• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DAN HASIL PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan Hasil Pengujian

Hasil pengujian kuat lentur dan lendutan kayu tanpa pengawetan yang dilakukan di laboratorium dan hasil perhitungan analisis dari pengujian sifat mekanik kayu menunjukkan bahwa kuat lentur yang jauh berbeda, Kuat lentur rata-rata hasil perhitungan analisis dan hasil pengujian di laboratorium secara berurutan yaitu 91,614 MPa dan 55,65 MPa yang pada saat pengujian di laboratorium dilakukan benda uji patah pada saat lendutan maksimum rata-rata yaitu 38,153 mm dengan beban maksimum rata-rata yaitu 57258,6375 N dan pada hasil perhitungan analisis didapat lendutan maksimum rata-rata yaitu 62,794 mm dengan beban maksimum rata-rata yaitu 34781,105 N. Patahan yang terjadi pada rata-rata benda uji balok kayu yang diuji dilaboratorium adalah terjadi di tengah bentang dan berbentuk miring.

Berdasarkan perhitungan secara analisis, terdapat perbedaan hasil beban maksimum yang dicapai oleh balok kayu yang belum diawetkan.

Perhitungan secara analisis menunjukkan bahwa balok kayu mampu menahan beban sebesar 57258,6375 N sementara hasil eksperimen menunjukkan bahwa beban yang dapat dipikul hanya sekitar 34781,105 N. Batas elastis terjadi mulai dari balok diberi pembebanan sampai balok mengalami retak untuk pertama

0

kalinya, setelah balok mengalami retak hingga balok mengalami patah hingga mencapai lendutan maksimum disebut dengan batas plastis.

Begitu pula dengan hasil pengujian kuat lentur dan lendutan kayu yang diawetkan dengan kadar boraks 10%, 20%, dan 30% juga jauh berbeda.

Pengawetan yang dilakukan pada balok kayu membuat balok kayu berubah warna menjadi merah kecokelatan. Pengawetan membuat kayu tidak termakan oleh rayap sehingga kayu menjadi lebih kuat saat diberikan pembebanan. Kuat lentur rata-rata dari hasil perhitungan analisis dan hasil pengujian di laboratorium untuk kayu yang diawetkan dengan kadar boraks 10% secara berurut yaitu 99,388 MPa dan 61,502 MPa yang pada saat pengujian di laboratorium benda uji patah pada saat lendutan maksimum rata-rata yaitu 34,509 mm dengan beban maksimum rata-rata yaitu 38439,135 N dan pada hasil perhitungan analisis didapat lendutan maksimum rata-rata adalah 55,77 mm dengan beban maksimum rata-rata ialah 62117,3875 N. Patahan terjadi pada salah satu titik pembebanan. Pengaruh pengawetan juga terlihat dari pola retak yang terjadi pada balok kayu 1 sesudah diawetkan. Balok kayu tersebut mengalami patah hanya pada 1 titik pembebanan yang berjarak 40 cm dari perletakan rol saat dilakukan pengujian. Balok kayu tidak sampai mengalami patah yang membuat serat atas dan serat bawah balok kayu terlepas.

Untuk kuat lentur dari hasil perhitungan analisis dan hasil pengujian di laboratorium untuk kayu yang diawetkan dengan kadar boraks 20% secara berurut yaitu 110,202 MPa dan 67,9735 MPa yang pada saat pengujian di laboratorium benda uji patah pada saat lendutan maksimum rata-rata yaitu 31,3741 mm dengan beban maksimum rata-rata yaitu 42483,462 N dan pada hasil perhitungan analisis didapat lendutan maksimum rata-rata adalah 50,865 mm dengan beban maksimum rata-rata ialah 68876,1375 N.

Untuk kuat lentur dari hasil perhitungan analisis dan hasil pengujian di laboratorium untuk kayu yang diawetkan dengan kadar boraks 30% secara berurut yaitu 121,642 MPa dan 78,4488 MPa yang pada saat pengujian di laboratorium benda uji patah pada saat lendutan maksimum rata-rata yaitu 30,9267 mm dengan beban maksimum rata-rata yaitu 49030,5 N dan pada hasil perhitungan analisis

didapat lendutan maksimum rata-rata adalah 47,955 mm dengan beban maksimum rata-rata ialah 76026,1375 N.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kuat lentur balok kayu secara analitis tanpa pengawetan adalah 91,614 Mpa, dengan kadar boraks 10% adalah 99,388 MPa, kadar boraks 20% adalah 110,202 MPa, dan kadar boraks 30% adalah 121,642 MPa.

Kuat lentur balok kayu secara eksperimen tanpa pengawetan adalah 55,65 Mpa, dengan kadar boraks 10% adalah 61,502 MPa, kadar boraks 20% adalah 67,974 MPa, dan kadar boraks 30% adalah 78,449 MPa.

Pengawetan dengan metode rendaman dingin menggunakan bahan pengawet boraks sebanyak 10%, 20% dan 30% yang dilakukan pada balok kayu mempengaruhi beban maksimum serta kuat lentur yang dialami balok kayu. Kuat lentur balok kayu mengalami peningkatan setelah balok kayu diawetkan.

Persentase kuat lentur balok kayu diawetkan dengan kadar boraks 10%, 20%, dan 30% dilaboratorium secara berturut meningkat sebesar 10.516 %, 21.563 %, 40.968 % terhadap balok kayu yang tidak diawetkan. Persentase kuat lentur balok kayu secara analisis diawetkan dengan kadar boraks 10%, 20%, dan 30% secara berturut meningkat sebesar 8.486 %, 20.289 %, 32.777 % terhadap balok kayu yang tidak diawetkan.

Hasil perhitungan secara analisis menghasilkan kuat lentur kayu yang lebih besar dibandingkan dengan hasil perhitungan di laboratorium. Adapun persentasi penurunan kuat lentur balok kayu eksperimen terhadap kuat lentur balok kayu analisis secara berturut tanpa pengawetan, boraks 10%, boraks 20% dan boraks 30% adalah 39,256 %; 38,119 %; 38,319 %; 35,508 %.

5.2 Saran

a. Perlunya alat-alat laboratorium yang memadai dan terbaru pada pengujian kuat lentur balok struktural untuk mendapatkan hasil pengujian yang lebih akurat.

b. Untuk penelitian selanjutnya bisa menggunakan metode pengawetan yang lain, bahan pengawet yang lain, dan jenis kayu yang lain.

c. Pada saat melakukan pengujian di laboratorium bahan uji harus bebas dari getaran atau berbagai gangguan luar karena memiliki dampak terhadap pembacaan dial.

d. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan melakukan pembebanan yang konstan dan kenaikan pembebanan yang lebih kecil.

DAFTAR PUSTAKA

Awaluddin, Ali dkk. 2005. Konstruksi Kayu. Yogyakarta: Biro Penerbit Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada

Batubara, R., 2006, Teknologi Pengawetan Kayu Perumahan dan Gedung dalam Upaya Pelestarian Hutan (Karya Tulis), Fakultas Pertanian USU, Medan Darmono, Sri Atun. Suryadi Prasetyo. 2013. Pemanfaatan Campuran Boraks

dan Asam Borat sebagai Bahan Pengawetan Kayu terhadap Serangan Rayap. Inotek, Volume 17, Nomor 1, Februari 2013.

Daryanto, Drs. 2003. Pengetahuan Teknik Bangunan. Jakarta: PT. Rineka Cipta Elia Hunggurami, Ruslan Ramang, Yuliana Djenmakani. 2014. Pengaruh

Tindakan Pengawetan Terhadap Sifat Mekanis Kayu Kelapa. Jurnal Teknik Sipil Vol. III, No. 2, September 2014.

G.Y, Jamala dkk. 2013. Physical and Mechanical Properties of Selected Wood Species in Tropical Rainforest Ecosystem, Ondo State, Nigeria. IOSR-JAVS e-ISSN: 2319-2380, p-ISSN: 2373. Volume 5, Issue 3c(Sep-Oct. 2013), PP 29-33.

Haygreen, Jhon G. dkk.1996. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Iswanto, Apri Heri. 2008. Sifat Fisis Kayu : Berat Jenis dan Kadar Air pada Beberapa Jenis Kayu (Karya Tulis). Medan: Fakultas Pertanian USU.

Metode, Spesifikasi dan Tata Cara bagian Kayu, Bahan Lain, Lain-Lain. 2002.

Departemen Pemukiman dan Prasaraba Wilayah Badan Penelitian dan Pengembangan

Nasution, Soraya M. N., 2017, Analisis Dan Eksperimen Pengujian Balok Kayu Yang Diawetkan Terhadap Kuat Lentur Balok Kayu (skripsi), Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, Medan.

Rinaldi, N. A., 2012, Pengawetan Metode Rendaman Panas Dingin Kayu Sengon dengan Ekstrak Buah Kecubung Terhadap Serangan Rayap Kayu Kering (Seminar Nasional Mapeki XV), Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sutrisno, H., 2011, Upaya Meningkatkan Daya Awet Kayu Waru (Hibiscus titialeceus) Dari Serangan Rayap Tanah (Coplotermes curvignathus) dengan Perendaman Larutan Boraks (Na2B4O7.10H2O) (Tugas Akhir II), Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Tarigan, J. E. P., 2016, Sifat Fisis dan Mekanis Kayu Kemenyan (Styrax sp.) (Skripsi), Fakultas Kehutanan USU, Medan.

Wardhana, Nanda. 2011. Analisa Lendutan Balok Kayu Kelapa Non Prismatis Perletakan Sendi-Rol dengan Metode Plastis (Eksperimen) (Skripsi). Medan : Fakultas Teknik USU).

Yap. Ir. K.H. Felix. 1964. Konstruksi Kayu. Penerbit Binacipta

Yosafat Aji Pranata, Bambang Suryoatmono. 2014. Kekuatan Tekan Sejajar Serat dan Tegak Lurus Serat Kayu Ulin (Eusideroxylon Zwageri). Jurnal Teknik Sipil Vol. 21 No. 2 April 2014.

Yosafat Aji Pranata, Johnny Gunawan Palapessy. 2014. Kekuatan Lentur, MOE, dan MOR Kayu Ulin (Eusiderodroxylon Zwageri). Jurnal Teknik Sipil. Volume 13, No. 1, October 2014: 25-31

LAMPIRAN

Gambar 1 Sampel Pengujian Kadar Air

Gambar 2 Sampel Pengujian Berat Jenis

Gambar 3 Sampel Pengujian Kuat Lentur

Gambar 4 Pelaksanaan Pengujian Kuat Lentur Kayu

Gambar 5 Balok Kayu yang Akan Diawetkan

Gambar 6 Bahan Pengawet Boraks

Gambar 7 Timbangan

Gambar 8 Bak Perendam

Gambar 9 Balok kayu yang Diawetkan dengan larutan Boraks

Gambar 10 Balok kayu setelah diawetkan

Gambar 11 Manometer dan Pompa Hidrolik

Gambar 12 Loading Frame

Gambar 12 Alat Third Load Point

Gambar 13 Pelaksanaan Pengujian Kuat Lentur Balok Kayu Sesudah Diawetkan

Dokumen terkait