• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN TERHADAP KONSERVASI HARIMAU SUMATERA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERSEPSI MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN TERHADAP KONSERVASI HARIMAU SUMATERA"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae) DI DESA TIMBANG LAWAN, LANGKAT,

SUMATERA UTARA

SKRIPSI

YULIA SITI MAISAROH 161201041

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(2)

(Panthera tigris sumatrae) DI DESA TIMBANG LAWAN, LANGKAT, SUMATERA UTARA

SKRIPSI

Oleh:

YULIA SITI MAISAROH 161201041

Skripsi sebagai salah satu untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kehutanan

Universitas Sumatera Utara

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(3)
(4)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Yulia Siti Maisaroh

NIM : 161201041

Judul Skripsi : Persepsi Masyarakat dan Pendidikan Lingkungan terhadap Konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Timbang Lawan, Langkat, Sumatera Utara

Menyatakan bahwa skripsi ini adalah karya sendiri. Pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Medan, Juli 2021

Yulia Siti Maisaroh 161201041

(5)

ABSTRACT

YULIA SITI MAISAROH: Community Perception and Environmental Education on Conservation of the Sumatran Tiger (Panthera Tigris Sumatrae) in Timbang Lawan Village, Langkat, North Sumatra, supervised by PINDI PATANA

Research on Community Perception and Environmental Education on Conservation of the Sumatran Tiger (Panthera tigris sumatrae) in Timbang Lawan Village, Langkat, North Sumatra, was conducted in December 2020. The research was done by collecting data from questionnaires to the community and teachers and giving tests to students. The method used for students by giving a pre-test, counseling and at the end with a post-test. Data collection was analyzed using descriptive qualitative analysis. The relationship between the two variables was tested by Spearman rank correlation test. The results of the study stated that the conflict occurred in Timbang Lawan Village caused various perceptions that emerged from the community. The people of Timbang Lawan Village are disturbed by conflicts that have occurred the community. The correlation result of the occupational factor is 0.428 with a strong enough interpretation, while the age factor is 0.267 and the education factor is 0.240 with a low interpretation. So that the forming factor of public perception is the occupational factor. Environmental education is provided by teachers only as additional material but is not included in the school curriculum. Providing counseling about environmental education with visual media methods greatly affects the understanding of high grade students consisting of grades four, five and six.

Providing counseling to low grade students consisting of grades one, two and three does not affect students' understanding because the method used is less effective , is too short and requires more approach to lower grade students.

Keywords: Sumatran Tiger, Perception, Environmental Education

(6)

ABSTRAK

YULIA SITI MAISAROH: Persepsi Masyarakat dan Pendidikan Lingkungan terhadap Konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa

Timbang Lawan, Langkat, Sumatera Utara, dibimbing oleh: PINDI PATANA

Penelitian tentang Persepsi Masyarakat dan Pendidikan Lingkungan terhadap Konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Timbang Lawan, Langkat, Sumatera Utara, dilaksanakan pada bulan Desember 2020. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data dari hasil kuisioner masyarakat, guru dan siswa. Metode yang dilakukan kepada siswa diawali dengan pemberian pre test, pemberian penyuluhan dan diakhiri dengan post test. Pengambilan data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan pengujian hubungan antara kedua variabel menggunakan uji korelasi rank spearman. Hasil penelitian menyatakan bahwa konflik yang pernah terjadi di Desa Timbang Lawan menyebabkan beragam persepsi yang timbul dari masyarakat. Masyarakat Desa Timbang Lawan merasa khawatir dengan kejadian konflik. Hasil korelasi faktor pekerjaan bernilai 0,428 dengan interpretasi cukup kuat sedangkan faktor usia bernilai 0,267 dan faktor pendidikan bernilai 0,240 dengan interpretasi rendah. Sehingga faktor pembentuk dari persepsi masyarakat adalah faktor pekerjaan. Pendidikan lingkungan diberikan oleh guru hanya sebagai materi tambahan tetapi tidak masuk dalam kurikulum sekolah.

Pemberian penyuluhan tentang pendidikan lingkungan dengan metode media visual sangat berpengaruh terhadap pemahaman siswa kelas tinggi yang terdiri dari kelas empat, lima dan enam. Pemberian penyuluhan terhadap siswa kelas rendah yang terdiri dari kelas satu, dua dan tiga tidak mempengaruhi pemahaman siswa disebabkan metode yang dilakukan kurang efektif, terlalu singkat dan perlu pendekatan lebih terhadap siswa kelas rendah.

Kata kunci: Harimau Sumatera, Persepsi, Pendidikan Lingkungan

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 04 Juli 1998.

Penulis adalah anak keempat dari empat bersaudara oleh pasangan Bapak Wagimun dan Ibu Elly Rusani. Penulis memulai pendidikan formal Sekolah Dasar di SDN Pendidikan 060871, Medan pada tahun 2004-2010, Sekolah Menengah Pertama di SMP Swasta Laksamana Martadinata Medan pada tahun 2010-2013, Sekolah Menengah Atas di SMA Swasta Raksana, Medan pada tahun 2013-2016, dan pada tahun 2016 penulis diterima di Fakultas Kehutanan melalui jalur SNMPTN dan memilih minat Konservasi Sumberdaya Hutan.

Penulis telah mengikuti Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan di Kawasan Hutan Mangrove Lubuk Kertang, Kecamatan Berandan, Kabupaten Langkat pada tahun 2018. Pada tahun 2019 penulis juga telah menyelesaikan Praktik Kerja Lapang (PKL) di Kesatuan Pengolahan Hutan (KPH) IX Madiun, Jawa Timur.

Pada awal tahun 2020 penulis melaksanakan penelitian dengan judul

“Persepsi Masyarakat dan Pendidikan Lingkungan Terhadap Konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Timbang Lawan, Langkat, Sumatera Utara” dibawah bimbingan Bapak Pindi Patana, S.Hut, M.Sc

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Adapun skripsi berjudul

“Persepsi Masyarakat dan Pendidikan Lingkungan Terhadap Konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Timbang Lawan, Langkat, Sumatera Utara” ini sebagai syarat untuk menyelesaikan tugas akhir di Program Studi Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada:

1. Pindi Patana, S.Hut., M.Sc selaku Komisi pembimbing yang telah memberi masukan dan arahan kepada penulis dalam menulis dan menyelesaikan skripsi ini.

2. Orangtua yang paling dicintai yaitu Ayah Wagimun dan Ibu Elly Rusani serta kedua kakak penulis Mutiara Istiqomah dan Nurul Nia Aqsari yang selalu mendukung dan terus memotivasi penulis untuk menyelesaikan skripsi.

3. Harisyah Manurung, S.Hut.,M.Si., Dr. Ir. Ok. Hasnanda Syahputra, M.P. dan Dr. Delvian, S.P., M.P. selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan arahan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Syaiful Bahri dan Erliani yang sudah membantu dalam penelitian di Desa Timbang Lawan Dusun VIII Kecamatan Bahorok, Langkat, Sumatera Utara.

5. Najmariah, S.Pd selaku kepala sekolah, guru-guru dan staff di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Timbang Lawan.

6. Teman penelitian Widiawati, Tika Yuana Sari dan Nurul Hidayati Rizky serta teman-teman stambuk 2016 Program Studi Kehutanan Fakultas Kehutanan yang sudah membantu penulis menyelesaikan penelitian ini.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Juli 2021

Yulia Siti Maisaroh

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... i

PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

ABSTRACT ... iii

ABSTRAK ... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 2

Hipotesis Penelitian ... 2

Manfaat Penelitian ... 2

TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum ... 4

Harimau Sumatera ... 4

Persepsi Masyarakat ... 5

Kesadaran masyarakat terhadap Harimau Sumatera ... 6

Pendidikan Lingkungan Harimau Sumatera ... 8

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 10

Alat dan Bahan Penelitian ... 10

Prosedur Penelitian... 10

Persiapan ... 10

Pengambilan Data ... 11

Penentuan Populasi dan Sampel ... 11

Pemberian Pre Test dan Post Test ... 12

Analisis Data ... 12

Analisis Deskriptif ... 12

Analisis Korelasi Rank Spearman ... 13

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Masyarakat ... 14

Guru ... 17

Siswa ... 19

(10)

Persepsi terhadap Harimau Sumatera... 20

Informasi Keberadaan Pendidikan Lingkungan ... 26

Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat ... 28

Pendidikan Lingkungan Sekolah Timbang lawan... 30

Manfaat Pemberian Lingkungan Terhadap Siswa ... 34

KESIMPULAN DAN SARAN ... 39

DAFTAR PUSTAKA ... 40

(11)

DAFTAR GAMBAR

No Teks Halaman

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian ... 10

(12)

DAFTAR TABEL

No Teks Halaman

Tabel 1. Interpretasi Nilai Korelasi Rank Spearman ... 13

Tabel 2. Karakteristik Responden Masyarakat Desa Timbang Lawan Dusun VIII ... 14

Tabel 3. Karakteristik Responden Guru ... 18

Tabel 4. Karakteristik Responden Siswa Sekolah Dasar (SD) ... 20

Tabel 5. Pengetahuan Nama Lokal Harimau Sumatera ... 21

Tabel 6. Perjumpaan Masyarakat terhadap Harimau Sumatera ... 21

Tabel 7. Pemeliharaan Ternak Masyarakat ... 22

Tabel 8. Kerugian Yang Di Rasakan Masyarakat Terhadap Kehadiran Harimau Sumatera ... 23

Tabel 9. Penyebab HarimauSumatera Masuk ke Desa ... 24

Tabel 10. Persepsi Masyarakat terhadap Kehadiran Harimau Sumatera ... 25

Tabel 11. Keberadaan Manfaat Harimau Sumatera bagi Kehidupan Keseimbangan Alam... 26

Tabel 12. Keberadaan Penyuluhan mengenai Harimau Sumatera ... 27

Tabel 13. Lembaga yang pernah memberi sosialisasi ataupun penyuluhan ... 27

Tabel 14. Faktor perubahan Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan ... Harimau Sumatera ... 29

Tabel 15. Keberadaan Pendidikan Lingkungan di Sekolah ... 30

Tabel 16. Keberadaan Guru Dalam Memberikan Materi Tentang Satwa ... 31

Tabel 17. Metode Mengajar Guru untuk Menarik Minat Siswa ... 31

Tabel 18. Pengetahuan Siswa Mengenai Beda Harimau, Singa Dan Macan ... 32

Tabel 19. Siswa Yang Mengetahui Harimau Melalui Dongeng ... 33

Tabel 20. Hasil Pre test Siswa Sekolah Dasar Kelas Rendah ... 34

Tabel 21. Hasil Pro Test Siswa Sekolah Dasar Kelas Rendah ... 35

Tabel 22. Hasil Pre test Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi ... 36

Tabel 23. Hasil Pro Test Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi ... 37

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

No Teks Halaman

Lampiran 1. Dokumentasi Wawancara dan Pengisian Kuisioner

kepada Masyarakat ... 46

Lampiran 2. Dokumentasi Pemberian Pre Test dan Post Test kepada Siswa . 47 Lampiran 3. Dokumentasi Wawancara dan Pengisian Kuisioner kepada Guru Sekolah Dasar ... 48

Lampiran 4. Data Karakteristik Sekolah ... 49

Lampiran 5. Kuisioner Masyarakat ... 50

Lampiran 6. Kuisioner Guru ... 53

Lampiran 7. Soal Pre Test ... 55

Lampiran 8. Soal Post Test ... 57 .

(14)

Latar Belakang

Indonesia pernah memiliki tiga dari delapan sub spesies harimau yang ada didunia, namun dua diantaranya, yaitu harimau jawa (Panthera tigris sondaica) dan harimau bali (Panthera tigris balica) telah dinyatakan punah, masing-masing pada tahun 1940-an dan 1980-an. Saat ini hanya sub spesies harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang tersisa dan hidup pada habitat yang terfragmentasi dan terisolasi satu dengan lainnya. Harimau sumatera hanya terdapat di Sumatera dan merupakan sub spesies dengan ukuran tubuh rata-rata

terkecil diantara subspesies harimau yang ada saat ini (Departemen Kehutanan, 2007).

Berkurangnya populasi harimau disebabkan oleh berbagai faktor seperti menyempitnya areal hutan yang dikonversi menjadi lahan perkebunan, pemukiman, pertanian, dan industri, sehingga mempersempit habitat yang dapat berdampak pada penurunan populasi. Perkembangannya konflik satwa liar dengan masyarakat terus meningkat bahkan sudah berada dalam tahap yang sangat meresahkan dan memprihatinkan. Penanggulangan konflik satwa liar dengan masyarakat perlu segera ditangani dengan benar. Agar penanggulangan konflik satwa liar dengan manusia dapat terlaksana lebih adil, peduli, dan saling menguntungkan diperlukan peningkatan efektifitas manajemen penanggulangan konflik satwa liar diantaranya melalui pengembangan pendidikan dan pelatihan dalam rangka penanggulangan konflik satwa liar yang berbasis konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (Sumitran dkk, 2014).

Angka laju pengurangan hutan yang cukup besar, selain berdampak merugikan dalam banyak hal juga merupakan sesuatu yang sangat merugikan bagi keberadaan satwa liar di Indonesia. Bukan tidak mungkin dengan terus berlangsungnya kerusakan hutan lama kelamaan jumlah satwa liar yang mengalami kepunahan akan semakin bertambah. Untuk itulah, maka diperlukan adanya perhatian dan kepedulian dari semua pihak agar hal tersebut tidak terjadi di negeri tercinta ini. Kepedulian terhadap satwa liar ini harus ditanamkan sejak dini, agar dalam setiap gerak kehidupan sesuai dengan perkembangan usia

(15)

manusia, mereka selalu menaruh perhatian terhadap satwa liar dalam bentuk tindakan kongkrit, yang dapat ikut mencegah kepunahan satwa liar. Penanam kepedulian terhadap satwa liar sejak usia dini dapat dilakukan dengan berbagai cara (Irianto, 2014).

Konservasi habitat dan spesies yang terancam punah tidak dapat dicapai lagi tanpa memperhitungkan dampak-dampak manusia terhadap lingkungan, sehingga diperlukan kegiatan memberikan pemahaman kepada komunitas masyarakat di sekitar habitat satwa. Pendidikan konservasi dan lingkungan hidup pada siswa sekolah dipandang sebagai kegiatan yang menjanjikan untuk keberlanjutan program konservasi lingkungan (Christita dkk, 2018).

Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui manfaat pendidikan lingkungan kepada siswa sekolah dasar terhadap kesadaran konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) 2. Untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap konservasi Harimau Sumatera

(Panthera tigris sumatrae) Hipotesis Penelitian

1. Pembentuk faktor persepsi yaitu usia, pendidikan, dan pekerjaan berpengaruh terhadap persepsi masyarakat Timbang Lawan terkait konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)

Manfaat penelitan

Manfaat yang diharapkan dengan adanya penelitian ini adalah sebagai salah satu media informasi untuk meningkatkan kesadaran terhadap generasi

konservasionis sejak dini terhadap konservasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae)

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

Kondisi Umum Penelitian

Sebagai salah satu wilayah yang merupakan kawasan minapolitan, Kecamatan Bahorok berada pada 105 m di atas permukaan laut serta terletak pada 03°20‟30” – 03°36‟51” (LU) dan 98°36‟15” – 98°59‟06” (BT). Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Batang Serangan, sebelah selatan dengan Kabupaten Karo, sebelah timur dengan Kecamatan Serapit, Kecamatan Salapian, Kecamatan Kutambaru, dan sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Aceh.

Kecamatan Bahorok memiliki luas 1.101,83 Km2 (BPS Kabupaten Langkat, 2017).

Desa Timbang Lawan terletak antara : 03o30`23,70" Lintang Utara dan 98o 09`58,56" Bujur Timur. Desa ini terbagi menjadi 10 dusun, yang terdiri dari dusun I, dusun II, Dusun III, Dusun IV, Dusun V, Dusun VI, Dusun VIII, Dusun VIII Pulau Pisang, Dusun VIII Simpang Mursal dan Dusun IX. Dengan pembagian wilayah, satu dusun berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), 5 dusun berbatasan dengan perkebunan PT. PP LONSUM, dan 4 dusun terletak diantara persawahan Timbang Lawan.

Desa Timbang Lawan terletak di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera merupakan desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Potensi bidang pertanian di desa ini sangat beragam namun masyarakat sekitar lebih banyak bersawah yang terdiri dari tanah sawah irigasi 443 hektar, tegal atau ladang 792 hektar. Sebagian besar penduduknya adalah petani dan sektor unggulannya adalah sektor pertanian. Padi merupakan komoditi pertanian yang paling banyak ditanam petani, ini terlihat dari penggunaan lahan yang terdiri dari tanah sawah irigasi 443 hektar, tegal atau ladang 792 hektar.

Selain areal pertanian terdapat juga areal perkebunan, peternakan dan pariwisata (Sajar, 2020).

Harimau Sumatera

Harimau (Panthera tigris) merupakan satwa liar yang sangat adaptif, karena dapat ditemukan diberbagai tipe habitat, mulai dari hutan tropis, rawa,

(17)

hutan bakau, hingga padang rumput di kaki bukit Himalaya. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan sub spesies dari harimau yang sedang diperjuangkan agar tidak punah. Sub spesies ini adalah bagian dari enam sub- spesies lain yang masih ditemukan di Indonesia, hanya Harimau Sumatera yang

masih dapat ditemukan, setelah punahnya Harimau Bali (Panthera tigris balica) dan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) pada

sekitar tahun 1930-an dan 1970-an (Hadadi dkk, 2015).

Harimau sumatera berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) berstatus kritis (Critically Endangered) harus dilindungi jangan sampai diambang kepunahan. Harimau sumatera merupakan subspesies yang masih tersisa di Indonesia (Goodrich et al., 2008). Secara ilmiah harimau sumatera memiliki klasifikasi sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Carnivore Famili : Felidae Genus : Panthera Spesies : Panthera tigris

Sub spesies : Panthera tingris sumatrae

Sedikitnya jumlah populasi harimau sumatera tersebut disebabkan oleh berkurangnya hewan mangsa. Hal ini dapat berdampak pada kelangsungan hidup harimau sumatera. Ketika sumber makanan dan tempat berlindung sudah mulai terbatas, maka harimau sumatera akan mencari lokasi alternatif untuk berburu mangsa. Lokasi yang ideal adalah dengan mendatangi permukiman masyarakat.

Kehadiran harimau sumatera ini akan menimbulkan konflik dengan masyarakat.

Seringnya konflik terjadi antara manusia dan harimau sumatera, memicu sikap masyarakat yang negatif terhadap harimau sumatera. Sikap negatif terhadap harimau sumatera juga dapat ditimbulkan karena rendahnya pengetahuan.

Pengetahuan tentang konservasi harimau sumatera diperlukan dalam menciptakan sikap positif terhadap konservasi harimau sumatera (Suryanda dkk, 2017).

(18)

Harimau Sumatera secara langsung telah membantu kelestarian hidup manusia, namun seringkali manusia tidak sadar dengan hal tersebut, sehingga eksploitasi pada Harimau Sumatera terus berlangsung, padahal kepunahan pada harimau sumatera akan mendorong pada kepunahan spesies lainnya dan akhirnya akan mempercepat kepunahan manusia sendiri (Firdausi dan Emmy, 2017).

Persepsi Masyarakat

Persepsi adalah proses penginderaan dan penafsiran rangsangan suatu obyek atau peristiwa yang diinformasikan, sehingga seseorang dapat memandang, mengartikan dan menginterpretasikan rangsangan yang diterimanya sesuai dengan keadaan dirinya dan lingkungan dimana ia berada, sehingga ia dapat menentukan tindakannya (Cahyono, 2016).

Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda dari objek yang sama karena adanya tiga proses persepsi yaitu: perhatian yang

selektif, gangguan yang selektif dan mengingat kembali yang selektif (Natadjaja dkk, 2009).

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah sebagai berikut: Faktor internal: perasaan, sikap dan karakteristik individu, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan motivasi. Faktor eksternal: latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau ketidakasingan suatu objek (Thoha, 2003).

Persepsi bisa terjadi apabila ada komunikasi, sedangkan komunikasi bisa berlangsung apabila ada persepsi. Dengan demikian antara persepsi dan komunikasi terdapat hubungan yang sangat erat. Dalam perjalannnya untuk mencapai pada tahap. persepsi biasanya melalui beberapa sub proses, yaitu:

berupa stimulus atau situasi yang hadir, terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan dengan suatu stimulus baik berupa stimulus penginderaan dekat dan langsung maupun berupa bentuk lingkungan sisiokultur dan fisik yang

(19)

menyeluruh, berupa proses Registrasi, gejala yang nampak pada masa registrasi ialah mekanisme fisik berupa penginderaan dan syaraf seseorang terpengaruh kemampuan lisik untuk mendengar dan melihat akan mempengaruhi persepsi.

Kemudian mulai mendaftar semua informasi yang terdengardan terlihat, proses Interpretasi yang merupakan proses kognitif dari persepsi yang amat penting.

Proses interpretasi tergantung pada cara pendalaman (leaming), motivasi dan kepribadian seseorang dan dalam hal ini antara orang perorang berbeda proses umpan balik (feed back) yaitu ditanggapan seseorang sebagai hasil dari interpretasi infomasi yang diterima (Ingesti, 2008).

Persepsi masyarakat menyangkut pengelolaan kekayaan sumberdaya alam daerah yang berorientasi pada peningkatan sosial ekonomi berhadapan dengan misi perlindungan yang diemban kawasan konservasi taman nasional. Seringkali perbedaan persepsi inilah yang memicu permasalahan antara lain gangguan hutan mulai dari perburuan ilegal, pemungutan hasil hutan tanpa ijin hingga perambahan lahan. Sehingga kondisi masyarakat tersebut perlu diketahui agar pengelolaan potensi kawasan konservasi dapat diarahkan pada sistem kolaborasi yang dapat dilaksanakan oleh berbagai pihak yaitu masyarakat, pemerintah daerah dan pengelola kawasan (Laobu dkk, 2018),

Kesadaran masyarakat terhadap Harimau Sumatera

Pendidikan konservasi dan lingkungan mutlak diperlukan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian sumber daya alam. Undang-undang No. 5 tahun 1990 telah mengatur tentang konservasi keanekaragaman hayati, termasuk pengelolaan sumber daya alam hayati dengan tiga hal, yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dan pemanfaatan secara lestari keaneka-ragaman hayati dan ekosistemnya. Berlandaskan undang-undang tersebut hendaknya masyarakat peduli akan pentingnya keanekaragaman hayati di sekitarnya. Namun masyarakat Indonesia rasanya kurang peduli akan lingkungan sekitar (Apriana, 2019).

Krisis moral telah menjalar dan menjangkiti bangsa ini. Nilai-nilai etika dan estetika telah terkerdilkan oleh gaya hidup instan, pragmatis, dan

(20)

melembaganya budaya kekerasan. Karakter anak-anak bangsa melemah karena nilai-nilai luhur dan kearifan sikap hidup telah melemah. Salah satu tawaran adalah pendidikan karakter yang diharapkan menjadi pondasi utama dalam meningkatkan derajat dan martabat bangsa Indonesia. Salah satu nilai-nilai karakter adalah, “Nilai karakter religius”. Nilai tersebut berkaitan dengan pikiran, perkataan dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai- nilai ajaran agama yang dianutnya. Nilai karakter religius mencakup jujur,peduli sesama, bersahabat. Sikap peduli merupakan hal yang paling unik dalam hidup ini, karena kepedulian dapat mengantarkan pada banyak keberuntungan (Aziz, 2016).

Secara kebahasaan kesadaran berarti kemampuan individu melakukan hubungan dengan lingkungan serta dengan dirinya sendiri melalui panca indra dan melakukan pembatasan terhadap lingkungannya melalui perhatian. Proses belajar dari alam menghasilkan sebuah budaya yang diturunkan antar generasi yang mampu beradaptasi selaras dengan perubahan alam yang melalui proses panjang memunculkan kearifan lokal. Kearifan lokal ini dapat berbentuk aturan dalam pemanfaatan lahan untuk tempat tinggal dan penghidupan secara berkelanjuta serta sebagai aturan hidup. Guna meningkatkan kesadaran akan konservasi di dalam tradisi tersebut, berbagai upaya telah dilakukan antara lain melalui kampanye yang dilakukan oleh LSM yang melaksanakan program tersebut (Hafizd dkk, 2017).

Konsep kepedulian lingkungan menunjuk kepada konsep evironmental concern dalam bahasa inggris. Unsur yang terpenting dalam kepedulian lingkungan adalah perhatian, sikap, kepercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai tentang lingkungan yang memberikan tuntutan bagi sikap perilaku seseorang apakah mendukung kualitas lingkungan atau sebaliknya menentang. Lebih lanjut dikatakan kepedulian berkaitan erat dengan perasaan mampu (the sense of capacity) dalam menghadapi lingkungan alam dalam hal ini memiliki rentang dari menerima kerusakan suatu sifat menyenangi atau membenci, kepada rasa yakin berkompetensi secara individual maupun kelompok untuk memperbaiki kesalahan kesalahan yang di tanggapi. Hal ini berarti dalam pelestarian merupakan bentuk

(21)

reaksi perasaan yang mendalam dan ketertarikan pada dimensi pelestarian yang mencakup aspek perlindungan, pemeliharaan dan pemanfaatan. (Siswanto, 2010).

Kepedulian Masyarakat terhadap lingkungan adalah suatu cara manusia melestarikan lingkungan agar tidak terganggu / diganggu oleh manusia lain yang tidak bertanggung jawab lebih lanjut lagi dijelaskan bahwa bentuk kepedulian adalah Moral persuation, misalnya membujuk orang untuk ikut melestarikan alam dengan diberikan penyuluhan-penyuluhan, Suing for damages, menuntut ke pengadilan apabila seseorang atau kelompok merusak lingkungan, Prohibition, misalnya pembuatan larangan untuk merusak lingkungan, Paymen and incentives, memberikan dorongan atau dana untuk melestarikan lingkungan, Pollutionright and pollution charges, memberikan sanksi hukuman kepada seseorangatau kelompok yang mencemari lingkungan (Hidayat, 2017).

Pendidikan Lingkungan

Proses memperkenalkan alam dan isinya dengan cara berada langsung di alam bebas, dengan melakukan pengamatan merupakan cara yang efektif untuk menghadirkan kesadaran pentingnya keseimbangan dan keberadaan sebuah ekosistem. Program ini merupakan sebuah cara dalam menyebarkan informasi tentang usaha pelestarian dan perlindungan pada suatu kawasan yang dilindungi atau kawasan-kawasan yang perlu dilindungi beserta isinya. Program pendidikan konservasi adalah sebuah program jangka panjang yang tiada batas kapan akan berakhir, karena program ini setiap waktu terus berkembang, seiring dengan perubahan dan perkembangan jaman. Pendidikan konservasi merupakan salah satu pembelajaran secara eksperiental (Rachman, 2012).

Kesadaran dan kepedulian manusia terhadap lingkungan tidak dapat tumbuh begitu saja secara alamiah, namun harus diupayakan pembentukannya melalui pendidikan lingkungan hidup atau pendidikan konservasi. Pendidikan konservasi alam perlu dilakukan sejak dini untuk menciptakan generasi muda yang cinta alam dan berwawasan lingkungan. Pendidikan konservasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan, mengenali pentingnya suatu lingkungan dan memperjelas konsep lingkungan itu sendiri. Melalui Pendidikan konservasi ini dapat meningkatkan pengetahuan, keahlian, motivasi siswa dan juga

(22)

menumbuhkan tanggung jawab untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan efisien Pendidikan konservasi alam dapat dilakukan dengan berbagai macam metode yang sesuai dengan tingkatan siswa yang dihadapi. Penerapan Pendidikan konservasi dapat dilakukan dalam beberapa model serta teknik atau pola belajar

yang sesuai dengan lingkungan sekitarnya dan kemampuan siswa itu sendiri (Sari dan Soenarno, 2018).

Pendidikan pada usia anak merupakan tahapan penting didalam pembentukan karakter. Pada usia tersebut, anak dapat melakukan identifikasi dengan mengamati karakteristik nilai sosial melalui proses pembelajaran. Dengan karakteristik mereka, pembelajaran melalui interaksi sosial yang menyenangkan akan memiliki pengaruh yang positif dalam menanamkan nilai-nilai tertentu, misalnya penghargaan akan keberagaman makhluk hidup, manfaat, serta upaya konservasinya (Saroyo dkk, 2019).

Media pendidikan merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik. Alat bantu itu disebut media pendidikan sedangkan komunikasi adalah sistem penyampaiannya Komunikasi merupakan poses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain dengan menggunakan media, simbol atau tanda untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan pendidikan, komunikasi di maksudkan untuk menambah pengetahuan, keterampilan dan sikap komunikan atau sasaran didik dalam konteks tertentu (Danim,1994).

Media pembelajaran merupakan unsur yang amat penting dalam proses pembelajaran selain metode mengajar. Salah satu media diantaranya adalah multimedia, yang digunakan untuk menyajikan informasi dalam bentuk yang menyenangkan, menarik, mudah dimengerti, dan jelas. Media grafis merupakan media visual yang menyajikan fakta, ide atau gagasan melalui penyajian kata- kata, kalimat, angka-angka dan simbol atau gambar. Media grafis memiliki banyak jenis seperti grafik, diagram, bagan, sketsa, poster, papan flannel, papan buletin, kartun, gambar dan sebagainya. Dengan penggunaan media tersebut akan lebih menarik perhatian, memperjelas sajian ide, dan mengilustrasikan fakta-fakta sehingga akan lebih meningkatkan daya serap siswa dalam memahami pesan- pesan pembelajaran (Yulistiana, 2015).

(23)

METODE PENELITIAN

Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2020 di Desa Timbang Lawan, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Alat dan Bahan Penelitian

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, kamera, Laptop, software Microsoft excel. Bahan yang di gunakan dalam penelitian adalah lembar kuisioner, lembar pre-test dan post-test

Prosedur Penelitian

Adapun prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini adalah 1. Persiapan

Pada tahap persiapan dilakukan kegiatan meliputi:

 Survey lokasi penyebaran kuisioner dan wawancara berdasarkan adanya kejadian konflik harimau yaitu di Desa Timbang Lawan Dusun VIII

 Survey sekolah dan pemilihan tempat penyuluhan. Pemilihan lokasi tempat penyuluhan berdasarkan kemudahan akses transportasi, biaya dan waktu peneliti.

 Persiapan materi untuk penyuluhan dengan media visual, peneliti menggunakan media gambar dan infografis terkait harimau sumatera.

(24)

2. Pengambilan Data

Jenis data pada penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari data yang diambil langsung oleh peneliti. Metode pengambilan data dilakukan dengan mengunakan kuisioner dan wawancara. Data diambil pada penyebaran kuisioner meliputi: karakteristik responden, pengetahuan responden, persepsi terhadap harimau sumatera. Kuisioner yang digunakan merupakan kuisioner campuran yang terdiri dari kuisioner terbuka dan kuisioner tertutup.

Selain itu, data diperoleh dari lembar pertanyaan pre-test dan post-test yang berisi pertanyaan seputar harimau sumatera.

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua atau pihak lain. Data sekunder diperoleh peneliti meliputi data penduduk dari kantor kepala desa, data profil desa, data profil sekolah, jurnal dan literatur pendukung yang berkaitan dalam penelitian ini.

3. Penentuan Populasi dan sampel

Populasi dalam penelitian adalah masyarakat di Desa Timbang Lawan dusun VIII, guru dan siswa sekolah dasar. Metode pengambilan sampel menggunakan Simple random sampling, dalam metode tersebut peneliti mengambil responden secara acak sehingga responden memiliki kesempatan yang sama tanpa memperhatikan strata. Penentuan jumlah sampel responden yang diambil menggunakan rumus Slovin

n = N

N.d2 1

Keterangan:

n = jumlah sampel N = jumlah populasi

d2 = batas toleransi yang ditetapkan (0,05)

Jumlah masyarakat Desa Timbang Lawan pada penelitian ini sebanyak 280 kepala keluarga. Data diperoleh dari kantor balai desa, sampel yang diambil sebanyak

n = N

N.d2 1 =

=

= 164,70 digenapkan menjadi 165 Jumlah responden masyarakat yang diteliti sebanyak 165 orang

(25)

4. Pemberian Pre-test dan Post-Test

Responden yang akan diteliti adalah siswa sekolah dasar. Desain penelitian adalah Pre-test Post-test kelompok tunggal. Kelompok tunggal yang dimaksud adalah pengujian dalam penelitian dilakukan hanya pada satu kelompok. Pemberian pre-test dan post-test bertujuan untuk mengukur keberhasilan penelitian. Memberikan Pre-test untuk mengetahui kecerdasaan siswa diawal sebelum diberi perlakuan.

Setelah data diperoleh kemudian dilanjutkan treatment terhadap responden dengan melakukan penyuluhan. Metode penyuluhan dilakukan dengan metode langsung dengan pendekatan kelompok. Peneliti berperan sebagai penyuluh.

Pemberian materi pada penyuluhan menggunakan media visual seperti gambar harimau dan infografis yang dibuat sendiri oleh peneliti.

Dilakukan pengukuran kembali dengan memberikan post-test. Post-test bertujuan untuk melihat perubahan kemampuan siswa setelah dilakukan penyuluhan. Pemberian lembar pre test dan post test masing-masing dilakukan selama 20 menit dan penyuluhan dilakukan selama 1- 1,5 jam. Pengerjaan lembar pre-test dan post- test dikerjakan secara mandiri oleh siswa.

5. Analisis Data Analisis deskriptif

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif.

Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang terkumpul tanpa mengambil kesimpulan. Teknik pengolahan data meliputi :

 Dilakukan pengecekan atau pengoreksian data yang telah dikumpulkan jika data yang diperoleh tidak logis.

 Diberikan kode pada variabel data. Kode yang diberikan berupa angka-angka.

Pada penelitian ini, pemberian kode menggunakan Microsoft excel 2010.

 Diberikan skor pada variabel data. Penentuan skor atas responden berdasarkan klasifikasi dan kategori yang cocok terhadap jawaban responden. Perhitungan skor berdasarkan instrumen pertanyaan

(26)

 Ditabulasi data yang telah diberi kode sesuai variabel yang ingin diambil.

Variabel yang ditabulasi pada penelitian ini terdiri dari karakteristik responden masyarakat, guru dan siswa sekolah

- Jenis pertanyaan peneliti terdiri dari pilihan berganda, skala gutman dan skala likert. Peneliti hanya menetapkan nilai pada skala gutman yang terdiri dua pilihan jawaban yaitu setuju bernilai 2 dan tidak setuju bernilai 0 kemudian data ditabulasi sehingga ditemukan jumlah nilai skor akhir.

Analisis Korelasi Rank Spearman

Pengujian hubungan antara kedua variabel menggunakan uji korelasi rank spearman dengan data skala minimal ordinal. Pengujian korelasi digunakan pada penelitian ini untuk menguji hipotesis pengaruh variabel karakteristik responden masyarakat dengan persepsi masyarakat. Variabel dinyatakan berkorelasi jika nilai hitung (r) mendekati angka 1. Nilai korelasi ini disimbolkan dengan r (dibaca:

). Jika nilai korelasi bernilai positif disebut korelasi searah yang berarti jika nilai variabel x semakin besar maka nilai variabel y bertambah. Sedangkan jika nilai korelasi bernilai negatif disebut korelasi tidak searah berarti jika nilai variabel x semakin besar maka nilai variabel y semakin kecil.

Dirumuskan sebagai berikut:

6 d2 n. n2 1 Keterangan:

r = Koefisien Korelasi rank spearman n = Banyaknya data

𝑑 2 = Ranking Data Variabel X dan Y

Interpretasi hasil korelasi Rank Spearman disajikan pada tabel 1:

Tabel 1. Interpretasi Nilai Korelasi Rank Spearman

Besarnya nilai r Interpretasi

0,800 – 1,000 Sangat kuat

0,600 – 0,799 Kuat

0,400 – 0,599 Cukup kuat

0,200 – 0,399 Rendah

0,000 – 0,199 Sangat Rendah

Sumber: Rahajeng dkk, 2014

(27)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Karakteristik Responden Masyarakat

Masyarakat Desa Timbang Lawan berjumlah 165 orang dari total jumlah keluarga di Dusun VIII yaitu 280 kepala keluarga. Karakteristik masyarakat Desa Timbang Lawan Dusun VIII selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Karakteristik Responden Masyarakat Desa Timbang Lawan

No Kategori Frekuensi (F) Persentase (%)

1. Usia

a. 21 Tahun - 27 Tahun 17 10%

b. 28 Tahun - 34 Tahun 31 19%

c. 35 Tahun - 41 Tahun 30 18%

d. 42 Tahun - 48 Tahun 31 19%

e. 49 Tahun - 55 Tahun 17 10%

f. 56 Tahun - 62 Tahun 18 11%

g. 63 Tahun - 69 Tahun 10 6%

h. 70 Tahun - 76 Tahun 11 7%

Jumlah 165 100

2. Jenis Kelamin

a. Laki-laki 126 76,4

b. Wanita 39 23,6

Jumlah 165 100

3. Pekerjaan

a. Petani 85 51,5

b. Buruh 11 6,7

c. Wiraswasta 38 23

d. Karyawan Swasta 5 3

e. Ibu Rumah Tangga 26 15,8

Jumlah 165 100

4. Pendidikan Terakhir

a. Tidak Ada 6 3,6

b. SD 94 57

c. SMP 41 24,8

d. SMA 23 13,9

e. S1 1 0,6

Jumlah 165 100

5. Status Kependudukan

a. Penduduk Asli 136 82,4

b. Pendatang 29 17,6

Jumlah 165 100

6. Agama

a. Islam 165 100

b. Kristen 0 0

Jumlah 165 100

(28)

Lanjutan Tabel 7. Suku

a. Melayu 140 84,8

b. Karo 3 1,8

c. Batak 5 3,0

d. Jawa 16 9,7

e. Padang 1 0,6

Jumlah 165 100

8. Penghasilan

a. Tidak ada 25 15,2

b. Rp.500.000-Rp.1.000.000 27 16,4

c. Rp. 1.100.000-Rp.2.000.000 86 52,1

d. Rp.2.100.000 - Rp. 3.000.000 15 9,1

e. Rp. 3.100.000 -Rp. 4.000.000 2 1,2

g. Lebih dari Rp. 4.000.000 1 0,6

Jumlah 165 100

9. Luas Lahan

a. Tidak ada 67 40,6

b. kurang dari 1 Ha 31 18,8

c. 1 Ha-1,5 Ha 49 29,7

d. 1,6 Ha - 2 Ha 11 6,7

e. 2,1 Ha- 3 Ha 4 2,4

f. 3,1 Ha-4 Ha 3 1,8

Jumlah 165 100

10. Jumlah Ternak

a. Tidak ada 121 73,4

b. 1 ekor – 4 ekor 35 21,2

c. 5 ekor – 10 ekor 6 3,6

d. 10 ekor – 15 ekor 2 1,2

e. Lebih dari 15 ekor 1 0,6

Jumlah 165 100

11. Waktu kerja

a. Tidak ada 32 19,4

b. 5 jam 3 1,8

c. 7-8 jam 130 78,8

Jumlah 165 100

Sumber : Diolah dari data primer (2020)

Cakupan usia responden pada penelitian terdiri dari usia 21 hingga 76 tahun. Masyarakat Desa Timbang lawan, mayoritas terdiri kelompok dengan usia 28 tahun – 34 tahun (19 %) dan 42 tahun – 48 tahun (19%). Hal ini menunjukkan, bahwa masyarakat di Desa Timbang Lawan pada usia 28 - 48 tahun masih produktif berkegiatan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan, responden laki laki lebih dominan daripada responden perempuan. Karena sebagai kepala keluarga, responden laki laki bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sehingga yang lebih mengerti kondisi ladang dan banyak beraktifitas

(29)

disekitar hutan adalah responden laki-laki. Tetapi ada pula beberapa responden perempuan yang juga membantu dalam bekerja dan sebagai kepala rumah tangga.

Adapun tingkat pendidikan formal yang telah diselesaikan oleh responden adalah pendidikan sekolah dasar (SD) sebanyak 57%. Responden yang menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 24,8 % , Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 13,9 % dan menyelesaikan Sarjana hanya 0,6%. Pendidikan terakhir responden didominasi Sekolah Dasar karena responden lebih memilih bekerja untuk membantu orangtua dan belum sadar pentingnya pendidikan. Pendidikan dapat mempengaruhi pendapat atau jawaban dari responden mengenai persepsi terhadap harimau sumatera.

Responden didominasi oleh penduduk asli sebanyak 82,4% dan selebihnya adalah pendatang dari berbagai luar daerah. Masyarakat sudah turun temurun menetap di kawasan tersebut. Sedangkan mayoritas responden berasal dari suku Melayu dengan persentase 84,8% dan beberapa suku yang terdiri dari suku Jawa, Batak, Karo dan Padang. Penduduk asli Desa Timbang Lawan berasal dari suku Melayu yang sudah ada dari generasi ke generasi yang menempati wilayah desa.

. Kategori responden berdasarkan pekerjaan adalah sebagai petani sebesar 51,5%, buruh sebesar 6,7%, wiraswasta sebesar 23%, karyawan swasta sebesar 3% dan responden perempuan sebagai ibu rumah tangga sebesar 15,8%.

Masyarakat Desa Timbang Lawan mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai petani karena tanah yang dimiliki oleh masyarakat cocok dan subur untuk ditanami. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, teknik menanam sudah diajarkan secara turun menurun oleh generasi sebelumnya sehingga masyarakat belajar teknik menanam berdasarkan pengalaman yang ada sejak dahulu.

Beberapa responden memiliki lahan garapan sendiri untuk dikelola. Dari jumlah responden, sebanyak 98 orang memiliki lahan yang luasnya beragam.

Mayoritas luas lahan yang dimiliki oleh masyarakat terdiri dari 1 ha hingga 1,5 ha sebanyak 49 orang. Lahan ditanam berbagai jenis tanaman seperti padi, palawija, karet, kelapa sawit. Selain itu, masyarakat membuat kolam ikan dan ternak seperti ayam, bebek, lembu dan kerbau. Kepemilikan tanah masyarakat diwariskan oleh keluarga dan berasal hasil garapan. Beberapa masyarakat sudah memiliki Surat

(30)

keterangan kepemilikan tanah dari camat maupun izin penggarapan dari Desa.

Masyarakat yang tidak memiliki lahan bekerja sebagai buruh tani di lahan milik petani lainnya, menyewa lahan atau dengan sistem bagi hasil.

Ternak juga menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat.

Sebanyak 44 orang dari keseluruhan responden memiliki ternak sendiri. Data yang diperoleh adalah data ternak lembu dan kerbau. Kepemilikan ternak didominasi oleh masyarakat dengan jumlah 1 hingga 4 ekor sebanyak 35 orang. Jumlah ternak yang dimiliki oleh masyarakat tergantung kondisi keluarga dan lahan yang dimiliki. Teknik pemeliharaan ternak masih dilakukan secara manual dengan membawa ternak menuju perkebunan dan daerah pinggiran sungai kemudian ternak dilepaskan untuk mencari makan sendiri. Kegiatan dilakukan mulai pagi hingga sore hari dan sudah menjadi kebiasaan masyarakat Desa Timbang Lawan.

Sebagian masyarakat memiliki pendapatan sebesar Rp.1.100.000 hingga Rp.2.000.000/ bulan dengan waktu kerja rata-rata perhari nya 7-8 jam.

Berdasarkan wawancara oleh peneliti, hasil pendapatan yang diperoleh berasal dari hasil panen pertanian dan perkebunan. Untuk data penghasilan hanya sesuai perkiraan responden dan peneliti tidak bertanya secara detail perhitungan pemasukan dan pengeluaran yang sudah dilakukan responden. Sehingga tidak diketahui pendapatan yang diperoleh sudah cukup memenuhi kebutuhan masyarakat di Desa Timbang Lawan.

Karakteristik Responden Guru

Guru sebagai salah satu individu berperan penting dalam memberikan pengajaran tentang pendidikan lingkungan terhadap siswa. Guru yang diwawancara oleh peneliti berada di Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Timbang Lawan. Berdasarkan data Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Timbang Lawan, responden berjumlah 14 orang yang terdiri dari 10 guru dan 4 staf pegawai. Karakteristik responden Guru selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini.

(31)

Tabel 3. Karakteristik Responden Guru

No Karakteristik Frekuensi (F) Persentase (%)

1. Jenis Kelamin

a. Laki –laki 1 10

b. Perempuan 9 90

Jumlah 10 100

2. Usia

a. 21 tahun – 32 tahun 2 20

b. 33 tahun – 44 tahun 5 50

c. 45 tahun – 57 tahun 3 30

Jumlah 10 100

3. Pendidikan Terakhir

a. Diploma 2 20

b. S1/Sarjana 8 80

c. S2/Magister 0 0

Jumlah 10 100

4. Status Kependudukan

a. Penduduk asli 9 90

b. Pendatang 1 10

Jumlah 10 100

5. Agama

a. Islam 10 100

b. Kristen 0 0

Jumlah 10 100

6. Suku

a. Melayu 9 90

b. Jawa 1 10

Jumlah 10 100

7. Penghasilan

a. Rp.500.000 - Rp.1.000.000 6 10

b. Rp. 1.100.000 - Rp.2.000.000 3 60

c. Lebih dari Rp.2.000.000 1 20

Jumlah 10 100

8. Masa Kerja

a. Kurang dari 5 Tahun 2 20

b. 5 Tahun -15 Tahun 6 60

c. 16 Tahun- 25 Tahun 1 10

d. 26 Tahun-35 Tahun 1 10

Jumlah 10 100

Sumber : Diolah dari data primer (2020)

Tenaga pengajar di sekolah MIS Timbang Lawan mayoritas adalah guru perempuan dengan persentase sebesar 90% dan selebihnya adalah guru laki-laki.

Dengan usia responden pada penelitian terdiri dari kelompok usia 21-32 tahun sebanyak 2 orang, kelompok usia 33-44 tahun sebanyak 5 orang dan kelompok usia 45-57 tahun sebanyak 3 orang. Sebagian besar guru berasal dari kelompok

(32)

usia 33 – 44 tahun. Pada kelompok usia ini, guru masih produktif mengajar di sekolah MIS Timbang Lawan .

Tingkat pendidikan formal yang telah diselesaikan oleh responden adalah sarjana dengan persentase 80% dan pendidikan diploma sebesar 20%. Responden didominasi oleh penduduk asli sebanyak 90 % dan selebihnya adalah pendatang dari berbagai luar daerah. Sedangkan mayoritas responden berasal dari suku Melayu dengan persentase 90% dan suku Jawa. Guru sebagai penduduk asli Desa Timbang Lawan berasal dari suku Melayu mengajar di Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS Timbang Lawan).

Pendapatan yang diperoleh sebagai pengajar sebagian besar mendapat Rp.500.000 – Rp.1.000.000 perbulan dengan persentase (60%). Dengan masa kerja sebagai guru dalam kurun waktu 5 hingga 15 tahun. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, pendapatan guru masih terbilang rendah karena banyak guru di MIS Timbang Lawan berstatus bukan pegawai negeri sipil dan pendapatan tergantung pengelolaan operasional sekolah di daerahnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Meiza (2017) yang menyatakan bahwa guru honorer di Indonesia sebagian besar kesejahteraan secara ekonomi masih relatif kecil untuk bisa memenuhi kebutuhan pribadinya apalagi bila dibandingkan dengan UMP (Upah Minimum Pegawai) di Indonesia. Belum adanya standarisasi untuk UMG (Upah Minimum Guru), sehingga upah/- honor yang diterima setiap masingmasing guru honorer di kabupaten atau kota bervariasi

Karakteristik Responden Siswa Sekolah Dasar

Siswa adalah peserta didik yang berkaitan dalam proses pendidikan yang diberikan oleh Guru dan berkembang sesuai jenjang pendidikannya. Dalam teknis pelaksanaan pengambilan responden terjadi kendala. Sehingga siswa yang diteliti terdiri dari dua kelompok sekolah berbeda yang berasal dari siswa Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Timbang Lawan dan beberapa dari Sekolah Negeri 053956 Kampung Bukit. Siswa dari beragam kelas yaitu kelas satu sampai kelas enam. Penelitian dilaksanakan dalam masa pandemi covid-19 sehingga sekolah membatasi kegiatan mengajar dan siswa sekolah dasar diliburkan. Antisipasi peneliti adalah dengan mengumpulkan responden dengan kriteria siswa sekolah

(33)

dasar dan mengambil semua responden yang ada di desa Timbang Lawan.

Responden yang diteliti sebanyak 26 orang. Adapun karakteristik responden siswa Sekolah Dasar (SD) dapat dilihat pada tabel 4 sebagai berikut.

Tabel 4. Responden Siswa Sekolah Dasar (SD)

No Karakteristik Frekuensi (F) Persentase (%)

1. Jenis Kelamin

a. Laki –laki 13 50

b. Perempuan 13 50

Jumlah 26 100

2. Usia

a. 6 Tahun -9 Tahun 13 50

b. 10 tahun – 12 tahun 13 50

Jumlah 26 100

3. Kelas

a. Kelas 1 – 3 10 38,5

b. Kelas 4 – 6 16 61,5

Jumlah 26 100

4. Sekolah

a. SD Negeri 053956 Kampung Bukit 6 23,1

b. MIS Timbang Lawan 20 76,9

Jumlah 26 100

Sumber : Diolah dari data primer (2020)

Responden terdiri dari sebagian siswa laki laki (50%) dan sebagian perempuan (50%). Dengan cakupan kelompok usia 6 - 9 tahun dengan persentase sebesar 50% dan kelompok usia 10 - 12 tahun dengan persentase sebesar 50%.

Siswa sekolah dasar terdiri dari 2 kelompok responden yang mayoritas berasal dari sekolah di MIS Timbang Lawan dengan persentase 76,9% dan dan Sekolah Dasar Negeri 053956 Kampung Bukit dengan persentase 23,1%.

Persepsi terhadap Harimau Sumatera

Pesepsi adalah cara pandang masyarakat terhadap berbagai informasi dan kejadian yang telah terjadi. Persepsi masyarakat bisa berbeda maupun sama.

Pengetahuan nama lokal harimau sebagai pengetahuan dasar masyarakat terhadap satwa yang berada disekitar desa. Penggunaan nama lokal berdasarkan kepercayaan masyarakat terhadap harimau sumatera. Pengetahuan seputar nama lokal dari Harimau Sumatera selengkapnya dapat di lihat pada tabel 5.

(34)

Tabel 5. Pengetahuan Nama Lokal Harimau Sumatera

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1. Harimau 23 13,9

2. Datuk 97 58,8

3. Panglima 23 13,9

4. Belang 18 10,9

5. Raja hutan 4 2,4

Jumlah 165 100

Sumber : Diolah dari data primer (2020)

Berdasarkan perngetahuan masyarakat, ada 4 nama lokal yang sering diucapkan oleh masyarakat untuk menyebut harimau sumatera. Nama lokal terdiri dari Datuk, Panglima, Belang dan Raja Hutan. Sebagian besar masyarakat memanggil harimau dengan nama panggilan Datuk dengan persentase 58,8%.

Menurut kepercayaan masyarakat, harimau akan hadir mengunjungi pemukiman jika dipanggil atau dibicarakan oleh masyarakat . Untuk mengantisipasi kehadiran harimau, masyarakat memberi nama lokal tersebut. Pernyataan ini berkaitan dengan kearifan lokal setempat yang memiliki kepercayaan mengenai kehadiran harimau. Hal ini sesuai dengan Suhartini (2009) yang menyatakan bahwa kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat disuatu tempat atau daerah maka dari itu kearifan lokal tidaklah sama pada tempat dan waktu yang berbeda dan suku yang berbeda.

Harimau Sumatera dekat dengan kehidupan masyarakat Desa Timbang Lawan, kehadirannya juga dapat menyebabkan konflik jika menimbulkan kerugian kepada masyarakat sehingga dapat memunculkan persepsi yang beragam. Perjumpaan responden terhadap harimau sumatera baik secara langsung maupun tidak langsung dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut.

Tabel 6. Perjumpaan Masyarakat terhadap harimau

No Kategori Frekuensi Persentasi (%)

1 Pernah jumpa 95 57,6

2 Tidak Pernah 70 42,4

Jumlah 165 100

Sumber : Diolah dari data primer (2020)

Berdasarkan tabel diatas, sebanyak 95 reponden Desa Timbang Lawan pernah berjumpa dengan harimau sumatera secara langsung maupun tidak langsung. Lahan yang dikelola sebagai sumber penghasilan masyarakat berdekatan dengan kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Sehingga banyak aktivitas berladang masyarakat disekitar kawasan hutan.

(35)

Kawasan hutan merupakan bagian habitat berbagai jenis satwa termasuk harimau sumatera yang memungkinkan satwa melintasi daerah jelajahnya. Sehingga perjumpaan harimau dengan masyarakat sering terjadi. Sesuai dengan pernyataan Heriyanto dan Muktar (2011) yang menyatakan bahwa jarak lahan masyarakat yang cukup dekat dan sedang dengan kawasan ini cenderung menyebabkan sering terjadinya gangguan satwaliar yang ke luar dari hutan.

Masyarakat yang memiliki ternak menjadikan lahan perkebunan sebagai lokasi menggembala ternak. Salah satu ternak masyarakat adalah lembu dan kerbau. Pemeliharaan ternak masyarakat memiliki cara dalam memenuhi kebutuhan pakan dilihat selengkapnya pada tabel 7 berikut.

Tabel 7. Pemeliharaan ternak Masyarakat

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1. Tidak ada 105 63,6

2. Digembala liar 37 22,4

3. Ternak di kandangkan 23 13,9

Jumlah 165 100

Sumber : Diolah dari data primer (2020)

Pemeliharaan ternak masyarakat memiliki dua cara yaitu digembala secara liar dan ternak dikandangkan. Pemeliharaan dengan mengembala secara liar yaitu ternak dibawa menuju sumber pakan dan dibiarkan hingga waktu mengembala selesai. Kemudian menjelang malam, ternak diikat pada perkebunan milik masyarakat. Sedangkan pemeliharaan ternak dengan cara dikandangkan yaitu seluruh kebutuhan pakan ternak disediakan oleh pemilik atau pemilik tetap mengembala ternak keluar kandang menuju sumber pakan. Kemudian menjelang malam, pemilik membawa ternak kembali kedalam kandang. Berdasarkan pengamatan, kandang ternak terbuat dari material kayu atau bambu dengan tinggi kurang lebih 2-3 meter yang di kelilingi kawat pagar sehingga melindungi ternak pada saat malam hari.

Mayoritas responden melakukan pemeliharaan ternak dengan cara digembala liar dengan persentase 22,4% sedangkan responden lainnya memilih untuk mengkandangkan ternak dengan persentase 13,9%. Masyarakat lebih memilih menggembala diluar karena memudahkan peternak dalam mencari pakan yang berlimpah sehingga waktu lebih efisien dan tanpa biaya. Masyarakat yang tidak memiliki kandang memilih mengikat ternaknya di ladang perkebunan. Hal

(36)

tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Desa Timbang Lawan. Aktivitas ini yang dapat memicu kehadiran harimau sumatera, karena keberadaan ternak tanpa pengawasan dan tidak didalam kadang akan mudah bagi satwa pemangsa untuk mengincarnya. Hal ini sesuai dengan Violita dkk (2014) yang menyatakan bahwa penggembalaan liar adalah kegiatan menggembala /menggiring hewan ternak untuk mencari pakan didalam kawasan hutan. Kelompok hewan ternak tersebut ditinggalkan oleh pemiliknya sehingga ternak-ternak tersebut bebas berkeliaran dan ada kemungkinan masuk ditanaman muda maupun tutupan. Dan penggembalaan model ini cenderung berpotensi untuk menimbulkan kerusakan.

Masyarakat beranggapan kehadiran harimau sumatera menyebabkan konflik dan menimbulkan kerugian kepada masyarakat. Kerugian masyarakat terhadap kehadiran harimau dapat dilihat selengkapnya pada tabel 8 sebagai berikut.

Tabel 8. Kerugian Masyarakat Terhadap Kehadiran Harimau Sumatera

No Kategori Frekuensi (F) Persentase (%)

1. Tidak Ada 44 18,2

2. Hilangnya ternak 26 15,8

3. Perasaan takut berladang 72 43,6

4. Kehilangan penghasilan 23 13,9

Jumlah 165 100

Sumber : Diolah dari data primer (2020)

Kerugian yang terjadi akibat kehadiran harimau sumatera mengakibatkan sebagian besar masyarakat merasa takut berladang 43,6%. Hal ini karena mata pencaharian masyarakat adalah petani dan aktivitas berladang dilakukan setiap hari. Kegiatan berladang dilakukan sejak pagi hingga sore hari. Selain itu, jarak lahan yang tidak jauh dari kawasan hutan menyebabkan masyarakat khawatir saat bekerja sendiri di ladang. Peristiwa konflik yang juga terjadi di Desa Timbang lawan memunculkan rasa ketakutan bagi masyarakat. Masyarakat beranggapan tidak hanya ternak yang dimangsa oleh harimau tetapi dapat pula membahayakan kehidupan masyarakat. Menurut Nurhaedah dan Purwanti (2013) yang menyatakan bahwa masyarakat yang sebagian berprofesi sebagai petani sangat bergantung kepada sumberdaya lahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Beberapa masyarakat merasa dirugikan karena hilangnya ternak sebesar 15,8%. Jenis ternak yang dimaksud adalah lembu. Konflik yang terjadi akibat harimau sumatera disebabkan salah satunya adalah kebiasaan masyarakat yang

(37)

mengikat ternak diladang perkebunan tanpa pengawasan pada malam hari. Tidak ada hewan mangsa seperti babi atau rusa dalam kawasan hutan juga menyebabkan Harimau sumatera masuk kepemukiman untuk memenuhi kebutuhan pakannya.

Selain itu, Harimau yang sudah lanjut usia, dalam kondisi terluka akibat jerat dan perburuan sehingga berkurangnya kelincahan dan kekuatan dalam berburu mangsa juga faktor kehadiran harimau di Desa. Dengan adanya ternak yang dibiarkan tanpa pengawasan akan memudahkan harimau memangsa ternak. Tetapi ada pula hewan lainnya, seperti anjing peliharaan masyarakat dimangsa oleh harimau. Menurut Suryanda dkk (2017) ketika sumber makanan dan tempat berlindung sudah mulai terbatas, maka harimau sumatera akan mencari lokasi alternatif untuk berburu mangsa. Lokasi yang ideal adalah dengan mendatangi permukiman masyarakat. Kehadiran harimau sumatera ini akan menimbulkan konflik dengan masyarakat.

Kehadiran harimau di pemukiman bisa disebabkan berbagai faktor.

Adapun tanggapan masyarakat terhadap penyebab Harimau Sumatera masuk ke desa selengkapnya dapat di lihat pada tabel 9 sebagai berikut.

Tabel 9. Penyebab Harimau Sumatera Masuk Ke Desa

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1. Rusaknya habitat satwa liar 16 9,7

2. Kebutuhan pakan di dalam hutan tidak tercukupi 146 88,5 3. Pembukaan lahan hutan menjadi kawasan

perkebunan dan peternakan

2 1,2

4. Perburuan harimau 1 0,6

Jumlah 165 100

Sumber : Diolah dari data primer (2020)

Penyebab utama harimau masuk desa adalah kebutuhan pakan tidak tercukupi (88,5%) karena masyarakat menganggap harimau sumatera memangsa ternak lembu milik masyarakat hanya untuk memenuhi kebutuhan makanannya.

Penyebab harimau masuk desa disebabkan berbagai faktor yang saling terhubung.

Lahan yang berada dekat dengan kawasan hutan dahulunya termasuk kawasan jelajah harimau yang sudah hilang akibat perubahan alih fungsi hutan menjadi perkebunan. Sehingga mempengaruhi jumlah satwa mangsa harimau seperti rusa dan babi hutan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Jogasara dkk (2012) yang menyatakan bahwa gangguan tersebut terjadi akibat dari perencanaan dan

Gambar

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian  Alat dan Bahan Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Zainoel Abidin (RSUDZA) perlu membuat perencanaan di bidang proteksi kebakaran untuk mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan.penilaian dari kelengkapan

Hasil yang didapat selama penelitian, menunjukkan bahwa indikator-indikator pada prinsip transparansi dalam pelayanan publik di Kantor Dinas Sosial, Tenaga Kerja,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam proyek CCDP – IFAD adalah faktor pendidikan, pekerjaan sampingan,

Catatan persediaan beisi data tentang lead time, ukuran lot (lot size), persediaan pengaman (safety stock), dan catatan – catatan penting lainnya dari semua item. 3)

Perbandingan Unsur Hara Nitrogen dan Fosfor Tanah Terhadap Jenis Keanekaragaman Mangrove di Muara Sungai Gunung Anyar Surabaya dan Bancaran Bangkalan.. Dosen Pembimbing Boedi

302 SJD204 Historiografi Indonesia A SJT309 Sejarah Militer Indonesia A LII304 Analisis Wacana C BUK203 Pengantar Kajian Budaya Urban L-2 PHB102 Pengantar Filsafat dan.

(2) Permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi atas SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD sebagaimana

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis inokulum jamur tiram putih dan lama inkubasi terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organic secara in vitro