• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN

Dalam dokumen Oleh. Zahara Adnani NIM: (Halaman 33-194)

Pada bab ini berisi tentang pembahasan penelitian mengenai peran pekerja sosial medis yang difokuskan pada peran pendidik dalam meningkatkan kemampuan dalam berinteraksi sosial pasien skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran pada hasil temuan dan bahasan pada penelitian yang dijadikan sebagai bentuk hasil dari penelitian yang dilakukan untuk dijadikan masukkan baik untuk lembaga maupun orang lain yang membaca.

18

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Landasan Teori 1. Peran

Peran dalam perspektif ilmu psikologi sosial merupakan suatu tindakan seseorang yang memilikki status sosial tertentu yang diharapkan oleh orang lain (Gerungan, 1998 dalam Mubarok, 2016 h. 31). Narwoko & Suyonto (dalam Mubarok, 2016 h. 33) mengatakan bahwa dalam pelaksanaannya, peran dibagi menjadi dua, yaitu:

a) Peran yang diharapkan (Expected Roler)

Peran yang diharapkan merupakan peran seseorang yang dalam pelaksanaannya diharapkan untuk melakukan perannya dengan baik dan sesuai ketentuan yang ada.

b) Peran yang disesuaikan (Actual Roler)

Peran yang disesuaikan merupakan peran seseorang yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi dalam keadaan tertentu.

19

Peranan pekerja sosial medis sangat beragam, seperti peran sebagai pendidik, pembimbing, motivator, konselor, advokator, fasilitator, dan masih banyak lagi tergantung penempatannya. Kinerja pekerja sosial medis dalam pelayanan bidang medis bertujuan untuk memenuhi pelayanan pasien dengan pemulihan kesehatannya yang berhubungan dengan masalah sosial maupun segi emosional mereka.

2. Pekerja Sosial Medis a. Definisi

Friedlander (dalam Dewi, 2017) mendefinisikan pekerja sosial medis sebagai pelayanan yang memberikan bantuan kepada pasien dalam bentuk bantuan sosial dan emosional yang berhubungan pada penyakit dan cara penyembuhannya.

Barker (dalam Fahrudin, 2009) mendefinisikan pekerja sosial medis sebagai praktek kerja sosial yang bekerja pada setting pelayanan kesehatan untuk memfasilitasi pasien dengan kesehatan yang baik, mencegah penyakit, dan membantu pasien secara fisik dan hubungan dengan keluarganya untuk menyelesaikan

20

masalah sosial dan emosional sesuai dengan ranah domain pekerja sosial. Sedangkan Fahrudin (2009) mengatakan bahwa fokus pekerja sosial medis pada interaksi antara klien-masalah-lingkungan sosial, maka intervensinya bukan hanya masalah dan pribadi klien, namun juga pada lingkungan sosialnya seperti keluarga, teman, dan tetangga. Lebih lanjut, Fahruddin (2009) juga mengatakan dalam pelayanan kesehatan, pekerja sosial medis harus melayani secara menyeluruh (holistik) yang maka dari itu, perlu adanya kerja sama dengan tim medis lainnya seperti dokter, perawat, psikolog, psikiater, serta ahli hukum. Dengan adanya kerja sama tim medis, dapat memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal untuk pasien.

Berdasar pendapat-pendapat di atas, pekerja sosial medis merupakan pekerja sosial yang berpraktik dalam pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk memfasilitasi serta membantu penyembuhan sosial dan emosional pasien.

b. Fungsi Pekerja Sosial Medis

Johnson (dalam Fahruddin, 2009) menjabarkan fungsi pokok pekerja sosial

21

yang kompeten dalam pelayanan kesehatan, antara lain:

a) Membantu penyelesaian masalah-masalah dari segi sosial dan emosional pasien yang disebabkan oleh penyakit yang dideritanya.

b) Memperlancar hubungan antara rumah sakit, pasien dan keluarga serta lingkungan masyarakat.

c) Melibatkan diri dengan mengintegrasikan bagian pekerjaan sosial ke dalam tim rumah sakit yang melaksanakan tugas sesuai domain pekerja sosial dalam perencanaan pengobatan pasien dengan baik dan layak.

d) Membantu pasien dalam penyesuaian diri ke dalam masyarakat dan sebaliknya dengan memberikan dorongan untuk berani kembali bersosialisasi ke masyarakat.

3. Peran Pendidik Pekerja Sosial

a. Praktik Pendidik Pekerja Sosial

Zastrow (dalam Adi, 2003, h.91-94) mengatakan peranan pekerja sosial

22

sekurang-kurangnya ada tujuh peran yang dilakukan, yaitu peran sebagai pendidik, perencana sosial, advokator, pemercepat perubahan, tenaga ahli, konselor, dan penghubung. Dalam peran pendidik, Zastrow menjelaskan lebih lanjut lagi bahwa peran pekerja sosial sebagai pendidik harus memiliki keahlian yang terampil dalam penyampaian informasi yang baik serta memiliki pengetahuan yang luas, up to date, dan memadai terhadap hal-hal yang dibicarakan sesuai dengan bidang yang ditangani. Hal ini dikarenakan agar memudahkan klien atau sasaran memahami apa yang diajarkan dengan jelas.

Peranan educational (pendidik) pekerja sosial, selain berperan aktif memainkan peranan dalam penentuan agenda, juga berperan penting membantu pelaksanaan proses peningkatan produktivitas dalam memberikan pengajaran melalui jenis bantuan berupa:

(Ife, 2002, h.117-127)

a) Peningkatkan kesadaran terhadap masalah yang terjadi.

23

b) Pemberian informasi sesuai kebutuhan sasaran berdasar ranah dan pengalaman pekerja sosial medis.

c) Mengajarkan keterampilan sesuai dengan kebutuhan individu maupun kelompok yang dituju.

Berdasar pendapat-pendapat di atas bahwa pekerja sosial dalam perananya sebagai pendidik adalah membantu dalam proses pemahaman melalui pengajaran seperti keterampilan-keterampilan maupun pemberian informasi sesuai kebutuhan pasien.

b. Terapi Sosial (Social Skills Training) Dalam membantu memperlancar pelaksanaan proses pemulihan terhadap orang dengan gangguan jiwa dilakukan dengan berbagai macam terapi. Salah satunya adalah diberikannya terapi sosial.

Stuart (2013, h. 207) mengatakan pada pasien dengan gangguan jiwa yang mengalami isolasi sosial dapat diberikan penerapan terapi social skills training yang mengacu pada pelatihan kemampuan pasien dalam proses pembelajaran yang berhubungan dengan perilaku, kemampuan berkomunikasi, menjalin interaksi sosial,

24

serta menghadapi situasi yang sulit, yang dilakukan dengan metode seperti role play, feedback, dan melalui berbagai macam penunjukkan tontonan video.

4. Interaksi Sosial

a. Definisi Interaksi Sosial

Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa adanya kehadiran atau bantuan dari manusia lainnya. Interaksi sosial merupakan sebuah proses awal mula dari adanya kebutuhan akan bantuan orang lain. Thibaut (dalam Astiti, 2013) mengatakan bahwa interaksi sosial adalah sebuah peristiwa yang terjadi antara dua orang atau lebih yang hadir dan sedang berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya. Sedangkan Suranto (dalam Astiti, 2013) memaparkan bahwa interaksi sosial merupakan sebuah proses hubungan timbal balik antar sesama manusia yang terjadi secara dinamis.

Interaksi sosial merupakan hubungan yang terjadi antara sesama manusia baik hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dan kelompok,

25

melalui tindakan seperti kerja sama, pertikaian, dan persaingan di dalam suatu hubungan masyarakat berdasar nilai dan norma sosial dalam prosesnya, sehingga membentuk struktur sosial (Sunaryo dalam Rahmawati, 2012 h. 21).

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat dikatakan bahwa interaksi sosial merupakan suatu hubungan antar manusia maupun kelompok yang saling mempengaruhi satu sama lain lalu menciptakan hubungan timbal balik hingga membentuk struktur sosial.

b. Proses Interaksi Sosial

Ada dua syarat dalam proses terjadinya interaksi sosial menurut Soekanto (dalam Rahmawati, 2012 h.26), antara lain:

a) Komunikasi

Komunikasi merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam menyampaikan informasi terhadap perasaan dan menunjukkan sebuah perilaku kepada orang lain. Dalam berkomunikasi, harus memenuhi empat unsur komunikasi, yaitu

26

adanya pengirim (communicator), penerima (communicant), pesan atau informasi yang ingin disampaikan, dan media atau sarana

yang digunakan dalam

berkomunikasi.

b) Kontak Sosial

Kontak sosial merupakan sebuah tindakan atau aksi yang dilakukan individu maupun kelompok yang bermakna bagi penerima dan pelaku. Kontak sosial dibedakan berdasarkan cara, baik secara kontak langsung maupun tidak langsung. Lalu berdasar sifat, yakni antara antar individu, individu dengan kelompok, juga pada kelompok dengan kelompok. Selain itu ada berdasarkan bentuk, baik itu kontak negative ataupun positif.

Terakhir, berdasarkan pada tingkat hubungan, yakni kontak primer atau secara langsung dan kontak sekunder yang hanya terjadi melalui perantara.

27

c. Jenis Interaksi Sosial

Menurut Sunaryo (dalam Rahmawati, 2012 h.21-22) ada tiga macam jenis interaksi sosial, antara lain:

a) Interaksi antara individu dengan individu

Interaksi ini terjadi saat kedua individu bertemu secara langsung dan keduanya menjalin hubungan interaksi satu sama lain.

b) Interaksi antara individu dengan kelompok

Interaksi ini terjadi dimana saat seseorang individu bertemu atau berkomunikasi dengan sekelompok atau lebih dari satu orang.

c) Interaksi antar kelompok dengan kelompok

Interaksi ini terjadi saat dua kelompok berbeda saling bertemu atau berkomunikasi.

5. Skizofrenia

a. Definisi Skizofrenia

Duckworth (2011, h.2-3) selaku direktur National Alliance on Mental Illness (NAMI) mengatakan skizofrenia adalah

28

gangguan mental dimana penderita mengalami gangguan pada kognitifnya meliputi kemampuan untuk berpikir, mengelola emosi, membuat keputusan dan berhubungan dengan orang lain. Pengidap skizofrenia juga sering mengalami masalah saat bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Duckworth (2011) juga mengatakan jika pengidap skizofrenia cenderung mengalami timbulnya peningkatan stress dan tekanan perasaan jika harus membagi waktunya dengan orang lain. Mereka juga mengalami kesulitan dalam memahami situasi sosial seperti membaca nada suara maupun ekspresi wajah. Maka dari itu, mereka memilih menarik diri dari lingkungan dan orang lain.

b. Gejala Skizofrenia

Gejala skizofrenia dikelompokkan menjadi tiga kategori (Duckworth, 2011, h.5-6) yaitu:

Pada kategori pertama, yaitu gejala positif atau biasa dikenal dengan gejala psikotik.

Gejala ini meliputi halusinasi dan waham.

Pada halusinasi, menyebabkan pengidap skizofrenia mendengar suara dan melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Lalu,

29

pada tipikal delusi, menyebabkan pengidap skizofrenia mempercayai sesuatu yang salah atau tidak benar adanya.

Pada kategori kedua, yaitu gejala negatif seperti emosi yang tumpul, kehilangan motivasi dan apatis membuat pasien menjadi malas, harga diri pasien yang rendah, pasien mengalami depresi dan menganggap bahwa dirinya tidak layak untuk ditolong, serta tidak dapat melakukan interaksi sosial dengan baik terhadap orang lain.

Pada kategori ketiga, yaitu gejala kognitif atau gejala yang berhubungan dengan cara berpikir. Pengidap skizofrenia sering mengalami kesulitan antara memprioritaskan tugas, mengatur pikiran dan juga memorinya.

Gejala-gejala yang tampak pada penderita gangguan jiwa skizofrenia hanya dapat dikenali dari perubahan perilaku penderita, seperti berbicara kacau, memiliki perasaan emosional yang cepat berubah-ubah, menarik diri dari lingkungan dan orang lain juga sering melihat sesuatu yang tidak nyata atau halusinasi (Duckworth, 2011, h.3). Tidak ada penyebab pasti dari

30

gangguan jiwa skizofrenia ini. Saat ini, kemungkinan dari penyebab timbulnya skizofrenia yang diderita seseorang antara lain faktor genetik dari gangguan fungski aktivitas hidupnya ataupun faktor lingkungan baik masalah dengan orang sekitar atau pekerjaan dan yang lainnya (Arifin & Nulhakim, 2015).

B. Tinjauan Kajian Terdahulu

Dalam mendukung penelitian yang dilakukan peneliti, perlu adanya tinjauan pada kajian tedahulu yang relevan terhadap masalah yang akan dikaji agar diketahuinya posisi peneliti dalam penelitiannya, berikut penelitian-penelitian tersebut:

a) Penelitian I. Novita Sari (2018)

Penelitian skripsi dengan judul “Peran Pekerja Sosial Medis Sebagai Pendidik dalam Proses Kemandirian Pasien Skizofrenia di Instalasi Rehabilitasi Psikososial di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta”. Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu peran pekerja sosial medis di sana serta untuk mengetahui bagaimana tingkat kemandirian pasien.

Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan subyeknya yaitu dua pekerja sosial medis dan tiga pasien skizofrenia di Instalasi

31

Rehabilitasi Psikososial di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, serta dokumentasi.

Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah bahwa pasien skizofrenia akan berdampak positif jika banyak kegiatan untuk mengurangi halusinasi. Di Instalasi Rehabilitasi Psikososial di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan membeikan layanan untuk membuat pasien mandiri dan mengurangi kekambuhan pada pasien skizofrenia.

Pada penelitian ini dengan penelitian yang diteliti oleh peneliti sama-sama membahas peran pekerja sosial medis sebagai pendidik. Namun, fokus pembahasan penelitian ini membahas proses kemandirian pasien skizofrenia. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti berfokus pada peningkatan kemampuan bersosialisasi pasien skizofrenia di rumah sakit yang berbeda pada penelitian sebelumnya ini.

b) Penelitian II. Andi Alghifari Darma (2013)

Penelitian skripsi dengan judul “Peranan Pekerja Sosial Medis dalam Penanganan Pasien Rehabilitasi Narkoba di Rumah Sakit Ketergantungan Obat RSKO Jakarta”. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui peranan yang yang diberikan pekerja sosial medis

32

pada residen selama melakukan pelayanan di RSKO Jakarta.

Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengambilan informan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Informan utama pada penelitian ini adalah pekerja sosial medis dan informan pendukungnya adalah keluarga pasien, perawat yang ada di Rehabilitasi Narkoba Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta.

Hasil yang didapatkan pada penelitian ini bahwa pekerja sosial telah menjalankan peran sesuai teori Mary Johnson yaitu dengan memantu pasien menggunakan kemampuannya untuk mempergunakan perawatan medis agar mencegah terjadinya komplikasi-komplikasi lanjutan dan untuk mempertahankan kesehatannya.

Pada penelitian ini sama-sama melakukan penelitian pada peran pekerja sosial medis. Namun, fokus pembahasan penelitian ini pada pasien rehabilitasi pecandu narkoba di Rumah Sakit Ketergantungan Obat. Sedangkan penelitian yang diteliti oleh peneliti adalah pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa.

c) Penelitian III. Rita Untari (2014)

33

Penelitiannya dalam jurnal Vol. 9(19) dengan judul “Pengaruh Terapi Kelompok Terhadap Kemampuan Interaksi Sosial Pasien Skizofrenia di Panti Rehabilitasi Laras Utami Surakarta”. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pengujian pada kemampuan interaksi sosial pasien skizofrenia di Panti Rehabilitasi Laras Utami dengan diberlakukannya terapi kelompok.

Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan rancangan quasi experimental studies dengan menggunakan independen t-test yang dibantu dengan program SPSS dengan pengambilan jumlah sampel sebanyak 28 orang menggunakan teknik purposive sampling.

Hasil dari penelitian ini menampilkan hasil uji t berpasangan pada skor SIAS dengan perolehan nilai p = 0,000 (p<0, 05) yang berarti adanya perbedaan bermakna skor SIAS antara sebelum dan sesudah terapi kelompok. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terapi kelompok dapat memberikan kontribusi yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial pasien skizofrenia d) Penelitian IV. Eko Radityo Nugroho (2018)

Penelitian skripsi dengan judul “Peran Pekerja Sosial Terhadap Penyandang Skizofrenia di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 3”.

34

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran pekerja sosial di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa.

Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif dengan mengumpulkan data, menyusun, mengklarifikasi data, serta menganalisa hasil temuan data. Teknik penemuan data yang digunakan menggunakan teknik triangulasi (gabungan) dengan analisis data induktif.

Hasil penelitian yang didapatkan adalah peran pekerja sosial di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa adalah sebagai fasilitator, broker, enabler, dan educator. Namun peranan yang paling utama dimainkan oleh pekerja sosial di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 3 adalah peranan sebagai fasilitator terutama dalam pembinaan.

Fokus pembahasan pada penelitian ini adalah peran pekerja sosial sebagai fasilitator, sedangkan penelitian yang diteliti oleh peneliti sudah memfokuskan pada peran pekerja sosial sebagai pendidik.

e) Penelitian V. Cecilia I. Kurniasari, dkk.

Penelitian jurnal Vol. 15(2) yang berjudul

“Interaksi Sosial Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa” dengan tujuan penelitian untuk

35

mengetahui gambaran interaksi sosial pada pasien skizofrenia di rumah sakit jiwa. Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan Teknik purposive sampling sebanyak 52 pasien skizofrenia dan instrument kuesioner.

Analisis penelitian ini menggunakan analisis univariat dengan tabel distribusi frekuensi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi sosial pasien skizofrenia sebanyak 45 pasien dengan kategori kurang aktif, 5 pasien cukup aktif, dan 2 pasien berinteraksi aktif. Pada penelitian ini dan penelitian yang dilakukan peneliti sama-sama membahas mengenai interaksi sosial pasien skizofrenia. Namun, penelitian ini tidak membahas peran pekerja sosial medis melainkan meneliti dari segi keperawatan.

C. Kerangka Berfikir

Dalam penelitian ini, pekerja sosial medis berperan penting dalam memberikan bantuan pemulihan pasien mengenai penyakit dan cara penyembuhannya, baik dari segi sosial maupun emosional pasien yang ditujukan untuk meningkatkan kehidupan yang sehat. Pekerja sosial medis di unit rehabilitasi psikososial RSJIK memiliki banyak peran dalam menjalankan tugasnya. Namun, pada penelitian ini, peneliti hanya berfokus pada peran pekerja sosial medis sebagai pendidik. Pekerja sosial medis sebagai

36

pendidik berperan aktif dalam menentukan agenda dengan memberikan pengajaran pada pasien skizofrenia, seperti mengajarkan keterampilan-keterampilan dan memberikan informasi maupun pengetahuan-pengetahuan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sering dijumpai, pasien dengan gangguan skizofrenia di Rehabilitasi Psikososial RSJIK memiliki afeksi datar, cenderung diam dan menyendiri, serta mengalami kesulitan dalam bersosialisasi. Sulitnya melakukan interaksi sosial dengan orang lain, disebabkan timbulnya perasaan tertekan pada dirinya ketika harus berhadapan dengan orang lain. Namun, sebagai manusia yang merupakan mahluk sosial, pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri melainkan butuh bantuan orang lain yang mana interaksi sosial merupakan proses dari kejadian tersebut. Maka dari itu, penting sekali memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang baik.

Pekerja sosial medis berperan penting pada proses pemulihan pasien. Dalam pelaksanaannya, pekerja sosial perlu bekerja sama dengan tim medis di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJIK dan menjadi bagian dari proses pengobatan itu sendiri. Dikarenakan pelayanan pemulihan untuk pasien bukan hanya sekedar dari faktor biofisik yang dilakukan oleh tim dokter maupun perawat serta psikologi dari segi psikisnya, pekerja sosial medis melayani penyembuhan pasien dari faktor sosial dan emosional yang

37

turut berpengaruh penting dalam proses penyembuhan pasien. Terlebih, di saat mereka telah selesai melakukan kegiatan di rehabilitasi psikososial dan harus kembali melakukan perannya baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat.

Pada penelitian ini, penulis menganalisa bagaimana peran pekerja sosial medis yang berfokus sebagai pendidik dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial pasien skizofrenia. Penulis menganalisa apakah peran pekerja sosial medis sebagai pendidik mampu meningkatkan kemampuan berinteraksi pasien skizofrenia serta apakah ada penerapan terapi-terapi tertentu atau berbagai kegiatan yang efektif dalam membantu peningkatan berinteraksi sosial pasien skizofrenia yang dilakukan di unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender. Dengan begitu, pasien skizofrenia yang telah selesai mengikuti kegiatan di unit rehabilitasi psikososial tersebut dapat kembali memiliki kepercayaan diri dalam melakukan interaksi sosial baik di dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Berdasarkan uraian di atas, berikut gambaran kerangka berfikir pada

Peksos Medis di RSJIK sebagai pendidik

Pasien Skizofrenia di RSJIK

38

Memfasilitasi pelayanan dengan

mengajarkan keterampilan &

pengetahuan dalam proses pemulihan

pasien.

Mengikuti pelaksanaan kegiatan rehabilitasi yang diberikan peksos

medis.

Pasien dapat pulih dan mampu berinteraksi sosial dengan lingkungan masyarakat dengan

baik.

39

BAB III

PROFIL LEMBAGA

A. Profil Rumah Sakit Jiwa Islam Klender

1. Sejarah Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Awalnya, Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta mendirikan RS. Islam Jakarta di Jln. Cempaka Putih, wilayah Jakarta Pusat pada tahun 1971. Melihat Rumah Sakit tersebut berkembang dengan pesat, Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta berencana untuk membuat jaringan pelayanan di seluruh wilayah DKI Jakarta. Pada tahun 1986, tepatnya pada 12 Desember 1986 didirikanlah Rumah Sakit Islam Jakarta di wilayah Jakarta Timur dengan nama RS. Islam Jakarta cabang Klender. Melihat potensi wilayah Jakarta Timur yang saat itu belum memiliki banyak Rumah Sakit berdiri, maka dilakukanlah kerja sama antara Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta dengan Perum Perumnas Regional IV dan Bazis DKI dalam rangka pembuatan rumah bersalin ibu dan anak di Perumnas Klender dan diresmikan penggunanannya oleh Gubernur DKI Jakarta, R. Soeprarto pada tanggal 23 Juni 1987. Namun, Rumah Bersalin Ibu dan Anak tidak mempunyai prospek yang cukup baik. Sehingga sejalan dengan itu, Rumah Sakit Islam Jakarta cempaka Putih saat itu mengalami kendala dalam menangani pasien dengan gangguan kejiwaan. Maka atas usul dr.H. Moehamad Muadz Dirdijowijoto Sp.KJ kepada Direktur Rumah Sakit

40

Islam Jakarta Cempaka Putih, dr H. Sugiat, SKM., akhirnya dialihkan fungsi dari Rumah Sakit Bersalin Ibu dan Anak menjadi Rumah Sakit Jiwa Islam Klender pada tahun 1989.

Rumah Sakit Jiwa Islam Klender pada awalnya merupakan rumah sakit yang merawat pasien-pasien dengan gangguan kejiwaan yang dikirim dari Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) cempaka Putih dan RSIJ Pondok kopi.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1997 Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta Menyatakan kemandirian Rumah Sakit Jiwa Islam (RSJI) Klender pada Tahun 1997 dengan SK Yayasan RSIJ No.0.39 B/SK-YRSIJ/IV.F/1.b/1997. Tahun 2003, dibuka kerja sama langsung dengan rekanan yang selama ini dilakukan oleh RSIJ Cempaka Putih, yaitu PT. Askes Indonesia, PT Jamsostek, PT. Indocement dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Rumah Sakit Jiwa Islam klender memiliki luas keseluruhan 1.192.62 meter persegi. Dilengkapi oleh Rawat Inap, Rawat Jalan Psikiatri dengan kapasitas 50 tempat tidur, dan Rehabilitasi Psikososial.

2. Data Umum Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Alamat : Jln. Bunga Rampai X Perumnas

Klender, Kel. Malaka Jaya, Kec.

Duren Sawit, Jakarta Timur.

Telepon : (021) 8622491, 86602402 FAX : (021) 86610234

E-mail : [email protected]

41

Website : www.rsjiwaislam.com

MOTTO : “Pelayanan berlandaskan IMAN (Ikhlas, Manusiawi, Amanah, Nyaman)”.

B. Visi, Misi, dan Komitmen Manajemen Rumah Sakit Jiwa Islam Klender

1. Visi:

Rumah Sakit Jiwa Islam Klender sebagai Rumah Sakit pilihan dan pusat pengkaderan Perserikatan Muhammadiyah Bidang kesehatan jiwa.

2. Misi:

Memberikan pelayanan kesehatan jiwa yang islam, professional, serta peduli kepada kaum dhuafa, meyelenggarakan pelayan yang prima dengan didukung oleh penggunaan sistem informasi, sarana, dan prasarana yang berkualitas serta sebagai tempat

Memberikan pelayanan kesehatan jiwa yang islam, professional, serta peduli kepada kaum dhuafa, meyelenggarakan pelayan yang prima dengan didukung oleh penggunaan sistem informasi, sarana, dan prasarana yang berkualitas serta sebagai tempat

Dalam dokumen Oleh. Zahara Adnani NIM: (Halaman 33-194)

Dokumen terkait