• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen Makalah Isolasi Pati (Halaman 30-36)

Aquadest(net ral)

keruh keruh + tidak ada endapan

keruh + tidak ada endapan

keruh + tidak ada endapan

LarutanPati + NaOH(basa)

kuning kuning + tidak ada endapan kuning + ada endapan(+) kuning + ada endapan(+) LarutanPati + HCl(asam) keruh coklat + ada endapan(+) hijau lumut(++) + ada endapan(++) hijau lumut(+) + ada endapan(+) Ubi jalar LarutanPati + Aquadest(net ral) kuning keruh kuning kecoklatan + tidak ada endapan kuning keruh + tidak ada endapan kuning kecoklatan keruh + tidak ada endapan LarutanPati + NaOH(basa)

kuning pekat kuning + tidak ada endapan kuning + tidak ada endapan kuning + tidak ada endapan LarutanPati

+ HCl(asam) kuning keruh

kuning kecoklatan + endapan merah keunguan coklat muda + endapan merah keunguan Coklat + Endapan merah keunguan 4.2. Pembahasan

Pada praktikum Isolasi Pati bertujuan untuk mengetahui presentase pati pada masing masing sampel. Adapun sampel sebagai sumber pati yang digunakan yaitu pati singkong, pati

24

kedelai, pati ubi jalar yang nantinya digunakan sebagai pembanding atau variabel percobaan. Parameter yang digunakan yaitu rendemen pati dan uji iodin pada suasana asam, basa dan netral.

Pada praktikum kali ini digunakan alat dan bahan.Adapun bahan bahan tersebut yaitu NaOH, HCl, aquadest dan betadine.Larutan NaOH berfungsi sebagai pemberi suasana basa.Larutan HCl berfungsi sebagai pemberi suasan asam. Aquadest berfungsi sebagai pemberi suasana netral (pH=7).Betadine sebagai larutan iodin. Alat corong buncher berfungsi untuk memisahkan endapan pati dari campuran larutannya yaitu air dengan bantuan pompa vakum.Oven bertujuan untuk menguapkan atau menghilangkan kandungan air dalam pati agar didapat endapan murni pati

Pada praktikum ini dilakukan dua percobaan, yaitu uji kuantitatif dan uji kualitatif.Dimana uji kuantitatif untuk menghitung rendemen atau berat pati yang terdapat pada sampel.Dan uji kualitatif untuk menguji iodin dengan berbagai suasana larutan berupa asam, basa dan netral.

Uji kuantitatif untuk menghitung berat pati yang terdapat pada sampel.Sampel harus dihaluskan agar mudah saat dipisahkan dari patinya.Penambahan air membuat pati yang terdapat pada sampel terurai.Pati yang terurai tersebut berwarna putih.Sedangkan larutan berwarna kuning keruh yang merupakan warna dari sampelnya yaitu singkong, kedelai dan ubi jalar. Dilihat dari gambar diagram dibawah, banyaknya pati yang terdapat pada singkong, kedelai dan ubi jalar.

Gambar 4.1. Diagram Perbandingan nilai Rendemen Pati dari masing-masing sampel dengan Data Literature 0 5 10 15 20 25 30 35 40

Singkong Kedelai Ubi Jalar

Diagram Perbandingan nilai Rendemen Pati dari

Masing-masing sampel dengan Data Literatur

25

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, kandungan pati pada singkong sebanyak 21,3%, pada kedelai sebesar 26,26% dan pada ubi jalar sebesar 11,42%. Apabila dibandingkan dengan data literature yang menyatakan bahwa presentasi pati pada singkong berkisar 34%, pati pada kedelai sebesar 34,80% dan pada ubi jalar sebesar 28,79%.Perbedaan jumlah pati pada percobaan dengan literature dapat disebabkan karena faktor ketidaktelitian peneliti dalam prakteknya.Ketidaktelitian dalam penghalusan sampel dan penggunaan alat corong buncher yang menyebabkan kebocoran.

Pada uji kedua yaitu uji kualitatif dengan menambahkan larutan betadine.Perlakuan dilakukan pada masing masing sampel dan diamati perubahan warnanya.

1) Singkong

Pada kondisi netral dimana pati dicampurkan dengan aquadest, terlihat warna larutannya putih.Ketika penambahan betadine, warna berubah menjadi putih kemerahmudaan.Dalam campuran larutan ini tidak terbentuk endapan, dan warna kemerahmudaan yang timbul merupakan warna hasil pengenceran dari betadine yang berwarna dasar merah pekat. Setelah dilakukan pemanasan, warna larutan tetap sama dan setelah pendinginan sampai suhu ruangan warna larutan tidak berubah yakni tetap putih kemerahmudaan. Oleh karena itu, terlihat bahwa pada kondisi netral dari penambahan air tidak terjadi hidrolisis pada pati.

Pada kondisi basa antara pati dengan NaOH, terlihat warna larutannya putih.Ketika dilakukan penambahan betadine, warna larutan tetap berwarna putih. Hal ini berbeda dengan kondisi netral (penambahan H2O), pada larutan kondisi basa ini terdapat senyawa NaOH yang akan bereaksi dengan I2 dari betadine sehingga tidak terlihat adanya warna kemerahmudaan melainkan warnanya putih. Setelah dilakukan pemanasan, warna larutan tetap putih, namun terbentuk endapan putih. Hal ini menunjukkan pemanasan membantu mempercepat proses reaksi hingga membentuk endapan putih. Reaksi antara NaOH dengan I2 dari betadine memenuhi persamaan berikut :

3I2 + 6NaOH 5NaI + NaIO3 + 3H2O

Dimana berdasarkan literatur, endapan putih yang terbentuk merupakan NaI.Pada larutan yang sudah didinginkan sampai suhu ruangan tidak terjadi perubahan warna.Oleh karna itu dapat disimpulkan bahwa dalam kondisi basa dari penambahan NaOH, tidak ada I2 yang bereaksi dengan pati karena I2 telah bereaksi dahulu dengan NaOH.

26

Pada kondisi asam antara pati dengan HCl, terlihat warna larutan yang terbentuk tetap berwarna putih. Setelah dilakukan penambahan betadine, terjadi perubahan warna menjadi krem atau tidak pekat dan terbentuk endapan berwarna coklat keunguuan. Warna coklat keunguuan merupakan ikatan antara amilopektin (hasil hidrolisis pati) dengan iodium.Hal ini menunjukkan bahwa dalam kondisi asam, pati dapat terhidrolisis menjadi amilopektin dan amilosa. Hidrolisi pati menjadi amilopektin dan amilosa telah terjadi pada saat penambahan HCl, namun setelah penambahan betadine (I2) baru dapat diidentifikasi.Hal ini dikarenakan betadine dalam percobaan ini berperan sebagai indikator. Apabila amilosa yang terbentuk ditambahkan dengan I2 maka akan memberikan warna biru, tetapi dalam hal ini warna biru dari ikatan amilosa dengan I2 tidak terlihat dikarenakan tertutupi warna coklat keungguan dari amilopektin. Dimana dalam suatu pati, amilopektin lebih mendominasi daripada amilosa. Pada campuran larutan dilakukan proses pemanasan dan terlihat warna larutan menjadi cream atau pekat, serta jumlah endapan coklat keunguan berkurang. Hal ini disebabkan pada proses pemanasan ikatan antara amilopektin atau amilosa dengan I2 terurai sehingga mengakibatkan jumlah endapan berkurang dan hasil penguraian membuat larutan menjadi sedikit lebih pekat. Setelah larutan campuran didiamkan mendingin sampai suhu ruangan, terlihat bahwa warna larutan tetap krem (pekat) dan jumlah endapan tetap sama seperti setelah pemanasan, akan tetapi terlihat adanya koloid (suspense) yang terbentuk melayang layang pada larutan dengan warnanya adalah coklat keunguan. Hal ini menunjukkan bahwa pada proses pendinginan, amilopektin dan amilosa berikatan kembali dengan I2 membentuk koloid, dimana bila dibiarkan lebih lama maka koloid-koloid tersebut akan mengendap dan mengakibatkan jumlah endapan akan sama seperti kondisi awal ( kondisi setelah penambahan I2).

2) Kedelai

Pada kondisi netral antara pati dengan aquadest, terlihat warna larutannya keruh.Ketika penambahan betadine, warna tetap keruh tanpa adanya endapan. Setelah dilakukan pemanasan, warna larutan tetap sama dan setelah pendinginan sampai suhu ruangan warna larutan tidak berubah yakni tetap keruh dan tanpa adanya endapan. Oleh karena itu, terlihat bahwa pada kondisi netral dari penambahan air tidak terjadi hidrolisis pada pati.

Pada kondisi basa antara pati dengan NaOH, terlihat warna larutan berubah menjadi kuning.Ketika penambahan betadine, warna tetap kuning dan tanpa adanya endapan.Setelah

27

dilakukan pemanasan warna tetap kuning dan ada endapan dan setelah pendinginan sampai suhu ruangan warna larutan tidak berubah yakni tetap kuning dan ada endapan. Proses pemanasan diketahui membantu proses pengendapan. Tidak adanya perubahan warna pada suasan basa ini disebabkan karna tidak terbentuk ikatan koordinasi antar ion iodide pada heliks.Hal ini disebabkan karena NaOH dalam larutan iodin sudah bereaksi terlebih dahulu dengan I2.Dari reaksi tersebut menunjukkan tidak terbentuk I2 sehingga tidak terjadi perubahan warna.Dari literature juga menunjukkan bahwa endapan yang terbentuk berupa NaI.

Pada kondisi ketiga yaitu suasana asam denga campuran pati dengan HCl, warna yang terjadi yaitu keruh.Setelah penambahan betadin (I2) warna berubah menjadi coklat dan terdapat endapan.Setelah larutan dipanaskan warna berubah menjadi hijau lumut dengan adanya endapan lebih banyak dari sebelumnya dan setelah pendinginan sampai suhu ruangan warna menajdi hijau lumut namun lebih pekat sebelum didinginkan dan adanya endapan namun lebih banyak endapan sebelum didinginkan.Dari data tersebut menunjukkan bahwa pati yang beriodin bereaksi saat suasana asam.Dimana terdapat perubahan warna menjadi coklat, dimana bahwa polisakarida yang ada dalam kedelai terhidrolisi menjadi monosakarida dan penyusunnya.Saat perlakuan pemanasan, warna berubah menjadi hijau lumut pekat, ini menujukkan bahwa pemanasan polisakarida terhidrolisis dengan cepat menjadi monosakarida dan penyusunnya, sedangkan saat pendinginan warna berubah menjadi hijau lumut tidak terlalu pekat dan ada sedikit endapan.

3) Ubi Jalar

Pada kondisi netral pencampuran antara pati dengan aquadest, terlihat warna kuning keruh. Saat penambahan larutan betadine warna berubah menjadi kuning kecoklatan dan tidak adanya endapan.Setelah pemanasan larutan berubah menjadi kuning keruh dan tidak adanya endapan dan setelah pendinginan sampai suhu ruangan larutan menjadi kuning kecoklatan keruh dan tidak adanya endapan.Perubahan warna coklat setelah penambahan betadine menujukkan warna dasar betadine yang menyebabkan larutan menjadi lebih coklat.Namun setelah pemanasan, larutan warna menjadi lebih keruh dari sebelumnya.Ini menunjukkan pemanasan dapat melepas rantai I2 terhadap rantai-rantai karbon pembentuk pati, sedangkan pada pendinginan rantai I2 menempel erat rantai-rantai karbon pembentuk pati sehingga menyebabkan warnanya menjadi kuning kecoklatan lagi.

28

Pada kondisi basa pada pencampuran pati dengan NaOH, terlihat warna menjadi kuning pekat.Saat penambahan larutan betadin berubah menjadi kuning dan tidak adanya endapan.Setelah pemanasan larutan tidak berubah warna tetap kuning dan tidak adanya endapan dan setelah pendinginan larutan tetap berwarna kuning tanpa adanya endapan.Namun dari data literatur menujukkan bahwa seharusnya terjadi endapan berupa endapan NaI yang merupakan hasil reaksi pati dengan NaOH.

Pada kondisi asam pada pencampuran pati dengan HCl, terlihat warna menjadi kuning keruh.Saat penambahan betadin larutan berubah warna menjadi kuning kecoklatan dengan adanya endapan merah keunguan.Setelah pemanasan warna menjadi coklat muda dengan endapan merahh keunguan dan setelah pendinginan larutan menjadi warna coklat dengan endapan merah keunguan.Perubahan warna ini menujukkan bahwa pati dapat terhidrolisisdengan iodin saat suasana asam. Proses pemanasan membantu pemutusan ikatan pada pati dan selanjutnya ikatan-ikatan tersebut terputus dan mengendap dengan bantuan suhu yang lebih rendah. Warna coklat menunjukkan bawa amilopektin lebih mendominasi daripada amilosa pada pati ubi jalar.

29

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen Makalah Isolasi Pati (Halaman 30-36)

Dokumen terkait