ANALISIS MANAJEMEN RISIKO KREDIT PEMBIAYAAN
MUDHARABAH PADA PT. BANK BNI SYARIAH CABANG
BANJARMASIN
SKRIPSI
DIAJUKAN SEBAGAI SALAH SATU PERSYARATAN UNTUK MENYELESAIKAN PROGRAM PENDIDIKAN DIPLOMA IV PROGRAM STUDI AKUNTANSI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH
PADA JURUSAN AKUNTANSI POLITEKNIK NEGERI BANJARMASIN
OLEH :
HAIRRULLAH A04130009
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI POLITEKNIK NEGERI BANJARMASIN
iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Hairrullah
NIM : A04130009
Telp : 0853-8899-6688
Email : [email protected] : [email protected]
Tempat dan Tanggal Lahir : Banjarmasin, 26 Juni 1995
Agama : Islam
Alamat : Jl. Sultan Adam Komp. Kadar Permai IV No. 32 RT. 16 RW. 005, Sungai Miai, Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, Kode Pos: 70123
Nama Orang Tua ( ayah ) : Wawan Kustiawan ( ibu ) : Norhasanah
Riwayat Pendidikan : SDN Sungai Miai 10 Banjarmasin (2001-2007) SMP Negeri 24 Banjarmasin (2007-2010) SMA Negeri 5 Banjarmasin (2010-2013) Pengalaman Kerja : Praktik Kerja Lapangan di PT Bank BNI
v MOTTO
vi
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Manajemen Risiko Kredit Pembiayaan Mudharabah Pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Banjarmasin.”.
Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SST (Sarjana Sain Terapan) pada Diploma IV Prodi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah pada Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Banjarmasin (POLIBAN).
Pembuatan skripsi ini tentunya tidak lepas dari bimbingan, arahan maupun bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga pada :
1. Bapak H. Edi Yohannes, ST, MT selaku Direktur Politeknik Negeri Banjarmasin,
2. Ibu Andriani, SE, MM, M.Sc selaku ketua Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Banjarmasin,
3. Bapak H. Mairijani, M.Ag selaku Ketua Program Studi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah (ALKS),
4. Ibu Basyirah Ainun, SE, MM, Ak, CA selaku Wali Kelas yang sudah memberi arahan dalam penulisan skripsi ini.
5. Bapak H. Muhammad Yassir F, S.PdI, MSI selaku dosen pembimbing Iyang telah banyak memberikan saran, masukan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.
viii
6. Pimpinan Bank BNI Syariah Banjarmasin yang telah memberikan kesempatan penulis untuk melakukan peneliatan pada Bank BNI Syariah Banjarmasin.
7. Bapak Satria Prawira Dirga bagian Small Medium Enterprise Bank BNI Syariah Banjarmasin yang telah menjadi narasumber dalam penulisan ini.
8. Seluruh staf Pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Banjarmasin telah membantu dalam penulisan skripsi ini.
9. Bapak dan Ibu dosen pada Jurusan Akuntansi khususnya Program Studi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah (ALKS).
10. Bapak dan Ibu penulis yang menjadi motivasi dan senantiasa mendidik dengan penuh kesabaran, tulus dalam mendo’akan, dan memberi semangat dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini,
11. Kakak penulis yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini. 12. Teman-teman seangkatan DIV Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah
(ALKS) angkatan tahun 2013,.
13. Sahabat yang memberikan dukungan kepada penulis.
Seluruh pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu kelancaran skripsi ini.
ix
Dalam penulisan skripsi ini penulis sadar bahwa tidak ada sesuatupun yang sempurna kecuali Allah SWT. Oleh karena itu, dengan besar hati penulis menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun agar menjadi lebih baik. Akhirnya penulis berharap semoga penulisan skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Banjarmasin, Agustus 2017
x DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI ... ii
LEMBAR PENGESAHAAN SKRIPSI ... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... iv
MOTTO ... v
SURAT PERNYATAAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
ABSTRAK ... xvii
ABSTRACK ... xviii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Permasalahan... 5
C. Batasan Masalah... 5
D. Tujuan Penelitian ... 6
xi BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori ... 8
1. Pembiayaan Mudharabah ... 8
2. Manajemen Risiko ... 9
3. Manajemen Risiko Kredit ... 12
4. Penerapan Manajemen Risiko Kredit Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia ... 18
5. Penyelamatan atau Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah ... 37
B. Hasil Penelitian Terdahulu ... 39
BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi dan Pemberian Definisi Operasional Variabel ... 42
B. Jenis Penelitian ... 42
C. Jenis dan Sumber Data ... 43
D. Teknik Pengumpulan Data ... 43
E. Teknik Analisis Data ... 44
F. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 46
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian ... 47
1. Kondisi Umum PT. Bank BNI Syariah Cabang Banjarmasin ... 47
a. Sejarah Singkat... 47
b. Visi dan Misi ... 49
c. Struktur Organisasi ... 50
xii
e. Produk dan Layanan BNI Syariah ... 56
2. Pembiayaan Mudharabah PT. Bank BNI Syariah Cabang Banjarmasin... 59
a. Prinsip Kehati-hatian ... 59
b. Kualitas Pembiayaan ... 60
c. Faktor Penyebab Timbulnya Risiko Pembiayaan Mudharabah ... 61
3. Gambaran Umum Penerapan Manajemen Risiko Kredit Pembiayaan Mudharabah BNI Syariah Cabang Banjarmasin ... 62
4. Strategi Penyelamatan/Penyelesaian Manajemen Risiko Kredit Pembiayaan Mudharabah ... 62
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 64
1. Aspek Pembahasan Wawancara ... 64
2. Responden Dalam Lingkup Wawancara ... 65
3. Pembahasan Hasil Wawancara ... 66
a. Faktor Penyebab Timbulnya Risiko Pada Produk Pembiayaan Mudharabah di BNI Syariah Cabang Banjarmasin ... 66
b. Penerapan Manajemen Risiko Kredit Pembiayaan Mudharabah PT. BNI Syariah Cabang Banjarmasin ... 69
c. Analisis Penerapan Manajemen Risiko Kredit dalam mengelola pembiayaan mudharabah pada BNI Syariah Cabang Banjarmasin ... 82
xiii BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ... 91 B. Saran ... 92 DAFTAR PUSTAKA
xiv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Jenis-Jenis Risiko ... 10
Tabel 2 Pembiayaan dan Penyebab Macet ... 14
Tabel 3 Perbandingan Penelitian ... 39
Tabel 4 Akad dan Produk yang digunakan BNI Syariah ... 56
Tabel 5 Penetapan Kolektabilitas Pembiayaan Mudharabah ... 61
Tabel 6 Aspek Pembahasan Wawancara... 64
xv
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1 Tingkat Penyaluran Pembiayaan Mudharabah Bank BNI Syariah ...4 Gambar 2 Tingkat Rasio NPF Pembiayaan Mudharabah Bank BNI Syariah ....4 Gambar 3 Kerangka Pemikiran Penelitian ...46 Gambar 4 Struktur Organisasi BNI Syariah Banjarmasin ...50
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian PT. Bank BNI Syariah Cabang Banjarmasin Lampiran 2 Surat Keterangan Tempat Usaha PT. BNI Syariah Cab. Banjarmasin Lampiran 3 Denah/Peta Perusahaan
Lampiran 4 Lembar Kegiatan Penelitian pada PT. BNI Syariah Cab. Banjarmasin Lampiran 5 Daftar Pertanyaan Wawancara
Lampiran 6 Lembar Hasil Wawancara Lampiran 7 Lembar Bimbingan Skripsi
xvii ABSTRAK
Hairrullah/ A0413009/ 2017/ ANALISIS MANAJEMEN RISIKO KREDIT PEMBIAYAAN MUDHARABAH PADA PT. BANK BNI SYARIAH CABANG BANJARMASIN/ Perbankan Syariah/ Manajemen Risiko Kredit/ Mudharabah/ BANK BNI SYARIAH.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab timbulnya risiko kredit pada produk pembiayaan mudharabah, bagaimana penerapan manajemen risiko kredit dalam mengelola pembiayaan mudharabah dan perbandingan penerapan manajemen risiko kredit pada BNI Syariah dengan Peraturan Bank Indonesia No. 13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS).
Kerangka pemikiran (teoritis) penelitian ini adalah mengenai penyaluran pembiayaan mudharabah yang setiap tahun meningkat dengan NPF yang setiap tahunnya tidak melebihi 5%. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Jenis data yang digunakan merupakan data primer dan data sekunder. Sedangkan untuk pengumpulan data mengunakan wawancara, studi lapangan dan kepustakaan.
Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa penyebab timbulnya risiko kredit pada produk pembiayaan mudharabah terbagi dalam 2 faktor, yaitu : faktor internal (analisis nasabah yang tidak tepat, kesalahan dalam menaksir jaminan dan manajemen perusahaan yang kurang baik) dan faktor eksternal (ekonomi global, bencana alam dan nasabah sengaja mangkir dari kewajiban). Penerapan manajemen risiko kredit PT. BNI Syariah Cabang Banjarmasin menggunakan 4 pilar penting yaitu : pengawasan, kebijakan, identifikasi dan pengendalian. Penerapan ini telah sesuai dengan PBI 13/23/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi BUS dan UUS.
Kata kunci : Perbankan Syariah, Pembiayaan Mudharabah, Manajemen Risiko Kredit
xviii ABSTRACT
Hairrullah/ A0413009/ 2017/ CREDIT RISK MANAGEMENT ANALYSIS OF MUDHARABA FINANCING IN PT. BANK BNI SYARIAH BRANCH BANJARMASIN / Sharia Banking / Credit Risk Management/ Mudharaba/ BANK BNI SYARIAH.
The aims of this research are to know the causes of credit risk in mudaraba financing products, the implementation of credit risk management in order to manage mudharaba financing and comparison of credit risk management implementation in BNI Syariah with Bank Indonesia Regulation No.13/23 / PBI / 2011 concerning the Implementation of Risk Management for Sharia Bank (BUS) and Business Units Sharia (UUS).
The framework (theoretical) of this research is about distribution of mudharaba financing that increases annually together with NPF which does not exceed 5% annually. The method of this research is descriptive qualitative. This research used two type data namely primary and secondary data. While for data collection is using interview, field study and literature.
The result of this research can be concluded that the cause of credit risk on mudharabah financing products are divided into 2 factors, namely: internal factors (inappropriate customer analysis, mistakes in assessing assurance and poor management of the company) and external factors (Global economy, natural disasters and deliberately defaulting customers). Meanwhile, the implementation of credit risk management in PT. BNI Syariah Branch of Banjarmasin is apply four important pillars: supervision, policy, identification and management. This implementation has been accordance with PBI 13/23/2011 concerning the Application of Risk Management for BUS and UUS.
1
Perbankan di Indonesia mengalami perkembangan dengan seiring berkembangnya pemikiran masyarakat tentang sistem syariah yang tanpa mengunakan bunga (riba). Bank terbagi menjadi dua, yaitu bank syariah dan bank konvensional. Kedua jenis bank ini memiliki produk bank yang hampir sama, hanya berbeda pada sistem operasinya. Bank konvensional menggunakan sistem bunga, sedangkan bank syariah menerapkan sistem bagi hasil. Produk bank yang menerapkan sistem bagi hasil adalah pada pembiayaan modal kerja dan investasi dalam bentuk pembiayaan
mudharabah.
Antara pihak Bank dengan nasabah, sebelum melakukan transaksi pembiayaan mudharabah selalu membuat kesepakatan yang di setujui oleh kedua belah pihak, dan kesepakatan tersebut tertuang dalam sebuah akad pembiayaan mudharabah. Dengan demikian secara otomatis keduanya telah terikat oleh perjanjian dan hukum yang telah di buat bersama.
Pemberian pembiayaan berdasarkan prinsip syariah menurut UU no. 10 1998 pasal 8 dilakukan berdasarkan analisis dengan menetapkan prinsip kehati-hatian agar nasabah mampu melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan sesuai dengan perjanjian sehingga risiko kegagalan atau kemacetan dalam pelunasannya dapat dihindari.
Pembiayaan mudharabah yang telah diberikan kepada nasabah harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur pemberian pembiayaan dan ketentuan intern bank yang berlaku, oleh karena itu perlu adanya strategi khusus oleh account officer agar tidak terjadi asimetrik informasi antar bank dan nasabah.
Walaupun demikian, pembiayaan mudharabah yang diberikan kepada para nasabah merupakan produk natural uncertainty contracts / (NUC). Ini berarti bahwa pembiayaan yang telah disalurkan oleh bank mendatangkan ketidakpastian penghasilan atau laba bagi perusahaan yang tidak akan lepas dari risiko terjadinya pembiayaan bermasalah yang akhirnya dapat berpengaruh besar terhadap Rasio Non Performing Financing (NPF).
NPF perbankan syariah adalah jumlah pembiayaan yang tergolong tidak lancar dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. (Muhammad, 2005:87). Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 15/POJK.03/2017 batas maksimum NPF pada Bank Syariah adalah tidak melebihi 5%.
Bank BNI Syariah bermula dari unit usaha syariah yang berdiri tanggal 29 april 2000 dengan 5 kantor cabang di Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Jepara dan Banjarmasin. Selanjutnya unit usaha syariah BNI terus berkembang menjadi 38 kantor cabang dan 31 kantor cabang pembantu. Berdasarkan keputusan gubernur bank Indonesia nomor 12/41/KEP.GBI/2010 Bank BNI syariah berdiri pada tanggal 19 juni 2010.
Di dalam persaingan dunia perbankan nasional, BNI Syariah telah mampu berkembang. Sesuai dengan namanya produk-produk yang ditawarkan BNI Syariah yaitu produk yang berprinsip syariah, diantaranya adalah produk pembiayaan kredit modal kerja yaitu pembiayaan mudharabah.
Menurut PSAK 105 pembiayaan mudharabah merupakan akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pengelola dana. Adanya risiko pembiayaan mudharabah akan menyebabkan kerugian pada bank karena bank menanggung sepenuhnya atas kerugian tersebut.
Berdasarkan annual report PT. BNI Syariah penyaluran pembiayaan mudharabah dan tingkat Rasio NPF sebagai berikut:
Gambar 1
Tingkat Penyaluran Pembiayaan Mudharabah Bank BNI Syariah
Gambar 2
Tingkat Rasio NPF Pembiayaan Mudharabah Bank BNI Syariah
Sumber: Annual Report PT. BNI Syariah
Dari gambar tersebut dapat dilihat perbandingan antara penyaluran pembiayaan mudharabah dan tingkat Rasio NPF. Dapat dilihat bahwa tahun 2011 sampai 2015 terjadi peningkatan penyaluran pembiayaan
mudharabah yang berpengaruh besar tehadap laba perusahaan tersebut, serta Rasio NPF begitu stabil tidak melebihi POJK No. 15/POJK.03/2017
89,383 287,064 709,218 1,016,696 1,258,682 200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 1,400,000 2011 2012 2013 2014 2015 Da la m Ribu a n Rupi a h
Mudharabah
1.96% 0.65% 0.33% 0.57% 0.16% 0.00% 0.50% 1.00% 1.50% 2.00% 2.50% 2011 2012 2013 2014 2015Non Performing Financing Pembiayaan
Mudharabah
yaitu 5%. Dari hal ini peneliti tertarik bagaimana penerapan manajemen risiko kredit dalam mengelola pembiayaan mudharabah tersebut karena tingkat NPF yang begitu stabil dalam hal ini penelitian menfokuskan pada “Analisis Manajemen Risiko Kredit Pembiayaan Mudharabah pada PT. BNI Syariah Cabang Banjarmasin”.
B. Permasalahan
1. Hal apa saja yang menjadi penyebab timbulnya risiko kredit pada produk pembiayaan mudharabah pada PT. BNI Syariah Cabang Banjarmasin ?
2. Bagaimana penerapan manajemen risiko kredit dalam mengelola pembiayaan mudharabah pada PT. BNI Syariah Cabang Banjarmasin ?
3. Bagaimana perbandingan penerapan manajemen risiko kredit pada BNI Syariah Cabang Banjarmasin dengan Peraturan Bank Indonesia No. 13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) ?
C. Batasan Masalah
Pada penelitian ini penulis membatasi pada penerapan manajemen risiko penyaluran pembiayaan mudharabah pada PT. BNI Syariah Cabang Banjarmasin. Adapun dasar penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah PBI No. 13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
D. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui hal apa saja yang menjadi penyebab timbulnya risiko pada produk pembiayaan mudharabah pada PT. BNI Syariah Cabang Banjarmasin.
2. Mengetahui bagaimana penerapan manajemen risiko kredit dalam mengelola pembiayaan mudharabah pada PT. BNI Syariah Cabang Banjarmasin .
3. Mengetahui perbandingan penerapan manajemen risiko kredit pada BNI Syariah Cabang Banjarmasin dengan Peraturan Bank Indonesia No. 13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS).
E. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. Bagi Penulis
Penulis dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai manajemen risiko kredit pembiayaan mudharabah serta kendala dalam mengaplikasikan pembiayaan mudharabah pada PT. BNI Syariah Cabang Banjarmasin.
2. Bagi Pengembang Keilmuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi tambahan untuk penelitian-penelitian yang akan datang.
3. Bagi Perbankan Syariah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu referensi serta masukan perbankan khususnya bank syariah di Banjarmasin bagi dalam mengelola pembiayaan mudharabah sehingga dapat meningkatkan profit dan memimalisirkan risiko pembiayaan kredit mudharabah yang bermasalah.
8 1. Pembiayaan Mudharabah
“Pembiayaan mudharabah adalah bentuk kontrak antara dua pihak, dimana pihak pertama berperan sebagai pemilik modal dan mempercayakan sejumlah modalnya untuk dikelola oleh pihak kedua, yaitu pelaksana usaha, dengan tujuan untuk mendapatkan untung.” Karim (2010:204).
“Pembiayaan mudharabah adalah kerjasama usaha antara dua pihak, dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal sedangkan pihak kedua (mudharib) menjadi pengelola.” Sudarsono (2008:76).
Beberapa segi penting dari al-mudharabah adalah pembagian keuntungan di antara dua pihak harus secara proporsional dan tidak dapat memberikan keuntungan sekaligus atau yang pasti kepada
shahibul maal/rabb al-mal atau pemilik modal. Rabb al-mal tidak bertanggung jawab atas kerugian di luar modal yang telah diberikannya. Dalam transaksi dengan prinsip mudharabah harus dipenuhi rukun mudharabah, yaitu: shahibul maal; mudharib; amal
(usaha/pekerjaan), dan ijab qabul. Landasan hukum Al-qur’an: dan jika dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT (QS. Al- Muzzamil (73): 20).
2. Manajemen Risiko a. Definisi
Manajemen risiko adalah seperangkat kebijakan, prosedur yang lengkap, yang dipunyai organisasi, untuk mengelola, memonitor, dan mengendalikan eksposur organisasi terhadap risiko
(SBC Warburg, The Practice of Risk Management, Euromoney
Book, 2004).
Manajemen Risiko adalah serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha Bank. (Kententuan BI Nomor 13/23/PBI/2011).
Kegiatan usaha bank syariah senantiasa dihadapkan pada risiko-risiko yang berkaitan erat dengan fungsinya sebagai lembaga intermediasi keuangan. Perkembangan lingkungan eksternal dan internal perbankan syariah yang semakin pesat mengakibatkan risiko kegiatan usaha perbankan syariah semakin kompleks. Oleh karena itu, bank syariah dituntut untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan melalui penerapan manajemen risiko yang sesuai dengan Prinsip syariah. Bambang Rianto Rustam (2013:35).
Prinsip-prinsip manajemen risiko yang diterapkan pada perbankan syariah di Indonesia diarahkan sejalan dengan aturan baku yang dikeluarkan oleh Islamic Financial Services Board (IFSB).
Menurut PBI No. 13/23/PBI/2011 tentang penerapan manajemen risiko bagi BUS dan UUS. Risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya sesuatu peristiwa tertentu. Sementara itu, risiko kerugian adalah kerugian yang terjadi sebagai konsekuensi langsung atau tidak langsung dari kejadian risiko. Kerugian itu bisa berbentuk finansial atau nonfinansial.
b. Jenis – Jenis Risiko
Penerapan manajemen risiko di bank syariah wajib disesuaikan dengan tujuan, kebijakan usaha, ukuran, dan kompleksitas usaha serta kemampuan bank. Kompleksitas adalah keragaman dalam jenis transaksi produk/jasa dan jaringan usaha. Sementara itu, kemampuan bank meliputi kemampuan keuangan, infrastruktur pendukung, dan kemampuan sumber daya insani. Bambang Rianto Rustam (2013:36).
Supervisor mewajibkan perbankan syariah untuk menerapkan manajemen risiko untuk program-program sebagai berikut.
Tabel 1 Jenis-Jenis Risiko
Jenis Risiko Uraian
Risiko Kredit Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati.
dan rekening administratif akibat perubahan harga pasar, antara lain risiko berupa perubahan nilai dari asset yang dapat diperdagangkan atau disewakan.
Risiko Likuiditas Risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diangunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank.
Risiko Operasional
Risiko kerugian yang diakibatkan oleh proses internal, kesalahan manusia, kegagalan system, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang memengaruhi operasional bank.
Risiko Hukum Risiko akibat tuntunan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini timbul antara lain karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan, seperti tidak terpenuhinya syarat sahnya kontrak atau pengikatan angunan yang tidak sempurna. Risiko Reputasi Risiko reputasi adalah risiko akibat
menurunnya tingkat kepercayaan para pemangku kepentingan yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank.
Risiko Strategis Risiko strategis adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan strategi serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan
lingkungan bisnis.
Risiko Kepatuhan Risiko kepatuhan adalah risik akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku serta Prinsip Syariah.
Risiko Imbal Hasil
Risiko imbal hasil (rate of return risk) adalah risiko akibat perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan bank kepada nasabah karena terjadinya perubahan tingkat imbal hasil yang diterima bank dari penyaluran dana, yang dapat memengaruhi perilaku nasabah dana pihak ketiga.
Risiko Investasi Risiko investasi (equity investment risk) adalah risiko akibat bank ikut menanggung kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan bagi hasil berbasih bagi hasil.
Sumber: PBI No. 13/23/PBI/2011 tanggal 2 November 2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi BUS dan UUS
3. Manajemen Risiko Kredit a. Definisi
Menurut Bambang Rianto Rustam (2013:55) Kredit atau risiko rekanan adalah kemungkinan bahwa debitur atau peneribit dari instrumen keuangan baik individu, perusahaan, atau Negara tidak membayar pokok utangnya dan arus kas lain terkait investasi sesuai dengan ketentuan yang diterapkan dalam perjanjian kredit. Melekat pada perbankan, hal ini berarti pembayaran tertunda atau tidak dilakukan sama sekali, yang menyebabkan permasalahan arus kas dan mempengaruhi likuiditas bank. Meskipun dengan adanya
inovasi di sektor jasa keuangan, lebih dari 70 persen neraca Bank umumnya terkait dengan aspek manajemen risiko. Untuk alasan ini, risiko kredit adalah penyebab utama kegagalan bank.
Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Bank syariah membedakan antara dua jenis gagal bayar, yaitu sebagai berikut.
1) Yang mampu membayar (gagal bayar sengaja).
2) Gagal bayar karena bangkrut, yaitu tidak mampu membayar kembali utangnya karena alasan-alasan yang diakui syariah.
Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas bisnis bank. Pada sebagian besar bank, pemberian pembiayaan merupakan sumber risiko kredit yang terbesar.
Risiko kredit dapat meningkat karena terkonsentrasinya penyediaan dana, antara lain pada debitur, wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu. Untuk itu, tujuan manajemen risiko kredit adalah untuk memastikan bahwa aktivitas penyediaan dana bank tidak terekspos pada risiko kredit yang dapat menimbulkan kerugian pada bank.
Secara umum, eksposur risiko kredit merupakan salah satu eksposur risiko utama dalam perbankan syariah di Indonesia sehingga kemampuan bank untuk mengidentifikasi, mengukur,
memantau, dan mengendalikan risiko kredit serta menyediakan modal yang cukup bagi risiko tersebut sangat penting.
Dari sisi nasabah, moral hazard biasa terjadi pada pembiayaan bagi hasil karena ketidak sempurnaan informasi petugas melihat level usaha nasabah dan terbatasnya informasi produkvitas usaha. Kesimpulan tersebut sesuai dengan hasil penelitian Edwin dan Wiliasih (2007) yang menemukan beberapa penyebab terjadinya pembiayaan macet di perbankan syariah.
Tabel 2
Pembiayaan dan Penyebab Macet
Pembiayaan Penyebab Macet
Mudharabah Informasi tidak lengkap dari debitur. Ketidaktransparannya kondisi debitur. Sulitnya melihat level usaha dan terbatasnya informasi tentang produktivitas usaha.
Moral hazard, ketidakhati-hati petugas dalam menyalurkan pembiayaan.
Sumber: Mustafa Edwin, Ranti Wiliasih, “Profit Sharing dan
Moral Hazard Dalam Penyaluran Dana Pihak Ketiga di Indonesia”, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol. VIII 2007.
Menurut Edwin dan Wiliasih, Muhammad (2008) juga menyarankan agar bank syariah memliki alat screening untuk mengurangi asymmetric information (nasabah menyembunyikan informasi yang berkaitan dengan kemampuan dan latar sebelum kontrak) dalam pembiayaan mudharabah agar kontrak
mudharabah dapat diminimalkan risikonya dan terwujudnya hasil maksimal. Moral hazard (ancaman moral) dapat dicegah melalui
monitoring biaya dan proyek. Hal ini sangat penting diperhatikan mengingat bahwa hampir semua banker melihat unsur kemampuan bisnis, jaminan, reputasi debitur, asal-usul debitur dan komitmen usaha dalam pengambilan keputusan pemberian pembiayaannya.
Terhadap proyek yang akan dibiayai dengan pembiayaan
mudharabah biasanya bankir akan melihat tingkat kesehatan proyek, jaminan kesepakatan pembayaran, prospek yang baik, laporan keuangan proyek, kejelasan persyaratan kontrak, dan ketegasan waktu kontrak.
b. Risiko Pembiayaan Mudharabah 1) Risiko Pembiayaan Mudharabah
“Risiko-risiko yang terdapat dalam mudharabah, terutama pada penerapannya pada pembiayaan, relatif tinggi. Di antaranya:
a) Side streaming, nasabah menggunakan dana itu bukan seperti yang disebut dalam kontrak
b) Lalai dan kesalahan yang disengaja
c) Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabahnya tidak jujur.” Antonio (2001: 98).
2) Pembiayaan Bermasalah atau Non Performing Financing
Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.17/19/DPUM tanggal 8 Juli 2015 tentang Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/35/DPAU tanggal 29 Agustus 2013 perihal Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh
Bank Umum dan Bantuan Teknis dalam rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Menjelaskan Non Performing Financing merupakan penjumlahan pembiayaan dengan kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet. Perhitungan rasio NPF dilakukan dengan cara membandingkan total NPF (pembiayaan bermasalah) dengan total pembiayaan dikali 100%.
𝑁𝑃𝐹 = Total Pembiayaan Bermasalah
Total Pembiayaan 𝑥 100%
NPF secara luas dapat didefinisikan sebagai suatu kredit dimana pembayaran yang dilakukan tersendat-sendat dan tidak mencukupi kewajiban minimal yang ditetapkan sampai dengan kredit yang sulit untuk dilunasi atau bahkan tidak dapat ditagih.
“Pembiayaan bermasalah adalah pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor kesengajaan yang bersifat internal dan atau karena faktor
eksternal diluar kemampuan kendali nasabah peminjam.“ Siamat (2005:174).
“Non performing financing pada dasarnya disebabkan oleh faktor intern dan ekstern. Faktor internal dapat berupa ketidakmampuan dalam mengelola usaha (mismanagement)
dan terjadi pemanfaatan dana yang tidak sesuai dengan tujuan pemberian pembiayaan (side streaming). Sedangkan faktor
eksternal lebih disebabkan oleh kondisi makro seperti inflasi, fluktuasi harga dan nilai tukar mata uang asing, serta kondisi yang tidak berkembang saat ini (sunset industry). Kedua faktor industri tersebut tidak dapat dihindari mengingat adanya
kepentingan yang saling berkaitan sehingga mempengaruhi kegiatan usaha bank.” Mahmoedin (2004:52).
3) Cara Menekan Tingkat Non Perfoming Financing
Melakukan analisis pembiayaan merupakan langkah penting untuk realisasi pembiayaan. Proses ini digunakan untuk menilai kelayakan usaha calon peminjam, menekan risiko akibat tidak terbayarnya pembiayaan, dan menghitung kebutuhan pembiayaan yang layak (Rivai, 2008: 347)
Berdasarkan UU No.21 tahun 2008 pasal 35 ayat 1 yang menetapkan bahwa bank syariah dan UUS dalam melakukan kegiataan usahanya wajib menerapkan prinsip kehati-hatian, dan menurut pasal 36 dalam menyalurkan pembiayaan dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank syariah dan UUS wajib menempuh cara-cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya.
UU No.21 tahun 2008 pasal 23 secara khusus menetapkan pedoman analisis kelayakan penyaluran dana kepada nasabah penerima fasilitas. Pedoman analisis kelayakan penyaluran dana perbankan syariah didasarkan kepada penilaian yang seksama terhadap faktor-faktor di bawah ini (Rachmadi, 2012: 143) :
a) Penilaian watak (character) b) Penilaian kemampuan (capacity) c) Penilaian modal (capital)
d) Penilaian agunan (colateral)
e) Penilaian prospek usaha (condition of ekonomi)
4. Penerapan Manajemen Risiko Kredit Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia
a. PBI Nomor 13/23/PBI/2011 Tentang Penerapan Manajemen Risiko
Manajemen risiko untuk risiko kredit, termasuk pengelolaan risiko konsentrasi pembiayaan bagi bank, baik secara individual maupun bagi bank secara konsolidasi dengan perusahaan anak setidaknya mencakup hal-hal sebagai berikut. 1) Pegawasan aktif dewan komisaris, direksi, dan DPS
Semua bank syariah wajib menerapkan manajemen risiko melalui pegawasan aktif dewan komisaris, direksi, dan DPS untuk risiko kredit, selain itu, bank syariah perlu juga menerapkan beberapa hal dalam tiga aspek pegawasan aktif dewan komisaris, direksi dan DPS, sebagai berikut:
a) Kewenangan dan tanggung jawab komisaris, direksi dan DPS.
(1) Dewan komisaris memantau penyedian dana termasuk mengkaji ulang penyedian dana dengan jumlah besar atau yang diberikan kepada pihak terkait.
(2) Direksi bertanggung jawab agar seluruh aktivitas penyediaan dana dilakukan sesuai dengan strategi dan
kebijakan risiko kredit yang disetujui oleh dewan komisaris.
(3) Direksi harus memastikan bahwa penerapan manajemen risiko dilakukan secara efektif pada pelaksanaan aktivitas penyedia dana, dengan antara lain memantau perkembangan dan permasalahan dalam aktivitas bank terkait risiko kredit, termasuk penyelesaian pembiayaan bermasalah.
(4) Dewan pengawas syariah harus melakukan evaluasi atas kebijakan manajemen risiko khususnya aspek risiko kredit yang terkait dengan pemenuhan prinsip syariah.
(5) Dewan pengawas syariah harus mengevaluasi pertanggungjawaban direksi atas pelaksanaan kebijakan manajemen risiko khususnya aspek risiko kredit yang terkait dengan pemenuhan prinsip syariah.
b) Sumber daya insani.
Kecukupan sumber daya insani untuk risiko kredit harus diperhatikan untuk memastikan bahwa aktivitas penyediaan dana bank tidak terekspos pada risiko kredit yang dapat menimbulkan kerugian pada bank.
c) Organisasi Manajemen Risiko Kredit.
Terdapat berapa poin terkait dalam rangka menerapkan manajemen risiko untuk risiko kredit, yang meliputi: (i) unit bisnis yang melaksanakan aktivitas pemberian pembiayaan atau penyediaan dana; (ii) unit pemulihan pembiayaan yang melakukan penanganan pembiayaan bermasalah; (iii) unit manajemen risiko, khususnya yang menilai dan memantau risiko kredit. Di samping itu, juga dibentuk komite pembiayaan yang bertanggung jawab khususnya untuk memutuskan pemberian pembiayaan dalam jumlah tertentu sesuai kebijakan masing-masing bank. Keanggotaan komite pembiayaan tidak hanya terbatas dari unit bisnis, tetapi juga dari unit-unit lain yang terkait dengan pengelolaan risiko kredit, seperti unit pemulihan pembiayaan.
2) Kebijakan, prosedur, dan penetapan limit
Bank syariah melaksanakan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit untuk risiko kredit, maka selain melaksanakan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit, bank perlu juga menambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap aspek kebijakan, prosedur, dan penetapan limit, sebagai berikut.
a) Strategi manajemen risiko.
(1) Strategi manajemen risko untuk risiko kredit harus mencakup strategi untuk seluruh aktivitas yang memiliki eksposur risiko kredit yang signifikan. Strategi tersebut harus memuat secara jelas arah penyediaan dana yang akan dilakukan, antara lain berdasarkan jenis pembiayaan, lapangan usaha, wilayah geografis, mata uang, jangka waktu, dan sasaran pasar. (2) Strategi manajemen risiko untuk risiko kredit harus
sejalan dengan tujuan bank untuk menjaga kualitas pembiayaan, laba, dan pertumbuhan usaha.
b) Tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko. Penetapan tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko untuk risiko kredit mengacu pada cukupan penerapan secara umum.
c) Kebijakan dan prosedur.
(1) Di dalam kebijakan risiko kredit yang mencakup penerapan manajemen risiko untuk risiko kredit untuk seluruh aktivitas bisnis bank, perlu ditetapkan kerangka penyediaan dana dan kebijakan penyediaan dana yang sehat termasuk kebijakan dan prosedur dalam rangka pengendalian RKP. Bank harus memiliki prosedur yang ditetapkan secara jelas untuk persetujuan penyediaan
dana, termasuk perubahan, pembaruan, dan pembiayaan kembali.
(2) Bank harus memiliki kebijakan dan prosedur untuk memastikan bahwa seluruh penyediaan dana dilakukan secara terkendali (arm’s length basis). Apabila bank mempunyai kebijakan yang memungkinkan dalam kondisi tertentu untuk melakukan penyediaan dana di luar kebijakan normal, kebijakan tersebut harus memuat secara jelas kriteria, persyaratan, dan prosedur termasuk langkah-langkah untuk mengendalikan atau memitigasi risiko dari penyediaan dana dimaksud.
(3) Bank harus memiliki kebijakan dan prosedur untuk mengidentifikasi adanya RKP.
(4) Bank harus mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan dan prosedur secara tepat sehingga dapat melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut.
(a) Mendukung penyediaan dana yang sehat.
(b) Memantau dan mengendalikan risiko kredit, termasuk RKP.
(c) Melakukan evaluasi secara benar dalam memanfaatkan peluang usaha yang baru.
(d) Mengidentifikasi dan menagani pembiayaan bermasalah.
(e) Kebijakan bank harus memuat informasi yang dibutuhkan dalam pemberian pembiayaan yang sehat, yang meliputi: tujuan pembiayaan dan sumber pembayaran, profil risiko debitur, dan mitigasinya serta tingkat sensitivitas terhadap perkembangan kondisi ekonomi dan pasar, kemampuan untuk membayar kembali, kemampuan bisnis, dan kondisi lapangan usaha debitur serta posisi debitur dalam industri tertentu, persyaratan pembiayaan yang diajukan termasuk perjanjian yang dirancang untuk mengantisipasi perubahan eksposur risiko debitur pada waktu yang akan datang.
(f) Kebijakan bank memuat pula faktor yang perlu diperhatikan dalam proses persetujuan pembiyaan, antara lain:
Tingkat profitabilitas, antara lain dengan melakukan analisis perkiraan biaya dan pendapatan secara komprehensif, termasuk biaya estimasi apabila terjadi gagal bayar, serta perhitungan kebutuhan modal.
Konsistensi pendapatan harga, yang dilakukan dengan memperhitungkan tingkat risiko, khususnya kondisi debitur secara keseluruhan serta kualitas dan tingkat kemudahan pencairan angunan yang dijadikan jaminan.
(g) Bank harus memiliki prosedur untuk melakukan analisis, persetujuan, dan administrasi pembiayaan, yang antara lain memuat:
Pendelegasian wewenang dalam prosedur pengambilan keputusan penyediaan dana yang harus diinformalkan secara jelas.
Pemisahan fungsi antara yang melakukan analisis, persetujuan, dan administrasi pembiayaan dalam kerangka kerja atau mekanisme prosedur pendelegasian pengambilan keputusan penyediaan dana.
Satuan kerja yang melakukan kaji ulang secara berkala guna menetapkan atau memuktahirkan kualitas penyediaan dana yang terekspos risiko kredit.
(h) Pengembangan sistem administrasi pembiayaan, yang meliputi:
Efesiensi dan efektivitas operasional administrasi pembiayaan, termasuk pemantauan dokumentasi, persyaratan kontrak, perjanjian pembiayaan, dan pengikat anguan.
Akurasi dan ketepatan waktu informasi yang diberikan untuk sistem informasi manajemen. Pemisahan fungsi/tugas secara memadai.
Kelayakan pengendalian seluruh prosedur back office, dan
Kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur internal tertulis serta ketentuan yang berlaku. (i) Bank harus menatausahakan, mendokumentasi, dan
memutakhirkan seluruh informasi kuantitatif dan kualitatif serta bukti-bukti material dalam arsip pembiayaan yang digunakan dalam melakukan penilaian dan kaji ulang.
d) Limit.
(1) Bank harus menetapkan limit penyediaan dana secara keseluruhan untuk seluruh aktivitas bisnis bank yang mengandung risiko kredit, baik untuk pihak terkait
maupun tidak terkait, serta untuk individual maupun kelompok debitur.
(2) Bank perlu menerapkan toleransi risiko untuk risiko kredit.
(3) Limit untuk risiko kredit digunakan untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan, termasuk karena adanya konsentransi penyaluran pembiayaan.
(4) Penetapan limit risiko kredit harus didokumentasikan secara tertulis dan lengkap yang memudahkan penetapan jejak audit, baik untuk kepentingan auditor internal maupun eksternal.
3) Proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko, serta sistem informasi manajemen (SIM) risiko kredit.
Bank syariah menerapkan manajemen risiko melalui proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko, serta SIM risiko untuk risiko kredit, maka selain itu bank perlu juga menambahkan penerapan bebereapa hal dalam tiap proses dimaksud, sebagai berikut.
a) Identifikasi risiko kredit.
(1) Sistem untuk melakukan identifikasi risiko kredit, termasuk identifikasi terhadap RKP, harus mampu menyediakan informasi yang memadai, antara lain mengenai komposisi portofolio pembiayaan.
(2) Bank perlu mempertimbangkan faktor yang dapat mempengaruhi tingkat risiko kredit dalam melakukan identifikasi risiko kredit, baik secara individual maupun portofolio pada waktu yang akan, datang seperti kemungkinan perubahan kondisi ekonomi serta penilaian eksposur risiko kredit dalam kondisi tertekan. (3) Bank perlu mempertimbangkan hasil penilaian kualitas
pembiayaan dalam mengidentifikasi risiko kredit berdasarkan pada analisis terhadap prospek usaha, kinerja keuangan, dan kemampuan membayar debitur. (4) Ketika bank mengidentifikasi risiko kredit untuk
kegiatan tresuri dan investasi, penilaian terhadap risiko kredit juga harus diperhatikan jenis karekteristik instrumen, dan likuiditas pasar serta faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi risiko kredit.
(5) Penanganan khusus untuk RKP ialah bank harus mengidentifikasi penyebab RKP akibat faktor idiosinkratik (faktor yang secara spesifik terkait pada masing-masing debitur) dan faktor sistematik (faktor-faktor ekonomi makro dan (faktor-faktor keuangan yang dapat mempengaruhi kinerja dan/atau kondisi pasar).
b) Pengukuran risiko kredit.
(1) Bank harus memiliki sistem dan prosedur tertulis untuk melakukan pengukuran risiko yang memungkinkan untuk:
(a) Sentralisasi eksposur neraca (dikenal juga sebagai laporan posisi keuangan) dan rekening adminstratif yang mengandung risiko kredit dari setiap debitur atau per kelompok debitur dan/atau pihak lawan transaksi (counterparty) tertentu mengacu pada konsep single obligor.
(b) Penilaian perbedaan kategori tingkat risiko kredit antar debitur/pihak lawan transaksi dengan mengunakan kombinasi aspek kualitatif dan kuantitatif serta pemilihan kriteria tertentu.
(c) Distribusi informasi hasil pengukuran risiko secara lengkap untuk tujuan pemantauan oleh satuan kerja terkait.
(2) Sistem pengukuran risiko kredit setidaknya mempertimbangkan:
(a) Karekteristik setiap jenis transaksi yang terekspos risiko kredit.
(b) Kondisi keuangan debitur/pihak lawan transaksi serta persyaratan dalam perjanjian pembiayaan
seperti tingkat margin atau nisbah bagi hasil pembiayaan.
(c) Jangka waktu pembiayaan dikaitkan dengan perubahan potensial yang terjadi di pasar.
(d) Aspek jaminan, agunan, dan/atau garansi.
(e) Potensi terjadinya gagal bayar, baik berdasarkan pada hasil penilaian pendekatan standar maupun hasil penilaian pendekatan yang menggunakan proses pemeringkatan yang dilakukan secara internal.
(f) Kemampuan bank untuk menyerap potensi kegagalan.
(3) Bank yang menggunakan teknik pengukuran risiko dengan pendekatan pemeringkat internal (internal rating) harus melakukan pemutakhiran data secara berkala.
(4) Alat pengukuran harus dapat mengukur eksposur risiko inheren yang dapat dikuantifikasikan, antara lain komposisi portofolio aset yang meliputi jenis dan fitur eksposur dan tingkat konsentrasi, dan kualitas penyediaan dana yang meliputi tingkat aset bermasalah dan aset yang diambil alih.
(5) Bank yang mengembangkan dan menggunakan sistem pemeringkatan internal dalam pengelolaan risiko kreditnya, harus menyesuaikan sistem tersebut dengan karekteristik portofolio, besaran, dan kompleksitas dari aktivitas bisnis bank.
(6) Prinsip pokok dalam penggunaan pemeringkatan internal adalah sebagai berikut:
(a) Prosedur penggunaan sistem pemeringkatan internal harus diformalkan dan didokumentasikan.
(b) Sistem pemeringkatan internal harus dapat mengidentifikasi secara dini perubahan profil risiko yang disebabkan oleh penurunan potensial atau
actual dari risiko kredit.
(c) Sistem pemeringkatan internal harus dievaluasi secara berkala oleh satuan kerja yang independen terhadap satuan kerja yang mengaplikasikan pemeringkatan internal tersebut.
(d) Apabila bank menggunakan pemeringkatan internal untuk menentukan kualitas aset dan besarnya cadangan, harus terdapat prosedur formal yang memastikan bahwa penetapan kualitas aset dan cadangan dengan pemeringkatan internal adalah
lebih pruden atau sama dengan ketentuan terkait yang berlaku.
(e) Laporan yang dihasilkan oleh pemeringkatan internal, seperti laporan kondisi portofolio pembiayaan harus disampaikan secara berkala kepada direksi.
(7) Salah satu model yang dapat digunakan bank adalah metedologi statistik/probabilistik untuk mengukur risiko berkaitan dengan jenis tertentu dari transaksi risiko kredit, sepeti scoring tools.
(8) Dalam penggunaan sistem tersebut, bank harus:
(a) Melakukan kaji ulang secara berkala terhadap akurasi model dan asumsi yang digunakan untuk meproyeksikan kegagalan.
(b) Menyesuaikan asumsi dengan perubahan yang terjadi pada kondisi internal dan eksternal.
(9) Apabila terdapat eksposur risiko yang besar atau transaksi yang relative kompleks, maka proses pengambilan keputusan transaksi risiko kredit tidak hanya didasarkan pada sistem tersebut, tetapi juga harus didukung sarana pengukuran risiko kredit lainnya. (10) Bank harus mendokumentasikan asumsi, data, dan
termasuk perubahannya, serta dokumentasi tersebut selanjutnya dimutakhirkan secara berkala.
(11) Penerapan sistem ini harus:
(a) Mendukung proses pengambilan keputusan dan memastikan kepatuhan terhadap ketentuan pendelegasian wewenang.
(b) Independen terhadap kemungkinan rekayasa yang akan memengaruhi hasil melalui prosedur pengamanan yang layak dan efektif.
(c) Dikaji ulang oleh satuan kerja atau pihak yang independen terhadap satuan kerja yang mengaplikasikan sistem tersebut.
c) Pemantauan risiko kredit.
(1) Bank harus mengembangkan dan menerapkan sistem informasi dan prosedur yang komprehensif untuk memantau komposisi dan kondisi setiap debitur atau pihak lawan transaksi terhadap seluruh portofolio pembiayaan bank syariah. Sistem tersebut harus sejalan dengan karekteristik, ukuran, dan kompleksitas portofolio bank.
(2) Prosedur pemantauan harus mampu untuk mengidentifikasi aset bermasalah ataupun transaksi lainnya untuk menjamin bahwa aset bermasalah
tersebut mendapat perhatian yang lebih, termasuk tindakan penyelamatan serta pembentukan cadangan yang cukup.
(3) Sistem pemantauan pembiayaan yang efektif akan memungkinkan bank untuk melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut.
(a) Memahami eksposur risiko kredit secara total maupun per aspek tertentu untuk mengantisipasi terjadinya RKP, antara lain per jenis pihak lawan transaksi, lapangan usaha, sektor industrial, atau per wilayah geografis.
(b) Memahami kondisi keuangan terkini dari debitur atau pihak lawan termasuk memperoleh informasi mengenai komposisi aset debitu dan tren pertumbuhan.
(c) Memantau kepatuhan terhadap persyaratan yang ditetapkan dalam perjanjian pembiayaan atau kontrak transaksi lainnya.
(d) Menilai kecakupan agunan secara berkala dibandingkan dengan kewajiban debitur atau pihak lawan transaksi.
(e) Mengidentifikasi permasalahan secara tepat termasuk ketidaktepatan pembayaran dan
mengklasifikasikan potensi pembiayaan bermasalah secara tepat waktu untuk tindakan perbaikan.
(f) Menangani dengan cepat pembiayaan bermasalah. (g) Mengidentifikasi tingkat risiko kredit, baik secara
keseluruhan maupun per jenis aset tertentu.
(h) Kepatuhan terhadap limit dan ketentuan lainnya terkait penyediaan dana, termasuk limit RKP. (i) Pengecualian yang diambil terhadap penyediaan
dana tertentu.
(4) Dalam pelaksanaan pemantauan eksposur risiko kredit, Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR) harus menyusun laporan mengenai perkembangan risiko kredit secara berkala, termasuk faktor-faktor penyebabnya, dan menyampaikannya kepada KMR dan direksi.
d) Pengendalian risiko kredit.
(1) Dalam rangka pengendalian risiko kredit, bank harus memastikan bahwa satuan kerja yang melakukan transaksi yang terekspos risiko kredit telah berfungsi secara memadai dan eksposur risiko kredit dijaga tetap konsisten dengan limit yang ditetapkan serta memenuhi standar kehati-hatian.
(2) Pengendalian risiko kredit dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain mitigasi risiko, pengelolaan posisi, dan risiko portofolio secara aktif, penetapan target batasan risiko konsentrasi dalam rencana tahunan bank, penetapan tingkat kewenangan dalam proses persetujuaan pemyediaan dana, dan analisis konsentrasi secara berkala setidaknya satu kali dalam setahun. (3) Bank harus memiliki sistem yang efektif untuk
mendeteksi pembiayaan bermasalah. Selain itu, bank harus memisahkan fungsi penyelesaian pembiayaan bermasalah tersebut dengan fungsi yang memutuskan penyaluran pembiayaan. Setiap strategi dan hasil penanganan pembiayaan bermasalah ditatausahakan yang selanjutnya digunakan sebagai input untuk kepentingan satuan kerja yang berfungsi menyalurkan atau merestrukturisasi pembiayaan.
e) Sistem informasi manajemen risiko kredit.
(1) Sistem informasi manajemen risiko untuk risiko kredit harus mampu menyediakan data secara akurat, lengkap, informatif, tepat waktu, dan dapat diandalkan mengenai jumlah seluruh eksposur pembiayaan peminjam individual dan pihak lawan transaksi, portofolio pembiayaan serta laporan pengecualian limit risiko
kredit agar dapat digunakan direksi untuk mengidentifikasi adanya RKP.
(2) Sistem informasi yang dimiliki harus mampu mengakomodasi strategi mitigasi risiko kredit melalui berbagai macam metode atau kebijakan, misalnya penetapan limit, asuransi, aguanan, dan lain-lain.
4) Sistem Pengendalian Intern Manajemen Risiko Kredit
Disamping bank syariah melakukan penerapan manajemen risiko melalui pelaksanaan sistem pengendalian internal untuk risiko kredit, instansi tersebut juga perlu menerapkan hal-hal sebagai berikut.
a) Sistem kaji ulang yang independen dan berkelanjutan terhadap efektivitas penerapan proses manajemen risiko untuk risiko kredit yang setidaknya memuat evuluasi proses administrasi pembiayaan, penilaian akurasi penerapan pemeringkatan internal, atau penggunaan alat pemantauan lainnya, dan efektivitas pelaksanaan satuan kerja atau petugas yang melakukan pemantauan kualitas pembiayaan. b) Sistem kaji ulang internal oleh individu yang independen
dari satu unit bisnis untuk membantu evaluasi proses pembiayaan secara keseluruhan, menentukan akurasi peringkat internal, dan menilai apakah account officer
c) Sistem pelaporan yang efesien dan efektif untuk menyediakan informasi yang memadai kepada dewan komisaris, direksi dan komite audit.
d) Audit internal atas proses risiko kredit dilakukan secara periodik, yang meliputi apakah:
(1) Aktivitas penyedian dana telah sejalan dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan.
(2) Seluruh otorisasi dilakukan dalam batas panduan yang diberikan.
(3) Kualitas individual pembiayaan dan komposisi portofolio telah dilaporkan secara akurat kepada direksi. (4) Terdapat kelemahan dalam proses manajemen risiko
untuk risiko kredit, kebijakan, prosedur, dan limit. 5. Penyelamatan atau Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah
Secara umum penanganan terhadap pembiayaan masalah dapat dilakukan dengan cara penyelamatan dan penyelesaian.
a. Penyelamatan pembiayaan bermasalah
Penyelamatan pembiayaan adalah istilah teknis yang biasa dipergunakan di kalangan perbankan terhadap upaya dan langkah- langkah yang dilakukan bank dalam usaha mengatasi permasalahan pembiayaan yang dihadapi debitur yang masih memiliki prospek usaha yang baik, namun mengalami kesulitan pembayaran pokok dan atau kewajibannya, agar debitur dapat memenuhi kembali
kewajibannya. Penyalamatan pembiayaan bermasalah dapat dilakukan dengan cara restrukturisasi pembiayaan (Faturrahman, 2012: 82).
b. Penyelesaian pembiayaan bermasalah
Untuk pembiayaan yang tidak bisa diseleikan melalui tahap penyelamatan lebih lanjut dilakukan melalui tahap penyelesaian pembiayaan baik penyelesaian secara damai atau penyelesaian secara paksa (Faturrahman, 2012: 101).
1) Penyelesaian secara damai merupakan penyelesaian yang dilakukan oleh bank itu sendiri, yang dimana penyelesaian dilakukan secara bertahap, yang dimana nasabah masih diberikan kesempatan untuk mengangsur kewajiban pembiayaannya atau mengalihkan hutangnya, atau memberikan kesempatan nasabah melakukan penjualan jaminan dibawah tangan demi mendapatkan harga
tertinggi.
2) Penyelesaian secara paksa yaitu penyelesaian yang dilakukan melalui saluran hukum atau lembaga lain (kantor lelang, debt collector, peradilan, badan arbitrase, dan Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara).
B. Hasil Penelitian Terdahulu
Dalam penulisan ini penulis menemukan penelitian terdahulu dan membandingkan dengan penelitian yang penulis lakukan, yang dipaparkan pada tabel berikut :
Tabel 3 Perbandingan Penelitian Identitas Penelitian Aspek Refaat Zharfan A311 07 698 Universitas Hasanuddin Makassar
Nadia Maya Sari Dewi C2C008094
Universitas Diponegoro Semarang
Judul Optimalisasi Skema
Bagi Hasil Sebagai Solusi Permasalahan
Principal-Agent
Dalam Pembiayaan
Mudharabah Pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Makassar Analisis Penerapan Struktur Pengendalian Intern Terhadap Prosedur Pemberian Pembiayaan Untuk Meningkatkan Pencegahan Pengembalian Macet Yang Diberikan Oleh Bank BNI Syariah Cabang Semarang Instansi Perusahaan
yang diteliti
PT. Bank BNI Syariah Cabang Makassar
PT. Bank BNI Syariah Cabang Semarang
Permasalahan Bagaimana mengoptimalkan skema bagi hasil sehingga dapat menjadi solusi permasalahan principal-agent dalam pembiayaan Bagaimana pemberian pembiayaan dana kepada calon debitur serta melakukan analisis calon debitur
agar putusan
mudharabah pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Makassar.
dengan tepat.
Tujuan Penelitian Untuk mengetahui bagaimana
mengoptimalkan skema bagi hasil sehingga dapat menjadi solusi permasalahan
Principal-Agent, yaitu
adverse selection dan
moral hazard yang
ada dalam
pembiayaan
mudharabah pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Makassar.
Untuk mengetahui bagaimana pemberian pembiayaan dana kepada calon debitur serta melakukan analisis calon debitur
agar putusan
pembiayaan diambil dengan tepat.
Metode Peneltian Jenis dan sumber data yang digunakan merupakan data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data penelitian lapangan dan kepustakaan.
Jenis dan sumber data yang digunakan merupakan data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data penelitian lapangan dan kepustakaan.
Menurut Refaat Zharfan (2012) dalam skripsinya bahwa ada dua permasalahan Principal Agent yang terjadi dalam pembiayaan dengan akad mudharabah yaitu adverse selection dan moral hazard. Penetapan skema bagi hasil yang optimal yaitu yang memenuhi utilitas bank syariah dan nasabah maka masalah adverse selection dan moral hazard yang terjadi dalam pembiayaan mudharabah dapat ditekan seminimal mungkin.
Meskipun pembiayaan mudharabah memiliki risiko yang tinggi, dengan mengoptimalkan skema bagi hasil pada pembiayaan mudharabah maka risiko-risiko yang ada dapat ditekan dan nantinya dapat meningkatnya jumlah pembiayaan mudharabah pada bank syariah.
Menurut Nadia Maya Sari Dewi (2012) dalam skripsinya bahwa pembiayaan yang mengalami pengembalian macet pada Bank BNI Syariah cabang Semarang selama periode tahun 2011 hal ini tidak disebabkan kurang efektifnya sistem pengendalian intern yang diterapkan dalam pemberian pembiayaan melainkan karena faktor-faktor lain seperti hal yang tidak dapat diduga sebelumnya baik pihak manajemen maupun nasabah yaitu faktor lingkungan dan faktor keadaan nasabah.
42
Variabel penelitian ini adalah pembiayaan mudharabah adalah penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada pengelola dana
(mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu, dengan menggunakan bagi laba (profit sharing) atau metode bagi hasil usaha
(gross profit margin) antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya. Bank mengenakan bagi hasil berdasarkan metode bagi hasil usaha (gross profit margin). Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati.
B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif terhadap manajemen risiko pembiayaan
mudharabah pada PT.Bank BNI Syariah Cabang Banjarmasin. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang hanya melukiskan keadaan obyek atau persoalannya. Penulis mengembangkan dan menghimpun fakta tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis. Di sini penulis mengungkapkan fakta dan melakukan interprestasi yang cukup. (Marzuki, 2005 : 14)
C. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah :
a. Data kualitatif, merupakan data yang berhubungan dengan data
non angka yang bersifat deskriptif, seperti struktur organisasi perusahaan dan gambaran umum perusahaan.
b. Data kuantitatif, merupakan data yang berhubungan dengan angka-angka, seperti laporan keuangan.
2. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Data Primer, merupakan data yang diperoleh dari hasil penelitian lapangan dengan melalui wawancara langsung antara peneliti dengan pihak Bank BNI Syariah Cabang Banjarmasin, yaitu Divisi
Small Medium Enterprise dan Recovery & Remedial.
b. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen perusahaan yang berkaitan dengan pembahasan, literatur, serta sumber lainnya yang berkaitan dengan objek penelitian.
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara
Metode yang digunakan dalam wawancara ini yaitu dengan metode pertanyaan yang telah terstructure. Peneliti melakukan tanya jawab langsung kepada pihak yang berwenang di PT. Bank BNI Syariah Cabang Banjarmasin yaitu pada unit SME (Small Medium Enterprise) dan unit Recovery & Remedial. Teknik ini digunakan untuk analisis manajemen risiko pembiayaan mudharabah yang timbul
oleh ketidak transparannya nasabah kepada pihak Bank BNI Syariah Cabang Banjarmasin.
2. Studi Lapangan
Studi lapangan dilakuakan peneliti untuk mengumpulkan data secara langsung karena dapat memperoleh data yang akurat. Data tersebut meliputi mekanisme pembiayaan mudharabah dan catatan yang dimiliki perusahaan tentang produk pembiayaan mudharabah.
3. Kepustakaan
Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan literature
yang relevan dan studi pustaka yang berkaitan terhadap masalah yang diteliti yang berkaitan dengan manajemen risiko pembiayaan
mudharabah. E. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Penulis akan menganalisis serta menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan manajemen risiko pembiayaan mudharabah. Langkah-langkah teknik analisis yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Mengidentifikasi data dengan menyesuaikan antara penerapan
manajemen risiko kredit yang ada di BNI Syariah Cabang Banjarmasin dengan teori yang ada berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 13/23/PBI/2011 tentang penerapan manajemen risiko bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
2. Mengklasifikasi data yang didapat dari fakta berdasarkan proses wawancara dengan 2 narasumber yang berbeda yaitu bagian SME (Small Medium Enterprise) menjelaskan tentang gambaran analalisa awal pembiayaan mudharabah dan penerapan manajemen risiko kredit dan Bagian Recovery & Remedial menjelaskan bagaimana teknik bagaiamana proses penyelamatan risiko pembiayaan.
3. Menuangkan data yang terkumpul ke dalam salinan tertulis.
4. Membuat simpulan dari hasil analisis penelitian terhadap manajemen risiko kredit produk pembiayaan mudharabah di BNI Syariah Cabang Banjarmasin.
Bank BNI Syariah
Sumber : Diolah oleh penulis
Penyaluran Pembiayaan
Mudharabah
Total Non Performing Financing tahun 2011-2016 tidak melebihi dari
5%
Sesuai Peraturan Otortitas Jasa Keuangan No.
15/POJK.03/2017
Penyebab Terjadinya Risiko Kredit
Penerapan Manajemen Risiko Kredit Bank BNI
Syariah
Sesuai
Berdasarkan PBI No. 13/23/PBI/2011
Meminimalkan Risiko Kredit dan Menjaga Non
Performing Financing
dibawah 5%
F. Kerangka Pemikiran Penelitian
Gambar 3
47
1. Kondisi Umum Bank BNI Syariah Cabang Banjarmasin a. Sejarah Singkat
Dengan adanya krisis moneter pada tahun 1997 membuktikan ketangguhan sistem perbankan syariah. Prinsip Syariah dengan 3 (tiga) pilarnya yaitu adil, transparan dan maslahat mampu menjawab kebutuhan masyarakat terhadap sistem perbankan yang lebih adil. Dengan berlandaskan pada Undang-undang No.10 Tahun 1998, pada tanggal tanggal 29 April 2000 didirikan Unit Usaha Syariah (UUS) BNI dengan 5 kantor cabang di Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Jepara dan Banjarmasin. Selanjutnya UUS BNI terus berkembang menjadi 28 Kantor Cabang dan 31 Kantor Cabang Pembantu.
Disamping itu nasabah juga dapat menikmati layanan syariah di Kantor Cabang BNI Konvensional (office channelling) dengan lebih kurang 1500 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di dalam pelaksanaan operasional perbankan, BNI Syariah tetap memperhatikan kepatuhan terhadap aspek syariah. Dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang saat ini diketuai oleh KH. Ma’ruf Amin, semua produk BNI Syariah telah melalui pengujian dari DPS sehingga telah memenuhi aturan syariah.
Berdasarkan Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 12/41/KEP.GBI/2010 tanggal 21 Mei 2010 mengenai pemberian izin usaha kepada PT Bank BNI Syariah. Dan di dalam Corporate Plan UUS BNI tahun 2003 ditetapkan bahwa status UUS bersifat temporer dan akan dilakukan spin off tahun 2009. Rencana tersebut terlaksana pada tanggal 19 Juni 2010 dengan beroperasinya BNI Syariah sebagai Bank Umum Syariah (BUS). Realisasi waktu spin off bulan Juni 2010 tidak terlepas dari faktor eksternal berupa aspek regulasi yang kondusif yaitu dengan diterbitkannya UU No.19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Disamping itu, komitmen Pemerintah terhadap pengembangan perbankan syariah semakin kuat dan kesadaran terhadap keunggulan produk perbankan syariah juga semakin meningkat.
Juni 2014 jumlah cabang BNI Syariah mencapai 65 Kantor Cabang, 161 Kantor Cabang Pembantu, 17 Kantor Kas, 22 Mobil Layanan Gerak dan 20 Payment Point.
b. Visi dan Misi 1) Visi
“Menjadi bank syariah pilihan masyarakat yang unggul dalam layanan dan kinerja”.
2) Misi
a) Memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dan peduli pada kelestarian lingkungan.
b) Memberikan solusi bagi masyarakat untuk kebutuhan jasa perbankan syariah.
c) Memberikan nilai investasi yang optimal bagi investor. d) Menciptakan wahana terbaik sebagai tempat kebanggaan
untuk berkarya dan berprestasi bagi pegawai sebgai perwujudan ibadah.
d. Job Description
Job description adalah gambaran dari tugas dan wewenang pihak yang terkait dalam suatu jenis pekerjaan pada sebuah instansi/perusahaan. Adapun job description dari pihak yang ada di BNI Syariah Banjarmasin sebagai berikut :
1) Pimpinan Cabang (Branch Manager)
a) Memimpin dan bertanggung jawab penuh atas seluruh aktivitas kantor cabang syariah dan kantor pembantu syariah terutama dalam hal meningkatkan kualitas assets
dan liabilities.
b) Bertanggung jawab sepenuhnya atas pelaksanaan fungsi manajemen secara optimal melalui pembentukan komite-komite yang melibatkan kantor cabang syariah dan kantor cabang pembantu syariah secara berkesinambungan sehingga berjalan dan berfungsi secara efektif.
c) Memimpin dan berperan aktif terhadap perkembangan implementasi Office Channeling produk BNI Syariah pada Kantor Cabang Konvensional di bawah kelolanya.
d) Memimpin dan bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan Prinsip Mengenal Nasabah (PMN) atau Know Your Costumer (KYC) sesuai ketentuan yang berlaku.