BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.5. Pembahasan Hasil Penelitian
4.5.1. Pembahasan Hipotesis I
Pemahaman aparatur daerah tentang keputusan presiden nomor 80 tahun 2003 mengenai pedoman pengadaan barang/ jasa pemerintah (X1) mempunyai hubungan yang signifikan dengan sasaran pelaksanaan anggaran (Y). Hasil temuan tersebut sesuai dengan prediksi hipotesis (H1) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pemahaman aparatur daerah tentang keppres nomor 80 tahun 2003 (X1) dengan sasaran pelaksanaan anggaran (Y).
Hal ini sesuai dengan teori pembelajaran social (social learning theory) yang menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan melalui penguat (reinforcement) dan pembelajaran melalui pengamatan, cara pandang dan cara pikir yang kita miliki terhadap informasi, bagaimana perilaku kita memperngaruhi lingkungan kita
dan menciptakan penguat dan kemungkinan bisa diamati oleh orang lain. (Mustafa, 2000).
Hasil temuan ini sesuai dengan temuan yang dilakukan oleh Wijaya, Tantri (2006) yang dapat disimpulkan bahwa pemahaman tentang proses pengadaan barang dan jasa dalam Keputusan Presiden nomor 80 tahun 2003 sangat dibutuhkan, sehingga proses pengadaan barang dan jasa dapat dijalankan sesuai dengan prosedur perundang-undangan. Dalam hal ini panitia atau pejabat hendaknya memiliki kompetensi dalam penguasaan proses pra kontrak.
Hasil temuan juga datangnya dari Jefrie (2005), dalam penelitiannya yang berjudul analisis pengadaan barang/ jasa berdasarkan Keppres Nomor 18 tahun 2000 di lingkungan pemerintah kabupaten Siak. Temuan mengenai penelitiannya disebutkan bahwa Penyimpangan yang masih terjadi adalah barang yang dibeli tidak sesuai dengan spesifikasi yang ada dalam kontrak.hal ini tentu saja menyalahi prosedur yang ada, disamping itu, rendahnya sumber daya aparat pemerintah kabupaten Siak, baik dari kuantitas maupun kualitas merupakan faktor utama penyebab terjadinya penyimpangan dalam proses pengadaan barang dan jasa dilingkungan pemerintah, hal ini ditandai dengan minimnya pengetahuan aparat mengenai rekanan dan peraturan lelang. Perlakuan aparat yang membeda-bedakan rekanan satu sama lainnya (diskriminasi), hal ini
membuktikan keengganan bagi pengusaha kecil untuk mengikuti seleksi peserta tender.
Dengan demikian, adanya temuan ini dapat dijadikan acuan untuk tidak mengabaikan pemahaman aparatur daerah tentang keputusan presiden nomor 80 tahun 2003, karena pada dasarnya pemahaman diri sangat penting agar individu tersebut senantiasa melakukan adaptasi antara kemampuannya dengan lingkungan pekerjaanya (Hamalik 1993;42).
Pemerintahan kabupaten Ende Flores juga harus tetap menggali dan mengasah pemahaman aparatur daerah tentang keputusan presiden pengadaan barang/ jasa nomor 80 tahun 2003 ini agar dalam pelaksanaan pengadaan barang/ jasa pemerintah dapat berjalan sesuai dengan tatacara pengadaan, substansi pekerjaan/ kegiatan yang bersangkutan, serta hukum-hukum perjanjian atau kontrak agar sasaran pelaksanaan anggaran menjadi lebih efektif dan berorientasi publik serta tercapainya visi dan misi daerah Ende yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kualitas sumber daya manusia turut berperan dalam proses pengadaan barang/ jasa pemerintah di kabupaten Siak (jefrie, 2005). Sama halnya dikabupaten Ende, pelaksanaan pengadaan barang/ jasa pemerintah, aparatur selaku pengguna dan panitia/pejabat pengadaan barang/ jasa tentunya harus patuh dan paham mengenai tatacara pengadaan barang/ jasa pemerintah menyangkut salah satu persyaratan pengadaan barang/ jasa pemerintah yang tertuang dalam
keputusan presiden RI nomor 80 tahun 2003 yakni memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/ jasa pemerintah.
Di kabupaten Ende sudah cukup banyak tenaga ahli yang bersertifikasi adalah sebanyak 46 orang dan sebanyak 139 orang yang mengikuti bimbingan teknik (bimtek) mengenai pengadaan barang/ jasa pemerintah dalam tahun 2008. tetapi jika dibandingkan dengan banyaknya tenaga ahli pengadaan barang/ jasa tanpa dibarengi dengan kualitas sumber daya aparatur dalam hal pemahaman mengenai tatacara pengadaan, substansi pekerjaan/ kegiatan yang bersangkutan tentunya tidak akan memberikan kontribusi yang positif terhadap sasaran program yang telah dianggarkan dan berdampak buruk bagi kualitas barang/ jasa yang dihasilkan sehingga tidak dapat melayani kepentingan publik secara efektif dan efisien.
Pada prinsipnya, sasaran pelaksanaan anggaran masing-masing satuan kerja perangkat daerah dalam pelaksanaan pembangunan pemerintah kabupaten Ende mencapai 100%. Hal ini berarti kemajuan/ kinerja masing-masing SKPD dalam pelaksanaan sasaran anggaran di tahun anggaran 2007 tepat sasaran.
Namun harus diakui bahwa walaupun sudah banyak keberhasilan yang dicapai, tapi masih banyak juga kegagalan yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah kabupaten Ende. Mulai dari masalah aparatur dan kelembagaan daerah yang masih terbatas
keberpihakan dana APBD kabupaten terhadap belanja langsung masih kecil (29%) di tahun 2006, masalah infrastruktur seperti pelayanan jasa transportasi yang belum memadai, anatara lain perhubungan udara yang belum memadai dalam hal keselamatan penerbangan dikarenakan ukurannya yang kurang dari standar yang ditentukan, tidak berfungsinya dermaga sebagai sarana laut, kurangnya sarana lalulintas jalan raya seperti rambu-rambu, traffic light, guardil, dan delineator sedangkan pemakai jalan semakin bertambah, masalah pendidikan rakyat adalah fasilitas pelayanan pendidikan yang masih kurang dan Nampak tidak meratanya antara satuan pendidikan yang ada, sehingga menimbulkan ketimpangan antar wilayah. Masalah kesehatan rakyat antara lain terbatasnya tenaga kesehatan dengan distribusi yang belum merata, dan untuk masalah ekonomi rakyat yakni terbatasnya ketersediaan prasarana dan sarana untuk mendukung pemasaran produksi, hal ini terlihat dari minimnya jumlah dan keterbatasan informasi pasar serta kurangnya aksesbilitas terhadap pemasaran produk daerah.
Dalam hal pengadaan barang/ jasa pemerintah, peneliti menemukan beberapa permasalahan-permasalahan yang ada di kabupaten Ende antara lain adanya kehati-hatian dari pengelola kegiatan/ proyek (PPK dan panitia tender) untuk melakukan pelelangan/ tender, hal ini terlihat dari masih banyaknya kegiatan/ proyek yang sampai pada triwulan ke IV baru dilakukan pelelangan, adanya penumpukan kegiatan/ proyek fisik yang dialokasikan pada
wadah perubahan anggaran yang mana tidak sejalan dengan limit waktu proses pelelangan dan pelaksanaan proyek, perencana anggaran pada beberapa RKA/DPA belum dilakukan secara efektif sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran sehingga terjadi penumpukan pergeseran pengalokasian anggaran pada perubahan anggaran dan terjadi kevakuman pelaksanaan kegiatan karena keterbatasan anggaran. Hal tersebut di atas tidak sesuai dengan prinsip dasar pengadaan pengadaan barang/ jasa yang wajib diterapkan oleh pihak-pihak pengadaan barang/ jasa pemerintah dalam hal ini pihak panitia/ pejabat pengadaan yang diatur dalam keputusan presiden nomor 80 tahun 2003 yaitu efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil/ tidak diskriminatif, dan akuntabel.
Diharapkan dengan didukung oleh pemahaman aparatur daerah yang tepat mengenai tatacara serta substansi pekerjaan dalam pengadaan barang/ jasa pemerintah kabupaten Ende dapat menghasilkan kualitas barang/ jasa yang dapat melayani kepentingan publik secara efektif dan efisien.