BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
5.3 Pembahasan Penelitian
5.3.1 Kadar glukosa darah 2 jam post-prandial sebelum dan setelah pemberian rendaman okra (abelmoschus esculentus) pada kelompok perlakuan
Berdasarkan data pada tabel 5.2 menunjukkan bahwa kelompok perlakuan
mengalami penurunan diatas 50 mg/dl kadar glukosa darah 2 jam post-prandial
sebanyak 7 orang. Sedangkan masih ditemukan 3 responden yang penurunan
kadar glukosa darah 2 jam post-prandial masih kurang dari 50 mg/dl. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi regulasi kadar glukosa darah yaitu usia dan lama menderita DM.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Khatun et al. (2011) pada tikus yang diinduksi metformin dan rendaman air okra didapatkan rerata hasil penurunan kadar glukosa darah sebesar 1,07 mg/dl dalam 24 jam dan diperkirakan dalam satu minggu mengalami penurunan sebesar 179,76 mg/dl. Sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti pada manusia dengan mengkonsumsi obat diabetes mellitus dan rendaman okra didapatkan rerata penurunan kadar glukosa darah sebesar 54,5 mg/dl dalam satu minggu. Hal ini disebabkan karena pada manusia banyak faktor yang mempengaruhi regulasi kadar glukosa darah.
Faktor jenis kelamin dapat memperngaruhi kenaikan kadar glukosa darah. Jenis kelamin perempuan mempunyai resiko lebih tinggi karena presentase lemak
lebih tinggi dari pada laki-laki (Gale dan Gillespie, 2001). Responden nomer 1,5, dan 6 merupakan responden yang berjenis kelamin perempuan.
Bila dilihat dari usia, responden tersebut berusia 45-60 tahun. Berdasarkan pembagian usia oleh Depkes (2009), usia 45-60 tahun merupakan lanjut usia awal. Usia sangat erat kaitannya dengan hiperglikemia. Hal ini disebabkan karena resistensi insulin akibat perubahan fungsi neurohormonal dan Semakin bertambah usia perubahan fisik dan penurunan fungsi tubuh akan mempengaruhi konsumsi dan penyerapan zat gizi (Rochmah 2006).
Selain itu, dilihat dari lama menderita DM peneliti berpendapat bahwa semakin tua usia penderita DM maka kadar glukosa darah semakin tidak dapat dikontrol, begitu juga dengan lama menderita DM. Semakin lama menderita DM maka semakin tinggi resiko kadar glukosa menjadi tidak terkontrol yang menyebabkan semakin memburuknya resistensi insulin. 3 responden tersebut telah menderita diabetes mellitus selama 4 tahun.
Diabetes mellitus disebabkan oleh resistensi insulin yang berpengaruh pada proses dari metabolisme karbohidrat, karena glukosa transporter dalam sel atau GLUT-4 bisa ke membran plasma jika adanya insulin. (Ganong 2005). Enzim α-amilase pankreas adalah enzim yang berperan penting dalam sistem pencernaan dan langkah awal mengkatalisis dalam hidrolisis pati menjadi campuran oligosakarida yang lebih kecil yang terdiri dari maltosa, maltotriosa,
dan sejumlah α-(1-6) dan α-(1-4) oligoglucans. Proses ini selanjutnya akan
terdegradasi ke absorpsi glukosa yang memasuki aliran darah dilakukan oleh
enzim α-glukosidase. Degradasi karbohidrat makanan ini berlangsung dengan
Enzimα-glukosidaseberkorelasi dengan peningkatan kadar glukosapost-prandial
yang merupakan aspek penting dalam pengobatan diabetes mellitus (P. Sudha et
al. 2011).
Selama penelitian, seluruh responden pada kelompok perlakuan diberikan rendaman okra yang dikonsumsi pada pagi hari jam 06.00 yang diminum sebelum responden sarapan tanpa memberhentikan terapi OHO. Okra direndam selama 24 jam yang akan mengeluarkan zat aktif berupa flavonoid yang bekerja sebagai inhibitorα-glukosidase.
Kandungan okra (Abelmoschus esculantus) seperti flavonoid sebagai
inhibitor α-glukosidase dalam usus (Gholamhoseinian, Fallah, & Sharififar
2009;Nhiem et al. 2010). Inhibitor α-glukosidase mengakibatkan penyerapan
glukosa di dalam usus oleh GLUT-2 ke dalam interstistium kemudian masuk ke dalam kapiler darah menjadi lambat dan glukosa yang beredar dalam darah
menjadi berkurang (Babu, 2013). Selain itu, efek α-glucosidase dapat
memperlambat pencernaan karbohidrat untuk menunda kenaikan postpandial
glukosa darah sehingga dapat mengurangi peningkatan kadar glukosa post-
prandial pada penderita diabetes (Shindeet al.2008).
Menurut teori diatas peneliti menganalisa bahwa penurunan kadar glukosa
darah 2 jam post-prandial responden dibawah 50 mg/dl karena beberapa faktor
dan responden yang mengalami penurunan yang signifikan diatas 50 mg/dl dikarenakan mengkonsumsi rendaman okra yang mengandung zat aktif berupa
5.3.2 Kadar glukosa darah 2 jam post-prandial sebelum dan setelah pemberian intervensi pada kelompok pembanding
Berdasarkan data pada tabel 5.3 menunjukkan bahwa kelompok
pembanding mengalami penurunan kadar glukosa darah 2 jam post-prandial
tetapi tidak diatas 50 mg/dl. Tetapi masih ditemukan responden yang mengalami kenaikan kadar glukosa darah 2 jam post-prandial sebanyak 3 responden. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi kenaikan kadar glukosa darah. Pada responden nomer 4 salah satu penyebab kenaikan kadar glukosa darah karena lama menderita DM. Sedangkan responden nomer 6 dan 10 dikarenakan responden mengkonsumsi makanan yang kaya karbohidrat dan berenergi tinggi sesuai dengan hasil wawancara makanan apa saja yang telah dimakan sehari
sebelum melakukan pengukuran post-test banyak yang menjawab bahwa mereka
mengkonsumsi makanan yang tinggi karbohidrat dengan kutipan wawancara “saya kemarin seharian makan yang bersantan mbak, dan sehari makan 4 kali karena ada pengajian juga”.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Khatun et al. (2011) pada tikus dengan kelompok kontrol yang diinduksi metformin saja didapatkan rerata hasil penurunan kadar glukosa darah sebesar 1,01 mg/dl dalam 24 jam dan didapatkan dalam satu minggu mengalami penurunan sebesar 150,68 mg/dl. Sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti pada manusia dengan mengkonsumsi obat diabetes mellitus saja didapatkan rerata penurunan kadar glukosa darah sebesar 6,3 mg/dl dalam satu minggu. Hal ini disebabkan karena pada manusia banyak faktor yang mempengaruhi regulasi kadar glukosa darah.
Peningkatan kadar glukosa darah menurut Van Dam dkk. (2002, dalam Garnita et al. 2012) dipengaruhi oleh asupan makanan berenergi tinggi atau kaya karbohidrat dan serat yang rendah dapat menganggu stimulasi sel-sel beta pankreas dalam memproduksi insulin. Asupan lemak juga perlu diperhatikan karena sangat berpengaruh terhadap kepekaan insulin. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa konsumsi karbohidrat yang tinggi dapat meningkatkan kadar glukosa darah. Selain itu, orang dengan konsumsi lemak yang tinggi juga berisiko 5,25 kali lebih besar meningkatkan kadar glukosa darah. Sementara itu, pada
penduduk di Amerika Serikat, pola makan western, yaitu yang mengandung
daging, kentang goreng, dan susu yang berlemak tinggi terbukti dapat meningkatkan kadar glukosa darah. Selain itu, dilihat dari lama menderita DM peneliti berpendapat bahwa semakin tua usia penderita DM maka kadar glukosa darah semakin tidak dapat dikontrol, begitu juga dengan lama menderita DM. Semakin lama menderita DM maka semakin tinggi resiko kadar glukosa menjadi tidak terkontrol yang menyebabkan semakin memburuknya resistensi insulin.
Diabetes mellitus disebabkan oleh resistensi insulin yang berpengaruh pada proses dari metabolisme karbohidrat, karena glukosa transporter dalam sel atau GLUT-4 bisa ke membran plasma jika adanya insulin. (Ganong 2005). Enzim α-amilase pankreas adalah enzim yang berperan penting dalam sistem pencernaan dan langkah awal mengkatalisis dalam hidrolisis pati menjadi campuran oligosakarida yang lebih kecil yang terdiri dari maltosa, maltotriosa,
dan sejumlah α-(1-6) dan α-(1-4) oligoglucans. Proses ini selanjutnya akan
terdegradasi ke absorpsi glukosa yang memasuki aliran darah dilakukan oleh
cepat dan menyebabkan peningkatan PPHG (Hiperglikemia Post-Prandial). Enzimα-glukosidaseberkorelasi dengan peningkatan kadar glukosapost-prandial
yang merupakan aspek penting dalam pengobatan diabetes mellitus (P. Sudha et
al. 2011).
Penatalaksanaan diabetes mellitus menurut PERKENI (2015) terdiri dari 5 pilar dengan salah satunya yaitu pilar tentang farmakologis. Menurut Duppala et
al (2013), glibenclamide merupakan obat standar untuk pengobatan diabetes
mellitus. Obat ini termasuk dalam golongan sulfonilurea generasi kedua yang secara luas digunakan sebagai mono terapi ataupun kombinasi karena kemampuannya dalam mengontrol glukosa darah secara efisien. Selain itu sulfonilurea sering diberikan sebagai terapi kombinasi karena memiliki kemampuan untuk meningkatkan atau mempertahankan sekresi insulin. Mekanisme kerja golongan obat ini adalah untuk merangsang sel beta pankreas untuk melepaskan insulin (Fitiraniet al. 2014).
Berdasarkan teori di atas peneliti menganalisis bahwa kenaikan kadar
glukosa darah 2 jam post-prandial yang terjadi pada sebagian responden
dikarenakan beberapa faktor salah satunya yaitu faktor mengkonsumsi asupan makanan berenergi tinggi atau kaya karbohidrat dan serat yang rendah dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah pada responden kelompok pendamping.
5.3.3 Kadar glukosa darah 2 jam post-prandial pada kelompok perlakuan maupun kelompok pembanding
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis terhadap
perbedaan kadar glukosa darah 2 jam post-prandial pada kedua kelompok tidak
pada kelompok perlakuan dan kelompok pembanding. Dari hal tersebut dapat dijelaskan bahwa baik dilakukan pemberian rendaman okra dan tidak diberikan rendaman okra yang kedua kelompok mengkonsumsi OHO, kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus dapat teregulasi. Hasil uji statistik dengan Mann- Whitney U-test menunjukkan bahwa kelompok perlakuan mempunyai hasil yang lebih signifikan dibandingkan dengan kelompok pembanding. Hal tersebut dapat disebabkan karena pada kelompok perlakuan selain mengkonsumsi OHO juga diberikan rendaman okra.
Okra kaya akan flavonoid tepatnya pada quercetin yang terdapat pada
buah, sayuran dan biji-bijian. Flavonoid dapat digunakan sebagai supplemen,
minuman atau makanan untuk antioksidan dan sifat antiinflammatory yang dapat
melindungi terhadap penyakit jantung dan kanker. Banyak penelitian telah
menunjukkan bahwa quercetin mengurangi hiperglikemia dan hiperlipidemia,
memperbaiki resistensi insulin dan melindungi terhadap kerusakan sel beta pankreas (Fan et al. 2014). Flavonoid berperan sebagai agen antidiabetes dengan menekan kadar glukosa, dengan mengurangi kolesterol plasma dan trigliserida secara signifikan, dan dengan meningkatkan aktivitasglucocinase hepatik dengan meningkatkan pelepasan insulin dari pulau langerhans pankreas (Parikh et al. 2014).
Walapun OHO tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dibandingkan
dengan rendaman okra, namun menurut Duppala et al (2013) glibenclamide
merupakan obat standar untuk pengobatan diabetes mellitus. Obat ini termasuk dalam golongan sulfonilurea generasi kedua yang secara luas digunakan sebagai
mono terapi ataupun kombinasi karena kemampuannya dalam mengontrol glukosa darah secara efisien.
Pada hal seperti ini, konsumsi rendaman okra berperan dalam regulasi
kadar glukosa darah 2 jam post-prandial responden penelitian. Hal tersebut
diperkuat dengan adanya pengaruh setelah mengkonsumsi rendaman okra oleh 10 responden pada kelompok perlakuan rata-rata 9 responden selama 7 hari setelah
konsumsi mengalami penurunan pada kadar glukosa darah 2 jam post-prandial .
Dapat disimpulkan bahwa baik rendaman okra maupun obat-obatan keduanya
dapat meregulasi kadar glukosa darah 2 jam post-prandial penderita diabetes
mellitus namun rendaman okra memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan obat-obatan.