• Tidak ada hasil yang ditemukan

Telah dilakukan penelitian terhadap kualitas beberapa sediaan tablet yang mengandung nifedipin 10 mg yang beredar di Malang baik generik maupun non generik (nama dagang) dari tiga pabrik yang berbeda (PMA, PMDN dan PMDN Generik). Nifedipin termasuk bahan obat yang dalam sistem klasifikasi biofarmaseutik (BCS) tergolong kelas dua yaitu obat dengan kelarutan rendah, namun permeabilitas terhadap membran baik. Sediaan tablet yang berkualitas dapat ditinjau dari berbagai aspek selain dari segi ketersediaan hayati (bioavailabilitas) obat, kualitas obat juga ditinjau dari aspek dimana tablet harus memenuhi kriteria yang dipersyaratkan Farmakope. Produk sediaan tablet nifedipin yang beredar mempunyai kualitas yang bervariasi. Perbedaan kualitas dari tiap produk adalah multifaktorial, antara lain dikarenakan perbedaan bahan baku obat, bahan-bahan tambahan yang digunakan dalam proses formulasi serta prosedur manufaktur dari masing-masing pabrik. Kualitas dapat dijadikan dasar acuan untuk menetapkan kebenaran khasiat (efficacy) dan keamanan (safety) dari suatu produk obat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah beberapa sediaan tablet nifedipin yang beredar di Malang baik yang diproduksi oleh pabrik PMA, PMDN dan PMDN Generik telah memenuhi persyaratan keseragaman bobot, keseragaman kandungan, waktu hancur dan uji disolusi seperti yang tertera pada Farmakope Indonesia edisi IV dan United Stated Pharmacopeia XXXII.

Pengambilan sampel tablet nifedipin dilakukan dengan membeli tablet nifedipin di apotik yang ada di Malang sebanyak 100 tablet untuk masing-masing produk baik PMA, PMDN dan PMDN Generik dengan ketentuan tablet nifedipin yang diambil dari satu pabrik mempunyai nomor batch dan waktu edar yang sama. Profil sampel dapat dilihat pada Lampiran 4.

Pemeriksaan keseragaman bobot tablet nifedipin dilakukan dengan menimbang 10 tablet satu per satu dan dihitung bobot rata-ratanya. Setelah dilakukan penimbangan terhadap tablet nifedipin dari ketiga produk diperoleh bobot tablet rata-rata produk PMA 0,230 ± 0,004 gram, produk PMDN 0,316 ±

28

0,002 gram dan produk PMDN Generik 0,326 ± 0,003 gram, dengan simpangan baku relatif kurang dari 6,0 %. Data hasil pemeriksaan keseragaman bobot tablet nifedipin dari ketiga produk dapat dilihat pada Tabel V.1. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa bobot tablet nifedipin dari ketiga produk (PMA, PMDN dan PMDN Generik) telah memenuhi persyaratan keseragaman bobot seperti yang tertera pada Farmakope Indonesia edisi IV yaitu persyaratan keseragaman bobot dipenuhi jika jumlah zat aktif dalam masing-masing dari 10 satuan sediaan terletak antara 85,0 % - 115 % dari jumlah yang tertera pada etiket dan simpangan baku relatif kurang dari atau sama dengan 6,0 %. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution) tipe 17 dengan analisis varian (Anova) dalam bentuk one way anova diperoleh F hitung (2676,717) lebih besar dari F tabel (2,96) dengan tingkat signifikan (α = 0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan bermakna dari ketiga produk. Untuk mengetahui produk yang berbeda makna maka analisis dilanjutkan dengan uji Tukey HSD (Honestly Significant Difference Test) dan diperoleh hasil antara produk PMA dengan PMDN, PMA dengan PMDN Generik dan PMDN dengan PMDN Generik memiliki perbedaan yang bermakna. Data hasil analisis statistik pemeriksaan keseragaman bobot tablet nifedipin dapat dilihat pada lampiran 19. Dengan demikian perbedaan bahan baku obat, prosedur manufaktur serta bahan- bahan tambahan dalam formulasi antar pabrik memberikan pengaruh yang bermakna terhadap keseragaman bobot tablet nifedipin.

Pemeriksaan keseragaman kandungan tablet nifedipin diawali dengan penentuan panjang gelombang maksimum nifedipin (Baku Pembanding Farmakope Indonesia) dengan menggunakan larutan baku kerja 8,0 µg/ml yang diamati dengan single beam spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 200 sampai 300 nm, dan absorban tertinggi diperoleh pada panjang gelombang 241,0 nm. Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan kurva baku menggunakan larutan baku kerja nifedipin yang diamati absorbannya pada λ maksimum. Dari hasil perhitungan diperoleh data persamaan garis regresi yaitu y = 0,0574x-0,0004 dengan koefisien korelasi r = 0,997, dimana kriteria penerimaan untuk korelasi

adalah ≥ 0,98 (BPOM, 2004). Dari 10 tablet yang telah memenuhi keseragaman

29

dengan 10 mg nifedipin sebanyak 5 kali. Masing-masing serbuk tablet tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml dan ditambah metanol hingga garis tanda lalu dikocok. Larutan tersebut disaring dengan milipore membran filter 0,45 mikron kemudian dipipet 1,0 ml dan dimasukkan dalam labu ukur 100,0 ml, ditambahkan cairan lambung buatan tanpa pepsin hingga garis tanda sehingga diperoleh larutan konsentrasi 10,0 µg/ml. Dari pemeriksaan diperoleh kandungan rata-rata nifedipin per tablet produk PMA 97 ± 3,43 %, produk PMDN94 ± 4,21 % dan produk PMDN Generik 104 ± 3,96 %. Hasil pemeriksaan keseragaman kandungan tablet nifedipin menunjukkan bahwa tablet nifedipin dari ketiga produk baik PMA, PMDN dan PMDN Generik telah memenuhi persyaratan seperti yang tertera pada Farmakope Indonesia edisi IV dan United Stated Pharmacopeia XXXII yaitu mengandung tidak kurang dari 90 % dan tidak lebih dari 110 % nifedipin (C17H18N2O6) dari jumlah yang tertera pada etiket dengan simpangan baku relatif kurang dari 6%. Data hasil pemeriksaan keseragaman kandungan tablet nifedipin dari ketiga produk dapat dilihat pada Tabel V.3. Hasil perhitungan statistik menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution) tipe 17 dengan analisis varian (Anova) dalam bentuk one way anova diperoleh F hitung (9,044) lebih besar dari F tabel (3,88) dengan tingkat signifikan

(α = 0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan bermakna dari ketiga produk.

Untuk mengetahui produk yang berbeda makna maka analisis dilanjutkan dengan uji Tukey HSD (Honestly Significant Difference Test) dan diperoleh hasil produk PMA dengan PMDN tidak terdapat perbedaan bermakna sedangkan PMA dengan PMDN Generik dan PMDN dengan PMDN Generik terdapat perbedaan bermakna. Data hasil analisis statistik pemeriksaan keseragaman kandungan tablet nifedipin dari ketiga produk dapat dilihat pada lampiran 19. Dengan demikian perbedaan bahan baku obat, prosedur manufaktur serta bahan-bahan tambahan dalam formulasi antar pabrik memberikan pengaruh yang bermakna terhadap keseragaman kandungan tablet nifedipin.

Pemeriksaan waktu hancur tablet nifedipin dilakukan dengan alat Disintegration tester 2 cavity menggunakan 6 tablet dimana masing-masing 1 tablet dimasukkan ke dalam tabung dari keranjang, lalu dimasukkan satu cakram pada tiap tabung dan dijalankan alat. Dari hasil pemeriksaan tablet menjadi hancur

30

sempurna, tablet dari produk PMAmemerlukan waktu 6,79 ± 0,50 menit, produk

PMDNmemerlukan waktu 3,22 ± 0,40 menit sedangkan produk PMDN Generik

memerlukan waktu 5,45 ± 0,96 menit. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tablet nifedipin dari ketiga produk (PMA, PMDN dan PMDN Generik) telah memenuhi persyaratan waktu hancur seperti yang tertera pada Farmakope Indonesia edisi IV. Data hasil pemeriksaan waktu hancur tablet nifedipin dari ketiga produk dapat dilihat pada Tabel V.4. Hasil perhitungan statistik menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution) tipe 17 dengan analisis varian (Anova) dalam bentuk one way anovadiperoleh F hitung (44,306) lebih besar dari F tabel (3,68) dengan tingkat signifikan (α = 0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan bermakna dari ketiga produk. Untuk mengetahui produk yang berbeda makna maka analisis dilanjutkan dengan uji Tukey HSD (Honestly Significant Difference Test) dan diperoleh hasil bahwa produk PMA dengan PMDN, PMA dengan PMDN Generik dan PMDN dengan PMDN Generik memiliki perbedaan yang bermakna sehingga dengan demikian perbedaan bahan baku obat, prosedur manufaktur serta bahan-bahan tambahan dalam formulasi antar pabrik memberikan pengaruh yang bermakna terhadap waktu hancur tablet nifedipin. Data hasil analisis statistik pemeriksaan waktu hancur tablet nifedipin dari ketiga produk dapat dilihat pada lampiran 19.

Uji disolusi merupakan suatu prosedur tetap dalam Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang menjamin kualitas produk obat. Pengujian laju disolusi menggunakan alat Dissolution tester yang dilakukan terhadap 6 tablet. Tablet nifedipin 10 mg dimasukkan ke dalam wadah yang berisi 900,0 ml cairan lambung buatan tanpa pepsin bersuhu 37°C ± 0,5°C dan kemudian paddle diputar dengan kecepatan 50 putaran per menit. Pada interval waktu 5, 10, 15 dan 20 menit larutan dipipet sebanyak 10,0 ml dan selanjutnya disaring melalui milipore membran filter 0,45 mikron. Volume media disolusi diusahakan tetap dengan menambahkan cairan lambung buatan tanpa pepsin sebanyak 10,0 ml setelah pemipetan. Setiap cuplikan diamati absorbannya dengan menggunakan single beam spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 241,0 nm dan sebagai blanko digunakan cairan lambung buatan tanpa pepsin. Dari data hasil uji disolusi tablet nifedipin dari ketiga produk pada Tabel V.5. Dari tabel ini dapat dilihat

31

bahwa rata-rata persen nifedipin terlarut pada menit ke-20 untuk tablet nifedipin produk PMAsebesar 97 ± 1,97%, produk PMDNsebesar 91 ± 1,52 % sedangkan produk PMDN Generik sebesar 87 ± 1,52 %. Hasil uji disolusi menunjukkan bahwa tablet nifedipin dari ketiga produk (PMA, PMDN dan PMDN Generik) yang diuji telah memenuhi persyaratan uji disolusi yang tercantum pada United Stated Pharmacopeia XXXIIyaitu tidak kurang dari (Q) 80% + 5% terlarut dalam waktu 20 menit (USP, 2009). Laju disolusi secara tidak langsung digunakan sebagai parameter bioavailabilitas in vitro zat aktif khususnya yang sukar larut sehingga biasanya laju disolusi sangat menentukan khasiat atau kemanjuran dari suatu produk sediaan tablet yang dimaksudkan untuk memberikan efek sistemik (Banker & Anderson, 1986). Hasil perhitungan statistik menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution) tipe 17 dengan analisis varian (Anova) dalam bentuk one way anova diperoleh F hitung (44,902) lebih besar dari F tabel (3,68) dengan tingkat signifikan (α = 0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan bermakna dari ketiga produk meskipun dari Gambar 5.3 terlihat bahwa produk PMA, PMDN dan PMDN Generik mempunyai profil disolusi yang hampir sama. Untuk mengetahui produk yang berbeda makna maka analisis dilanjutkan dengan uji Tukey HSD (Honestly Significant Difference Test) dan didapatkan hasil bahwa produk PMA dengan PMDN, PMA dengan PMDN Generik dan PMDN dengan PMDN Generik memiliki perbedaan yang bermakna. Data hasil analisis statistik uji disolusi tablet nifedipin dari ketiga produk dapat dilihat pada lampiran 19. Dengan demikian perbedaan bahan baku obat, prosedur manufaktur serta bahan- bahan tambahan dalam formulasi antar pabrik baik PMA, PMDN dan PMDN Generik memberikan pengaruh yang bermakna terhadap laju disolusi nifedipin.

32

Dokumen terkait