BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.7 Pembahasan Penelitian Korelasi Positif Peningkatan Keterampilan
Pembelajaran Problem Based Learning dengan Pendekatan Inkuiri.
Berdasarkan hasil analisis data dari korelasi peningkatan keterampilan proses sains terhadap peningkatan penguasaan konsep pada kelas eksperimen pada halaman 94 menunjukkan adanya korelasi positif terkategori tinggi (0,60 < ρ ≤ 0,80) antara peningkatan keterampilan proses sains dan peningkatan penguasaan konsep yang berada pada rentang dengan taraf signifikansi 1%, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peningkatan keterampilan proses sains mempengaruhi peningkatan penguasaan konsep. Dengan diterapkan model pembelajaran problem based learning dengan pendekatan inkuiri, terjadi peningkatan keterampilan proses sains dengan kategori tinggi (N-gain 0,82) yang mempengaruhi peningkatan penguasaan konsep dengan kategori tinggi N-gain 0,71). Kedua peningkatan tersebut saling mempengaruhi secara linier dibuktikan berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh dan ( ⁄ ) , maka berdasarkan kriteria diatas, data tersebut berdistribusi linear dengan taraf signifikansi 5%.
105 Hipotesis Ho: “Peningkatan keterampilan proses sains mempengaruhi positif terhadap peningkatan penguasaan konsep dengan diterapkannya model pembelajaran probem based learning dengan pendekatan inkuiri,” diterima dengan taraf signifikansi 1%.
Peningkatan keterampilan proses sains tersebut mempengaruhi peningkatan penguasaan konsep. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Glazer (2001) bahwa: “Model problem based learning terdiri dari suatu proses penyajian situasi masalah yang autentik dan bermakna yang diharapkan memberikan kemudahan kepada siswa dalam melakukan proses pembelajaran yang utuh.” Pembelajaran yang utuh ini dapat mencerminkan adanya tiga aspek yang mendukung sesuai dengan tujuan pembelajaran IPA adanya produk, proses, dan sikap yang dibangun ketika diterapkannya model PBL. Ketika diterapkan PBL, terjadi perubahan pusat pembelajaran dari belajar berpusat pada guru kepada belajar berpusat pada siswa sehingga tercipta kondisi lingkungan belajar yang dapat membelajarkan siswa, dapat mendorong siswa belajar, atau memberi kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif mengkonstruksi konsep-konsep yang dipelajarinya melalui keterampilan proses yang diperolehnya ketika melakukan kegiatan percobaan. Hal ini yang menjadikan adanya korelasi antara keterampilan proses dengan penguasaan konsep yang diperoleh oleh siswa.
Bila pembelajaran yang dimulai dengan suatu masalah, apalagi kalau masalah tersebut bersifat kontekstual, maka dapat terjadi ketidaksetimbangan kognitif pada diri pebelajar. Keadaan ini dapat mendorong rasa ingin tahu sehingga memunculkan bermacam-macam pertanyaan disekitar masalah seperti
“apa yang dimaksud dengan…”, “mengapa bisa terjadi…”, “bagaimana mengetahuinya…” dan seterusnya. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah
106 muncul dalam diri pebelajar maka motivasi intrinsik mereka untuk belajar akan tumbuh. Pada kondisi tersebut diperlukan peran guru sebagai fasilitator untuk mengarahkan pembelajar tentang “konsep apa yang diperlukan untuk memecahkan masalah”, proses menyelesaikan masalah tersebut akan didapatkan seiring dengan bagaimana keterampilan proses yang dilatihkan kepada siswa ketika berusaha melakukan kegiatan di laboratorium. Menurut M. Taufiq Amir (2009) menyatakah bahwa: “Ketika diterapkan model PBL, Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri menemukan konsep.”
Ketika proses itu dilakukan oleh siswa, maka banyak keterampilan proses yang dilatihkan kepada siswa.
Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga para guru tidak mungkin lagi mengajarkan semua fakta dan konsep kepada anak didiknya. Sehingga dengan diterapkannya model PBL akan menstimulus siswa untuk melakukan kegitan proses pemecahan masalah yang akan membangun konsep yang dimilikinya. Sesuai dengan pendapat para ahli psikologi yang mengatakan bahwa anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkret, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar nyata, akan terbentuk penguasaan konsep yang utuh mengenai permasalahan yang dihadapinya.
Menurut teori belajar konstruktivisme, proses pelajaran merupakan upaya untuk membangun struktur pengetahuan. Teori ini mengasumsikan bahwa pemahaman dan pengetahuan yang ada itu menjadi dasar untuk menguasai suatu pelajaran lebih mendalam. Teori memory processing menyatakan bahwa ingatan
107 jangka panjang melibatkan konsolidasi pengetahuan, sampai terjadi perubahan dalam mengintegrasikan pengetahuan terbaru dengan struktur pengetahuan sebelumnya yang telah dikuasai oleh siswa. Inovasi dalam proses pembelajaran dalam model PBL akan menjadikan siswa mengetahui kebermaknaan dari proses belajar yang ia lakukan.
Permasalahan konkret yang dihadapi siswa akan menstimulus siswa untuk belajar menemukan melalui pendekatan inkuiri yang guru berikan. Kegiatan dilakukan dilaboratorium melalui metode eksperimen. Peningkatan keterampilan proses sains ini ditunjang dengan keterlaksanaan model pembelajaran yang mencapai 100% terlaksana untuk tiga pertemuan.
108 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan kegiatan penelitian yang telah dilakukan di salah satu SMA Kota Bandung mengenai “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dengan Pendekatan Inkuiri untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Penguasaan Konsep Elastisitas Pada Siswa SMA”, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Adanya peningkatan keterampilan proses sains dengan kategori tinggi (N gain 0.87) berdasarkan interpretasi nilai gain ternormalisasi menurut Hake setelah diterapkan model pembelajaran problem based learning dengan pendekatan inkuiri pada kelas eksperimen.
2. Adanya peningkatan keterampilan proses sains dengan kategori sedang (N gain 0.59) berdasarkan interpretasi nilai gain ternormalisasi menurut Hake setelah diterapkan model pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.
3. Adanya peningkatan keterampilan proses sains yang lebih tinggi (N gain 0.87) pada kelas eksperimen dengan perbedaan sangat signifikan (Whitung <
) dibandingkan dengan peningkatan keterampilan proses sains pada kelas kontrol (N gain 0.59).
4. Adanya peningkatan penguasaan konsep elastisitas dengan kategori tinggi (N gain 0.77) berdasarkan interpretasi nilai gain ternormalisasi menurut
109 Hake setelah diterapkan model pembelajaran problem based learning dengan pendekatan inkuiri pada kelas eksperimen.
5. Adanya peningkatan penguasaan konsep elastisitas dengan kategori sedang (N gain 0.50) berdasarkan interpretasi nilai gain ternormalisasi menurut Hake setelah diterapkan model pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.
6. Adanya peningkatan penguasaan konsep yang lebih tinggi (N gain 0.77) pada kelas eksperimen dengan perbedaan sangat signifikan (Whitung< ) dibandingkan dengan peningkatan penguasaan konsep pada kelas kontrol (N gain 0.50).
7. Adanya korelasi linier ( < ( ⁄ ) positif peningkatan keterampilan proses sains terhadap peningkatan penguasaan konsep setelah diterapkan model pembelajaran problem based learning dengan pendekatan inkuiri terkategori tinggi ( ).
5.2 SARAN
Berdasarkan kegiatan penelitian yang telah dilakukan di salah satu SMA Kota Bandung mengenai “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dengan Pendekatan Inkuiri untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Penguasaan Konsep Elastisitas Pada Siswa SMA”, peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
1. Diperlukan adanya penelitian lebih lanjut mengenai penerapan model pembelajaran problem based learning dengan pendekatan inkuiri pada pokok bahasan lain, sehingga dapat dilihat konsistensi pengaruh penerapan
110 model pembelajaran tersebut terhadap peningkatan keterampilan proses sains dan penguasaan konsep.
2. Diperlukan adanya penelitian lebih lanjut pada aspek keterampilan proses sains secara menyeluruh sehingga dapat diketahui apakah penerapan model pembelajaran problem based learning dengan pendekatan inkuiri baik diterapkan pada seluruh aspek keterampilan proses sains.
111 DAFTAR PUSTAKA
Amien, M. (1987). Mengajarkan IPA dengan menggunakan metode Discoveri dan Inkuiri. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Amir, M. (2009). Inovasi Pendidikan melalui Problem based Learning. Jakarta:
Prenada Media Group.
Amin, Z. (2003). Basics in Medical Education. Singapore: World Scientific Publishing.
Arikunto, S. (2006). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Penerbit Aneka Cipta.
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Penerbit Aneka Cipta.
Barbara. et al. (2001). Energizing Teacher Education And Professional Development with Problem Based Learning. Virginia: Stylus Publishing, LLC.
______.(2001). The Power Of Problem Based Learning. Virginia: Stylus Publishing, LLC.
Barel, J. (2007). Problem based learning an inquiry approach. Virginia: Corwin Press.
Barrows, H.S. dan Tamblyn, R.M. (2001). Problem Based Learning An Approach to Medical Education Springer series on medical education. New York: Springer
112 Publishing Company, Inc.
Bilal, E dan Erol, M. (2009). “Investgating Students Conceptions of Some Electricity Concept”. Journal Physics Education. 3, (2), 193-201.
Cheng. KK., et al. (2004). “Using Online Homework System Enhances Students Learning Physics Concepts in an Introductory Physics Course.” American Journal of Physics. 72. (11). 1447-1453.
Dahar, R.W. (1996). Teori-teori Bealajar. Jakarta: Erlangga.
Delisle, R. (1997). How to Use Problem Based Learning in the Classroom. New York: Springer Publishing Company, Inc.
Dent J.A. and Harden, R.M. (2005). A Practical Guide For Medical Teacher.
(Second Ed.). Elsevier Churchill Livingstone.
Depdiknas. (2004). Silabus Kurikulum 2006.Dirjen Dikdasmen Direktorat Menengah.
Hofstein, et al. (1982). “The Role of Laboratory in Science Teaching: Nenglected Aspect of Research.” Review of Educational Research. 52, (2), 201-217.
Ibrahim, M. (2005). Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: University Press.
Istamar, S. (2004). Biologi untuk SMA kelas X. Jakarta: Erlangga.
Kartadinata, S. (2007). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Maknun, J. et al. (2007) “Analisis Kemahiran Generik yang Dikembangkan Pelajaran Fisika Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Topik Kinematika Partikel.”
Jurnal Pendidikan Teknologi Kejuruan INVOTEC, 1-14.
Nelkon, M. and Parker, P. (1975). Advanced Level Physics Third edition with SI units.
113 Hongkong: The Hongkong Printing Press Ltd.
Nurgana, Endi. (1985). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Penerbit Permadi.
Panggabean, L.P. (2001). Statistika Dasar. Bandung: Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.
Putu, Y. (2002). “Belajar Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning) Dengan Pendekatan Kelompok Kooperatif Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran Fisika Siswa Kelas III SLTP Negeri 2 Singaraja”.
Tesis Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IKIP Negeri Singaraja: tidak diterbitkan.
Ridwan. (2009). Pengantar Statistika untuk Penelitian Pendidikan, Sosial, Ekonomi, Komunikasi, dan Bisnis. Bandung: Alfabeta.
Rustaman, N.Y. (2005). Perkembangan Penelitian Pembelajaran Inkuiri Dalam Pendidikan Sains. Makalah pada Seminar FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Schwartz, P. et al. (2001). Problem Based Learning Case Studies, Experience, and Practice. London: Stylus Publishing, Inc.
Semiawan C. et al. (1992). Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Sudjana. (1996). Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
______.(2001). Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sukardi. (2008). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Syaripudin, T. (2007). Landasan Pendidikan. Bandung: Percikan Ilmu.
114 Tan, Oon Seng. (2004). Enhancing Thinking through Problem Based Learning
Approaces. Singapore: Thomson Learning.
Uno, H. (2009). Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.
Wenning, C. (2005). “Levels of inquiry: Hierarchies of pedagogical practices and inquiry processes.” Journal Physics Teacher Education Online. 2, (3), 3-11.
Young, H.D. (2002). Fisika Universitas. Jakarta: Erlangga.
Yuliati, L. (2005). Pengembangan Program Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Awal Mengajar Calon Guru Fisika. Disertasi Doktor Program Pascasarjana UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Lampiran A.1
115 SILABUS ELASTISITAS
Nama Sekolah : SMAN 2 Bandung Mata Pelajaran : Fisika
Kelas / Semester : XI IPA / I
Standar kompetensi : 1. Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik
Kompetensi dasar Materi pokok dan uraiannya
Mengidentifikasi ciri-ciri benda elastis.
Mengidentifikasi ciri-ciri benda plastis.
Menyebutkan contoh benda-benda yang memiliki tingkat elastisitas yang tinggi.
Merumuskan pertambahan panjang bahan jika nilai panjang, gaya, luas, dan modulusnya diketahui.
Menentukan jumlah tali minimal yang dapat digunakan untuk mengangkat barang.
Menghitung tegangan benda elastis dari yang terkecil sampai terbesar.
Menentukan nilai regangan suatu bahan berdasarkan percobaan elastisitas.
Mengukur panjang kawat dan pertambahannya dalam
116
Kompetensi dasar Materi pokok dan uraiannya
jenis kawat elastis dengan membandingkan nilai modulus young berdasarkan literatur dengan nilai modulus young yang diperoleh melalui percobaan.
Menyimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya regangan pada suatu benda.
Menyimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya tegangan pada suatu benda.
Menentukan nilai modulus young suatu kawat berdasarkan percobaan.
Mengkoreksi kesalahan teknis dalam mengukur panjang mula-mula suatu benda dalam percobaan mengukur modulus young benda.
Mengkritik kesalahan prosedur pengukuran modulus young pada kawat yang digantung oleh beban.
Mengamati pertambahan panjang kawat dengan membaca skala ketika diberikan beban tambahan.
Mengamati panjang diameter kawat dengan menggunakan mikrometer skrup pada
percobaan menentukan modulus young kawat.
Menyelidiki urutan prosedur percobaan yang dapat dilakukan untuk menentukan besar
116
Kompetensi dasar Materi pokok dan uraiannya
regangan suatu kawat.
Menunjukkan hubungan antara tegangan dengan regangan.
Menganalisis nilai modulus young dari kemiringan grafik tegangan terhadap regangan pada daerah elastis.
Menyelidiki pengaruh gaya terhadap tegangan tali.
PERTEMUAN II
Membandingkan nilai konstanta gaya pada pegas berdasarkan hubungan kemiringan antara gaya dan pertambahan panjang benda dari lima buah percobaan.
Membandingkankarakteristik pegas yang memiliki nilai konstanta gaya kecil dan besar.
Mengurutkan langkah-langkah dalam menentukan nilai konstanta pegas suatu bahan berdasarkan percobaan melalui tabel dengan cara statistik.
Menentukan nilai konstanta pegas suatu bahan berdasarkan percobaan melalui tabel dengan cara statistik.
Meramalkan pertambahan panjang pegas jika diberikan beban dengan massa yang lebih besar.
Menghitung nilai pertambahan panjang pegas suatu bahan jika diberikan gaya luar.
Membandingkan besarnya pertambahan panjang berbagai
116
Kompetensi dasar Materi pokok dan uraiannya macam pegas jika diberikan gaya
yang sama.
Memprediksi pasangan beban yang harus disimpan di atas pegas jika diketahui data-data pertambahan panjang pegas sebelumnya.
Menggambarkan grafik antara gaya dan pertambahan panjang pegas berdasarkan percobaan.
Membandingkan konstanta pegas yang diperoleh berdasarkan hasil percobaan.
Menganalisis tingkat akurasi dan presisi dari beberapa grafik beberapa pegas yang diberikan beban berdasarkan hasil percobaan.
Menemukan kesalahan-kesalahan yang sering terjadi ketika melakukan kegiatan eksperimen mengukur konstanta gaya pada pegas tunggal.
Menggeneralisasikan hubungan antara gaya dan pertambahan panjang benda berdasarkan percobaan.
Memvalidasi hasil pengambilan data eksperimen percobaan mengukur konstanta gaya pada pegas tunggal.
Membandingkan hasil
eksperimen mengukur konstanta gaya pada pegas yang diperoleh melalui perhitungan statistik dan melalui grafik.
Mengamati pertambahan panjang
116
Kompetensi dasar Materi pokok dan uraiannya
pegas dengan membaca skala ketika diberikan beban tambahan.
Mengurutkan langkah-langkah kegiatan percobaan yang benar untuk menentukan besar regangan suatu kawat.
Menunjukkan hubungan antara gaya dan pertambahan panjang pegas.
Menyelidiki pengaruh gaya terhadap pertambahan panjang pegas.
Menafsirkan hasil pengamatan pengaruh gaya terhadap pertambahan panjang pegas.
PERTEMUAN III
Meramalkan nilai konstanta sistem pegas jika ditambahan beban atau pegas pada sistem pegas tersebut berdasarkan hasil percobaan.
Menentukan massa beban yang digantungkan pada susunan pegas paralel.
Membandingkan pertambahan panjang pegas seri dan paralel berdasarkan hasil percobaan.
Menghitung massa beban yang digantungkan pada susunan pegas campuran.
Menentukan nilai pertambahan panjang pada sususunan pegas seri.
Menentukan nilai konstanta total gaya pada susunan pegas
116
Kompetensi dasar Materi pokok dan uraiannya
Menganalisis karakteristik sistem pegas yang disusun seri.
Menganalisis karakteristik sistem pegas yang disusun paralel.
Mengkorelasikan pertambahan panjang setiap pegas pada sistem pegas berdasarkan pemahaman dan hasil percobaan.
Menganalisis sistem pegas yang akan mengalami pertambahan panjang yang sama jika diberikan berat yang sama.
Merencanakan pengolahan data mengukur konstanta gaya setelah dilakukan percobaan pada pegas campuran.
Membandingkan nilai konstanta gaya pada susunan pegas seri dan paralel berdasarkan percobaan dengan hukum Hooke.
Meramal pertambahan panjang sistem pegas jika diberikan beban yang sama.
Mengkritik kesalahan pemasangan benda pada rangkaian pegas paralel yang mempunyai konstanta gaya berbeda supaya mengalami pertambahan panjang sama besar.
Mengkomunikasikan tabel pengaruh gaya terhadap pertambahan panjang sistem pegas kedalam bentuk grafik.
116
Kompetensi dasar Materi pokok dan uraiannya
Pengalaman
belajar indikator
Penilaian
Alokasi
waktu sumber
Jenis tagihan
Bentuk instrumen
117
Lampiran A.2
118 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ELASTISITAS
Nama Sekolah : SMAN 2 Kota Bandung Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/ Semester : XI/ 1
Alokasi Waktu : 3 x 90 menit I. Standar Kompetensi
1. Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik
II. Kompetensi Dasar
1.3 Menganalisis pengaruh gaya pada sifat elastisitas bahan III. Indikator
Pertemuan I
1. Mengidentifikasi ciri-ciri benda elastis.
2. Mengidentifikasi ciri-ciri benda plastis.
3. Menyebutkan contoh benda-benda yang memiliki tingkat elastisitas yang tinggi.
4. Merumuskan pertambahan panjang bahan jika nilai panjang, gaya, luas, dan modulusnya diketahui.
5. Menentukan jumlah tali minimal yang dapat digunakan untuk mengangkat barang.
6. Menghitung tegangan benda elastis dari yang terkecil sampai terbesar.
7. Menentukan nilai regangan suatu bahan berdasarkan percobaan elastisitas.
8. Mengukur panjang kawat dan pertambahannya dalam percobaan elastisitas.
9. Menganalisis kesalahan eksperimen dalam menentukan jenis kawat elastis dengan membandingkan nilai modulus young berdasarkan literatur dengan nilai modulus young yang diperoleh melalui percobaan.
10. Menyimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya regangan pada suatu benda.
11. Menyimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya tegangan pada suatu benda.
12. Menentukan nilai modulus young suatu kawat berdasarkan percobaan.
13. Mengkoreksi kesalahan teknis dalam mengukur panjang mula-mula suatu benda dalam percobaan mengukur modulus young benda.
14. Mengkritik kesalahan prosedur pengukuran modulus young pada kawat yang digantung oleh beban.
15. Mengamati pertambahan panjang kawat dengan membaca skala ketika diberikan beban tambahan.
16. Mengamati panjang diameter kawat dengan menggunakan mikrometer skrup pada percobaan menentukan modulus young kawat.
Lampiran A.2
119 17. Menyelidiki urutan prosedur percobaan yang dapat dilakukan untuk
menentukan besar regangan suatu kawat.
18. Menunjukkan hubungan antara tegangan dengan regangan.
19. Menganalisis nilai modulus young dari kemiringan grafik tegangan terhadap regangan pada daerah elastis.
20. Menyelidiki pengaruh gaya terhadap tegangan tali.
Pertemuan II
1. Membandingkan nilai konstanta gaya pada pegas berdasarkan hubungan kemiringan antara gaya dan pertambahan panjang benda dari lima buah percobaan.
2. Membandingkankarakteristik pegas yang memiliki nilai konstanta gaya kecil dan besar.
3. Mengurutkan langkah-langkah dalam menentukan nilai konstanta pegas suatu bahan berdasarkan percobaan melalui tabel dengan cara statistik.
4. Menentukan nilai konstanta pegas suatu bahan berdasarkan percobaan melalui tabel dengan cara statistik.
5. Meramalkan pertambahan panjang pegas jika diberikan beban dengan massa yang lebih besar.
6. Menghitung nilai pertambahan panjang pegas suatu bahan jika diberikan gaya luar.
7. Membandingkan besarnya pertambahan panjang berbagai macam pegas jika diberikan gaya yang sama.
8. Memprediksi pasangan beban yang harus disimpan di atas pegas jika diketahui data-data pertambahan panjang pegas sebelumnya.
9. Menggambarkan grafik antara gaya dan pertambahan panjang pegas berdasarkan percobaan.
10. Membandingkan konstanta pegas yang diperoleh berdasarkan hasil percobaan.
11. Menganalisis tingkat akurasi dan presisi dari beberapa grafik beberapa pegas yang diberikan beban berdasarkan hasil percobaan.
12. Menemukan kesalahan-kesalahan yang sering terjadi ketika melakukan kegiatan eksperimen mengukur konstanta gaya pada pegas tunggal.
13. Menggeneralisasikan hubungan antara gaya dan pertambahan panjang benda berdasarkan percobaan.
14. Memvalidasi hasil pengambilan data eksperimen percobaan mengukur konstanta gaya pada pegas tunggal.
15. Membandingkan hasil eksperimen mengukur konstanta gaya pada pegas yang diperoleh melalui perhitungan statistik dan melalui grafik.
16. Mengamati pertambahan panjang pegas dengan membaca skala ketika diberikan beban tambahan.
17. Mengurutkan langkah-langkah kegiatan percobaan yang benar untuk menentukan besar regangan suatu kawat.
Lampiran A.2
120 18. Menunjukkan hubungan antara gaya dan pertambahan panjang pegas.
19. Menyelidiki pengaruh gaya terhadap pertambahan panjang pegas.
20. Menafsirkan hasil pengamatan pengaruh gaya terhadap pertambahan panjang pegas.
Pertemuan III
1. Meramalkan nilai konstanta sistem pegas jika ditambahan beban atau pegas pada sistem pegas tersebut berdasarkan hasil percobaan.
2. Menentukan massa beban yang digantungkan pada susunan pegas paralel.
3. Membandingkan pertambahan panjang pegas seri dan paralel berdasarkan hasil percobaan.
4. Menghitung massa beban yang digantungkan pada susunan pegas campuran.
5. Menentukan nilai pertambahan panjang pada sususunan pegas seri.
6. Menentukan nilai konstanta total gaya pada susunan pegas campuran.
7. Menganalisis karakteristik sistem pegas yang disusun seri.
8. Menganalisis karakteristik sistem pegas yang disusun paralel.
9. Mengkorelasikan pertambahan panjang setiap pegas pada sistem pegas berdasarkan pemahaman dan hasil percobaan.
10. Menganalisis sistem pegas yang akan mengalami pertambahan panjang yang sama jika diberikan berat yang sama.
11. Merencanakan pengolahan data mengukur konstanta gaya setelah dilakukan percobaan pada pegas campuran.
12. Membandingkan nilai konstanta gaya pada susunan pegas seri dan paralel berdasarkan percobaan dengan hukum Hooke.
13. Meramal pertambahan panjang sistem pegas jika diberikan beban yang sama.
14. Mengkritik kesalahan pemasangan benda pada rangkaian pegas paralel yang mempunyai konstanta gaya berbeda supaya mengalami
pertambahan panjang sama besar.
15. Mengkomunikasikan tabel pengaruh gaya terhadap pertambahan panjang sistem pegas kedalam bentuk grafik.
Pemberian Masalah
1. Masalah Pertemuan I
o Siswa mendapatkan masalah yang berhubungan dengan nilai teganan maksimal suatu bahan.
Gambar 1
Lampiran A.2
121
Sebuah lift mempunyai beban maksimal dimana orang tersebut masih aman untuk memasuki lift tersebut.
“Kenapa lift biasanya mempunyai batas beban maksimal untuk tetap aman bisa dinaiki orang? Bagaimanakah kita bisa memprediksikannya?”
“Jika kalian mempunyai sebuah karet, apakah yang akan terjadi ketika karet ini kita tarik terus menerus sampai batas maksimal? Akankah kembali ke bentuk semula?”
Perhatikan problem set dibawah ini!
Anda adalah seorang teknisi pembangunan sebuah gedung bertingkat.
Rencananya anda akan merancang sebuah lift untuk gedung 5 lantai.
Masing-masing lantai tersebut mempunyai tinggi sejauh 3 meter. Anda memilih bahan kawat tembaga sebagai penarik lift di gedung tersebut.
Sebagai orang yang mengerti konsep elastisitas, anda memahami bahwa sangat penting mengukur berapa beban maksimal yang masih aman dapat diangkat oleh lift tersebut. Maka didapatkan data pengukuran terhadap bahan yang akan dijadikan sebagai penarik lift tersebut. Setelah diukur berat lift mencapai 1333 N. Kawat tembaga tersebut mempunyai luas penampang 0,2 cm2 dengan batas pertambahan panjang maksimal yang masih aman ketika lift tersebut diangkat dengan menggunakan
Sebagai orang yang mengerti konsep elastisitas, anda memahami bahwa sangat penting mengukur berapa beban maksimal yang masih aman dapat diangkat oleh lift tersebut. Maka didapatkan data pengukuran terhadap bahan yang akan dijadikan sebagai penarik lift tersebut. Setelah diukur berat lift mencapai 1333 N. Kawat tembaga tersebut mempunyai luas penampang 0,2 cm2 dengan batas pertambahan panjang maksimal yang masih aman ketika lift tersebut diangkat dengan menggunakan