• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

C. Pembahasan

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran discovery learning terhadap keterampilan proses sains peserta didik kelas X semester 2 SMA Negeri 10 Yogyakarta tahun ajaran 2016/2017. SMA Negeri 10 Yogyakarta dipilih sebagai tempat penelitian karena sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah di Kota Yogyakarta yang baru menerapkan Kurikulum 2013 Edisi Revisi pada tahun ajaran 2016/2017. Selain itu, Pemilihan SMAN 10 Yogyakarta yaitu berdasarkan data rerata nilai input peserta didik baru tahun 2016 yang berada di posisi yang paling rendah dibandingkan SMA negeri lain di Kota Yogyakarta.

Sampel dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas di SMAN 10 Yogyakarta, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol yang ditentukan di awal berdasarkan rata-rata nilai murni ujian akhir semester (UAS) semester 1. Kelas yang memiliki rata-rata nilai UAS semester 1 lebih rendah dijadikan sebagai kelas eksperimen. Kelas eksperimen adalah kelas yang menerapkan model pembelajaran discovery learning. Sedangkan, kelas yang memiliki rata-rata nilai UAS semester 1 lebih tinggi dijadikan sebagai kelas kontrol. Kelas kontrol adalah kelas yang

57

menerapkan model pembelajaran direct instruction karena guru sekolah tersebut sering menerapkan model tersebut dalam pembelajaran kimia.

Keterampilan proses sains yang diamati dalam pembelajaran dilihat dari ranah kognitif, dan psikomotorik. Ranah kognitif diukur dengan soal tes keterampilan proses sains. Sedangkan, ranah psikomotorik dapat diketahui dari hasil observasi dan juga angket keterampilan proses sains.

Menurut Guevara (2015), untuk mengetahui efektivitas suatu strategi pembelajaran terhadap keterampilan proses sains peserta didik, dapat dilakukan dengan menggunakan uji beda pada rerata nilai yang diperoleh dari tes yang dilakukan setelah peneliti menerapkan strategi pembelajaran tertentu.

Efektivitas penerapan model pembelajaran discovery learning dapat diketahui dengan uji beda pada data hasil tes keterampilan proses sains yang disebut sebagai uji anakova karena juga terdapat variabel kontrol yang dikendalikan secara statistik yaitu pengetahuan awal kimia yang berasal dari nilai murni ujian akhir semester (UAS) semester 1.

Uji Anakova merupakan uji beda yang dilakukan untuk membuktikan ada tidaknya perbedaan keterampilan proses sains peserta didik kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran discovery learning dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran lainnya. Efektivitas model pembelajaran discovery learning tersebut dapat terlihat dari nilai signifikansi yang diperoleh dengan bantuan program komputer IBM SPSS Statistics 23 for Windows. Pada ranah psikomotorik, efektivitas model pembelajaran discovery learning dapat

58

terlihat dari perbandingan perolehan rata-rata hasil observasi dan dari angket keterampilan proses sains antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.

Topik atau materi pelajaran kimia yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Materi larutan elektrolit dan nonelektrolit tersebut disampaikan kepada peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol selama masing-masing kelas tiga kali pertemuan yang terdiri dari kegiatan praktikum di laboratorium, penyampaian teori di kelas, kemudian evaluasi pembelajaran atau ujian. Namun, karena terdapat perbedaan model yang diterapkan antara kelas eksperimen dan juga kelas kontrol, sehingga urutan kegiatan pembelajaran pun berbeda. Perbedaan kegiatan pembelajaran di kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu sebagai berikut:

1) Pembelajaran di Kelas Eksperimen

Proses pembelajaran di kelas eksperimen menerapkan model pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery learning). Alasan peneliti memilih model tersebut karena model discovery learning merupakan model pembelajaran yang direkomendasikan pada Kurikulum 2013 Edisi Revisi, dan juga karena guru kimia di SMAN 10 Yogyakarta belum pernah menerapkan model tersebut pada proses pembelajaran kimia. Model pembelajaran penemuan (discovery learning) menekankan peserta didik agar menemukan konsep atau pengetahuannya sendiri, tetapi guru tetap memberikan bimbingan sesuai tahapan pembelajaran. Sehingga, proses pembelajaran dapat dikatakan bersifat student centered, yang menuntut peserta didik agar memiliki keterampilan proses sains, aktif, dan mandiri. Dalam proses pembelajaran, peran guru dalam proses pembelajaran dapat dikatakan

59

hanya sebagai fasilitator. Artinya, guru masih memberikan bimbingan atau arahan kepada peserta didik agar proses pembelajaran tetap sesuai dengan tujuan pembelajarannya.

Setiap model pembelajaran memiliki sintaks atau langkah-langkah pembelajaran. Sintaks dalam model pembelajaran discovery learning antara lain stimulasi/pemberian rangsangan, pernyataan/identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, verifikasi, dan generalisasi.

Peneliti mendapat kesempatan tatap muka di kelas eksperimen selama 3 kali pertemuan atau sebanyak 5 jam pelajaran. Satu jam pelajaran yaitu selama 45 menit. Dalam 3 kali pertemuan itu, kegiatan pembelajaran terdiri atas kegiatan praktikum di laboratorium, penyampaian materi di kelas, dan pada pertemuan terakhir dilakukan evaluasi pembelajaran atau tes terkait keterampilan proses sains peserta didik pada materi atau topik larutan elektrolit dan nonelektrolit. Rincian kegiatan pembelajaran selama 3 kali pertemuan di kelas eksperimen adalah sebagai berikut:

a) Pertemuan Pertama

Pada pertemuan pertama, kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah eksperimen atau praktikum di laboratorium secara berkelompok. Jumlah peserta didik di kelas eksperimen sebanyak 36 dibagi menjadi 9 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang peserta didik. Pembagian anggota kelompok ditentukan berdasarkan nilai pengetahuan awal kimia dari nilai UAS semester 1. Nilai dalam kelas eksperimen diurutkan dari nilai tertinggi ke nilai terendah dan dibagi menjadi 4 kategori yaitu kategori nilai tinggi, sedang, cukup, dan rendah.

60

Anggota kelompok diambil dari tiap kategori nilai tersebut. Cara pembagian kelompok tersebut bertujuan agar dalam 1 kelompok terdiri dari 4 orang dari kategori nilai yang berbeda dan terjalin kerjasama antar anggota kelompok yang heterogen.

Praktikum yang dilakukan berkaitan dengan materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Setiap peserta didik mendapatkan lembar kerja peserta didik (LKPD) yang telah disesuaikan dengan sintaks atau langkah-langkah pembelajaran model discovery learning yang dapat dilihat pada lampiran 1. Dalam LKPD tersebut, tujuan praktikum telah ditentukan berdasarkan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Namun, peserta didik diberi kesempatan untuk berkreasi untuk menentukan alat dan bahan, serta prosedur percobaan agar tujuan dapat tercapai dengan waktu yang telah ditentukan guru yaitu selama 1 jam pelajaran. Selama kegiatan tersebut berlangsung, peserta didik juga memiliki kesempatan untuk saling berdiskusi terkait percobaan yang dilakukan. Pada saat peserta didik bereksperimen, peran guru yaitu sebagai fasilitator. Guru memfasilitasi peserta didik selama kegiatan pembelajaran yaitu pada saat tahapan memberikan stimulus dengan cara memberikan beberapa masalah yang harus diselesaikan oleh peserta didik. Guru juga berperan sebagai observer yang dibantu oleh 3 orang observer lainnya untuk mengamati keterampilan proses sains dengan bantuan instrumen lembar observasi.

Setelah peserta didik mendapatkan hasil percobaan pada 1 jam pelajaran pertama, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi tiap kelompok terkait hasil percobaan yang diperoleh. Pada akhir jam pelajaran, peserta didik dapat membuat

61

kesimpulan terkait praktikum atau eksperimen yang telah dilaksanakan, sehingga model discovery learning telah berhasil merangsang atau menstimulasi peserta didik agar dapat menemukan sendiri kesimpulan terkait konsep larutan elektrolit dan nonelektrolit.

b) Pertemuan Kedua

Pada pertemuan kedua, kegiatan pembelajaran dilaksanakan di dalam kelas. Model pembelajaran yang diterapkan masih sama yaitu model pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery learning). Pembelajaran pada pertemuan kedua diawali dengan pembahasan kesimpulan praktikum atau eksperimen yang telah dilaksanakan pada pertemuan sebelumnya dan dilanjutkan dengan penyampaian materi atau teori dengan cara guru memberikan stimulus berupa video, kemudian peserta didik dapat membandingkan kesimpulan praktikum atau eksperimennya dengan video tersebut. Sehingga, peserta didik dapat memperoleh kesimpulannya sendiri. Kesimpulan peserta didik tersebut dikonfirmasi kepada guru, sehingga kebenaran kesimpulan yang dibuat peserta didik tetap terjaga dan telah sesuai dengan teori yang sebenarnya. Sehingga, dapat dikatakan bahwa tanpa banyak didominasi penjelasan dari guru, pembelajaran dengan model discovery learning telah berpusat pada peserta didik itu sendiri, atau sering disebut dengan pembelajaran yang student centered. Tahapan selama proses pembelajaran selengkapnya dapat dilihat pada RPP pada lampiran 1. Pembelajaran pada pertemuan kedua ini, guru juga dibantu oleh observer untuk mengobservasi keterampilan proses sains peserta didik dengan instrumen lembar observasi yang berbeda dari lembar observasi yang digunakan pada saat

62

praktikum di laboratorium. Lembar observasi tersebut dapat dilihat selengkapnya pada lampiran 5.

c) Pertemuan Ketiga

Pada pertemuan ketiga yaitu evaluasi pembelajaran atau ujian terkait pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah dibahas sebelumnya. Ujian tersebut dilaksanakan selama 2 jam pelajaran dengan instrumen soal tes keterampilan proses sains berupa soal essay sebanyak 8 nomor atau total sebanyak 21 item soal yang setiap itemnya sesuai dengan indikator keterampilan proses sains. Setelah peserta didik selesai mengerjakan soal tersebut, peserta didik juga diminta untuk mengisi angket keterampilan proses sains yang berjumlah 12 item. Pemberian angket keterampilan proses sains tersebut bertujuan untuk mengetahui keterampilan proses sains dari sudut pandang peserta didik. Sehingga, dapat diperoleh informasi yang objektif.

2) Pembelajaran di Kelas Kontrol

Proses pembelajaran di kelas kontrol menerapkan model pembelajaran langsung (direct instruction) karena guru sekolah tersebut sering menerapkan model tersebut pada pembelajaran kimia walaupun Kurikulum 2013 Edisi Revisi tidak merekomendasikan model pembelajaran tersebut. Model pembelajaran langsung (direct instruction) lebih berpusat pada guru atau dengan kata lain guru mendominasi dalam proses pembelajaran, yang biasa disebut sebagai pembelajaran yang teacher oriented. Pembelajaran yang seperti itu berlawanan dengan model discovery learning yang bersifat student centered. Sehingga,

63

keterampilan proses sains peserta didik kelas kontrol akan berbeda dengan keterampilan proses sains peserta didik kelas eksperimen.

Kesempatan tatap muka di kelas kontrol sama dengan kelas eksperimen yaitu sebanyak 3 kali pertemuan atau total sebanyak 5 jam pelajaran. Namun, karena model pembelajaran yang diterapkan berbeda, urutan kegiatan pembelajaran di kelas kontrol pun berbeda dari kelas eksperimen. Rincian kegiatan pembelajaran selama 3 kali pertemuan di kelas kontrol adalah sebagai berikut:

a) Pertemuan Pertama

Kegiatan pembelajaran pada pertemuan pertama di kelas kontrol yaitu di penyampaian materi atau teori di kelas. Peserta didik diberi penjelasan tentang materi larutan elektrolit dan nonelektrolit yang terdiri atas materi tentang (1) larutan elektrolit dan nonelektrolit, (2) larutan elektrolit dan ikatan kimia, dan (3) derajat disosiasi.

Menurut Carnine, et al (1990), langkah pembelajaran atau sintaks pada model pembelajaran langsung (direct instruction) yaitu (1) menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik, (2) mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan, (3) membimbing pelatihan, (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, (5) memberikan kesempatan latihan mandiri. Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan di kelas kontrol pada pertemuan pertama tersebut, selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 1 .

64 b) Pertemuan Kedua

Kegiatan pembelajaran pada pertemuan kedua di kelas kontrol yaitu praktikum di laboratorium yang dilakukan secara berkelompok. Jumlah peserta didik di kelas kontrol sebanyak 35 orang yang dibagi menjadi 9 kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4 orang dan ada 1 kelompok yang hanya beranggotakan 3 orang. Cara pembagian kelompok di kelas kontrol sama dengan kelas eksperimen yaitu berdasarkan nilai pengetahuan awal kimia atau nilai UAS semester 1 yang diurutkan dari nilai tertinggi sampai nilai terendah menjadi 4 kategori yaitu kategori nilai tinggi, sedang, cukup, dan rendah. Oleh karena itu, setiap kelompok beranggotakan 4 orang dari masing-masing kategori yang berbeda secara merata.

Praktikum yang dilakukan berkaitan dengan materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Peran guru pada pelaksanaan praktikum di kelas kontrol sangat dominan dalam proses pembelajaran. Guru memberikan penjelasan terkait materi dan cara atau langkah percobaan sebelum peserta didik melakukan percobaan. Langkah pembelajaran seperti ini sesuai dengan model pembelajaran langsung direct instruction. Selain itu, guru juga melakukan observasi terhadap keterampilan proses sains peserta didik dengan dibantu oleh 3 orang observer lain. Instrumen yang digunakan pada saat observasi tersebut menggunakan lembar observasi yang sama dengan kelas eksperimen.

Setiap peserta didik memperoleh Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang harus diisi berdasarkan hasil praktikum. Pada LKPD tersebut, telah tercantum tujuan percobaan, materi pembelajaran, serta alat dan bahan yang harus digunakan

65

dalam percobaan. Setelah peserta didik selesai menuliskan hasil percobaannya ke dalam LKPD, peserta didik berkesempatan untuk mempresentasikan hasil percobaan. Namun, tidak semua kelompok dapat mempresentasikan hasil percobaannya karena keterbatasan waktu praktikum.

c) Pertemuan Ketiga

Pada pertemuan ketiga, dilakukan evaluasi pembelajaran atau ujian terkait pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah dibahas sebelumnya. Kegiatan yang dilakukan pada pertemuan ketiga ini sama seperti kegiatan pada pertemuan ketiga di kelas eksperimen. Ujian tersebut dilaksanakan selama 2 jam pelajaran dengan instrumen soal tes keterampilan proses sains berupa soal essay sebanyak 8 nomor atau total sebanyak 21 item soal yang setiap itemnya sesuai dengan indikator keterampilan proses sains. Setelah peserta didik selesai mengerjakan soal tersebut, peserta didik juga diminta untuk mengisi angket keterampilan proses sains yang berjumlah 12 item. Pemberian angket keterampilan proses sains tersebut bertujuan untuk mengetahui keterampilan proses sains dari sudut pandang peserta didik.

3) Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol pada Setiap Indikator

Keterampilan proses sains pada setiap indikator dapat terlihat dari hasil observasi selama proses pembelajaran dan dari jawaban peserta didik pada tes keterampilan proses sains yang berjenis soal essay, karena setiap butir soal yang diujikan tersebut merepresentasikan 8 indikator keterampilan proses sains. Indikator keterampilan proses sains yang dimaksud antara lain keterampilan untuk melakukan: a) observasi, b) komunikasi, c) klasifikasi, d) prediksi, e) inferensi, f)

66

mengorganisasikan data dan tabel, g) menganalisis data, dan h) merancang eksperimen. Pembahasan keterampilan proses sains peserta didik pada setiap indikator yaitu sebagai berikut:

a) Keterampilan Observasi

Keterampilan observasi merupakan keterampilan proses sains dasar (basic science process skills). Istilah observasi berbeda dengan istilah mengamati, karena observasi tidak hanya melakukan pengamatan secara visual. Namun, observasi merupakan kemampuan mengumpulkan suatu informasi tentang suatu objek atau kejadian tertentu dengan menggunakan panca indra manusia, yaitu indra penglihatan, indra pendengaran, indra peraba, indra pengecap, dan indra penciuman dengan semaksimal mungkin. Selain itu, informasi yang diperoleh juga perlu untuk dipilah lagi berdasarkan penting tidaknya suatu informasi tersebut. (Rezba, 2006; Semiawan, 1985).

Keterampilan observasi merupakan keterampilan dasar bagi peserta didik. Sehingga, secara alamiah peserta didik pasti memiliki keterampilan tersebut. Pada proses pembelajaran di kelas eksperimen, yaitu kelas yang menerapkan model pembelajaran penemuan (discovery learning), keterampilan peserta didik untuk melakukan observasi dapat terlihat pada tahap stimulation dan juga tahap data collection. Pada tahap stimulation dalam kegiatan praktikum (pertemuan pertama), peserta didik akan mengobservasi alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum. Sedangkan, pada kegiatan pembelajaran teori di kelas, peserta didik memerhatikan video yang berupa proses suatu larutan dapat menghantarkan arus listrik, memerhatikan video yang berupa senyawa ion dan senyawa kovalen

67

polar dapat menghantarkan listrik, dan mengamati video mengenai derajat disosiasi yang ditampilkan oleh guru. Pada tahap data collection, peserta didik akan mengumpulkan data dari hasil pengamatan terhadap gejala-gejala yang muncul dalam percobaan, membedakan perubahan gejala-gejala yang muncul dalam percobaan, dan membandingkannya dengan materi pembelajaran dari berbagai referensi. Sedangkan, pada kelas kontrol yang menerapkan model pembelajaran langsung (direct instruction model), keterampilan observasi dapat terlihat pada fase presentasi (presentation phase).

Pernyataan yang digunakan dalam instrumen lembar observasi untuk mengukur keterampilan observasi peserta didik pada kegiatan praktikum terdiri dari: (1) membaca LKPD sebagai petunjuk praktikum secara cermat, (2) melakukan pengamatan terhadap gejala yang muncul, (3) dapat membedakan perubahan gejala-gejala yang muncul dalam percobaan. Sedangkan, pada kegiatan pembelajaran teori di kelas, pernyataan yang digunakan untuk mengukur keterampilan observasi terdiri dari: (1) menyimak penjelasan guru terkait materi pembelajaran, (2) mengamati video yang ditampilkan oleh guru dengan cermat, (3) membaca materi pembelajaran dari referensi lain.

Hasil observasi keterampilan peserta didik pada proses pembelajaran praktikum maupun pembelajaran teori di kelas pada kelas eksperimen dan kelas kontrol telah tersaji pada tabel 12 dan tabel 13. Rata-rata persentase keterampilan observasi peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol keduanya telah masuk dalam kategori Baik (B). Jika ditinjau dari nilai rata-rata persentase indikator keterampilan observasi tersebut, rata-rata persentase peserta didik kelas

68

eksperimen lebih tinggi daripada peserta didik kelas kontrol, yaitu 75% untuk kelas eksperimen, dan 69% untuk kelas kontrol. Artinya, rata-rata peserta didik dari kedua kelas telah memiliki keterampilan observasi dengan baik. Namun, keterampilan observasi peserta didik kelas eksperimen lebih banyak terlihat selama proses pembelajaran daripada peserta didik kelas kontrol.

Selama praktikum peserta didik harus mengerjakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). LKPD yang diberikan untuk peserta didik kelas eksperimen pada kegiatan praktikum hanya mencantumkan tujuan praktikum dan tidak mencantumkan alat, bahan, dan prosedur kerja. Sehingga, peserta didik dituntut untuk melakukan observasi secara mandiri. Sedangkan, peserta didik kelas kontrol cenderung pasif dan memiliki keterampilan observasi yang lebih rendah karena peserta didik hanya melakukan kerja praktikum sesuai dengan prosedur kerja yang telah tercantum pada LKPD yang diberikan. Disamping itu, ada hal yang menarik di kelas eksperimen, ada salah satu kelompok yang berinisiatif mencoba mengamati gejala yang terjadi apabila semua larutan yang tersedia dicampur menjadi satu. Hal ini membuktikan bahwa peserta didik yang menerapkan model discovery learning juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sedangkan, pada kelas kontrol, peserta didik memilih untuk berbincang-bincang diluar konteks pembelajaran setelah LKPD telah selesai dikerjakan.

Keterampilan observasi peserta didik juga dapat diamati dari jawaban peserta didik pada tes keterampilan proses sains. Tes keterampilan proses sains tersebut terdiri dari 8 soal essay. Soal essay nomor 3 merepresentasikan keterampilan observasi dan inferensi dengan indikator pembelajaran yaitu

69

mengamati dan menggambarkan perubahan yang terjadi ketika suatu elektroda dicelupkan ke dalam suatu larutan. Skor maksimal yang diperoleh peserta didik apabila menjawab dengan benar pada soal nomor 3 tersebut yaitu 7 poin. Pada kelas eksperimen, ternyata hanya 5 dari 36 orang peserta didik (14%) yang mendapatkan skor maksimal. Sementara itu, pada kelas kontrol, hanya 3 dari 35 orang peserta didik (9%) yang mendapatkan skor maksimal. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta didik kelas eksperimen lebih banyak memperoleh skor maksimal pada soal yang dapat mengukur keterampilan observasi daripada peserta didik di kelas kontrol. Hasil tersebut mendukung bahwa peserta didik kelas eksperimen memang lebih terampil untuk mengobservasi daripada peserta didik kelas kontrol dari ranah kognitif. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zeidan dan Jayozi (2015) yang menyatakan bahwa mayoritas peserta didik di Palestina memilih pilihan jawaban dari soal yang terkait dengan indikator keterampilan observasi dengan benar. Karena keterampilan observasi merupakan keterampilan yang mudah untuk dimiliki oleh setiap peserta didik.

Peserta didik pada kelas eksperimen dan kelas kontrol juga memberikan informasi tentang pendapatnya terkait keterampilan proses sains dari angket yang diedarkan di akhir pertemuan terakhir. Dalam angket tersebut, terdapat 2 pernyataan negatif yang mewakili indikator keterampilan observasi peserta didik, yaitu pada pernyataan nomor 1 dan 2. Hasil lengkap isian angket peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada lampiran 10. Hasil isian angket pada pernyataan nomor 1 dan 2 selanjutnya dibuat rerata untuk menentukan kategori dari indikator keterampilan observasi tersebut.

70

Berdasarkan data pada tabel 12, diketahui bahwa peserta didik kelas eksperimen maupun kelas kontrol keduanya telah masuk dalam kategori Baik (B). Jika ditinjau dari rerata skornya, rerata skor kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, namun selisih rerata skor kedua kelas tidak jauh berbeda. Artinya, peserta didik dari kedua kelas tersebut merasa tidak mengalami kesulitan ketika melakukan pengamatan terhadap gejala yang muncul pada saat kegiatan praktikum, dan peserta didik merasa telah diberi kesempatan untuk mengamati gejala-gejala yang terjadi oleh teman sekelompoknya pada saat praktikum.

Berdasarkan hasil observasi selama proses pembelajaran, hasil analisis jawaban peserta didik pada tes keterampilan proses sains, dan hasil angket keterampilan proses sains dapat diketahui bahwa keterampilan observasi peserta didik kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, namun keduanya telah masuk dalam kategori Baik (B). Dengan demikian, hasil tersebut membuktikan bahwa peserta didik pada kedua kelas telah memiliki keterampilan observasi yang baik. Agar keterampilan tersebut menjadi lebih baik, maka guru dapat menerapkan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered), karena peserta didik akan terbiasa untuk melakukan observasi. Hal tersebut disebabkan oleh karakteristik model pembelajaran discovery learning yang bersifat student centered sehingga pembelajaran lebih berpusat pada peserta didik yang menuntut peserta didik untuk menemukan konsep sendiri sesuai tujuan pembelajaran melalui eksperimen yang dilaksnakan. Dengan demikian, peserta didik akan berusaha memaksimalkan panca indranya untuk mendapatkan informasi semaksimal mungkin.

71 b) Keterampilan Komunikasi

Keterampilan komunikasi merupakan keterampilan mendasar yang harus dimiliki oleh peserta didik. Keterampilan komunikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mendeskripsikan suatu objek, prosedur, maupun suatu kejadian tertentu dengan menggunakan penggunaan kata, simbol, dan grafik yang tepat (Rezba, 2006; Semiawan, 1985).

Menurut Suryosubroto (2002), kegiatan mengkomunikasikan dapat dilakukan dalam bentuk kata-kata, grafik, bagan, maupun tabel, secara lisan

Dokumen terkait