5.4 Kondisi Pertanian Serta Permasalahan di Gapoktan Surya Tani Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember
Desa Tugusari Kecamatan Bangsal Sari Kabupaten Jember sebagian masyarakatnya bekerja sebagai petani. Tingkat pendidikan dan pengetahuan akan bercocok tanam yang kurang menjadi masalah bagi petani di desa ini. Petani dalam bercocok tanam kususnya tanaman padi masih menggunakan cara turun-temurun dari orang-orang terdahulu. Kondisi seperti ini membuat produksi dari pertanian yang dihasilkan rendah. teknik bercocok tanam yang masih turun temurun ini juga menjadikan lahan yang digarap petani tidak berkelanjutan karena petani menggunakan masukan input dari luar yang terlalu intensif.
Sistem penanaman padi oleh petani di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember tergolong konvensional. Proses budidaya padi dilakukan dengan teknik lama yang minim inovasi teknologi. Masyarakat masih mengandalkan pemeliharaan yang konvensional sehingga untuk memacu produktivitas membutuhkan upaya yang sangat besar. Penggunaan sistem konvensional sendiri dilakukan karena petani telah mempercayai teknik tersebut dan telah dilakukan dari generasi ke generasi sehinggapetani enggan untuk menerapkan inovasi baru dalam proses budidaya. Hal yang demikian itu menyebabkan rendahnya produktivitas padi mengingat sistem konvensional yang kurang ramah lingkungan akan menurunkan kualitas lahan dan produktivitas lahan tersebut.
Permasalahan pertanian yang banyak terjadi pada Desa Tugu Sari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember adalah produksi yang rendah serta tata kelola air yang belum terorganisasi dengan baik mengakibatkan produksi masih rendah. Kekurangan air yang digunakan untuk mengairi lahan menyebabkan keterbatasan sarana produksi padi pada daerah Tugusari. Pengairan dilakukan dengan memanfaatkan aliran sungai dan juga hujan. Sumber air yang terbatas menyebabkan petani harus mau untuk berbagi air dengan petani yang lainnya dengan petek lahan yang berdekatan atau bahkan berjauhan. Areal persawahan
masyarakat desa menyebabkan pembagian air harus dilakukan secara adil dan bergantian. Hal tersebut dikarenakan sumber air satu-satunya yaitu pada embung atau bendungan buatan. Sumber air dari embung mengandalkan air hujan. Hal tersebut menyebabkan pengairan dilakukan secara periodik ke setiap daerah tidak sesuai dengan waktu dimana saat air dibutuhkan. Air tersedia yang hanya dalam periode tertentu menyebabkan penanaman yang dilakukan harus menyesuaikan jadwal pergiliran air sehingga ketepatan waktu sesuai SOP penanaman tidak dapat terpenuhi. Hal demikian juga menjadi penyebab kurang maksimalnya proses budidaya pada tanaman padi di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.
Masalah lain yang terdapat di wilayah Desa Tugu Sari yaitu keterbatasan sarana produksi seperti traktor atau sejensnya. Hal tersebut menyebabkan sering kali tersendatnya proses produksi akibat sarana yang kurang seperti bajak. Keterbatasan sarana seperti traktor menyebabkan kemoloran proses budidaya tanaman padi. petani terpaksa menunggu antrian untuk dapat giliran sawahnya di olah. Hal tersebut menyebabkan penanaman bisa mengalami kemunduran dari rencana pindah tanam yang disusun diawal. Oleh karena itu penerapan sistem tanam modern seperti SRI yang mengharuskan pindah tanam maksimal bibit usia 14 hari setelah sulit untuk diterapkan. Penerapan teknologi lain seperti pengolahan tanah bertahap yang mengharuskan dilakukan pengolahan dengan tahapan interval waktu tertentu juga sulit diterapkan. Masayarakat hanya bisa menunggu giliran sawahnya agar bisa diolah untuk kemudian ditanami.
Permasalahan pengairan dan sarana produksi merupakan permasalahan utama yang menyebabkan penurunan produksi. keterbatasan sarana produksi dan pengetahuan tentang budidaya yang baik menyebabkan produksi padi pada daerah tersebut tidak dapat berkembang secara cepat. Perlu adanya pembenahan pada sarana produksi agar produktivitas yang didapatkan semakin tinggi sehingga perolehan petani semakin tinggi. Dengan demikian maka petani akan lebih mendapatkan kesejahteraan. Kesejahteraan yang meningkat tentunya dapat menaikkan taraf hidup mereka sehingga kualitas pendidikan bagi penerus mereka
26
juga terjamin. Ketika suatu masyarakat telah memiliki tingkatan pendidikan yang cukup maka peningkatan produksi pertanian juga dapat berkelanjutan.
5.5 Upaya yang Dilakukan untuk Menyelesaikan Permasalahan Pertanian yangAda di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Permasalahan pertanian yang ada di Gapoktan Surya Tani Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember yaitu produktivitas padi yang rendah. Rendahnya produktivitas padi disebakan oleh petani yang belum bisa memahami cara budidaya padi secara baik dan benar. Upaya yang dilakukan untuk menyelesaikaan permasalahan pertanian di Gapoktan Surya Tani Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember melalui program sekolah lapang. Sekolah Lapang adalah sebuah pendekatan pelatihan yang dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan serta keahlian petani. Sekolah lapang yang dilaksanakan diGapoktan Surya TaniDesa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember yaitu Sekolah Lapang BRIA.
Sekolah Lapang BRIA (Better Rice Initiative Asia) merupakan program kemitraan antara sektor publik dan swasta atau dikenal dengan Public Private Partnership (PPP), antara Pemerintah Jerman melalui German International Cooperation (GIZ) dengan pihak swasta BASF di bawah payung kerjasama German Food Partnership (GFP) yang selanjutnya diimplementasikan secara bersama dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Program BRIA bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani dengan cara peningkatan produksi padi secara berkelanjutan serta membangun akses pasar yang lebih baik. Sekolah Lapang BRIA dilakukan pertemuan rutin setiap hari Jumat jam 12.30 WIB oleh petugas penyuluh lapang. Penyampaian materi dilakukan di ruangan dan di lapang untuk melakukan praktik secara langsung. Sekolah Lapang BRIA mengajarkan petani cara budidaya padi dari proses pemilihan bibit sampai proses panen.
Sekolah lapang memberikan materi dan informasi kepada petani yang dihubungkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan petani dan kemampuan petani dalam mengadopsi teknologi yang diberikan disesuaikan dengan keadaan lahan
budidaya. Penerapan teknologi yang tepat guna akan mempengaruhi peningkatan hasil budidaya sehingga dapat meningkat dibandingkan dengan sebelumnya.
Pelatihan yang diberikan pada sekolah lapang meliputi dari awal proses budidaya tanaman padi hingga tahap pemanenan. Pertamakali yang dilakukan adalah pelatihan pemilihan bibit dan pengetahuan jenis label pada benih yang bertujuan untuk memperoleh bibit padi bernas sehingga benih tumbuh menjadi bibit yang sehat. Pelatihan ini dilakukan dengan cara perendaman benih kedalam larutan garam selama 1 malam. Benih yang tenggelam merupakan benih bernas sedangkan benih yang mengapung sebaiknya tidak ditanam. Pengetahuan tentang jenis label dan artinya sangat bermanfaat untuk petani sehingga petani dapat membeli benih ber label sesuai dengan kegunaannya.
Pelatihan yang kedua yaitu pencadraan sifat tanah dan pemupukan. Pe;atihan dilakukan dengan cara pengambilan sampel pada setiap plot petak sawah petani kemudian dilakukan analisa di laboraturium milik SL-BRIA. Hasil analisis tanah digunakan untuk menentukan dosis dan cara pemupukan serta cara pengairan sawah. Hal ini sangat berguna bagi petani dikarenakan dengan mengetahui cara pemupukan dan dosis pupuk yang benar akan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Teknik pengairan juga ditentukan berdasarkan analisa sifat tanah yang berbeda (jenis tanah pasiran, berlempung) sehingga tanaman tetap tersuplai kebutuhan airnya.
Pelatihan terakhir pada saat proses dilakukannya FGD yaitu teknik cara tanam dan pengetahuan umur tanaman yang baik untuk ditanam. Cara tanam yang dilakukan pada saat pelatihan yaitu menggunakan teknik jajar legowo, dengan menggunakan tekhnik ini tanaman padi akan memiliki efek tanaman pinggir yaitu akan memperoleh air dan nutrisi dalam jumlah yang optimal akibat jarak antar tanaman tidak terlalu kecil sehingga meminimalisir kompetisi antar tanaman. Penanaman jajar legowo akan meningkatkan produktivitas padi per tanaman. Penggunaan umur bibit yang baik yaitu pada saat padi berumur kurang dari 15 hari yang bertujuan untuk mengoptimalkan pembentukan anakan pada saat padi sudah ditanam. Peningkatan jumlah anakan akan meningkatkan jumlah tanaman sehingga meningkatkan jumlah bulir yang diproduksi per tanaman. Namun, Hal
28
ini tidak sesuai diterapkan di lahan petani karena terdapat hama keong mas. Penanaman bibit umur dibawah 15 hari mengakibatkan bibit banyak yang mati akibat serangan hama keong mas. Oleh karena itu penanaman bibit dilakukan pada saat bibit berumur lebih dari 15 hari sehingga batang bibit sudah cukup kuat.
Permasalahan juga terdapat padaperairan diGapoktan Surya Tani Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember yakni terbatasnya sumber air yang dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan pembentukan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) untuk mengorganisasikan pemakaian air untuk kepentingan pertanian. HIPA merupakan organisasi petani pemakai air yang bersifat sosial ekonomi dan budaya yang berwawasan lingkungan dan berasaskan gotong royong yang berada diGapoktan Surya Tani Desa Tugu Sari. Petani pemakai air adalah semua petani yang mendapat manfaat secara langsung dari pengelolaan air dan jaringan irigasi, termasuk irigasi pompa yang meliputi pemilik sawah,penggarap sawah, penyakap sawah, pemilik kolam ikan yang mendapat air irigasi, dan badan usaha di bidang pertanian yang memanfaatkan air irigasi. Penerapan HIPPA di Gapoktan Surya Tani Desa Tugu Sari awalnya relatif bagus, tetapi ada beberapa hal yang menyebabkan sistem yang telah ada menjadi tidak terstruktur dengan baik. Hal tersebut menyebabkan kesulitan lagi bagi petani sekitar yang berimbas pada hasil produksi yang rendah. Oleh karena itu kegiatan SL BRIA diharapkan dapat menerapkan HIPPA dengan sistem awal yang bagus sehingga produktivitas padi dapat meningkat karena salah satu aspek penting dalam kegiatan pertanian yaitu adanya sumber irigasi. Keterbatasan sarana produksi seperti traktor atau sejenisnya dalam kegiatan pertanian di Gapoktan Surya Tani Desa Tugusari menjadi permasalahan lanjutan yang mengakibatkan rendahnya produktivitas padi yang dihasilkan. Upaya yang bisa dilakukan yakni dengan mengajukan proposal permohonana untuk dapat memiliki traktor sendiri untuk keberlanjutan pengelolaan tanaman.
5.6 Manfaat dan Kontribusi Petani dalam Program SL BRIA yang Dilakukan di Gapoktan Surya Tani Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember
Keadaan petani di gapoktan Surya Tani yang masih minim informasi mengenai kegaitan bertanam padi yang baik dan benar akhirnya menumbuhkan ide untuk membuat sekolah lapang yang disitu mengajarkan petani secara langsung tentang cara bercocok tanam dan teknologi bercocok tanam. Sekolah lapang yang dilakukan di Gapoktan Surya Tani Desa Tugusari ini difasilitasi oleh pihak BRIA. Sekolah lapang ini masih mengajarkan pada petani cara bertanam padi yang baik dan benar serta teknologi inovasi yang bisa digunakan. Petani yang dalam mengikuti sekolah lapang ini sangat antusias dan aktif, petani tidak sungkan-sungkan bertanya jika dirasa mereka belum paham dengan apa yang dijelaskan oleh fasilitator sekolah lapang tersebut, sehingga kegiatan sekolah lapang ini dilakukan secara dua arah baik dari fasilitator maupun peserta.
Sekolah lapang BRIA ini memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan kontribusinya menurut pehitungan FGD. Sekolah lapang BRIA yang diadakan di Desa Tugusari ini selain memberikan manfaat mengenai bercocok tanam yang baik juga memberikan mafaat silaturahmi antar anggota. Kontribusi yang besar terletak pada poin pemilihan benih menurut petani, karena dalam melakukan pemilihan benih petani harus meluangkan waktu lebih banyak dan biaya yang agak tinggi. Manfaat yang didapatkan petani dalam mengikui sekolah lapang BRIA diantaranya : mengetahui seleksi benih, pemupukan, cara penanaman, pengairan dan pengendalian hama terpadu terhadap tanaman padi.
Analisis manfaat dan kontribusi sebagai cara untuk mengetahui keadaan yang dilakukan oleh petani dilakukan pada Kelompok Tani Surya Tani dengan hasil sebagai berikut.
Deskripsi Skoring
Manfaat
Skoring Kontribusi
Mempererat hubungan silaturahmi 9 2
Mengetahui sifat tanah dan pemupukan 7 4
Mengetahui cara pemupukan yang benar 9 1
30
Mengetahui jenis label atau benih 6 6
Mengetahui umur bibit 6 7
Mengetahui cara tanam padi yang baik dan benar 8 2
TOTAL 53 25
% 17% 4%
Tabel 5.1 Hasil Skoring FGD Sumber : Data primer hasil FGD kelompok tani Surya Tani % manfaat = 539 x 100% = 17%
% kontribusi =251 x 100% = 4%
Data pada Tabel 5.1 kegiatan FGD yang dilakukan di Desa Tugusari pada Gapoktan Surya Tani menghasilkan 7 manfaat yang didapatkan dari adanya program SL BRIA. Manfaat yang didapatkan merupakan pendapat dari peserta FGD yang terdiri dari para petani anggota gabungan kelompok tani. Manfaat-manfaat yang diperoleh kemudian dilakukan proses skoring untuk mengetahui seberapa besar manfaat yang diperoleh dengan rentang skor 1-10. Berdasarkan tabel 5.1 Diketahui dari 7 manfaat, terdapat 2 manfaat yang mendapatkan nilai paling tinggi yakni mempererat hubungan silaturahmi dan mengetahui cara pemupukan yang benar dengan skor 9. Pemberian skor 9 pada kedua manfaat tersebut dirasa paling sesuai karena keduanya memiliki manfaat yang paling terasa dan memiliki dampak yang sangat baik terhadap para peserta sehingga pemberian skor pada kedua manfaat paling tinggi.
Manfaat lain dengan perolehan tertinggi kedua yaitu mengetahui teknik pengairan dan mengetahui cara tanam padi yang baik dan benar. Kedua manfaat tersebu mendapatkan skor 8 karena menurut para peserta manfaat tersebut dapat memberikan pengaruh yang sangat baik pada masa yang akan datang khususnya dalam kemampuan para peserta dalam kegitan pertanian. Skor tertinggi ketiga yaitu mengetahui sifat tanah dan pemupukan dengan skor 7. Para peserta mendapatkan pengetahuan lebih mengenai sifat tanah dan pempukan yang telah mereka ketahui sebelumnya sehingga adanya program memberikan tambahan pengetahuan mengenai sifat tanah dan pemupukan yang telah mereka ketahui
sebelumnya. Manfaat dengan skor terendah yaitu mengetahui jenis label atau benih dan mengetahui umur bibit dengan skor 6. Pemberian skor yang cukup kecil dibandingkan dengan manfaat lainnya didasarkan pada manfaat yang dirasakan secara langsung oleh para peserta. Adanya program SL BRIA ini memberikan kedua manfaat tersebut tetapi penerapannya pada kegiatan pertanian para peserta kurang dapat diterima karena terdapat beberapa dampak lain yang akan diterima oleh peserta jika manfaat tersebut dilakukan.
Berdasarkan Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa skoring atau nilai yang diberikan masyarakat pada kontribusi atau pengorbanan cenderung sedikit. Hal tersebut dikarenakan masyarakat petani Gapoktan Surya Tani berasumsi bahwa pengorbanan tersebar dari kegiatan SL-BRIA ini adalah kontribusi waktu luang yang umumnya jarang dimiliki oleh masing-masing petani karena kegiatan ini membutuhkan waktu luang untuk berkumpul. Selain hal tersebut kontribusi yang perlu dikeluarkan adalah penggunaan mesin pertanian dan teknik-teknik penanaman padi yang telah diajarkan dalam Sekolah Lapang BRIA.
Manfaat petani dalam mengetahui umur bibit ternyata memiliki nilai kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan nilai manfaat. Artinya pada manfaat yang diperoleh petani mengenai umur bibit dibutuhkan kontribusi yang cukup besar hingga melebihi nilai manfaatnya itu sendiri. Petani pada kelompok tani Surya Tani mengungkapkan perlunya nilai kontribusi tinggi pada manfaat umur bibit dikarenakan hal tersebut memerlukan tenaga kerja dan alsintan (alat mesin pertanian) yang ternyata sulit untuk diterapkan.
Manfaat lain dari program SL-BRIA berupa mengetahui jenis label atau benih yaitu baik tidaknya benih memiliki nilai skoring yang seimbang antara nilai manfaat dan kontribusi. Hal tersebut dikarenakan dalam mencapai manfaat tersebut diperlukan kontribusi yang rumit. Kontribusi tersebut seperti tahap penyeleksian benih dan biaya yang tinggi untuk mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk dapat mencapai manfaat mengenai jenis label dan seleksi benih.
Pada manfaat pengairan dan mengetahui jenis tanah memiliki nilai kontribusi yang lebih rendah dibandingkan nilai manfaat. Kontribusi yang diberikan untuk memperoleh manfaat mengetahui jenis tanah adalah masyarakat
32
memerlukan analisis tanah terlebih dahulu untuk mengetahui kandungan unsur hara tersedia didalam tanah. Sementara itu pada manfaat pengairan, menurut masyarakat petani Gapoktan Surya Tani diperlukan pembuatan saluran irigasi yang membutuhkan biaya besar.
Permasalahan yang muncul saat pelaksanaan FGD adalah pada pelaksanaan program sekolah lapang BRIA yang melibatkan Gapoktan “Surya Tani” di Desa Tugu Sari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember. Program ini memiliki sejumlah manfaat yang dihasilkan, ditinjau pula melalui angka skoring yang didapatkan dengan menggunakan metode FGD. Berdasarkan sejumlah manfaat pelaksanaan yang disampaikan oleh petani dalam pelaksanaan FGD, terdapat salah satu poin manfaat yang memiliki nilai kontribusi lebih besar dibanding nilai manfaatnya sehingga dalam penerapannya kurang berjalan dengan baik, yaitu mengetahui umur bibit yang baik atau tepat serta benih berkualitas untuk kegiatan budidaya tanaman padi. Pengetahuan tentang benih yang baik ini susah diterapkan karena menurut petani membutuhkan beberapa alat dan bahan tambahan (seperti telur dan larutan garam) untuk melakukan proses seleksi benih yang sekaligus menambah biaya dan waktu (butuh minimal 1 malam untuk mendapatkan hasil seleksi benih) yang dibutuhkan. Kendala pada penerapan penggunaan bibit dengan umur yang tepat yakni pada keterbatasan tenaga kerja untuk memastikan benih siap digunakan pada umur yang tepat karena proses pindah tanam yang memakan waktu, dan belum tentu pekerja (buruh tani) tersedia pada waktu yang sesuai dengan umur optimum bibit. Petani juga telah terbiasa dengan perkiraan waktu optimum bibit yang telah mereka terapkan sebelumnya.
Solusi untuk permasalahan umur bibit optimum yakni dengan melakukan perencanaan dan penjadwalan yang tepat sejak akan dimulainya proses budidaya atau waktu tanam, sehingga apabila setiap tahapan telah terjadwal, maka maka akan memudahkan untuk menyesuaikan waktu tanam dengan umur bibit optimum dan menyediakan tenaga kerja untuk pelaksanaannya. Permasalahan seleksi benih dapat dilakukan dengan melakukan seleksi benih seperti biasa menggunakan larutan garam dan telur sebagai indikator tepat atau tidaknya perbandingan air dan garam, kemudian mencatat kebutuhan garam yang tepat, sehingga pada seleksi
berikutnya bisa menghemat biaya untuk penyediaan bahan penguji. Penggunaan benih unggul yang telah memiliki label dari Dinas Pertanian juga dapat meminimalisir adanya benih yang tidak bernas, sehingga tidak perlu dilakukan pengujian atau seleksi benih karena kualitas benih yang ada telah teruji.
Dampak negatif keberadaan program Sekolah lapang BRIA bagi petani adalah waktu yang bisa digunakan untuk kegiatan yang produktif dan kegiatan lainya, dialokasikan untuk kegiatan sekolah lapang. Petani melaksanakan kegiatan sekolah lapang disepakati dilaksanakan setiap hari Jum’at jam 13,00 setelah melaksanakan ibadah Shalat Jum’at hingga selesai. Siang hari pukul 13,00 adalah waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat orang selepas melakukan aktivitas sebelumnya.
Kegiatan sekolah lapang dilaksanakan umumnya mulai dari jam 13.00 hingga jam 16.00 atau lebih tergantung materi yang disampaikan oleh penyuluh pertanian. Salah satu penyebab lamanya proses kegiatan disebabkan masyarakat petani yang tidak hadir tepat waktu jam 13.00 melainkan sering kali datang jam 14.00. Akibatnya, waktu selesai program menjadi lebih sore dari biasanya. Dampak negatif yang timbul adalah waktu bagi petani melakukan kegiatan dilahan menjadi berkurang. Umumnya, sore hari digunakan petani untuk melakukan pemupukan atau penyemprotan pestisida karena pemupukan dan penyemprotan pestisida lebih efektif dilaksanakan pada sore atau pagi hari.
Dampak yang timbul akibat lamanya proses sekolah lapang terjadi pada petani yang memiliki ternak seperti sapidan kambing. Petani yang menyempatkan waktu disore hari untuk mencari rumput akan berkurang. Estimasinya, masyarakat petani selesai melaksanakan program SL-BRIA pada pukul 16.00 WIB. Setelah itu, petani kembali kerumah dan melakukan persiapan hingga pukul 16.30 WIB baru kemudian petani mencari rumput hingga 17.20 WIB. Waktu yang tersedia hanya 50 menit untuk mencari rumput dirasa kurang karena petani umumnya mencari rumput pukul 16.00 WIB sehingga waktu yang dibutuhkan 80 menit.Pelaksanakan program harus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat. Teknik yang digunakan untuk menciptakannya adalah menetapkan jadwal yang tepat kepada petani. Mekanisme kedua adalah menciptakan materi sekolah yang
34
lebih efektif dan sederhana agar waktu yang digunakan tidak terlalu banyak sehingga cepet selesai sehingga selesainya tidak terlalu sore.