Harga Mobil
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Karakteristik Responden
4.2.3. Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
4.3.2.2. Pembahasan Hasil
Berdasarkan hasil estimasi diperoleh hasil R2 = 0,884 yang bermakna bahwa variasi pendapatan, harga mobil, pajak mobil, bbm dan selera mampu
menjelaskan variasi permintaan mobil di Kota Medan sebesar 88,4 % dan sisanya sebesar 11,6 % dijelaskan oleh Variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Uji serempak digunakan untuk menguji signifikansi dari model penelitian, dilakukan dengan cara membandingkan nilai F-tabel dengan F-hitung untuk Degree of Freedom pada pengujian F adalah v1 = ((k – 1) = 5-1 = 4) dan v2 = (n-k) = (50 – 5) = 45), dijumpai F-tabel; pada α = 0,05 sebesar 2,61 Kriteria Uji : F-hitung > F α (k-1, n-k), maka tolak H0
F-hitung < F α (k-1, n-k), maka terima H0
Jika H0 ditolak berari minimal ada satu Variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap Variabel tidak bebas, dan sebaliknya jika H0 diterima berarti tidak ada satupun Variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap Variabel tidak bebas.Semakin besar nilai F-hitung maka semakin kuat bukti bahwa terdapat minimal salah satu Variabel bebas yang berpangaruh nyata terhadap keragaman dari Variabel tidak bebas.
Dari hasil estimasi diperoleh nilai F-statistik diperoleh 66,813 lebih besar dari F0,05(2,61), ini berarti secara bersama-sama (pendapatan, harga mobil, pajak mobil, bbm dan selera) dapat mempengaruhi permintaan mobil kususnya merek Toyota secara signifikan di Kota Medan dengan tingkat keyakinan minimal 95%.
Sebagaimana yang telah dirumuskan pada bab sebelumnya pengujian secara parsial digunakan untuk menguji signifikansi dari masing-masing Variabel terikat, dilakukan dengan cara membandingkan nilai t-hitung dengan nilai t-tabel, pada jumlah sampel (n) = 50, Variabel bebas (k) = 5. Kuotsoyiannis, (1981) menjelaskan bahwa besarnya k adalah Variabel bebas termasuk konstanta, dengan
demikian k = 5, maka degree of freedom (df) = 50 – 5 = 45, pada df = 45 dijumpai t-tabel pada pengujian α = 0,05 sebesar 1, 679. Kriteria Uji :
t- hitung> tα/2(n-k), maka tolak H0
t-hitung< tα/2(n-k), maka terima H0
Jika H0 ditolak dalam kriteria uji-t berarti Variabel bebas berpengaruh nyata terhadap Variabel tidak bebas dan sebaliknya jika H0 diterima berarti Variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap Variabel tidak bebas. Semikin besar nilai t-hitung maka akan semakin kuat bukti bahwa Variabel tersebut signifikan secara statistik.
Untuk pendapatan, berdasarkan hasil estimasi diperoleh hasil uji t-statistik menunjukkan bahwa hitung sebesar 0,038 sedangkan tabel 1,679.Karena t-hitung < t-tabel maka Ho diterima, artinya Variabel pendapatan tidak berpengaruh secara siginifikan terhadap Variabel permintaan mobil khususnya merek Toyota di Kota Medan.
Untuk harga mobil, berdasarkan hasil estimasi diperoleh hasil uji t-statistik menunjukkan bahwa hitung sebesar -3,821, sedangkan tabel 1,679.Karena t-hitung > t-tabel maka H0 ditolak, artinya Variabel harga mobil berpengaruh secara signifikan terhadap Variabel permintaan mobil di Kota Medan pada tingkat keyakinan 95%. Koefisien regresi harga mobil diperoleh -0,345 artinya apabila harga mobil menurun sebesar 1 %, cateris paribus, maka akan meningkatkan permintaan mobil khususnya merek Toyota di Kota Medan sebesar 0,345%.
Untuk pajak mobil, berdasarkan hasil estimasi diperoleh hasil uji t-statistik menunjukkan bahwa hitung sebesar 3,436, sedangkan tabel 1,679.Karena t-hitung > t-tabel maka H0 ditolak, artinya Variabel pajak mobil berpengaruh secara
signifikan terhadap Variabel permintaan mobil di Kota Medan pada tingkat keyakinan 95%. Koefisien regresi pajak mobil diperoleh 0,315 artinya apabila pajak mobil naik 1 %, cateris paribus, maka akan meningkatkan permintaan mobil kususnya merek Toyota di Kota Medan sebesar 0,315 %.
Untuk bbm, berdasarkan hasil estimasi diperoleh hasil uji t-statistik menunjukkan bahwa hitung sebesar 9,158, sedangkan tabel 1,679.Karena t-hitung > t-tabel maka H0 ditolak, artinya Variabelbbm berpengaruh secara signifikan terhadap Variabel permintaan mobil di Kota Medan pada tingkat keyakinan 95%. Koefisien regresi bbm diperoleh 1,221 artinya apabila bbm naik 1
%, cateris paribus, maka akan meningkatkan permintaan mobil khususnya merek Toyota di Kota Medan sebesar 1,221 %.
Untuk selera, berdasarkan hasil estimasi diperoleh hasil uji t-statistik menunjukkan bahwa hitung sebesar -0,960, sedangkan tabel 1,679.Karena t-hitung < t-tabel maka H0 diterima, artinya Variabel selera tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Variabel permintaan mobil khususnya merek Toyota di Kota Medan.
Hal ini sesuai dengan penelitian (Marsito, 2007) yang menyatakan bahwa harga mobil pribadi berpengaruh negatif signifikan terhadap permintaan mobil di SUMUT pada tingkat kepercayaan 99 % dan Sukirno (2003) dalam tulisannya bahwa hukum permintaan pada hakikatnya merupakan hipotesis yang menyatakan bahwa makin rendah harga suatu barang maka makin banyak permintaan terhadap barang tersebut.Sebaliknya, makin tinggi harga suatu barang maka makin sedikit permintaan terhadap barang tersebut.Sehingga hubungan antara harga mobil dengan permintaan mobil itu sendiri sangatlah jelas. Kenaikan harga mobil
akanmempengaruhi berkurangnya tingkat permintaan mobil dan penurunan harga mobilakan meningkatkan permintaan mobil.
4.3.2.3. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik 1. Normalitas
Salah satu cara untuk menentukan apakah data berdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan rasio skewness dan rasio kurtosis. Rasio skewness adalah nilai skewness dibagi dengan standard error skewness.Rasio kurtosis adalah nilai kurtosis dibagi dengan standard error kurtosis. Dengan kata lain, bila rasio kurtosis dan skewness berada diantara -2 hingga 2 maka distribusi data adalah normal.
Tabel 4.11. Hasil Uji Normalitas Mobil Merek Toyota
Skewness Kurtosis
Statistik Std. Error Statistik Std. Error Unstandardized Residual -0,465 0,337 -0,243 0,662
Sumber : Hasil pengolahan data 2015, Lampiran 11
Dari hasil uji Normalitas terlihat bahwa rasio skewness = 0,465 / 0,337 = 1,34 sedangkan rasio kurtosis = -0,243 / 0,662 = -0,37, karena rasio skewness dan rasio kurtosis berada diantara -2 hingga 2 maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data adalah normal.
2. Multikolinearitas
Uji multikolinearitas adalah bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi yang cukup besar antara sesame Variabel bebas (x). Korelasi yang terlalu tinggi antar sesame X akan berpengaruh pada menurunnya korelasi secara simultan terhadap Variabel Y. Untuk mendeteksi terjadinya multicolinearity dapat
dilakukan dengan salah satu cara yaitu dengan uji Vif (Variance Inflation Factor).
Pada uji Vif yaitu dengan melihat apakah nilai Vif untuk masing-masing Variabel lebih besar dari 10 atau tidak.Bila nilai Vif lebih besar dari 10 maka diidentifikasikan model tersebut memiliki multikolinearity, begitu juga sebaliknya.
Tabel 4.12. Hasil Uji Multikolinearitas Mobil Merek Toyota
Variabel Tolerance VIF
Pendapatan 0,182 5.487
Harga Mobil Pribadi 0,123 8.119
Pajak Mobil 0,104 9.578
Harga bbm 0,269 3.721
Selera 0,953 1.049
Sumber :Hasil pengolahan data 2015, Lampiran 11
Dapat dilihat bahwa seluruh Variabel independen memiliki nilai Vif lebih kecil dari 10, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak memiliki masalah multicolinearity.
3. Autokorelasi
Untuk mengetahui ada tidaknya serial korelasi (autokorelasi), dapat dilakukan dengan metode Durbin Watson dimana bentuk hipotesisnya adalah sebagai berikut:
H0 : p = 0, artinya tidak ada autokorelasi H0 : p ≠ 0, artinya ada autokorelasi
Langkah selanjutnya adalah menetapkan nilai dl dan du, caranya adalah dengan menggunakan derajat kepercayaan atau α 5%, sampel (n) = 50 dengan Variabel independen sebanyak 5 maka diperoleh nilai dl yaitu 1,26 dan 1,69. Dari hasil uji autokorelasi diperoleh nilai DW sebesar 2,041.
Gambar 4.1. Klasifikasi Keputusan Tabel Durbin Watson Mobil Merek Toyota Dapat disimpulkan bahwa Ho diterima artinya tidak ada serial korelasi atau model tidak memiliki gejala serial serial korelasi.
4. Heterokedastisitas
Heterokedastisitas adalah suatu penyimpangan asumsi dalam bentuk varians estimasi yang dihasilkan oleh estimasi OLS tidak bernilai konstan. Salah satu cara uji heterokedastisitas yang dapat dilakukan adalah uji Glejser. Apabila Variabel bebas/independen secara statistic signifikan mempengaruhi residual maka model memiliki masalah heterokedastisitas, demikian juga sebaliknya apabila Variabel bebas/independen secara statistic tidak signifikan mempengaruhi residual maka model tidak memiliki masalah heterokedastisitas. Perhitungan uji Glejser dapat kita lihat sebagai berikut:
Tabel 4.13. Hasil Uji Heterokedastisitas Mobil Merek Toyota
Konstanta T-Statistik Sig
X1 0,000 1,000
X2 0,000 1,000
X3 0,000 1,000
X4 0,000 1,000
D 0,000 1,000
Sumber : Hasil pengolahan data 2015, Lampiran 11
Autokorelasi
Dari hasil uji heterokedastisitasdapat dilihat bahwa t-statistik tidak signifikan dimana untuk seluruh Variabel bebas nila sig > α 0,05 mempengaruhi residual maka model bebas dari heterokedastisitas.
4.3.3. Untuk Mobil Merek Honda 4.3.3.1. Hasil Estimasi Model
Estimasi untuk mengetahui pengaruh Variabel bebas (independent Variabel) terhadap Variabel terikat (dependent Variabel) dilakukan dengan model lin log terhadap model regresi linear berganda. Hasil perhitungan estimasi untuk permintaan mobil di Kota Medan adalah sebagai berikut:
Y2t = -7,420 + 0,189X1Ht – 0,282X2Ht + 0,153X3Ht + 0,950X4Ht – 0,009DHt
T* = (2,023) (-2,066) (1,085) (9,194) (-0,237) (0,049)*** (-0,045)*** (0,284) (0,000)*** (0,814) R2 = 0,813 F-Statistik = 38,298 DW = 1,716
Keterangan :
Y2t = Permintaan Mobil Merek Honda di Kota Medan (Unit) X1Ht = Pendapatan Responden Mobil Merek Honda (Rp/bulan) X2Ht = Harga Mobil Pribadi Responden Merek Honda (Rp/unit) X3Ht = Pajak Mobil Pribadi Responden Merek Honda (Rp/tahun) X4Ht = Harga bbm Mobil Pribadi Responden Merek Honda (Rp/liter) DHt = SeleraResponden Mobil Merek Honda (Jenis Transportasi Darat)
D = 1 (Mobil secara umum)
D = 0 (Non mobil/transportasi darat lain diluar mobil)
*** = berpengaruh signifikan pada α : 0,05