• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Perbedaan respon tekanan darah terhadap postural change antara kelompok bising intensitas tinggi dan bising intensitas rendah

Pembahasan ini akan membandingkan respon tekanan darah pada bising intensitas tinggi sebagai kelompok yang memiliki fungsi sistem otonom yang mengalami perubahan dan bising intensitas rendah sebagai kelompok yang memiliki fungsi fisiologis normal sehingga dapat dijadikan parameter untuk menentukan ada tidaknya perbedaan respon tekanan darah terhadap postural change.

Terdapat perbedaan respon tekanan darah sistolik pada subyek yang tinggal di daerah dengan intensitas bising tinggi dan subyek yang tinggal di daerah intensitas bising rendah. Perbedaan secara bermakna pada respon tersebut didapatkan pada tekanan darah sistolik pretes, postes menit 7, dan delta pretes menit 1. Delta pretes menit 1, kelompok

intensitas bising tinggi mengalami penurunan sebanyak (-13,7 ± 12,21 mmHg) dibandingkan dengan kelompok intensitas bising rendah yang mengalami penurunan sebanyak (-1,93 ± 10,49 mmHg). Penurunan tekanan darah yang lebih tinggi pada subyek yang mendapat bising intensitas tinggi atau dalam kondisi stres disebabkan oleh ketidakstabilan refleks simpatovagal menurut penelitian Japundžić-Žigon (2010).

Terdapat penurunan pada tekanan darah sistolik tekanan darah sistolik secara bermakna dengan metode postural change dan kembalinya tekanan darah ke baseline setelah menit ke 3. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Pujitha et. al., (2014) tentang postural change terhadap tekanan darah dan frekuensi nadi dan penelitian Eser et. al. (2007) tentang perbedaan posisi tubuh terhadap tekanan darah. Penelitian ini tidak dilakukan pengukuran pada menit ke 3. Pengukuran dilakukan pada menit awal ketika berdiri dan setelah 7 menit berdiri. Setelah 7 menit berdiri, tekanan darah sistol kembali ke baseline pada dua kelompok karena venous return sudah kembali normal.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Goyal, Gupta, dan Walia, (2010) tentang efek dari bising dengan fungsi tes otonom juga mendapat hasil bahwa rata-rata penurunan sistolik berbeda bermakna diantara 2 kelompok yang mengalami bising. Berdasarkan penelitian ini, pengukuran tekanan darah dari posisi supinasi ke posisi berdiri akan melihat aktivitas dari sistem saraf simpatis. Tekanan darah pada perubahan posisi ini diatur oleh baroreseptor refleks. Perbedaan rata-rata penurunan tekanan darah

secara sistolik pada 2 kelompok dapat disebabkan karena penurunan sensitifitas baroreceptor indeks pada kelompok intensitas bising tinggi.

Penelitian ini didapatkan hasil penurunan tekanan darah sistolik pada perubahan postural dari posisi supinasi/ berbaring ke posisi berdiri, hal ini diakibatkan oleh darah yang terkumpul di ektremitas bawah karena efek gravitasi bumi, sehingga dapat mengurangi venous return dan stroke volume yang ditandai dengan turunnya tekanan darah sistolik. Baroreseptor refleks kemudian berfungsi menjaga tekanan darah normal.

Arterial barorefleks yang berada pada sinus carotid dan sepanjang lengkung aorta ini mengatur regulasi otonom tekanan darah secara jangka pendek (Wilker et. al., 2009). Pengurangan dari venous return akan berakibat turunnya cardiac output sehingga akan menurunkan stimulasi di baroreseptor aorta dan arteri carotid. Pengurangan dari stimulasi baroreseptor ini dalam keadaan normal akan menurunkan aktivitas sistem parasimpatetis dan meningkatkan aktivitas simpatis. Aksi ini berpengaruh pada pusat kardiovaskular di medulla oblongata sehingga akan meningkatkan denyut jantung, tonus arteri dan vena, dan kontraksi jantung untuk mengompensasi penurunan stroke volume dan memprovide cardiac output untuk memenuhi kebutuhan tubuh (Klabunde, 2011).

Penelitian ini didapatkan perbedaan bermakna pada rata-rata tekanan darah diastolik di menit awal berdiri. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Goyal, Gupta, dan Walia (2010) tentang efek dari bising pada tes fungsi otonom, didapatkan hasil berupa penurunan signifikan pada

perubahan tekanan darah diastolik. Mekanisme dari perubahan diastolik tersebut karena mungkin terdapat perubahan vaskular sehingga terdapat peningkatan resistensi perifer.

Hasil frekuensi nadi pada penelitian ini tidak didapatkan perbedaan bermakna pada rata-rata kenaikan antara kelompok bising intensitas rendah dan kelompok bising intensitas tinggi. Hasil yang sama juga terdapat dalam penelitian Goyal, Gupta, dan Walia (2010). Hal ini dikarenakan telah terjadi penurunan tonus vagal pada kelompok bising intensitas tinggi sehingga perubahan relatif pada frekuensi nadi sama seperti kelompok bising intensitas rendah. Pengukuran nadi sendiri digunakan untuk melihat aktivitas parasimpatetis. Pada penelitian ini, frekuensi nadi pada posisi berdiri 7 menit belum kembali ke baseline pada 2 kelompok, hal ini dapat juga dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Hasil yang sesuai juga didapatkan pada penelitian Pujitha et. al., 2014 tentang berbagai variasi frekuensi nadi terhadap postur tubuh, didapatkan hasil frekuensi nadi yang lebih tinggi dibanding baseline pada menit ke 3. Penelitian ini, frekuensi nadi hanya diukur pada menit 1 dan menit 7. Kenaikan frekuensi nadi pada posisi berdiri akan mengikuti penurunan

venous return karena terdapat venous pooling di ekstremitas bawah. Penurunan ini akan menstimulasi baroreceptor refleks sehingga terdapat penurunan parasimpatis dan kenaikan simpatis. Pusat kardiovaskular di medula oblongata akan merespon dengan meningkatkan frekuensi nadi sebagai kompensasi atas berkurangnya stroke volume.

Penelitian ini didapatkan rata perubahan tekanan arteri rata-rata (MAP) bermakna pada menit pertama berdiri diantara 2 kelompok. Menurut penelitian Rosada et. al, (2012) peningkatan MAP terjadi karena subjek pada kelompok bising intensitas tinggi memiliki aktivitas tonus simpatis yang meningkat sehingga dapat berpengaruh terhadap resistensi perifer maupun cardiac output.

MAP merupakan hasil dari rerata tekanan darah sistolik dan diastolik yang merupakan tekanan darah sistemik menggambarkan curah jantung dan resistensi perifer (Porth, 2009). Perubahan menjadi posisi berdiri setelah supinasi, baroreceptor refleks akan aktif menjaga tekanan darah arteri, sehingga mean arterial pressure dalam keadaan normal tidak berkurang lebih dari beberapa mmHg ketika seseorang berdiri dibandingkan dengan posisi supinasi. Mekanisme yang terjadi ketika tubuh berusaha menjaga mean arterial pressure dalam kondisi normal antara lain dengan meningkatkan resistensi vascular oleh simpatis, penurunan compliance dari vena, menurunnya stroke volume, dan naiknya frekuensi nadi (Klabunde, 2011).

Hasil penelitian didapatkan perbedaan bermakna pada delta tekanan nadi posisi supinasi dan posisi berdiri antara kelompok bising intensitas tinggi dan kelompok bising intensitas rendah setelah dilakukan

postural change . Tekanan nadi merupakan selisih antara tekanan sistolik dengan diastolik. Tekanan nadi dipengaruhi oleh cardiac output dan kemampuan pembuluh darah arteri untuk meregang (Guyton, 2006). Tidak

ditemukan literatur atau penelitian yang menyatakan alasan adanya perbedaan perubahan signifikan diantara delta tekanan nadi posisi supinasi dan berdiri dari 2 kelompok setelah dilakukan postural change, namun hal tersebut dapat dikarenakan cardiac output antara dua kelompok yang beda karena stressor lingkungan yang berbeda antara 2 kelompok.

Penelitian ini didapatkan usia pada kelompok bising intensitas tinggi lebih tinggi (38,63 ± 6,12 tahun) dibandingkan usia pada kelompok bising intensitas rendah (30,03 ± 5,64 tahun) dengan perbedaan yang bermakna. Rerata usia kelompok bising intensitas tinggi yang lebih tua dibanding kelompok bising intensitas rendah dapat mempengaruhi pengaturan tekanan darah. Hemodinamik dan homeostasis menjadi kurang efektif seiring bertambahnya usia dan hal ini berhubungan dengan kemampuan untuk mengatur tekanan darah. Berhubungan dengan berubahnya respon fisiologis karena usia, orang yang lebih tua menjadi lebih terpengaruh terhadap ortostatik tes dibanding yang berusia lebih muda (Klabunde, 2011).

Aktifnya pusat vasomotor dan simpatetik sistem akan meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung, tetapi semakin tinggi usianya, sensitivitas baroreseptor akan berkurang dan menyebabkan tekanan darah sistolik pada kelompok yang lebih tua akan berkurang lebih banyak. Hal ini diakibatkan berkurangnya elastisitas dari pembuluh darah, sehingga tekanan darah diastolic pada kelompok yang lebih tua tetap lebih tinggi dibanding kelompok yang lebih muda (Pujitha et.al, 2010)

2. Hubungan Bising dengan Respon Tekanan Darah terhadap postural change

Stressor bising akan mempengaruhi sistem saraf otonom dan sistem endokrin, sehingga pajanan bising yang kronik dapat juga mempengaruhi sistem kardiovaskular. Teori tentang stress yang mempengaruhi fisiologi non-auditory efek secara umum mengacu kepada dua teori, yaitu sistem simpatetik-adrenal-medular aksis (SAM Axis) dan sistem pituitary-adrenal-cortical aksis (HPA Axis) (Babisch et al., 2014). Paparan bising secara kronik dapat mempengaruhi homeostasis karena adanya disregulasi, adaptasi parsial, atau efek dari adaptasi fisiologis (Babisch & Kim, 2011).

Paparan bising yang kronis mengaktivasi sistem SAM sebagai mekanisme pertahanan dengan sekresi katekolamin epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin). Jika individu tersebut sukses dalam coping dan mampu mengontrol stressor, ia dapat merespon dengan kembali ke normal. Jika, individu tersebut harus tetap melawan stressor atau paparan terhadap stres kronik, gangguan secara fisiologis akan terus terjadi. SAM aksis teraktivasi ketika seorang individu merasa dalam kondisi tertantang oleh lingkungan. Melalui hipotalamus dan simpatetik sistem, stres akan menstimulasi medula adrenal untuk melepas dua katekolamin berupa epinefrine dan norepinefrine. Output epinephrine terutama dipengaruhi oleh stressor mental dan norepinefrine yang

diproduksi oleh akhiran syaraf simpatis lebih sensitif ke aktivitas fisik dan postur tubuh (Lundberg, 1999).

Sistem auditori bekerja 24 jam termasuk selama keadaan tidur menganalisa informasi yang masuk untuk kemudian difilter dan diintrepretasi oleh bagian kortikal dan sub-kortikal dari otak. Eksitasi cepat dan overshooting yang disebabkan oleh bising intensitas tinggi akan dihubungkan secara subkortical melewati amygdala ke HPA aksis. Percobaan pada tikus menunjukkan bahwa bising akan menyebabkan releasenya berbagai hormon stres seperti CRH (Corticotropin-Releasing Hormone), ACTH (Adrenocorticotropic hormone) dan kortisol. Selain itu, paparan bising selama 1 sampai 12 jam juga dapat mengubah sensitivitas dari reseptor kortisol dan perubahan struktural pada kelenjar adrenal dan jaringan jantung. Kenaikan jumlah cortisol juga ditemukan pada manusia ketika terpapar bising (Spreng, 2000). Kenaikan level dari cortisol juga dilaporkan dari subjek yang terpapar bising pesawat dengan level 55-65 dB ( Maschke et al., 2002).

Penilaian adanya penurunan tekanan darah yang lebih tinggi pada subjek yang mendapat bising intensitas tinggi atau dalam kondisi stress berkaitan dengan ketidakstabilan sympathovagal reflex (Zigon, 2010). Perubahan posisi tubuh dari supine atau duduk ke posisi berdiri diatur oleh baroreseptor refleks. Apabila pengaturan baroreseptor refleks tidak stabil, hal ini dapat menyebabkan hipotensi ortostatik yang merupakan kondisi terjadinya penurunan tekanan darah > 20/10 mmHg pada posisi berdiri

saat dilakukan pengukuran ortostatik. Gejala yang dapat mengikuti adalah perasaan seperti lightheadedness atau pusing, yang diakibatkan oleh menurunya suplai darah ke otak. Penelitian ini, keadaan hipotensi ortostatik didapatkan pada 56,67% subyek dan gejala didapatkan pada 63,3% subjek kelompok bising intensitas tinggi. Hipotensi ortostatik dapat terjadi pada postural change ketika sistem saraf otonom tidak mampu mengatasi beban ortostatik. Beberapa faktor yang mempengaruhi homeostasis dan kejadian hipotensi ortostatik aadalah pengaturan fungsi otonom, volume intravascular, durasi berdiri, waktu harian, keadaan postprandial, dan temperatur lingkungan (Naschitz, 2007).

58

Pajanan bising intensitas tinggi dapat menyebabkan peningkatan respon kardiovasa, yaitu pada tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, tekanan arteri rata-rata dan tekanan nadi terhadap metode postural change.

B. Saran

1. Penelitian selanjutnya dapat lebih memperhatikan stressor selain bising yang diterima masing masing individu, seperti stressor psikologis, sehingga dapat diminimalisir kesalahannya.

2. Perlunya pengukuran kadar hormon stres seperti CRH ( Corticotropin-Releasing Hormone), ACTH (Adrenocorticotropic hormone) dan kortisol pada subyek selain pengukuran tekanan darah

3. Perlunya keseriusan untuk penataan ulang lingkungan sekitar bandara sebagai tempat tinggal yang disesuaikan dengan peraturan daerah supaya masyarakat yang tinggal di bawah lingkungan dengan bising intensitas tinggi tidak dirugikan.

59

DAFTAR PUSTAKA

Alberti, P. W., The anatomy and physiology of hearing. Diakses 10 April 2015, dari http://www.who.int/occupational_health/publications/noise2.pdf

Afnita, H., Poerwito, S. M., (2013) Pengaruh Paparan Bising Menahun dari Aktivitas Penerbangan terhadap Tekanan Darah (Studi Kasus: Kawasan Sekitar Bandar Udara Internasional Ahmad Yani Semarang). Sains medika vol 5, no. 2.

Babba, J. (2007). Hubungan Antara Intensitas Kebisingan di Lingkungan Kerja dengan Peningkatan Tekanan Darah (Penelitian Pada Karyawan PT Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan). Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang.

Babisch, W. dan Kim, R. (2011) Environmental Noise and Cardiovascular Disease, WHO: Burden of disease

Babisch, W., Basner, M., Davis, A., Brink, M., Clark, C., Jensen, S., et al.,. (2014). Auditory and Non Auditory Effects of Noise in Health. National Institute for Health. 383(9925): 1325–1332.

Beevers, G., Lip, G. Y. H., O’Brien,E. (2001). Blood Pressure Measurement. Part II—Conventional sphygmomanometry: technique of auscultatory blood pressure measurement. Diakses 1 April 2015, dari

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1120188/

Boies, L.R., Adams, G.L., Hilger, P.A. (1997). Boies Fundamentals of Otolaryngology: a Textbook of Ear, Nose, and Throat Diseases.

Buchari: Kebisingan Industry dan Hearing Conversation Program, 2007. Medan: Sumatera Utara.

Curtis, B.M. (2002). Autonomic Tone as a Cardiovascular Risk Factor: The Dangers of Chronic Fight or Flight. Abstract Mayo Clinic Proceeding 77(1) 45-54.

Centers for Disease Control and Prevention (2015). Measuring Orthostatic Hypotension. (Versi elektronik) diakses 15 Juli 2015.

Eşer, İ., Khorshid, L., Yapucu Güneş, Ü. and Demir, Y. (2007), The Effect of

Different Body Positions on Blood Pressure. Journal of Clinical Nursing, 16: 137–140. doi: 10.1111/j.1365-2702.2005.01494.x

Goyal, S., gupta, V., & Walia, l. (2010). Effect Of Noise Sress on Autonomic Function tests. A Bimonthly Inter-Disciplinary International Journal , 182-186.

Guyton, A. C., Hall, J. E. (2007). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. (Irawati, penerjemah). Jakarta: EGC.

IPB. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48 1996. (Versi elektronik) diakses 25 Juni 2016.

Ising, H., Kruppa, B. (2004). Health Effects Caused by Noise : Evidence in The Literature From The Past 25 Years.Noise and Health, 6, 5-13.

Japundžić-Žigon, N., et. al., (2011). Autonomic Mechanisms Underpinning the

Stress Response in Borderline Hypertensive Rats. Exp Physiol. Jun;96(6):574-89

Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 51. (1999). Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja. Jakarta: Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia.

Klabunde, Richard. 2011. Cardiovascular Physiology Concept Second Edition.---:Liippincott Williams and Wilkins

Koesyanto, H., dan Pawenang, E.T., (2005). Panduan Praktikum. Laboratorium Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Semarang: UPT UNNES

Lilly, L.S. (2011). Patophysiology of Heart Disease: A Collaborative Project of Medical Students and Faculty (5th Ed). Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins

Lucini, D., Norbiato, G., Clerici, M., and Pagani, M. (2002). Hemodynamic and Autonomic Adjustments to Real Life Stress Conditions in Humans. Hypertension. 2002;39:184-188

Lundberg, U. (1999) Coping with stress: neuroendocrine reactions and implications for health.vol 1(4)

Maschke, C., Harder, J., Ising, H., Hecth, K., Thierfelder, W., (2002) Stress Hormones Changes in Persons Exposed to Simulated Night Noise. Journal noise and health volume 5(17)35-45.

Montolalu, S. S., (2014). Hubungan Kebisingan Terhadap Tekanan Darah Pada Pekerja Lapangan PT. Gapura Angkasa Di Bandar Udara Sam Ratulangi, Manado. Jurnal e-biomedik: vol 2. No. 1.

Munzel, T., Gori, T., Babisch W., Basner, M. (2014). Cardiovascular effects of environmental noise exposure. European heart journal.

Murti, B. (2010). Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan ( Edisi Kedua ). UGM Press.

Naschitz, J. E., (2007) Orthostatic Hypotension: Framework of the Syndrome. Nawaz, S. K. (2010). Noise Induce Hypertension and Prehypertension in Pakistan.

Bosnian Journal of Basic Medical Sciences vol. 10(3).

Notoatmodjo, S., (2002). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta

Olufsen, M. S., Ottesen, J. T., Tran, H. T., Ellwein L. M., Lipsitz, L. A., Novak, V. (2005). Blood Pressure and Blood Flow Variation During Postural Change from Sitting to Standing: Model Development and Validation.

Journal of Applied Physiology, 99 (4), 1523-1537.

Porges, S. W., (2001). The Polyvagal Theory: Phylogenetic Substrates of a Social Nervous System. International Journal of Psychophysiology(42), 123-146

Porth, C. M., Grossman, S., Conelius, J., Gerard, S. O., Moriber, N., O'Shea, E. R., and Wheeler, K. (2004). Porth's pathophysiology: Concepts of Altered Health States. Philadelphia: Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins.

Price, S. A., Wilson, L. M. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit (Hartanto H., et al., editor). Jakarta: EGC, 2005)

Pujitha, K., Parvathi, G., & Sekhar, K. M. (2014). Postural Changes In Heart Rate And Blood Pressure. International Journal Of Physiotherapy , 751-756. Ridley, J. (2006). Health and Safety In Brief, Third Edition. Jakarta: Penerbit

Erlangga. (Original work Publishes 2002).

Rosidah. (2004). Studi Kejadian hipertensi akibat bising pada wanita yang tinggal di sekitar lintasan kereta api di kota Semarang. Thesis, Universitas Diponegoro Semarang.

Sherwood, L. (2011). Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem (Brahm U Pendit, Penerjemah). Jakarta: EGC.

Spreng, M. (2000). Possible Health Effects of Noise Induced Cortisol Increased. (Abstract) Noise health vol 2(7) 59-64.

Sutopo, M. N., Rianto B. U. D., Ng, N.,. (2007). Hubungan antara Intensitas Kebisingan Aktivitas Penerbangan di Bandara Adisutjipto dengan Nilai Ambang Pendengaran Pada Anak. Berita kedokteran masyarakat, 23 (1): 12-20.

Soeripto. 2008. Higiene Industri. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Sofro, Z. M., (2014). Pengembangan Penggunaan Uji Schellong, Pemetaan dan Pengelolaan Tonus Simpatis: Hubungan antara Hasil Uji Schellong dengan Faktor Kepribadian,Pajanan Surat Al-Hujurat dan Status Saraf Otonom. Disertasi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Spreng, M.. (2000). Possible Health Effects of Noise Induced Cortisol Increase, Volume : 2(7) 59-63

Suma’mur, P.K., (2011). Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Ed. 2.

Jakarta: Sagung Seto.

Tarwaka, 2004. Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan. Produktivitas. UNIBA Press. Cetakan Pertama. Surakarta

Tribun Jogja. 18 Maret, 2016. Bandara Adisutjipto Ketambahan Satu Apron Lagi. (Versi elektronik), diakses 23 Juni 2016

Wardhana, W. A., (2001) Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Andi. Offset

World Health Organization. Maret 2015. Deafness and Hearing Loss. (Versi elektronik), diakses 23 Juni 2016.

Wilker, E., Mittleman M. A., Litonjuo, A.A, Poon, A. Baccarelli, A., Suh, H., Wright, David Sparrow, D., Pantel, V., and Schwartz, J., Postural Changes in Blood Pressure Associated with Interactions between Candidate Genes for Chronic Respiratory diseases and Exposure to Particulate matter. EnvirHealthPersp. 2009; 17: 935-940

63

LAMPIRAN

1. Lembar informed consent subyek

Lembar Informed consent subyek

Saya yang bertanda tangan dibawah ini,

Nama :

Umur :

Alamat :

Setelah menerima penjelasan tentang penelitian dengan judul “Pengaruh

paparan bising terhadap respon tekanan darah pada masyarakat di sekitar bandara Adisutjipto Yogyakarta dengan metode postural change”

menyatakan bersedia/ tidak bersedia * mengikuti penelitian tersebut.

Yogyakarta, _____________ 2015 Tertanda,

(...)

2. Kuesioner kriteria inklusi dan eksklusi

Kuesioner calon subyek

Nama : Usia : Alamat : Pekerjaan : Jenis kelamin : Berat badan : Tinggi badan :

Mohon menjawab pertanyaan dibawah ini dengan sebenar-benarnya Coret/silang jawaban yang dipilih

1) Apakah anda telah tinggal di daerah Tegaltirto/Tamantirto selama lebih dari 1 tahun?

a) Ya b) Tidak

2) Apakah anda memiliki riwayat hipertensi atau sakit jantung?

a) Ya b) Tidak

3) Apakah anda pernah atau sedang mengonsumsi obat anti hipertensi dan jamu?

a) Ya b) Tidak

4) Apakah anda sering mengonsumsi kopi?

a) Ya (sebutkan berapa kali dalam 1 minggu...) b) Tidak

5) Apakah anda merokok dan atau minum minuman alkohol?

a) Ya b) Tidak c) salah satu

(rokok/alkohol)

6) Apakah anda pernah/sedang mengalami gangguan pendengaran?

a) Ya b) Tidak

Dengan ini pihak peneliti bersedia menjaga kerahasiaan subjek dan menjamin keamaan serta keselamatan subjek.

Yogyakarta, ...2015

Subjek Peneliti

3. Hasil pengolahan data menggunakan SPSS

Deskriptif Statistics usia non bising

umur Kelompok umur N Valid 30 30 Missing 0 0 Mean 29.6667 2.2667 Std. Deviation 5.67106 1.11211 Minimum 21.00 1.00 Maximum 40.00 4.00

Deskriptif Statistics usia kelompok bising

umur Kelompok umur N Valid 30 30 Missing 0 0 Mean 39.0667 4.0667 Std. Deviation 5.94766 1.22990 Minimum 24.00 1.00 Maximum 45.00 5.00

Statistics IMT bising dan IMT non bising

IMTb IMTnb

N Valid 30 30

Missing 0 0

Mean 25.8990 23.1841

Independent Samples Test IMT

t-test for Equality of Means

t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference

Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower

Equal variances

assumed 2.280 57 .026 2.59599 1.13835 .31648 4.87549

Equal variances

not assumed 2.293 52.888 .026 2.59599 1.13225 .32487 4.86710

Independent Samples Test Sistolik

Levene's Test for

Equality of Variances t-test for Equality of Means

F Sig. t Df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference

Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower

Postes1 Equal variances assumed 2.619 .111 -.422 58 .472 -1.53333 3.63199 -8.80355 5.736 88 Equal variances not assumed -.422 55.246 .472 -1.53333 3.63199 -8.81127 5.744 61 postes7 Equal variances assumed .775 .382 2.388 58 .020 8.26667 3.46189 1.33694 15.19 639 Equal variances not assumed 2.388 57.095 .020 8.26667 3.46189 1.33460 15.19 873

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

Difference

Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower

delta 0 Equal variances assumed .005 .942 -1.995 58 .051 -4.46667 2.23850 -8.94751 .01418 Equal variances not assumed -1.995 57.420 .051 -4.46667 2.23850 -8.94847 .01514 delta 7 Equal variances assumed .235 .630 -.498 58 .621 -.93333 1.87572 4.68799 - 2.82132 Equal variances not assumed -.498 57.999 .621 -.93333 1.87572 -4.68799 2.82132

Independent Samples Test MAP

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

Difference

Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower

postes 0 Equal variances assumed 1.947 .168 -.638 58 .526 -1.93333 3.02840 -7.99533 4.12866 Equal variances not assumed -.638 53.099 .526 -1.93333 3.02840 -8.00726 4.14059 postes 7 Equal variances assumed .061 .805 1.441 58 .155 4.04444 2.80621 -1.57279 9.66168 Equal variances not assumed 1.441 56.981 .155 4.04444 2.80621 -1.57493 9.66382 delta0 Equal variances assumed .142 .707 -3.464 57 .001 -7.12299 2.05612 -11.2402 9 -3.00568 Equal variances not assumed -3.461 56.483 .001 -7.12299 2.05829 -11.2454 6 -3.00051 delta7 Equal variances assumed .001 .976 -1.127 58 .265 -2.12222 1.88369 -5.89283 1.64838 Equal variances not assumed -1.127 57.861 .265 -2.12222 1.88369 -5.89302 1.64858

Independent Samples Test Frekuensi nadi

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

Difference

Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower

pos0 Equal variances assumed .348 .558 -.371 58 .712 -1.16667 3.14098 -7.45403 5.12070 Equal variances not assumed -.371 57.604 .712 -1.16667 3.14098 -7.45495 5.12162 pos7 Equal variances assumed .085 .771 -.255 58 .799 -.66667 2.61034 5.89183 - 4.55849 Equal variances not assumed -.255 57.998 .799 -.66667 2.61034 -5.89183 4.55850 delta 0 Equal variances assumed .164 .687 1.277 58 .207 2.86667 2.24440 1.62598 - 7.35932 Equal variances not assumed 1.277 57.673 .207 2.86667 2.24440 -1.62652 7.35986 delta 7 Equal variances assumed 4.161 .046 1.933 58 .058 4.06667 2.10333 -.14360 8.27693 Equal variances not assumed 1.933 51.465 .059 4.06667 2.10333 -.15501 8.28835

Independent Samples Test Tekanan Nadi

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

Difference

Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower

postes 0 Equal variances assumed 3.554 .064 .212 58 .833 .60000 2.83329 -5.07144 6.27144 Equal variances not assumed .212 48.381 .833 .60000 2.83329 -5.09554 6.29554 postes 7 Equal variances assumed 7.055 .010 2.221 58 .030 6.33333 2.85124 .62595 12.04071 Equal variances not assumed 2.221 43.636 .032 6.33333 2.85124 .58568 12.0809 9 delta0 Equal variances assumed 11.054 .002 -2.467 58 .017 -7.60000 3.08071 -13.7667 2 -1.43328 Equal variances not assumed -2.467 47.755 .017 -7.60000 3.08071 -13.7950 1 -1.40499 delta7 Equal variances assumed 4.183 .045 -1.399 58 .167 -3.56667 2.54887 -8.66879 1.53545 Equal variances not assumed -1.399 51.439 .168 -3.56667 2.54887 -8.68268 1.54934

Nadia Nur Azizah1, Ikhlas Muhammad Jenie2

1. Program Pendidikan Dokter, 2012, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,

Email: [email protected]

2. Dosen Program Studi Pendidikan Dokter, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Intisari

Latar belakang: Kegiatan, frekuensi, dan jenis pesawat yang beroperasi mengalami peningkatan sejalan dengan penetapan status Bandara Adi Sucipto sebagai bandara internasional. Saat ini terdapat sekitar 25 penerbangan regular dari dan menuju Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Dampaknya adalah meningkatnya intensitas kebisingan yang diterima oleh masyarakat di sekitar bandara. Paparan bising dapat mengarah ke perubahan fisiologi tubuh dalam keadaan akut maupun kronis. Bising termasuk ke dalam stress sehingga dapat menyebabkan naiknya tekanan darah dan gangguan pada homeostasis kardiovaskular yang

Dokumen terkait