Hasil evaluasi data pelepasliaran bahwa 50% populasi orangutan ex-captive
yang dilepasliarkan ke kawasan Bukit Tigapuluh tidak dipastikan status Gambar 12 Proporsi ketinggian aktivitas individu orangutan pasca
21 keberadaannya. Individu kelas umur dewasa merupakan kelompok pelepasliaran yang tertinggi status keberadaannya tidak diketahui pasca pelepasliaran. Sebanyak 75% dari total individu umur dewasa yang dilepasliarkan hilang dari monitoring teknisi sebelum data aktivitas harian mereka cukup untuk evaluasi keberhasilan adaptasi mereka. Kesulitan seperti kondisi topografi hutan, perilaku individu dewasa yang umumnya agresif dan kemampuan arboreal yang hilang menjadi sebab kesulitan dalam melakukan monitoring pasca pelepasliaran.
Pada populasi ex-captive yang tidak ada data sebanyak 57 individu dari 79 individu merupakan individu dengan kondisi perilaku yang masih semiliar. Sebanyak 22 individu lain merupakan individu dengan perilaku jinak. Kesulitan melakukan monitoring dengan berbagai keterbatasan menyebabkan banyak orangutan ex-captive semiliar sulit untuk dimonitoring dalam jangka waktu panjang, sehingga tidak bisa diberikan kesimpulan untuk menyatakan individu-individu ex-captive yang hilang tersebut berhasil dan hidup pasca pelepasliaran.
Teknisi seringkali menemukan individu-individu ex-captive yang tidak dikenal identitasnya ketika berada di dalam hutan. Individu-individu tidak dikenal tersebut bergabung dan beraktivitas bersama dengan individu orangutan ex-captive yang baru dilepasliarkan. Sebagai contoh yaitu dua individu ex-captive
remaja jantan yang sudah lama hilang dari monitoring kemudian ditemukan di kawasan hutan yang berjarak > 20 km dari hutan pelepasliaran dengan kondisi fisik yang sudah berubah. Kondisi ini membuat teknisi pada awalnya tidak dapat mengidentifikasi individu yang mereka temukan tersebut.
Kegagalan pelepasliaran juga banyak terjadi akibat stress karena belum siap dan terlalu muda untuk tinggal mandiri di dalam hutan. Ada lima individu anak mati akibat stress pasca pelepasliaran. Kematian orangutan remaja dan dewasa sebanyak delapan individu lebih disebabkan karena tidak mampu beradaptasi di hutan akibat insting liar mereka yang sudah hilang. Hal ini karena orangutan dewasa telah memiliki pola hidupnya sendiri dan lebih sulit untuk belajar (Pratje 2006). Selain itu, ada dua individu harus kembali ke pusat karantina. Kedua individu tersebut tidak layak untuk dilepasliarkan kembali karena telah buta permanen akibat perburuan dan satu individu lain mengalami kelumpuhan dimana penyebabnya masih dalam pemeriksaan medis.
Kehilangan insting liar dan tingginya ketergantungan orangutan jinak kepada manusia mengakibatkan orangutan jinak tidak mampu beradaptasi dan bersosialisasi baik di hutan. Individu jinak juga banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat dan bermain ditanah. Banyak individu jinak tidak memiliki kemampuan beraktivitas di pepohonan, minim pengenalan pakan hutan, orientasi di hutan telah hilang dan tidak memiliki kemampuan membangun sarang sehingga setelah beberapa minggu di hutan terserang bakteri penyakit. Indikator keberhasilan pelepasliaran yang digunakan yaitu individu orangutan ex-captive
dapat bertahan hidup mandiri setelah melewati dua musim kering (miskin buah) di dalam hutan, individu hidup dan tersebar di hutan pasca pelepasliaran (Trayford et al. 2010), dan lahirnya individu baru dari populasi ex-captive di habitat (Siregar et al. 2010). Pengelola mengidentifikasi sebanyak enam individu baru telah lahir dari induk orangutan ex-captive sampai tahun 2014. Waktu pelepasan yang tepat untuk beradaptasi merupakan salah satu faktor lain yang mendukung keberhasilan lepasliar orangutan rehabilitasi (Kelle et al. 2013).
22
Ada 56 individu dari 158 individu yang tercatat pernah mendapatkan perawatan medis selama proses adaptasi. Seluruh individu dewasa dan remaja yang mengalami gangguan kesehatan selama proses reintroduksi diketahui sebanyak 15% gagal dan 19% lainnya tidak diketahui status keberadaan pasca pelepasliaran. Kasus terbesar terjadi pada orangutan umur muda. Sebanyak 16 individu memiliki riwayat kasus medis gagal pelepasliaran. Ada tiga kasus medis khusus yang mengakibatkan kegagalan yaitu dua individu mati di dalam kandang sosialisasi sebelum proses adaptasi dan satu individu cacat akibat kelumpuhan sehingga harus dikembalikan ke pusat karantina. Pemantauan kesehatan selama proses reintroduksi sangat penting sekali sebelum orangutan rehabilitan dilepasliarkan ke hutan (Siregar et al. 2010).
Individu orangutan yang memiliki riwayat kesehatan kurang baik dan sering mendapat perawatan medis sering mengalami perubahan mental karena lebih banyak mendapatkan stress yang tinggi. Individu orangutan juga sering mengalami perubahan perilaku karena interaksi yang tinggi dengan manusia, waktu yang tinggal semakin lebih lama, dan ditempatkan sendiri di kandang isolasi tanpa interaksi dengan individu lain. Individu orangutan yang memiliki riwayat kesehatan kurang baik selama adaptasi memiliki peluang besar mengalami kegagalan dalam proses reintroduksi. Pengawasan pemeliharaan kesehatan individu ex-captive selama proses adaptasi menjadi prioritas untuk menghindari kegagalan reintroduksi.
Keberadaan manusia dan aktivitas yang tinggi di sekitar pusat reintroduksi juga mempengaruhi keberhasilan reintroduksi individu ex-captive. Hampir seluruh orangutan ex-captive adalah orangutan bekas peliharaan secara illegal, sehingga individu-individu ini masih sangat tertarik berinteraksi dengan manusia. Jenis satwa baru dan adanya informasi bahwa jenis ini bernilai ekonomis tinggi bagi masyarakat sekitar kawasan Bukit Tigapuluh menjadi alasan ketertarikan masyarakat berinteraksi dengan orangutan ex-captive. Kasus tahun 2006 terjadi di salah satu desa sekitar kawasan yang menembaki orangutan ex-captive untuk ditangkap karena bernilai ekonomis. Individu tersebut telah hidup mandiri dan akhirnya harus cacat permanen (buta) dan tidak dapat dilepasliarkan kembali. Ada rata-rata 3 kasus per tahun orangutan ex-captive masuk dan ditemukan di kawasan perusahaan, ladang dan dekat pemukiman masyarakat di sekitar kawasan hutan pelepasliaran Bukit Tigapuluh.
Banyak individu ex-captive di PROS pasca pelepasliaran mengalami infeksi bakteri karena beraktivitas di tanah, ada yang jatuh dari pohon ketika beraktivitas di kanopi dan kondisi kesehatan fisik yang turun drastis selama tiga bulan pertama setelah pelepasliaran, stress di dalam hutan ketika bertemu dengan satwa lain, dan memilih beraktivitas dengan manusia daripada belajar dan hidup sosial dengan individu orangutan lainnya. Penyebab kegagalan individu ex-captive ketika dilepasliarkan ke hutan pada beberapa pusat reintroduksi juga menyatakan akibat stress yang tinggi, tidak memiliki kemampuan mencari dan menemukan sumber
pakan ‘foraging’ (Russon 2002; Grundmann et al. 2001; Siregar 2009), kemampuan beraktivitas di kanopi pohon yang minim (Descovich et al. 2011; Grundmann 2001; Siregar 2009), dan menghindari ancaman seperti predator atau satwa berbahaya lain serta manusia (Siregar 2009; Prasetyo et al. 2009; Russon 2002) merupakan ancaman utama kegagalan.
23 Monitoring dan survey keberadaan orangutan ex-captive pelepasliaran harus selalu dilakukan dalam jangka panjang dan berkelanjutan untuk database populasi
ex-captive dan mencegah resiko perburuan serta penangkapan kembali oleh oknum masyarakat (Siregar et al. 2010). Hal ini juga harus didukung dengan sosialisasi dan penyadartahuan kepada masyarakat tentang fungsi dan peran jenis ini di dalam ekosistem hutan bagi masyarakat. Edukasi dan penyadartahuan konservasi khususnya orangutan bagi generasi muda akan bermanfaat dalam jangka waktu panjang (Hockings dan Humle 2010). Begitu juga kerjasama dan dukungan pemerintah dan stakeholder untuk mendukung program ini akan sangat membantu keberhasilan pelepasliaran orangutan ex-captive membangun populasi baru yang lestari (Hockings dan Humle 2010; Tryaford et al. 2010; Siregar et al.
2010)
Penilaian Pola Aktivitas Harian a. Durasi Aktivitas Harian
Orangutan adalah satwa arboreal di habitat aslinya. Aktivitas orangutan dimulai ketika keluar dari sarang pada pagi hari dan kemudian bergerak menuju sumber pakan. Orangutan akan bergerak melakukan perjalanan untuk menemukan sumber-sumber pakan yang pernah mereka lewati, kadang beristirahat setelah kebutuhannya telah terpenuhi dan melakukan penjelajahan lagi ke setiap sumber pakan yang mereka tahu dan sore hari menjelang malam membangun sarang tidur mereka yang seringkali tidak jauh dari sumber pohon pakan terakhir.
Seluruh orangutan individu menghabiskan waktu 96% hingga 99% untuk melakukan tiga aktivitas utama (makan, bergerak dan beristirahat). Hasil ini berbeda dengan yang diperoleh Riedler et al. (2010) di PROS pada penelitian sebelumnya, orangutan ex-captive muda menghabiskan waktu 78% hingga 84% untuk tiga aktivitas utama (Tabel 5). Orangutan ex-captive di pusat rehabilitasi maupun reintroduksi menghabiskan waktu untuk istirahat lebih banyak dibandingkan dengan aktivitas makan dan bergerak (Grundmann 2001; Riedler et al. 2010; Siregar 2009). Hasil yang hampir sama diperoleh di dalam penelitian ini kecuali di dalam kelompok muda semiliar. Kelompok muda semiliar memiliki waktu aktivitas makan jauh lebih tinggi dibandingkan waktu aktivitas istirahat.
Asumsi pertama bahwa orangutan ex-captive kelompok yang muda dengan dewasa memiliki pola aktivitas yang berbeda karena umur dan ukuran tubuh. Delgado dan van Schaik (2000) menyatakan bahwa ukuran tubuh, tingkatan umur atau jenis kelamin membuat proporsi waktu beraktivitas akan berbeda. Pada penelitian ini kelompok orangutan dewasa dan muda jinak memiliki waktu istirahat yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan aktivitas bergerak dan makan. Sebaliknya terjadi pada kelompok orangutan muda semiliar dimana durasi waktu aktivitas makan lebih tinggi dibandingkan aktivitas istirahat. Jika ketiga kelompok dibandingkan menurut kondisi perilaku maka kelompok muda semiliar memiliki pola aktivitas yang berbeda dengan kelompok muda jinak dan kelompok dewasa. Kelompok muda semiliar memiliki durasi aktivitas makan yang lebih tinggi dibandingkan dengan istirahat, sedangkan pada kelompok muda jinak dan dewasa terjadi sebaliknya.
24
Salah satu faktor menyebabkan tingginya persentase aktivitas istirahat pada kelompok ex-captive adalah ketersediaan sumber makanan pada saat musim buah yang melimpah di sekitar lokasi pelepasliaran dan ada pemberian pakan bantuan. Kedua faktor ini menyebabkan pergerakan individu-individu untuk mengeksplorasi lingkungan baru mereka tersebut relatif rendah. Hasil ini juga dinyatakan Riedler et al. (2010) dan penelitian yang dilakukan pada orangutan rehabilitasi di Kalimantan (Peters 1995; Frederiksson 1995; Grundmann 2001). Berbeda dengan hipotesa Rodman dan Mitani (1987) mengenai hubungan antara ukuran tubuh dengan pencarian makan yang lebih banyak dan pergerakan yang lebih jauh pada orangutan.
Interaksi antara teknisi pemantau dengan individu yang dilepasliarkan dilakukan seminimal mungkin, pengalaman yang masih minim di dalam hutan serta lokasi pelepasliaran yang baru membuat individu tersebut lebih banyak berdiam di atas pohon dan mengamati sekelilingnya. Persentase durasi waktu aktivitas istirahat yang diperoleh dalam penelitian ini terutama untuk kelompok muda jinak dan dewasa jauh lebih tinggi dibandingkan aktivitas lain. Orientasi dan eksplorasi kelompok orangutan ex-captive ke lingkungan sekitar mereka terutama lokasi sumber pakan masih rendah. Persentase durasi aktivitas makan yang jauh lebih rendah dibandingkan durasi aktivitas istirahat. Orangutan liar Ketambe menunjukkan perbedaan dimana durasi aktivitas makan lebih tinggi dibandingkan aktivitas istirahat.
Persentase durasi aktivitas lain orangutan ex-captive di PROS menunjukkan jumlah yang tidak tinggi yaitu antara 1% - 4% saja. Beberapa jenis yang masuk aktivitas lain individu yang diamati selama pengambilan data di lapangan yaitu kegiatan sosial seperti bermain dan berkelahi; bersuara; aktivitas mengamati sekeliling; mengamati pengamat; dan agresif ke pengamat. Persentase ini berbeda jauh dengan hasil pengamatan yang dilakukan pada penelitian sebelumnya di PROS (Riedler et al. 2009) dan penelitian yang di pusat rehabilitasi Bukit Lawang (Simanjuntak 2010). Pada penelitian ini semua aktivitas individu yang dilakukan bersama dengan individu lain tidak dibedakan menjadi aktivitas sosial melainkan bagian dari tiga aktivitas utama yaitu makan, bergerak dan istirahat.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan Riedler et al. (2010) di lokasi yang sama menunjukkan hasil yang berbeda. Pengamatan aktivitas harian dilakukan pada individu-individu anak dalam tahapan adaptasi di sekolah hutan. Orangutan di tahapan sekolah hutan masih sangat tergantung terhadap bantuan teknisi. Pada tahapan ini anak-anak orangutan dibawa dari kandang sosialisasi dan dilepaskan ke hutan sekitar kandang untuk belajar dan mendapat pelatihan dari teknisi di hutan. Sekolah hutan dilakukan pagi hari dan berakhir sore hari sebelum pemberian makanan terakhir dengan memasukkan mereka kembali ke dalam kandang sosialisasi. Jika mereka merasakan lapar dan tidak diberikan makanan selama di sekolah hutan maka mereka kembali ke kandang lebih cepat untuk meminta makan dari teknisi. Individu orangutan ex-captive yang masih berada pada tahapan sekolah hutan banyak menghabiskan waktu untuk bermain dengan individu lain dan teknisi yang menjaga mereka. Hasil yang sama juga diperoleh Simanjuntak (2007) di Bukit Lawang.
Oleh karena itu orangutan excaptive yang telah kehilangan induk mereka saat umur masih muda sekali sangat memerlukan individu lain yang lebih tua atau
25 manusia. Individu yang lebih tua ataupun teknisi memiliki peran sebagai pengganti induk dan mengajarkan kemampuan bertahan hidup di dalam hutan bagi mereka (Siregar 2009). Pelatihan adaptasi selama di dalam kandang (pengenalan pakan, membuat sarang dan lainnya) ataupun membawa mereka sekolah hutan di sekitar kandang sangat bermanfaat untuk mendukung keberhasilan adaptasi mereka sebelum pelepasliaran ke habitat alami yang baru.
Hal lain yang menjadi pertimbangan bahwa kondisi kesehatan individu orangutan ex-captive setelah berada di hutan juga dapat mempengaruhi pola aktivitas harian yang dilepasliarkan ketika berada di dalam hutan (Descovich et al.
2011). Asupan yang lebih sedikit dan kemampuan mengenali dan mengeksplorasi pakan masih rendah sering membuat orangutan ex-captive yang dilepasliarkan mengalami penurunan kebugaran fisik setelah beberapa hari tinggal di hutan. Pemberian pakan dari pawang merupakan alternatif bantuan untuk terus mendukung kebugaran fisik bagi orangutan di hutan. Hal ini juga yang menjadikan orangutan ex-captive terus bergantung kepada pawang untuk memelihara mereka di dalam hutan. Waktu, jumlah dan jenis pakan pemberian bagi orangutan ex-captive setelah berada di dalam hutan harus di manajemen dengan baik sehingga ketergantungan terhadap pakan pemberian tidak menghambat keberhasilan adaptasi mereka setelah pelepasliaran dan kondisi kebugaran tetap terjaga terus.
Asumsi kedua bahwa pola aktivitas orangutan mengikuti kondisi musim buah dan penyebaran lokasi-lokasi sumber pakan di dalam hutan. Kualitas dan penyebaran pakan di hutan menjadi faktor yang mempengaruhi pola aktivitas orangutan liar (Meijaard et al. 2001; Buij et al. 2002). Jika melihat dari aktivitas harian pada tiga kelompok pelepasliaran, maka kelompok muda semiliar memiliki aktivitas makan yang lebih tinggi dibandingkan dengan isitirahat dan bergerak.
Tabel 5 Perbandingan persentase waktu aktivitas harian antara orangutan ex-captive Bukit Tigapuluh, orangutan rehabilitasi Bukit Lawang dan orangutan liar di Ketambe
Kelas umur Sex Feed Move Rest Other Bukit Tigapuluh
Kelompok 1 Anak-Remaja Campur 33 14 51 1
Kelompok 2 Anak-Remaja Campur 46 16 34 4
Kelompok 3 Dewasa Muda Campur 23 15 58 4
1
Bukit Tigapuluh
Jinak Anak Campur 40 22 16 22
Semiliar Anak Jantan 46 17 21 16
2 Bukit Lawang 3 Ketambe Muda Campur 17 33 16 34 Remaja-Dewasa muda Jantan 53 13 34 - Remaja-Dewasa muda Betina 59 12 29 -
26
Berbeda dengan orangutan ex-captive kelompok muda jinak dan dewasa memiliki waktu istirahat jauh lebih tinggi dibandingkan aktivitas makan. Hasil ini juga sama dengan yang diperoleh Riedler (2010) pada orangutan ex-captive anakan yang semiliar di PROS.
Seluruh individu dalam penelitian ini memiliki proporsi waktu makan yang lebih rendah dibandingkan dengan orangutan liar Ketambe (Morrogh-Bernard et al. 2009) (Tabel 5). Orangutan liar mampu memiliki pola aktivitas harian yang efektif dan efisien karena belajar dan mengikuti induk mereka sampai berumur 6 - 8 tahun (van Adrichem et al. 2006; van Noordwijk et al. 2009) dan mereka memiliki akan pola aktivitas setelah berumur 11 tahun (van Noordwijk and van Schaik 2005). Durasi waktu aktivitas makan berbanding terbalik dengan aktivitas istirahat pada orangutan ex-captive.
Individu di kelompok muda jinak dan dewasa memiliki waktu istirahat lebih tinggi dibandingkan aktivitas lain. Jarot (> 60%) di kelompok muda jinak dan Sasa (> 80%) di kelompok dewasa memiliki waktu istirahat yang sangat tinggi. Proporsi waktu ini berbeda dengan seluruh individu di kelompok muda semiliar. Kelompok muda semiliar menunjukkan proporsi waktu istirahat yang lebih rendah dibandingkan aktivitas makan. Proporsi waktu aktivitas istirahat individu di kelompok muda semiliar memiliki persentase yang hampir sama dengan orangutan liar. Persentase durasi aktivitas harian istirahat yang tinggi dari individu-individu yang diamati menunjukkan bahwa orangutan ex-captive belum menghabiskan waktunya lebih efesien dibandingkan orangutan liar.
Ada lima individu dari 13 individu yang belum mampu membangun sarang tidur selama penelitian (Tabel 6). Delapan individu lain masih memiliki kemampuan membangun sarang tidur sendiri. Asumsi bahwa delapan individu masih memiliki waktu hidup bersama dan belajar dengan induk lebih lama dibandingkan lima individu lainnya. Individu Ongki, Ken, Mirriam, Ayu, dan
Tabel 6 Individu orangutan ex-captive menurut kemampuan membangun sarang Nama Jenis Kelamin Kondisi Perilaku Kelompok Sarang
Veni Betina Jinak 1 √
Ayu Betina Jinak 1 X
Mirriam* Betina Jinak 1 X
Jarot* Jantan Jinak 1 √
Mambo Jantan Jinak 1 √
Julius Jantan Semiliar 2 √
Suri Betina Semiliar 2 √
Ongki Betina Semiliar 2 X
Ken Betina Semiliar 2 X
Jagad Jantan Liar 3 √
Sasa Betina Jinak 3 √
Beckham Jantan Jinak 3 X
Rimbani Betina Semiliar 3 √
Keterangan : √ = mampu membangun sarang; X = tidak / belum mampu
27 Beckham diketahui tidak tidur di dalam sarang di awal pelepasan. Pada akhir pelaksanaan penelitian ini diketahui bahwa individu Ongki, Ken dan Beckham sudah mampu membangun sarang mereka, sebaliknya individu Mirriam dan Ayu masih belum mampu membangun sarang mereka sendiri. Informasi yang didapatkan bahwa individu Mirriam mati setelah penelitian selesai.
Pada penelitian ini aktivitas bersarang tidak dibahas secara rinci. Pada penelitian ini durasi aktivitas individu membangun sarang sampai tidur dalam sarang merupakan bagian dari durasi aktivitas istirahat. Kemampuan orangutan
ex-captive membangun sarang untuk istirahat dan menggunakan sarang tidur pada malam hari menjadi faktor penting lain dalam keberhasilan pelepasliaran. Hasil identifikasi menyebutkan banyak orangutan ex-captive pada tiga bulan pertama tinggal di dalam hutan masih belum mampu membangun sarang tidur pada malam hari. Beberapa individu memanfaatkan percabangan pohon, sarang lama, pakis pohon yang besar, dan tumpukan liana di kanopi pohon untuk tidur pada malam hari.
Kemampuan membangun sarang dan tidur di sarang pada malam hari adalah kemampuan yang harus dimiliki individu sebagai strategi menghindar dari predator (van Schaik et al. 2006). Kemampuan membangun sarang telah dimiliki orangutan liar ketika berumur sekitar 3 tahun meskipun malam hari bergabung dengan induknya (van Nordwijk dan van Schaik 2005). Pada orangutan rehabilitasi kemampuan membangun sarang diperoleh dengan belajar dari orangutan lain (Prasetyo et al. 2009; Russon 2002). Pada tahun 2009, kasus orangutan jantan dewasa rehabilitan PROS mati dimangsa harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) pada malam hari karena tidur dan membangun sarangnya di tanah.
b. Proporsi Komposisi Pakan yang Dikonsumsi
Strategi bertahan hidup yang harus dimiliki orangutan ex-captive adalah mencari dan menemukan pakan di hutan. Pemilihan dan komposisi pakan yang baik sangat tergantung dari pengalaman dan kemampuan individu mengenal, menemukan dan dan memproses makanan (Russon 2002). Selain itu musim buah di dalam hutan juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi jumlah dan komposisi pakan yang dimakan ketika orangutan ex-captive berada di dalam hutan (Simanjuntak 2007). Pada konsumsi masing-masing jenis makanan diperoleh hasil bahwa tiap kelompok menunjukkan perbedaan dalam jumlah durasi konsumsi buah dan daun sebagai makanan utama orangutan rehabilitasi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga kelompok mengkonsumsi buah dan daun lebih tinggi dibandingkan jenis pakan lainnya. Kelompok muda jinak dan liar/semiliar memakan banyak buah dan daun tetapi pakan lainnya dengan jumlah yang sedikit. Sedangkan kelompok dewasa mengkonsumsi buah tidak tinggi tetapi memiliki persentase pakan daun dan kambium dalam jumlah yang sama. Secara keseluruhan, komposisi pakan individu-individu kelompok muda liar memiliki variasi yang lebih tinggi dibandingkan pada kelompok lain. Seluruh individu kelompok muda liar mengkonsumsi buah lebih banyak dibandingkan pakan lainnya sedangkan beberapa individu pada kelompok lain mengkonsumsi daun dan kambium yang lebih tinggi.
28
Seluruh orangutan ex-captive yang diamati memakan lebih banyak buah dibandingkan pakan lainnya tetapi variasi jenis buah yang dikenal masih sedikit. Jumlah terbanyak yang teramati adalah orangutan Jagad sebanyak 21 jenis. Orangutan liar di habitat asli dapat mengenal dan memakan > 100 jenis pohon pakan yang terjadi pada musim buah (Rijksen 1978). Variasi pakan lain seperti daun, kambium, umbut, serangga dan lainnya sebagai pakan tambahan pada musim buah dan menjadi pakan pengganti selama musim kemarau. Hasil ini menunjukkan jumlah jenis yang dikonsumsi oleh orangutan ex-captive masih cukup sedikit dibandingkan orangutan liar.
Asumsi bahwa mengkonsumsi pakan hutan tergantung terhadap kemampuan dan pengalaman tiap individu orangutan. Hasil menyatakan bahwa seluruh individu mengkonsumsi buah lebih tinggi dibandingkan jenis pakan lainnya dengan variasi pengenalan jumlah jenis pohon pakan yang berbeda. Individu Beckham mengkonsumsi buah yang tertinggi dibandingkan individu dewasa lainnya. Individu Rimbani dan Jagad mengkonsumsi kambium dan umbut yang banyak, sedangkan Sasa lebih banyak mengkonsumsi daun dan juga pakan pemberian. Berbeda dengan individu di kelompok muda jinak, ada tiga individu yaitu Ayu, Mambo dan Mirriam yang mengkonsumsi jumlah buah yang sangat tinggi dan sedikit mengkonsumsi pakan lainnya (daun, umbut, kambium dan pakan). Sedangkan Jarot dan Veni memiliki durasi yang hampir sama mengkonsumsi buah dan daun. Individu di kelompok muda jinak juga memiliki variasi pakan yang lebih rendah dibandingkan kelompok lainnya. Ini dapat terlihat