TS = tidak setuju). Untuk Pernyataan sikap
responden terhadap sebuah pernyataan yang bersifat negatif (unfavorable)
diberikan skor : 1 (SS = sangat setuju), skor 2 (S = setuju), skor 3 (N = netral),
skor 4 (KS = kurang setuju), dan skor 5 (TS = tidak setuju).
4.5.5. Komitmen organisasi
Komitmen organisasi didefenisikan sebagai keinginan yang kuat oleh
Kepala SKPD untuk mencapai serapan anggaran yang telah disepakati bersama
kepala daerah. Indikator pengukuran dalam komitmen organisasi adalah 1)
Affective commitment; 2) Continuance commitment; 3) Normative commitment.
Skala pengukuran yang digunakan adalah skala interval, dengan metode
pembobotan menggunakan skala sikap Likert. Pernyataan sikap responden
terhadap sebuah pernyataan diberikan skor pengukuran; 5 (SS = sangat setuju),
skor 4 (S = setuju), skor 3 (N = netral), skor 2 (KS = kurang setuju), dan skor 1
(TS = tidak setuju).
Silpa didefinisikan sebagai sumber penerimaan internal Pemda yang dapat
digunakan untuk mendanai kegiatan tahun berjalan. Indikator pengukuran dalam
Silpa adalah 1) sisa anggaran tahun lalu 2) jumlah anggaran yang terealisasi dan
3) dana cadangan. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala interval,
dengan metode Likert. Pernyataan sikap responden terhadap sebuah pernyataan
diberikan skor pengukuran; 5 (SS = sangat setuju), skor 4 (S = setuju), skor 3 (N =
netral), skor 2 (KS = kurang setuju), dan skor 1 (TS = tidak setuju).
Definisi operasional dan skala pengukuran secara singkat dijelaskan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1
Definisi Operasional dan Metode Pengukuran Variabel `
Nama Variabel Definsi
Operasional Indikator Skala
Serapan Anggaran (Y)
Kemampuan Kepala SKPD untuk merealisasikan anggaran yang sudah ditetapkan dalam suatu periode tertentu.
1. Realisasi anggaran,
2. Laporan terhadap belanja pemerintah
Regulasi dibidang keuangan daerah didefenisikan sebagai seperangkat aturan yang mengatur tentang
pelaksanaan anggaran yang harus dipahami, dipelajari dan di patuhi oleh pengguna anggaran SKPD.
3. kepatuhan terhadap regulasi.
Interval
Politik Anggaran (X2
Politik anggaran yang dilakukan pengguna anggaran adalah
melaksanakan kebijakan dalam alokasi anggaran dengan asas kebutuhan dan keadilan.
)
1. Pengalokasian anggaran, 2. Asas kebutuhan, 3. Asas keadilan.
Interval
Proses Pengadaan barang dan jasa (X3
Proses pengadaan barang dan jasa adalah suatu kegiatan untuk memperoleh barang dan jasa oleh SKPD yang dimulai dari
sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang dan jasa.
Komitmen Organisasi (X4
Komitmen Organisasi adalah keinginan yang kuat oleh Kepala SKPD untuk mencapai serapan anggaran yang telah disepakati bersama kepala daerah. )
Silpa (Z) Silpa didefinisikan sebagai sumber penerimaan internal pemda yang dapat digunakan untuk mendanai kegiatan tahun berjalan.
1. Sisa anggaran tahun lalu, 2. Jumlah anggaran
yang terealisasi dan
3. Sebagai dana cadangan.
Interval
4.6 Metode Analisis Data
Kuesioner yang telah diisi oleh responden dikuantitatifkan terlebih dahulu
dengan menggunakan skala ukur interval dan menggunakan metode pembobotan
skala sikap Likert, sehingga menghasilkan keluaran berupa angka yang
selanjutnya dianalisis melalui program SPSS (Statistical Package for Sosial
Science). Metode analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji kualitas data, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis
4.6.1 Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskriptif suatu
data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean). Analisis ini hanya digunakan untuk
mengorganisasi, menjumlah dan memaparkan data secara informatif yang
ditunjukan dengan analisis (Ghozali: 2013,19).
Dalam Penelitian ini menggunakan mean, maksimum, minimum, standar
deviasi, kemencengan distribusi (skewness) dan puncak distribusi data
Maksimum digunakan untuk mengetahui jumlah terbesar dalam data penelitian.
Minimum juga digunakan untuk mengetahui jumlah terkecil data yang
digunakan dalam penelitian. Standar deviasi digunakan untuk mengetahui
seberapa besar data dalam penelitian yang bervariasi dari rata-rata. Nilai kurtosis
dan skewness digunakan untuk melihat apakah data terdistribusi secara normal.
Data yang terdistribusi secara normal mempunyai nilai skewness dan kurtosis
mendekati nol (Ghozali,2013,21).
4.6.2 Uji Kualitas Data
Untuk menguji kualitas data dalam penelitian ini peneliti menggunakan uji
validitas dan uji reliabilitas.
4.6.2.1 Uji Validitas
Uji validitas bertujuan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu
kuesioner. Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang telah
disusun dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur secara tepat.
Apabila instrumen tersebut mampu untuk mengukur apa yang diukur, maka
disebut valid dan sebaliknya, apabila tidak mampu untuk mengukur apa yang
diukur, maka dinyatakan tidak valid. Suatu kuesioner dikatakan valid jika
pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan
diukur oleh kuesioner tersebut. (Ghozali: 2013,52) Pengujian validitas data
dilakukann dengan Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai
r hitung dengan r tabel untuk degree of freedom (df) = n-2, dalam hal ini n adalah jumlah sampel. Jika r hitung untuk r tiap butir dapat dilihat pada kolom
Corrected Item-Total Correlation lebih besar dari r tabel dan nilai positif, maka
4.6.2.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas bertujuan untuk mengukur suatu kuesioner yang
merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan
reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten
atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2013,47). Teknik yang digunakan
untuk mengukur reliabilitas pengamatan adalah dengan menggunakan uji
statistik cronbach alpha. Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika
memiliki nilai cronbach alpha > 0,7 (Nunnally, 1994 dalam Ghozali, 2013,48).
4.6.3. Pengujian Asumsi Klasik
Metode analisis data yang dilakukan adalah dengan uji asumsi klasik, yaitu
dengan menggunakan: uji multikolonieritas, uji normalitas dan uji
heterokedastisitas. Uji ini dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan pengujian
hipotesis. Pengujian asumsi klasik yang dilakukan untuk menentukan syarat
persamaan pada model regresi dan dapat diterima secara ekonometrik.
4.6.3.1 Uji Multikolonieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji, apakah model regresi
ditemukan atau tidak korelasi diantara variabel bebas (independen) (Ghozali:
2013:105). Suatu model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di
antara varibel bebasnya. Jika variabel independen saling berkolerasi, maka
variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah independen yang
nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2013,
105). Untuk itu diperlukan uji multikolinieritas terhadap setiap data variabel bebas
yaitu dengan :
Inflation Factor (VIF). Jika angka VIF > 10, maka Variabel bebas yang ada memiliki masalah multikolinieritas
2. Melihat nilai tolerance pada output penilian multikolinieritas yang tidak menunjukkan nilai yang lebih besar dari 0,1 akan memberikan kenyataan
bahwa tidak terjadi masalah multikolinieritas.
4.6.3.2 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui distribusi data dalam variabel
yang akan digunakan dalam penelitian. Data yang baik dan layak digunakan
dalam penelitian adalah data yang memiliki distribusi normal. Pada penelitian ini,
untuk mengetahui normalitas data dengan menggunakan analisis melalui grafik
dan uji statistik. Uji Statistik yang dilakukan pada penelitian ini dengan
menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, dengan kriteria:
1. Jika nilai signifikansi atau probabilitasnya > 0,05 maka distribusi data
adalah normal.
2. Jika nilai signifikansi atau probabilitasnya < 0,05 maka distribusi data
adalah tidak normal.
4.6.3.3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah
model regresi terjadi ketidaksamaan varaians dari residual satu pengamatan ke
pengamatan lain. Ghozali (2013,139), jika varians dari residual satu pengamatan
ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas, dan jika berbeda
disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang
homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Secara statistik uji
dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik satterplot antara ZPRED
dengan residualnya SRESID.
4.6.4 Pengujian Hipotesis Penelitian 4.6.4.1. Pengujian hipoteis pertama (H1)
Pada penelitian ini pendekatan analisis yang dilakukan dengan metode
analisis regresi berganda. Metode analisis regresi berganda bertujuan untuk
mengukur besarnya pengaruh dua atau lebih variabel dependen terhadap satu
variabel independen dan juga menunjukkan arah hubungan antara varibel
dependen dengan variabel independen. (Rochaety,dkk, 2007,138)
Oleh karena itu model penelitian dengan persamaan regresi yang
digunakan adalah sebagai berikut :
Y = α + b1X1 + b2X 2 + b3X3 + b4X4
= Koefisien regresi 1
Berdasarkan model persamaan hipotesis pertama di atas dilaksanakan Uji
signifikansi simultan (Uji statistik F) dan Uji signifikansi parameter individual
(Uji statistik t), Uji koefisien determinasi (Adjusted R2 1. Uji signifikansi simultan (Uji statistik F)
).
Menurut Ghozali (2013,177), uji statistik F digunakan untuk mengetahui
variabel dependen. Hipotesis untuk uji statistik F pada penelitian ini dinyatakan
sebagai berikut:
H1 : β ≠ 0, Regulasi, Politik, Proses pengadaan barang dan jasa dan Komitmen
Organisasi secara simultan berpengaruh terhadap serapan anggaran.
Kriteria pengambilan keputusan terhadap uji F, adalah sebagai berikut:
1. Jika F hitung > F tabel dan signifikansi < α = 5%, maka menerima H1, artinya
Regulasi, Politik, Proses pengadaan barang dan jasa dan Komitmen
Organisasi secara simultan berpengaruh terhadap serapan anggaran.
2. Jika F hitung < F tabel dan signifikansi > α = 5%, maka tidak dapat menerima
H1.
2. Uji signifikansi parameter individual (Uji statistik t)
Uji statistik t bertujuan untuk melihat seberapa jauh pengaruh satu variabel
independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen
(Ghozali, 2013,98). Hipotesis untuk uji statistik t adalah sebagai berikut :
H1 : β ≠ 0, Regulasi, Politik, Proses pengadaan barang dan jasa dan Komitmen
Organisasi secara parsial berpengaruh terhadap serapan anggaran.
Kriteria pengambilan keputusan atas hasil uji statistik t sebagai berikut:
1. Jika t hitung > t tabel dan signifikansi < α = 5%, maka menerima H1, artinya
Regulasi, Politik, Proses pengadaan barang dan jasa dan Komitmen
Organisasi secara parsial berpengaruh terhadap serapan anggaran .
2. Jika t hitung < t tabel dan signifikansi > α = 5%, maka tidak dapat menerima
3. Uji koefisien determinasi (Adjusted R2
Uji koefisien determinasi (R ) 2
) pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat (Ghozali, 2013,
97). Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi (R2) adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Sehingga
banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R2 pada saat mengevaluasi mana model regresi terbaik. Tidak seperti R2, nilai Adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam
model. Menurut Ghozali (2013,177), Adjusted R2 digunakan untuk menguji goodness-fit dari model regresi. Menurut Ghozali (2013,177), Nilai Adjusted R2 yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir
semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksikan variasi variabel
dependen, dan apabila nilai R2
4.6.4.2. Pengujian hipoteis kedua (H
semakin kecil mendekati nol, berarti
variabel-variabel independen hampir tidak memberikan semua informasi yang dibutuhkan
untuk memprediksi variasi variabel dependen.
2
Hipotesis kedua menggunakan analisis linear regresi berganda dengan
variabel moderating. Ghozali (2013,223) menyatakan variabel moderating adalah
variabel independen yang akan memperkuat atau memperlemah hubungan antara
variabel independen lainnya terhadap variabel dependen. Ada tiga cara menguji
regresi dengan variabel moderating yaitu : (1) Uji Interaksi, (2) Uji Nilai selisih
Mutlak dan (3) Uji Residual.
)
Pengujian variabel moderating dalam penelitian ini menggunakan uji
(2013,239), selain itu uji residual dapat menunjukkan apakah suatu variabel
dapat dinyatakan sebagai variabel moderating atau tidak. Jika suatu variabel dilakukan uji residual dengan hasil nilai koefisien signifikansi lebih kecil dari α =
0,05 yang berarti signifikan dan koefisien parameternya bernilai negatif
bermakna variabel tersebut adalah variabel moderating Ghozali (2013,244).
Model hipotesis kedua yang digunakan yaitu :
Dimana:
Y = Penyerapan anggaran α
b
= Konstanta 1,b2,b3,b4,b5
X
= Koefisien Regresi 1
X
= Regulasi 2
X
= Politik 3
X
= Proses pengadaan barang dan jasa 4
Z = Silpa
= Komitmen organisasi
e = Error
|e| = Nilai residual mutlak
Z = α + b1X1 + b2X 2 + b3X3 + b4X4 +e…………. (1)
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Diskripsi Data Penelitian
Respoden penelitian ini adalah pelaksana anggaran Pemerintah Provinsi
Sumatera Utara. Kuesioner disebarkan ke 44 SKPD dan setiap SKPD diberikan 2
(dua) kuesioner yaitu kepada pengguna anggaran dan pejabat penatausahaan
keuangan SKPD Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Pembagian kuesioner
dilakukan dengan cara memberikan sebanyak 88 set kuesioner kepada respoden
pada tanggal 10,11 dan 12 Nopember 2016. Kemudian responden diberikan waktu
untuk menjawab selama satu minggu, setelah itu kuesioner dikumpulkan kembali
oleh peneiti. Dari 88 set kuesioner yang di bagikan, kembali sebanyak 88 set.
Distribusi kuesioner yang menggambarkan jumlah kuesioner dapat dilihat pada
tabel 5.1
Tabel 5.1
Tingkat Pengembalian Kuesioner
No Uraian Intansi Sebar Kembali Tidak
Kembali
Baik Rusak
1 Sekretariat 6 12 12 - -
2 Badan 13 26 26 - -
3 Dinas 20 40 40 - -
4 Kantor 3 6 6 - -
5 BLU 2 4 4 - -
Jumlah 44 88 88 - -
5.1.1.1 Karakteristik Responden Penelitian
Berdasarksan data penelitian yang telah dikumpulkan, diperoleh data tentang
karakteristik responden yang terdiri dari : (1) Usia, (2) Jenis kelamin, (3)
Pendidikan, (4) Latar belakang pendidikan dan (5) Lama bekerja, sesuai dengan
Tabel 5.2.
Tabel 5.2
Karakteristik Responden Penelitian (n = 88)
No Demografi Responden Frekuensi Persentase
I Usia III Pendidikan
1. SLTA 2. Diploma 3. Sarjana 4. Pasca Sarjana
0 IV Latar Belakang Pendidikan
1. Akuntansi Sumber : Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Dari tabel 5.2 diatas, gambaran umum respoden sebagian besar adalah pria yaitu
sebanyak 63 orang atau 70% sedangkan responden wanita sebanyak 25 orang atau
28%. Umur responden umumnya diatas 50 tahun dan latar belakang pendidikan
berimbang antara pegawai yang memiliki latar belakang pendidikan Sarjana (S1)
pengguna anggaran dan kasubbang keuangan rata-rata 11-20 tahun sebanyak 41
orang dan ≥ 30 tahun sebanyak 47 orang.
5.1.1.2 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran mengenai
variabel-varibel penelitian yang menunjukan nilai maksimum, nilai minimum,
nilai rata – rata (mean), standar deviasi, nilai skewness dan kurtosis pada
penelitian ini. Variabel dependen pada penelitian ini adalah serapan anggaran,
sedangkan variabel independen adalah regulasi keuangan daerah, politik
anggaran, proses pengadaan barang dan jasa, komitmen organisasi dan variabel
moderating adalah Silpa. Statistik deskriptif yang diperoleh dari jawaban atas
kuesioner mengenai variabel penelitian disajikan pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3 Statistik Deskriptif Descriptive Statistics
N Min Max Mean
Std.
Deviation Skewness Kurtosis
Serapan Anggaran 88 12 25 21,295 3,288 -0,969 0,880
Sumber: Hasil Penelitian,2016 (data diolah)
Berdasarkan hasil tabulasi data pada 88 kuesioner yang dikumpulkan,
maka dapat diuraikan jawaban responden terhadap pernyataan yang terdapat pada
kuesioner penelitian ini. Pada variabel serapan anggaran nilai rata-rata (mean)
21,295 artinya jawaban dari kuesioner atas variabel ini adalah adalah setuju. Skor
dengan standard deviasi sebesar 3,288, artinya persepsi responden terhadap
serapan anggaran cukup baik. Nilai skewness -0,969 dan kurtosis -0,880
sama-sama mendekati nol, artinya data terdistribusi secara normal.
Variabel regulasi keuangan daerah, nilai mean 25,455 artinya jawaban dari
keusioner atas variabel ini adalah setuju. Skor jawaban responden mengenai
regulasi keuangan daerah berkisar antara 16 sampai 30 dengan standard deviasi
sebesar 3,729, artinya persepsi responden terhadap regulasi keuangan daerah
cukup baik. Nilai skewness -0,489 dan kurtosis -0,091 sama-sama mendekati nol,
artinya data terdistribusi secara normal.
Variabel politik anggaran, nilai mean 17,205 artinya jawaban dari
keusioner atas variabel ini adalah setuju. Skor jawaban responden mengenai
regulasi keuangan daerah berkisar antara 16 sampai 30 dengan standard deviasi
sebesar 1,750 menunjukan jawaban mendekati 2 dengan kategori kurang setuju
persepsi responden terhadap politik anggaran cukup baik. Nilai skewness 0,206
dan kurtosis -0,859 sama-sama mendekati nol, artinya data terdistribusi secara
normal.
Variabel proses pengadaan barang dan jasa, nilai mean 24,114 artinya
jawaban dari keusioner atas variabel ini adalah setuju. Skor jawaban responden
mengenai regulasi keuangan daerah berkisar antara 14 sampai 30 dengan standard
deviasi sebesar 3,984, artinya persepsi responden terhadap regulasi keuangan
daerah cukup baik. Nilai skewness -0,838 dan kurtosis 0,183 sama-sama
mendekati nol, artinya data terdistribusi secara normal.
Variabel komitmen organisasi, nilai mean 25,591 artinya jawaban dari
komitmen organisasi berkisar antara 18 sampai 30 dengan standard deviasi sebesa
3,261, artinya persepsi responden terhadap regulasi keuangan daerah cukup baik.
Nilai skewness -0,594 dan kurtosis 0,058 sama-sama mendekati nol, artinya data
terdistribusi secara normal.
Variabel silpa, nilai mean 11,545 artinya jawaban dari keusioner atas
variabel ini adalah setuju. Skor jawaban responden mengenai regulasi keuangan
daerah berkisar antara 6 sampai 15 dengan standard deviasi sebesar 2,138, artinya
persepsi responden terhadap regulasi keuangan daerah cukup baik. Nilai skewness
-0,598 dan kurtosis 0,158 sama-sama mendekati nol, artinya data terdistribusi
secara normal.
5.1.2 Uji Kualitas Data
Penelitian ini mengguanakan data primer oleh karena itu harus dilakukan
uji kualitas data sebelum pengujian asumsi klasik dan pengujian hipotesis. Uji
kualitas data dapat dilakukan melalui uji reabilitas dan validitas.
5.1.2.1 Uji Validitas Data
Pengujian validitas data dilakukan dengan korelasi bivariate antara
masing-masing skor indikator dengan total skor konstruk. Dari tampilan output
SPSS pada tabel 5.4, tabel 5.5, tabel 5.6, tabel 5.7, tabel 5.8 dan tabel 5.9 terlihat
bahwa nilai r hitung, untuk r tiap butir dapat dilihat pada kolom Corrected Item Total Correlation lebih besar dari r tabel dan nilai positif, maka pertanyaan
tersebut dikatakan valid. Dengan menggunakan jumlah responden yang diteliti
sebanyak 88 orang, nilai r tabel dapat diperoleh dari df (degree of freedom) = n-2,
maka df untuk penelitian ini adalah 88 – 2 = 86, dengan taraf signifikansi 5%
Tabel 5.4
Hasil Uji Validitas Instrumen
Variabel Item r hitung r tabel Status
Serapan Anggaran Y.1
Y.2
Regulasi Keuangan Daerah X1.1 X1.2
Politik Anggaran X2.1
X2.2 Proses Pengadaan Barang dan jasa X3.1
X3.2
Komitmen Organisasi X4.1
X4.2 Sumber : Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
5.1.2.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunaka untuk mengetahui konsistensi alat ukur, apakah
alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan konsisten. Suatu kontruk atau
(Arikunto:48). Hasil uji reliabilitas instrumen penelitian ini dapat dilihat pada
tabel 5.5.
Tabel 5.5
Hasil uji Reliabilitas Instrumen
Variabel Cronbach’s
alpha
Batas Reliabilitas Keterangan
Serapan Anggaran 0,718 0,60 Reliabel
Regulasi Keuangan Daerah
0,667 0,60 Reliabel
Politik Anggaran 0,730 0,60 Reliabel
Proses Pengadaan Barang dan Jasa
0,683 0,60 Reliabel
Komitmen Organisasi 0,688 0,60 Reliabel
Silpa 0,757 0,60 Reliabel
Sumber : Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Dari hasil pengujian diatas menunjukan bahwa nilai Cronbach’s Alpha untuk semua variabel lebih nesar dari 0,60, maka dapat dinyatakan instrumen
tersebut reliabel.
5.1.3. Uji Asumsi Klasik 5.1.3.1. Uji Multikolinearitas
Pengujian multikolinearitas dilakukan untuk menguji apakah pada model
regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Pengujian
multikolineartias dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat besaran VIF
Tabel 5.7
Tolerance VIF
1 (Constant) 5,183 3,533 1,467 0,146 Barang dan Jasa
0,068 0,094 0,082 0,724 0,471 0,620 1,614
a. Dependen variabel : Serapan Anggaran Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas
karena nilai VIF dari masing-masing variabel independen tidak lebih besar dari 10
dan nilai tolerance tidak kurang dari 0,10.
5.1.3.2. Uji Normalitas
Pada uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model
regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji
normalitas bertujuan untuk melihat normal tidaknya data yang akan dinalisis
1. Analisis Grafik
Gambar 5.1 Grafik Histogram
Pada analisis grafik, pengujian dilakukan dengan melihat grafik histogram dan
grafik normal p-pplot.Grafik histogram diatas menggambarkan pola distribusi
yang seimbang dan normal. Hasil yang sama ditunjukan pada grafik normal p-p
plot,terlihat pada titik-titik yang menyebardisekitar garis diagonal dan penyebaran
mendekati garis diagonal. Kedua grafik ini menunjukan model regresi tidak
menyalahi atau memenuhi asumsi normalitas.
2. Uji Statistik
Tabel 5.6 Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 88
Normal Parametersa Mean 0,00000
Std. Deviation 2,65986
Most Extreme Differences Absolute 0,114
Positive 0,069
Negative -0,114
Kolmogorov-Smirnov Z 1,069
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,203
a.Test distribution is Normal.
Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Hasil uji data dengan menggunakan One Sample Kalmogorov-Smirnov Test dengan melihat tingkat signifikansi 5%. Dasar pengambilan keputusan pada uji normalitas yaitu dengan melihat probabilitaas asymp.sig (2-tailed) lebih besar
dari 0,05, maka data dapat dikatakan berdistribusi normal. Pada tabel diatas hasil
pengujian menunjukan besarnya nilai Kolmogorov-Smirnov Z adalah 1,069 dan
signifikan pada 0,203. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui
analisis statistik terbukti data residual berdistribusi normal.
Uji heteroskedastisitas dilakukan pada penelitian ini untuk menguji apakah
model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Cara mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas
yaitu dengan melihat grafik Scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen ZPRED dengan residualnya SRESID. Deteksi ada atau tidaknya
heteroskedastisitas dapat dilakukan sebagai berikut (Ghozali,139, 2001)
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang
teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit) maka mengindikasikan
telah terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan di bawah angka 0
pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Gambar 5.3. Grafik Scatterplot
Dari gambar diatas menunjukan penyebaran titik-titik data menyebar secara acak
serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, titik-titik
tidak mengumpul diatas atau dibawah dan tidak membentuk pola tertentu
sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi.
5.1.4.1. Pengujian hipotesis pertama (H1)
Pengujian hipotesis dilakukan setelah diperoleh kesimpulan dari
pengujian asumsi klasik bahwa model telah dapat digunakan untuk pengujian
hipotesis, dalam hal ini dengan analisa regresi berganda. Adapun hipotes yang
akan diuji adalah pengaruh regulasi keuangan daerah, politik anggaran, proses
pengadaan barang dan jasa dan komitmen organisasi secara simultan dan parsial
terhadap serapan anggaran SKPD. Hasil pengujisn hipotesis dapat dilihat pada
Tabel 5.8.
Tabel 5.8
Hasil Pengujian Hipotesis Pertama
Berdasarkan hasil tabel diatas, maka persamaan regresi linear untuk
penelitian ini adalah :
Y = 5,183 + 0,308X1 + 0,052 X2 + 0,068 X3 – 0,097 X4 Dari persamaan regresi linear diatas dapat dijelaskan bahwa :
1. Konstanta (α )
Nilai konstanta sebesar 5,183 bearti jika variabel independen dianggap nol (0)
maka nilai variabel serapan anggaran akan bertambah sebesar 5,183.
2. Regulasi keuangan daerah (X1
Unstandardize B Std. Error Beta
1 (Constant) 5,183 3,533 1,467 0,146
Regulasi Keuangan Daerah 0,308 0,114 0,349 2,699 0,008
Politik Anggaran 0,052 0,219 0,028 0,236 0,814
Proses Pengadaan Barang dan
Jasa 0,068 0,094 0,082 0,724 0,471
Komitmen Organisasi -0,097 0,120 -0,097 -0,813 0,418
a. Dependent Variable: Serapan Anggaran Sumber : Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Coefficientsa
Model t Sig.
Nilai koefisien regulasi keuangan daerah sebesar 0,308 bearti setiap kenaikan nilai
variabel regulasi keuangan daerah sebesar satu satuan maka nilai variabel serapan
anggaran akan bertambah sebesar 0,308 dengan asumsi variabel independen yang
lain dalam model regresi adalah tetap.
3. Politik anggaran (X2
Nilai koefisien Politik anggaran sebesar 0,052 bearti setiap kenaikan nilai variabel
politik anggaran sebesar satu satuan maka nilai variabel serapan anggaran akan
bertambah sebesar 0,052 dengan asumsi variabel independen yang lain dalam
model regresi adalah tetap.
) terhadap serapan anggaran (Y)
4. Proses pengadaan barang dan jasa (X3
Nilai koefisien Proses pengadaan barang dan jasa sebesar 0,068 bearti setiap
kenaikan nilai variabel Proses pengadaan barang dan jasa sebesar satu satuan
maka nilai variabel serapan anggaran akan bertambah sebesar 0,052 dengan
asumsi variabel independen yang lain dalam model regresi adalah tetap. ) terhadap serapan anggaran (Y)
5. Komitmen organisasi (X4
Nilai koefisien Komitmen organisasi sebesar -0,097 bearti setiap penurunan nilai
variabel Komitmen organisasi sebesar satu satuan maka nilai variabel serapan
anggaran akan menurun sebesar -0,097 dengan asumsi variabel independen yang
lain dalam model regresi adalah tetap.
) terhadap serapan anggaran (Y)
Berdasarkan persamaan diatas dilaksanakan, uji signifikansi simultan (uji
F) dan uji signifikansi parameter individual (uji statistik t), uji koefisien
determinasi (Adjusted R2 1. Uji Statistik F
Hasil pengujian statistik F untuk melihat pengaruh secara simultan regulasi
keuangan daerah, politik anggaran, proses pengadaan barang dan jasa dan
komitmen organisasi terhadap serapan anggaran SKPD. Hasil uji Statistik F dapat
dilihat pada tabel dibawah ini dari hasil pengolahan data melalui SPSS.
Tabel 5.10 Uji Statistik F
Pada tabel 5.10 diatas dapat dilihat besaran nilai F hitung 8,654 lebih
besar dari nilai F tabel 2,71 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari α = 0,05 maka menerima H1. Sehingga dapat disimpulkan secara simultan
variabel regulasi keuangan daerah, politik anggaran, proses pengadaan barang dan
jasa dan komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap serapan anggaran
SKPD.
2. Uji Statistik t
Uji Statistik t dengan menggunakan SPSS dapat dilihat pada tabel 5.11
Kriteria pengambilan keputusan dengan menggunakan nilai signifikansi t
pada taraf nyata 5%. Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.11 maka secara
parsial pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen
dapat dilihat sebagai berikut.
1. Variabel regulasi keuangan daerah (X1
2. Variabel politik anggaran (X
) memiliki tingkat signifikansi sebesar
0,008 < 0.05 dan nilai t hitung 2,699 > t tabel 1,987 dan koefisien regresi
bernilai positif maka menerima H1, sehingga dapat disimpulkan variabel
regulasi keuangan daerah berpengaruh positif signifikansi terhadap variabel
serapan anggaran SKPD.
2
3. Variabel proses pengadaan barang dan jasa (X
) memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,814 >
0.05 artinya berbengaruh tidak signifikan dan nilai t hitung 0,236 < t tabel
1,987 artinya tidak perpengaruh dan koefisien regresi bernilai positif maka
tidak dapat menerima H1, sehingga dapat disimpulkan variabel politik
anggaran tidak berpengaruh terhadap variabel serapan anggaran SKPD.
3 B Std. Error Beta
1 (Constant) 5,183 3,533 1,467 0,146
Regulasi Keuangan Daerah 0,308 0,114 0,349 2,699 0,008
Politik Anggaran 0,052 0,219 0,028 0,236 0,814
Proses Pengadaan Barang dan
Jasa 0,068 0,094 0,082 0,724 0,471
Komitmen Organisasi -0,097 0,120 -0,097 -0,813 0,418
a. Dependent Variable: Serapan Anggaran Sumber : Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Coefficientsa
Model t Sig.
) memiliki tingkat signifikansi
sebesar 0,471 > 0.05 artinya berbengaruh tidak signifikan dan nilai t hitung
positif maka tidak dapat menerima H1, sehingga dapat disimpulkan variabel
proses pengadaan barang dan jasa tidak berpengaruh terhadap variabel serapan
anggaran SKPD.
4. Variabel komitmen organisasi (X4) memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,418 > 0.05 artinya berbengaruh tidak signifikan dan nilai t hitung -0,813 < t tabel
1,987 artinya tidak perpengaruh dan koefisien regresi bernilai negatif maka
tidak dapat menerima H1, sehingga dapat disimpulkan variabel komitmen
organnisasi tidak berpengaruh terhadap variabel serapan anggaran SKPD.
3. Uji koefisein determinasi (Adjusted R2
Untuk mengetahui seberapa besar variabel serapan anggaran
mempengaruhi regulasi keuangan daerah, politik anggaran, proses pengadaan
barang dan jasa dan komitmen organisasi dapat dilihat pada Tabel 5.9 dibawah
ini.
)
Tabel 5.9
Uji koefisein determinasi (Adjusted R2)
Dari tabel diatas diketahui nilai R2
Model R R Square Adjusted
R Square
Std. Error of the Estimate
1 0,588 0,345 0,306 2,740
Sumber : Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
a. Predictors: (Constant), Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA), Regulasi Keuangan Daerah, Politik Anggaran, Proses Pengadaan Barang dan Jasa, Komitmen Organisasi
Model Summary
sebesar 0,345 hal ini menunjukan
variabel regulasi keuangan daerah, politik anggaran, proses pengadaan barang dan
yang kuat sebesar 34,5 % dengan variabel serapan anggaran sebagai variabel
dependen. Nilai adjusted R2
5.1.4.2 Pengujian Hipotesis kedua
sebesar 0,306 yang mengindikasikan bahwa 30,6%
variabel dependen (serapan anggaran ) dipengaruhi oleh variabel independen yaitu
regulasi keuangan daerah, politik anggaran, proses pengadaan barang dan jasa dan
komitmen organisasi, sedangkan sisanya sebesar 69,4% dijelaskan oleh variabel
lain diluar model penelitian ini.
Pengujian hipotesis kedua menggunakan analisis linear berganda dengan
uji residual. Penggunaan variabel moderating ini dimaksud untuk membuktikan
hipotesis kedua bahwa variabel silpa dapat memoderasi hubungan antara variabel
regulasi keuangan daerah, politik anggaran, proses pengadaan barang dan jasa dan
komitmen organisasi dengan variabel serapan anggaran SKPD. Hasil persamaan
residual dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 5.12.
Tabel 5.12
Hasil Pengujian Regresi Hipotesis kedua
Berdasarkan tabel diatas, maka persamaan hasil uji residual sebagai
berikut:
B Std. Error Beta
1 (Constant) 10,171 2,167 4,694 0,000
Regulasi Keuangan Daerah -0,139 0,077 -0,242 -1,794 0,076
Politik Anggaran -0,402 0,145 -0,329 -2,778 0,007
Proses Pengadaan Barang
dan Jasa 0,196 0,061 0,366 3,226 0,002
Komitmen Organisasi 0,277 0,077 0,422 3,594 0,001
a. Dependent Variable: Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Sumber : Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Coefficientsa
Model t Sig.
Model persamaan hipotesis kedua diatas bertujuam umtuk mendapatkan nilai
residual dari variabel moderating. Nilai residual dari model (1) digunakan sebagai
variabel independen pada model (2). Hasil yang diperoleh dari uji model (2) akan
disimpulkan apakah variabel silpa bisa dikatakan moderating atau tidak. Sebuah
variabel bisa dikatakan sebagai variabel moderating apabila nilai signifikan lebih kecil dari nilai α = 0,05 dan memiliki nilai koefisien yang negatif.
Tabel 5.13 Hasil uji Residual
Hasil uji residual pada tabel diatas dapat diformulasikan dalam bentuk persamaan
sebagai berikut :
׀e׀ = 5,208+0,458 serapan anggaran...(2)
Berdasarkan hasil uji residual yang dilakukan diketahui bahwa tingkat signifikansi serapan anggaran sebesar 0,000 lebih kecil dari α = 0,05 dan koefisien regresi
yang bernilai positif 0,458 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel silpa
merupakan variabel moderating yang tidak dapat memoderasi hubungan antara
regulasi keuangan daerah, politik anggaran, proses pengadaan barang dan jasa dan
komitmen organisasi dengan variabel serapan anggaran.
5.2 Pembahasan Hasil Penelitian
5.2.1 Pengaruh Regulasi Keuangan Daerah Terhadap Serapan Anggaran
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
B Std. Error Beta
1 (Constant) 5,208 1,344 3,876 0,000
Serapan Anggaran 0,298 0,062 0,458 4,771 0,000
a. Dependent Variable: Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Sumber : Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
t Sig.
Hasil pengujian secara parsial menunjukan bahwa pengaruh regulasi
keuangan daerah berpengaruh positif signifikan terhadapan serapan anggaran
SKPD di pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dengan menggunakan uji t dan
diperoleh hasil nilai t hitung sebesar 2,699 lebih besar dari t tabel 1,987 dan tingkat signifikansi sebesar 0,008 lebih kecil dari α = 0,05 dan koefisien regresi
sebesar positif 0,308 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel regulasi
keuangan daerah berpengaruh positif signifikan terhadap variabel serapan
anggaran SKPD. Hali ini menunjukan bahwa dengan adanya regulasi keuangan
daerah akan meningkatkan serapan anggaran SKPD. Penelitian ini berhasil
menemukan bukti adanya pengaruh regulasi keuangan daerah terhadap serapan
anggaran SKPD di pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dalam pelaksanaan
anggaran di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara regulasi keuangan daerah cepat
diantisipasi oleh kepala SKPD sehingga pelaksanaan anggaran dapat berjalan
tepat waktu. Perubahan terhadap regulasi keuangan daerah terus dilakukan oleh
TAPD dan pengelolaan APBD di SKPD dilaksanakan sesuai dengan pedoman
yang telah ditetapkan dalam Perda APBD.
Hasil pengujian secara simultan diperoleh dari uji F menunjukan nilai F
hitung 8,654 lebih besar dari nilai F tabel 2,71 dan nilai signifikansi sebesar 0,000
lebih kecil dari 0,05 maka variabel regulasi keuangan daerah berpengaruh
signifikan terhadap serapan anggaran SKPD. Sedangkan dari hasil uji koefisien
determinasi di peroleh nilai R2
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian lain terkait serapan
anggaran, seperti hasil penelitian Arif (2011) yang menunjukan bahwa faktor sebesar 0,588 memiliki hubungan yang kuat
regulasi yang dapat menyebabkan minimnya serapan anggaran. Begitu juga
dengan hasil penelitian Kaharuddin (2011) yang menunjukan bahwa faktor
regulasi yang meliputi peraturan sering berubah mempengaruhi serapan anggaran.
Hal ini disebabkan karena regulasi dibidang keuangan sangat penting dan terjadi
hampir diseluruh propinsi di Indonesia dalam pengelolaan keuangan.
5.2.2. Pengaruh Politik Anggaran Terhadap Serapan anggaran
Pengujian pengaruh variabel politik anggaran terhadap serapan anggaran
dengan menggunakan uji t dan diperoleh hasil nilai t hitung sebesar 0,236 lebih
kecil dari t tabel 1,987 dan tingkat signifikansi variabel politik anggaran sebesar 0,814 lebih besar dari α = 0,05 dan koefisien positif 0,052, hal ini menunjukan
bahwa variabel politik anggaran tidak berpengaruh terhadap variabel serapan
anggaran. Penelitian ini tidak dapat membuktikan pengaruh politik anggaran
terhadap serapan anggaran karena pada tahap perencanaan terhadap
program/kegiatan tidak memasukan pokir hasil musrenbang yang dilaksanakan
baik ditingkat kab/kota, SKPD, Provinsi dan tingkat pusat. Terjadi tarik menarik
antara Legislatif dan Eksekutif sehingga anggaran yang disusun tidak dapat
diimplementasikan oleh Pimpinan SKPD.
Hasil pengujian secara simultan diperoleh dari uji F menunjukan nilai F
hitung 8,654 lebih besar dari nilai F tabel 2,71 dan nilai signifikansi sebesar 0,000
lebih kecil dari 0,05 maka variabel politik anggaran berpengaruh signifikan
terhadap serapan anggaran SKPD. Sedangkan dari hasil uji koefisien determinasi
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Arif (2011) menunjukan adanya pengaruh signifikan antara variabel politik
anggaran dalam mempengaruhi serapan anggaran kab/kota di Provinsi Riau. Hal
ini ditunjukan pada proses pemilihan kepala daerah yang dilakukan diseluruh
kab/kota di Provinsi Riau, yang membuat agenda pelaksanaan anggaran menjadi
tertunda. Mengingat iklim politik dimasing-masing daerah tidaklah sama maka
unsur politik anggaran disetiap provinsi di Indonesia tidak akan sama jika
diterapkan dalam pengelolaan keuangan daerah.
5.2.3. Pengaruh Proses Pengadaan Barang dan jasa Terhadap Serapan Anggaran
Pengujian parsial terhadap variabel proses pengadaan barang dan jasa
terhadap serapan anggaran SKPD dengan menggunakan uji t menunjukan hasil t
hitung sebesar 0,724 lebih kecil dari t tabel sebesar 1,987 dengan signifikan sebesar 0,471 lebih besar dari nilai α = 0,05 dan koefisien positif 0,068. Hal ini
menunjukan bahwa variabel proses pengadaan barang dan jasa tidak berpengaruh
terhadap serapan anggaran.
Pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara variabel proses pengadaan
barang dan jasa tidak berpengaruh terhadap serapan anggaran dimungkinkan
karena tahun 2014-2015 pengesahan ABPD Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
dilakukan tempat waktu tetapi pelaksanaan anggaran baru dimulai pada bulan
maret sehingga jadwal pengadaan barang dan jasa jadi tertunda. Proses pengadaan
barang dan jasa membutuhkan waktu yang panjang sehingga tender baru dapat
dilaksanakan pada triwulan II. Menurut PP No.54 tahun 2010 tentang pengadaan
perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan pelaporan, maka pelaksanaan anggaran
harus dimulai tepat waktu sehingga pengadaan barang dan jasa dapat terlaksana
sesuai ketentuan.
Hasil pengujian secara simultan diperoleh dari uji F menunjukan nilai F
hitung 8,654 lebih besar dari nilai F tabel 2,71 dan nilai signifikansi sebesar 0,000
lebih kecil dari 0,05 maka variabel proses pengadaan barang dan jasa berpengaruh
signifikan terhadap serapan anggaran SKPD. Sedangkan dari hasil uji koefisien
determinasi di peroleh nilai R2
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian oleh Priatno
(2013) yang menunjukan bahwa faktor pengadaan barang dan jasa mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap penyerapan anggaran Satker. Hal ini juga
sejalan dengan penelitian Kuswoyo (2011) yang menunjukan faktor pengadaan
barang dan jasa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penumpukan
anggaran.
sebesar 0,588 memiliki hubungan yang kuat
dengan variabel serapan anggaran sebesar 58,8%.
5.2.4 Pengaruh Komitmen Organisasi Terhadap Serapan Anggaran
Pengujian parsial terhadap variabel komiten organisasi terhadap serapan anggaran
dengan nilai t hitung sebesar -0,813 lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 1,987 dengan signifikasi sebesar 0,418 lebih besar dari nilai α = 0,05 dan koefisein
sebesar -0,097, maka dapat disimpulkan secara parsial variabel komitmen
organisasi tidak berpengaruh terhadap serapan anggaran. Hal ini dikarenakan
kinerja yang telah disepakati bersama kepala daerah yang seharusnya menjadi
acuan dalam mewujudkan visi dan misi dari SKPD yang dipimpinnya.
Hasil pengujian secara simultan diperoleh dari uji F menunjukan nilai F
hitung 8,654 lebih besar dari nilai F tabel 2,71 dan nilai signifikansi sebesar 0,000
lebih kecil dari 0,05 maka variabel komitmen organisasi berpengaruh signifikan
terhadap serapan anggaran SKPD. Sedangkan dari hasil uji koefisien determinasi
di peroleh nilai R2
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penellitian oleh Purtanto (2015)
yang menunjukan bahwa faktor komitmen manajemen dan perencanaan
berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap penyerapan anggaran belanja
daerah di pemerintah Kota Tegal. Hal ini juga di ungkapkan dalam hasil
penelitian Afif (2011) dimana variabel komitmen organisasi berpengaruh terhdap
penyerapan anggaran kabupaten/kota di Provinsi Riau. Hal ini kemungkinan
disebabkan karena kebijakan atas anggaran Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
terletak pada kepala daerah sehingga tanjung jawab pimpinan SKPD hanya
sebatas pelaksanaan anggaran yang dipimpinnya saja.
sebesar 0,588 memiliki hubungan yang kuat dengan variabel
serapan anggaran sebesar 58,8%.
5.2.5 Pengaruh Silpa terhadap Serapan Anggaran
Pada hasil penelitian ini, Silpa merupakan variabel moderating yang tidak
mampu memoderasi hubungan antara regulasi keuangan daearah, politik
anggaran, proses pengadaan barang dan jasa dan komitmen organisasi dengan
serapan anggaran. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji residual pada tabel 5.13.
dilakukan pada penelitian ini dengan signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari α
= 0,05 dan koefisien beta yang bernilai positif 0,458. Hal ini bertentangan
dengan teori uji moderat yang dikatakan suatu variabel dapat memoderasi apabila nilai signifikansi lebih kecil dari nilai α = 0,05 dan koefisien beta bernilai negatif.
Pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara silpa tidak mampu memoderasi
dikarenakan pada tahun 2014-2015 pelaksanaan APBD mengalami rasionalisasi
sebanyak dua kali dimana target pendapatan tidak tercapai sehingga dilakukan
pengurangan terhadap belanja diseluruh SKPD pada tahun berjalan. Pada tahun
2014-2015 legislatif dan eksekutif terlalu memaksakan anggaran untuk belanja
baik balanja langsung maupun tidak langsung tanpa mempertimbangkan target
pendapatan secara objektif. Sehingga Perhitungan silpa dilakukan terlebih dahulu
agar serapan anggaran dapat meningkat.
Sesuai dengan teori sisa anggaran akhir tahun dapat bersumber dari pelampuan
pendapatan ataupun pengehematan belanja pada realisasi APBD sebelumnya akan
menghasilkan sisa dana (Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, 2013,87).
Secara Faktual, silpa ada dalam laporan keuangan Pemerintah Daerah dan sering
digunakan sebagai ukuran dalam menilai kinerja keuangan dan anggaran. Sisa
anggaran yang besar menunjukan rendahnya daya serap anggaran untuk belanja
atau tingginya kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis yang telah diuraikan,
maka penulis mengambil disimpulkan mengenai analisis faktor-faktor yang
mempengaruhi serapan anggaran SKPD pemerintah Provinsi Sumatera Utara
tahun 2014-2015 dengan silpa sebagai variabel moderating sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil analisis secara simultan maka regulasi keuangan daerah,
politik anggaran, proses pengadaan barang dan jasa dan komitmen organisasi
secara simultan berpengaruh signifikan terhadap serapan anggaran SKPD pada
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Artinya ketika regulasi keuangan daerah,
politik anggaran, proses pengadaan barang dan jasa dan komitmen organisasi
secara simultan variabel-variabel tersebut akan mampu meningkatkan serapan
angaran. Nilai adjusted R Square yang rendah menjelaskan ada variabel lain di
luar model penelitian ini.
2. Secara parsial variabel regulasi keuangan daerah berpengaruh positif signifikan
terhadap serapan anggaran SKPD di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Sedangkan variabel politik anggaran, proses pengadaan barang dan jasa dan
komitmen organisasi tidak berpengaruh terhadap serapan anggaran SKPD di
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Hal ini ditandai dari nilai t tabel lebih
3. Sisa lebih perhitungan anggaran tidak mampu memoderasi hubungan antara
regulasi keuangan daerah, politik anggaran, proses pengadaan barang dan jasa
dan komitmen organisasi dengan serapan anggaran SKPD di Pemerintah
Provinsi Sumatera Utara.
6.2 Keterbatasan Penelitian
Terdapat beberapa keterbatasan yang kemungkinan dapat mempengaruhi
hasil penelitian, antara lain :
1. Penelitian ini hanya membahas variabel-variabel yang berpengaruh terhadap
regulasi keuangan daerah, politik anggaran, proses pengadaan barang dan jasa
dan komitmen organisasi. Dan Nilai R2
2. Penelitian ini menggunakan kuesioner, sehingga kemungkinan ada bias dari
jawaban responden yang kurang cermat dalam menjawab setiap pertanyaan dan
bersifat subjektif.
yang dihasilkan dalam penelitian ini
sangat rendah sehingga ada variabel lain diluar model penelitian ini.
3. Pengambilan objek penelitian hanya dilakukan di Pemprovsu saja dengan
jumlah sampel sebanyak 2 orang untuk setiap SKPD.
6.3 Saran
Dari tekerbatasan peneliti yang telah diungkapkan maka dapat disaran kan
sebagai berikut :
6.3.1 Saran untuk peneliti selanjutnya
1. Berdasarkan keterbatasan penelitian ini, maka bagi peneliti selanjutnya yang
variabel-variabel lainnya yang berhubungan dengan serapan anggaran dan mimilih
responden yang lebih mengarah kepada pengambilan kebijakan daerah dengan
lingkup yang lebih besar misalnya kabupaten/kota dalam satu provinsi.
2. Peneliti selanjutnya diharapkan selain menerapkan metode survei melalui
penyebaran kuesioner/ angket juga melakukan wawancara untuk mendapatkan
informasi tambahan.
3. Peneliti selanjutnya diharapkan menambah jumlah sampel dari setiap SKPD
ditingkat Provinsi dan kab/kota
6.3.2 Saran Kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
1. Agar serapan anggaran dipemerintah Provinsi Sumatera Utara dapat terealisasi
dan meningkat pada tahun-tahun berikutnya maka pemerintah Provinsi
Sumatera Utara segera melakukan evaluasi terhadap serapan anggaran secara
berkala minimal setiap triwulan untuk mengetahui penyebab penumpukan
penyerapan anggaran diakhir tahun.
2. Diberikan reward kepada SKPD yang mampu merealisasikan anggaran diatas
target kinerja berupa penambahan anggaran untuk tahun anggaran berikutnya
dan memberikan puhisment kepada kepala SKPD yang tidak mampu
melaksanakan kegiatan yang sudah di rencanakan dalam satu tahun
anggaran,sehingga menjadi bahan evaluasi oleh pimpinan atas kinerja kepala
SKPD yang bersangkutan.
3. Lebih mengaktifkan peran Inspeketorat Provinsi dalam melakukan review
serapan anggaran ke SKPD sehingga progres serapan anggaran dapat dipantau
4. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara agar segera menindak lanjuti bila ada
revisi atau perubahan regulasi terkait tentang penggelolaan anggaran keuangan