• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

C. PEMBAHASAN

Tuntutan pelayanan kesehatan yang meningkat harus diimbangi dengan kemampuan lulusan bidan yang kompeten sehingga diperlukan proses pembelajaran yang sistematik agar mahasiswa siap menjadi tenaga yang profesional. Dalam praktek ditatanan nyata maka mahasiswa akan mendapatkan gambaran yang sebenarnya tentang klien dan berbagai masalah kesehatannya dengan bantuan pembimbing klinik. Pembelajaran klinik merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kompentensi dan kualitas mahasiswa DIII Kebidanan.

commit to user

Aspek yang dinilai dari pencapaian kompetensi mahasiswa DIII Kebidanan meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor. Penilaian ketiga ranah tersebut dapat dicapai pada pembelajaran teori, laboratorium dan klinik atau lapangan. Strategi untuk pencapaian kompetensi diperlukan metode yang sesuai. Berbagai macam metode pembelajaran yang dapat diterapkan pada mahasiswa kebidanan dan setiap metode instruksional berfungsi sebagai cara untuk mencapai tujuan. Jenis metode pembelajaran klinik kebidanan meliputi eksperensial, konferensi, bedside teaching, penyelesaian masalah, observasi, simulasi, dan ronde keperawatan. Pemilihan metode harus tepat agar tujuan pembelajaran tercapai. Banyaknya jenis keterampilan (kompetensi) yang harus dicapai oleh mahasiswaa kebidanan, maka mengharuskan pembimbing memilih metode dan mengkombinasikan metode yang sesuai.

Tingkat pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dibandingkan dengan perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Proses terjadinya adopsi pengetahuan secara berurutan adalah sebagai berikut:1) Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus objek, 2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap subjek sudah mulai timbul, 3) Evalution

commit to user

dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi, 4) Trial,

dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus, dan 5) Adaption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus (Notoatmodjo, 2003).

Pengetahuan mahasiswa tentang vulva higiene didapat selama pembelajaran dengan metode ceramah atau diskusi di kelas. Dosen memberikan materi yang berkaitan dengan pokok bahasan. Metode ceramah berbentuk penjelasan kepada mahasiswa dan biasanya diikuti tanya jawab tentang isi pelajaran yang belum jelas. Metode ini mempunyai keterbatasan yaitu partisipasi mahasiswa rendah, kemajuan mahasiswa sulit dipantau, dan perhatian serta minat mahasiswa tidak dapat dipantau (Suparman, 2001).

Sementara itu, kemampuan psikomotor mahasiswa dalam melakukan vulva higiene sebelum praktek klinik didapatkan dari pengalaman selama pembelajaran laboratorium di institusi pendidikan dengan metode demonstrasi. Metode demonstrasi adalah metode pembelajaran yang menyajikan sustu prosedur atau tugas, cara menggunakan alat, cara berinteraksi dengan klien. Peserta didik dapat melihat dan mendengar prosedur, langkah-langkah, dan penjelasan yang mendasar. Pada pelaksanaannya ditekankan tentang tujuan, pokok-pokok penting yang merupakan fokus perhatian (Nursalam, 2007). Kegiatan pembelajaran laboratorium dapat menggunakan panthoom dengan Standart

commit to user

Operasional Prosedur yang telah dibuat oleh institusi pendidikan yang bersangkutan. Idealnya kegiatan laboratorium dimulai dengan demonstrasi oleh dosen pengampu kemudian mahasiswa mencoba secara mandiri. Hal ini memungkinkan mahasiswa mendapat pengalaman mencoba jenis keterampilan berdasarkan instruksi dari dosen.

Bed side teaching adalah pembelajaran keterampilan pemecahan

problem pasien sehingga permasalahan yang berkaitan dengan gejala dan tanda bisa langsung dilakukan tindakan oleh siswa. Aktivitas ini dilakukan disamping tempat tidur klien (Nursalam, 2007). Rangkaian kegiatan bed

side teaching merupakan siklus pembelajaran klinik yang mengacu pada

Clinical learning cycle yaitu: 1) tahap preparation merupakan pembekalan

keterampilan di laboratorium, 2) tahap briefing merupakan pengorganisasain kegiatan lebih lanjut. Pada tahap ini dibuat perencanaan mengenai apa yang dapat dipeljari mahasiswa selama berinteraksi dengan klien beserta penyakit dan jenis ketrampilan, 3) clinical encounter , pada tahap ini mahasiswa akan berinteraksi langsung dengan klien. Fase ini memiliki pengaruh paling kuat terhadap pembelajaran karena mahasiswa akan mendapatkan pengalaman yang jelas tentang keterampilan, dan 4) tahap debriefing yang berfungsi meriview apa yang terjadi selama berinteraksi dengan klien (Unissula, 2009).

Metode Bed side teaching merupakan komponen esensial dari clinical

training. Keuntungan dari bed side teaching adalah memberikan kepada

commit to user

penghidu dan peraba) mereka untuk mempelajari pasien dan permasalahannya (Unissula, 2009). Karakteristik inilah yang akan membantu siswa mengingat situasi klinik pembelajaran. Mahasiswa mendapatkan pengarahan tentang konsep vulva hygiene, kemudian dipraktekkan kepada klien, maka mahasiswa akan mudah mengingat, memahami dan akhirnya mampu melakukan keterampilan sesuai dengan prosedur.

Hasil analisis pengetahun dan Psikomotor sebelum dan sesudah

bed side teaching dalam gambar berikut:

Gambar 11 Diagram pengetahun dan Psikomotor sebelum dan sesudah bed side teaching

Berdasarkan gambar 11: didapatkan perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan bed side teaching. Nilai pengetahuan yang terendah sebelum bedside teaching sebesar 77,7 dan nilai setelah bedside

teaching sebesar 93,7. Selisih nilai pengetahuan sebelum dan sesudah

commit to user

terendah sebelum bedside teaching sebesar 57,5 dan nilai terendah sesudah

bedside teaching sebesar 94,6. Selisih nilai psikomotor sebelum dan

sesudah dilakukan bedside teaching sebesar 37,1.

Gambaran efektifitas bedsite teaching terhadap pengetahun dan

Psikomotor dapat dilihat dari gambar berikut.

Gambar 12 Grafik efektifitas bedsite teaching terhadap pengetahun dan

Psikomotor

Berdasarkan gambar 11 psikomotor mahasiswa setelah dilakukan

bedside teaching lebih merata dibandingkan dengan pengetahuan, Hal ini

menunjukkan bahwa bedside teaching lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan psikomotor mahasiswa tentang vulva hygiene.

Dari hasil tersebut di atas menggambarkan bahwa metode pembelajaran bed side teaching memiliki beberapa keunggulan antara lain dapat melatih sikap mahasiswa baik fisik maupun psikologik, dapat meningkatkan kemampuan teknik dalam melakukan berbagai keterampilan karena itu sangat tepat bila bed side teaching dilaksanakan untuk mendemonstrasikan sesuatu yang belum pernah diperoleh mahasiswa

commit to user

sebelumnya atau apabila mahasiswa menghadapi kesulitan penerapan, pemahaman mahasiswa lebih jelas karena jumlah mahasiswa dibatasi 5-6 mahasiswa saja. Bila ada kekeliruan dapat langsung diberikan umpan balik sehingga mahasiswa tidak melakukan kesalahan berulang serta sangat membantu dalam memberikan kontribusi untuk meningkatkan kemampuan

psikomotor mahasiswa.

Psikomotor merupakan tindakan seseorang yang dilandasi

penjiwaan atas dasar teori yang dipahami tentang vulva hiegine

(Pusdiknakes, 2010). Aspek psikomotor yang dinilai meliputi tingkatan kemampuan yaitu: 1) kemampuan meniru (perception) tindakan yang diamati, 2) memanipulasi (manipulating), yaitu tindakan berdasarkan konsep, 3) kemampuan melakukan tindakan secara teliti dan benar sesuai prosedur (precision), 4) kemampuan melakukan serangkaian tindakan secara berurutan secara teliti dan benar (articulation), dan 5) melakukan tindakan secara wajar dan efisien (naturalization).

Merangsang motivasi mahasiswa untuk berani mempraktek keterampilan bukanlah hal mudah. Penerapan metode pembelajaran merupakan cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik yang saling berinteraksi dalam melakukan kegiatan sehingga proses berjalan baik (Nursalam dan effendi, 2008). Apabila penerapan penerapan metode pembelajaran tepat dalam kegiatan belajar mengajar, maka akan meningkatkan motivasi. Domain psikomotor akan membuat peserta didik

commit to user menjadi lebih aktif (Bastabel, 2004)

Pembelajaran akan lebih baik jika diajarkan antara pembimbing klinik, mahasiswa dan klien. Dengan metode bedside teaching, maka peserta didik akan menjadi lebih aktif sehingga akan mengembangkan pemahaman terhadap keterampilan vulva hygiene. Adanya kesempatan untuk menerapkan teori tentang vulva hiegien kepada klien dan didampingi oleh pembimbing akan menyebabkan mahasiswa termotivasi untuk mencoba. Pembimbing klinik yang berada di samping klien dan mahasiswa menimbulkan percaya diri pada mahasiswa karena apabila ada kesalahan, maka pembimbing langsung dapat memberikan contoh yang benar. Adanya komunikasi dan keterlibatan bersama ini meningkatkan

psikomotor mahasiswa dalam melakukan vulva hygiene.

Pembelajaran praktek klinik dengan pendekatan metode bed side

teaching sangat berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan psikomotor

pada mahasiswa. Hal ini sesuai pepatah “apa yang saya dengar saya lupa”. Apa yang saya lihat, saya ingat dan apa yang saya lakukan saya tahu, menurut tan (1987) dalam Nursalam (2008:15) bila seseorang telah mencapai fase akhir dalam belajar atau fase otonomi, maka peserta didik dapat menerapkan konsep-konsep dan teori-teori keperawatan secara efektif dalam praktek.

Menurut Banner dalam Nursalam (2008:15), suatu tingkatkan dalam melakukan berbagai keterampilan (intelektual dan teknikal) yang berhubungan dengan prinsip-prinsip dan teori dapat dicapai melalui

commit to user

pembelajaran praktikum. Demikian juga menurut Gagne (1976) dalam Nursalam, 2008:15) menyatakan bahwa kondisi untuk mempelajari keterampilan memerlukan petunjuk dari pengajar yang menciptakan pengalaman praktek agar para peserta didik tahu apa yang harus mereka lakukan, tahu bagaimana melakukan tindakan, dan melakukan latihan keterampilan, serta menerima hasil belajarnya. Dimensi lain tentang tujuan pembelajaran praktikum adalah “melatih berfikir sambil melakukan”. Untuk itu peserta didik perlu mendapatkan bimbingan sungguh-sungguh dari pengajar untuk mempraktekkan kegiatan berfikir dan merefleksikan sambil melakukan kegiatan.

Sasaran program pembelajaran praktikum adalah agar peserta didik dapat mengintegrasikan dan menerapkan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan teori ilmu pengetahuan dalam praktek klinik (Nursalam, 2008:15). Bed

side teaching bermanfaat untuk menguasai keterampiln prosedural,

menumbuhkan sikap profesional, mempelajari perkembangan

biologis/fisik, melakukan komunikasi melalui pengamatan (Nursalam, 2008:348).

Metode pembelajaran bedside teaching sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan psikomotor mahasiswa kebidanan, sementara pencapaian kemampuan kognitif mahasiswa dapat dicapai dengan

pembelajaran motode lain misalnya ceramah atau diskusi. Selama pembelajaran metode bedside teaching biasanya pembimbing kurang detail menjelaskan tentang vulva hygiene tetapi lebih fokus kepada tindakan

commit to user

langsung kepada klien. Hal-hal yang bersifat terapan langsung akan mudah di pahami dan diaplikasikan oleh mahasiswa.

Dokumen terkait