• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterlambatan Bicara Pada Anak Usia Dini.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Keterlambatan Bicara Pada Anak Usia Dini."

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

KETERLAMBATAN BICARA PADA ANAK USIA DINI

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratandalam Menyelesaikan

Program Strata Satu (S1) Psikologi (S.Psi)

Ainun Jariyah (B07210125)

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

i INTISARI

Masalah gangguan pada tumbuh kembang anak semakin sering dijumpai belakangan ini. Semakin lama jumlah anak yang mengalami gangguan tersebut semakin bertambah. Perkembangan bicara dan bahasa anak dapat mempengaruhi kesuksesan anak disekolah. Anak dengan gangguan bicara berisiko mengalami kesulitan membaca dan menulis yang berujung pada kemampuan akademis rendah saat usia sekolah. Bila terlambat ditangani anak biasanya akan kesulitan beradaptasi dan memiliki gangguan perilaku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keterlambatan bicara pada anak usia dini. Penelitian ini menggunaka penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian ini adalah seorang anak berusia 3 tahun 9 bulan. Peneliti akan mengumpulkan data dengan metode observaasi pada subjek dan wawancara pada orangtua dan guru subjek. Dari penelitian ini ditemukan bahwa orangtua subjek mengetahui keterlambatan bicara pada subjek dengan membandingkan karakteristik perkembangan subjek dengan teman-teman sebayanya. Subjek mengalami keterlambatan bicara disebabkan oleh faktor internal. Untuk berkomunikasi dalam kesehariannya subjek lebih sering menggunakan bahasa isyarat (gerak tubuh) seperti menunjuk dengan tangan, menggelengkan kepala, dan menepuk.

(7)

ii ABSTRACT

The problem of children’s developmental disorders in is increasingly encountered lately. The longer the number of children who experience the disorder is increasing. The development of speech and language of children can affect the success of children in school. Early childhood with speech disorders is at increased risk of reading and writing that lead to low academic ability at school age. When handled late the child will usually have difficulty adapting and has a behavioral disorder. The purpose of this research is to know the speech delay at early childhood. This research uses qualitative research with case study approach. The subject of this study was a child aged 3 years and 9 months. The researcher will collect data by observation method on subject and interview on parent and teacher subject. From this study found that the subject's parents know the delay talk on the subject by comparing the characteristics of the development of the subject with peers. Subjects experienced speech delays caused by internal factors. To communicate in daily life subjects more often use sign language (gestures) such as pointing by hand, shaking his head, and pat.

(8)

i DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian ... 13

C. Tujuan Penelitian ... 14

D. Manfaat Penelitian ... 14

E. Keaslian Penelitian ... 17

BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Keterlambatan Bicara ... 23

1. Pengertian Keterlambatan Bicara ... 23

2. Faktor-faktor Penyebab Keterlambatan Bicara ... 32

B. Anak Usia Dini ... 40

1. Pengertian Anak Usia Dini ... 40

2. Aspek-aspek Perkembangan Anak Usia Dini ... 45

3. Karakteristik Anak Usia Dini ... 51

4. Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini ... 56

BAB III: METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 58

B. Lokasi Penelitian ... 59

C. Sumber Data ... 59

D. Metode Pengumpulan Data ... 60

E. Prosedur Analisis dan Interpretasi data ... 61

(9)

ii BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Orientasi Kancah dan Persiapan... 64

1. Orientasi Kancah ... 64

2. Persiapan ... 64

B. Laporan Pelaksanaan ... 65

C. Hasil Temuan Penelitian ... 67

D. Pembahasan ... 75

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 79

B. Saran ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 81

(10)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Masalah gangguan pada tumbuh kembang anak semakin sering dijumpai belakangan ini. Contohnya seperti keterlambatan perkembangan motor halus dan kasar, berbicara, kognisi, personal, kemampuan melakukan aktifitas sehari-hari, serta sosial. Semakin lama jumlah anak yang mengalami gangguan tersebut semakin bertambah. Dibuktikan dengan data yang didapatkan dari penelitian di klinik khusus tumbuh kembang (KKTK) RSAB Harapan Kita dari Januari 2008 hingga Desember 2009. Dari peneitian tersebut diketahui terdapat 30,9% dari 604 pasien baru (187 pasien) yang mengalami keterlambatan perkembangan umum (Tjandrajani, 2012).

(11)

2 Anak dengan masalah keterlambatan bicara tentu akan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Meskipun sulit, anak dengan keterlambatan bicara pasti akan menemukan cara agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Studi faktor risiko untuk keterlambatan bicara dan bahasa menunjukkan hasil yang tidak konsisten, sehingga The US Preventive Services Task Force tidak dapat mengembangkan daftar faktor risiko tertentu untuk memandu dokter perawatan primer dalam penyaringan selektif. Faktor risiko yang paling konsisten dilaporkan adalah riwayat keluarga bicara dan keterlambatan bahasa, jenis kelamin laki-laki, prematuritas, dan berat lahir rendah. Faktor risiko lain yang dilaporkan kurang konsisten termasuk tingkat pendidikan orang tua, penyakit masa kanak-kanak, urutan kelahiran terlambat, dan keluarga besar (McLaughlin, 2011).

(12)

3 Keterlambatan bicara pada anak didefinisikan sebagai ketidaknormalan kemampuan berbicara seseorang anak jika dibandingkan dengan kemampuan anakyang seusia dengannya (APA, 2015). Perkembangan bicara dan bahasa anak dapat mempengaruhi kesuksesan anak disekolah. Anak dengan gangguan bicara berisiko mengalami kesulitan membaca dan menulis yang berujung pada kemampuan akademis rendah saat usia sekolah. Bila terlambat ditangani anak biasanya akan kesulitan beradaptasi dan memiliki gangguan perilaku. Saat remaja, mereka juga rentan mengalami gangguan kejiwaan. Sehingga penting bagi orang tua untuk mendeteksi dini adanya gangguan bicara pada anak.

Keterlambatan bicara seperti mana yang diketahui mengacu pada hambatan maupun gangguan perkembangan anak. Gangguan berbicara pada anak telah didefinisikan sebelumnya sebagai ketidaknormalan kemampuan berbicara seorang anak jika dibandingkan dengan kemampuan anak yang seusia dengannya. Ketidaknormalan ini diketahui dari kemampuan berbicara seorang anak yang berada di bawah anak normal pada usianya.

(13)

4 Salah satunya keterlambatan bicara tanpa disertai adanya hendaya atau kelambatan perkembangan fungsifungsi yang berkaitan erat dengan susunan saraf pusat yang sering disebut sebagai disfungsi neurologis. Keterlambatan bicara ini dapat digolongkan sebagai hambatan berbicara. Hambatan (barrier) adalah suatu kesukarakan atau halangan seseorang untuk mencapai suatu tujuan (Chaplin, 2006).

Dalam tugas perkembangan anak, hambatan dapat diartikan sebagai suatu kesukaran atau halangan anak dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Terkait definisi hambatan perkembangan yang telah dipaparkan, hambatan berbicara dapat diartikan sebagai suatu kesukaran atau halangan anak dalam berbicara sesuai usia perkembangan yang dimilikinya.

(14)

5 Penelitian selama 10 tahun yang melibatkan anak-anak di berbagai daerah menemukan fakta empiris bahwa kognitif bahasa anak selain dipengaruhi oleh faktor genetis juga dipengaruhi oleh faktor jumlah anak dalam keluarga, urutan dilahirkan, pola komunikasi dalam keluarga dan jumlah bahasa yang dipergunakan dalam keluarga yang bersangkutan (Sujiono, 2009).

Tahun 2006 Departemen Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo memperlihatkan bahwa 8% anak usia toddler mengalami gangguan bicara dan bahasa, hamper 20% dari anak berumur 2 tahun mempunyai gangguan keterlambatan bicara. Kemudian penelitian Wahjuni (2005) di wilayah Jakarta Pusat menemukan prevalensi keterlambatan bahasa sebesar 9,3% pada anak berusia di bawah tiga tahun. Komunikasi dalam sebuah keluarga yang efektif dan kemampuan berkomunikasi yang baik adalah hal penting, hal ini karena komunikasi merupakan bagian integral dalam kehidupan sehari-hari.

(15)

6 komunikasi yang disampaikan hanya bersifat satu arah saja (dari orang tua) maka sulit bagi anak untuk berlatih berbicara atau mengembangkan kemampuan bahasanya.

Adapun perkembangan bahasa anak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu intelegensi, jenis disiplin, urutan kelahiran, besarnya saudara, status sosial ekonomi, status ras, berbahasa dua, penggolangan peran seks dan interaksi orang tua (Marimbi, 2010). Salah satu aspek yang sering dikeluhkan orang tua adalah mengenai keterlambatan bicara pada anaknya. Namun tidak jarang juga keluhan mengenai keterlambatan bicara ini disadari ketika anak sudah berada pada usia sekolah. Fenomena yang ditemukan peneliti pada lokasi penelitian adalah masih adanya anak yang terlambat bicara, namun ibu belum memahami betul bahwa hal tersebut merupakan bagian dari gangguan bicara.

(16)

7 Bilingual yang digunakan di rumah, diperoleh 70% anak berbicara dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa (bahasa Jawa lebih dominan), 2 anak berbicara dalam bahasa Indonesia dan Jawa (bahasa Indonesia lebih dominan) dan 10% anak bicara dalam bahasa Jawa, Indonesia dan Inggris (dibiasakan tidak hanya ketika belajar).

Perkembangan bahasa, diperoleh bahwa 70% anak belum mampu menyusun kalimat dengan benar dan 30% anak sudah mampu menyusun kalimat dengan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola komunikasi orang tua dan bilingual dengan perkembangan bahasa pada anak usia toddler di kelompok bermain Aisyiyah Bae Kabupaten Kudus.

Berbeda dengan hambatan, gangguan berbicara lebih bersifat mendetail sesuai yang ditetapkan dalam PPDGJ mengenai ketentuan gangguan berbicara. Hambatan berbicara lebih bersifat fleksibel sesuai dengan kendala anak sukar atau terhalang untuk berbicara sesuai usia perkembangan bicaranya. Tidak seperti gangguan berbicara, hambatan berbicara memiliki banyak faktor yang mempengaruhinya salah satunya faktor lingkungan (Tjandrajani, 2012).

(17)

8 anak yang merawat anak tersebut. Dalam deteksi dini tersebut harus bisa mengenali apakah keterlambatan bicara anak merupakan sesuatu yang fungsional atau yang nonfungsional.

Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang sering dialami oleh sebagian anak. Keterlambatan bicara golongan ini biasanya ringan dan hanya merupakan ketidakmatangan fungsi bicara pada anak. Pada usia tertentu terutama setelah usia dua tahun, anak tersebut akan membaik. Tetapi bila keterlambatan bicara tersebut bukan karena proses fungsional (non fungsional) maka gangguan tersebut harus lebih diwaspadai karena bukan sesuatu yang ringan, maka harus cepat dilakukan stimulasi dan intervensi dapat dilakukan pada anak tersebut.

Melihat sedemikian besar dampak yang timbul akibat keterlambatan bahasa pada anak usia pra sekolah maka sangatlah penting untuk mengoptimalkan proses perkembangan bahasa pada periode ini. Deteksi dini keterlambatan dan gangguan bicara usia prasekolah adalah tindakan yang terpenting untuk menilai perkembangan bahasa dan bicara anak, sehingga dapat meminimalkan kesulitan dalam proses belajar anak tersebut (Wahjuni, 1998).

(18)

9 Hasil studi longitudinal menunjukkan bahwa keterlambatan perkembangan bahasa berkaitan dengan intelegensi dan membaca di kemudian hari. Penanganan keterlambatan bicara memerlukan waktu yang agak lama serta kerja sama yang baik dari orangtua. Beberapa anak tidak memperoleh penanganan dengan baik sampai masalah perkembangan itu menjadi sesuatu yang tidak dapat ditangani atau berdampak secara signifikan terhadap hal-hal lain.

Gangguan bicara adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 – 10% pada anak sekolah.

Keterlambatan bicara disini meliputi belum mampu bicara, terlambat bicara, bicara belum lancar, bicara tidak jelas. Keterlambatan bicara dapat merupakan gejala dari berbagai penyakit seperti retardasi mental, kelainan pada pendengaran, gangguan dalam berbahasa, autis, afasia, dan keterlambatan dalam perkembangan.

(19)

10 pada keterlambatan bicara, namun evaluasi perkembangan menunjukkan terdapat keterlambatan dalam reseptif, memecahkan masalah serta keterlambatan dalam motorik (Burhany, 2012).

Orangtua seringkali terlambat menyadari bahwa anaknya mengalami keterlambatan. Gangguan bicara dapat disebabkan antara lain karena gangguan pendengaran, retardasi mental, autism dan beberapa kelainan neurologis. Prevalensi keterlambatan bicara dan bahasa pada anak usia 2-4,5 tahun adalah 5-8%, prevalensi keterlambatan bahasa adalah 2,3-19%.

Data di Departemen Rehabilitasi Medik RSCM tahun 2006 dari 1125 kunjungan terdapat 10,13%. Penelitian di salah satu kelurahan di Jakarta Pusat menemukan prevalensi keterlambatan bicara sebesar 9,3% dari 214 anak yang berusia di bawah 3 tahun (Wahjuni, 1998).

(20)

11 Faktor yang kedua adalah tidak tercukupinya kondisi yang dapat menimbulkan anak untuk dapat belajar berbicara dengan baik. Kondisi yang mempengaruhi anak dalam proses belajar berbicara adalah kesehatan, kecerdasan, keadaan sosial ekonomi, jenis kelamin, keinginan berkomunikasi, dorongan, ukuran keluarga, urutan kelahiran, metode pelatihan anak, kelahiran kembar, hubungan dengan teman sebaya, kepribadian (mengenai kemampuan penyesuaian diri anak).

Sedangkan faktor yang ketiga adalah faktor yang membuat anak menjadi sedikit dalam berbicara, dan menghilangkan istilah masa tukang ngobrol pada awal masa kanak-kanak. Faktor tersebut adalah inteligensi, jenis disiplin, posisi urutan, besarnya keluarga, status sosial ekonomi, status ras, berbahasa dua, dan penggolongan peran seks. Jika salah satu indikator dalam faktor yang mempengaruhi keterlambatan bicara itu mengalami kekurangan atau bahkan hilang, maka saat belajar berbicara akan terlambat dan kualitas bicara akan berada di bawah potensi anak dan juga di bawah tingkat kemampuan teman sebayanya.

(21)

12 Anak dikatakan berbicara adalah ketika anak tersebut dapat mengeluarkan berbagai bunyi yang dibuat dengan mulut mereka menggunakan artikulasi atau kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu dalam berkomunikasi. Kemampuan berbicara pada masing-masing anak berbeda-beda, tetapi kemampuan tersebut dapat dibandingkan dengan anak yang seusia pada umumnya.

Perkembangan kemampuan berbicara seorang anak dikatakan normal apabila kemampuan berbicara mereka sama dengan anak seusianya dan juga memenuhi tugas dari tugas perkembangan dan ketika perkembangan kemampuan berbicara tidak sama dan juga tidak bisa memenuhi tugas dari perkembangan bicara pada usianya tersebut, maka anak tersebut dapat dikatakan mengalami hambatan perkembangan pada kemampuan berbicara (speech delay).

(22)

13 Anak-anak mulai mengeksplorasi lingkungan disekitarnya tentu akan dihadapkan dengan situasi yang menuntut harus mampu menyesuaikan diri bukan hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga pada lingkungannya. Dengan demikian, anak dapat mengadakan interaksi seimbang antara diri dengan lingkungan sekitar.

Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Keterlambatan Bicara pada Anak Usia Dini”.

B. FOKUS PENELITIAN

Penelitian ini difokuskan pada penggalian berbagai informasi mengenai keterlambatan bicara pada anak usia dini dengan mengkaji; 1. Bagaimana orangtua mengetahui keterlambatan bicara pada subjek 2. Apa faktor-faktor penyebab keterlambatan bicara pada subjek 3. Bagaimana subjek berkomunikasi

(23)

14 C. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan atas rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang ingin didapat adalah untuk mengetahui keterlambatan bicara pada anak usia dini dengan mengkaji;

1. Mengetahui bagaimana orangtua mengetahui keterlambatan bicara pada subjek

2. Mengetahui faktor-faktor penyebab keterlambatan bicara pada subjek 3. Mengetahui cara subjek berkomunikasi

4. Megetahui upaya orangtua setelah mengetahui keterlambatan pada bicara subjek

D. MANFAAT PENELITIAN

Dalam setiap penelitian tentu terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh. Manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah;

1. Secara Teoritis A. Bagi mahasiswa

(24)

15 B. Bagi peneliti

Melalui penelitian ini akan diteliti bagaimana penyesuaian diri pada anak yang mengalami keterlambatan bicara, dikaji dari sudut pandang psikologi. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk membuktikan teori yang sudah ada dan dapat juga digunakan sebagai pijakan untuk melakukan penelitian selanjutnya yang sejenis.

C. Bagi ilmu pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan teoritis pada ilmu pengetahuan khususnya Psikologi Klinis.

2. Secara Praktis A. Bagi mahasiswa

(25)

16 B. Bagi orang tua

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi orang tua untuk lebih memperhatikan berbagai macam bentuk penyesuaian diri pada anak yang mengalami keterlambatan bicara. C. Bagi masyarakat

Masyarakat diharapkan ikut ambil alih dalam menanggapi permasalahan keterlambatan bicara pada anak secara positif dengan memanfaatkan hasil penelitian ini. Peran aktif masyarakat diharapkan dapat mengurangi dampak yang akan terjadi di masa yang akan datang. D. Bagi peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat membantu dan menjadi pedoman informasi atas penelitian selanjutnya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penyesuaian diri pada anak yang mengalami keterlambatan bicara.

E. Bagi terapis

(26)

17 E. KEASLIAN PENELITIAN

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wenty Aggraini (2011) menunjukkan bahwa terdapat 12 faktor yang mempengaruhi keterlambatan bicara (speech delay) yang terjadi pada subjek dalam kasus ini. 12 faktor tersebut adalah Multilingual, model yang baik untuk ditiru, kurangnya kesempatan untuk berpraktek bicara, kurangnya motivasi untuk berbicara, dorongan, bimbingan, hubungan dengan teman sebaya, penyesuaian diri, kelahiran kembar, jenis kelamin, penggolongan peran seks, dan besarnya keluarga/ukuran keluarga.

Selain faktor-faktor tersebut di atas terdapat 3 faktor yang merupakan temuan dalam penelitian ini, yaitu sistem kakak adik, kebiasaan anak dalam menonton televisi, dan pengetahuan orang-orang di sekitar subjek yang kurang mengetahui akan hambatan ini.

(27)

18 Penelitian lain yang dilakukan oleh Hartanto dan Selina menunjukkan hasil terdapat pengaruh antara perkembangan bahasa terhadap perkembangan kognitif pada anak usia 1-3 tahun. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah yang mempengaruhi perkembangan kognitif hanya pada bahasa ekspresif atau reseptif atau keduanya.

Penyebab keterlambatan bicara sangat banyak dan bervariasi. Gangguan tersebut ada yang ringan sampai yang berat. Penyebab keterlambatan bicara bisa terjadi gangguan mulai dari proses pendengaran, penerus impuls ke otak, otot atau organ pembuat suara. Beberapa penyebab utama keterlambatan bicara diantaranya adalah retardasi mental, gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi.

(28)

19 Terdapat penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan bicara (speech delay). Jurnal yang berkaitan dengan topik yang diangkat yaitu jurnal yang berjudul “Risk Factors for

Speech Delay of Unknown Origin in 3-Year-Old Children”. Jurnal

psikologi ini ditulis oleh Thomas F. Campbell, Christine A. Dollaghan, Howard E. Rockette, Jack L. Paradise, Heidi M. Feldman, Lawrence D. Shriberg, Diane L. Sabo, and Marcia Kurs-Lasky mencoba mengungkap faktor resiko untuk keterlambatan bicara pada anak dengan ras yang tidak diketahui atau campuran pada anak usia 3 tahun.

Penelitian ini dikenakan pada subjek 639 anak-anak dari berbagai ras dengan usia 3 tahun. Dari hasil penelitian diketahui bahwa 100 anak mengalami speech delay sedangkan 539 anak tidak mengalami speech delay. Dari 100 anak yang mengalami speech delay, 22% anak berasal dari

ibu yang pendidikannya rendah (dalam hal ini tidak lulus SMA), 70% berjenis kelamin laki-laki, 36% yang mempunyai masalah dengan sejarah hidupnya, 63% tidak mempunyai asuransi kesehatan, dan 38% berasal dari ras Afrika Amerika.

Penelitian ini menghasilkan 3 faktor yang mempunyai rasio menjadi penyebab dari keterlambatan bicara (speech delay) yaitu;

(29)

20 2. Positive family history. Yang dimaksud dengan istilah tersebut adalah anak sebagai dampak dari orang tua yang mengalami gangguan tersebut, tetapi gangguan tersebut tidak diturunkan kepada anaknya (anak normal), akan tetapi lingkungan sosialnya menganggap bahwa si anak membawa faktor keturunan dari orang tuanya. Hal tersebut membuat lingkungan mengurangi interaksi dengan anak dan menyebabkan keterlambatan dalam berbicaranya karena kurang stimulus dari lingkungannya.

3. Low maternal education. Arti dalam cakupan tersebut adalah mengenai rendahnya pendidikan ibu. Pendidikan ibu yang menjadi batasan pengertian di sini adalah ibu yang tidak bisa menyelesaikan pendidikan SMA-nya.

(30)

21 Keterlambatan bicara nonfungsional dicurigai bila disertai kelainan neurologis bawaan atau didapat seperti wajah dismorfik, perawakan pendek, mikrosefali, makrosefali, tumor otak, kelumpuhan umum, infeksi otak, gangguan anatomis telinga, gangguan mata, cerebral palsi,dan gangguan neurologis lainnya. Klinisi dan orang tua harus dapat membedakan dengan keterlambatan bicara fungsional dan nonfungsional.

Hasil analisis bivariat yang dilakukan oleh Suparmiati (2008) menunjukkan tidak terdapat hubungan antara ibu bekerja dengan keterlambatan bicara pada anak. Demikian juga, pada faktor-faktor lain, tidak berpengaruh terhadap keterlambatan bicara pada anak kecuali faktor riwayat keluarga yang mengalami keterlambatan bicara. Anak dengan riwayat keluarga terlambat bicara mempunyai faktor risiko 7,8 untuk terjadi keterlambatan bicara.

Berdasarkan penelitian yang ditulis oleh Anna Tjandrajani, dkk tahun 2012 di KKTK RSAB Harapan Kita, menyebutkan bahwa gangguan perkembangan bicara menjadi keluhan terbanyak yang ditemukan pada keterlambatan perkembangan umum tanpa penyakit penyerta.

Dalam jurnal “pola keterlambatan perkembangan balita di daerah pedesaan dan perkotaan bandung, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya” oleh Eddy Fadlyana, dkk yang ditulis tahun 2003

(31)
(32)

23 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. KETERLAMBATAN BICARA

1. Pengertian Keterlambatan Bicara

Komunikasi pada anak berarti suatu pertukaran pikiran, perasaan, gagasan, dan emosi antara antara anak dengan lingkungan. Pertukaran tersebut dapat menggunakan media yang bernama bahasa. Bahasa di sini adalah bentuk ataulambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Bahasa dapat diekspresikan melalui dua cara, yaitu bahasa yangberupa verbal dan non verbal. Bahasa non verbal mencakup aspek komunikasi yang berupa tulisan, gestikulasi, gestural/pantomim. Sedangkan bahasa verbalbisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal.

(33)

24 Perkembangan kemampuan berbicara seorang anak dikatakan normalapabila kemampuan berbicara mereka sama dengan anak seusianya dan jugamemenuhi tugas dari tugas perkembangan. Dan ketika perkembangan kemampuan berbicara tidak sama dan juga tidak bisa memenuhi tugas dari perkembangan bicara pada usianya tersebut, maka anak tersebut dapat dikatakan mengalami hambatan perkembangan pada kemampuan berbicara (speech delay).

Menurut Hurlock (1997), seorang anak dikatakan terlambat bicara apabila tingkat perkembangan bicara berada di bawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak yang umurnya sama yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan kata. Apabila pada saat teman sebaya mereka berbicara dengan menggunakan kata-kata, sedangkan si anak terus menggunakan isyarat dan gaya bicara bayi maka anak yang demikian dianggap orang lain terlalu muda untuk diajak bermain.

(34)

25 Kriteria diagnosis gangguan berbahasa berdasarkan DSM-5 adalah;

1. Kesulitan yang menetap untuk memperoleh dan menggunakan bahasa pada berbagai modalitas (misalnya secara wicara, tertulis, bahasa isyarat, atau lainnya) karena adanya kekurangan dalam pemahaman atau produksi yang meliputi sebagai berikut;

a. Berkurangnya kosakata (pengetahuan dan penggunaan kata). b. Struktur kalimat yang terbatas (kemampuan untuk menyusun

kata dan akhiran kata secara bersama-sama untuk membentuk kalimat berdasarkan aturan tata bahasa dan morfologi).

c. Gangguan pada bercerita (kemampuan untuk menggunakan kosakata dan menghubungkan kalimat untuk menjelaskan atau menggambarkan suatu topik atau serangkaian kejadian atau untuk melakukan percakapan).

(35)

26 3. Awitan gejala adalah pada periode perkembangan awal.

4. Kesulitan ini tidak disebabkan oleh gangguan pendengaran atau gangguan sensoris lainnya, disfungsi motorik, atau kondisi medis atau neurologis lainnya dan tidak dijelaskan dengan lebih baik oleh hendaya intelektual (gangguan perkembangan intelektual) atau penundaan perkembangan global.

Kridalaksana (2007) menyatakan bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Pengertian bahasa menurut Gunarsa (2008) yang menyatakan bahasa adalah alat penghubung atau komunikasi antar anggota masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran, perasaan dan keinginannya.

Suyanto (2005), mengatakan bahwa anak mulai memeram atau cooing yaitu melafalkan bunyi yang tidak ada artinya secara berulang, seperti suara burung yang sedang bernyanyi. Setelah itu anak mulai belajar kalimat dengan satu kata seperti “maem” yang dimaksud minta

makan dan “cucu” yang dimaksud minta susu. Anak pada umumnya

(36)

27 Potensi akan berkembang lebih cepat menjadi pola kebiasaan dimana perkembangan pada usia dini berpengaruh bagi diri anak sepanjang hayat dan mempengaruhi penyesuaian pribadi serta sosialnya, bertambahnya usia perilaku yang dibentuk dan terbentuk pada awal kehidupan cenderung akan bertahan.

Menurut Musfiroh (2008) perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi seperti biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Bahasa adalah suatu system simbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti), sintaksis (unit bahasa), semantik (variasi arti), dan pragmatik (penggunaan bahasa). Dengan bahasa anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaanya pada orang lain.

(37)

28 Menurut Susanto (2005) terhadap perkembangan ini sebagai berikut;

1. Tahap I, (Pralinguistik), yaitu antara 0-1 tahun Tahap ini terdiri dari tahap meraban-1 (pralinguistik pertama) dimulai dari bulan pertama hingga bulan keenam dimanan anak akan mulai menangis, tertawa, dan menjerit. Tahap meraban-2 (pralinguistik kedua) pada dasarnya merupakan tahap kata tanpa makna mulai dari bulan keenan hingga satu tahun. Tahap II (Linguistik) ; Tahap ini terdiri dari tahap I dan II.

2. Tahap 2, Holafrastik (1 tahun), ketika anak-anak mulai menyatakan makana keseluruhan frasa atau kalimat dalam satu kata. Tahap ini juga ditandai dengan perbendaharaan kata anak hingga kurang lebih 50 kosakata. Tahap-2; frasa (1-2), pada tahap ini anak sudah mampu mengucapkan dua kata (ucapan dua kata). Tahap ini juga ditandai dengan perbendaharaan kata anak sampai dengan rentang 50-100 kosakata.

(38)

29 Adapun Moeslichatoen (2008) ada tiga tahap perkembangan bahasa anak yang menentukan tingkat perkembangan berepikir dengan bahasa: Tahap eksternal merupakan tahap berpikir denga bahasa yang disebut berbicara secara eksternal, Tahap egosentris yaitu tahap dimana pembicaraan orang dewasa tidak lagi menjadi persyaratan.

Tahap berbicara secara internal dalam pembahasan fungsi berbahasa bagi anak taman kanak-kanak, dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, terutama ditujukan pada fungsi secar langsung pada anak itu sendiri ada beberapa sumber yang telah mencoba mamberikan pembelajaran dari fungsi bahasa bagi anak taman kanak-kanak.

Menurut Depdiknas (2006) fungsi perkembangan bahasa bagi anak prasekolah adalah sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungan, sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak, sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak dan sebagai alat untuk menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain. Terdapat beberapa fungsi bahasa menurut Moeslichatoen (2008) yaitu bahasa sebagai alat yang dapat memuaskan kebutuhan anak untuk menyatakan keinginannya. Hal ini biasanya dinyatakan dengan “saya ingin”.

(39)

30 perasaannya, dan sikapnya yang unik serta melalui bahasa anak dalam membangun jati diri anak. Lain halnya menurut Susanto (2011) bahwa fungsi bahasa bagi anak adalah sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kemampuan dasar anak. Secara khusus bahwa fungsi bahasa bagi anak taman kanak-kanak adalah untuk mengembangkan ekspresi, perasaan, imajinasi, dan pikiran.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi pengembangan kemampuan berbahasa bagi anak antara lain;

a. Sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungan

b. Sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak c. Sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak

d. Sebagai alat untuk menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain.

(40)

31 Pada tahap tertentu pemeroleh bahasa (kemampuan mengucapkan, dan memahami arti kata juga tidak lepas dari kemampuan mendengarkan, melihat dan mengartikan simbol-simbol bunyi dengan kematangan otaknya). Sedangkan serca psikis, kemampuan memproduksi kata-kata dan variasi ucapan sangat ditentukan oleh situasi emosional anak saat berlatih mengucapkan kata-kata. Anak-anak yang mendapatkan bimbingan dan dorongan moral yang sangat kuat akan memperoleh kata-kata yang banyak dan bervariasi dibandingkan anak-anak lainnya.

(41)

32 Posisi urutan kelahiran. Anak sulung didorong untuk lebih banyak bicara daripada adiknya, Berbahasa dua (dwibahasa). Meskipun dalam keluarga berbahasa dua tidak ada pembatasan dalam berbicara, biasanya anak menjadi terbatas pembicaraanya.

Berdasarkan pendapat Hurlock (1997) yang telah dipaparkan di atas maka dapat disimpulkan definisi anak yang mengalami terlambat bicara adalah anak yang tingkat kualitas perkembangan bicaranya tidak sama dengan anak yang seusianya.

2. Faktor-faktor Penyebab Keterlambatan Bicara

Banyak penyebab keterlambatan bicara, yang paling umum adalah rendahnya tingkat kecerdasan yang membuat anak tidak mungkin belajar berbicara sama baiknya seperti teman sebaya mereka yang kecerdasannya normal atau tinggi; kurang motivasi karena anak mengetahui bahwa mereka dapat berkomunikasi secara memadai dengan bentuk prabicara dorongan orang tua untuk terus menggunakan “bicara bayi” karena mereka mengira yang demikian “manis”;

(42)

33 Salah satu penyebab yang tidak diragukan lagi, paling umum dan paling serius adalah ketida kmampuan mendorong anak berbicara, bahkan pada saat anak mulai berceloteh. Apabila anak tidak didorong berceloteh, hal itu akanmenghambat penggunaan kosakata dan mereka akan terus tertinggal di belakang teman seusia mereka yang mendapat dorongan berbicara lebih banyak.

Kekurangan dorongan tersebut merupakan penyebab yang serius. Keterlambatan bicara terlihat dari fakta bahwa apabila orang tua tidak hanya berbicara kepada anak mereka tetapi juga menggunakan variasi kata yang luas, kemampuan bicara anak akan berkembang dengan cepat (Hurlock, 1997)

Awal dari masa kanak-kanak terkenal sebagai masa tukang ngobrol, karena sekali anak-anak dapat berbicara dengan mudah, ia

tidak putus-putusnya bicara. Sebaliknya ada anak-anak lain yang relatif diam, yang tegolong pendiam. Menurut Hurlock (1997), faktor-faktor yang mempengaruhi banyaknya anak berbicara sebagai berikut;

1. Inteligensi

(43)

34 2. Jenis disiplin

Anak yang dibesarkan dengan disiplin yang cenderung lemah lebih banyakberbicara daripada anak-anak yang orang tuanya bersikap keras dan berpandangan bahwa “anak-anak harus dilihat tetapi tidak didengar”.

3. Posisi urutan

Anak sulung didorong untuk lebih banyak bicara daripada adiknya dan orang tua lebih mempunyai banyak waktu untuk berbicara dengan adiknya.

4. Besarnya keluarga

Anak tunggal di dorong untuk lebih banyak bicara daripada anak-anak dari keluarga besar dan orang tuanya mempunyai lebih banyak waktu untuk berbicara dengannya.Dalam keluarga besar, disiplin yang ditegakkan lebih otoriter dan ini menghambat anak-anak untuk berbicara sesukanya.

5. Status sosial ekonomi

(44)

35 6. Status ras

Mutu dan keterampilan berbicara yang kurang baik pada kebanyakan anak berkulit hitam dapat disebabkan sebagian karena mereka dibesarkan dalam rumah dimana para ayah tidak ada atau dimana kehidupan keluarga tidak teratur karena banyaknya anak atau karena ibu harus bekerja di luar rumah.

7. Berbahasa dua

Meskipun anak dari keluarga berbahasa dua sebanyak anak dari keluarga berbahasa satu, tetapi pembicaraannya sangat terbatas kalau ia berada dalam kelompok sebayanya atau dengan orang dewasa di luar rumah.

8. Penggolongan peran seks

(45)

36 Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan bicara, selain dari faktor-faktor diatas, faktor risiko yang menyebabkan seorang anak menjadi terlambat bicara juga diungkapkan oleh beberapa peneliti dan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu;

A. Faktor internal 1. Genetik

Gangguan bicara dan bahasa berkaitan dengan kerusakan kromosom 1,3,6,7, dan 15. Kerusakan di kromosom ini juga berhubungan dengan gangguan membaca. Kromosom tersebut membawa gen yang mempengaruhi perkembangan sel saraf saat prenatal (Korbin, 2008).

2. Kecacatan fisik

(46)

37 3. Malfungsi neurologis

Gangguan neurologis juga dapat berkaitan dengan gangguan penghantaran suara di telinga akibat kerusakan sistem saraf. Proses pembentukan saraf selama masa prenatal yang terganggu merupakan penyebab tersering karena pemakaian obat-obatan selama kehamilan (Perna, 2013).

4. Prematur

Prematuritas dalam hal keterlambatan bicara pada anak berhubungan dengan berat badan lahir yang rendah. Berat badan lahir rendah merupakan indikasi bahwa nutrisi yang diedarkan ke dalam tubuh belum maksimal sehingga perkembangan beberapa bagian tidak optimal. Prematur juga menyebabkan belum sempurnanya pembentukan beberapa organ sehingga dalam perkembangannya mengalami keterlambatan (Amin dkk, 2009).

5. Jenis kelamin

(47)

38 B. Faktor Eksternal

1. Urutan/jumlah anak

Anak pertama lebih sering mengalami terlambat bicara dan bahasa. Jumlah anak yang semakin banyak maka kejadian keterlambatan bicara makin meningkat atau insiden keterlambatan bicara sering terjadi pada anak yang memiliki jumlah saudara banyak karena berhubungan dengan komunikasi antara orangtua dan anak. Anak yang banyak akan mengurangi intensitas komunikasi anak dan orangtua (Hartanto dkk, 2009).

2. Pendidikan ibu

(48)

39 3. Status sosial ekonomi

Sosial ekonomi yang rendah meningkatkan risiko terjadinya keterlambatan bicara. Orangtua yang tidak mampu secara ekonomi akan lebih fokus untuk pemenuhan kebutuhan pokoknya dan mengabaikan perkembangan anaknya. Sosial ekonomi rendah juga rawan untuk terjangkit penyakit infeksi yang memungkinkan terjadinya gangguan saraf dan kecacatan (Perna, 2013).

4. Fungsi keluarga

Fungsi keluarga berhubungan dengan pola asuh atau interaksi orangtua dengan anak dalam suatu keluarga. Fungsi keluarga berpengaruh terhadap perilaku anak dan juga insiden keterlambatan bicara pada anak. Keluarga dengan fungsi buruk maka di dalam keluarga tidak terdapat kehangatan dan hubungan emosi tidak terjalin dengan baik. Anak sering mengalami salah asuh atau perawatan yang salah dan pengabaian.

(49)

40 5. Bilingual

Penggunaan dua bahasa atau lebih di rumah dapat memperlambat kemampuan anak menguasai kedua bahasa tersebut. Anak dengan kemampuan bilingual dapat menguasai kedua bahasa tersebut sebelum usia lima tahun. Pada anak dengan keterlambatan bicara yang disertai penggunaan beberapa bahasa di rumah, akan menghambat kemajuan anak tersebut dalam tata laksana selanjutnya sehingga bilingual harus dihilangkan pada anak yang mengalami keterlambatan bicara (Mangunatmadja, 2010).

B. Anak Usia Dini

1. Pengertian Anak Usia Dini

(50)

41 Masa anak usia dini sering disebut dengan istilah “golden age” atau masa emas. Pada masa ini hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat. Perkembangan setiap anak tidak sama karena setiap individu memiliki perkembangan yang berbeda. Makanan yang bergizi dan seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut. Apabila anak diberikan stimulasi secara intensif dari lingkungannya, maka anak akan mampu menjalani tugas perkembangannya dengan baik (Augusta, 2012).

Masa kanak-kanak merupakan masa saat anak belum mampu mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Mereka cenderung senang bermain pada saat yang bersamaan, ingin menang sendiri dan sering mengubah aturan main untuk kepentingan diri sendiri. Dengan demikian, dibutuhkan upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan, baik perkembangan fisik maupun perkembangan psikis. Potensi anak yang sangat penting untuk dikembangkan. Potensi-potensi tersebut meliputi kognitif, bahasa, sosioemosional, kemampuan fisik dan lain sebagainya.

(51)

42 perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau mempengaruhi antara bagian-bagian organisme. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik fisik dan psikis. Sedangkan berkesinambungan berarti perubahan berlangsung secara bertahap dan berurutan.

Montessori dalam Ropnarine (2011) memandang perkembangan sebagai serangkaian “kelahiran” atau periode penguatan

kepekaan, dimana setiap kepekaan memunculkan minat dan ketrampilan baru. Perkembangan dan pertumbuhan anak dapat diuraikan dalam beberapa butir pemikiran yang ditinjau dari beberapa sudut pandang yag berbeda dari para ahli, diantaranya adalah;

a. Teori Psikososial Ericson

Ericson mengemukakan ada delapan tahap perkembangan manusia, tiga di antaranya adalah tahap perkembangan yang terjadi pada anak usia dini; tahap percaya dan tidak percaya (usia lahir hingga 1,5 tahun), rasa percaya akan berkembang jika kebutuhan anak bertemu dengan sikap konsisten dan penuh kasih sayang dari lingkungan.

(52)

43 menghadapi dunia sosial yang lebih luas, mereka menghadapi tantangan-tantangan baru yang menuntut perilaku aktif dan berguna. Anak dituntut untuk bertanggungjawwab tubuh, prilaku, mainan dan binantang peliharaan mereka dan berinisiatif, Santrock (2007).

b. Teori Maturation (kematangan)

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Hall, Rosseau dan Gesel dalam Sujiono (2009), menurut ketiganya, anak-anak harus diberi kesempatan untuk berkembang. Teori ini meyakini bahwa perkembangan fisik, sosial emosional dan intelektual mengikuti tahapan perkembangan. Anak dapat mengembangkan potensi secara optimal atau tidak tergantung dengan lingkungannya.

c. Teori Konstruktivisme

(53)

44 Sedangkan Vygotsky dalam Morisson (2012) meyakini bahwa perkembangan mental, bahasa dan sosial ditingkatkan oleh orang lain lewat interaksi sosial. Proses belajar membangkitkan beragam prosess perkembangan yang dapat terjadi jika anak berinteraksi dengan orang lain dan ketika mereka bekerjasama dengan temannya. Piaget membagi perkembangan kognitif dalam beberapa tahap;

1. Tahap sensori motor yang berlangsung sejak lahir hingga 2 tahun. Pada saat ini bayi membangun pengertiannya dengan mengkoordinasikan pengalaman sensoris (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan fisik kegiatan motorik (sensor-motor).

(54)

45 2. Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

Ada beberapa aspek perkembangan anak prasekolah menurut beberapa pemerhati anak-anak sebagai berikut;

A. Perkembangan Fisik

Santrock (2007) mengemukakan ada beberapa hal yang termasuk kedalam perkembangan fisik;

1. Tinggi badan anak mengalami penambahan 6 cm dan berat badan 2-kg pertahun. Namun pola pertumbuhan bervariasi secara individual. Ada pengaruh faktor bawaan, defisiensi hormon pertumbuhan dan masalah fisik yang terjadi pada masa kanak-kanak.

(55)

46 yang dimiliki orang deswasa. Padahal, sebuah sel otak saja dapat berhubungan dengan 15.000 sel lain. Jaringan yang jarang digunakan akan mati, sedangkan yang sering digunakan akan semakin kuat dan permanen. Sel-sel berkembang mengikuti pengalaman, oleh sebab itu, anak perlu diberikan berbagai rangsangan (stimulus) dan memfasilitasi perkembaangan agar otak dapat tumbuh optimal. Schunk (2012) mengemukakan beberapa hal yang mempengaruhi perkembangan otak;

a. Faktor genetik; menentukan ukuran, struktur dan konektivitas saraf, meskipun berbeda masih dapat berfungsi normal, hanya perbedaan genetik tertentu yang bisa mengakibatkan ketidaknormalan.

b. Stimulasi lingkungan c. Nutrisi

d. Steroid;sekelompok hormone

e. Teratogen; zat asing misalnya alkohol dan virus yang dapat menyebabkan ketidaknormalan pada janin.

(56)

47 ketrampilan baru selalu bermunculan dan semakin bertambah kompleks. Contoh gerakan motorik kasar adalah, melakukan gerakan berjalan, berlari, melompat, melempar dan sebagainya. 3. Perkembangan Gerak Motorik halus. Perkembangan motorik

mengikuti hukum arah perkembangan, Hurlock (1997).dan kemampuan fisik tersebut diatas terjadi secara teratur dan bertahap sesuai dengan pertambahan umur. Perkembangan fisik-motorik adalah perkembangan jasmaniah melalui kegiatan pusat saraf, urat saraf dan otot yang terkoordinasi. Hasil pengamatan Laura E.Berk terhadap anak usia dini adalah ketika anak bermain maka, akan muncul ketrampilan motorik baru, Suyadi. Anak akan terus melakukan integrasi gerak dari berbagai macam pola jadi, kemampuannya berkembang dan terbarukan terus menerus atau disebut sebagai dynamic system.

B. Perkembangan Kognitif

(57)

48 Selain hal-hal tersebut, Anthoni Robin dalam C.J Simister (2013) menjadikan bertanya logis adalah sebuah kemampuan anak-anak yang harus terus ditumbuhkan secara terus menerus karena, bertanya sebagai tanda keingintahuan adalah salah satu karakteristik paling permanen dan pasti dari pemikiran yang kuat. Keingintahuan menandakan semangat yang aktif, terbuka dan berorientasi pada pemecahan masalah dan merupakan elemen penting dari kreativitas, inovassi dan kemajuan anak-anak.

C. Perkembangan Sosio-Emosional

(58)

49 Ada beberapa hal yang hendaknya ditanamkan agar sosio-emosionalnya tumbuh dan berkembang dengan baik, Suyadi (2010) diantaranya. a) Mengembangkan empati dan kepedulian, b) menanamkan sikap optimis yang merupakan hasil kebiasaan berfikir positif c) memberikan kebebasan terhadap anak untuk mecahkan masalah dan d) menumbuhkan motivasi.

D. Perkembangan Bahasa

Montessori dalam Roopnarine (2011) mengatakan bahwa anak pada usia sesitiv merupakan penjelajah lingkungan dengan menggunakan tangan dan lidah (yang mengarah keperkembangan bahasa). Ini dapat djadikan sebagai salah satu cikal bakal perkembangan berbahasa anak. Morrison (2008) menyebutkan bahwa, kemampuan berbahasa anak tumbuh dan berkembang pesat selama masa prasekolah. Anak belajar bahasa secara intuitif tanpa banyak instruksi. Hasilnya adalah terus bertambah kosakata, jumlah kata yang diketahui anak dan penggunaan kalimat yang panjang, tata bahasanya juga terus berkembang pada masa ini.

(59)

50 akan bahasa, Schunk (2012), untuk mempelajari bahasa, daerah-daerah otak yang berbeda-beda harus bekerja sama, diantaranya otak yang terlibat dalam aktivitas melihat, mendengarkan, berbicara, dan berpikir.

(60)

51 3. Karakteristik Anak Usia Dini

Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, sosial, moral dan sebagainya. Menurut Aisyah,dkk (2010) karakteristik anak usia dini antara lain;

a). Memiliki rasa ingin tahu yang besar, b). Merupakan pribadi yang unik, c). Suka berfantasi dan berimajinasi, d). Masa paling potensial untuk belajar, e). Menunjukkan sikap egosentris, f). Memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek, g). Sebagai bagian dari makhluk sosial.

Usia dini merupakan masa emas, masa ketika anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pada usia ini anak paling peka dan potensial untuk mempelajari sesuatu, rasa ingin tahu anak sangat besar. Hal ini dapat kita lihat dari anak sering bertanya tentang apa yang mereka lihat. Apabila pertanyaan anak belum terjawab, maka mereka akan terus bertanya sampai anak mengetahui maksudnya.

(61)

52 yang nyata. Salah satu khayalan anak misalnya kardus, dapat dijadikan anak sebagai mobil-mobilan.

Menurut Santrock (2007), rentang perhatian anak usia 5 tahun untuk dapat duduk tenang memperhatikan sesuatu adalah sekitar 10 menit, kecuali hal-hal yang biasa membuatnya senang. Anak sering merasa bosan dengan satu kegiatan saja. Bahkan anak mudah sekali mengalihkan perhatiannya pada kegiatan lain yang dianggapnya lebih menarik.

Anak yang egosentris biasanya lebih banyak berpikir dan berbicara tentang diri sendiri dan tindakannya yang bertujuan untuk menguntungkan dirinya, misalnya anak masih suka berebut mainan dan menangis ketika keinginannya tidak dipenuhi. Anak sering bermain dengan teman-teman di lingkungan sekitarnya. Melalui bermain ini anak belajar bersosialisasi.

(62)

53 Pendapat lain tentang karakteristik anak usia dini (Hibama, 2002) adalah sebagai berikut;

a. Usia 0–1 tahun

Perkembangan fisik pada masa bayi mengalami pertumbuhan yang paling cepat dibanding dengan usia selanjutnya karena kemampuan dan keterampilan dasar dipelajari pada usia ini. Kemampuan dan keterampilan dasar tersebut merupakan modal bagi anak untuk proses perkembangan selanjutnya. Karakteristik anak usia bayi adalah sebagai berikut;

1. Keterampilan motorik antara lain anak mulai berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan

2. Keterampilan menggunakan panca indera yaitu anak melihat atau mengamati, meraba, mendengar, mencium, dan mengecap dengan memasukkan setiap benda ke mulut.

(63)

54 b. Anak Usia 2–3 tahun

Usia ini anak masih mengalami pertumbuhan yang pesat pada perkembangan fisiknya. Karakteristik yang dilalui anak usia 2-3 tahun antara lain;

1. Anak sangat aktif untuk mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya. Eksplorasi yang dilakukan anak terhadap benda yang ditemui merupakan proses belajar yang sangat efektif. 2. Anak mulai belajar mengembangkan kemampuan berbahasa

yaitu dengan berceloteh. Anak belajar berkomunikasi, memahami pembicaraan orang lain dan belajar mengungkapkan isi hati dan pikiran.

3. Anak belajar mengembangkan emosi yang didasarkan pada faktor lingkungan karena emosi lebih banyak ditemui pada lingkungan.

c. Anak usia 4–6 tahun

Anak pada usia ini kebanyakan sudah memasuki Taman Kanak-kanak. Karakteristik anak 4-6 tahun adalah;

1. Perkembangan fisik, anak sangat aktif dalam berbagai kegiatan sehingga dapat membantu mengembangkan otot-otot anak 2. Perkembangan bahasa semakin baik anak mampu memahami

(64)

55 3. Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat ditunjukkan dengan rasa keingintahuan anak terhadap lingkungan sekitarnya. Anak sering bertanya tentang apa yang dilihatnya 4. Bentuk permainan anak masih bersifat individu walaupun

dilakukan anak secara bersama-sama.

d. Anak usia 7–8 tahun

Karakteristik anak usia 7-8 tahun adalah;

1. Dalam perkembangan kognitif, anak mampu berpikir secara analisis dan sintesis, deduktif dan induktif (mampu berpikir bagian per bagian).

2. Perkembangan sosial, anak mulai ingin melepaskan diri dari orangtuanya. Anak sering bermain di luar rumah bergaul dengan teman sebayanya

3. Anak mulai menyukai permainan yang melibatkan banyak orang dengan saling berinteraksi

(65)

56 4. Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Menurut Bredekamp dan Coople (Aisyah dkk, 2010), beberapa prinsip perkembangan anak usia dini yaitu sebagai berikut; Aspek-aspek perkembangan anak seperti Aspek-aspek fisik, sosial, emosional, dan kognitif satu sama lain saling terkait secara erat. Perkembangan anak tersebut terjadi dalam suatu urutan yang berlangsung dengan rentang bervariasi antar anak dan juga antar bidang perkembangan dari masingmasing fungsi. Perkembangan berlangsung ke arah kompleksitas, organisasi, dan internalisasi yang lebih meningkat.

(66)

57 Melalui bermain anak memiliki kesempatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya sehingga anak disebut dengan pembelajar aktif. Anak akan berkembang dan belajar dengan baik apabila berada dalam suatu konteks komunitas yang aman (fisik dan psikologi), menghargai, memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya, dan aman secara psikologis.

(67)

58 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Untuk mencapai tujuan penelitian, maka peneliti mengunakan berbagai macam cara untuk mengumpulkan informasi dan data sebanyak-banyaknya untuk mewujudkan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan desain penelitian kualitatif. Menurut Moleong (2010), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

(68)

59 B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan penelitian yaitu wawancara dan observasi. Penelitian ini berlokasi di kediaman subjek yang terletak di daerah Lakarsantri, sekolah subjek, serta kediaman nenek subjek. Untuk alamat lengkap subyek dirahasiakan agar menjaga kesejahteraan subjek penelitian.

Penelitian ini dilakukan karena peneliti menemukan adanya seorang anak yang berusia 3 tahun 9 bulan dan mengalami keterlambatan dalam perkembangan bicara, dimana usia tersebut termasuk usia anak yang sedang memulai proses sosialisasinya dengan lingkungan diluar keluarganya. Ditambah dengan sekolah yang mayoritas merupakan anak normal dalam perkembangannya dan hanya dirinyalah yang mengalami gangguan keterlambatan bicara.

C. Sumber Data

(69)

60 Pendekatan yang dipakai untuk memilih subjek penelitian adalah dengan menggunakan metode pengambilan sampel purpossive sampling, yaitu sampel yang salah satu cirinya sampel tidak bisa ditentukan dan ditarik terlebih dahulu.

Data penelitian diperoleh dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer yakni data yang diperoleh dari sumber pertama di lapangan, yaitu anak yang mengalami keterlambatan bicara dengan cara melakukan observasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari beberapa informan pendukung (significant other).

Informan pendukung (significant other) yang digunakan dalam proses wawancara dipilih berdasarkan kedekatan personal dan pehaman informan pendukung tersebut atas subjek. Sehingga teknik yang digunakan dalam pemilihan partisipan wawancara penelitian ini adalah teknik jejaring. Informan pendukung (significant other) yang terlibat dalam penelitian ini adalah orang tua dan guru subjek.

D. Metode Pengumpulan Data

(70)

61 tersebut. Wawancara bertujuan untuk menggali dan mendapatkan informasi untuk suatu tujuan tertentu.

Sedangkan observasi adalah suatu aktivitas dalam mengenal tingkah laku individu dan biasanya diakhiri dengan mencatat hal-hal yang penting dan merupakan studi yang dilakukan dengan sengaja dan secara sistematis melalui proses pengamatan atau gejala-gejala spontan yang terjadi pada saat itu. Observasi selalu menjadi bagian dalam penelitian psikologis, dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperimental) maupun dalam konteks alamiah (Poerwandari, 2001).

E. Prosedur Analisis dan Interpretasi Data

Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan dalam suatu pola dan satu uraian dasar (Moleong, 2007). Analisis terhadap data pengamatan dan wawancara sangat dipengaruhi oleh kejelasan mengenai hal-hal yang ingin di ungkap peneliti melalui pengamatan yang diinginkan (Poerwandari, 2001).

Creswell (2010) mengemukakan beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisis data kualitatif, antara lain;

(71)

62 2. Data yang diperoleh direduksi ke dalam pola-pola tertentu, kemudian melakukan kategorisasi tema (memilah dan menyatukan tema yang memiliki kesamaan), kemudian melakukan interprestasi kategori tersebut berdasarkan skema-skema.

3. Data hasil reduksi diubah dalam bentuk matriks, matriks akan mempermudah peneliti dan pembaca untuk melihat data secara lebiih sistematis.

4. Identifikasi prosedur pengodean (coding) digunakan dalam mereduksi informasi kedalam tema-tema atau kategori-ketegori yang ada.

5. Hasil analisis data yang telah melewati prosedur reduksi yang telah diiubah menjadi bentuk matriks yang telah dibentuk matriks yang telah diberi kode (coding). Selanjutnya disesuaikan dengan model kualitatif yang dipilih.

Prosedur pengambilan data baik berupa narasi, deskripsi, dokumen tertulis dan tidak tertulis dilakukan secara bertahap. Dalam penelitian ini tahapan analisis yang akan dilakukan adalah;

1. Mengubah hasil wawancara (catatan lapangan) dalam bentuk display (verbatim).

2. Memilah dan memilih data (data reduction) yang relevan untuk keperluan analisis, artinya data yang tidak relevan akan dibuang. 3. Menganalisis data yang telah dipilah dan dipilih sesuai dengan

(72)

63 F. Keabsahan Data

Dalam penelitian ini untuk mendapatkan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Adapun triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap suatu data (Moleong, 2007). Dalam penelitian ini, teknik triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber, teknik ini digunakan untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh dari beberapa sumber kemudian dideskripsikan, dikategorikan, mana pandangan yang sama, mana pendangan yang berbeda sehigga dapat menghasilkan suatu kesimpulan (Sugiyono, 2007).

Triangulasi sumber dimanfaatkan sebagai pengecekan keabsahan data yang ditemukan dari hasil wawancara dengan informan kunci lainnya dan kemudian dikonfirmasikan dengan studi dokumentasi yang berhubungkan dengan subjek, serta hasil pengamatan yang ada dilapangan sehingga kemurnian dan keabsahan data terjamin (Iskandar, 2009).

(73)

64 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Orientasi kancah dan Persiapan

1. Orientasi Kancah: Lokasi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan subjek anak yang memiliki masalah keterlambatan bicara. Dalam penelitian ini terdapat satu subjek primer untuk diobservasi, yakni anak yang memiliki masalah keterlambatan bicara dan dua subjek sekunder untuk diwawancarai, yakni orangtua dan guru subjek. Ketiga subjek tersebut berdomisili di daerah Lakarsantri, Surabaya.

2. Persiapan: Persiapan Administrasi dan Persiapan Cara Mengumpulkan Data

(74)

65 Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Observasi awal terkait dengan keterlambatan bicara subjek, dalam hal ini peneliti menggunakan checklist perkembangan bahasa anak usia 3-4 tahun. Selain terkait dengan keterlambatan bicara peneliti juga mengobservasi keseharian subjek baik di rumah maupun saat bermain dengan teman-temannya.

Setelah melakukan observasi kepada subjek, kemudian peneliti melanjutkan dengan wawancara kepada orangtua dan guru subjek. Mula-mula peneliti melakukan wawancara kepada orangtua subjek dan kemudian dilanjutkan kepada guru subjek. Hal ini dilakukan agar peneliti mendapatkan informasi yang otentik dari orang-orang yang dekat dengan subjek dalam kesehariannya.

Demi mengetahui bahwa subjek benar-benar mengalami keterlambatan bicara, peneliti juga memfasilitasi orangtua subjek untuk memeriksakan subjek ke puskesmas yang berada di dekat kediaman nenek subjek di Krian, Sidoarjo.

B. Laporan Pelaksanaan

(75)

66 pencatatan dan perekaman kepada subjek atas izin dari orangtua subjek.

Peneliti membuat panduan wawancara semi terstruktur (terlampir) yang digunakan untuk memandu jalannya pengumpulan data melalui wawancara mendalam. Pelaksanaan wawancara disesuaikan dengan jadwal yang telah disepakati antara subjek dengan peneliti. Waktu yang digunakan wawancara hanya ketika hari libur, yakni antara hari sabtu dan minggu.

Setiap wawancara berlangsung kurang lebih selama 1 jam 30 menit. Dalam pelaksanaan wawancara peneliti berupaya menggali lebih dalam data yang dibutuhkan. Peneliti datang kerumah subjek untuk mengumpulkan data dilakukan sampai dengan 3 kali pertemuan. Hal ini karena jika dilakukan hanya satu kali datang data kurang lengkap. Semua proses wawancara direkam untuk dibuat transkip dan koding.

(76)

67 C. Hasil Temuan Penelitian

Mengawali hasil temuan penelitian, ditemukan bahwa masalah yang dialami subjek adalah keterlambatan bicara. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Hurlock (1997) yang menyatakan seorang anak dikatakan terlambat bicara apabila tingkat perkembangan bicaranya berada di bawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak pada umumnya yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan kata. Petikan hasil wawancara dengan orangtua subjek adalah sebagaimana berikut ini;

“Jihan itu memang masih sulit kalo mau ngomong,

padahal teman-temannya sudah pada cerewet mbak, hehe.

Kalo diminta nyebutin nama saya ajah Jihan kadang masih

ndak bisa kalo ndak dituntun, tapi yaa Alhamdulillah

selama ini komunikasi dengan dia baik. (Wcr-OS. 16-21)

Yaa misalkan ditanya siapa nama ibunya, harus disebutkan

“Aaal” terus dia baru nyahut “Alyaaa” gitu mbak. (Wcr

-OS. 23-25)

Yaa banyak dek, lha kalo dia mau minta sesuatu ajah

masih pake bahasa isyarat gitu. Yaa nunjuk, geleng-geleng,

manggut gitu. (Wcr-OS. 29-31)

Umpama minta nyalain TV gitu yaa Jihan ngasih remot ke

(77)

68 Tidak hanya didapatkan dari catatan wawancara dengan orangtua subjek, namun hasil petikan wawancara dengan guru subjek juga menyatakan hal tersebut, sebagaiman petikan wawancara berikut;

“Iyaa mbak, Kalo disuruh menyebutkan huruf abjad Jihan

belum bisa. Tapi bukan Jihan ajah yang belum bisa

nyebutin huruf-huruf, meskipun sebagian besar

teman-temannya udah pada bisa. (Wcr-GS. 20-26)

Misalkan kalo diminta menirukan kata yang disebutkan

gurunya juga masih harus dituntun. Contohnya kertas

waktu itu, Jihan menirukannya “keeetas”. (Wcr-GS. 26-29)

Kalo lagi main sama teman-temannya Jihan cenderung

diam ngikut teman-temannya. Kalo teman-temannya main

ayunan Jihan ikut main ayunan, kalo teman-temannya

pindah main masak-masakan Jihan juga ngikut, tapi yaa

itu Cuma diam dan kadang pake isyarat kalo pingin

sesuatu. (Wcr-GS. 33-39)

Contohnya geleng-geleng kepala kalo ndak mau,

manggut-manggut kalo mau, nunjuk-nunjuk kalo mau melakukan

(78)

69 Yaa kadang susah juga menebak maunya apa, tapi Jihan

juga anaknya baik kok, Jihan ndak mudah menyerah

jelasin pake bahasanya kalo ada yang ndak paham maunya

apa. (Wcr-GS. 46-49)”

1. Waktu Ditemukannya Tanda-tanda Keterlambatan Bicara pada Subjek

Untuk mengetahui kapan pertama kali tanda-tanda keterlambatan bicara pada subjek diketahui oleh orangtua, peneliti mendapatkan keterangan sebagaimana kutipan wawancara berikut;

“Dulu pas main ke rumah neneknya, di Krian sana,

neneknya yang sadar pertama kali, pas disuruh ngambilin

sendok malah ngambilnya piring. Neneknya heran, Jihan

kok lebih suka diam, padahal seharusnya anak seusia itu

lagi cerewet-cerewetnya. Terus neneknya minta saya buat

bawa Jihan periksa ke dokter, tapi sampai sekarang belum

saya periksakan, hehe. Tetangga-tetangga juga sering

nanya ke saya, Jihan belum bisa ngomong yaa mbak?. Hati

saya jadi ciut sebenarnya, tapi saya yakin ini cuma

sementara, sebentar lagi juga pasti bisa bicara kalo dilatih

(79)

70 Selain dari ketererangan orangtua subjek diatas, guru subjek juga mengungkapan tanda-tanda keterlambatan bicara subjek. Sebagaimana kutipan wawancara dengan guru subjek dibawah ini;

“Pas pertama masuk dulu anaknya ndak begitu menonjol.

Tapi lama-kelamaan perhatian saya mulai tertuju pada

beberapa anak, yaa salah satunya Jihan itu. Anak-anak

yang lain kalo disuruh menyebutkan nama hewan misalnya,

udah bisa. Tapi beberapa anak ini, yang salah satunya

Jihan itu cuma diam. Terus saya bicara sama ibunya,

ibunya bilang kalo Jihan memang belum bisa bicara

dengan lancar, masih harus dituntun. Saya juga nanya apa

dirumah ndak pernah dilatih bicara, ibunya jawab yaa

dilatih, tapi yaa mungkin agak telat karena ibunya baru

sadar kalo perkembangan bicara Jihan ndak seperti yang

lain pas usianya dua tahun lebih. (Wcr-GS. 52-65)”

(80)

71

“Saya ndak tau kenapa mbak, padahal selama ini normal

-normal ajah. Mulai tengkurap, brangkang, jalan semuanya

normal kok. (Wcr-OS. 53-55)

Yaa memang pernah dulu sakit panas sampai kejang gitu,

tapi yaa saya kira normal ajah, karena ada juga beberapa

tetangga yang anaknya gitu. Saya pernah tanya ke mertua

saya. Ayahnya dulu juga agak terlambat bicaranya, tapi

gak lama. Pas di TK ayahnya sudah bisa ngomong seperti

anak-anak yang lain. Gitu kata mertua saya. (Wcr-OS.

57-64)

2. Cara Subjek Berkomunikasi

(81)

72 Petikan wawancara dengan orangtua subjek terkait cara subjek berkomunikasi dan bentuk-bentuk penyesuaian diri subjek sebagaimana berikut;

“Yaa pake isyarat gitu dek, kalau mau sesuatu Jihan

nunjuk, kalau dengan nunjuk saya belum paham Jihan

gandeng tangan saya. Terus saya tanya “yang ini?” Jihan

geleng-geleng kalo ndak seperti keinginannya,

manggut-manggut kalo cocok. Kalau ada orang jualan lewat gitu

dan Jihan mau beli kadang yaa cuma diam dilihatin tok,

kalo saya pas ngerti yaa saya tanya Jihan mau beli taa?

terus jihan manggut-manggut. Tapi kadang juga dia berani

teriak “mbaaaaas”. (Wcr-OS. 63-77)

Pas main sama teman-temannya gitu Jihan diam ajah,

ngikut. Ndak ada kok tanda-tanda kalau Jihan minder.

Kalau mau manggil temannya pasti teriak “heee, heee”

gitu, kalo yang dipanggil belum juga noleh Jihan mendekat

terus nepuk pundaknya sambil bilang “hee”. (Wcr-OS.

79-84)

Ndak pernah dek, Jihan ndak pernah nangis atau

marah-marah kalo ada yang ndak paham sama maksudnya.

(Wcr-OS. 87-89))

Yaa udah lebih baik kok dek, daripada dulu. Sekarang

(82)

73 meyebutkan nama teman-temannya walaupun masih

dituntun, Kalo diminta ngambil sesuatu gitu juga sudah

benar. (Wcr-OS. 92-96)”

Selain dari orangtua subjek, hasil wawancara dengan guru subjek juga dapat menggambarkan cara yang digunakan subjek untuk berkomunikasi dan bentuk-bentuk penyesuaian diri subjek. Petikan wawancara tersebut sebagaimana berikut;

“Ndak pernah, Jihan ndak pernah bertengkar sama

temannya. Kalau ada yang merebut mainannya gitu dia

mengalah. Kalau pas ketahuan saya yaa saya tegur

anaknya yang merebut itu. Yaa lucu juga kalo lihat pas jam

istirahat gitu. Ada beberapa mainan yang disukai anak

lain, yang kalau Jihan mainin mainan itu selalu direbut.

Jadi Jihan nunggu temannya yang suka merebut itu

ngambil mainan yang lain, baru Jihan mau ngambil

mainan itu. (Wcr-GS. 67-77)

Kalau mau p

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa ungkapan bicara tidak sosial pada anak adalah mengumpat, berbicara hal yang dianggap kotor, bicara hal yang dianggap orang lain tidak

Berdasarkan paparan di atas penulis melakukan penelitian ini, untuk mengetahui angka kejadian keterlambatan bicara disertai gangguan pendengaran pada anak yang

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi kepada tiga subjek yang merupakan ibu dari anak yang mengalami keterlambatan bicara, analisis tematik terhadap

Berdasarkan pengamatan serta temuan lainnya seperti wawancara dan dokumentasi maka dapat disimpulkan bahwa peneliti telah melakukan beberapa upaya untuk menstimulasi anak dalam

Upaya yang diberikan Keluarga pada Anak usia 3-4 tahun Ibu subjek menyadari dengan keterlambatan bicara subjek membuatnya untuk memberikan perhatian lebih tersebab ibu subjek

Keterlambatan bicara speech delay pada anak studi kasus anak usia 5 tahun.. Keterlambatan Bicara Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran Anak Usia

Biasanya menyerupai bentuk karakter seperti boneka teddy bear Keuntungan Sebagai hiburan dan koleksi Sebagai alat bantu terapi bicara anak dengan keterlambatan bicara

Peningkatan kemampuan berbicara anak melalui stimulasi kognitif, emosional, dan spiritual Speech Delay Kondisi keterlambatan bicara pada anak yang menghambat kemampuan mereka dalam