PERAN PENDIDIK PEKERJA SOSIAL MEDIS DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERINTERAKSI
SOSIAL PASIEN SKIZOFRENIA DI UNIT
REHABILITASI PSIKOSOSIAL RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDER (RSJIK)
Oleh Zahara Adnani NIM: 11170541000031
PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1442H/2021M
PERYATAAN DOSPEM
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
PERNYATAAN
i
ABSTRAK
Zahara Adnani
Peran Pendidik Pekerja Sosial Medis Dalam Meningkatkan Kemampuan Berinteraksi Sosial Pasien Skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.
Pekerja sosial memiliki peran penting dalam pemulihan keberfungsian sosial pasien skizofrenia, khususnya dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial. Salah satu peran penting pekerja sosial medis adalah peranannya sebagai pendidik dalam meningkatkan produktivitas melalui pengajaran sesuai dengan kebutuhan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran pendidik yang dilakukan pekerja sosial medis dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial pasien skizofrenia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui teknik wawancara, observasi, serta dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan pendidik dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial pasien skizofrenia yang diberikan melalui kelas edukasi berbasis terapi sosial terbukti mampu meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial mereka.
Kata Kunci: Pekerja Sosial Medis, Peran Pendidik, Kemampuan Berinteraksi Sosial Pasien Skizofrenia.
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat dan kesempatan, sehingga peneliti mendapatkan kekuatan, kesabaran, dan pemahaman hingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Peran Pendidik Pekerja Sosial Medis Dalam Meningkatkan Kemampuan Berinteraksi Sosial di Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender”. Shalawat dan salam yang juga dicurahkan pada Nabi besar Muhammad SAW yang telah menjadi suri tauladan bagi seluruh umatnya terutama dalam hal mendidik.
Skripsi ini, saya ajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi dalam memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar strata satu Sarjana Sosial (S.Sos) pada program studi Kesejahteraan Sosial. Saya menyadari skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan, bimbingan, serta dorongan dari berbagai pihak, baik secara individu mapun kelompok, terutama bimbingan yang tulus dari pembimbing. Maka dari itu, saya menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Hj.
Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc, M.A.
2. Suparto Ph.D. M.Ed Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Siti Napsiyah Ariefuzzaman, S.Ag., MSW., Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Dr. Sihabudin Noor, M.A.,
iii
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Cecep Castrawidjaya, M.Si.
3. Ahmad Zaky, M.Si., dan Hj. Nunung Khoiriya, M.A., Ketua dan Sekretaris Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Dr. Siti Napsiyah Ariefuzzaman, S.Ag., MSW. selaku dosen pembimbing, saya ucapkan terima kasih setulus hati atas kesediaannya waktunya untuk memberikan bimbingan dan masukan dalam proses penulisan skripsi ini. Tidak lupa juga atas dukungan yang diberikan kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
5. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi khususnya Dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial yang telah memberikan ilmunya melalui pengajaran saat proses perkuliahan.
6. Seluruh Staff Direksi Rumah Sakit Jiwa Islam Klender beserta tim profesi di Unit Rehabilitasi Psikososial terutama Renaldy, S.Sos, selaku pekerja sosial medis yang sudah bersedia menerima dan berbaik hati menerima saya untuk melakukan penelitian skripsi di sana.
7. Teman rehabilitant di Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender yang sudah bersedia menjadi informan dalam penelitian saya untuk diwawancarai sehingga saya mendapatkan data yang dibutuhkan.
8. Bapak Abdullah HMN S.Pd dan Ibu Samsiyah selaku ayah dan ibu tercinta yang paling saya sayangi, dua orang yang berperan sangat besar dalam menguatkan dan memberi
iv
dukungan, bantuan moril dan materiil, serta mendoakan yang terbaik pada saya hingga skripsi ini dapat terselesaikan.
9. Fira selaku kembaran saya, juga adik-adik saya, Haikal dan Atalla yang selalu mendukung, mendengarkan keluh kesah saya, dan memberikan pengertian saat peneliti harus berfokus dalam penyusunan skripsi ini.
10. Teman-teman terbaik saya, grup Kebagoezan khususnya Arin yang selalu mendukung saya, sedari masa sekolah menengah pertama sampai sekarang. Lalu Fira, Arbi, Spani, Rasyid, dan Randy yang selalu memberikan semangat, selalu ada dikala suka dan duka, dan menjadi tempat berkeluh kesah dari semasa sekolah menengah pertama. Semoga persahabatan kita langgeng sampai kita tua, sampai semua sukses dan menggapai impian kita masing-masing.
11. Teman-teman seperjuangan grup Sayap Kiri terutama Ajeng yang sangat baik sekali dan selalu membantu saya dalam masa-masa sulit. Lalu, Nadzma, Nabella, Riri, Agustina, Oke, Ahda, Nungky, dan Mela yang telah menjadi teman kelompok dari awal semester satu sampai sekarang yang selalu setia berteman dengan saya, dengan memberikan dukungan, pengalaman, serta banyak pembelajaran.
12. Teman-teman grup Penokabe khususnya Nanda, lalu Faraby, Ajeng, Rena, Ayunda, Alya, Rafly, dan Rafif yang
v
saling mendukung dan berbagi ilmu tentang cara penulisan skripsi.
13. Seluruh teman-teman Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, terutama Alya yang menjadi tempat untuk sharing, memberikan semangat, dan membantu saya dalam penyusunan skripsi ini.
14. Kedua sepupu saya, Kenny dan Riri yang selalu menyemangati saya dalam menyusun skripsi ini.
15. Seluruh pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Terima kasih atas dukungan yang diberikan.
Harapan saya selaku peneliti, semoga skripsi ini akan bermanfaat bagi saya dan bagi pembaca sekalian. Saya selaku peneliti menyadari dalam penyusunan skripsi ini didapati berbagai macam keterbatasan, kekurangan, dan kelemahan. Maka dari itu, kritik dan saran dari siapa saja yang membaca skripsi ini dipersilahkan dan diterima dengan hati yang terbuka.
Jakarta, 5 Juli 2021
Zahara Adnani
vi
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR BAGAN ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 4
C. Batasan Masalah ... 4
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
F. Metode Penelitian ... 6
G. Sistematika Penulisan ... 14
BAB II LANDASAN TEORI ... 18
A. Landasan Teori ... 18
B. Tinjauan Kajian Terdahulu ... 30
C. Kerangka Berfikir ... 35
BAB III PROFIL LEMBAGA ... 39
A. Profil Rumah Sakit Jiwa Islam Klender ... 39
B. Visi, Misi, dan Komitmen Manajemen Rumah Sakit Jiwa Islam Klender ... 41
C. Tujuan, Kebijakan, dan Program di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender ... 42
D. Fasilitas Rumah Sakit Jiwa Islam Klender ... 44
vii
E. Gambaran Umum Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah
Sakit Jiwa Islam Klender ... 46
F. .. Struktur Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender ... 48
G. Visi, Misi, dan MOTTO Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender ... 50
H. Tim Profesi di Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Jiwa Islam Klender ... 50
I. . Progam dan Kegiatan yang dilakukan di Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Jiwa Islam Klender ... .53
BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ... 55
A. Pekerja Sosial Medis Bagi Pasien Skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender ... 55
B. Peran Pekerja Sosial Medis Sebagai Pendidik Dalam Meningkatkan Kemampuan Berinteraksi Sosial Pasien Skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender ... 59
C. Kemampuan Berinteraksi Sosial Pasien Skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender ... 77
BAB V PEMBAHASAN ... 82
A. Pekerja Sosial Medis Bagi Pasien Skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender ... 82
B. Peran Pekerja Sosial Medis Sebagai Pendidik Dalam Meningkatkan Kemampuan Berinteraksi Sosial Pasien Skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender ... 85
C. Kemampuan Berinteraksi Sosial Pasien Skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender ... 101
BAB VI PENUTUP ... 104
A. Kesimpulan ... 104
B. Saran ... 108
DAFTAR PUSTAKA ... 110
viii
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 115
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Daftar Informan Penelitian
Tabel 3.1 Fasilitas yang tersedia di RSJ Islam Klender
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Pelaksanaan kelas terapi kelompok
Gambar 4.2 Pelaksanaan kelas motivasi oleh Pekerja Sosial Medis terhadap rehabilitant
Gambar 4.3 Kerajinan tangan karya rehabilitan Gambar 4.4 Rehabilitan melakukan role play di kelas
bahasa inggris
Gambar 4.5 Diskusi Kelompok oleh para rehabilitan
xi
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Kerangka Berfikir
Bagan 3.1 Struktur Birokrasi RSJ Islam Klender
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Laporan Hasil Observasi Lampiran 2 Biodata Pekerja Sosial Medis Lampiran 3 Pedoman Wawancara
Laampiran 4 Transkip Wawancara Lampiran 5 Surat Izin Penelitian Skripsi Lampiran 6 Surat Bimbingan Skripsi
Lampiran 7 Surat Penerimaan Dari Pihak RSJIK Lampiran 8 Slip Pembayaran Penelitian
Lampiran 9 Absen Kehadiran Penelitian Lampiran 10 Surat Persetujuan Informan
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, disebutkan bahwa negara harus menjamin setiap orang untuk hidup sejahtera lahir dan batin serta memperoleh pelayanan, baik prasarana maupun fasilitas kesehatan. Penting sekali untuk memperhatikan selain kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental yang yang ada pada diri kita dengan seimbang. Banyak orang yang mengabaikan kesehatan mentalnya, padahal hal tersebut dapat mempengaruhi segala aktivitas yang kita lakukan. Dengan memiliki kesehatan mental yang baik, maka seseorang akan mampu menggali potensi dirinya secara maksimal serta akan menjadi tangguh dalam menghadapi dan melewati rintangan kehidupan karena pembawaan diri yang positif.
Sebaliknya, jika seseorang memiliki kesehatan mental yang terganggu, seseorang tersebut dapat mengalami gangguan jiwa, terlebih, saat pandemi Covid- 19 yang melanda Indonesia saat ini, melalui website www.mediaindonesia.com yang diberitakan pada 12 Oktober 2020, Kemenkes mencatat bahwa kasus gangguan jiwa hingga per juni 2020, sebanyak 277 ribu kasus baru yang mengalami peningkatan dibanding tahun 2019 sebanyak 197 ribu kasus. Gangguan jiwa bermacam-
2
macam, salah satunya adalah gangguan jiwa skizofrenia.
Dapat dikatakan bahwa penyakit jiwa skizofrenia adalah penyakit yang mengganggu kognitif baik perasaan (emosional), cara berpikir, dan sikap (Dewi, 2011).
Melalui website https://databoks.katadata.co.id diberitakan pada tanggal 8 Oktober 2019 pukul 09.49, Riskesdas 2018 mencatat sebanyak 7% penduduk di Indonesia mengalami gangguan jiwa skizofrenia.
Sedangkan pada tahun 2013, Riskesdas mencatat penderita gangguan jiwa sebanyak 1,70%. Dapat dilihat bahwa penderita gangguan jiwa skizofrenia mengalami peningkatan 5,3% dalam kurun waktu 5 tahun.
Pengidap skizofrenia cenderung sulit untuk dalam melakukan interaksi dengan orang lain. Dikatakan oleh Kurniasari, dkk., (2019) adanya interaksi yang aktif sangat penting dalam proses pemulihan agar meningkatkan partisipasi yang positif pada pasien, karena penyakit skizofrenia memberikan dampak gangguan interaksi sosial yang mengganggu fungsi kognitif dan afektik kepada pengidapnya sebesar 72%, Jika aspek tersebut terganggu, menimbulkan isolasi sosial, pemulihan yang lama, bahkan bunuh diri. Pekerja sosial medis menjadi salah satu profesi penting yang turut memiliki andil dalam memperlancar usaha pemulihan emosional dan sosial pasien agar mampu menjalankan fungsinya di lingkungan secara optimal (Fahrudin, 2009).
3
Menurut salah satu pekerja sosial medis, Rinaldi, di RSJ Islam Klender, adapun peran pekerja sosial medis yang dimainkan di Rehabilitasi Psikosisial RSJ Islam Klender sebagai pendidik, pembimbing, konselor, penghubung, dan motivator. Namun, peran terbesar yang dimainkan di Rehabilitasi Psikososial sebagai pendidik karena peran tersebut dapat merangkap selain memberi edukasi namun juga memberikan motivasi, serta membimbing pasien. Maka dari itu, penelitian yang akan dilakukan berfokus pada peran pekerja sosial sebagai pendidik.
Berdasarkan penjelasan di atas, seperti yang dijelaskan dalam penggalan QS. Al-Maidah ayat 2, yang berbunyi sebagai berikut:
ا ْوُن َواَعَت َو ىَلَع
ِرِبْلا ى ٰوْقَّتلا َو
“Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan takwa” (QS. Al-Maidah: 2).
Potongan ayat Al-Qur’an tersebut menjelaskan bahwa sebagai manusia harus saling tolong menolong dalam berbuat kebaikan. Dalam penelitian ini, pekerja sosial medis yang berperan sebagai pendidik, membantu proses pemulihan keberfungsian sosial pasien skizofrenia dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial mereka. Berarti, pekerja sosial medis memberikan pertolongan bentuk non materi berupa ilmu yang dimilikinya untuk orang lain yaitu pasien skizofrenia dan
4
mencerminkan ketakwaan kepada Allah SWT. karena perilakunya yang memberikan manfaat dengan orang lain.
Berdasarkan pada latar belakang di atas, penelitian ini membahas mengenai peran pendidik pekerja sosial medis dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial pasien skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender. Penelitian ini dilakukan karena peran pendidik pekerja sosial medis sangat penting dalam memberikan pengajaran agar penderita skizofrenia dapat kembali berinteraksi dan berpartisipasi aktif di masyarakat dengan berani tanpa adanya perasaan rendah diri.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang sudah dijabarkan oleh penulis, maka identifikasi masalah yang akan dijadikan bahan penelitian yaitu pentingnya peran pekerja sosial medis sebagai pendidik dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial pasien karena membantu mereka untuk mampu berinteraksi dengan lingkungannya dan kembali berpartisipasi di masyarakat dengan baik.
C. Batasan Masalah
Penelitian yang dilakukan penulis ini berlokasi di Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender, Jakarta Timur. Studi penelitian yang dilakukan penulis berfokus pada bagaimana peran pekerja sosial medis sebagai pendidik. Dalam fokus pembahasan hanya pada tujuan dari pekerja sosial medis sebagai pendidik dalam
5
memberikan pelayanan dan menangani peningkatan kemampuan berinteraksi sosial oleh pasien skizofrenia.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, peneliti merumuskan permasalahan pada penelitian yang dilakukan, yakni:
“Bagaimana peran pendidik pekerja sosial medis dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial pasien skizofrenia di Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender?”
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran pekerja sosial medis sebagai pendidik dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi pasien skizofrenia di Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.
Adapun beberapa manfaat yang didapatkan dari penelitian ini antara lain, sebagai berikut:
1. Manfaat secara teoritis
Secara teoritis, manfaat yang akan didapatkan dari penelitian ini agar memberikan sumbangsih dari pengembangan ilmu kejiwaan khususnya pada pekerja sosial medis yang berfokus di ranah rehabilitasi psikososial.
2. Manfaat secara praktis 1. Bagi peneliti
6
Manfaat bagi peneliti adalah agar dapat menambah pengetahuan dan pengalaman di ranah Pekerja Sosial Medis di bidang kesehatan jiwa khususnya mengenai peran pekerja sosial medis sebagai pendidik dalam membantu pemulihan pada pasien skizofrenia.
2. Bagi peneliti lain
Manfaat bagi peneliti lain agar menambah wawasan sekaligus pengetahuan di bidang kesehatan jiwa sekaligus dapat menjadi acuan atau referensi bagi peneliti lain dalam penelitian selanjutnya.
3. Bagi klien
Diharapkan bagi klien agar dapat meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial pada dirinya.
Sehingga, keberfungsial sosial klien bisa kembali berinteraksi secara aktif dengan orang lain di lingkungan masyarakat.
F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini membahas mengenai peran pekerja sosial medis sebagai pendidik dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial pasien penderita skizofrenia di Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender, Jakarta Timur.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian
7
deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data melalui wawancara terhadap pekerja sosial maupun pasien di Unit Rehabilitasi Psikososial, observasi langsung ke lokasi, serta dokumen dari kegiatan observasi di tempat penelitian.
Penggunaan metode kualitatif pada penelitian ini, karena dapat menjelaskan mengenai penjelasan yang mendetail pada subyek yang diteliti. Seperti Moelong (2007) yang mengatakan bahwa penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan memanfaatkan metode ilmiah.
2. Lokasi
Penelitian ini dilakukan selama satu bulan pada 12 April 2021 sampai 11 Mei 2021 di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender, yang berlokasi di Jl. Bunga Rampai X No.8, RT.8/RW.6, Malaka Jaya, Kec. Duren Sawit, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13460.
3. Teknik pemilihan informan
Pemilihanan informan pada penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling. Teknik Purposive Sampling
8
adalah teknik pengambilan sampel sesuai dengan tujuan penelitian dengan kriteria tertentu (Creswell, 2017). Pemilihan narasumber yang dijadikan sebagai informan pada penelitian ini adalah pekerja sosial medis sebagai pendidik, tim profesi perawat, psikolog, dan instruktur kelas keterampilan, beserta pasien skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender. Kriteria informan yang diteliti pada penelitian ini antara lain:
a) Pekerja sosial medis di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender.
b) Pasien penderita skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender yang bersedia secara volunteer menjadi informan pada penelitian yang akan dilakukan.
c) Tim profesi dari petugas penanggung jawab pasien skizofrenia di Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender.
Tabel 1. 1 Informan Penelitian
9 Informan Informasi yang
didapatkan
Metode Jumlah Informan Pak Rinaldi,
S.Sos.,
(Pekerja Sosial RSJ Islam Klender)
Informasi
bagaimana pekerja sosial menjalankan peran, fungsinya, apa saja bantuan yang diberikan, serta bagaimana hasil yang
didapatkan dalam membantu pasien skizofrenia terutama dalam peningkatan kemampuan berinteraksi sosial.
Observasi dan
wawancara
1 orang
Pasien
Skizofrenia di Unit
Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender
Informasi mengenai bagaimana pekerja sosial menjalankan perannya dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial serta bagaimana hasilnya.
Observasi dan
wawancara
3 orang
Pipit Ariyadi Amd.Kep.
(Perawat dan Penanggung Jawab Rehabilitan)
Informasi mengenai bagaimana pekerja sosial menjalankan perannya serta kegiatan apa saja yang dilakukan dalam membantu proses pemulihan pasien skizofrenia terutama dalam kemampuan berinteraksi sosial.
Wawancara 1 orang
10 Novi Maulidta,
M.Psi.
(Psikolog Klinis)
Informasi mengenai bagaimana pekerja sosial menjalankan perannya serta kegiatan apa saja yang dilakukan dalam membantu proses pemulihan pasien skizofrenia terutama dalam kemampuan berinteraksi sosial.
Wawancara 1 orang
Kuniti (Instruktur Kelas
Keterampilan)
Informasi mengenai bagaimana peran pekerja sosial dalam
melaksanakan perannya serta mengenai kondisi kemampuan berinteraksi sosial pasien skizofrenia saat mengikuti kegiatan di dalam kelas.
Wawancara 1 orang
Jumlah Informan 7 orang
4. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diharapkan dari penelitian yang dilakukan ini adalah bagaimana peran pendidik pekerja sosial dalam meningkatkan kemampuan bersosialisasi pasien skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam
11
Klender. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder.
1. Data Primer
Creswell (2017) mengatakan data primer adalah data yang didapatkan peneliti secara langsung. Data primer dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi dan wawancara.
a. Wawancara
Informan dalam penelitian saat proses wawancara adalah pekerja sosial medis sebagai pendidik, tim profesi seperti perawat, psikolog, dan instruktur kelas, serta pasien skizofrenia dengan memberi beberapa pertanyaan kepada informan yang memenuhi kriteria dalam penelitian ini.
b. Observasi
Dalam penelitian ini, peneliti mengamati sekaligus menganalisis segala perilaku atau aktivitas dan perubahan yang terjadi oleh informan saat waktu observasi berlangsung.
2. Data Sekunder
12
Creswell (2017) mengatakan bahwa data sekunder adalah sumber data yang diperoleh secra tidak langsung atau melalui media juga data terdahulu yang relevan dengan penelitian yang membantu menjawab pertanyaan penelitian. Data sekunder yang digunakan berupa jurnal ilmiah serta studi dokumentasi yang berhubungan pada peran pekerja sosial medis sebagai pendidik juga mengenai kemampuan bersosialisasi pasien skizofrenia.
Adapun data sekunder yang digunakan dalam penelitian, yaitu:
a. Studi Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang didapat dari berbagai bentuk, seperti tulisan, gambar, atau karya- karya dari seseorang (Sugiyono, 2009, h. 329).
Beberapa studi dokumentasi yang digunakan penelitian ini dapat berupa jurnal, dokumen riwayat rekam medis pasien serta beberapa foto yang diambil peneliti saat observasi dan wawancara sedang berlangsung.
13 5. Teknik Analisis Data
Sejumlah data yang didapatkan peneliti berdasar hasil wawancara, berupa data yang diperoleh berbentuk catatan pendek, cerita narasi, dan deskripsi. Adapun analisis data yang dilakukan memiliki tahapan-tahapan sebagai berikut (Sugiyono, 2009):
a. Reduksi Data
Tahapan yang dilakukan dengan memilih hal-hal pokok, merangkum dan memfokuskan pada inti dari hal-hal penting yang dipilih, serta menyusun ke dalam pola-pola tertentu.
Tujuan dari tahapan ini untuk memberikan gambaran yang jelas dan mempermudah peneliti dalam melakukan pengumpulan data.
b. Penyajian Data
Tahapan yang dilakukan adalah menyajikan data berbentuk uraian dengan penggunaan bahasa yang jelas dengan tujuan untuk mempermudah peneliti maupun pembaca dalam
14
membaca dan memahami isi dari penelitian yang dilakukan.
c. Penarikan Kesimpulan
Tahapan kesimpulan ini merupakan hasil yang didapatkan peneliti melalui hasil wawancara dan observasi yang dilakukan di tempat penelitiannya, penarikan kesimpulan ini merupakan temuan sementara yang sewaktu-waktu dapat berubah.
G. Sistematika Penulisan
Dalam rangka mempermudah penelitian ini, maka peneliti membuat sistematika penulisan sebagia berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi tentang pendahuluan yang menjelaskan dan menjabarkan tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
15
Bab ini memberikan penjelasan tentang teori yang relevan pada penelitian ini.
Teori-teori tersebut meliputi: teori peran yang di dalamnya mengenai pengertian peran bentuk peran. Lalu, teori pekerja sosial medis yang di dalamnya mengenai pengertian dan tujuan pekerja sosial medis.
Lalu, teori peran pendidik pekerja sosial medis mengenai pengertian dan praktik pendidik pekerja sosial medis. Selanjutnya teori interaksi sosial yang di dalamnya mengenai definisi, proses, dan jenis interaksi sosial. Serta teori skizofrenia mengenai pengertian dan kategori gejala skizofrenia. Selain teori, pada bab ini juga menjabarkan tinjauan kajian terdahulu, dan kerangka pemikiran mengenai penelitian skripsi ini.
` BAB III PROFIL LEMBAGA
Bab ini memberikan gambaran mengenai profil dari Rumah Sakit Jiwa Islam Klender yang meliputi sejarah, data umum, visi, misi, dan komitmen manajemen rumah sakit, tujuan, kebijakan, program, serta fasilitas yang ada di dalam Rumah Sakit Jiwa Islam Klender. Selain itu, penelitian
16
juga diberikan gambaran berupa profil Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender yang meliputi struktur, visi, misi, motto, tim profesi, dan program kegiatan yang dilakukan di dalam Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender.
BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN Bab ini menjabarkan tentang temuan data penelitian mengenai pekerja sosial medis bagi pasien skizofrenia yang di dalamnye menjelaskan bagaimana fungsi dari pekerja sosial medis bagi pasien skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender.
Selanjutnya, mengenai peran pendidik pekerja sosial medis dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial pasien skizofrenia yang di dalamnya menjelaskan bagaimana praktik pendidik pekerja sosial medis memberikan pengajaran melalui kelas-kelas edukasi yang menerapkan terapi sosial di dalamnya dengan tujuan dalam meningkatkan kemampuan interaksi sosial pasien skizofrenia. Serta, penjelasan pada mengenai bagaimana kemampuan pasien skizofrenia baik sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan rehabilitasi.
17
BAB V PEMBAHASAN
Pada bab ini berisi tentang pembahasan penelitian mengenai peran pekerja sosial medis yang difokuskan pada peran pendidik dalam meningkatkan kemampuan dalam berinteraksi sosial pasien skizofrenia di Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran pada hasil temuan dan bahasan pada penelitian yang dijadikan sebagai bentuk hasil dari penelitian yang dilakukan untuk dijadikan masukkan baik untuk lembaga maupun orang lain yang membaca.
18
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori 1. Peran
Peran dalam perspektif ilmu psikologi sosial merupakan suatu tindakan seseorang yang memilikki status sosial tertentu yang diharapkan oleh orang lain (Gerungan, 1998 dalam Mubarok, 2016 h. 31). Narwoko & Suyonto (dalam Mubarok, 2016 h. 33) mengatakan bahwa dalam pelaksanaannya, peran dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Peran yang diharapkan (Expected Roler)
Peran yang diharapkan merupakan peran seseorang yang dalam pelaksanaannya diharapkan untuk melakukan perannya dengan baik dan sesuai ketentuan yang ada.
b) Peran yang disesuaikan (Actual Roler)
Peran yang disesuaikan merupakan peran seseorang yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi dalam keadaan tertentu.
19
Peranan pekerja sosial medis sangat beragam, seperti peran sebagai pendidik, pembimbing, motivator, konselor, advokator, fasilitator, dan masih banyak lagi tergantung penempatannya. Kinerja pekerja sosial medis dalam pelayanan bidang medis bertujuan untuk memenuhi pelayanan pasien dengan pemulihan kesehatannya yang berhubungan dengan masalah sosial maupun segi emosional mereka.
2. Pekerja Sosial Medis a. Definisi
Friedlander (dalam Dewi, 2017) mendefinisikan pekerja sosial medis sebagai pelayanan yang memberikan bantuan kepada pasien dalam bentuk bantuan sosial dan emosional yang berhubungan pada penyakit dan cara penyembuhannya.
Barker (dalam Fahrudin, 2009) mendefinisikan pekerja sosial medis sebagai praktek kerja sosial yang bekerja pada setting pelayanan kesehatan untuk memfasilitasi pasien dengan kesehatan yang baik, mencegah penyakit, dan membantu pasien secara fisik dan hubungan dengan keluarganya untuk menyelesaikan
20
masalah sosial dan emosional sesuai dengan ranah domain pekerja sosial. Sedangkan Fahrudin (2009) mengatakan bahwa fokus pekerja sosial medis pada interaksi antara klien-masalah-lingkungan sosial, maka intervensinya bukan hanya masalah dan pribadi klien, namun juga pada lingkungan sosialnya seperti keluarga, teman, dan tetangga. Lebih lanjut, Fahruddin (2009) juga mengatakan dalam pelayanan kesehatan, pekerja sosial medis harus melayani secara menyeluruh (holistik) yang maka dari itu, perlu adanya kerja sama dengan tim medis lainnya seperti dokter, perawat, psikolog, psikiater, serta ahli hukum. Dengan adanya kerja sama tim medis, dapat memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal untuk pasien.
Berdasar pendapat-pendapat di atas, pekerja sosial medis merupakan pekerja sosial yang berpraktik dalam pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk memfasilitasi serta membantu penyembuhan sosial dan emosional pasien.
b. Fungsi Pekerja Sosial Medis
Johnson (dalam Fahruddin, 2009) menjabarkan fungsi pokok pekerja sosial
21
yang kompeten dalam pelayanan kesehatan, antara lain:
a) Membantu penyelesaian masalah- masalah dari segi sosial dan emosional pasien yang disebabkan oleh penyakit yang dideritanya.
b) Memperlancar hubungan antara rumah sakit, pasien dan keluarga serta lingkungan masyarakat.
c) Melibatkan diri dengan mengintegrasikan bagian pekerjaan sosial ke dalam tim rumah sakit yang melaksanakan tugas sesuai domain pekerja sosial dalam perencanaan pengobatan pasien dengan baik dan layak.
d) Membantu pasien dalam penyesuaian diri ke dalam masyarakat dan sebaliknya dengan memberikan dorongan untuk berani kembali bersosialisasi ke masyarakat.
3. Peran Pendidik Pekerja Sosial
a. Praktik Pendidik Pekerja Sosial
Zastrow (dalam Adi, 2003, h.91-94) mengatakan peranan pekerja sosial
22
sekurang-kurangnya ada tujuh peran yang dilakukan, yaitu peran sebagai pendidik, perencana sosial, advokator, pemercepat perubahan, tenaga ahli, konselor, dan penghubung. Dalam peran pendidik, Zastrow menjelaskan lebih lanjut lagi bahwa peran pekerja sosial sebagai pendidik harus memiliki keahlian yang terampil dalam penyampaian informasi yang baik serta memiliki pengetahuan yang luas, up to date, dan memadai terhadap hal- hal yang dibicarakan sesuai dengan bidang yang ditangani. Hal ini dikarenakan agar memudahkan klien atau sasaran memahami apa yang diajarkan dengan jelas.
Peranan educational (pendidik) pekerja sosial, selain berperan aktif memainkan peranan dalam penentuan agenda, juga berperan penting membantu pelaksanaan proses peningkatan produktivitas dalam memberikan pengajaran melalui jenis bantuan berupa:
(Ife, 2002, h.117-127)
a) Peningkatkan kesadaran terhadap masalah yang terjadi.
23
b) Pemberian informasi sesuai kebutuhan sasaran berdasar ranah dan pengalaman pekerja sosial medis.
c) Mengajarkan keterampilan sesuai dengan kebutuhan individu maupun kelompok yang dituju.
Berdasar pendapat-pendapat di atas bahwa pekerja sosial dalam perananya sebagai pendidik adalah membantu dalam proses pemahaman melalui pengajaran seperti keterampilan-keterampilan maupun pemberian informasi sesuai kebutuhan pasien.
b. Terapi Sosial (Social Skills Training) Dalam membantu memperlancar pelaksanaan proses pemulihan terhadap orang dengan gangguan jiwa dilakukan dengan berbagai macam terapi. Salah satunya adalah diberikannya terapi sosial.
Stuart (2013, h. 207) mengatakan pada pasien dengan gangguan jiwa yang mengalami isolasi sosial dapat diberikan penerapan terapi social skills training yang mengacu pada pelatihan kemampuan pasien dalam proses pembelajaran yang berhubungan dengan perilaku, kemampuan berkomunikasi, menjalin interaksi sosial,
24
serta menghadapi situasi yang sulit, yang dilakukan dengan metode seperti role play, feedback, dan melalui berbagai macam penunjukkan tontonan video.
4. Interaksi Sosial
a. Definisi Interaksi Sosial
Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa adanya kehadiran atau bantuan dari manusia lainnya. Interaksi sosial merupakan sebuah proses awal mula dari adanya kebutuhan akan bantuan orang lain. Thibaut (dalam Astiti, 2013) mengatakan bahwa interaksi sosial adalah sebuah peristiwa yang terjadi antara dua orang atau lebih yang hadir dan sedang berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya. Sedangkan Suranto (dalam Astiti, 2013) memaparkan bahwa interaksi sosial merupakan sebuah proses hubungan timbal balik antar sesama manusia yang terjadi secara dinamis.
Interaksi sosial merupakan hubungan yang terjadi antara sesama manusia baik hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dan kelompok,
25
melalui tindakan seperti kerja sama, pertikaian, dan persaingan di dalam suatu hubungan masyarakat berdasar nilai dan norma sosial dalam prosesnya, sehingga membentuk struktur sosial (Sunaryo dalam Rahmawati, 2012 h. 21).
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat dikatakan bahwa interaksi sosial merupakan suatu hubungan antar manusia maupun kelompok yang saling mempengaruhi satu sama lain lalu menciptakan hubungan timbal balik hingga membentuk struktur sosial.
b. Proses Interaksi Sosial
Ada dua syarat dalam proses terjadinya interaksi sosial menurut Soekanto (dalam Rahmawati, 2012 h.26), antara lain:
a) Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam menyampaikan informasi terhadap perasaan dan menunjukkan sebuah perilaku kepada orang lain. Dalam berkomunikasi, harus memenuhi empat unsur komunikasi, yaitu
26
adanya pengirim (communicator), penerima (communicant), pesan atau informasi yang ingin disampaikan, dan media atau sarana
yang digunakan dalam
berkomunikasi.
b) Kontak Sosial
Kontak sosial merupakan sebuah tindakan atau aksi yang dilakukan individu maupun kelompok yang bermakna bagi penerima dan pelaku. Kontak sosial dibedakan berdasarkan cara, baik secara kontak langsung maupun tidak langsung. Lalu berdasar sifat, yakni antara antar individu, individu dengan kelompok, juga pada kelompok dengan kelompok. Selain itu ada berdasarkan bentuk, baik itu kontak negative ataupun positif.
Terakhir, berdasarkan pada tingkat hubungan, yakni kontak primer atau secara langsung dan kontak sekunder yang hanya terjadi melalui perantara.
27
c. Jenis Interaksi Sosial
Menurut Sunaryo (dalam Rahmawati, 2012 h.21-22) ada tiga macam jenis interaksi sosial, antara lain:
a) Interaksi antara individu dengan individu
Interaksi ini terjadi saat kedua individu bertemu secara langsung dan keduanya menjalin hubungan interaksi satu sama lain.
b) Interaksi antara individu dengan kelompok
Interaksi ini terjadi dimana saat seseorang individu bertemu atau berkomunikasi dengan sekelompok atau lebih dari satu orang.
c) Interaksi antar kelompok dengan kelompok
Interaksi ini terjadi saat dua kelompok berbeda saling bertemu atau berkomunikasi.
5. Skizofrenia
a. Definisi Skizofrenia
Duckworth (2011, h.2-3) selaku direktur National Alliance on Mental Illness (NAMI) mengatakan skizofrenia adalah
28
gangguan mental dimana penderita mengalami gangguan pada kognitifnya meliputi kemampuan untuk berpikir, mengelola emosi, membuat keputusan dan berhubungan dengan orang lain. Pengidap skizofrenia juga sering mengalami masalah saat bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Duckworth (2011) juga mengatakan jika pengidap skizofrenia cenderung mengalami timbulnya peningkatan stress dan tekanan perasaan jika harus membagi waktunya dengan orang lain. Mereka juga mengalami kesulitan dalam memahami situasi sosial seperti membaca nada suara maupun ekspresi wajah. Maka dari itu, mereka memilih menarik diri dari lingkungan dan orang lain.
b. Gejala Skizofrenia
Gejala skizofrenia dikelompokkan menjadi tiga kategori (Duckworth, 2011, h.5-6) yaitu:
Pada kategori pertama, yaitu gejala positif atau biasa dikenal dengan gejala psikotik.
Gejala ini meliputi halusinasi dan waham.
Pada halusinasi, menyebabkan pengidap skizofrenia mendengar suara dan melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Lalu,
29
pada tipikal delusi, menyebabkan pengidap skizofrenia mempercayai sesuatu yang salah atau tidak benar adanya.
Pada kategori kedua, yaitu gejala negatif seperti emosi yang tumpul, kehilangan motivasi dan apatis membuat pasien menjadi malas, harga diri pasien yang rendah, pasien mengalami depresi dan menganggap bahwa dirinya tidak layak untuk ditolong, serta tidak dapat melakukan interaksi sosial dengan baik terhadap orang lain.
Pada kategori ketiga, yaitu gejala kognitif atau gejala yang berhubungan dengan cara berpikir. Pengidap skizofrenia sering mengalami kesulitan antara memprioritaskan tugas, mengatur pikiran dan juga memorinya.
Gejala-gejala yang tampak pada penderita gangguan jiwa skizofrenia hanya dapat dikenali dari perubahan perilaku penderita, seperti berbicara kacau, memiliki perasaan emosional yang cepat berubah- ubah, menarik diri dari lingkungan dan orang lain juga sering melihat sesuatu yang tidak nyata atau halusinasi (Duckworth, 2011, h.3). Tidak ada penyebab pasti dari
30
gangguan jiwa skizofrenia ini. Saat ini, kemungkinan dari penyebab timbulnya skizofrenia yang diderita seseorang antara lain faktor genetik dari gangguan fungski aktivitas hidupnya ataupun faktor lingkungan baik masalah dengan orang sekitar atau pekerjaan dan yang lainnya (Arifin & Nulhakim, 2015).
B. Tinjauan Kajian Terdahulu
Dalam mendukung penelitian yang dilakukan peneliti, perlu adanya tinjauan pada kajian tedahulu yang relevan terhadap masalah yang akan dikaji agar diketahuinya posisi peneliti dalam penelitiannya, berikut penelitian-penelitian tersebut:
a) Penelitian I. Novita Sari (2018)
Penelitian skripsi dengan judul “Peran Pekerja Sosial Medis Sebagai Pendidik dalam Proses Kemandirian Pasien Skizofrenia di Instalasi Rehabilitasi Psikososial di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta”. Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu peran pekerja sosial medis di sana serta untuk mengetahui bagaimana tingkat kemandirian pasien.
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan subyeknya yaitu dua pekerja sosial medis dan tiga pasien skizofrenia di Instalasi
31
Rehabilitasi Psikososial di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, serta dokumentasi.
Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah bahwa pasien skizofrenia akan berdampak positif jika banyak kegiatan untuk mengurangi halusinasi. Di Instalasi Rehabilitasi Psikososial di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan membeikan layanan untuk membuat pasien mandiri dan mengurangi kekambuhan pada pasien skizofrenia.
Pada penelitian ini dengan penelitian yang diteliti oleh peneliti sama-sama membahas peran pekerja sosial medis sebagai pendidik. Namun, fokus pembahasan penelitian ini membahas proses kemandirian pasien skizofrenia. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti berfokus pada peningkatan kemampuan bersosialisasi pasien skizofrenia di rumah sakit yang berbeda pada penelitian sebelumnya ini.
b) Penelitian II. Andi Alghifari Darma (2013)
Penelitian skripsi dengan judul “Peranan Pekerja Sosial Medis dalam Penanganan Pasien Rehabilitasi Narkoba di Rumah Sakit Ketergantungan Obat RSKO Jakarta”. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui peranan yang yang diberikan pekerja sosial medis
32
pada residen selama melakukan pelayanan di RSKO Jakarta.
Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengambilan informan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Informan utama pada penelitian ini adalah pekerja sosial medis dan informan pendukungnya adalah keluarga pasien, perawat yang ada di Rehabilitasi Narkoba Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta.
Hasil yang didapatkan pada penelitian ini bahwa pekerja sosial telah menjalankan peran sesuai teori Mary Johnson yaitu dengan memantu pasien menggunakan kemampuannya untuk mempergunakan perawatan medis agar mencegah terjadinya komplikasi-komplikasi lanjutan dan untuk mempertahankan kesehatannya.
Pada penelitian ini sama-sama melakukan penelitian pada peran pekerja sosial medis. Namun, fokus pembahasan penelitian ini pada pasien rehabilitasi pecandu narkoba di Rumah Sakit Ketergantungan Obat. Sedangkan penelitian yang diteliti oleh peneliti adalah pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa.
c) Penelitian III. Rita Untari (2014)
33
Penelitiannya dalam jurnal Vol. 9(19) dengan judul “Pengaruh Terapi Kelompok Terhadap Kemampuan Interaksi Sosial Pasien Skizofrenia di Panti Rehabilitasi Laras Utami Surakarta”. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pengujian pada kemampuan interaksi sosial pasien skizofrenia di Panti Rehabilitasi Laras Utami dengan diberlakukannya terapi kelompok.
Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan rancangan quasi experimental studies dengan menggunakan independen t-test yang dibantu dengan program SPSS dengan pengambilan jumlah sampel sebanyak 28 orang menggunakan teknik purposive sampling.
Hasil dari penelitian ini menampilkan hasil uji t berpasangan pada skor SIAS dengan perolehan nilai p = 0,000 (p<0, 05) yang berarti adanya perbedaan bermakna skor SIAS antara sebelum dan sesudah terapi kelompok. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terapi kelompok dapat memberikan kontribusi yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial pasien skizofrenia d) Penelitian IV. Eko Radityo Nugroho (2018)
Penelitian skripsi dengan judul “Peran Pekerja Sosial Terhadap Penyandang Skizofrenia di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 3”.
34
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran pekerja sosial di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa.
Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif dengan mengumpulkan data, menyusun, mengklarifikasi data, serta menganalisa hasil temuan data. Teknik penemuan data yang digunakan menggunakan teknik triangulasi (gabungan) dengan analisis data induktif.
Hasil penelitian yang didapatkan adalah peran pekerja sosial di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa adalah sebagai fasilitator, broker, enabler, dan educator. Namun peranan yang paling utama dimainkan oleh pekerja sosial di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 3 adalah peranan sebagai fasilitator terutama dalam pembinaan.
Fokus pembahasan pada penelitian ini adalah peran pekerja sosial sebagai fasilitator, sedangkan penelitian yang diteliti oleh peneliti sudah memfokuskan pada peran pekerja sosial sebagai pendidik.
e) Penelitian V. Cecilia I. Kurniasari, dkk.
Penelitian jurnal Vol. 15(2) yang berjudul
“Interaksi Sosial Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa” dengan tujuan penelitian untuk
35
mengetahui gambaran interaksi sosial pada pasien skizofrenia di rumah sakit jiwa. Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan Teknik purposive sampling sebanyak 52 pasien skizofrenia dan instrument kuesioner.
Analisis penelitian ini menggunakan analisis univariat dengan tabel distribusi frekuensi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi sosial pasien skizofrenia sebanyak 45 pasien dengan kategori kurang aktif, 5 pasien cukup aktif, dan 2 pasien berinteraksi aktif. Pada penelitian ini dan penelitian yang dilakukan peneliti sama-sama membahas mengenai interaksi sosial pasien skizofrenia. Namun, penelitian ini tidak membahas peran pekerja sosial medis melainkan meneliti dari segi keperawatan.
C. Kerangka Berfikir
Dalam penelitian ini, pekerja sosial medis berperan penting dalam memberikan bantuan pemulihan pasien mengenai penyakit dan cara penyembuhannya, baik dari segi sosial maupun emosional pasien yang ditujukan untuk meningkatkan kehidupan yang sehat. Pekerja sosial medis di unit rehabilitasi psikososial RSJIK memiliki banyak peran dalam menjalankan tugasnya. Namun, pada penelitian ini, peneliti hanya berfokus pada peran pekerja sosial medis sebagai pendidik. Pekerja sosial medis sebagai
36
pendidik berperan aktif dalam menentukan agenda dengan memberikan pengajaran pada pasien skizofrenia, seperti mengajarkan keterampilan-keterampilan dan memberikan informasi maupun pengetahuan-pengetahuan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Sering dijumpai, pasien dengan gangguan skizofrenia di Rehabilitasi Psikososial RSJIK memiliki afeksi datar, cenderung diam dan menyendiri, serta mengalami kesulitan dalam bersosialisasi. Sulitnya melakukan interaksi sosial dengan orang lain, disebabkan timbulnya perasaan tertekan pada dirinya ketika harus berhadapan dengan orang lain. Namun, sebagai manusia yang merupakan mahluk sosial, pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri melainkan butuh bantuan orang lain yang mana interaksi sosial merupakan proses dari kejadian tersebut. Maka dari itu, penting sekali memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang baik.
Pekerja sosial medis berperan penting pada proses pemulihan pasien. Dalam pelaksanaannya, pekerja sosial perlu bekerja sama dengan tim medis di Unit Rehabilitasi Psikososial RSJIK dan menjadi bagian dari proses pengobatan itu sendiri. Dikarenakan pelayanan pemulihan untuk pasien bukan hanya sekedar dari faktor biofisik yang dilakukan oleh tim dokter maupun perawat serta psikologi dari segi psikisnya, pekerja sosial medis melayani penyembuhan pasien dari faktor sosial dan emosional yang
37
turut berpengaruh penting dalam proses penyembuhan pasien. Terlebih, di saat mereka telah selesai melakukan kegiatan di rehabilitasi psikososial dan harus kembali melakukan perannya baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Pada penelitian ini, penulis menganalisa bagaimana peran pekerja sosial medis yang berfokus sebagai pendidik dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial pasien skizofrenia. Penulis menganalisa apakah peran pekerja sosial medis sebagai pendidik mampu meningkatkan kemampuan berinteraksi pasien skizofrenia serta apakah ada penerapan terapi-terapi tertentu atau berbagai kegiatan yang efektif dalam membantu peningkatan berinteraksi sosial pasien skizofrenia yang dilakukan di unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender. Dengan begitu, pasien skizofrenia yang telah selesai mengikuti kegiatan di unit rehabilitasi psikososial tersebut dapat kembali memiliki kepercayaan diri dalam melakukan interaksi sosial baik di dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Berdasarkan uraian di atas, berikut gambaran kerangka berfikir pada penelitian ini, yaitu:
Bagan 2. 1 Kerangka Berpikir
RS Jiwa Islam Klender
Peksos Medis di RSJIK sebagai pendidik
Pasien Skizofrenia di RSJIK
38
Memfasilitasi pelayanan dengan
mengajarkan keterampilan &
pengetahuan dalam proses pemulihan
pasien.
Mengikuti pelaksanaan kegiatan rehabilitasi yang diberikan peksos
medis.
Pasien dapat pulih dan mampu berinteraksi sosial dengan lingkungan masyarakat dengan
baik.
39
BAB III
PROFIL LEMBAGA
A. Profil Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
1. Sejarah Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Awalnya, Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta mendirikan RS. Islam Jakarta di Jln. Cempaka Putih, wilayah Jakarta Pusat pada tahun 1971. Melihat Rumah Sakit tersebut berkembang dengan pesat, Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta berencana untuk membuat jaringan pelayanan di seluruh wilayah DKI Jakarta. Pada tahun 1986, tepatnya pada 12 Desember 1986 didirikanlah Rumah Sakit Islam Jakarta di wilayah Jakarta Timur dengan nama RS. Islam Jakarta cabang Klender. Melihat potensi wilayah Jakarta Timur yang saat itu belum memiliki banyak Rumah Sakit berdiri, maka dilakukanlah kerja sama antara Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta dengan Perum Perumnas Regional IV dan Bazis DKI dalam rangka pembuatan rumah bersalin ibu dan anak di Perumnas Klender dan diresmikan penggunanannya oleh Gubernur DKI Jakarta, R. Soeprarto pada tanggal 23 Juni 1987. Namun, Rumah Bersalin Ibu dan Anak tidak mempunyai prospek yang cukup baik. Sehingga sejalan dengan itu, Rumah Sakit Islam Jakarta cempaka Putih saat itu mengalami kendala dalam menangani pasien dengan gangguan kejiwaan. Maka atas usul dr.H. Moehamad Muadz Dirdijowijoto Sp.KJ kepada Direktur Rumah Sakit
40
Islam Jakarta Cempaka Putih, dr H. Sugiat, SKM., akhirnya dialihkan fungsi dari Rumah Sakit Bersalin Ibu dan Anak menjadi Rumah Sakit Jiwa Islam Klender pada tahun 1989.
Rumah Sakit Jiwa Islam Klender pada awalnya merupakan rumah sakit yang merawat pasien-pasien dengan gangguan kejiwaan yang dikirim dari Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) cempaka Putih dan RSIJ Pondok kopi.
Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1997 Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta Menyatakan kemandirian Rumah Sakit Jiwa Islam (RSJI) Klender pada Tahun 1997 dengan SK Yayasan RSIJ No.0.39 B/SK- YRSIJ/IV.F/1.b/1997. Tahun 2003, dibuka kerja sama langsung dengan rekanan yang selama ini dilakukan oleh RSIJ Cempaka Putih, yaitu PT. Askes Indonesia, PT Jamsostek, PT. Indocement dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Rumah Sakit Jiwa Islam klender memiliki luas keseluruhan 1.192.62 meter persegi. Dilengkapi oleh Rawat Inap, Rawat Jalan Psikiatri dengan kapasitas 50 tempat tidur, dan Rehabilitasi Psikososial.
2. Data Umum Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Alamat : Jln. Bunga Rampai X Perumnas
Klender, Kel. Malaka Jaya, Kec.
Duren Sawit, Jakarta Timur.
Telepon : (021) 8622491, 86602402 FAX : (021) 86610234
E-mail : [email protected]
41
Website : www.rsjiwaislam.com
MOTTO : “Pelayanan berlandaskan IMAN (Ikhlas, Manusiawi, Amanah, Nyaman)”.
B. Visi, Misi, dan Komitmen Manajemen Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
1. Visi:
Rumah Sakit Jiwa Islam Klender sebagai Rumah Sakit pilihan dan pusat pengkaderan Perserikatan Muhammadiyah Bidang kesehatan jiwa.
2. Misi:
Memberikan pelayanan kesehatan jiwa yang islam, professional, serta peduli kepada kaum dhuafa, meyelenggarakan pelayan yang prima dengan didukung oleh penggunaan sistem informasi, sarana, dan prasarana yang berkualitas serta sebagai tempat da’wah persyarikatan Muhammadiyah.
3. Komitmen Manajemen Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
Manajemen puncak dan seluruh pegawai Rumah Sakit Jiwa Islam Klender akan selalu mengimpletasikan dan mengembangkan sistem manajemen mutu rumah sakit secara terus menerus, efektif, juga konsisten.
42
C. Tujuan, Kebijakan, dan Program di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
1. Tujuan Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
Mewujudkan derajat kesehatan jiwa setinggi-tingginya bagi semua lapisan masyarakat melalui pendekatan pemeliharaan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh sesuai dengan peraturan perundang- undangan, serta tuntutan ajaran islam dengan tidak memandang agama, golongan dan kedudukan.
2. Kebijakan dan Program Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
Program yang diberlakukan pada rumah sakit ini meliputi unit rehabilitasi psikosisial yang di peruntukkan bagi pasien-pasien yang ingin mengikuti kegiatan rehabilitasi, juga sebagai tempat praktek bagi berbagai profesi seperti, dokter, psikolog, perawat, pekerja sosial medis yang akan melakukan praktikum di RSJ Islam Klender. Adapun program-program yang dimiliki, seperti:
a. Program Rehabilitasi Sosial
43
Program ini memiliki 4 (empat) konsep dalam melayani pemulihan pasien, yaitu: Symptom Management pasien untuk mengenali bahaya agar mencegah relaps dan pasien mengenali gejala sisa. Lalu, Medication Management untuk pasien memahami tentang pengobatan dan mengenali efek dan ESP pengobatan. Selanjutnya, Community Reintegration untuk memberikan pelatihan hidup bagi para pasien. Terakhir, Basic Conversation Skill agar pasien dapat berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif.
b. Program Daycare
Program yang diberikan pada pasien rawat jalan dan peserta rehailitan yang telah selesai mengikuti kegiatan rehabilitasi dengan melakukan terapi kerja di sekitar lingkungan rumah sakit sebagia persiapan sebelum mulai bekerja di tempat yang sebenarnya.
c. Program Home Visit
44
Program ini merupakan program kegiatan berkunjung ke rumah pasien yang dilakukan oleh tim profesi sesuai dengan kebutuhan pasien guna mengevaluasi atau menindak lanjuti perkembangan pasien dalam memberikan motivasi serta membantu mengatasi masalah klien dengan keluarga.
D. Fasilitas Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
Tabel 3. 1
Fasilitas di RSJ Islam Klender
1. Rawat Inap
a) Kelas Utama (1) b) Kelas Satu (6) c) Kelas Dua (8) d) Kelas Tiga (26) e) Ruang Isolasi (3) f) Ruang Observasi
(6)
2. Jenis Terapi Yang Digunakan
a) Psikoterapi b) Farmakoterapi c) Terapi Spiritual d) Terapi Aktivitas
Kelompok (group therapy)
e) Terapi Sosial
f) Terapi Keperawatan Motivasi ADL g) Terapi Okupasi h) Terapi Olahraga
45
i) Terapi Keluarga 3. Terapi Unggulan
a) Terapi Spiritual b) Rehabilitasi
Psikososial
4. Pelayanan-Pelayanan Lain
a) Antar Jemput Pasien b) Screening Narkoba c) Home Care
d) Penyuluhan Kesehatan Jiwa e) Penyuluhan
Ketergantungan Obat
f) Lahan Pendidikan Fakultas Kedokteran g) Lahan Pendidikan
Fakultas Psikologi h) Lahan Pendidikan S1
Keperawatan
i) Lahan Pendidikan D3 RMK
j) Lahan Pendidikan S1 Kesejahteraan Sosial k) Pelayanan Jenazah
46
E. Gambaran Umum Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
Pada awal sekitar tahun 2009, perkembangan unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa Islam Klender dimulai saat banyaknya permintaan dari keluarga pasien pasca rawat inap. Keluarga mengalami masalah setelah pasien pulang dari perawatan, aktivitas pasien di rumah tidak terfasilitasi dengan cukup. Sehingga, pasien banyak yang kembali lagi untuk dirawat, akhirnya pihak manajemen RSJIK memberikan pelayanan daycare (rawat jalan) dengan tujuan untuk memberikan ruang bagi pasien dalam memfasilitasi kebutuhan pasien saat itu dengan seorang petugas pekerja sosial.
Seiring berjalannya program daycare, semakin banyak permintaan untuk mengikuti program ini.
Sementara lahan untuk media program ini tidak mencukupi, karena awalnya hanya sebatas kegiatan perkantoran, sehingga pasien yang akan mengikuti program kegiatan harus antri. Akhirnya, pihak manajemen RS memutuskan untuk memperluas dan membuat unit rehabilitasi dengan tujuan dapat memenuhi permintaan dari keluarga pasien dan memfasilitasi keinginan yang dibutuhkan oleh pasien.
Pada tahun 2014 tepatnya bulan Juli, RS Jiwa Islam Klender dapat mewujudkan impian dari keluarga pasien dengan dibukanya unit rehabilitasi psikososial. Walaupun dengan sarana dan prasarana yang belum maksimal, akan
47
tetapi, karena tekad dan semangat yang kuat, unit rehabilitasi dapat berjalan dengan baik. Dimulai dengan target 10 pasien, namun sampai saat ini sudah melebihi kapasitas di mana saat ini sudah ada sekitar 50 pasien yang mengikuti kegiatan rehabilitasi tiap bulannya. Pada unit rehabilitasi, jadwal kegiatan rehabilitant dibagi menjadi sesi senin rabu dan sesi selasa kamis. Pada sesi senin rabu diperuntukkan bagi pasien yang mengalami gangguan jiwa serta retardasi mental dan sesi selasa kamis pasien yang murni gangguan jiwa.
Dalam penelitian ini, peneliti memilih informan pasien skizofrenia pada sesi selasa kamis dikarenakan kondisinya yang lebih stabil dibanding rehabilitant yang ada pada sesi senin rabu. Jumlah rehabilitant pada sesi selasa kamis sekitar 20 orang yang mana 14 rehabilitan pengidap skizofrenia. Penelitian ini mengambil 3 informan pasien skizofrenia dikarenakan mereka memiliki kondisi yang cukup baik dalam memberikan informasi sebagai informan dibanding rehabilitant lainnya.
Kegiatan rehabilitasi membawa dampak yang cukup signifikan dengan antusias keluarga untuk mendaftarkan putra-putrinya agar dapat mengikuti program rehabilitasi psikososial. RSJ Islam Klender terus meningkatkan pelayanan khususnya unit rehabilitasi psikososial yang tak luput dari dukungan pihak BPJS.
Adapun konsep dari rehabilitasi adalah pelayanan holistik dari semua tim profesi dan instruktur yang memberikan
48
layanan untuk keberfungsian sosial serta memanusiakan manusia untuk dapat kembali ke masyarakat, menjadi yang lebih berdaya guna, serta mampu untuk mandiri dalam melakukan pemenuhan kebutuhan dirinya.
F. Struktur Unit Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender
Bagan 3. 1 Struktur Birokrasi RS
Direksi DR. Prisilla Darwin
Manajer Pelayanan dan Penunjang Ns. Isnaini M.S.Kep.
Koord. Rehab Psikososial Rinaldi, S.Sos
49
Kaur. Pelayanan Rajal, Ranap, dan Rehab Ns. Nana Kunarti, S.Kep
Administrasi Fauzi, S.Psi Instruktur / pelatih
Spiritual Islam:
1. Sugiyono
Spritual Kristen:
1. Dr. Forman Raja guguk.
Okupasi Terapi:
1. Jurnal
Terapi Vokasional Keterampilan:
1.Kuniti Olahraga:
1.Hadi 2.Sri
Tim Profesi Dokter DPJP Dokter Umum Perawat
Psikolog Klinis:
1. Dra. Diyan Ariyana, Psi, psikolog
2. Novi Maulidta, M.
Psi, Psikolog 3. Fauzi, S.Psi Perawat Penanggung Jawab:
1. Pipit Ariyadi AMK
Pekerja Sosial:
1. Rinaldi S,Sos
50
G. Visi, Misi, dan MOTTO Rehabilitasi Psikososial RSJ Islam Klender
1. VISI
Upaya untuk memberikan mutu dalam meningkatkan kualitas hidup para rehabilitan di unit rehabilitasi psikososial RSJ Islam Klender dalam bersosialisasi di lingkungan bermasyarakat.
2. MISI
Memberikan pelayanan yang komperehensif kepada para rehabilitant di unit rehabilitasi psikososial RSJ Islam Klender secara ikhlas, handal, dan profesional serta melakukan pengembangan pelayanan yang mengacu pada nilai-nilai kehidupan.
3. MOTTO
Tim profesi pada unit rehabilitasi psikososial RSJ Islam Klender mengedepankan pelayanan yang ramah, santun, jujur, ikhlas, amanah, omunikatif, dan inovatif dalam melayani para rehabilitant.
H. Tim Profesi di Unit Rehabilitasi Psikososial Rumah Jiwa Islam Klender
Dalam pelaksanaan proses penyembuhan pasien, kerja sama antara tim profesi sangat penting. Adapun tim profesi yang membantu pelaksanaan rehabilitasi, antara lain:
1. Dokter
51
Sebagai penanggung jawab pasien yang memberikan rujukan ke rehabilitasi untuk memeberikan rujukan ke rehabilitasi untuk dapat mengetahui kegiatan program rehabilitasi.
2. Psikolog
Melakukan pemeriksaan tes minat bakat dan perkembangan individu dimana atas assasment tersebut dapat dilakukan kegiatan kagiatan apa saja yang terkait dengan kebutuhan pasien dan memotivasi pasien untuk dapat mengembangkan potensinya.
3. Perawat
Memberikan asuhan keperawatan dalam mencegah rilaps (kekambuhan) mengenal penyakit, mengatasi gejala sisa, serta memberikan pemahaman akan obat obat mengenai manfaat, kegunaan, dan efek samping obat sehingga pasien sadar akan kepatuhannya untuk minum obat.
4. Pekerja Sosial Medis
Memberikan pengajaran maupun bimbingan melalui pelatihan dan keterampilan hidup mandiri (life & living skill serta social skill training) agar dapat kembali kemasyarakat layaknya seperti manusia yang lain yang hidup bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya, percaya diri dan tidak tergantung pada orang lain
52
dan menciptakan kemandirian dari hal-hal yang buruk menjadi baik (independence life).
RSJ Islam Klender memiliki satu pekerja sosial medis, yaitu Pak Rinaldi S.Sos yang menyelesaikan studinya di STKS Widuri dan mengabdikan dirinya di rehabilitasi psikososial RSJ Islam Klender dari tahun 2014 sampai sekarang.
Pak Rinaldi atau yang akrab dipanggil Pak Dedi, mengabdi menjadi pekerja sosial medis dibidang kesehatan jiwa dengan menjadi bagian dari projek
“Say No Stigma” yang dilakukan bersama seluruh staff RSJ Islam Klender mengenai penyuluhan kesehatan jiwa dan menghilangkan stigma negatif pada masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa.
Dalam perjalanannya menjadi pekerja sosial medis, turut serta dalam pelatihan rehabilitasi psikososial serta workshop yang dilakukan bekerja sama dengan peusahaan atau lembaga-lembaga, seperti pada Oktober 2014 melakukan workshop yang bekerja sama dengan PT. Johnson mengenai kesehatan jiwa dan Young In Mental Hospital yang diselenggarakan bersama Kedubes Korea pada Agustus 2019. Selanjutnya, mengadakan penyuluhan khususnya tentang peran serta keluarga dalam penanganan Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) serta promosi kesehatan akan