ANALISIS PERMINTAAN MOBIL DI KOTA MEDAN
TESIS
OLEH : Lastri Siahaan
137018005
MAGISTER EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2016
▸ Baca selengkapnya: beberapa mobil berwarna kuning. semua mobil mempunyai roda
(2)ANALISIS PERMINTAAN MOBIL DI KOTA MEDAN
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains
Dalam Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan Pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara
Oleh:
LASTRI SIAHAAN 137018005
MAGISTER EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
Judul Tesis : Analisis Permintaan Mobil di Kota Medan Nama Mahasiswa : Lastri Siahaan
NIM : 137018005
Program Studi : Ekonomi Pembangunan
Menyetujui
Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, M.Ec) (Prof. Dr. Hasan Basri Tarmizi, SU) Ketua Anggota
Ketua Program Studi, Dekan,
(Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, M.Ec) (Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec, Ac, CA)
Tanggal Lulus : 29 Januari 2016
Telah diuji pada
Tanggal : 29 Januari 2016
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, M.Ec
Anggota : 1. Prof. Dr. Hasan Basri Tarmizi, SU 2. Dr. Rujiman, MA
3. Dr. Rahmanta, M.Si
4. Dr. M. Akbar Siregar, M.Si
PERNYATAAN
ANALISIS PERMINTAAN MOBIL DI KOTA MEDAN
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan,____Januari 2016
Penulis,
Lastri Siahaan
ANALISIS PERMINTAAN MOBIL DI KOTA MEDAN
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendapatan, harga mobil pribadi, pajak mobil, harga bbm dan selera terhadap permintaan mobil di kota Medan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang dikumpulkan dari lapangan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah proporsif, dengan menentukan sebanyak 200 responden untuk masing-masing merek mobil yang telah ditentukan yaitu mobil merek Toyota, Honda, Nissan, dan Daihatsu yang ada di Kota Medan. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda (multiple linear regression), dengan software SPSS Versi 20. Koefisien R2 menunjukkan bahwa semua variabel seperti pendapatan, harga mobil pribadi, pajak mobil, harga bbm dan selera dapat menjelaskan semua variasi dalam permintaan mobil di Kota Medan, untuk mobil merek Toyota sebesar 88,4 % dan sisanya sebesar 11,6 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi, untuk mobil merek Honda sebesar 81,3 % dan sisanya sebesar 18,7 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi, untuk mobil merek Nissan sebesar 84 % dan sisanya sebesar 16 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi, dan untuk mobilmerek Daihatsu sebesar 83,3 % dan sisanya sebesar 16,7 dijelaskan olehvariabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi. Kemudian uji serempak (F test) menunjukkan bahwa semua variabel independent dapat mempengaruhi variabel dependen secara signifikan. Hasil menunjukkan variabel pendapatan berpengaruh signifikan terhadap permintaan mobil di kota Medan untuk mobil merek Honda dan Daihatsu pada α = 5 %, sedangkan pada mobil merek Toyota dan Nissan tidak berpengaruh signifikan. Variabel harga mobil pribadi berpengaruh signifikan terhadap permintaan mobil di kota Medan untuk mobil merek Toyota, Honda, Nissan dan Daihatsu pada α = 5 %. Variabel pajak mobil berpengaruh signifikan terhadap permintaan mobil di kota Medan untuk mobil merek Toyota, Nissan dan Daihatsu pada α = 5 %, sedangkan pada mobil merek Honda tidak berpengaruh signifikan.
Variabel harga BBM berpengaruh signifikan terhadap permintaan mobil di kota Medan untuk mobil merek Toyota, Honda, Nissan dan Daihatsu. Variabel selera tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan mobil di Kota Medan untuk mobil merek Toyota, Honda, Nissan dan Daihatsu.
Kata Kunci : Permintaan Mobil, Pendapatan, Harga mobil Pribadi, Pajak Mobil, Harga BBM, Selera.
THE ANALYSIS ON THE DEMAND FOR AUTOMOBILES IN MEDAN ABSTRACT
The objective of the research was to find out the influence of income, the price of automobiles, vehicle tax, the price of oil fuel, and desire to buy automobiles on the demand for automobiles in Medan. The data consisted of primary data which were obtained from field research. The samples consisted of 200 respondents for each automobile brand: Toyota, Honda, Nissan and Daihatsu in Medan, taken by using purposive sampling technique. The data were analyzed by using multiple linear regression analysis with an SPSS version 20 software program. Coefficient R2 showed that the variables of income, the price of automobiles, vehicle tax, the price of oil fuel, and desire to buy automobiles could explain all variations of the demand for automobiles in Medan: for a Toyota was 88,4%, and the remaining 11,6% was explained by the other variables excluded from the estimation model, for a Honda was 81,3% and the remaining 18,7% was explained by the other variables exluded from the estimation model, for a Nissan was 84% and the remaining 16% was explained by the other variables excluded from the estimation model, and for a Daihatsu was 83,3% and the remaining 16,7% was explained by the other variables excluded from the estimation model. Simultaneous test (F-test) showed that all independent variables could significantly influence dependent variable. The result showed that the variable of income had significant influence on the demand for automobiles in Medan for Honda and Daihatsu at α = 5%, while for Toyota and Nissan it did not have any significant influence. The variable of price had significant influence on the demand for automobiles in Medan for Toyota, Honda, Nissan and Daihatsu at α = 5%. The variable of vehicle tax had significant influence on the demand for automobiles in Medan for Toyota, Nissan and Daihatsu at α = 5%, while for Honda it did not have any significant influence. The variable of oil fuel had significant influence on the demand for automobiles in Medan for Toyota, Honda, Nissan and Daihatsu. The variable of desire to buy automobiles did not have any significant influence on the demand for automobiles in Medan for Toyota, Honda, Nissan and Daihatsu.
Keywords: Demand for Automobiles, Income, Price of Automobiles, Vehicle Tax, Price of Oil Fuel, Desire.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “ANALISIS PERMINTAAN MOBIL DI KOTA MEDAN”.
Dalam penelitian dan penulisan tesis ini, penulis banyak menerima masukan, arahan, bimbingan, bantuan dari berbagai pihak guna tersusunnya tesis ini, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis sampaikan rasa terimakasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec, Ac, Ak, CA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang diberikan kepada penulis dalam menimba ilmu pada Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, SE., M.Ec. selaku ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan juga selaku Ketua Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan pengarahan, masukan dan bimbingan kepada penulis hingga selesainya tesis ini.
3. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE., M.S. selaku Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan arahan kepada penulis hingga selesainya tesis ini.
4. Bapak Prof. Dr. Hasan Basri Tarmizi, SU selaku Anggota Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan pengarahan, masukan dan bimbingan kepada penulis hingga selesainya tesis ini.
5. Bapak Dr. Rujiman, MA Dr. Rahmanta, M.Si dan Dr. M. Akbar Siregar, M.Si sebagai Dosen Pembanding yang telah banyak memberikan masukan dan saran untuk perbaikan tesis ini.
6. Ibunda Tercinta Talenta br. Simanjuntak dan saudara penulis (Abang Benhard Siahaan, Kakak Morina Siahaan, Adik Sahat Siahaan dan Keponakan Ghaly Siahaan) yang telah memberikan kasih sayang, semangat dan motivasi yang tinggi kepada penulis sehingga tesis ini dapat terselesaikan.
7. Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Sekretariat Jendral, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperoleh Beasiswa Unggulan pada Program Magister Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
8. Seluruh Bapak/Ibu Dosen dan Staf Akademik yang telah membantu penulis dalam penyelesaian tesis dan pendidikan di Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
9. Bapak Ir. Parulian Siagian, MT yang telah banyak memberikan semangat, motivasi dan arahan kepada penulis dalam penyelesaian tesis dan pendidikan pada program Studi Magister Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
10. Bapak Ardin Doloksaribu, SE., M.Si dan rekan-rekan kerja serta Mahasiswa khususnya MEP Stambuk 2013 yang telah banyak memberikan semangat, bantuan dan motivasi kepada penulis dalam penyelesaian tesis dan pendidikan pada Program Magister Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Penulis mohon maaf apabila ada kekurangan dalam penulisan tesis ini dan semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi civitas akademika, bagi pembaca dan rekan-rekan lainnya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan berkat bagi kita semua, Amin.
Medan, ___ Januari 2016 Penulis,
Lastri Siahaan
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : LASTRI SIAHAAN
Tempat/Tgl. Lahir : Medan, 15 Agustus 1986 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Kristen
Nama Ayah : (Almh) Baginda Siahaan NamaIbu : Talenta Simanjuntak Alamat KTP : Jl. Merica Raya No. 25 C
Perumnas Simalingkar Medan
No. Telp/Hp : 081396825906
Pekerjaan : Pegawai di Universitas HKBP Nommensen Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan
Tahun 2013 - 2016 : Magister Ekonomi Pembangunan (MEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara
Tahun 2005-2009 : Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara
Tahun 2001-2004 : SMK Negeri 7 Medan
Tahun 1998-2001 : SLTP Swasta Mulia Pratama Medan Tahun 1992-1998 : SD Swasta Parulian 5 Medan
DAFTAR ISI
ABSTRAK………... i.
ABSTRACT………...ii.
KATA PENGANTAR……… iii.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP………... vi.
DAFTAR ISI……….vii.
DAFTAR TABEL………... xi.
DAFTAR GAMBAR………xiii.
DAFTAR LAMPIRAN………. xiv.
BAB I PENDAHULUAN………. 1.
1.1. Latar Belakang………. 1.
1.2. Perumusan Masalah………. 10.
1.3. Tujuan Penelitian………... 10.
1.4. Manfaat Penelitian………... 11.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……… 12.
2.1. Landasan Teori………... 12.
2.1.1. Teori Permintaan……… 12.
2.1.1.1. Berubahnya Permintaan dan Berubahnya Jumlah Barang yang Diminta………... 15.
2.1.1.2. Elastisitas Permintaan………. 19.
2.1.1.3. Faktor Penentu Elastisitas Permintaan……… 21.
1. Banyaknya Barang Pengganti yang Tersedia………. 21.
2. Persentase Pendapatan yang Dibelanjakan………. 22.
3. Jangka Waktu Analisis………... 22.
2.1.1.4. Efek Substitusi……… 23.
2.1.2. Harga………. 25.
2.1.3. Pajak……….. 25.
2.1.3.1. Pengertian Pajak………. 25.
2.1.3.2. Tarif Pajak……….. 26.
2.1.3.3. Pajak Kendaraan Bermotor………. 26.
2.1.4. Bahan Bakar Minyak (BBM)………. 28.
2.1.5. Selera……….. 30.
2.2. Review Penelitian Terdahulu………..……. 31.
2.3. Kerangka Penelitian………... 36.
2.4. Hipotesis Penelitian………..37.
BAB III METODE PENELITIAN………... 38.
3.1. Ruang Lingkup Penelitian……… 38.
3.2. Jenis dan Sumber Data………. ….. 38.
3.3. Populasi dan Sampel……… 38.
3.4. Pengolahan Data……….. 39.
3.5. Model Analisis Data……… 39.
3.6. Teknik Analisis Data………... 40.
3.6.1. Test Goodness of Fit………. 40.
3.6.1.1. Koefisien Determinasi (R2)………. 40.
3.6.1.2. Uji T-Statistik………...……….. 41.
3.6.1.3. Uji F-Statistik………...……….. 41.
3.6.2. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik………. 41.
3.6.2.1. Uji Normalitas……… 42.
3.6.2.2. Uji Multikolinearitas………... 42.
3.6.2.3. Uji Autokorelasi (Serial Corelation)………... 43.
3.6.2.4. Uji Heterokedastisitas………. 44.
3.7. Defenisi dan Batasan Operasional………... 45.
BAB IV.HASIL DAN PEMBAHASAN……… 46.
4.1. Deskripsi Wilayah Penelitian………... 46.
4.1.1. Lokasi dan Keadaan Geografis………. 46.
4.1.2. Iklim………... 48.
4.1.3. Kependudukan……….. 48.
4.2. Karakteristik Responden……… 50.
4.2.1. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin………. 50.
4.2.2. Responden Berdasarkan Usia……… 51.
4.2.3. Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan……… 52.
4.2.4. Responden Berdasarkan Pekerjaan……… 52.
4.3. Hasil Analisis Data dan Pembahasan……….. 53.
4.3.1. Deskripsi Data……….... 53.
4.3.1.1. Permintaan Mobil Pribadi ………... 54.
4.3.1.2. Pendapatan Responden…..………. 55.
4.3.1.3. Harga Mobil Pribadi…...……… 56.
4.3.1.4. Pajak Mobil………. 57.
4.3.1.5. Harga BBM……… 58.
4.3.1.6. Selera………... 59.
4.3.2. Untuk Mobil Merek Toyota………... 60.
4.3.2.1. Hasil Estimasi Model……….. 60.
4.3.2.2. Pembahasan Hasil………... 60.
4.3.2.3. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik………. 64.
1. Normalitas……….. 64.
2. Multikolinearitas………..64.
3. Autokorelasi……… 65.
4. Heterokedastisitas……….. 66.
4.3.3. Untuk Mobil Merek Honda……… ………. 67.
4.3.3.1. Hasil Estimasi Model……….. 67.
4.3.3.2. Hasil Pembahasan………... 68.
4.3.3.3. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik……….. 71.
4.3.4. Untuk Mobil Merek Nissan………75.
4.3.4.1. Hasil Estimasi Model……….. 75.
4.3.4.2. Hasil Pembahasan………75.
4.3.4.3. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik……….. 79.
4.3.5. Untuk Mobil Merek Daihatsu……… 82.
4.3.5.1. Hasil Estimasi Model………. 82.
4.3.5.2. Hasil Pembahasan………83.
4.3.5.3. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik……….. 86.
4.3.6. Hasil Estimasi Model ke 4 (empat) Persamaan Mobil………. 90.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………. 96.
5.1. Kesimpulan……….. 96.
5.2. Saran……….98.
Daftar Pustaka………...101.
Lampiran………... 104.
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
1.1. Permintaan Modil di Indonesia Januari 2012 – Maret 2013………..3.
1.2. Harga BBM Bulan Juli 2015………. 7.
2.1. Permintaan Individual……… 14.
2.2. Review Penelitian Terdahulu………. 33.
4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin………... 50.
4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia……….. 51.
4.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan……….. 52.
4.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan………..52.
4.5. Permintaan Mobil Pribadi………..54.
4.6. Pendapatan Responden……….55.
4.7. Harga Mobil Pribadi………..56.
4.8. Pajak Mobil………57.
4.9. Harga BBM………... 58.
4.10. Selera………. 59.
4.11. Hasil Uji Normalitas Mobil Merek Toyota………... 64.
4.12. Hasil Uji Multikolinearitas Mobil Merek Toyota………. 65.
4.13. Hasil Uji Heterokedastisitas Mobil Merek Toyota………... 66.
4.14. Hasil Uji Normalitas Mobil Merek Honda……… 72.
4.15. Hasil Uji Multikolinearitas Mobil Merek Honda……….. 72.
4.16. Hasil Uji Heterokedastisitas Mobil Merek Honda……… 74.
4.17. Hasil Uji Normalitas Mobil Merek Nissan……… 79.
4.18. Hasil Uji Multikolinearitas Mobil Merek Nissan……….. 80.
4.19. Hasil Uji Heterokedastisitas Mobil Merek Nissan……… 81.
4.20. Hasil Uji Normalitas Mobil Merek Daihatsu……… 87.
4.21. Hasil Uji Multikolinearitas Mobil Merek Daihatsu……….. 88.
4.22. Hasil Uji Heterokedastisitas Mobil Merek Daihatsu………. 89.
4.23. Hasil Estimasi Model 4 (empat) Persamaan Mobil……….. 90.
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
1.1. Permintaan Modil di Indonesia Januari 2012 – Maret 2013………. 2.
1.2. Permintaan Mobil di Indonesia………. 4.
1.3. Permintaan Mobil di Kota Medan….……… 9.
2.1. Kurva Permintaan..……… 14.
2.2. Berubahnya Jumlah Barang Yang Diminta………... 16.
2.3. Berubahnya Permintaan……….……… 17.
2.4. Efek Substitusi dan Efek Pendapatan……….……….. 24.
2.5. Diagram Analisis Permintaan Mobil di Kota Medan.……….. 36.
3.1. Uji Durbin Watson ……..………..44.
4.1. Klasifikasi Keputusan Tabel DurbinWatson Mobil Merek Toyota……..66.
4.2. Klasifikasi Keputusan Tabel Durbin Watson Mobil Merek Honda……..73.
4.3. Klasifikasi Keputusan Tabel Durbin-Watson Mobil Merek Nissan …….81.
4.4. Klasifikasi Keputusan Tabel Durbin-Watson Mobil Merek Daihatsu...88.
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul Halaman
1. Kuesioner……….……….. 104.
2. Rekap Data Kuesioner Mobil Merek Toyota……….………109.
3. Rekap Data Kuesioner Mobil Merek Honda……….……… 113.
4. Rekap Data Kuesioner Mobil Merek Nissan……….……… 117.
5. Rekap Data Kuesioner Mobil Merek Daihatsu……….………. 120.
6. Data Mobil Merek Toyota………. 123.
7. Data Mobil Merek Honda………..124.
8. Data Mobil Merek Nissan……….. 125.
9. Data Mobil Merek Daihatsu……….. 126.
10. Hasil Regresi Mobil Merek Toyota………... 127.
11. Hasil Uji Penyimpangan Asumsi Klasik Mobil Merek Toyota…………. 128
12. Hasil Regresi Mobil Merek Honda………... 130.
13. Hasil Uji Penyimpangan Asumsi Klasik Mobil Merek Honda…………. 131.
14. Hasil Regresi Mobil Merek Nissan………... 133.
15. Hasil Uji Penyimpangan Asumsi Klasik Mobil Merek Nissan…………. 134.
16. Hasil Regresi Mobil Merek Daihatsu………... 136.
17. Hasil Uji Penyimpangan Asumsi Klasik Mobil Merek Daihatsu………. 137.
ANALISIS PERMINTAAN MOBIL DI KOTA MEDAN
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendapatan, harga mobil pribadi, pajak mobil, harga bbm dan selera terhadap permintaan mobil di kota Medan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang dikumpulkan dari lapangan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah proporsif, dengan menentukan sebanyak 200 responden untuk masing-masing merek mobil yang telah ditentukan yaitu mobil merek Toyota, Honda, Nissan, dan Daihatsu yang ada di Kota Medan. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda (multiple linear regression), dengan software SPSS Versi 20. Koefisien R2 menunjukkan bahwa semua variabel seperti pendapatan, harga mobil pribadi, pajak mobil, harga bbm dan selera dapat menjelaskan semua variasi dalam permintaan mobil di Kota Medan, untuk mobil merek Toyota sebesar 88,4 % dan sisanya sebesar 11,6 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi, untuk mobil merek Honda sebesar 81,3 % dan sisanya sebesar 18,7 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi, untuk mobil merek Nissan sebesar 84 % dan sisanya sebesar 16 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi, dan untuk mobilmerek Daihatsu sebesar 83,3 % dan sisanya sebesar 16,7 dijelaskan olehvariabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi. Kemudian uji serempak (F test) menunjukkan bahwa semua variabel independent dapat mempengaruhi variabel dependen secara signifikan. Hasil menunjukkan variabel pendapatan berpengaruh signifikan terhadap permintaan mobil di kota Medan untuk mobil merek Honda dan Daihatsu pada α = 5 %, sedangkan pada mobil merek Toyota dan Nissan tidak berpengaruh signifikan. Variabel harga mobil pribadi berpengaruh signifikan terhadap permintaan mobil di kota Medan untuk mobil merek Toyota, Honda, Nissan dan Daihatsu pada α = 5 %. Variabel pajak mobil berpengaruh signifikan terhadap permintaan mobil di kota Medan untuk mobil merek Toyota, Nissan dan Daihatsu pada α = 5 %, sedangkan pada mobil merek Honda tidak berpengaruh signifikan.
Variabel harga BBM berpengaruh signifikan terhadap permintaan mobil di kota Medan untuk mobil merek Toyota, Honda, Nissan dan Daihatsu. Variabel selera tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan mobil di Kota Medan untuk mobil merek Toyota, Honda, Nissan dan Daihatsu.
Kata Kunci : Permintaan Mobil, Pendapatan, Harga mobil Pribadi, Pajak Mobil, Harga BBM, Selera.
THE ANALYSIS ON THE DEMAND FOR AUTOMOBILES IN MEDAN ABSTRACT
The objective of the research was to find out the influence of income, the price of automobiles, vehicle tax, the price of oil fuel, and desire to buy automobiles on the demand for automobiles in Medan. The data consisted of primary data which were obtained from field research. The samples consisted of 200 respondents for each automobile brand: Toyota, Honda, Nissan and Daihatsu in Medan, taken by using purposive sampling technique. The data were analyzed by using multiple linear regression analysis with an SPSS version 20 software program. Coefficient R2 showed that the variables of income, the price of automobiles, vehicle tax, the price of oil fuel, and desire to buy automobiles could explain all variations of the demand for automobiles in Medan: for a Toyota was 88,4%, and the remaining 11,6% was explained by the other variables excluded from the estimation model, for a Honda was 81,3% and the remaining 18,7% was explained by the other variables exluded from the estimation model, for a Nissan was 84% and the remaining 16% was explained by the other variables excluded from the estimation model, and for a Daihatsu was 83,3% and the remaining 16,7% was explained by the other variables excluded from the estimation model. Simultaneous test (F-test) showed that all independent variables could significantly influence dependent variable. The result showed that the variable of income had significant influence on the demand for automobiles in Medan for Honda and Daihatsu at α = 5%, while for Toyota and Nissan it did not have any significant influence. The variable of price had significant influence on the demand for automobiles in Medan for Toyota, Honda, Nissan and Daihatsu at α = 5%. The variable of vehicle tax had significant influence on the demand for automobiles in Medan for Toyota, Nissan and Daihatsu at α = 5%, while for Honda it did not have any significant influence. The variable of oil fuel had significant influence on the demand for automobiles in Medan for Toyota, Honda, Nissan and Daihatsu. The variable of desire to buy automobiles did not have any significant influence on the demand for automobiles in Medan for Toyota, Honda, Nissan and Daihatsu.
Keywords: Demand for Automobiles, Income, Price of Automobiles, Vehicle Tax, Price of Oil Fuel, Desire.
BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Menurut Kadir (2006), pembangunan ekonomi membutuhkan jasa transportasi yang cukup memadai. Tanpa adanya transportasi sebagai sarana pendukung tidak dapat diharapkan tercapainya hasil yang memuaskan dalam usaha pengembangan ekonomi dari suatu Negara.Untuk tiap tingkatan perkembangan/pertumbuhan ekonomi dari suatu Negara diperlukan kapasitas angkutan yang optimum.Ahmad munawar mendefenisikan transportasi hampir sama dengan Rustiam Kamaluddin, beliau mendefenisikan transportasi sebagai kegiatan pemindahan penumpang dan barang dari satu tempat ke tempat lain.Budiarto (2013), Transportasi memegang peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian khususnya perkotaan.Hal tersebut dikarenakan transportasi berhubungan dengan kegiatan-kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi.Pemerintah perlu mengedepankan pentingnya transportasi untuk memperlancar kegiatan perekonomian.
Transportasi dapat diklasifikasikan dari sudut jalan atau permukaan jalan yang digunakan, alat angkutan yang dipakaidan tenaga penggerak yang digunakan yaitu transportasi darat, transportasi laut dan transportasi udara.Perkembangan transportasi darat sangat pesat dari tahun ke tahun, dimana jumlah mobil semakin meningkat setiap tahunnya.Mobil adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik untuk pergerakannya, dan digunakan untuk transportasi darat (Wikipedia: Kendaraan Bermotor).Umumnya mobil menggunakan mesin
pembakaran dalam (perkakas atau alat untuk menggerakkan atau membuat sesuatu yang dijalankan dengan roda, digerakkan oleh tenaga manusia atau motor penggerak, menggunakan bahan bakar minyak atau tenaga alam) dan biasanya berjalan di atas jalanan.
Gaikindo (2013), Permintaan mobil di Indonesia pada triwulan I-2013 mencapai 295.9 ribu unit. Permintaan ini meningkat 18,0 persen dibandingkan triwulan yang sama pada tahun 2012. Peningkatan permintaan mobil ini dipacu oleh perluasan jaringan dari beberapa produsen kendaraan mobil di Indonesia dengan meresmikan beberapa dealer baru.Hadirnya mobil murah yang ramah lingkungan serta masih kuatnya daya beli masyarakat Indonesia juga memacu permintaan mobil pada triwulan I-2013.
Gambar 1.1. Permintaan Mobil di Indonesia Januari 2012 – Maret 2013 0
20 40 60 80 100 120
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des Jan Feb Mar
Permintaan Mobil Pertumbuhan YoY (Persen)
Bulan Mobil
Tabel 1.1 Permintaan Mobil di Indonesia Januari 2012-Maret 2013
Keterang an
Jan Feb Ma r
Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des Jan Feb Ma r Perminta
an Mobil
76, 4
86,5 87, 9
87, 1
95, 5
101, 7
102, 5
76,4 102, 1
106, 7
103,7 89, 4
96,7 103, 2
95, 9
Per.YoY (%)
3,3 24,3 7 43, 5
56, 5
45 15,1 4,3 27,9 23,6 53,3 11, 4
26,5 19,4 9,1
Sumber : Gaikindo
Permintaan mobil pada februari 2013 merupakan yang tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya pada triwulan I-2013. Pada Februari 2013, permintaan mobil mencapai 103,3 ribu unit atau tumbuh sebesar 19,4 persen (YoY). Pada Januari 2013, permintaan mobil hanya mencapai 96,7 ribu unit atau tumbuh sebesar 26,5 persen (YoY). Perlambatan permintaan mobil kembali terjadi pada Maret 2013 yang hanya mencapai 95,9 ribu unit atau tumbuh sebesar 9,1 persen (YoY).
Melihat pertumbuhan yang simultan antara produksi dan penjualan mobil nasional, pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2012. Pertumbuhan produksi mobil mencapai 27,2 persen dan penjualan mobil 24,8 persen. Produksi mobil tahun 2012 sebesar 1.065.557 unit disusul dengan penjualan sejumlah 1.116.230 unit.Hal ini menunjukkan bahwa secara umum, industri otomotif nasional masih mengandalkan impor untuk memenuhi sisa kekurangan permintaan pasar.
Sumber : Gaikindo
Gambar 1.2. Permintaan Mobil di Indonesia
Ekspor Otomotif Indonesia juga mengalami perkembangan yang pesat sejak tahun 2010. Ekspor mobil nasional selama tiga tahun mencapai rata-rata 13,8 persen dari total produksi, sedangkan sepeda motor sebesar 0,9 persen dari total produksi. Ekspor yang meningkat pesat pada tahun 2012 untuk sektor mobil dan sepeda motor diakibatkan oleh penerapan kenaikan besaran uang muka untuk kredit mobil (KKB) yang ditetapkan oleh BI pada bulan April 2012. Produsen memilih untuk menggeser strategi industri pasar dengan melakukan ekspansi volume pada kegiatan ekspor.Negara tujuan utama ekspor sepeda motor adalah Bangladesh, Pakistan dan kawasan Amerika Latin.Volume penjualan yang lebih tinggi daripada produksi memaksa distributor melakukan strategi impor untuk
0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Mobil
Permintaan Mobil di Indonesia Tahun
menutupi kebutuhan pasar terhadap tingginya permintaan otomotif nasional.Volume impor tertinggi dicapai pada tahun 2012 sebesar 125.873 unit meskipun biaya impor mengalami kenaikan.
Supriadi (2015), Jakarta CNN Indonesia – Pasar otomotif nasional mulai lesu sejak pertengahan tahun lalu dan cenderung turun mulai September 2014.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat angka penjualan kendaraan roda empat mengalami penurunan sebanyak 21.897 unit atau 1,7 persen pada tahun lalu. Total penjualan mobil di Indonesia pada 2014 sebanyak 1,20 juta unit. Pencapaian tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan perolehan tahun 2013 yang mencapai 1,22 juta unit. Hampir semua prinsipal mengalami penurunan penjualan, kecuali Honda yang berhasil meraup pertumbuhan 73,9 persen. Honda Prospect Motor menjadi satu-satunya agen tunggal pemegang merek yang sukses memasarkan produknya. Tercatat penjualan mobil Honda pada 2014 mencapai 159.147 unit, meningkat signifikan dibandingkan pemasaran 2013 yang sebanyak 91.493 unit. Grup Astra, sebagai pemain otomotif paling dominan di Tanah Air, mengalami penurunan penjualan sebesar 6,17 persen atau sebanyak 40.404 unit pada 2014. Tercatat pada tahun lalu penjualan mobil Grup Astra sebanyak 614.169 unit, sedangkan pada 2013 unit kendaraan yang terjual mencapai 654.573 unit. Dari lima kendaraan yang diproduksi dan dipasarkan Grup Astra, seluruhnya mengalami penurunan penjualan. Berdasarkan jumlah unit, angka penjualan Toyota dan Daihatsu yang paling besar penurunannya, yakni masing-masing menyusut 35.123 unit dan 31.019 unit. Diluar Grup Astra, Nissan mengalami penurunan penjualan paling
signifikan, yaitu sebesar 80,7 persen setelah hanya mencatatkan angka penjualan 33.789 unit.
Ketua II Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sekaligus President Director PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Yohanes Nagoi, mengakui, tahun lalu merupakan masa yang berat.Pasalnya, ada pemilu dan kenaikan harga bahan bakar minyak yang mempengaruhi iklim bisnis.Hal ini membuat konsumen urung membeli kendaraan.Kenaikan harga bahan bakar itu juga mempengaruhi, ada shockterapi.Tapi yang paling berat adalah penurunan harga komoditi dan ekonomi secara makro,” ujar Yohanes.Penurunan harga komoditi berpengaruh besar terhadap kendaraan komersial yang paling besar dialami oleh heavy duty truck sebesar 20% dan light truck sekitar 10-11%.
Dengan tingkat pertumbuhan mobil yang relatif tinggi diperkirakan dalam 10 tahun mendatang permintaan premium mengalami kenaikan paling tinggi, yaitu 8 % per tahun, mengingat sektor transportasi merupakan satu-satunya konsumen premium, (Warta Pertamina). Tingkat pertumbuhan kendaraan yang tinggi dan bila tidak diikuti dengan pengendalian pengguna yang ketat, terutama untuk jenis kendaraan pribadi, akan berdampak pada tidak mempunyai prasarana jalan menampung arus kendaraan, yang pada akhirnya menimbulkan kemacetan.
Saat ini kemacetan merupakan permasalahan yang serius di hampir seluruh pusat kota-kota besar. Walaupun kecepatan pada saat lenggang/arus bebas dapat mencapai lebih dari 40 km/jam, namun yang terjadi, sebagai akibat kemacetan, kecepatan lalu lintas hanya berkisar kurang dari 30 km/jm, dan kecepatan rata-rata angkutan umum hanya berkisar pada 20 km/jam.
Pada 1 Januari 2015, Presiden Joko Widodo resmi menghapus subsidi BBM untuk jenis Premium, dan untuk bahan bakar solar ditetapkan subsidi tetap sebesar Rp 1.000. Harga BBM Premium dan Solar akan diumumkan oleh pemerintah setiap awal bulan. Perhitungan harga akan menggunakan rumus yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan mengacu pada harga minyak dunia, kurs Rupiah terhadap Dolar AS, serta faktor inflasi. Untuk Januari 2015, harga Premium turun dari Rp 8.500 menjadi Rp 7.600, sedangkan solar dari Rp 7.500 menjadi Rp 7.250 per liter.Pada bulan Juli 2015, harga bbm masih stabil mengikuti perkembangan harga minyak dunia.
Tabel 1.2.Harga BBM Bulan Juli 2015
Jenis BBM Harga Lama Harga Baru
Minyak Tanah Rp2.500 Rp2.500
Premium Rp.6.800 Rp7.300
Pertamax Rp9.300 Rp8.600
Pertalite - Rp8.400
Solar Rp6.400 Rp6.900
Sumber : www.batumedia.com
Pada bulan Juli 2015 BBM bersubsiditipe Minyak Tanah dan Solar tercatat berharga 2.500 rupiah dan 6.900 rupiah. Sedangkan untuk harga bbm non subsidi seperti Premium dan Pertamax tercatat masih stabil diangka 7.300 rupiah dan 8.600 (catatan: harga bbm non subsidi terkadang sedikit berbeda pada beberapa daerah dengan selisih yang tidak terlalu tinggi)
Rencana naiknya pajak mobil menuai sikap dari produsen otomotif.
Mereka menganggap rencana ini akan mengganggu perkembangan industri otomotif. Bahkan kenaikan pajak (Bea Balik Nama) BBN dan Pajak Mobil (PKB) dinilai oleh Gabungan Industri Mobil Indonesia(Gaikindo) akan mengurangi
pendapatan pemerintah dari pajak. Pemerintah berencana melakukan kenaikan pajak BBN dan PKB sebesar 10-20% terhadap mobil baru dalam upaya menekan subsidi yang diperkirakan akan terus meningkat dengan akibat tumbuhnya jumlah kendaraan. Selain itu peningkatan pajak mobil juga bertujuan untuk menekan pertumbuhan permintaan mobil di Indonesia, karena saat ini para produsen mobil berlomba-lomba untuk memasarkan produknya. Didukung dengan kultur di Indonesia yang konsumtif maka bukan tidak mungkin jika akan terjadi peledakan pengguna mobil.
Peningkatan pajak BBN merupakan salah satu strategi untuk mengendalikan sikap konsumtif masyarakat Indonesia akan menurun karena masyarakat akan berpikir ulang untuk membeli mobil baru untuk kepentingan pribadi. Dengan begitu peningkatan permintaan mobil dapat terkontrol sehingga subsidi untuk mobilpun dapat digunakan untuk peningkatan kualitas fasilitas transportasi di Indonesia. Secara langsung akan dirasakan permintaan BBM menurun, sehingga ini akan meringankan subsidi untuk permintaan BBM juga.
Pengurangan subsidi itu bisa digunakan untuk membiayai peningkatan kualitas transportasi masal di Indonesia. Dengan meningkatkan kualitas transportasi, maka diharapkan kecenderungan pemakaian kendaraan pribadi akan berkurang sehingga ini juga bisa mengatasi kemacetan. Banyak sekali manfaat yang dirasakan dengan peningkatan pajak ini, meskipun juga menuai sikap dari produsen mobil. Tetapi secara umum peningkatkan pajak untuk mobil tepat dilakukan oleh pemerintah agar dampak dari kultur konsumtif masyarakat Indonesia dapat dikendalikan.
Pertanyannya adalah apakah rencana pajak ini dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia sebagai stakeholder dalam masalah ini, karena dampak dari kenaikan
pajak adalah ketakutan pemerintah Indonesia kehilangan produsen mobil yang menyuplai produknya ke Indonesia.
Medan adalah kota dengan jumlah penduduk yang cukup besar dimana jumlah mobil yang semakin meningkat setiap tahunnya.
Sumber :data BPS Sumut
Gambar 1.3. Permintaan Mobil di Kota Medan
Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa permintaan mobil di kota Medan dari tahun 2004 sampai 2007 hanya mengalami peningkatan sebesar 5,3
%. Pada tahun 2008 dan 2014 permintaan mobil mengalami peningkatan yaitu 88,59 %.Menurut Teori Kurva permintaan, Paul A. Samuelson menjelaskan bahwa kurva permintaan mobil meningkat disebabkan oleh peningkatan pendapatan, pertambahan jumlah penduduk, harga bahan bakar rendah, pengaruh status sosial, pengaruh-pengaruh khusus mencakup tersedianya bentuk-bentuk transportasi alternatif, keamanan mobil, perkiraan peningkatan harga di masa depan dan lain sebagainya.
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Permintaan mobil di Kota Medan
Tahun Mobil
ilil
I.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah pendapatan berpengaruh terhadap permintaan mobil di Kota Medan?
2. Apakah harga mobil pribadi berpengaruh terhadap permintaan mobil di Kota Medan?
3. Apakah pajak mobil berpengaruh terhadap permintaan mobil di Kota Medan?
4. Apakah bahan bakar berpengaruh terhadap permintaan mobil di Kota Medan?
5. Apakah seleraberpengaruh terhadap permintaan mobil di Kota Medan?
I.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis pengaruh pendapatan terhadap permintaan mobil di Kota Medan.
2. Untuk menganalisis pengaruh harga mobil pribadi terhadap permintaan mobil di Kota Medan.
3. Untuk menganalisis pengaruh pajak mobil terhadap pemintaan mobil di Kota Medan.
4. Untuk menganalisis pengaruh harga BBM terhadap permintaan mobil di Kota Medan.
5. Untuk menganalisis pengaruh selera terhadap permintaan mobil di Kota Medan.
I.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi praktisi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa kesadaran, masukan dan bahan pertimbangan bagi masyarakat dan pemerintah terhadap peningkatan jumlah permintaan mobil di Medan.
2. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menambah, melengkapi dan sebagai informasi untuk penelitian yang terkait dengan topik yang sama.
3. Bagi peneliti, penelitian ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori 2.1.1. Teori Permintaan
Haryono (2011),Permintaan konsumen akan suatu barang, adalah berbagai jumlah dari suatu barang tertentu yang hendak dibeli oleh konsumen pada berbagai kemungkinan harga. Permintaan menunjukkan hubungan fungsionil antara harga barang dengan jumlah barang yang diminta pada suatu periode waktu tertentu, “makin tinggi harga suatu barang makin sedikit jumlah barang tersebut yang diminta”. Sebenarnya jumlah barang yang diminta oleh seseorang konsumen merupakan fungsi atau tergantung dari : harga barang yang bersangkutan, selera konsumen terhadap barang tersebut, harga barang lain, serta pendapatan berupa uang.
Secara matematis hubungan ini dapat ditulis:
Jmx = f(Hx, S, Hy, dan P) Keterangan :
Jmx = jumlah barang X yang diminta Hx = harga barang X
S = selera konsumen terhadap barang yang bersangkutan Hy = harga barang lainnya
P = Pendapatan konsumen berupa uang
Dengan anggapan selera konsumen, harga barang-barang lainnya, serta pendapatan konsumen tidak berubah, maka jumlah suatu barang yang konsumen ingin membelinya tergantung dari harga barang yang bersangkutan.
Maka Jmx = f(Hx), keadaan yang lain tetap. Artinya bahwa banyak sedikitnya jumlah barang X yang diminta konsumen tergantung pada tinggi rendahnya harga barang X itu sendiri.Penentuan fungsi permintaan ini dapat dilakukan dengan menentukan persamaan:
𝐻−𝐻1
𝐻2−𝐻1
=
𝐽−𝐽1𝐽2−𝐽1
Dimana,
H = harga barang J = jumlah barang
Misalnya, pada saat harga suatu barang tertentu adalah Rp. 4, per unit, jumlah barang yang diminta adalah 6 unit.Sedangkan pada saat harga naik menjadi Rp. 5, per unit jumlah barang yang diminta turung menjadi 5 unit. Dari keterangan ini dapat ditentukan fungsi permintaan yaitu:
𝐻 − 𝐻1
𝐻2 − 𝐻1= 𝐽 − 𝐽1 𝐽2 − 𝐽1 𝐻 − 4
5 − 4 = 𝐽 − 6 5 − 6 𝐻 − 4
1 =𝐽 − 6
−1
-1 (H - 4) = 1 (J – 6) - H + 4 = J – 6 - H + 4 + 6 = J
J = - H + 10 Jadi Jmx = - Hx + 10
Dengan memasukkan berbagai kemungkinan harga barang X ke dalam persamaan tersebut, akan kita dapati tabel (skedul) permintaan konsumen individual.
Tabel 2.1.Permintaan Individual
Harga barang X (Hx) Jumlah barang X (Jmx)
10 0
8 2
6 4
4 6
2 8
0 10
Tabel 2.1 menggambarkan permintaan seorang konsumen.Dari sini kita dapat menggambarkan kurva permintaan individual seorang konsumen.
Gambar 2.1 Kurva Permintaan Harga (Hx)
8
6
0 2 4
A
B
C
dx
Jx
Jumlah barang X
Dengan menuliskan jumlah barang X pada sumbu horizontal, dan harga barang X pada sumbu vertikal kita dapati kurva permintaan konsumen perseorangan akan barang X.
Dapat dilihat dari gambar ini, bahwa pada harga barang X Rp. 10,- per unit konsumen sama sekali tidak akan membeli barang X, pada harga barang X Rp. 8,- per unit konsumen akan membeli 2 unit barang X pada harga Rp. 6,- per unit konsumen akan membeli 4 unit barang X. Setiap titik pada kurva permintaan tersebut, menggambarkan jumlah maksimum dari barang X yang diminta pada harga tertentu.
Misalnya titik B, dimana harga barang X Rp. 8,- per unit, maksimum jumlah barang X yang diminta pada harga tersebut adalah 2 unit. Pada Titik C, dimana harga barang X Rp. 6,- per unit, maksimum jumlah barang X yang diminta adalah 4 unit. Turunnya harga barang X menyebabkan bertambahnya barang X yang diminta.
Hubungan terbalik antara harga dan jumlah barang yang diminta dapat dilihat pada lereng negatif dari kurva permintaan pada gambar diatas.
Pada umumnya kurva permintaan selalu mempunyai lereng negatif, turun dari kiri atas ke kanan bawah, walaupun ada beberapa pengecualian, seperti kurva permintaan yang horizontal sejajar dengan sumbu X, bahkan kurva permintaan yang mempunyai lereng yang positif.
2.1.1.1. Berubahnya Permintaan dan Berubahnya Jumlah Barang yang Diminta.
Dalam teori tentang permintaan terdapat perbedaan pengertian antara berubahnya jumlah barang yang diminta dengan berubahnya permintaan.
Berubahnya jumlah barang yang diminta adalah pergeseran di sepanjang satu kurva permintaan, karena adanya perubahan harga, sedangkan hal-hal lain tetap tidak berubah.Turunnya harga dari OH ke OH1, menyebabkan bertambahnya jumlah barang yang diminta dari OJ ke OJ1. Pergeseran dari titik A ke titik B di sepanjang kurva permintaan dx, adalah perubahan jumlah barang yang diminta karena adanya perubahan harga.
Apabila seluruh kurva permintaan berubah ke atas atau ke bawah, telah terjadi apa yang dinamakan perubahan permintaan. Terlihat dari gambar 2.1, bergesernya d’ ke d” atau d.
Gambar 2.2.Berubahnya jumlah barang yang diminta
Seandainya d’ adalah kurva permintaan akan suatu barang pada suatu periode waktu tertentu, karena berubahnya faktor yang dianggap tetap, kurva permintaan secara keseluruhan bergeser ke d”. Artinya konsumen akan membeli ke jumlah yang lebih banyak pada harga pasar tertentu. Pada kurva permintaan
H
H1
0 J J1
Harga (HX)
A
B
dx
Jumlah yang diminta Jx
semula d’, jumlah yang diminta adalah OJ’pada harga OH’. Berubahnya permintaan yang menyebabkan bergesernya seluruh kurva permintaan ke d”, konsumen akan membeli dengan jumlah yang lebih banyak, OJ” pada harga OH’.
Atau konsumen akan membeli jumlah yang tetap pada tingkat harga yang lebih tinggi. Dengan kenaikan permintaan, konsumen mau membayar harga OH”, untuk jumlah yang sama OJ’ yang pada permintaan semula dia hanya mau membayar OH’, untuk jumlah yang sama. Hal sebaliknya akan terjadi, apabila penurunan permintaan dari d’ ke d.
Pada harga semula OH’, jumlah yang diminta akan turun dari OJ’ ke OJ, atau konsumen hanya mau membayar dengan harga yang lebih rendah, OH untuk jumlah yang sama OJ.
Gambar 2.3. Berubahnya permintaan
Beberapa faktor yang menyebabkan berubahnya permintaan, antara lain:
a. Berubahnya harga barang lain.
Hubungan satu barang denganbarang lainnya sangat menentukan. Dalam bubungan saling mengganti, jumlah suatu barang yang diinta juga Harga (Hx) d”
d’
H” d
H’
H
J J’ J”
A B
0 Jumlah yang diminta (Jx)
tergantung dari harga barang lain, yang merupakan barang penggantinya.
Penurunan harga suatu barang, akan menyebabkan kenaikan permintaan akan barang penggantinya.
Misalnya, apabila terjadi penurunan harga barang margarine, kosumen akan mengalihkan pembelianya kepada margarine, sehingga permintaan akan mentega turun, menggeser seluruh kurva permintaannya ke bawah dari d’ le d dan, gambar 2.2. Tidak semua barang mempunyai hubungan saling mengganti satu sama lain, ada beberapa diantaranya, hanya bermanfaat apabila digunakan secara bersamaan. Barang semacam ini digolongkan barang komplementer (saling melengkapi).
b. Perubahan dalam pendapatan konsumen.
Naiknya pendapatan konsumen, menyebabakan naiknya permintaan akan barang tertentu. Naikya permintaan akan barang tersebut dapat berasal dari bertambahnya konsumsi barang tersebut, dapat pula melalui bertambahnya jumlah konsumen uang akan datang ke pasar. Adanya kenaikan pendapatan konsumen, menyebabkan kenaikan permintaan akan mobil.
Barang semacam ini dapat digolongkan ke dalam jenis barang mewah (superior). Ada beberapa barang jenis lainnya, yang justru permintaan akan turun, dengan adanya kenaikan pendapatan konsumen. Barang semacam ini digolongkan ke dalam jenis barang yang bermutu jelek (inferior).
c. Perubahan dalam pengharapan konsumen tentang harga dan pendapatan yang akan datang.
Apabila kita meramalkan persediaan suatu barang berkurang, yang mungkin meyebabkan kenaikan harga, kita cenderung untuk menaikkan permintaan kita untuk barang tersebut.Hal ini akan menggeser kurva permintaan ke kanan, dari d’ ke d”.Demikian pula sebaliknya.
Pengharapan untuk meperoleh penghasilan yang lebih tinggi dimasa yang akan datang, menyebabkan kenaikan permintaan sekarang.
d. Perubahan dalam selera dan preferensi konsumen
Perubahan selera dan preferensi konsumen, akan menyebabkan perubahan permintaan. Permintaan suatu barang akan naik, karena barang tersebut memang baru mode dewasa ini.
2.1.1.2. Elastisitas Permintaan
Dalam analisis Ekonomi, secara teori maupun dalam praktek sehari-hari, adalah sangat berguna untuk mengetahui sampai sejauh mana responsifnya permintaan terhadap perubahan harga.Oleh sebab itu perlu dikembangkan satu pengukuran kuantitatif yang menunjukkan sampai dimana besarnya pengaruh perubahan harga terhadap perubahan permintaan.Ukuran ini dinamakan elastisitas permintaan.Perubahan harga juga menimbulkan akibat yang berbeda terhadap jumlah penawaran berbagai barang.Ukuran kuantitatif sebagai akibat perubahan harga terhadap perubahan jumlah barang yang ditawarkan dinamakan eastisitas penawaran.
Haryono(2001),Jika kita bergerak sepanjang kurva permintaan dan kurva penawaran, maka kita memerlukan metode untuk membandingkan pengaruh perubahan harga terhadap jumlah barang yang diminta atau jumlah barang yang ditawarkan.Metode ini dikenal dengan pengertian elastisitas.
Elastisitas adalah suatu alat untuk mengukur reaksi pembeli atau penjual terhadap perubahan harga, sampai seberapa jauh si pembeli atau si penjual bereaksi terhadap adanya perubahan harga.
Untuk mengetahui sampai seberapa jauh reaksi pembeli atau penjual terhadap perubahan jumlah barang yang diminta atau dijual karena adanya perubahan harga dapat dinyatakan dengan angka yang dikenal dengan elastisitas (coefficient of Elasticity), yaitu persentase perubahan dalam variabel yang tidak bebas (Dependent Variabel) dibagi dengan persentase perubahan dalam variabel bebas (Independent Variabel).
Angka elastisitas permintaan dapat diukur dengan persentase perubahan jumlah suatu barang tertentu yang diminta persatuan waktu yang disebabkan karena adanya perubahan harga barang tertentu.
Rumusnya : eh =% ∆𝐽
% ∆𝐻
eh=Elastisitas harga permintaan
∆J = Perubahan jumlah barang yang diminta
∆H = Perubahan harga
Jika angka elastisitas permintaan (eh) lebih besar dari 1, permintaan akan barang yang bersangkutan dikatakan elastis, bilan en sama dengan 1 unitary elastis, en lebih kecil dari satu permintaan akan barang tersebut adalah in elastis (Haryono, 2001).
2.1.1.3. Faktor Penentu Elastisitas Permintaan
Sukirno(2013), apakah sebabnya permintaan berbagai macam barang berbeda elastisitasnya? Ada beberapa faktor yang menimbulkan perbedaan dalam elastisitas permintaan berbagai barang yang terpenting adalah:
1. Banyaknya Barang Pengganti Yang Tersedia
Dalam suatu perekonomian terdapat banyak barang yang dapat digantikan dengan barang-barang lain yang sejenis denganya.Tetapi ada pula yang sukar mencari penggantinya.Perbedaan ini menimbulkan perbedaan elastisitas di antara berbagai macam barang.Sekiranya sesuatu barang mempunyai banyak barang pengganti, permintaannya cenderung untuk bersifat elastis. Maksudnya, untuk perubahan harga yang kecil saja akan menimbulkan perubahan yang besar terhadap permintaan. Pada waktu harga naik para pembeli akan merasa enggan membeli barang tersebut, mereka lebih suka membeli barang-barang lain sebagai penggantinya, yang harganya tidak mengalami perubahan. Sebaliknya pada waktu harga turun, para pembeli melihat bahwa barang tersebut lebih murah daripada barang-barang penggantinya dan bermai-ramai membeli barang tersebut dan ini menyebabkan permintaanya bertambah dengan cepat.
Permintaan terhadap barang yang tidak banyak mempunyai barang pengganti adalah bersifat tidak elastis, karena (i) kalau harga naik para pembelinya sukar memperoleh barang pengganti dan oleh karenanya harus tetap membeli barang tersebut, oleh sebab itu permintaanya tidak banyak berkurang, dan (ii) kalau harga turun permintaanya tidak banyak bertambah karena tidak banyak tambahan pembeli yang pindah dari membeli barang yang bersaingan dengannya. Dari uraian diatas dapatlah dibuat rumusan berikut: semakin banyak
jenis barang pengganti terhadap sesuatu barang semakin elastis sifat permintaannya.
2. Persentasi Pendapatan Yang Dibelanjakan
Besarnya bagian pendapatan yang digunakan untuk membeli sesuatu barang dapat mempengaruhi elastisitas permintaan terhadap barang tersebut.Perhatikanlah sikap orang dalam membeli barang-barang yang sangat murah harganya, seperti misalnya minuman ringan. Kalau seseorang itu sudah menyukai suatu jenis minuman ringan tertentu, kenaikan harga minuman ringan tidak akan banyak mempengaruhi permintaanya. Ia akan tetap membeli jenis minuman ringan yang sama, oleh karena pengeluarannya untuk minuman ringan merupakan bagian yang relatif kecil dari pendapatannya.
Tetapi perhatikanlah permintaan terhadap barang-barang yang agak mahal seperti radio, sepeda motor, dan televisi. Sebelum memutuskan apakah jenis radio, atau sepda motor atau televisi yang akan dibeli, orang akan membandingkan harga dari berbagai jenis radio, atau sepeda motor atau televisi yang ada. Harga akan memainkan peranan yang cukup menentukan dalam melakukan pilihan tersebut.
Perbedaan harga dapat menyebabkan orang membatalkan untuk membeli barang dari suatu merek tertentu dan membeli merek lain yang lebih murah. Berdasarkan pengamatan seperti itu dapat dikatakan: semakin besar bagian pendapatan yang diperlukan untuk membeli sesuatu barang, semakin elastis permintaan terhadap barang tersebut.
3. Jangka Waktu Analisis
Jangka waktu dimana permintaan terhadap sesuatu barang diamati juga mempunyai pengaruh terhadap elastisitas.Semakin lama jangka waktu di mana
permintaan itu dianalisis, semakin elastis sifat permintaan sesuatu barang.Dalam jangka waktu yang singkat permintaan bersifat lebih tidak elastis karena perubahan-perubahan yang baru terjadi dalam pasar belum diketahui oleh para pembeli.Oleh sebab itu mereka cenderung untuk meminta barang-barang yang biasa dibelinya walaupun harganya mengalami kenaikan.Dengan demikian dalam jangka pendek permintaan tidak banyak mengalami perubahan. Dalam jangka waktu yang lebih panjang para pembeli dapat mencari barang pengganti yang mengalami kenaikan harga dan ini akan banyak mengurangi permintaan terhadap barang yang disebutkan belakangan ini. Juga dalam jangka panjang barang pengganti mengalami perubahan dalam mutu dan desainnya dan akan menyebabkan orang lebih mudah pindah kepada membeli barang pengganti.
2.1.1.4. Efek Subtitusi
Efek subtitusi adalah perubahan keseimbangan jika jumlah yang diminta sebagai dampak dari perubahan harga relatif, sementara daya beli atau pendapatan tetap.
Menurut Hicks efek subtitusi adalah perubahan konsumsi barang dari titik equilibrium konsumen yang lama ke equilibrium konsumen dengan harga barang yang baru pada kurva tak-acuh yang sama.
Menurut Slutsky efek subtitusi adalah perubahan konsumsi barang dari titik equilibrium konsumen yang lama ke titik equilibrium konsumen yang baru yang merupakan titik singgung garis anggaran dengan harga relative yang baru yang memalui titik equilibrium konsumsi sebelum ada perubahan harga barang z.
Pemecahan efek subtitusi dan efek pendapatan dapat dilakukan melalui 2 metode yakni metode Hicks dan metode Slutsky. Pertama akan dipaparkan
tentang metode Hicks. Dari kurva diatas terlihat keseimbangan awal pada titik 1 (pada titik BL1 dan IC1).Misalkan sekarang tingkat harga X mengalami penurunan, dan BL berubah dari BL1 menjadi BL2. Keseimbangan akhir ada pada titik 3 dengan kurva indeferen yang lebih tinggi (disini keseimbangan konsumen meningkat,walaupun tingkat pendapatan nominal tetap, karena pendapatan riil konsumen terhadap komoditas X naik ).
Gambar 2.4.Efek Subtitusi dan Efek Pendapatan
Sebelum keseimbangan bergeser ke titik 3, sebenarnya secara teoritis terlebih dahulu keseimbangan bergeser ke titik 2.Perhatikan titik 2 yang menunjukan persinggungan IC1 dengan BL2.Pada keadaan tersebut komposisi X dan Y telah berubah. Fenomena ini telah menunjukan antara titik 1 dan 2 sama tngkat kepuasaanya (pada kurva indeferen yang sama) tetapi jumlah barang X yang di konsumsi meningkat (sedangkan jumlah barang Y yang di konsumsi turun). keadaan ini terjadi karena harga barang X mengalami penurunan. Jadi jelas
Sumber : Frans Setiawan, 2011
sekarang konsumen mensubtitusikan barang Y dengan barang X karena barang X lebih murah untuk satu tingkat kepuasan yang sama.
2.1.2. Harga
Harga adalah jumlah uang yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk dan jasa.Harga berperan sebagai penentu utama pilihan pembeli.Harga merupakan sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut, (Kotler, 2001).
Sukirno (2003), menulis bahwa hukum permintaan pada hakikatnya merupakan hipotesis yang menyatakan bahwa makin rendah harga suatu barang maka makin banyak permintaan terhadap barang tersebut.Sebaliknya, makin tinggi harga suatu barang maka makin sedikit permintaan terhadap barang tersebut.Hubungan antara harga mobil dengan permintaan mobil itu sendiri sangatlah jelas. Kenaikan harga mobilakanmempengaruhi berkurangnya tingkat permintaan mobil dan penurunan harga mobilakan meningkatkan permintaan mobil.
2.1.3. Pajak
2.1.3.1. Pengertian Pajak
Siahan (2010), pengertian pajak adalah “Pajak adalah pungutan dimasyarakat oleh Negara (Pemerintah) berdasarkan undang-undang yang bersifat dapat dipaksa dan terutang oleh yang wajib membayar dengan tidak mendapat
prestasi kembali secara langsung, yang hasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran Negara dalam penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan”.
(Mardiasmo, 2011) menyatakan bahwa “Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsund dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.
2.1.3.2. Tarif Pajak
Tarif pajak yang dikenal dan diterapkan selama ini dibebankan menjadi 4 (empat) menurut Mardiasmo (2011) yaitu :
1. Tarif Sebanding/Proporsional, yaitu tarif berupa persentase yang tetap terhadap berapapun jumlah yang dikenaik pajak sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang dikenaik pajak.
2. Tarif tetap, yaitu tarif yang berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang tetap.
3. Tarif progresif, yaitu persentase tarif yang digunakan semakin besar bila jumlah yang dikenai pajak semakin besar.
4. Tarif degresif, yaitu persentase tarif yang digunakan semakin kecil bila yang dikenai pajak semakin besar.
2.1.3.3. Pajak Kendaraan Bermotor
Salah satu fungsi penyelenggaraan pemerintah yang dilakukan oleh aparatur pemerintah adalah pelayanan publik, dimana pengurusan pajak kendaraan
Pajak kendaraan bermotor adalah pajak atas kepemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor.Objek pajak kendaraan bermotor adalah kepemilikan dan atau penguasaan kendaraan bermotor, tidak termasuk kepemilikan dan atau penguasaan kendaraan bermotor alat-alat besar yang tidak digunakan sebagai alat angkutan orang atau barang dijalan umum.
Dikecualikan sebagai objek pajak kendaraan bermotor adalah kepemilikan dan atau penguasaan kendaraan bermotor oleh:
a. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
b. Kedutaan, konsulat, perwakilan negara asing dan perwakilan lembaga internasional dengan asas timbal balik sebagaimana berlaku untuk pajak negara.
c. Subjek pajak lainnya yang diatur dengan peraturan daerah
Subjek pajak kendaraan bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan atau menguasai kendaraan bermotor.Sedangkan wajib pajak kendaraan bermotor adalah orang pribadi dan atau badan yang memiliki kendaraan bermotor.
Sementara itu dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor dihitung sebagai perkalian dari dua unsur pokok, yaitu:
a. Nilai jual kendaraan bermotor (diperoleh berdasarkan harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor.
b. Bobot yang mencerminkan secara relatif kadar kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan bermotor tersebut.
2.1.4. Bahan Bakar Minyak (BBM)
Bahan bakar adalah material dengan suatu jenis energi yang bisa diubah menjadi energi berguna lainnya.
Ada beberapa jenis BBM yang dikenal di Indonesia, seperti:
- Minyak tanah rumah tangga - Minyak tanah industri - Pertamax
- Pertamax plus - Premium
- Solar transportasi - Solar industri - Minyak diesel - Minyak bakar
Jenis bahan bakar minyak bensin merupakan nama umum untuk beberapa jenis BBM yang diperuntukkan untuk mesin dengan pembakaran dengan pengapian. Di Indonesia terdapat beberapa jenis bahan bakar jenis bensin yang memiliki nilai mutu pembakaran berbeda.Nilai mutu jenis BBM bensin ini dihitung berdasarkan nilai RON (Randon Otcane Number). Berdasarkan RON tersebut, maka BBM bensin dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:
a. Premium (RON 88) : Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna kekuningan dan jernih. Warna kuning tersebut akibat adanya zat pewarna tambahan (dye). Penggunaan premium pada umumnya adalah
sepeda motor, motor tempel. Bahan bakar ini sering juga disebut motor gasoline atau petrol.
b. Pertamax (RON 92) : ditujukan untuk kendaraan yang mempersyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan tanpa timbal (unleaded).
Pertamax juga direkomendasikan untuk kendaraan yang diproduksi diatas tahun 1990 terutama yang telah menggunakan teknologi setara dengan electronic fuelinjection dan catalytic converters.
Pertamax Plus (RON 95) : Jenis BBM ini telah memenuhi standart performance International World Wide Fuel (WWFC). Ditujukan untuk kendaraan yang berteknologi mutakhir yang mempersyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan ramah lingkungan. Pertamax plus sangat direkomendasikan untuk kendaraan yang memiliki kompresi ratio > 10,5 dan juga yang menggunakan teknologi electronic fuel Injection (EFI), Variabel valve timing intelligent (VVTI), (VTI), turbochargers dan catalytic converters.
c. Minyak Tanah (Kerosene)
Minyak tanah atau kerosene merupakan bagian dari minyak mentah yang memiliki titik didih antara 150 0C dan 300 0C dan tidak berwarna.Digunakan selama bertahun-tahun sebagai alat bantu penerangan, memasak, water heating. Umumnya merupakan pemakaian domestik (rumahan), usaha kecil.
d. Minyak Solar (HSD)
High speed diesel (HSD) merupakan BBM jenis solar yang memiliki angka performa cetane number 45, jenis BBM ini umumnya digunakan
untuk mesin transportasi mesin diesel yang umum dipakai dengan sistem injeksi pompa mekanik (injection pump) dan electronic injection, jenis BBM ini diperuntukkan untuk jenis kendaraan bermotor transportasi dan mesin industri.
Permintaan BBM meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan mobil baik roda dua maupun roda empat. Peningkatan penjualan mobil di tahun 2011 mencapai angka ±900 ribu unit dari estimasi 850 ribu unit/tahun (sumber:
Gaikindo di www.detik.com). Berdasarkan hasil penelitian Lemigas, permintaan sepeda motor, rata-rata sebesar 0,75 liter per hari, sedangkan mobil mengpermintaan 3 liter per hari. Pertambahan permintaan bahan bakar dari mobil baru adalah 2,8 juga KL, dengan perhitungan: (a) Sepeda motor 0,75 x 365 x 7 juta = 1,9 juta KL; (b) mobil: 3 x 365 x 800 ribu = 900 ribu KL. Dengan demikian, permintaan BBM bersubsidi tahun 2012, dapat mencapai 44,6 juta KL, dengan perhitungan 41,8 juta KL (realisasi 2011 ditambah 2,8 juta KL (tambah kendaraan baru). Untuk menekan laju pertumbuhan permintaan BBM khusunya yang bersubsidi maka Pemerintah hanya akan mengalokasikan permintaannya untuk angkutan umum penumpang dan barang (plat kuning) karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan kendaraan roda 2 dan 3 yang pada umumnya digunakan oleh masyarakat yang penghasilannya relatif kecil serta kendaraan operasional pelayanan umum (ambulan, mobil jenazah dan mobil pemadam kebakaran) berita Migas, Evita H. Legowo.
2.1.5. Selera
Cita rasa atau selera masyarakat terhadap suatu barang merupakan kepuasan individu yang berbeda-beda.Kemajuan teknologi membuat semakin