HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pembahasan Penelitian
4.2.1. Analisa Karakterisasi Edible Film 4.2.1.1. Kuat Tarik
Kuat tarik dan kemuluran berhubungan dengan sifat kimia film. Kuat tarik adalah ukuran untuk kekuatan film secara spesifik, merupakan tarikan maksimum yang dapat dicapai sampai film tetap bertahan sebelum putus atau sobek. Pengukuran ini digunakan untuk mengetahui besarnya gaya yang dibutuhkan untuk mencapai tarikan maksimum pada setiap luas area film. Pengujian kekuatan tarik dilakukan dengan alat uji tarik terhadap spesimen dengan ketebalan dan ukuran yang sesuai dengan spesimen uji kekuatan tarik. Berdasarkan hasil pengukuran kuat tarik, Alat uji tarik terlebih dahulu dikondisikan pada beban 100 KgF dengan kecepatan tarik 5 mm/menit, kemudian spesimen dijepit kuat dengan penjepit dan alat. Lalu mesin dihidupkan dan spesimen akan tertarik ke atas dan diamati sampai putus. Edible film yang dihasilkan dari penelitian dengan variasi 0,4 g sisik ikan, 1,5 g tepung tapioka, 12 ml kitosan 2% dan 1 ml gliserin uji tarik yang diperoleh 0,061 KgF/mm². Sedangkan pada edible film dengan variasi 0,5 g sisik ikan, 1.5 g tepung tapioka, 12 ml kitosan 2% dan 1 ml gliserin diperoleh kuat tarik yang lebih tinggi yaitu sebesar 0,135 KgF/mm². Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa edible film dengan variasi penambahan 0,5 sisik ikan lebih kuat. Hal ini dikarenakan semakin banyak sisik ikan yang dicampurkan secara merata dan lebih stabil menimbulkan gaya intermolekul antara penyusun tepung tapioka yang saling menguatkan ditambah dengan kandungan sisik ikan yang memiliki sifat kekerasan sisik yang tereduksi menjadikannya juga lentur.
55
4.2.1.2. Ketebalan
Pengukuran ketebalaan film dilakukan pada lima titik yang diukur secara acak dengan menggunakan mikrometer sekrup. Hasil dari pengukuran ketebalan edible film pada variasi 0,5 g sisik ikan, 1,5 g tepung tapioka, 12 ml kitosan 2% dan 1 ml gliserin yaitu 0,16 mm lebih tinggi dibandingkan dengan ketebalan edible film dengan variasi 0,4 g sisik ikan, 1,5 g tepung tapioka, 12 ml kitosan 2% dan 1 ml gliserin yaitu 0,14 mm. Hal ini dikarenakan dengan adanya perbedaan variasi pada penambahan sisik ikan. Sisik ikan yang terdapat dalam film mempengaruhi komposisi film sehingga semakin banyak sisik ikan yang ditambahkan sebagai bahan pengisi mempengaruhi ketebalan film.
4.2.1.3. Keregangan
Keregangan film adalah kemampuan bertambah panjang ketika ada beban tarik yang dialami film. Nilai elongasi menggambarkan ukuran kemampuan film untuk merenggang atau memanjang. Keregangan film dinyatakan dalam kemuluran saat putus dengan satuan % yang menunjukkan pertambahan panjang sebelum putus dibandingkan panjang awal. Sifat keregangan atau kemuluran ini sangat berguna mengingat sifat pembungkus harus mampu melindungi makanan yang ada di dalam edible film. Berdasarkan hasil uji keregangan edible film dengan variasi 0,5 g sisik ikan, 1,5 g tepung tapioka, 12 ml kitosan 2% dan 1 ml gliserin dihasilkan persen keregangan 29,31% sedangkan variasi 0,4 g sisik ikan, 1,5 g tepung tapioka, 12 ml kitosan2% dan 1 ml gliserin dihasilkan persen keregangan 14,90%. Hal ini dapat disimpulkan semakin kuat suatu film maka semakin kuat juga persen keregangan karena film yang kuat tidak mudah putus ketika terjadi tarikan.
4.2.3. Analisa SEM (Scanning Electron Microscopy)
Morfologi permukaan dianalisis dengan SEM. Hasil yang didapat dipengaruhi oleh bahan penyusun dari edible film, apakah bahan yang digunakan dapat bercampur atau tidak antara matriks, filler maupun plastisizer yang ditambahkan,
56
dilihat dari uji karakterisasi yang tertinggi dilakukan analisa SEM terhadap edible film. Edible film yang dianalisa SEM adalah edible film dengan hasil uji kuat tarik dan keregangan terbaik. Hasil terbaik yang diperoleh adalah edible film dengan variasi 0,5 g sisik ikan, 1,5 g tepung tapioka, 12 ml kitosan 2% dan 1 ml gliserin. Pada analisa SEM ini dihasilkan dapat dilihat pada perbesaran 2000 x permukaan dari edible film yang cukup teratur dan pori-pori yang rapat namun struktur dari edible film masih kelihatan tidak begitu rata karena filler berupa sisik ikan tidak tercampur sempurna.
4.2.4. Analisa FTIR (Fourier Transform Infra Red)
Dari lampiran 3 dapat dilihat untuk hasil spektrum yang terlihat pada daerah 3297,98 cm-1 menunjukkan adanya gugus hidroksil (OH) yang berasal dari α -glukosa, spektrum dengan serapan pada daerah 2924,09 cm-1 menunukkan adanya gugus hidroksil (OH) yang berasal dari sisik ikan, spektrum dengan serapan pada daerah 3294,29 cm-1 menunjukkan adanya gugus hidroksil (OH) yang berasal dari gliserin, spektrum dengan serapan pada daerah 3361,17 cm-1 menunjukkan adanya gugus hidroksil (OH) yang berasal dari kitosan. Dari lampiran 3 dapat dilihat untuk hasil spektrum yang terlihat pada daerah 2931,95 cm-1 menunjukkan adanya CH alifatis yang berasal dari tepung tapioka, spekrum dengan serapan pada daerah 2924,09 cm-1 menunjukkan adanya CH alifatis yang berasal dari sisik ikan. Spektrum dengan serapan pada daerah 2935,13 cm-1menunjukkan adanya CH alifatis yang berasal dari gliserin,
Spektrum dengan serapan pada daerah 3410,15 cm-1 menunjukkan adanya gugus hidroksil (OH) pada edible film. Perbedaan ini juga jelas terlihat pada gabungan spektrum yang ditunjukkan pada gambar 4.2 diatas dan pada spektrum dengan serapan pada daerah 2893,22 cm-1 menunjukkan adanya CH alifatis yang berasal dari edible film. Nilai spectrum ini menunjukkan bahwa adanya interaksi antara semua bahan yang dicampurkan kedalam film yaitu sisik ikan, tepung tapioka, kitosan dan gliserin.
57
Antioksidan merupakan zat yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi. Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan hasil dari pengujian aktivitas antioksidan edible film, bahwa adanya penurunan absorbansi DPPH dengan penambahan edible film pada larutan DPPH dibandingkan dari larutan blanko tanpa penambahan edible film. Dari nilai absorbansi yang diperoleh menunjukkan aktivitas antioksidan dalam meredam radikal bebas DPPH yang kuat. DPPH atau 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (α,α-difenil-βpikrilhidrazil) merupakan suatu radikal bebas yang stabil dan tidak membentuk dimer akibat delokalisasi dari elektron bebas pada seluruh molekul. Delokalisasi elektron bebas ini juga mengakibatkan terbentuknya warna ungu pada larutan DPPH sehingga bisa diukur absorbansinya pada panjang gelombang sekitar 520 nm. Ketika elektron pada DPPH menjadi berpasangan maka warna larutan berubah dari ungu tua menjadi kuning terang dan absorbansi pada panjang gelombang maksimumnya akan hilang. Intensitas warna dari larutan uji diukur melalui spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang sekitar 520 nm. Hasil dari uji ini diinterprestasikan sebagai IC50, yaitu jumlah antioksidan yang diperlukan untuk menurunkan konsentrasi awal DPPH sebesar 50% Penurunan nilai absorbansi terjadi karena larutan uji meredam DPPH dan peredaman terjadi karena adanya transfer elektron atom hidrogen antioksidan kepada DPPH.
Gambar 4.4 Reaksi DPPH
Penurunan absorbansi yang semakin menurun menunjukkan adanya aktivitas antioksidan dalam meredam radikal bebas DPPH dikarenakan adanya gugus hidroksil pada edible film dimana dapat bertindak sebagai donor hidrogen terhadap radikal bebas.
58
Nilai IC50 diperoleh berdasarkan persamaan regresi linier yang didapatkan dengan cara memplot konsentrasi larutan uji dan persen peredaman DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan, di mana konsentrasi larutan uji (ppm) sebagai absis (sumbu X) dan nilai persen peredaman sebagai ordinat (sumbu Y). Hasil persamaan regresi linier yang diperoleh untuk edible film memiliki persamaan regresi linier Y = -0,922 X + 95,55. Hasil analisis IC50 diperoleh 49,40 mg/L. Dari literatur dapat diketahui bahwa jika nilai IC50 yang dihasilkan 50-10 mg/L, maka senyawa tersebut dapat dikatakan memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Tingkat kekuatan senyawa antioksidan menggunakan metode DPPH dapat digolongkan sebagai berikut.
Intensitas Nila IC50
Sangat kuat <50 mg/L
Kuat 50-100 mg/L
Sedang 101-150 mg/L
Lemah >150 mg/L
4.2.6. Uji Aktivitas Antibakteri Edible Film
4.2.6.1 Uji Aktivitas Antibakteri dengan Metode Kirby Bauer
Pengujian aktivitas antibakteri dari edible film dapat dilihat pada tabel 4.3 terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Eschercia coli menunjukkan hasil yang negative, ini ditandai dengan tidak adanya terbentuk larutan bening pada sekitar edible film.
Berdasarkan hasil pengujian diketahui edible film yang dibuat dengan campuran 0,5 g sisik ikan, 1,5 g tepung tapioka, 12 ml kitosan 2% dan 1 ml gliserin tidak menunjukkan adanya zona hambat walaupun yang diketahui pada penelitian-penelitian terdahulu bahwa kitosan mempunyai aktivitas antibakteri dimana bakteri memiliki permukaan sel bakteri sehingga mampu menghambat nutrisi masuk ke dalam sel. Hal ini disebabkan oleh adanya gugus amina pada kitosan yang mempunyai muatan kationik yang dapat mengikat sumber makanan bagi bakteri. Dalam penelitian (Dimas,2015) menerangkan kitosan dalam bentuk
59
film tidak mengalami perpindahan agent aktif yang berfungsi sebagai antibakteri. Mikroorganisme akan terhambat pertumbuhannya apabila berkontak langsung dengan sisi aktif dari kitosan tersebut. Kitosan yang berbentuk film tidak bisa berdifusi sisi aktif yang bersifat sebagai antibakteri karena kitosan dalam bentuk larutan akan mudah terprotonasi lalu berdifusi ke permukaan sel bakteri. Namun uji lain dapat dilihat bahwa film tersebut memiliki sifat sebagai pelindung pada suatu makanan (sosis) yaitu dilihat dari jumlah bakteri yang tumbuh pada filmnya. Sehingga film ini walaupun tidak memiliki zona hambat cocok untuk sebagai bahan pembungkus makanan.
4.2.6.2 Pertumbuhan Koloni Bakteri pada Sosis yang di Bungkus Edible
Film,di Celup dengan Edible Film dan yang Dibungkus dengan
Plastik Biasa dengan Metode Standart Plate Count
Perhitungan jumlah koloni bakteri diambil dari potongan sosis yang telah dibuat pengenceran 10-1 lalu diinokulasikan pada media PCA. Tabel 4.4 menunjukkan hasil perhitungan jumlah koloni dimana terlihat perbedaan pertumbuhan koloni antara sosis yang dibungkus dengan edible film, sosis yang dicelup dengan edible film liquid dan sosis yang dibungkus dengan plastik biasa. Perlakuan pada sampel sosis yang dibungkus dengan edible film lebih sedikit pertumbuhan koloni yang terlihat dibandingkan dengan sampel sosis yang dicelup dengan edible film liquid ataupun sampel sosis yang dibungkus dengan plastik biasa. Sehingga edible film dari sisik ikan gurami (oshpronemus gouramy) dengan penambahan tepung tapioka, kitosan 2% dan gliserin sebagai plastisizer efektif dalam mengurangi pertumbuhan bakteri/mikroba pada sosis. Sehingga cocok untuk dijadikan bahan pembungkus makanan.
60
BAB 5