BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
3. Pembahasan Hasil Wawancara
Berdasarkan tujuan penelitian ini berikut kebijakan BNI Syariah terhadap manajemen risiko kredit pembiayaan mudharabah
a. Faktor Penyebab Timbulnya Risiko Pada Produk Pembiayaan
Mudharabah di BNI Syariah Cabang Banjarmasin.
1) Faktor Internal
a) Analisis nasabah yang tidak tepat.
Analisis nasabah yang kurang tepat akan mengakibatkan suatu pembiayaan kedepannya akan berisiko. Dikarena pada histori kredit yang dulu nasabah sangat bagus dalam pembayaran kreditnya tetapi itu tidak menjamin keberhasilan pembayaran dimasa yang akan datang. Maka dari hal ini bank harus menganalisis yang benar untuk pengajuan pembiayaan oleh nasabah walaupun
nasabah tersebut dalam masa yang dulu histori kreditnya bagus.
b) Kesalahan dalam menaksir harga jaminan.
Dalam hal menaksir harga jaminan bank harus dapat menaksir jaminan yang dapat menutupi lebih dari setengah dari total pinjaman pembiayaan nasabah, apabila menaksir jaminan yang asal-asalan maka apabila terjadi risiko pembiayaan maka jaminan tersebut tidak dapat menutupi pembiayaan tersebut.
c) Manajemen perusahaan yang kurang baik.
Manajemen perusahaan yang kurang baik disebabkan oleh sumber daya manusia (SDM) yang tidak ada pelatihan meningkatkan kinerja karyawan dan sistem rekruitmen karyawan yang asal-asalan ini dapat mempengaruhi faktor internal risiko terjadinya pembiayaan.
2) Faktor Eksternal a) Ekonomi global
Ekonomi global ini sangat bepengaruh besar tehadap perekenomian global, apabila perekonomian global menurun maka akan berdampak besar terhadap sektor usaha yang sedang berjalan. Maka dari itu hal ini sangat berpengaruh besar terhadap risiko pembiayaan.
b) Bencana alam
Bencana alam merupakan faktor yang berpengaruh besar terhadap suatu pembiayaan. Dalam segi usaha nasabah apabila terjadi bencana alam maka usaha nasabah tersebut tidak dapat berjalan dan tidak menghasilkan laba atau profit. Dalam hal ini maka nasabah tidak dapat membayar kewajibannya kepada bank.
c) Nasabah dengan sengaja mangkir dari kewajibannya
Nasabah yang sengaja mangkir dari kewajibannya maksud dari hal ini adalah nasabah memiliki niat untuk tidak membayar kewajiabannya kepada bank, padahal usaha yang dijalankan cukup baik. Ada indikasi-indikasinya yaitu pembayaran kewajiban dari nasabah mulai tidak teratur, nasabah sulit dihubungi dan nasabah tidak menyampaikan informasi keuangan
Dari hal tersebut faktor-faktor penyebab terjadi risiko pembiayaan mudharabah terbagi dalam 2 hal yaitu faktor internal dan eksternal, dalam hal ini BNI Syariah Cabang Banjarmasin Cabang Banjarmasin agar dapat mengelola risiko tersebut maka Bank Syariah tersebut melakukan analisa awal mengunakan analisi kelayakan terlebih dahulu yaitu dengan memperhatikan faktor 5C lalu setelah itu melakukan penerapan manajemen risiko kredit berdasarkan PBI No. 13/23/PBI/2011 tentang Penerapan
Manajemen Risiko Bagi BUS dan UUS agar risiko kredit dapat diminimalkan.
b. Penerapan Manajemen Risiko Kredit Pembiayaan Mudharabah PT. BNI Syariah Cabang Banjarmasin
1) Pengawasan aktif dewan komisaris, direksi, DPS dan divisi audit internal BNI Syariah Cabang Banjarmasin
a) Kewenangan dan tanggung jawab komisari, direksi, DPS dan divisi internal audit.
(1) Dewan komisaris kewenangan dan tanggung jawabnya yaitu bertanggung jawab melakukan pengawasan atau pelaksanaan pengendalian internal secara umum di BNI Syariah Cabang Banjarmasin
(2) Direksi kewenangan dan tanggung jawabnya yaitu bertanggungjawab menciptakan dan memelihara sistem pengendalian intern yang efektif dan memastikan bahwa Sistem Pengendalian Intern berjalan dengan aman dan sehat sesuai dengan tujuan pengendalian intern di PT. Bank Syariah.
(3) Dewan Pengawas Syariah/DPS kewenangan dan tanggungjawabnya yaitu melakukan evaluasi atas kebijakan manajemen risiko kredit yang terkait dengan pemenuhan prinsip syariah dan evaluasi
pertanggungjawaban direksi atas kebijakan manajemen risiko kredit di BNI Syariah Cabang Banjarmasin. (4) Divisi Audit Internal kewenangan dan
tanggungjawabnya yaitu satuan kerja audit internal bertanggungjawab untuk memastikan bahwa segenap unit telah mengimplementasikan kebijakan manajemen risiko, dan setiap penyimpangan terhadap kebijakan dan prosedur manajemen risiko dilaporkan dalam audit tahunan, sistem pengendalian intern, melaporkan hasil temuannya secara langsung kepada Dewan Komisaris dan Direksi Kepatuhan dan Penunjang, wajib memastikan kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku serta kebijakan atau ketentuan intern bank dan proses kaji ulang dalam penerapan manajemen risiko.
b) Sumber daya insani
Sumber daya insani merupakan pelatihan terhadap sumber daya manusia yang ada di PT. BNI Syariah agar tidak ada penyimpangan tehadap kebijakan yang ada di bank syariah tersebut. Bentuk pelatihan yang diadakan yaitu tata tertib pelaksanaan, tujuannya seperti menjaga nama baik perusahaan dan sanksi Administratif, tujuannya sebagai upaya untuk pencegahan yang efektif dan efesien
terhadap segala perbuatan maupun keadaan yang dapat mengurangi tingkat kepercayaan serta menimbulkan kerugian bagi bank dan sebagai upaya mengamankan kepentingan bank, menegakkan tata tertib dan sarana dalam memberikan pembinaan terhadap pegawai bank.
c) Organisasi manajemen risiko kredit
Organisasi manajemen risiko kredit untuk BNI Syariah Cabang Banjarmasin terbagi atas 3 unit yaitu Unit
Small Medium Enterprise sebagai unit pemasaran
pembiayaan produktif dan analisis awal pembiayaan, Unit Divisi Risiko Bisnis sebagai unit analisis sesudah analisis awal dan sebagai unit yang menetapkan keputusan diterimanya atau ditolaknya suatu pembiayaan, Unit
Recovery & Remedial sebagai unit penyelamatan
pembiayaan atas pembiayaan yang bermasalah.
2) Kebijakan, prosedur, dan penetapan limit BNI Syariah Cabang Banjarmasin
a) Strategi manajemen risiko BNI Syariah Cabang Banjarmasin ada 6 proses strategi manajemen risiko kredit untuk analisis suatu pembiayaan mudharabah yaitu
(1) Sosialisasi adalah upaya-upaya pembinaan calon/nasabah melalui proses analisa, evaluasi, komunikasi dan interaksi secara langsung maupun tidak
langsung. Tujuannya untuk mengenal nasabah dan usahanya secara mendalam.
(2) Investigasi (pengumpulan informasi) adalah proses pengumpulan data/informasi yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan nasabah, usaha, aspek jaminan dan segala aspek relevan, serta menjaga agar informasi tersebut tetap up to date. Tujuannya untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat guna kepentingan bank.
(3) Analisa pembiayaan adalah upaya untuk meyakini kemauan dan kemampuan nasabah dalam memenuhi kewajiban kepada bank secara tertib. Tujuannya pemberian pembiayaan memenuhi aspek regulasi dan prinsip kehati-hatian.
(4) Persetujuan pembiayaan adalah persetujuan pembiayaan yang dicantumkan dalam nota analisa dan memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati dalam memo persetujuan pembiayaan yang dibuat oleh BNI Syariah Cabang Banjarmasin. Tujuannya memastikan pencairan pembiayaan telah memenuhi prinsip kehati-hatian.
(5) Pengamanan agunan adalah hak dan kekuasaan atas barang dijamin yang diserahkan oleh nasabah kepada
BNI Syariah Cabang Banjarmasin guna menjamin pelunasan pembiayaan yang telah disetujui. Ada kriteria barang yang dapat dijadikan jaminan di BNI Syariah Cabang Banjarmasin yaitu memiliki nilai ekonomis kepemilikan dapat dipindahtangankan dan punya nilai yuridis atau dapat diikat sehingga memberikan hak
preference.
(6) Monitoring di BNI Syariah Cabang Banjarmasin terbagi atas berapa tahapan-tahapan yaitu:
(a) Monitoring pemenuhan persyaratan pembiayaan (b) Monitoring pembiayaan yang belum ditarik (c) Monitoring portofolio pembiayaan
(d) Monitoring kegiatan usaha nasabah
(e) Monitoring pengunaan/kewajaran pembiayaan (f) Monitoring kewajiban jatuh tempo
(g) Monitoring masa laku asuransi (h) Monitoring masa laku pembiayaan
(i) Monitoring kualitas aktiva produktif (kolekibilitas) (j) Monitoring penyisihan penghapusan aktiva
produktif
b) Tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko di BNI Syariah Cabang Banjarmasin terbagi atas 2 yaitu:
(1) Customer Risk Rating merupakan suatu tingkatan risiko yang mengukur seberapa besar tingkat kemungkinan suatu nasabah akan gagal dalam memenuhi kewajibannya kepada BNI Syariah Cabang Banjarmasin, berdasarkan atas 4 komponen utama, yaitu:
(a) Industry Rating
(b) Kondisi Bisnis (Pemasaran dan Teknis Produksi) (c) Manajemen dan Umum
(d) Penilaian Keuangan
Dengan kata lain mengukur tingkat kemampuan nasabah membayar kewajibannya kepada bank berdasarkan kemampuan jalan keluar pertama.
(2) Customer Credit Rating merupakan suatu ukuran yang menyatakan tingkat risiko kerugian yang akan dihadapi oleh BNI Syariah Cabang Banjarmasin dalam hal ini nasabah gagal memenuhi kewajibannya. Tingkat risiko yang dimaksud telah memperhitungkan agunan sebagai unsur pembayaran kembali, dengan kata lain Customer
Credit Rating mengukur tingkat risiko kerugian bank
terhadap kemampuan nasabah dalam membayar kewajibannya kepada bank BNI Syariah berdasrkan
kemampuan jalan keluar pertama atau jalan keluar kedua.
c) Kebijakan dan prosedur yang diterapkan di BNI Syariah Cabang Banjarmasin. Dalam mengurangi risiko bank dalam pembiayaan, maka persyaratan yang perlu disampaikan bank kepada mudharib antara lain:
(1) Fixed asset collateral.
(2) Pengantian asset harus seiijin bank apabila keberadaan
asset tersebut sangat berpengaruh terhadap operasional
bank.
(3) Bank dapat mensyaratkan rasio maksimal antara biaya operasi dibandingkan dengan pendapatan operasional misalnya dengan membandingkan dengan perusahaan lain sejenis atau berdasarkan rata-rata realisasi periode sebelumnya.
(4) Dilakukan monitoring secara periodik guna mengetahui dan mengecek penyimpangan cashflow oleh mudharib. Disamping itu juga dapat pula dipersyaratkan adanya
audited financial statement.
(5) Bank dapat menentukan kriteria atas wan prestasi
mudharib.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pembiayaan
(1) Karakter mudharib yang diverifikasi melalui beberapa rekan bisnisnya dan pembiayaan di bank BNI Syariah. (2) Bisnis mudharib.
(3) Pemberian pembiayaan mudharabah harus diberikan secara selektif dan diupayakan yang berbasis kontrak kerja serta jangka waktu pendek.
(4) Dalam akad pembiayaan, unsur kelalaian mudharib harus benar dan jelas ditegaskan, seperti:
(a) Tidak menyampaikan laporan keuangan secara teratur.
(b) Tidak melakukan pembukuan secara terpisah dan transparan atas dana dan kegiatan yang dibiayai secara mudharabah.
(c) Melakukan penyimpangan pembiayaan tanpa seijin tertulis dari bank.
(d) Melakukan investasi dan pernyetaan tanpa seijin tertulis dari bank.
(e) Melakukan pengeluaran biaya-biaya yang tidak wajar dan diluar kepentingan usaha.
(f) Melakukan perbuatan melanggar hukum yang dapat menyebabkan kegiatan usaha terganggu.
d) Limit atau Batasan BNI Syariah Cabang Banjarmasin yaitu
pembiayaan dalam negeri pada akhir tahun untuk setiap sektor ekonomi per segmen bisnis. Tujuan Financing
Exposure Limit (FEL) yaitu menetapkan arah pembiayaan
dan batas konsentrasi pembiayaan, upaya penyebaran risiko, dan mengoptimalkan risk and return.
3) Proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko, serta sistem informasi manajemen (SIM) risiko kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin
a) Identifikasi risiko kredit dilakukan oleh Businees Risk
Division/ Divisi Risiko Bisnis tujuanya untuk meriview dan
merekomendasi pembiayaan kredit yang disalurkan kepada nasabah.
b) Pengukuran risiko kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin diterapkan 2 tahapan yaitu Customer Risk Rating dan
Customer Credit Rating yang sudah dijelaskan di Tingkat
risiko yang akan diambil dan toleransi risiko BNI Syariah Cabang Banjarmasin.
c) Pemantauan risiko kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin Pemantauan risiko kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin yaitu memonitoring pembiayaan yang diberikan kepada nasabah mulai dari Monitoring pemenuhan persyaratan pembiayaan, monitoring pembiayaan yang belum ditarik, monitoring portofolio pembiayaan, monitoring kegiatan
usaha nasabah, monitoring pengunaan/kewajaran pembiayaan, monitoring kewajiban jatuh tempo, monitoring masa laku asuransi, monitoring masa laku pembiayaan, monitoring kualitas aktiva produktif (kolekibilitas) sampai monitoring penyisihan penghapusan aktiva produktif apabila pembiayaan tersebut bermasalah. d) Pengendalian risiko kredit BNI Syariah Cabang
Banjarmasin
(1) Analisa menggunakan PAP kecil dengan perhitungan kebutuhan pembiayaan yang didasarkan pada analisa
cashflow.
(2) Maksimum Pembiayaan.
(a) Besarnya pembiayaan disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan.
(b) Kemampuan pelunasan dengan pembiayaan mulai dari Rp.500 juta per mudharib.
(3) Jenis dan Jangka Waktu Pembiayaan.
(a) Untuk pembiayaan modal kerja maksimum 2 tahun dan dapat diperpanjang.
(b) Untuk pembiayaan investasi maksimal sama dengan
payback periodnya dan harus kurang dari 7 tahun.
(4) Syarat Penerimaan Pembiayaan. (a) Legalitas Usaha
Akta pendirian berikut perubahannya yang terbaru, KTP, Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP), Surat Ijin Tempat Usaha (SITU), Surat Ijin Undang-Undang Gangguan (SIUUG/HO), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL)*, Ijin Usaha Industri (IUI) dan Tanda Daftar Industri (TDI)**.
(b) Legalitas Usaha Lainnya.
*perusahaan mudharib yang usahanya diperkirakan mempunyai dampak sensitif yang tinggi terhadap lingkungan. **industry kecil dengan nilai investasi perusahaan seluruhnya sampai dengan Rp.200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. (5) Agunan Pembiayaan
Agunan dalam pembiayaan ini adalah menjaga agar
mudharib tidak wan prestasi.
(6) Pengikatan Agunan. (7) Asuransi Agunan.
(a) Agunan yang insurable diasuransikan di perusahaan asuransi syariah dengan banker’s clause BNI Syariah.
(b) Biaya premi penutupan asuransi menjadi beban
(8) Asuransi Pembiayaan tidak diwajibkan ditutupkan asuransi pembiayaannya, kecuali ditetapkan lain.
(9) Akad Pembiayaa dituangkan dalam akad mudharabah
muqayyadah.
(10) Nisbah dan Biaya Administrasi.
(a) Nisbah sesuai dengan apa yang telah disepakati oleh
shahibul maal dan mudharib serta bank selaku
agen.
(b) Biaya pengelolaan pembiayaan ditetapkan sesuai kesepakatan dan keputusan Komite Asset and
Liabilities Manajemen (KALMA).
(c) Bank tidak menerima nisbah bagi hasil namun hanya menerima fee/biaya administrasi.
(11) Disposisi Pembiayaan dibayarkan kepada penjual atau dipindahbukukan ke dalam rekening mudharib apabila pembelian barang mengunakan wakalah.
(12) Pemantauan Pembiayaan.
(13) Kewenangan Pemutusan Pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang berlaku tanpa Pejabat Pemutus Pembiayaan risiko.
(14) Penyelamatan Pembiayaan.
e) Sistem informasi manajemen risiko kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin
Sistem informasi menyediakan informasi untuk membantu pengambilan keputusan manajemen operasi BNI Syariah Cabang Banjarmasin dari hari ke hari dan informasi yang layak untuk pihak luar.
Sistem informasi sebagai pengendalian risiko akan melibatkan pihak-pihak yang dinilai independen dalam rangka peningkatan efektivitas proses monitoring risiko BNI Syariah Cabang Banjarmasin sebagai berikut:
(1) Sistem informasi harus menyediakan laporan dan data secara akurat.
(2) Penyampaian data informasi harus menggambarkan posisi actual eksposure terhadap limit yang telah ditetapkan.
(3) Alur informasi dan proses tindak lanjut pelaporan identifikasi risiko serta proses penyelesaian sesuai prosedur dan kewenangan dalam struktur organisasi manajemen risiko bank.
4) Sistem Pengendalian Intern Manajemen Risiko Kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin Cabang Banjarmasin.
a) Pengalihan pengelolaan kolektabilitas 2 atau 60 hari berpindah dari divisi bisnis risiko ke recovery and
b) Penyempurnaan kewenangan pembiayaan dan penyempurnaan restrukturisai pembiayaan dilakukan oleh divisi audit internal BNI Syariah Cabang Banjarmasin Cabang Banjarmasin.
c) Penyempurnaan ketentuan pembiayaan mengenai agunan diatas Rp. 5 miliyar.
d) Kewenangan restrukturisasi penetapan agunan dan diskon tunggakan pembiayaan mikro.
e) Kewenangan persetujuan pencairan pembiayaan pembiayaan.
f) Perubahan wewewang memutus atau tambahan perpanjangan pembiayaan.
c. Analisis Penerapan Manajemen Risiko Kredit dalam mengelola pembiayaan mudharabah pada BNI Syariah Cabang Banjarmasin berdasarkan PBI No. 13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi BUS dan UUS.
1) Berdasarkan PBI No. 13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi BUS dan UUS pasal 3 paling kurang mencakup 4 hal yaitu :
a) Pengawasan aktif Dewan Komisaris, Direksi, dan Dewan Pengawas Syariah
b) Kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit Manajemen Risiko
c) Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian Risiko serta sistem informasi Manajemen Risiko
d) Sistem pengendalian intern yang menyeluruh.
2) Dari hasil wawancara kepada pihak BNI Syariah Cabang Banjarmasin Cabang Banjarmasin dalam melakukan penerapan manajemen risiko kredit berdasarkan PBI No. 13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi BUS dan UUS a) Melaksanakan Pengawasan aktif Dewan Komisaris,
Direksi, dan Dewan Pengawas Syariah Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia
(1) Kewenangan dan tanggung jawab komisari, direksi, DPS dan divisi internal audit.
Dari hal tersebut bahwa BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah menjalankan ketentuan kewenangan dan tanggung jawab komisaris, direksi dan DPS sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia. Dalam kewenangan dan tanggung jawab BNI Syariah Cabang Banjarmasin juga membuat satuan kerja audit internal yang bertugas untuk berperan aktif melakukan pengendalian terhadap risiko pembiayaan kredit. Oleh sebab itu, maka kewenangan dan tanggung jawab penerapan manajemen risiko BNI Syariah Cabang Banjarmasin sangat baik
kerena bank tersebut membuat satuan kerja yang berperan aktif melakukan pengendalian terhadap risiko pembiayaaan kredit.
(2) Sumber daya insani
Dari hal ini BNI Syariah Cabang Banjarmasin juga sudah memenuhi peningkatan sumber daya insani yang dimana diadakan pelatihan agar sumber daya insani yang ada di Bank BNI Syariah tidak melanggar aturan-aturan yang dapat menimbulkan kerugian pada BNI Syariah Cabang Banjarmasin.
(3) Organisasi manajemen risiko kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin
Dari hal tersebut bahwa BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah mencakup organisasi manajemen risiko yang ada di PBI Nomor 13/23/PBI/2011 yaitu : (a) Unit bisnis yang melaksanakan aktivitas pemberian
pembiayaan atau penyediaan dana
(b) Unit pemulihan pembiayaan yang melakukan penanganan pembiayaan bermasalah
(c) Unit manajemen risiko, khususnya yang menilai dan memantau risiko kredit.
b) Melaksanakan kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit Manajemen Risiko Kredit.
(1) Strategi manajemen risiko kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin
Dari fakta yang didapat strategi BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah mengikuti PBI Nomor 13/23/PBI/2011 yang menjelaskan tentang strategi harus memuat secara jelas arah penyediaan dana yang akan dilakukan, antara lain berdasarkan jenis pembiayaan, lapangan usaha, wilayah geografis, mata uang, jangka waktu, dan sasaran pasar.
(2) Tingkat risiko kredit yang akan diambil dan toleransi risiko kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah mengikuti PBI Nomor 13/23/PBI/2011 yaitu ada 2 tahapan tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko.
(3) Kebijakan dan prosedur BNI Syariah Cabang Banjarmasin dalam mengurangi risiko kredit bank dalam pembiayaan mudharabah. Berdasarkan PBI Nomor 13/23/PBI/2011. Penerapan Manajemen Risiko tentang Kebijakan dan Prosedur yang aturannya yaitu Bank harus memiliki kebijakan dan prosedur untuk memastikan bahwa seluruh penyediaan dana dilakukan secara terkendali (arm’s length basis). Apabila bank mempunyai kebijakan yang memungkinkan dalam
kondisi tertentu untuk melakukan penyediaan dana di luar kebijakan normal, kebijakan tersebut harus memuat secara jelas kriteria, persyaratan, dan prosedur termasuk langkah-langkah untuk mengendalikan atau memitigasi risiko dari penyediaan dana dimaksud.
Dalam hal ini BNI Syariah Cabang Banjarmasin sangat jelas menetapkan kebijakan dan prosedur agar langkah-langkah untuk mengendalikan atau memitigasi risiko dari penyediaan dana dimaksud.
(4) Limit dan Batasan yang diterapakan oleh BNI Syariah Cabang Banjarmasin. Berdasarkan PBI 13/23/PBI/2011 yang dimana Limit adalah risiko kredit digunakan untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan, termasuk karena adanya konsentransi penyaluran pembiayaan. Maka dari itu BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah menerapkan aturan dan tidak melanggar ketentuan tersebut.
c) Melaksanakan kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko kredit serta sistem informasi manajemen risiko kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin.
(1) Identifikasi risiko kredit
Identifikasi risiko kredit dilakukan oleh Businees Risk
dan merekomendasi pembiayaan kredit yang disalurkan kepada nasabah. Dari hal ini BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah mejalankan aturan sesuai dengan PBI 13/23/PBI/2011 yang isinya tentang bank perlu mempertimbangkan hasil penilaian kualitas pembiayaan dalam mengidentifikasi risiko kredit berdasarkan pada analisis terhadap prospek usaha, kinerja keuangan, dan kemampuan membayar debitur.
(2) Pengukuran risiko kredit
Pengukuran risiko kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin diterapkan 2 tahapan yaitu Customer Risk
Rating dan Customer Credit Rating yang sudah
dijelaskan di Tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko BNI Syariah Cabang Banjarmasin. Dalam hal ini BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah melaksanakan sesuai dengan PBI 13/23/PBI/2011 tentang menyesuaikan asumsi dengan perubahan yang terjadi pada kondisi internal dan eksternal.
(3) Pemantauan risiko kredit
Dalam hal ini BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah melaksanakan sesuai dengan PBI 13/23/PBI/2011 tentang:
(a) Memahami eksposur risiko kredit secara total maupun per aspek tertentu untuk mengantisipasi terjadinya RKP, antara lain per jenis pihak lawan transaksi, lapangan usaha, sektor industrial, atau per wilayah geografis.
(b) Memahami kondisi keuangan terkini dari debitur atau pihak lawan termasuk memperoleh informasi mengenai komposisi aset debitur dan tren pertumbuhan.
(c) Memantau kepatuhan terhadap persyaratan yang ditetapkan dalam perjanjian pembiayaan atau kontrak transaksi lainnya.
(d) Menilai kecakupan agunan secara berkala dibandingkan dengan kewajiban debitur atau pihak lawan transaksi.
(e) Mengidentifikasi permasalahan secara tepat termasuk ketidaktepatan pembayaran dan mengklasifikasikan potensi pembiayaan bermasalah secara tepat waktu untuk tindakan perbaikan.
(f) Menangani dengan cepat pembiayaan bermasalah. (g) Mengidentifikasi tingkat risiko kredit, baik secara
keseluruhan maupun per jenis aset tertentu. (4) Pengendalian Risiko Kredit
Dari hal pengendalian risiko BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah melaksanakan sesuai dengan PBI 13/23/PBI/2011 tentang rangka pengendalian risiko kredit, bank harus memastikan bahwa satuan kerja yang melakukan transaksi yang terekspos risiko kredit telah berfungsi secara memadai dan eksposur risiko kredit dijaga tetap konsisten dengan limit yang ditetapkan serta memenuhi standar kehati-hatian.
(5) Sistem informasi manajemen risiko kredit
Dari hal sistem informasi manajemen risiko kredit diatas ini BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah melaksanakan sesuai dengan PBI 13/23/PBI/2011 tentang sistem informasi manajemen risiko untuk risiko kredit harus mampu menyediakan data secara akurat, lengkap, informatif, tepat waktu, dan dapat diandalkan mengenai jumlah seluruh eksposur pembiayaan peminjam individual dan pihak lawan transaksi, portofolio pembiayaan serta laporan pengecualian limit risiko kredit agar dapat digunakan direksi untuk mengidentifikasi adanya RKP.
d) Sistem Pengendalian Intern Manajemen Risiko Kredit BNI Syariah Cabang Banjarmasin
Dari hal sistem pengendalian intern risiko kredit diatas ini BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah melaksanakan sesuai dengan PBI Nomor 13/23/PBI/2011 tentang Sistem kaji ulang internal oleh individu yang independen dari satu unit bisnis untuk membantu evaluasi proses pembiayaan secara keseluruhan, menentukan akurasi peringkat internal, dan menilai apakah account officer memonitori pembiayaan secara individual dengan tepat.