METODE PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Karakteristik Responden Masyarakat
Masyarakat Desa Timbang Lawan berjumlah 165 orang dari total jumlah keluarga di Dusun VIII yaitu 280 kepala keluarga. Karakteristik masyarakat Desa Timbang Lawan Dusun VIII selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Karakteristik Responden Masyarakat Desa Timbang Lawan
No Kategori Frekuensi (F) Persentase (%)
1. Usia
Lanjutan Tabel tahun. Masyarakat Desa Timbang lawan, mayoritas terdiri kelompok dengan usia 28 tahun – 34 tahun (19 %) dan 42 tahun – 48 tahun (19%). Hal ini menunjukkan, bahwa masyarakat di Desa Timbang Lawan pada usia 28 - 48 tahun masih produktif berkegiatan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan, responden laki laki lebih dominan daripada responden perempuan. Karena sebagai kepala keluarga, responden laki laki bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sehingga yang lebih mengerti kondisi ladang dan banyak beraktifitas
disekitar hutan adalah responden laki-laki. Tetapi ada pula beberapa responden perempuan yang juga membantu dalam bekerja dan sebagai kepala rumah tangga.
Adapun tingkat pendidikan formal yang telah diselesaikan oleh responden adalah pendidikan sekolah dasar (SD) sebanyak 57%. Responden yang menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 24,8 % , Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 13,9 % dan menyelesaikan Sarjana hanya 0,6%. Pendidikan terakhir responden didominasi Sekolah Dasar karena responden lebih memilih bekerja untuk membantu orangtua dan belum sadar pentingnya pendidikan. Pendidikan dapat mempengaruhi pendapat atau jawaban dari responden mengenai persepsi terhadap harimau sumatera.
Responden didominasi oleh penduduk asli sebanyak 82,4% dan selebihnya adalah pendatang dari berbagai luar daerah. Masyarakat sudah turun temurun menetap di kawasan tersebut. Sedangkan mayoritas responden berasal dari suku Melayu dengan persentase 84,8% dan beberapa suku yang terdiri dari suku Jawa, Batak, Karo dan Padang. Penduduk asli Desa Timbang Lawan berasal dari suku Melayu yang sudah ada dari generasi ke generasi yang menempati wilayah desa.
. Kategori responden berdasarkan pekerjaan adalah sebagai petani sebesar 51,5%, buruh sebesar 6,7%, wiraswasta sebesar 23%, karyawan swasta sebesar 3% dan responden perempuan sebagai ibu rumah tangga sebesar 15,8%.
Masyarakat Desa Timbang Lawan mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai petani karena tanah yang dimiliki oleh masyarakat cocok dan subur untuk ditanami. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, teknik menanam sudah diajarkan secara turun menurun oleh generasi sebelumnya sehingga masyarakat belajar teknik menanam berdasarkan pengalaman yang ada sejak dahulu.
Beberapa responden memiliki lahan garapan sendiri untuk dikelola. Dari jumlah responden, sebanyak 98 orang memiliki lahan yang luasnya beragam.
Mayoritas luas lahan yang dimiliki oleh masyarakat terdiri dari 1 ha hingga 1,5 ha sebanyak 49 orang. Lahan ditanam berbagai jenis tanaman seperti padi, palawija, karet, kelapa sawit. Selain itu, masyarakat membuat kolam ikan dan ternak seperti ayam, bebek, lembu dan kerbau. Kepemilikan tanah masyarakat diwariskan oleh keluarga dan berasal hasil garapan. Beberapa masyarakat sudah memiliki Surat
keterangan kepemilikan tanah dari camat maupun izin penggarapan dari Desa.
Masyarakat yang tidak memiliki lahan bekerja sebagai buruh tani di lahan milik petani lainnya, menyewa lahan atau dengan sistem bagi hasil.
Ternak juga menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat.
Sebanyak 44 orang dari keseluruhan responden memiliki ternak sendiri. Data yang diperoleh adalah data ternak lembu dan kerbau. Kepemilikan ternak didominasi oleh masyarakat dengan jumlah 1 hingga 4 ekor sebanyak 35 orang. Jumlah ternak yang dimiliki oleh masyarakat tergantung kondisi keluarga dan lahan yang dimiliki. Teknik pemeliharaan ternak masih dilakukan secara manual dengan membawa ternak menuju perkebunan dan daerah pinggiran sungai kemudian ternak dilepaskan untuk mencari makan sendiri. Kegiatan dilakukan mulai pagi hingga sore hari dan sudah menjadi kebiasaan masyarakat Desa Timbang Lawan.
Sebagian masyarakat memiliki pendapatan sebesar Rp.1.100.000 hingga Rp.2.000.000/ bulan dengan waktu kerja rata-rata perhari nya 7-8 jam.
Berdasarkan wawancara oleh peneliti, hasil pendapatan yang diperoleh berasal dari hasil panen pertanian dan perkebunan. Untuk data penghasilan hanya sesuai perkiraan responden dan peneliti tidak bertanya secara detail perhitungan pemasukan dan pengeluaran yang sudah dilakukan responden. Sehingga tidak diketahui pendapatan yang diperoleh sudah cukup memenuhi kebutuhan masyarakat di Desa Timbang Lawan.
Karakteristik Responden Guru
Guru sebagai salah satu individu berperan penting dalam memberikan pengajaran tentang pendidikan lingkungan terhadap siswa. Guru yang diwawancara oleh peneliti berada di Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Timbang Lawan. Berdasarkan data Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Timbang Lawan, responden berjumlah 14 orang yang terdiri dari 10 guru dan 4 staf pegawai. Karakteristik responden Guru selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini.
Tabel 3. Karakteristik Responden Guru
No Karakteristik Frekuensi (F) Persentase (%)
1. Jenis Kelamin
Sumber : Diolah dari data primer (2020)
Tenaga pengajar di sekolah MIS Timbang Lawan mayoritas adalah guru perempuan dengan persentase sebesar 90% dan selebihnya adalah guru laki-laki.
Dengan usia responden pada penelitian terdiri dari kelompok usia 21-32 tahun sebanyak 2 orang, kelompok usia 33-44 tahun sebanyak 5 orang dan kelompok usia 45-57 tahun sebanyak 3 orang. Sebagian besar guru berasal dari kelompok
usia 33 – 44 tahun. Pada kelompok usia ini, guru masih produktif mengajar di sekolah MIS Timbang Lawan .
Tingkat pendidikan formal yang telah diselesaikan oleh responden adalah sarjana dengan persentase 80% dan pendidikan diploma sebesar 20%. Responden didominasi oleh penduduk asli sebanyak 90 % dan selebihnya adalah pendatang dari berbagai luar daerah. Sedangkan mayoritas responden berasal dari suku Melayu dengan persentase 90% dan suku Jawa. Guru sebagai penduduk asli Desa Timbang Lawan berasal dari suku Melayu mengajar di Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS Timbang Lawan).
Pendapatan yang diperoleh sebagai pengajar sebagian besar mendapat Rp.500.000 – Rp.1.000.000 perbulan dengan persentase (60%). Dengan masa kerja sebagai guru dalam kurun waktu 5 hingga 15 tahun. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, pendapatan guru masih terbilang rendah karena banyak guru di MIS Timbang Lawan berstatus bukan pegawai negeri sipil dan pendapatan tergantung pengelolaan operasional sekolah di daerahnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Meiza (2017) yang menyatakan bahwa guru honorer di Indonesia sebagian besar kesejahteraan secara ekonomi masih relatif kecil untuk bisa memenuhi kebutuhan pribadinya apalagi bila dibandingkan dengan UMP (Upah Minimum Pegawai) di Indonesia. Belum adanya standarisasi untuk UMG (Upah Minimum Guru), sehingga upah/- honor yang diterima setiap masingmasing guru honorer di kabupaten atau kota bervariasi
Karakteristik Responden Siswa Sekolah Dasar
Siswa adalah peserta didik yang berkaitan dalam proses pendidikan yang diberikan oleh Guru dan berkembang sesuai jenjang pendidikannya. Dalam teknis pelaksanaan pengambilan responden terjadi kendala. Sehingga siswa yang diteliti terdiri dari dua kelompok sekolah berbeda yang berasal dari siswa Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Timbang Lawan dan beberapa dari Sekolah Negeri 053956 Kampung Bukit. Siswa dari beragam kelas yaitu kelas satu sampai kelas enam. Penelitian dilaksanakan dalam masa pandemi covid-19 sehingga sekolah membatasi kegiatan mengajar dan siswa sekolah dasar diliburkan. Antisipasi peneliti adalah dengan mengumpulkan responden dengan kriteria siswa sekolah
dasar dan mengambil semua responden yang ada di desa Timbang Lawan.
Responden yang diteliti sebanyak 26 orang. Adapun karakteristik responden siswa Sekolah Dasar (SD) dapat dilihat pada tabel 4 sebagai berikut.
Tabel 4. Responden Siswa Sekolah Dasar (SD)
No Karakteristik Frekuensi (F) Persentase (%)
1. Jenis Kelamin
Sumber : Diolah dari data primer (2020)
Responden terdiri dari sebagian siswa laki laki (50%) dan sebagian perempuan (50%). Dengan cakupan kelompok usia 6 - 9 tahun dengan persentase sebesar 50% dan kelompok usia 10 - 12 tahun dengan persentase sebesar 50%.
Siswa sekolah dasar terdiri dari 2 kelompok responden yang mayoritas berasal dari sekolah di MIS Timbang Lawan dengan persentase 76,9% dan dan Sekolah Dasar Negeri 053956 Kampung Bukit dengan persentase 23,1%.
Persepsi terhadap Harimau Sumatera
Pesepsi adalah cara pandang masyarakat terhadap berbagai informasi dan kejadian yang telah terjadi. Persepsi masyarakat bisa berbeda maupun sama.
Pengetahuan nama lokal harimau sebagai pengetahuan dasar masyarakat terhadap satwa yang berada disekitar desa. Penggunaan nama lokal berdasarkan kepercayaan masyarakat terhadap harimau sumatera. Pengetahuan seputar nama lokal dari Harimau Sumatera selengkapnya dapat di lihat pada tabel 5.
Tabel 5. Pengetahuan Nama Lokal Harimau Sumatera
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Harimau 23 13,9
Sumber : Diolah dari data primer (2020)
Berdasarkan perngetahuan masyarakat, ada 4 nama lokal yang sering diucapkan oleh masyarakat untuk menyebut harimau sumatera. Nama lokal terdiri dari Datuk, Panglima, Belang dan Raja Hutan. Sebagian besar masyarakat memanggil harimau dengan nama panggilan Datuk dengan persentase 58,8%.
Menurut kepercayaan masyarakat, harimau akan hadir mengunjungi pemukiman jika dipanggil atau dibicarakan oleh masyarakat . Untuk mengantisipasi kehadiran harimau, masyarakat memberi nama lokal tersebut. Pernyataan ini berkaitan dengan kearifan lokal setempat yang memiliki kepercayaan mengenai kehadiran harimau. Hal ini sesuai dengan Suhartini (2009) yang menyatakan bahwa kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat disuatu tempat atau daerah maka dari itu kearifan lokal tidaklah sama pada tempat dan waktu yang berbeda dan suku yang berbeda.
Harimau Sumatera dekat dengan kehidupan masyarakat Desa Timbang Lawan, kehadirannya juga dapat menyebabkan konflik jika menimbulkan kerugian kepada masyarakat sehingga dapat memunculkan persepsi yang beragam. Perjumpaan responden terhadap harimau sumatera baik secara langsung maupun tidak langsung dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut.
Tabel 6. Perjumpaan Masyarakat terhadap harimau
No Kategori Frekuensi Persentasi (%)
1 Pernah jumpa 95 57,6
2 Tidak Pernah 70 42,4
Jumlah 165 100
Sumber : Diolah dari data primer (2020)
Berdasarkan tabel diatas, sebanyak 95 reponden Desa Timbang Lawan pernah berjumpa dengan harimau sumatera secara langsung maupun tidak langsung. Lahan yang dikelola sebagai sumber penghasilan masyarakat berdekatan dengan kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).
Sehingga banyak aktivitas berladang masyarakat disekitar kawasan hutan.
Kawasan hutan merupakan bagian habitat berbagai jenis satwa termasuk harimau sumatera yang memungkinkan satwa melintasi daerah jelajahnya. Sehingga perjumpaan harimau dengan masyarakat sering terjadi. Sesuai dengan pernyataan Heriyanto dan Muktar (2011) yang menyatakan bahwa jarak lahan masyarakat yang cukup dekat dan sedang dengan kawasan ini cenderung menyebabkan sering terjadinya gangguan satwaliar yang ke luar dari hutan.
Masyarakat yang memiliki ternak menjadikan lahan perkebunan sebagai lokasi menggembala ternak. Salah satu ternak masyarakat adalah lembu dan kerbau. Pemeliharaan ternak masyarakat memiliki cara dalam memenuhi kebutuhan pakan dilihat selengkapnya pada tabel 7 berikut.
Tabel 7. Pemeliharaan ternak Masyarakat
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Tidak ada 105 63,6
2. Digembala liar 37 22,4
3. Ternak di kandangkan 23 13,9
Jumlah 165 100
Sumber : Diolah dari data primer (2020)
Pemeliharaan ternak masyarakat memiliki dua cara yaitu digembala secara liar dan ternak dikandangkan. Pemeliharaan dengan mengembala secara liar yaitu ternak dibawa menuju sumber pakan dan dibiarkan hingga waktu mengembala selesai. Kemudian menjelang malam, ternak diikat pada perkebunan milik masyarakat. Sedangkan pemeliharaan ternak dengan cara dikandangkan yaitu seluruh kebutuhan pakan ternak disediakan oleh pemilik atau pemilik tetap mengembala ternak keluar kandang menuju sumber pakan. Kemudian menjelang malam, pemilik membawa ternak kembali kedalam kandang. Berdasarkan pengamatan, kandang ternak terbuat dari material kayu atau bambu dengan tinggi kurang lebih 2-3 meter yang di kelilingi kawat pagar sehingga melindungi ternak pada saat malam hari.
Mayoritas responden melakukan pemeliharaan ternak dengan cara digembala liar dengan persentase 22,4% sedangkan responden lainnya memilih untuk mengkandangkan ternak dengan persentase 13,9%. Masyarakat lebih memilih menggembala diluar karena memudahkan peternak dalam mencari pakan yang berlimpah sehingga waktu lebih efisien dan tanpa biaya. Masyarakat yang tidak memiliki kandang memilih mengikat ternaknya di ladang perkebunan. Hal
tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Desa Timbang Lawan. Aktivitas ini yang dapat memicu kehadiran harimau sumatera, karena keberadaan ternak tanpa pengawasan dan tidak didalam kadang akan mudah bagi satwa pemangsa untuk mengincarnya. Hal ini sesuai dengan Violita dkk (2014) yang menyatakan bahwa penggembalaan liar adalah kegiatan menggembala /menggiring hewan ternak untuk mencari pakan didalam kawasan hutan. Kelompok hewan ternak tersebut ditinggalkan oleh pemiliknya sehingga ternak-ternak tersebut bebas berkeliaran dan ada kemungkinan masuk ditanaman muda maupun tutupan. Dan penggembalaan model ini cenderung berpotensi untuk menimbulkan kerusakan.
Masyarakat beranggapan kehadiran harimau sumatera menyebabkan konflik dan menimbulkan kerugian kepada masyarakat. Kerugian masyarakat terhadap kehadiran harimau dapat dilihat selengkapnya pada tabel 8 sebagai berikut.
Tabel 8. Kerugian Masyarakat Terhadap Kehadiran Harimau Sumatera
No Kategori Frekuensi (F) Persentase (%)
1. Tidak Ada 44 18,2
2. Hilangnya ternak 26 15,8
3. Perasaan takut berladang 72 43,6
4. Kehilangan penghasilan 23 13,9
Jumlah 165 100
Sumber : Diolah dari data primer (2020)
Kerugian yang terjadi akibat kehadiran harimau sumatera mengakibatkan sebagian besar masyarakat merasa takut berladang 43,6%. Hal ini karena mata pencaharian masyarakat adalah petani dan aktivitas berladang dilakukan setiap hari. Kegiatan berladang dilakukan sejak pagi hingga sore hari. Selain itu, jarak lahan yang tidak jauh dari kawasan hutan menyebabkan masyarakat khawatir saat bekerja sendiri di ladang. Peristiwa konflik yang juga terjadi di Desa Timbang lawan memunculkan rasa ketakutan bagi masyarakat. Masyarakat beranggapan tidak hanya ternak yang dimangsa oleh harimau tetapi dapat pula membahayakan kehidupan masyarakat. Menurut Nurhaedah dan Purwanti (2013) yang menyatakan bahwa masyarakat yang sebagian berprofesi sebagai petani sangat bergantung kepada sumberdaya lahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Beberapa masyarakat merasa dirugikan karena hilangnya ternak sebesar 15,8%. Jenis ternak yang dimaksud adalah lembu. Konflik yang terjadi akibat harimau sumatera disebabkan salah satunya adalah kebiasaan masyarakat yang
mengikat ternak diladang perkebunan tanpa pengawasan pada malam hari. Tidak ada hewan mangsa seperti babi atau rusa dalam kawasan hutan juga menyebabkan Harimau sumatera masuk kepemukiman untuk memenuhi kebutuhan pakannya.
Selain itu, Harimau yang sudah lanjut usia, dalam kondisi terluka akibat jerat dan perburuan sehingga berkurangnya kelincahan dan kekuatan dalam berburu mangsa juga faktor kehadiran harimau di Desa. Dengan adanya ternak yang dibiarkan tanpa pengawasan akan memudahkan harimau memangsa ternak. Tetapi ada pula hewan lainnya, seperti anjing peliharaan masyarakat dimangsa oleh harimau. Menurut Suryanda dkk (2017) ketika sumber makanan dan tempat berlindung sudah mulai terbatas, maka harimau sumatera akan mencari lokasi alternatif untuk berburu mangsa. Lokasi yang ideal adalah dengan mendatangi permukiman masyarakat. Kehadiran harimau sumatera ini akan menimbulkan konflik dengan masyarakat.
Kehadiran harimau di pemukiman bisa disebabkan berbagai faktor.
Adapun tanggapan masyarakat terhadap penyebab Harimau Sumatera masuk ke desa selengkapnya dapat di lihat pada tabel 9 sebagai berikut.
Tabel 9. Penyebab Harimau Sumatera Masuk Ke Desa
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Rusaknya habitat satwa liar 16 9,7
2. Kebutuhan pakan di dalam hutan tidak tercukupi 146 88,5 3. Pembukaan lahan hutan menjadi kawasan
perkebunan dan peternakan
2 1,2
4. Perburuan harimau 1 0,6
Jumlah 165 100
Sumber : Diolah dari data primer (2020)
Penyebab utama harimau masuk desa adalah kebutuhan pakan tidak tercukupi (88,5%) karena masyarakat menganggap harimau sumatera memangsa ternak lembu milik masyarakat hanya untuk memenuhi kebutuhan makanannya.
Penyebab harimau masuk desa disebabkan berbagai faktor yang saling terhubung.
Lahan yang berada dekat dengan kawasan hutan dahulunya termasuk kawasan jelajah harimau yang sudah hilang akibat perubahan alih fungsi hutan menjadi perkebunan. Sehingga mempengaruhi jumlah satwa mangsa harimau seperti rusa dan babi hutan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Jogasara dkk (2012) yang menyatakan bahwa gangguan tersebut terjadi akibat dari perencanaan dan
penggunaan tata ruang wilayah yang tidak mempertimbangan habitat satwa liar sebagai faktor penyanggga lingkungan hidup.
Kejadian konflik yang terjadi antara harimau sumatera dengan manusia menyebabkan frekuensi kehadiran harimau sumatera semakin sering terlihat di pemukiman sehingga menimbulkan persepsi dari berbagai masyarakat yang tinggal disekitar hutan. Persepsi masyarakat Desa Timbang Lawan Dusun VIII terhadap kehadiran Harimau Sumatera dapat dilihat pada tabel. 10 sebagai berikut.
Tabel 10. Persepsi Masyarakat Terhadap Kehadiran Harimau Sumatera
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Menganggu 123 74,5
2. Tidak menganggu 42 25,5
Jumlah 165 100
Sumber : Di olah dari data primer (2020)
Berdasarkan tabel diatas, sebanyak 74,5% responden merasa terganggu dengan kehadiran harimau. Karena sebagian besar aktivitas sehari- hari masyarakat berada di sekitar hutan. Lokasi lahan yang dikelola masyarakat berdekatan dengan kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Hal ini sesuai dengan pernyataan Dinata dan Sugardjito (2008) yang menyatakan bahwa kawasan hutan yang dekat dengan desa mempunyai tekanan yang lebih besar, karena intensitas aktivitas manusia yang lebih tinggi.
Selain itu, konflik yang pernah terjadi di Desa Timbang lawan menimbulkan adanya rasa khawatir dan takut untuk berladang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suryanda dkk (2017) yang menyatakan seringnya konflik terjadi antara manusia dan harimau sumatera, memicu sikap masyarakat yang negatif terhadap harimau sumatera.
Biarpun merasa dirugikan akan kehadiran harimau sumatera, masyarakat menganggap harimau sumatera memiliki manfaat sebagai penyeimbang ekosistem alam. Berdasarkan hasil wawancara, kejadian konflik yang pernah terjadi di Desa Timbang Lawan tidak menimbulkan sikap masyarakat untuk mengambil tindakan seperti menjerat atau membunuh harimau secara langsung. Persepsi masyarakat Desa Timbang Lawan Dusun VIII mengenai keberadaan manfaat Harimau Sumatera bagi kehidupan keseimbangan alam dapat dilihat selengkapnya pada tabel 11 sebagai berikut.
Tabel 11. Keberadaan manfaat Harimau Sumatera bagi kehidupan keseimbangan Alam
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Ada manfaat 138 83,6
2. Tidak ada manfaat 26 15,8
Jumlah 165 100
Sumber : Diolah dari data primer (2020)
Sebanyak 83,6% responden mengakui manfaat adanya keberadaan harimau sebagai sebagai salah satu indikator yang berperan dalam menjaga ekosistem hutan. Masyarakat beranggapan bahwa kehadiran harimau pertanda jika ekosistem di hutan masih dalam kondisi baik. Menurut Prabowo dkk (2017) yang menyatakan bahwa satwa yang berada dalam posisi teratas dalam piramida makanan (top carnivore), seperti harimau, mempunyai peran relatif lebih besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kehilangan suatu spesies yang merupakan top carnivore, akan menimbulkan goyangan ekosistem yang lebih nyata dibandingkan dengan kehilangan suatu spesies pada umumnya.
Informasi Keberadaan Pendidikan Lingkungan kepada Masyarakat
Konflik yang terjadi di Desa Timbang Lawan merupakan konflik dengan level sedang, yang mana harimau sumatera memangsa hewan ternak milik masyarakat sehingga ada kontak harimau dengan manusia secara tidak langsung.
Namun, jika kejadian konflik terus terjadi dapat berubah menjadi konflik level tinggi yang berarti harimau dapat menyerang manusia. Affandi (2016) menyatakan bahwa konflik harimau memangsa ternak disebut konflik level sedang karena tidak terjadi konflik langsung dengan manusia.
Kejadian konflik harimau sumatera dengan masyarakat Desa Timbang Lawan terjadi pada tahun 2010, 2014, 2018, 2019 dan 2020. Salah satu bentuk upaya pencegahan konflik adalah pemberian sosialisasi dan penyuluhan terhadap masyarakat yang terkena dampak konflik. Pada penelitian ini, peneliti tidak memberikan penyuluhan karena pemberian penyuluhan kepada masyarakat harus dilakukan dengan metode yang tepat dan diberikan oleh orang yang sudah ahli dibidang penyuluhan kehutanan sehingga mampu menarik minat masyarakat ikut berpartsipasi dalam proses penyuluhan. Peneliti hanya mencari informasi tentang penyuluhan yang sudah pernah disampaikan kepada masyarakat. Pemberian
penyuluhan dilakukan oleh berbagai pihak pemerintah maupun lembaga non pemerintah. Keberadaan pihak pemerintah maupun lembaga dalam memberikan penyuluhan dapat dilihat pada tabel 12 sebagai berikut.
Tabel 12. Keberadaan Penyuluhan Mengenai Harimau Sumatera
No Kategori Frekuensi (F) Persentase (%)
1. Pernah 129 78,2
2. Tidak Pernah 36 3,8
Jumlah 165 100
Sumber : Diolah dari data primer (2020)
Kegiatan sosialisasi dan penyuluhan pernah dilakukan oleh pihak pemerintah atau pun lembaga non pemerintah kepada masyarakat di Desa Timbang Lawan (78,2%). Berdasarkan hasil wawancara, sosialisasi dan penyuluhan dilaksanakan di Balai Desa dilakukan beberapa hari setelah terjadi konflik harimau sumatera dengan masyarakat. Adapun sosialisasi dan penyuluhan membahas penyelesaian konflik yang terjadi kepada masyarakat dan membuat kandang untuk ternak lembu bagi masyarakat yang terkena dampak. Menurut Kuswanda (2017) yang menyatakan bahwa mitigasi dapat dilakukan dengan cara mengakomodir harapan-harapan masyarakat terhadap manfaat kawasan taman nasional dan melakukan penyuluhan untuk tidak melakukan eksploitasi lahan sekitar taman nasional secara berlebihan.
Beberapa lembaga berupaya mencari cara untuk meminimalkan konflik harimau dengan masyarakat agar menemukan solusi atas permasalahan yang sudah terjadi. Keberadaan pihak Pemerintah maupun lembaga yang pernah memberikan sosialisasi ataupun penyuluhan di Desa Timbang Lawan Dusun VIII dapat dilihat pada tabel 13 sebagai berikut
Tabel 13. Lembaga yang pernah memberikan sosialisasi ataupun penyuluhan
No Kategori Frekuensi Persentase
(%)
Sumber : Diolah dari data primer (2020)
Berdasarkan tabel diatas, terdapat 5 instansi pemerintah maupun non pemerintah yang pernah melakukan sosialisi ataupun penyuluhan. Lembaga Instansi pemerintah yaitu Dinas Kehutanan yang terdiri dari Balai Besar Taman
Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumut dan Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Wilayah I Stabat, serta Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang merupakan bagian TNI termasuk lembaga instansi pemerintah turut berpartisipasi terhadap penanganan konflik.
Sedangkan Yayasan Hutan dan Anak (Yhua) merupakan lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dibidang konservasi dan lingkungan hidup di Langkat. Mayoritas masyarakat menyatakan ada keterlibatan Dinas kehutanan dalam pelaksananan sosialisasi ataupun penyuluhan (49,1%).
Untuk intensitas kehadiran instansi, berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti instansi hanya melakukan sosialisasi saat sudah terjadi konflik selanjutnya tidak ada penyuluhan dan sosialisasi yang dilakukan. Menurut Palilu (2019) yang menyatakan bahwa penanganan konflik sosial adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam situasi
Untuk intensitas kehadiran instansi, berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti instansi hanya melakukan sosialisasi saat sudah terjadi konflik selanjutnya tidak ada penyuluhan dan sosialisasi yang dilakukan. Menurut Palilu (2019) yang menyatakan bahwa penanganan konflik sosial adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam situasi