• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadaan Umum Wilayah Penelitian

Kabupaten Tapanuli Utara merupakan salah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara yang terdiri dari 15 kecamatan. terletak di wilayah pengembangan dataran tinggi Sumatera Utara berada pada ketinggian antara 150-1.700 meter di atas permukaan laut. Luas wilayah daratannya adalah 3.793,71 km², sementara luas perairan Danau Toba 6,60 km². Topografi dan kontur tanah Kabupaten Tapanuli Utara beraneka ragam yaitu yang tergolong datar (3,16 %), landai (26,86

%), miring (25,63 %) dan terjal (44,35 %).

Secara astronomis Kabupaten Tapanuli Utara berada pada posisi 1° 20’ - 2° 41’ Lintang Utara dan 98°05’–99°16’ Bujur Timur. Sedangkan secara administratif letak Kabupaten Tapanuli Utara berbatasan langsung dengan lima kabupaten yaitu disebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir, disebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Labuhan Batu, disebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan, disebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah (BPS, 2013).

Kecamatan Pagaran

Pagaran merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Indonesia. Secara astronomis Kecamatan Pagaran berada pada titik koordinat 02 º 16’ - 02 º 14’ LU 98 º 46’ - 98 º 55’ BT.

Secara geografis terletak sekitar 1.100 s/d 1.400 Meter diatas permukaan laut.

Pusat kecamatan ini berada di desa Sipultak. Kecamatan Pagaran terdiri dari 14 desa yaitu Banua Luhu, Dolok Saribu, Hasibuan, Lubis, Lumban Ina Ina, Lumban

22

Julu, Lumban Motung, Lumban, Silintong, Pagaran, Parhorboan, Sibaragas, Simamora Hasibuan, Sipultak, dan Sipultak Dolok. Luas daerah ini adalah sekitar 138,05km² dengan jumlah penduduknya sekitar 16,885 dan kepadatan penduduk sekitar 112 jiwa/km2. Rata-rata curah hujan adalah sekitar 1.036 mm/tahun, dengan hari hujan sekitar 104 hari/tahun. (BPS Pagaran, 2018).

Kecamatan Muara

Muara adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Indonesia. Pusat kecamatan ini berada di desa Huta Nagodang. Kecamatan ini terdiri dari 15 desa, yaitu : Aritonang, Bariba Niaek, Batu Binumbun, Dolok Martumbur, Huta Ginjang, Huta Lontung, Huta Nagodang, Papande, Sampuran, Sibandang, Silali Toruan, Silando, Simatupang, Sitanggor, dan Unte Mungkur.

Secara astronomis Kecamatan Muara terletak pada titik koordinat 02º 15’ - 02º 22’ LU 98º 49’ - 980 58’BT. Secara geografis terletak sekitar 900 s/d 1.700 Meter diatas permukaan laut. Luas daerah di Kecamatan ini adalah sekitar 79,75 km² dengan jumlah penduduk sekitar 13.459 jiwa, serta kepadatan penduduk sekitar 169 jiwa/km². Rata-rata curah hujan adalah sekitar 2.060 mm/tahun, dengan hari hujan sekitar 147 hari/tahun. (BPS Muara, 2018).

Kecamatan Siborong-Borong

Siborong-Borong adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Indonesia. Secara astronomis Siborong-Borong terletak pada titik koordinat 2° 12' 55.955" LU 99° 2' 5.993" BT. Secara geografis terletak sekitar 1.100 s/d 1.500 Meter diatas permukaan laut.Siborong-Borong terdiri dari 20 desa, yaitu : Bahal Batu I, Bahal Batu II, Bahal Batu III, Hutabulu, Lobu Siregar I, Lobu Siregar II, Lumban Tongatonga, Paniaran, Parik Sabungan, Pohan

Jae, Pohan Julu, Pohan Tonga, Siaro, Siborongborong I, Siborongborong II, Sigumbang, Silaitlait, Sitabotabo, Sitabotabo Toruan, dan Sitampurung. Ibukota kecamatan ini berada di kelurahan Pasar borong. Luas daerah Siborong-borong adalah sekitar 279,91 km². Jumlah penduduk sekitar 45.088, dengan kepadatan 161 jiwa/km². Rata-rata curah hujan adalah sekitar 1.390 mm/tahun, dengan hari hujan sekitar 149 hari/tahun. (BPS Siborong-Borong, 2018).

Kecamatan Sipahutar

Sipahutar adalah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kecamatan ini terdiri dari 25 desa, ibukota kecamatan Sipahutar berada di desa Sipahutar. Secara astronomis Kecamatan Sipahutar berada di titik koordinat 02 º 01’ - 02 º 14’ LU 98 º 57’ - 99 º 16’BT. Secara geografis terletak sekitar 1.000 s/d 1.460 Meter diatas permukaan laut. Luas daerah sekitar 408,22 Km² dengan kepadatan sekitar 61 jiwa/km². Rata-rata curah hujan adalah sekitar 3.043 mm/tahun, dengan hari hujan sekitar 196 hari/tahun.

(BPS Sipahutar, 2018).

Kecamatan Sipoholon

Sipoholon adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kecamatan ini terdiri dari 15 desa dan 1 kelurahan. Ibukota kecamatan ini berada di desa Sipoholon. Secara astronomis, kecamatan ini terletak pada titik koordinat 02º 00’ - 02º 06’ LU 98º 45’ - 98º 58’BT. Secara geografis terletak sekitar 900 s/d 1.200 Meter diatas permukaan laut. Luas daerah Kecamatan sipoholon adalah sekitar 189,20 Km² dengan kepadatan 120 jiwa/km². Rata-rata curah hujan adalah sekitar 2.538 mm/tahun, dengan hari hujan sekitar 129 hari/tahun. (BPS Sipoholon, 2018)

24

Pengukuran Morfometrik Ternak Kerbau Lumpur

Pengamatan yang dilakukan melibatkan 200 ekor ternak kerbau lumpur yang terdiri dari 33 ekor dari Kecamatan Pagaran, 46 ekor dari Kecamatan Sipahutar, 57 ekor dari Kecamatan Siborong-Borong, 26 ekor dari Kecamatan Sipoholon, dan 38 ekor dari Kecamatan Muara.

Tabel 5 menyajikan data ukuran linier tubuh ternak kerbau lumpur jantan Kecamatan Pagaran, Tabel 6 menyajikan data ukuran linier tubuh ternak kerbau lumpur betina Kecamatan Pagaran, Tabel 7 menyajikan data ukuran linier tubuh ternak kerbau lumpur jantan Kecamatan Sipahutar, Tabel 8 menyajikan data ukuran linier tubuh ternak kerbau lumpur betina Kecamatan Sipahutar, Tabel 9 menyajikan data ukuran linier tubuh ternak kerbau lumpur jantan Kecamatan Siborong-Borong, Tabel 10 menyajikan data ukuran linier tubuh ternak kerbau lumpur betina Kecamatan Siborong-Borong, Tabel 11 menyajikan data ukuran linier tubuh ternak kerbau lumpur jantan Kecamatan Sipoholon, Tabel 12 menyajikan data ukuran linier tubuh ternak kerbau lumpur betina Kecamatan Sipoholon, Tabel 13 menyajikan data ukuran linier tubuh ternak kerbau lumpur jantan Kecamatan Muara, Tabel 14 menyajikan data ukuran linier tubuh ternak kerbau lumpur betina Kecamatan Muara.

Tabel 5. Ukuran-ukuran linier peubah tubuh kerbau lumpur jantan di Kecamatan Pagaran

Peubah yang

Diamati

Hasil Pengukuran (cm) Koefisien Keragaman (%)

Tabel 6. Ukuran-ukuran linier peubah tubuh kerbau lumpur betina di Kecamatan Pagaran

Peubah yang

Diamati

Hasil Pengukuran (cm) Koefisien Keragaman (%) tubuh yang paling seragam karena memiliki persentase koefisien keragaman yang paling kecil, sedangkan ukuran linier tubuh yang paling beragam adalah dalam dada.

Tabel 7. Ukuran-ukuran linier peubah tubuh kerbau lumpur jantan di Kecamatan Sipahutar

Peubah yang

Diamati

Hasil Pengukuran (cm) Koefisien Keragaman (%) Tabel 8. Ukuran-ukuran linier peubah tubuh kerbau lumpur betina di Kecamatan Sipahutar

Peubah yang

Diamati

Hasil Pengukuran (cm) Koefisien Keragaman (%)

26

Berdasarkan penggabungan data Tabel 7 dan 8, di dapatkan hasil bahwa lingkar dada kerbau lumpur di Kecamatan Sipahutar merupakan ukuran linier tubuh yang paling seragam karena memiliki persentase koefisien keragaman yang paling kecil, sedangkan ukuran linier tubuh yang paling beragam adalah lebar pinggul.

Tabel 9. Ukuran-ukuran linier peubah tubuh kerbau lumpur jantan di Kecamatan Siborong-Borong

Peubah yang

Diamati

Hasil Pengukuran (cm) Koefisien Keragaman (%)

Tabel 10. Ukuran-ukuran linier peubah tubuh kerbau lumpur betina di Kecamatan Siborong-Borong

Peubah yang

Diamati

Hasil Pengukuran (cm) Koefisien Keragaman (%)

Berdasarkan penggabungan data Tabel 9 dan 10, di dapatkan hasil bahwa panjang badan kerbau lumpur di Kecamatan Siborong-Borong merupakan ukuran linier tubuh yang paling seragam karena memiliki persentase koefisien keragaman yang paling kecil, sedangkan ukuran linier tubuh yang paling beragam adalah dalam dada.

Tabel 11. Ukuran-ukuran linier peubah tubuh kerbau lumpur jantan di Kecamatan Sipoholon

Peubah yang

Diamati

Hasil Pengukuran (cm) Koefisien Keragaman (%)

Tabel 12. Ukuran-ukuran linier peubah tubuh kerbau lumpur betina di Kecamatan Sipoholon

Peubah yang

Diamati

Hasil Pengukuran (cm) Koefisien Keragaman (%) Berdasarkan penggabungan data Tabel 11 dan 12, di dapatkan hasil bahwa lingkar dada kerbau lumpur di Kecamatan Sipoholon merupakan ukuran linier tubuh yang paling seragam karena memiliki persentase koefisien keragaman yang paling kecil, sedangkan ukuran linier tubuh yang paling beragam adalah lebar dada.

Tabel 13. Ukuran-ukuran linier peubah tubuh kerbau lumpur jantan di Kecamatan Muara

Peubah yang

Diamati

Hasil Pengukuran (cm) Koefisien Keragaman (%)

28

Tabel 14. Ukuran-ukuran linier peubah tubuh kerbau lumpur betina di Kecamatan Muara

Peubah yang

Diamati

Hasil Pengukuran (cm) Koefisien Keragaman (%) Berdasarkan penggabungan data Tabel 13 dan 14, di dapatkan hasil bahwa panjang badan kerbau lumpur di Kecamatan Muara merupakan ukuran linier tubuh yang paling seragam karena memiliki persentase koefisien keragaman yang paling kecil, sedangkan ukuran linier tubuh yang paling beragam adalah lebar dada.

Ukuran dan Bentuk Tubuh Kerbau Lumpur

Hasil olahan Analisis Komponen Utama (AKU), menghasilkan kesimpulan perbedaan dan persamaan morfologi dan morfometri kerbau lumpur tiap subpopulasi, yakni Kecamatan Pagaran, Kecamatan Sipahutar, Kecamatan Siborong-Borong, Kecamatan Sipoholon dan Kecamatan Muara.

Tabel 15. Persamaan ukuran dan bentuk tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen pada kerbau lumpur Kecamatan Pagaran

Persamaan KT

Berdasarkan Tabel 15 dapat diketahui bahwa Keragaman Total (KT) dari persamaan ukuran tubuh sebesar 41,457% yang menggambarkan nilai keragaman tertinggi dalam persamaan ukuran. Nilai Eigen pada persamaan ukuran tubuh sebesar 2,902. Penciri ukuran tubuh kerbau lumpur Kecamatan Pagaran adalah

dalam dada (X3), dengan vektor Eigen dalam dada sebesar 0,799. Keragaman Total pada bentuk tubuh didapatkan sebesar 24,691% dengan Nilai Eigen sebesar 1,728. Penciri bentuk tubuh kerbau lumpur Kecamatan Pagaran adalah lingkar dada (X1) dengan vektor Eigen lingkar dada sebesar 0,552.

Tabel 16. Persamaan ukuran dan bentuk tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen pada kerbau lumpur Kecamatan Sipahutar

Persamaan KT

Berdasarkan Tabel 16 dapat diketahui bahwa Keragaman Total (KT) dari persamaan ukuran tubuh sebesar 61,982% yang menggambarkan nilai keragaman tertinggi dalam persamaan ukuran. Nilai Eigen pada persamaan ukuran tubuh sebesar 4,339. Penciri ukuran tubuh kerbau lumpur Kecamatan Sipahutar adalah lingkar dada (X1), dengan vektor Eigen lingkar dada sebesar 0,937. Keragaman Total pada bentuk tubuh didapatkan sebesar 20,303% dengan Nilai Eigen sebesar 1,421. Penciri bentuk tubuh kerbau lumpur Kecamatan Sipahutar adalah tinggi pundak (X4) dengan vektor Eigen tinggi pundak sebesar 0,764.

Tabel 17. Persamaan ukuran dan bentuk tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen pada kerbau lumpur Kecamatan Siborong-Borong

Persamaan KT

Berdasarkan Tabel 17 dapat diketahui bahwa Keragaman Total (KT) dari persamaan ukuran tubuh sebesar 61,822% yang menggambarkan nilai keragaman tertinggi dalam persamaan ukuran. Nilai Eigen pada persamaan ukuran tubuh

30

sebesar 4,328. Penciri ukuran tubuh kerbau lumpur Kecamatan Siborong-Borong adalah tinggi pundak (X4), dengan vektor Eigen tinggi pundak sebesar 0,897.

Keragaman Total pada bentuk tubuh didapatkan sebesar 12,871% dengan Nilai Eigen sebesar 0,901. Penciri bentuk tubuh kerbau lumpur Kecamatan Siborong-Borong adalah panjang badan (X5) dengan vektor Eigen panjang badan sebesar 0,662.

Tabel 18. Persamaan ukuran dan bentuk tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen pada kerbau lumpur Kecamatan Sipoholon

Persamaan KT

Berdasarkan Tabel 18 dapat diketahui bahwa Keragaman Total (KT) dari persamaan ukuran tubuh sebesar 51,559% yang menggambarkan nilai keragaman tertinggi dalam persamaan ukuran. Nilai Eigen pada persamaan ukuran tubuh sebesar 3,609. Penciri ukuran tubuh kerbau lumpur Kecamatan Sipoholon adalah tinggi pinggul (X6), dengan vektor Eigen tinggi pinggul sebesar 0,902.

Keragaman Total pada bentuk tubuh didapatkan sebesar 18,885% dengan Nilai Eigen sebesar 1,322. Penciri bentuk tubuh kerbau lumpur Kecamatan Sipoholon adalah panjang badan (X5) dengan vektor Eigen panjang badan sebesar 0,739.

Tabel 19. Persamaan ukuran dan bentuk tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen pada kerbau lumpur Kecamatan Muara

Persamaan KT

Berdasarkan Tabel 19 dapat diketahui bahwa Keragaman Total (KT) dari persamaan ukuran tubuh sebesar 61,279% yang menggambarkan nilai keragaman tertinggi dalam persamaan ukuran. Nilai Eigen pada persamaan ukuran tubuh sebesar 4,290. Penciri ukuran tubuh kerbau lumpur Kecamatan Muara adalah lebar dada (X2), dengan vektor Eigen lebar dada sebesar 0,899. Keragaman Total pada bentuk tubuh didapatkan sebesar 18,722% dengan Nilai Eigen sebesar 1,311.

Penciri bentuk tubuh kerbau lumpur Kecamatan Muara adalah tinggi pinggul (X6) dengan vektor Eigen tinggi pinggul sebesar 0,677.

Tabel 20. Penyimpulan penciri ukuran dan bentuk tubuh kerbau lumpur di Kecamatan Pagaran, Kecamatan Sipahutar, Kecamatan Siborong-Borong, Kecamatan Sipoholon, dan Kecamatan Muara

Morfometri Kerbau lumpur

Kecamatan

Penciri Ukuran Pagaran Sipahutar Siborong- Borong

Ket : * Penciri khusus setiap kecamatan.

32

Hasil di atas dapat diketahui bahwa untuk penciri ukuran kerbau lumpur di Kabupaten Tapanuli Utara adalah dalam dada, lingkar dada, tinggi pundak,tinggi pinggul, dan lebar dada, sedangkan penciri bentuk adalah lingkar dada, tinggi pundak, panjang badan, dan tinggi pinggul.

Berdasarkan hasil Tabel 20 yang menjadi penciri khusus di Kecamatan Pagaran adalah dalam dada, di Kecamatan Sipahutar adalah lingkar dada, di Kecamatan Siborong-Borong adalah tinggi pundak, Kecamatan Sipoholon adalah tinggi pinggul dan di Kecamatan Muara adalah lebar dada. Jika ditinjau dari Tabel 20, untuk menentukan ternak kerbau lumpur yang memiliki ukuran yang paling besar sulit ditentukan, sehingga dibutuhkan untuk membentuk diagram penyebaran (scatter plot), untuk melihat ternak kerbau lumpur yang paling besar sekaligus menampilkan hubungan morfologi dan morfometri di setiap kecamatan.

Gambar 4. Kerumunan Data Skor Ukuran dan Bentuk Tubuh Kerbau Lumpur di Kecamatan Pagaran, Kecamatan Sipahutar, Kecamatan Siborong-Borong, Kecamaran Sipoholon, dan Kecamatan Muara

Berdasarkan Gambar 4 dapat diketahui bahwa ternak kerbau lumpur yang memiliki ukuran paling besar adalah di Kecamatan Sipahutar dibandingkan dengan keempat Kecamatan lainnya yang ditunjukkan dengan letak kerumunan data pada bagian paling kanan grafik, sedangkan ternak kerbau lumpur yang memiliki skor bentuk yang paling besar terdapat di Kecamatan Pagaran yang ditunjukkan dengan letak kerumunan data pada bagian paling atas grafik.

Berdasarkan Gambar 4 juga dapat dilihat bahwa antara morfologi dan morfometri ternak betina dan jantan di tiap kecamatan tidak jauh berbeda.

Morfologi dan morfometri kerbau lumpur di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Pagaran, Kecamatan Muara dan Kecamatan Sipahutar tidak saling berhubungan, yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan morfologi dan morfometri kerbau lumpur di 3 Kecamatan tersebut.

Morfologi dan morfometri kerbau lumpur di Kecamatan Siborong-Borong dan Kecamatan Sipoholon saling berhubungan serta memiliki morfologi dan morfometri yang cukup tinggi, hal ini dapat disebabkan salah satunya oleh jarak antara Kecamatan Siborong-Borong dan Sipoholon cukup dekat sehingga terdapat kemiripan antara keadaan topografi, lingkungan, keadaan cuaca maupun keadaan iklim yang sesuai dengan habitat hidup kerbau lumpur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sethi (2003) yang menyatakan bahwa kerbau lumpur dapat diklasifikasikan sebagai hewan hewan yang sangat bergantung pada keberadaan air karena kebiasaannya untuk berkubang dalam sungai atau lumpur. Karena perilaku inilah kerbau lumpur dapat ditemukan di habitat basah seperti hutan, sungai, padang rumput, atau di daerah rawa karena kawasan seperti ini akan

34

mendukung untuk ketersediaan pakan, minum dan kebutuhannya untuk berkubang.

Morfologi dan morfometri kerbau lumpur di Kabupaten Tapanuli Utara memiliki ciri khas masing-masing dari setiap kecamatan, sehingga pelestarian keragaman ternak sangat diperlukan dalam upaya untuk mempertahankan sifat-sifat khas kerbau yang dapat dimanfaatkan di masa mendatang seperti melakukan persilangan dan juga seleksi, sesuai dengan pernyataan Tzeng et al (2000) yang menyatakan bahwa sebaran dan variasi morfometri dan morfologi yang muncul merupakan respon terhadap lingkungan fisik tempat hidup ternak tersebut serta pengaruh faktor genetik kerbau lumpur.

Dokumen terkait