BAB III: METODE PENELITIAN
D. Pembahasan
Berdasarkan hasil temuan di lapangan terkait dengan penyesuaian diri subjek yang memiliki masalah terlambat bicara dapat digambarkan berdasarkan tema yang diklarifikasi dalam tiga temuan berikut ini;
1. Cara Orangtua Mengetahui Keterlambatan Bicara pada Subjek Bahasan penelitian yang pertama terkait dengan keterlambatan bicara yang dialami subjek. Keterlambatan bicara pada subjek pertama kali diketahui oleh neneknya. Saat itu nenek subjek heran karena subjek cenderung lebih pendiam daripada anak-anak seusianya yang lain dan
76 kemampuan bicara subjek juga tidak seperti anak usianya (Wcr OS. 38-50) Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Hurlock (1978).
Keterlambatan bicara tersebut juga diklarifikasi oleh orangtua subjek, yang mengungkapkan bahwa anaknya memang masih sulit untuk bicara. Orangtua subjek juga menyebutkan beberapa indikasi keterlambatan bicara seperti salah dalam mengidentifikasi benda dan menyebutkan nama orang terdekat yang masih harus dituntun (Wcr OS. 23-25). Hasil wawancara tersebut sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Papalia (2004).
Selain orangtua subjek, guru subjek juga mengungkapkan tanda- tanda keterlambatan subjek seperti pengucapan nama benda yang masih salah meskipun sudah dituntun. Guru subjek juga menyebutkan bahwa subjek masih menggunakan isyarat jika menginginkan sesuatu seperti izin untuk buang air kecil, memanggil teman, dan sebagainya (Wcr GS. 20-23). Sebagaimana yang diungkapkan oleh orangtu subjek, hal tersebut juga sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Hurlock (1997).
77 2. Faktor-faktor Penyebab Keterlambatan Bicara pada Subjek
Untuk faktor penyebab keterlambatan bicara pada subjek belum dapat diketahui dengan pasti. Hal tersebut dikarenakan ketidaktahuan orangtua subjek dalam mengidentifikasi penyebab keterlambatan bicara (Wcr OS. 53-55). Ibu subjek hanya mengetahui bahwasannya ayah subjek juga mengalami hal yang sama.
Selain itu ibu subjek juga membetulkan bahwa subjek memang pernah mengalami sakit panas hingga membuat subjek kejang (Wcr OS 57-64). Tidak ada satupun hasil wawancara dengan orangtua maupun guru subjek yang jelas menunjukkan faktor-faktor keterlambatan bicara yang diungkapkan oleh Hurlock (1980)
Namun jika ditinjau dengan faktor keterlambatan bicara yang diungkapkan oleh Korbin (2008), keterlambatan bicara pada subjek bisa disebabkan oleh salah satu faktor internal, yaitu faktor genetik. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh ibu subjek, bahwa ayah subjek juga mengalami hal yang sama ketika seumuran dengan subjek dan baru perkembangan bicaranya normal saat TK (Wcr OS. 57-64).
78 3. Cara Subjek Berkomunikasi
Mengawali pembahasan tentang bagaimana cara subjek berkomunikasi dan bentuk-bentuk penyesuaian diri subjek, peneliti meninjau dari hasil wawancara dengan orangtua subjek yang menyebutkan bahwa subjek menggunakan bahasa isyarat dan terkadang subjek juga menyebutkan beberapa patah kata meskipun kata tersebut belum benar (Wcr OS. 68-75). Selain orang tua subjek, guru subjek juga mengungkapkan hal yang sama bahwa subjek menggunakan bahasa isyaratnya seperti menggelengkan kepala, manggut-manggut, atau menunjuk ketika menginginkan sesuatu atau ketika berkomunikasi dengan teman-temannya (Wcr GS. 33-39)
4. Upaya Orangtua setelah Mengetahui Keterlambatan pada Bicara Subjek
Dari hasil wawancara, orangtua memang mengakui bahwasannya subjek belum pernah diperiksakan ke dokter. Namun orangtua berinisatif untuk selalu melatih dan menstimulus perkembangan bicara subjek baik di rumah maupun di sekolah. Usaha-usaha tersebut berupa audio-visual, poster yang ditempel di dinding, dan permainan yang dapat menstimulus keinginan anak untuk berbicara (Wcr OS. 105-111). Orangtua subjek juga meminta guru-gurunya untuk memberikan bimbingan lebih kepada subjek ketika subjek mengalami kesulitan dalam suatu tugas, atau saat berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah (Wcr OS. 120-124).
79 BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Simpulan yang dapat di hasilkan dari penelitian tentang penyesuaian diri anak yang mengalami keterlambatan bicara adalah sebagai berikut:
1. Ditemukan cara orangtua subjek mengetahui keterlambatan bicara pada subjek dengan membandingkan karakteristik perkembangan bicara subjek dengan anak-anak sebayanya dengan tanda-tanda subjek belum bisa lancar berbicara seperti teman-teman sebayanya. Selain itu subjek juga masih banyak menggunakan isyarat ketika berkomunikasi dengan orang lain.
2. Ditemukan adanya faktor keterlambatan bicara pada subjek dari faktor internal, yaitu faktor genetik.
3. Ditemukan adanya bentuk komunikasi berupa isyarat (gerak tubuh) seperti menunjuk dengan tangan, menggelengkan kepala, dan menepuk. Selain isyarat (gerak tubuh).
4. Ditemukan upaya-upaya orangtua untuk menunjang kemampuan berbicara subjek berupa audio-visual, poster-poster yang ditempel di dinding, dan permainan-permainan yang dapat menstimulus keinginan anak untuk berbicara.
80 B. Saran
Saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian, berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi orangtua yang memiliki anak usia 2-5 tahun untuk lebih preventif dalam memantau tumbuh kembang anak. Hendaknya jangan meremehkan hambatan atau penyimpangan sekecil apapun dalam masalah tumbuh kembang anak. Segera periksakan anak jika merasa tumbuh kembangnya tidak normal.
2. Bagi praktisi baik dilembaga formal maupun non formal seperti psikolog, dokter, dan terapis hendaknya lebih ikut andil dalam maslah seperti ini, seperti sosialisasi terhadap psikologi perkembangan anak. 3. Bagi peneliti selanjutnya yang berminat terhadap tema penyesuaian
diri anak yang mengalami keterlambatan bicara untuk melakukan riset dengan metode yang berbeda seperti kuantitatif atau bahkan eksperimen tentang penyebab atau dampak dari keterlambatan bicara.
81 Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI). Perkembangan beberapa indikator utama sosial-ekonomi Indonesia, 2011. Didapat dari: http://www.bps.go.id.
Hurlock. E.B. (1997). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Tentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga
Gunarsa, S. 2003. Psikologi untuk Keluarga. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia.
Alex, Sobur. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sunarto. (1994). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.
Papalia, Old, Feldman. (2004). Human Development (terjemah). Jakarta: Kencana.
Moleong, Prof. DR. Lexy J., M.A. (2010). Metodelogi Penelitian Kualitatif. (rev. Ed). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Poerwandari, E. Kristi. (2001). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta: LPSP3 UI.
Hapsariyanti., D. 2006. Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Penyesuaian Diri dalam Perkawinan pada Pasangan yang Baru Menikah. Kumpulan Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma.
Davidoff, L.L. (1991). Psikologi Suatu Pengantar Edisi Kedua Jilid 2. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Anggraini, Wenty. (2011). Keterlambatan Bicara (Speech Delay) pada anak (Studi kasus Anak Usia 5 Tahun).
Hartanto. (2009). Pengaruh Perkembangan Bahasa terhadap Perkembangan Kognitif Anak Usia 1-3 Tahun. Sari pediatri, Vol. 12 No. 6. April 2011
82 Suparmiati, Aries. Dkk. (2008). Hubungan Ibu Bekerja dengan Keterlambatan Bicara Pada Anak. Sari Pediatri, Vol. 14, No. 15. Februari, 2013
Fadlyana, Eddy. (2003). Pola Keterlambatan Perkembangan Balita di Daerah Pedesaan dan Perkotaan Bandung, Serta Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Sari Pediatri, Vol 4, No. 4. Maret 2003.
Soetjiningsih, Ranuh, IGN. Tumbuh kembang anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1995.
Jacinta F.R. Keterlambatan bicara, 2008. Didapat dari: www.e- psikologi.com.
Morales S. Developmental language disorder children’s speech care center, 2005. Didapat dari: www.asha.org.
Lyen K. Speech Delay, 2002. Didapat dari: http://www.lyen.net/gpage153.html/.
Law J, Garrett Z, Nye C. Speech and language therapy intervention for children with primary speech and language delay or disorder. The Cochrane Library, 2003.
Sidiarto L. Berbagai gejala disfungsi minimal otak (DMO) yang berwujud kesulitan belajar spesifik dan permasalahannya. Dalam: Mudjiman H, Yusup M, penyunting. DMO dan kesulitan belajar anak. Pusat Penelitian Universitas Sebelas Maret Surakarta, 1990.
Judarwanto W. Keterlambatan bicara, berbahaya atau tidak berbahaya, 2006. Didapat dari: www.childrenfamily.com.
Law J, Boyle J, Harris F, Harkness a. Screening foe speech and language delay: systematic review of literature. Health Technol Asses. 1998. Wahjuni S. Pemeriksaan Penyaringan Keterlambatan Bahasa pada Anak
Batita dengan Early Language Milestone Scale di Kelurahan Paseban Jakarta Pusat. Jakarta: FKUI, 1998.