• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

2.3 Pembahasan

2.3.1.Pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) 1. Program Kemitraan (PK)

Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil selanjutnya disebut PK adalah Program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN.

Adapun dana PK bersumber dari:

1) Penyisihan laba setelah pajak sebesar 1% sampai dengan 4%.

2) Hasil bunga pinjaman, bunga deposito dan atau jasa giro dari dana Program Kemitraan setelah dikurangi beban operasional.

3) Pelimpahan dana Program Kemitraan dari BUMN lain, jika ada.

Pelaksanaan PK umumnya dilakukan melalui pembinaan secara struktural oleh Perseroan langsung pada Mitra Binaan melalui Kantor Wilayah/Distribusi, Cabang, Unit Pelayanan, Area Pelayanan (kecuali yang berlokasi sama dengan Kantor Wilayah/Distribusi). Pelaksanaan PK pada dasarnya dilakukan melalui beberapa tahap, sebagai berikut:

1) Melakukan survei penelitian lapangan atas permohonan bantuan dari calon Mitra Binaan. Evaluasi kelayakan dilakukan sesuai kaidah usaha yang layak dan sehat, serta dikoordinasikan dengan instansi terkait;

2) Melakukan pembinaan kemitraan berupa pendidikan dan pelatihan, pemasaran, bantuan modal kerja, memproses jaminan kredit, pemantauan dan evaluasi pada Mitra Binaan, pencatatan dan pembukuan transaksi yang terkait;

3) Membuat laporan secara periodik (triwulan dan tahunan).

Program Kemitraan PLN merupakan salah satu bentuk CSR dari PT PLN (Persero) yang bertujuan membantu meningkatkan Usaha Kecil dengan sistem

16

pinjaman lunak, sasaran utama PK ini adalah Usaha Kecil yang memenuhi kriteria sebagai Usaha Kecil yang layak dijadikan Mitra Binaan dan mempunyai prospek usaha yang bisa dikembangkan. Penggunaan dana PK berupa pinjaman untuk membiayai modal kerja atau pembelian aktiva tetap dalam rangka meningkatkan produksi penjualan. Pinjaman dana PK berjangka waktu 2 (dua) tahun, yaitu dengan bunga 6% pertahun atau 0,5% perbulan.

PLN memberikan kriteria untuk Usaha Kecil yang dapat ikut serta dalam PK yang dituangkan dalam pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-09/MBU/07/2015 sebagai berikut:

1) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau;

2) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah);

3) Milik Warga Negara Indonesia;

4) Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar;

5) Berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, termasuk koperasi;

6) Telah melakukan kegiatan usaha minimal 1(satu) tahun; 7) Mempunyai potensi dan prospek usaha untuk dikembangkan; 8) Belum memenuhi persyaratan perbankan (non bankable).

Kegiatan Program Kemitraan diberikan kepada Mitra binaan dalam bentuk:

a. Pemberian Pinjaman untuk membiayai modal kerja dan/atau pembelian aktiva tetap dalam rangka meningkatkan produksi dan penjualan.

b. Pemberian pembinaan melalui: Pendidikan, pelatihan, pemagangan, pemasaran, promosi untuk meningkatkan produktivitas mitra binaan. Dana pembinaan bersifat hibah kepada mitra binaan.

Disamping dari alokasi bagian laba BUMN/biaya, sumber pendanaan ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

PELAKSANAAN PROGRAM KEMITRAAN... BADRUS SHOLEH

Penggolongan

Kualitas

Pinjaman

Lancar

Kurang

Lancar Diragukan

Macet

Program Kemitraan yaitu pengembalian pinjaman dari mitra binaan dan jasa administrasi (bunga) yang ditetapkan sebesar 6% flat per tahun. Penggolongan Kualitas Pinjaman ditetapkan dalam pasal 21 Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-09/MBU/07/2015 yaitu:

Gambar 2.4 Penggolongan Kualitas Pinjaman

Penjelasan dari gambar penggolongan kualitas pinjaman di atas yaitu:

1. Lancar, adalah pembayaran angsuran pokok dan jasa administrasi pinjaman tepat waktu atau terjadi keterlambatan pembayaran angsuran pokok dan/atau jasa administrasi pinjaman selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari dari tanggal jatuh tempo pembayaran angsuran, sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui bersama;

2. Kurang lancar, apabila terjadi keterlambatan pembayaran angsuran pokok dan/atau jasa administrasi pinjaman yang telah melampaui 30 (tiga puluh) hari dan belum melampaui 180 (seratus delapan puluh) hari dari tanggal jatuh tempo pembayaran angsuran, sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui bersama;

18

dan/atau jasa administrasi pinjaman yang telah melampaui 180 (seratus delapan puluh) hari dan belum melampaui 270 (duaratus tujuh puluh) hari dari tanggal jatuh tempo pembayaran angsuran, sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui bersama;

4. Macet, apabila terjadi keterlambatan pembayaran angsuran pokok dan/atau jasa administrasi pinjaman yang telah melampaui 270 (duaratus tujuh puluh) hari dari tanggal jatuh tempo pembayaran angsuran, sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui bersama.

Sifat dari bantuan pinjaman PK PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur sama dengan Pimjam-meminjam yang diatur dalam pasal 1754 KUH Predata. Unsur–unsur yang terdapat dalam pinjam-meminjam sebagaimana yang diatur pada Pasal 1754 KUH Perdata tersebut adalah:

a) Adanya para pihak.

Pihak pertama memberikan prestasi pada pihak lain suatu jumlah tertentu barang-barang atau sejumlah uang dengan syarat bahwa Pihak kedua ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula. Pihak pertama dalam PK ini adalah PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, yang memberikan sejumlah bantuan pinjaman modal kepada Pihak kedua, yaitu Usaha Kecil yang menjadi Mitra Binaannya.

b) Adanya persetujuan.

Dimana Pihak pertama dan Pihak kedua membuat perjanjian bersama yang menyangkut dengan waktu, kewajiban dan hak-hak masing-masing yang dituangkan dalam bentuk perjanjian. Bantuan pinjaman modal PK ini berjangka waktu 2 (dua) tahun. Mitra Binaan berkewajiban menggunakan dana PK untuk mengembangkan usahanya, serta memberikan laporan perkembangan usahanya kepada PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur setiap triwulan atau 3 (tiga) bulan sekali.

c) Adanya sejumlah barang tertentu.

Barang tersebut dipercayakan dari Pihak pertama kepada Pihak kedua. ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

PELAKSANAAN PROGRAM KEMITRAAN... BADRUS SHOLEH

Yang dimaksud dengan barang disini adalah sejumlah uang yang dipinjamkan oleh PT PLN (Persero) Distibusi Jawa Timur kepada Mitra Binaannya sebagai bantuan pinjaman modal, dengan syarat-syarat yang telah disepakati besrama.

d) Adanya pengembalian pinjaman.

Bahwa Pihak kedua akan menyerahkan sejumlah tertentu barang-barang kepada Pihak pertama. Bantuan pinjaman modal PK ini berjangka waktu 2 (dua) tahun, dengan bunga 6% pertahun atau 0,5% perbulan. Dalam memberikan bantuan dana PK, PT PLN (Persero) memberikan kesempatan pada Mitra Binaan untuk mengembangkan usahanya. Setelah itu pada bulan ke-4 (empat), Mitra Binaan berkewajiban untuk memulai membayar angsuran yang pertama.

2. Program Bina Lingkungan (BL)

Program bina lingkungan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan bantuan pendidikan bagi masayarakat sekitar lokasi transmisi dan distribusi yang tidak mampu, namun memiliki kecerdasan dan kemauan besar untuk melanjutkan pendidikan. Selain itu, dilakukan melalui kegiatan pelestarian alam berupa partisipasi program penghijauan yang diselenggarakan oleh pihak eksternal bekerja sama dengan Pemerintah dan realisasi penghijauan sekitar instalasi PLN. Dana BL bersumber dari penyisihan laba setelah pajak maksimal 4% (empat persen). Dana BL diberikan untuk tujuan memberikan manfaat kepada masyarakat di wilayah usaha PLN dalam bentuk kegiatan berupa Community Relation,

Community Service dan Community Empowering serta bantuan pelestarian alam.

Bentuk bantuan bina lingkungan yang telah di realisasikan oleh PT PLN (Persero) Distribusi Jatim antara lain: memberi bantuan pengobatan gratis, memberikan bantuan sosial, diantaranya: membantu pembangunan masjid, mushola, madrasah, balai RT/RW, jalan-jalan perkampungan; serta memberikan bantuan pelestarian alam seperti penghijauan.

Berikut adalah aksi program Bina Lingkungan yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur selama TW I tahun 2016:

20

1. Bencana alam

Lokasi : Sampang Madura

Bencana : Banjir

Penerima manfaat : Tenaga alih daya yang terkena dampak serta warga sekitar kantor

Bantuan : Sembako

2. Perbaikan sarana umum dan ibadah

Lokasi : Bondowoso, Asem Bagus, Pacitan, Sidoarjo Bantuan : Renovasi atau pembangunan Masjid/Musholla 3. Pendidikan

Lokasi : Sidoarjo, Wonosari, Bangkalan, Gresik, Lamongan Bantuan : Renovasi atau perbaikan sekolah

4. Pengetasan kemiskinan

Lokasi : Madiun, Jember

Bantuan : program bedah rumah Pensiunan 5. Kesehatan

Lokasi : Surabaya

Bantuan : Baksos dan pemeriksaan kesehatan gratis warga kelurahan Jambangan

Pasal 10 ayat (1) Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 336.K/DIR/2007 memberikan penentuan tata cara penyaluran dana PBL/P3L, yaitu:

a) PLN Pembina dan PLN Pembina Proyek harus terlebih dahulu melakukan survey dan identifikasi serta kajian potensi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di wilayah usaha PLN Pembina dan PLN Pembina Proyek; b) Kecuali untuk bencana alam, calon penerima bantuan harus

menyampaikan permohonan dan rencana penggunaan dana kepada PLN Pembina dan PLN Pembina Proyek setempat dilengkapi dengan jastifik asi rencana penggunaan dana;

ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

PELAKSANAAN PROGRAM KEMITRAAN... BADRUS SHOLEH

1. Pengajuan Surat Permohonan Bantuan 2. Pembuatan & Pengajuan Proposal 3. Survey Tim PKBL 4. Analisa 5. Undangan kepada Pemohon 6. Pemberian Bantuan 7. Monitoring 8. Pelaporan Pekerjaan

c) Pelaksanaan PBL/P3L dilakukan secara langsung oleh PLN Pembina dan PLN Pembina Proyek setempat;

d) Pada saat penyerahan bantuan dana PBL/P3L baik berupa uang tunai maupun material, disertai Berita Acara Penyerahan, yang isinya antara lain:

1. Kepada siapa, alamat bantuan diberikan, alasan mengapa bantuan diberikan dan manfaat apa yang dih arapkan akan dapat diperoleh PLN;

2. Berita Acara Penyerahan ditanda tangani oleh Pihak yang Menerima, Pihak yang Mengusulkan dengan diketahui oleh: Manajer Cabang/Area Pelayanan/Sektor/Region/UPT/UPB/Proyek.

e) PLN Pembina dan PLN Pembina Proyek wajib berkoordinasi dengan Unit PKBL/P3L PLN untuk efektifitas dana akuntabilitas pelaksanaan program. Prosedur penerimaan dan evaluasi administrasi proposal permohonan pinjaman bantuan Bina Lingkungan pada PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, antara lain sebagai berikut:

Gambar 2.5 Prosedur penerimaan dan evaluasi administrasi proposal permohonan pinjaman bantuan Bina Lingkungan

22

Berikut ini merupakan penjelasan dari gambar prosedur di atas:

1. Mengajukan surat permohonan bantuan untuk pembangungan ke PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, Jl Embong Trengguli 19-21 Surabaya. 2. Membuat proposal permohonan bantuan yang sekurang-kurangnya berisi:

a) Surat permohonan pengajuan bantuan; b) Kebutuhan yang diminta;

c) Surat pengantar diketahui oleh kelurahan dan kecamatan setempat; d) Tanda tangan ketua dan sekertaris bendahara;

e) Foto obyek sasaran.

3. Setelah proposal masuk kemudian Tim Bina Lingkungan melakukan survei lokasi;

4. Hasil survei di analisa panitia Bina Lingkungan;

5. Apabila hasilnya layak maka PT PLN (Persero) memberikan undangan kepada Ketua dan Bendahara pemohon untuk hadir guna pemberitahuan informasi mengenai sumber dana, tujuan, hak dan kewajiban masing-masing pihak, dan lain sebagainya. Kemudian penandatanganan berita acara penyerahan dana, yang di tanda tang ani oleh Ketua pemohon, dan disyahkan oleh Manajer PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, yang disaksikan oleh pejabat-pejabat PLN dan para penerima undangan yang lain. Kemudian bantuan dana tersebut oleh PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur ditransfer ke nomor rekening pemohon.

6. Selanjutnya akan dilakukan monitoring oleh Tim PKBL 7. Pelaporan pekerjaan selesai oleh penerima manfaaat.

Bentuk pemberian bantuan PKBL sama dengan pengertian hibah yang diatur dalam pasal 1666 KUH Perdata . Dalam pelaksanaan bantuan PBL sifatnya tidak menuntut pengembalian, atau diberikan kepada Mitra Binaan secara cuma-cuma. Ciri-ciri suatu hibah antara lain:

a. Hibah adalah persetujuan sepihak;

b. Apabila si penerima hibah telah menerima penyerahan, maka hibah tersebut tidak dapat ditarik kembali atau dihapuskan, kecuali apa yang

ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

PELAKSANAAN PROGRAM KEMITRAAN... BADRUS SHOLEH

ditentukan dalam Pasal 1688 KUHPerdata;

c. Hibah harus dilakukan dengan akta notaris, apabila tidak maka hibah akan batal (Pasal 1682 KUHPerdata);

d. Dalam hibah, baik si penerima hibah atau yang menghibahkan, keduanya harus masih hidup.

2.3.2.Kisah Sukses Mitra Binaan dan Program Bina Lingkungan 1. Bayar Listrik (cukup) dengan Sampah

Proses pembayaran rekening listrik warga sekitar bank sampah, selama ini dilakukan di loket PPOB diluar wilayahnya. Hal ini kemudian memunculkan biaya tambahan bagi warga, seperti biaya transportasi dan parkir, disamping juga terdapat biaya administrasi yang akan dipungut oleh pemilik loket. Potensi ini, kemudian dilihat oleh Tim CSR-Bina Lingkungan PLN sebagai sebuah peluang yang layak dikemas dalam sebuah desain program aksi CSR-Bina Lingkungan 2012. Pada tahun 2011 melalui program kampung binaan CSR-Bina Lingkungan PLN telah berhasil melakukan pelatihan dan mendorong berdirinya 125 titik bank sampah binaan di Surabaya dan 280 titik bank sampah di Malang.

Untuk menjaga keberlanjutan program dan mendukung perkembangan bank sampah maka pada tahun 2012, CSR-Bina Lingkungan PLN meluncurkan akasi Program Wirausaha Bersinar “PPOB – Bayar listrik dengan sampah” dan “Bank Sampah Induk“. Selain sebagai bentuk keberlanjutan program tahun sebelumnya, aksi program ini juga sebagai bentuk komitmen PLN untuk terus mengembangkan bank sampah dan mencari terobosan agar memberi manfaat bersama antara masyarakat dan perusahaan.

Aksi Program “bayar listrik dengan sampah” dapat membantu pelanggan serta memudahkan masyarakat untuk membayar listrik. Aksi ini bertujuan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan warga dan organisasi atau komunitas diperkampungan, meningkatkan kebersihan lingkungan serta menjaga kelestarian alam.

24

2. Bank Sampah Bintang Mangrove

Bank sampah yang beroperasi di Kampung Gunung Anyar Tambak – Surabaya, awal mula berdirinya diilhami oleh kondisi tanaman mangrove yang setiap tahun ditanam oleh PLN sering mati, akibat banyaknya lilitan sampah sehingga tanaman mudah terbawa arus. Selama ini proses pembersihan sungai dilakukan melaui kerja bakti, dengan membayar warga setempat, atau pembersihan oleh dinas terkait. Namun proses kegiatan ini tidak mungkin dilakukan melalui pengerahan warga dengan membayar fee tertentu secara terus menerus.

Guna menyelesaikan problem secara permanen, maka mucul ide dari Tim CSR – Bina Lingkungan PT PLN (Persero) untuk melebarkan sayap bank sampah. Bersama Bank Sampah induk yang selama ini sudah dibina oleh CSR Bina Lingkungan PLN , dilakukan pendekatan kepada warga untuk merintis berdirinya bank sampah ditepi sungai. Bank Sampah Bintang Mangrove mulai beroperasi pada April 2012, saat ini memiliki 59 nasabah.

Dalam kurun waktu sekitar 6 bulan operasi, bank sampah Bintang Mangrove terlihat cukup aktif dan terus tumbuh berkembang. Setiap bulan saat sekitar 700 s/d 900 Kg sampah plastik & kardus diangkat oleh nelayan dari sungai.Selain itu juga sampah dari rumah tangga sekitar sungai sudah langsung ditabung di bank sampah, sehingga kondisi sungai menjadi lebih bersih.

Walaupun masih relatif baru, namun semangat warga Gunung Anyar Tambak untuk hidup bersih dan maju sudah mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Tim JICA (Japan International Coorporatiaon Agency) sudah dua kali berkunjung ke lokasi, bahkan pada kahadirsannya yang kedua, tanggal 6 November 2012 , Tim JICA membawa serta perwakilan kota-kota di negara-negara Asean, untuk melihat langsung pola perubahan prilaku masyarakat setempat dalam mengelola sampah.

Sejumlah aksi program akan terus dikembangkan oleh Tim CSR-PKBL untuk mendukung keberlanjutan program-program yang sudah berjalan maupun merintis aksi-aksi program baru.

ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

PELAKSANAAN PROGRAM KEMITRAAN... BADRUS SHOLEH

26

2.3.3.Hambatan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan

Permasalahan dalam pelaksanaan PK pada PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur adalah banyaknya Mitra Binaan yang macet dalam ketepatan waktu pembayaran kembali pokok dan jasa administrasi pinjaman. Dikatakan sebagai kriteria Macet apabila terjadi keterlambatan pembayaran angsuran pokok dan/atau jasa administrasi pinjaman yang telah melampaui 270 (dua ratus tujuh puluh) hari dari tanggal jatuh tempo pembayaran angsuran, sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui bersama.

Masalah yang muncul dalam pelaksanaan BL adalah banyaknya proposal yang masuk, tetapi dana yang tersedia tidak mencukupi, dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga bantuan pelestarian alam berupa penghijauan.

ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

PELAKSANAAN PROGRAM KEMITRAAN... BADRUS SHOLEH

Dokumen terkait