IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan Magang Kerja
4.3.1. Sistem Pertanian Organis
Menurut Sudaryanto (2004) pertanian organis merupakan sistem pertanian yang meniru alam. Salah satu prinsip yang terjadi di alam yaitu pola tanam polikultur, rotasi tanam dan kombinasi tanam. Prinsip inilah yang mampu menjaga dan memelihara kehidupan agar tidak mengalami kemerosotan.
Pola tanam yang digunakan Yayasan Bina Sarana Bakti adalah polikultur/tumpang sari karena pertanian organis menginginkan adanya keanekaragaman di alam. Pola tanam yang dilakukan dipengaruhi oleh jenis dan sifat tanaman, kedalaman akar, kebutuhan hara, kanan kiri tanaman, tinggi rendahnya antar tanaman, HPT, kebutuhan cahaya dan musim. Ini sesuai dengan pernyataan Suryanto (1990) bahwa prinsip tumpangsari lebih banyak menyangkut tanaman diantaranya (1) tanaman yang ditanam secara tumpangsari, dua tanaman atau lebih mempunyai umur yang tidak sama, (2) apabila tanaman yang ditumpangsarikan mempunyai umur yang hampir sama, sebaiknya fase pertumbuhannya berbeda, (3) terdapat perbedaan kebutuhan terhadap air, cahaya dan unsur hara, dan (4) tanaman mempunyai perbedaan perakaran.
Yayasan Bina Sarana Bakti menggunakan urutan rotasi dari legume, daun, buah, dan umbi. Rotasi yang digunakan oleh YBSB sudah tepat. Menurut Sudaryanto (2007) penanaman tanaman legume bertujuan untuk memperbaiki kesuburan tanah. Penanaman kacang-kacangan bertujuan membangun struktur tanah dan kandungan nitrogen (N) dalam tanah. Jenis kacang-kacangan memiliki sistem perakaran yang baik untuk membangun porositas dan struktur tanah. Disamping itu akar kacang-kacangan mampu mengikat N dari udara sehingga tersedia di dalam tanah. Unsur N ini selanjutnya terikat dalam tanah dan siap menjadi nutrisi bagi tanaman yang membutuhkannya.
49
Tanah yang telah ditanami kacang-kacangan mengandung cukup N sehingga rotasi berikutnya adalah sayuran daun-daunan karena memerlukan banyak N untuk pembentukan daun. Jika tidak ditanam jenis yang membutuhkan banyak N akan berdampak pada hilangnya N dari tanah karena N mudah menguap dan tercuci oleh air. Tanah menjadi miskin unsur N tetapi masih banyak mengandung fosfor (P) setelah ditanami jenis sayuran daun-daunan. P yang tertinggal di tanah difungsikan secara optimal dengan menanam jenis sayuran buah seperti tomat dan timun. Sayuran jenis buah mampu menyerap racun akibat dari penanaman sayuran daun.
Tanah yang telah ditanami sayuran buah seperti tomat dan timun cenderung miskin unsur N dan unsur P tetapi masih kaya unsur kalium (K). Unsur K sangat diperlukan untuk pembentukan umbi-umbian seperti wortel, bit, ubi jalar atau lobak. Setelah ditanam jenis umbi-umbian maka tanah menjadi miskin nutrisi. Perbaikan kesuburan tanah dapat ditanam jenis kacang-kacangan kembali. Pedoman rotasi tanam ini tidak mutlak berurutan tergantung pada situasi lapangan. Pendekatan yang dilakukan selalu memperhatikan kombinasi dengan tanaman sekitarnya.
4.3.2. Teknik Budidaya Wortel
Dalam teknik budidaya wortel di Yayasan Bina Sarana Bakti dimulai dari persiapan benih, penyiapan lahan, penanaman, penjarangan, penyiangan, pendangiran, penyiraman, dan pengendalian hama dan penyakit sudah sesuai dengan teori. Menurut Samadi (2014) teknik budidaya wortel secara organik meliputi penyiapan lahan, penanaman, penjarangan, penyiangan, pendangiran, penyiraman, pemupukan, dan perlindungan tanaman.
Akan tetapi, budidaya wortel di YBSB tidak membutuhkan pupuk karena sistem rotasi yang dilakukan YBSB telah mencukupi kebutuhan pupuk yang dibutuhkan tanaman wortel. Apabila dilakukan penambahan pupuk maka umbi yang akan dihasilkan memiliki kualitas yang kurang baik, umbi akan berbulu karena pupuk kompos matang mengandung unsur N yang tinggi. Menurut AAK (1992), pupuk yang banyak mengandung N, tak diperlukan karena tanaman wortel tersebut hanya akan rimbun daunnya tetapi umbi kurang baik. Tanaman wortel
50
membutuhkan unsur N yang lebih sedikit dibandingkan dengan unsur K, maka dalam pemeliharaannya tidak perlu lagi penambahan pupuk pada tanaman wortel.
Benih wortel yang digunakan di Yayasan Bina Sarana Bakti adalah benih lokal yang diperoleh dari hasil membenihkan sendiri dari seleksi induk dengan memilih indukan yang sehat dan dipilih dari umbi wortel yang unggul atau yang tergolong dalam grade A yang didapatkan dari hasil panen. Hal ini sesuai dengan pernyataan Samadi (2014) yang mengatakan tanaman wortel yang dapat dijadikan benih diseleksi dari umbi yang sehat, bentuk umbi normal, tidak terserang hama dan penyakit serta warna kulit umbi kuning atau jingga mengkilap.
Pada tanaman wortel di YBSB hampir tidak ditemukan hama. Adapun hama yang sering ditemukan pada tanaman wortel merupakan hama transmigran, yaitu hama yang hanya datang untuk makan. Sedangkan penyakit yang sering dijumpai pada tanaman wortel adalah penyakit busuk umbi. Akan tetapi penyakit ini pun sangat jarang sekali ditemukan. Busuk umbi disebabkan oleh bakteri
Erwinia ca rotovora karena kelembapan tanah yang terlalu tinggi. Hal ini juga
dikarenakan sistem rotasi dan kombinasi yang diterapkan oleh YBSB untuk mencegah terjadinya penumpukan hama dan penyakit tertentu dan untuk memutuskan siklus hidup hama dan penyakit. Menurut Sudaryanto (2004) rotasi tanaman bertujuan untuk memutus siklus hidup OPT dan menjaga ketersediaan hara dalam tanah agar mendorong terciptanya agroekosistem yang stabil. Kombinasi tanaman bertujuan untuk meningkatkan keanekaragaman hayati, dapat mengendalikan hama penyakit, mengurangi resiko gagal panen.
4.3.3. Panen dan Pasca Panen Wortel
Pada Yayasan Bina Sarana Bakti, umbi wortel dipanen sekitar umur 10-12 minggu. Panen wortel dilakukan pada pagi hari Wortel dipanen langsung dicabut dari tanah secara hati-hati agar umbi tidak rusak atau cacat. Tanah yang terlalu keras biasanya digemburkan dengan menggunakan garpu atau disiram dengan air sehingga mempermudah pencabutan umbi wortel. Hal ini sesuai dengan pernyataan Samadi (2014) bahwa wortel dipanen pada umur sekitar 80-120 hari setelah tanam. Menurut AAK (1992) cara pemungutan wortel dengan mencabut
51
batangnya atau bila tanahnya keras dengan membongkar tanahnya, untuk memudahkan pencabutan sebelumnya perlu disiram lebih dahulu.
Pada tanaman wortel di Yayasan Bina Sarana Bakti melakukan penanganan pasca panen seperti kegiatan pencucian, sortasi, grading, dan pengemasan. Untuk sayuran wortel di Yayasan Bina Sarana Bakti dibedakan menjadi 2 grade yaitu grade A dan grade B. Wortel yang tidak termasuk dalam grade A dan grade B dapat disebut sebagai produk sisa (grade C). Dalam pengemasannya, sayuran wortel dibagi menjadi 2 tipe produk yaitu curah dan kemas. Untuk produk wortel kemas grade A maupun grade B rata-rata 0,5kg/pack
yang dikemas dalam plastik dengan label “Group: Agatho Organics, Pioneer Organics in Indonesia”.
4.3.4. Perencanaan Produksi Wortel
Kegiatan perencanaan merupakan faktor penting dalam suatu perusahaan. Berhasil atau tidaknya suatu perusahaan dipengaruhi oleh tepat atau tidaknya proses perencanaan. Melalui suatu perencanaan yang tepat, maka perusahaan akan mencapai suatu tujuan yang ingin dicapai. Menurut Assauri (1998), perencanaan produksi adalah perencanaan dan pengorganisasian sebelumnya mengenai orang- orang, bahan-bahan, mesin-mesin, dan peralatan lain serta modal yang diperlukan untuk memproduksi barang-barang pada suatu periode tertentu di masa depan sesuai dengan yang diperkirakan atau diramalkan.
Pada Yayasan Bina Sarana Bakti melakukan perencanaan produksi sayuran organis termasuk wortel seperti penyediaan sarana produksi dan sarana kerja, pengelolaan pembibitan atau pembenihan, penetapan target produksi, penentuan rencana tanam, pendistribusian tanam sampai pada penetapan harga/ongkos produksi. Sarana produksi yang diperlukan seperti tanah/lahan, benih, air, dan tenaga kerja. Sedangkan sarana kerja yang diperlukan adalah cangkul, lori, gunting, garpu. Wortel tidak diperlukan pembibitan karena penanaman wortel yang diterapkan di BSB yaitu metode tanam langsung yaitu dengan menyebar benih disepanjang alur yang sudah dibuat pada bedengan. Dalam 1 bedengan (1x10m2) membutuhkan benih wortel sebanyak 10 gram. Target produksi wortel ditentukan sesuai dengan target pasar. Pada perencanaan
52
produksi wortel ditargetkan menghasilkan 835kg/minggu dicapai dengan menanam wortel sebanyak 49 bedengan dengan estimasi hasil panen wortel 17 kg/bedengan. Distribusi tanam atau jatah tanam diberikan pada masing-masing kebun YBSB yaitu kebun RB, kebun diklat, kebun plasma dan kebun mitra. Perencanaan tanam untuk menentukan jenis sayuran yang akan ditanam dilakukan setiap seminggu sekali yang bertujuan untuk memenuhi target produksi Perencanaan tanam ini mempermudah dalam penentuan waktu panen, karena dalam rencana tanam terdapat tanggal pelaksanaan tanam (L tanam), memudahkan dalam menentukan tanaman selanjutnya, karena terdapat bekas tanaman apa pada bedengan yang akan ditanami.
Menurut Sudaryanto (2012) pertanian organis harus bisa mempertahankan dan menjaga nilai tukar produk pertanian dengan memperkuat dasar perhitungan ongkos produksi dengan mempertimbangkan aspek-aspek pendidikan, kesehatan, sosial, dan investasi. Pertanian organis juga harus mampu memberikan keadilan finansial bagi semua pihak yang terlibat, baik petani maupun konsumen. Harga petani yang ditetapkan oleh YBSB sebesar Rp 3.500.
4.3.5. Perencanaan Kapasitas Produksi Wortel
Wignosoebroto (2003) meyatakan bahwa kapasitas produksi secara umum diukur dalam bentuk unit-unit fisik yang ditujukan berdasarkan keluaran (output) maksimum yang dihasilkan oleh proses produksi. Perencanaan kapasitas produksi organis seperti wortel dilihat pada kondisi alam karena wortel sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya dan musim. Kapasitas produksi wortel tergantung pada kemampuan bedengan dalam menghasilkan wortel. Pada Yayasan Bina Sarana Bakti menetapkan estimasi hasil pada 1 bedengan sebesar 17 kg.
Menurut Yamit (2003), perencanaan kapasitas produksi adalah jumlah maksimum output yang dapat diproduksi dalam satuan waktu tertentu. Perencanaan kapasitas produksi wortel dilihat pada kebutuhan pasar. Kebutuhan pasar akan wortel sebesar 2900 kg/bulan sehingga kebutuhan wortel perminggu adalah 725 kg. Bagian produksi biasanya melebihkan sekitar 15% dari kebutuhan pasar untuk meminimalkan kekurangan produksi sekitar 3340 kg/bulan atau 835
53
kg/minggu. Jika 1 bedengan memiliki estimasi hasil sebanyak 17 kg maka jumlah bedengan yang harus ditanami wortel setiap minggunya 49 bedengan. Jumlah benih yang dibutuhkan dalam 1 minggu adalah jika 1 bedengan membutuhkan benih sebanyak 10 gram maka kebutuhan benih per minggu 490 gram.
Pembagian rencana tanam wortel untuk tiap kebun adalah kebun RB yang ditanami wortel perminggunya 17 bedengan, kebun diklat yang ditanami wortel perminggunya 4 bedengan, kebun plasma yang ditanami wortel perminggunya 3 bedengan, dan kebun mitra yang ditanami wortel perminggunya 25 bedengan.
4.3.6. Perbandingan Target Produksi dengan Realisasi Pencapaian Produksi Wortel
Perencanaan kapasitas produksi organis seperti wortel dilihat pada kondisi alam karena wortel sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya dan musim maka sering terjadi produksi yang tidak sesuai dengan target produksi dan estimasi panen. Pada kebun diklat, realisasi produksi tanaman wortel pada bulan Februari, Maret, April, dan Mei tidak mencapai target produksi. Hal ini dikarenakan musim hujan berkepanjangan di daerah Cisarua pada bulan Januari, Februari, dan Maret yang menyebabkan kelembapan yang tinggi dan kurangnya sinar matahari sehingga menurunkan kuantitas dan kualitas pada tanaman wortel.
Menurut Samadi (2014) tanaman wortel yang kurang memperoleh sinar matahari akan menunjukkan gejala etiolasi yakni pertumbuhannya lambat, lemah, pucat, dan tumbuh memanjang. Kondisi ini jika berlangsung sampai fase pembentukan umbi maka umbi yang dihasilkan kurang baik. Kelebihan air dapat menyebabkan tanaman mudah terserang penyakit. Jadi diperlukan penambahan jumlah bedengan wortel pada saat musim hujan untuk mengantisipasi kegagalan panen atau kekurangan produksi. Sedangkan pada bulan Juni, Juli, dan Agustus realisasi produksi tanaman wortel mencapai bahkan melebihi target produksi. Hal ini dikarenakan intensitas penyinaran matahari yang sangat baik pada bulan tersebut sehingga bagus untuk pertumbuhan umbi wortel. Menurut Samadi (2014) untuk mendapatkan produksi yang baik, tanaman wortel memerlukan lama penyinaran selama 9-10 jam perhari.
54