Salah satu cara untuk mengukur dan mengamati microleakage adalah dengan metode penetrasi dye. Metode ini merupakan metode yang paling sering digunakan karena proses kerjanya yang mudah, sederhana dan relatif cepat.45 Pada penelitian ini digunakan metode penetrasi dye yang diamati dan dicatat dengan skor standar 0-3 sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bagheri et al.7,28
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah gigi premolar yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti. Waktu yang diperlukan untuk pengumpulan sampel kurang lebih tiga bulan dan sampel direndam dalam larutan normal saline sehingga gigi dapat tetap lembab dan tidak mengalami dehidrasi. Sampel kemudian dikelompokkan secara random ke dalam 4 kelompok dengan perlakuan yang berbeda yaitu 10 sampel untuk kelompok I yang dilakukan restorasi kavitas klas V dengan menggunakan halogen light curing unit pada jarak penyinaran 0 mm, 10 sampel untuk kelompok II yang dilakukan restorasi kavitas klas V dengan menggunakan LED light curing unit pada jarak penyinaran 0 mm, 10 sampel untuk kelompok III yang dilakukan restorasi kavitas klas V dengan menggunakan halogen light curing unit pada jarak penyinaran 5 mm, dan 10 sampel untuk kelompok IV yang dilakukan restorasi kavitas klas V dengan menggunakan LED light curing unit pada jarak penyinaran 5 mm. Penelitian ini menggunakan sistem adhesif self etch (Bond Force, Tokuyama) dan resin komposit flowable (Estelite Flow Quick, Tokuyama).
Pada tabel 1 terlihat persentase microleakage yang diperoleh dari penelitian ini adalah 82,5% dan yang tidak mengalami kebocoran adalah 17,5%. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab tingginya skor kebocoran pada keempat kelompok perlakuan seperti yang ditunjukkan pada tabel 1.
Pertama, karena seluruh sampel gigi premolar pada penelitian ini memiliki variasi stuktur anatomi gigi yang berbeda-beda. Dinding gingival pada restorasi klas V lebih dekat ke daerah cemento enamel junction daripada ke dinding oklusal di mana daerah tersebut terdapat komponen organik yang lebih besar dan cairan tubulus dentin yang lebih banyak yang dapat mempengaruhi perlekatan resin. Oleh karena itu, kebocoran mikro yang terjadi pada dinding gingival lebih besar daripada dinding oklusal.
Kedua, pada penelitian ini satu diamond bur digunakan untuk mempreparasi lima kavitas pada lima sampel. Hal ini menyebabkan mata bur tidak lagi begitu tajam sehingga menimbulkan keretakan-keretakan kecil akibat gesekan mata bur yang berlebihan. Keretakan-keretakan kecil ini juga dapat memperbesar potensi terjadinya microleakage.
Ketiga, faktor bahan adhesif yang digunakan pada penelitian ini. Penyimpanan dan perlakuan terhadap bahan adhesif selama proses pengiriman dan pendistribusian yang tidak dapat kita kendalikan dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur pada bahan adhesif sehingga menyebabkan berkurangnya kerapatan perlekatan antara bahan restorasi dengan dinding kavitas. Selain itu, lamanya bahan adhesif dibiarkan di udara terbuka ketika pengaplikasian juga dapat mempengaruhi terjadinya
Keempat, teknik insersi resin komposit ke dalam kavitas. Pada penelitian Owens et al. menyatakan bahwa teknik insersi bulk menunjukkan jumlah kebocoran yang lebih banyak daripada teknik insersi incremental.46 Pada penelitian ini dikarenakan kedalaman kavitas hanya 2 mm dan teknik insersi resin komposit yang digunakan adalah bulk system, sehingga hal ini menyebabkan persentase microleakage yang terjadi lebih besar.
Kelima, pada penelitian ini digunakan resin komposit flowable sebagai bahan restorasi. Resin komposit flowable merupakan bahan restorasi yang umumnya dipakai pada restorasi klas V karena mempunyai komposisi filler inorganik yang rendah dan komposisi resin yang lebih banyak dibandingkan resin komposit packable, sehingga memiliki daya alir yang cukup tinggi sehingga dapat dengan mudah mengisi atau menutupi celah kavitas yang kecil. Akan tetapi, komposisi resin komposit flowable yang demikian dapat menyebabkan terjadinya pengerutan yang lebih besar sehingga menghasilkan kebocoran mikro yang lebih besar.10 Oleh karena pada penelitian ini tidak ditambahkan penggunaan resin komposit packable untuk mengurangi pengerutan polimerisasi yang terjadi, sehingga persentase sampel yang mengalami kebocoran menjadi lebih besar.
Keenam, tidak digunakannya matriks pada saat penyinaran sehingga menyebabkan penyinaran dilakukan secara langsung pada permukaan restorasi secara tegak lurus dapat menyebabkan resiko terjadinya kebocoran mikro semakin besar karena resin komposit yang diaktivasi sinar cenderung mengalami pengerutan ke arah sinar. Pengerasan awal resin komposit seharusnya melalui penyinaran melalui struktur gigi yang berdekatan dengan tepi proksimal agar pengerasan resin komposit
diawali pada batas resin-gigi sehingga resin komposit mengerut ke arah dinding kavitas.27
Ketujuh, proses thermocycling yang dilakukan pada seluruh sampel penelitian. Proses thermocycling yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk memberi tekanan pada gigi atau restorasi sehingga mensimulasi perubahan thermal atau tekanan pengunyahan seperti yang terjadi di dalam rongga mulut. Pada proses thermocycling, perubahan temperatur yang ekstrim sebanding dengan yang terjadi di dalam rongga mulut, sehingga dapat mempengaruhi perbedaan ekspansi dan kontraksi antara bahan restorasi dan srtuktir gigi. Thermocycling mempengaruhi infiltrasi marginal restorasi yang mempunyai koefisien linier ekspansi dan difusi thermal yang tinggi dan menghasilkan kontraksi dan ekspansi restorasi yang berbeda dengan struktur gigi, sehingga permukaan restorasi menjadi lemah. Pada penelitian Rigsby et al. cit Nunes et al. yang membandingkan infiltrasi marginal antara kelompok yang di thermocycling dan yang tidak, diperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan. Demikian juga dengan jumlah putaran pada proses thermocycling tidak mempengaruhi secara langsung terhadap peningkatan kebocoran tepi seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Campos et al. cit Nunes et al.47 Pada penelitian ini dikarenakan keterbatasan alat thermocycling, maka perlakuan yang dilakukan tidak dapat sesuai dengan prosedur kerja, sehingga proses ini mungkin dapat mempengaruhi microleakage yang terjadi.
Kedelapan, pemotongan sampel yang dilakukan hanya melalui bagian tengah restorasi. Hal ini menyebabkan tidak dapat diamatinya microleakage yang terjadi
tengah restorasi dan pemotongan sampel yang hanya melewati bagian tengah restorasi menyebabkan microleakage yang dapat diamati hanya pada bagian tengah restorasi sehingga derajat kebocoran yang terlihat menjadi lebih besar.
Pada tabel 2 dan tabel 3 terlihat bahwa hasil penelitian ini tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan baik di antara seluruh kelompok perlakuan maupun di antara masing-masing kelompok yang dipolimerisasi dengan LED light curing unit maupun halogen light curing unit. Hal ini berarti hipotesis penelitian ditolak.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Attar et al. yang membandingkan microleakage pada restorasi resin komposit klas V dengan dua LED light curing unit dan satu halogen light curing unit yang berbeda dan hasil penelitiannya tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Pada penelitian Attar et al. diperoleh hasil bahwa pada dentinal margin terdapat kebocoran sebesar 58,73%. Akan tetapi pada enamel margin hanya terdapat kebocoran sebesar 15,87%.7
Yazici et al. dalam penelitiannya yang membandingkan efek light curing unit dan light curing mode yang berbeda pada restorasi resin komposit menyatakan bahwa tidak terlihat adanya perbedaan microleakage yang signifikan baik pada enamel margin maupun dentinal margin.13 Penelitian Cavalcante et al. mengevaluasi efek polimerisasi halogen light curing unit, LED light curing unit, argon ion laser, dan plasma arc curing terhadap resin komposit, dan hasil penelitiannya memperlihatkan keempat light curing unit tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan polimerisasi yang signifikan, dengan tingkat kebocoran sebesar 70,09 % pada enamel margin dan 69,32 % pada dentinal margin.42
Perbandingan antara kelompok I (penyinaran dengan halogen light curing unit pada jarak penyinaran 0 mm) dan II (penyinaran dengan LED light curing unit pada jarak penyinaran 0 mm) tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Hal ini mungkin disebabkan karena pada jarak penyinaran yang sama, baik halogen light curing unit maupun LED light curing unit yang digunakan pada penelitian ini mempunyai kemampuan polimerisasi yang sama karena kedua light curing unit tersebut menghasilkan sinar biru dengan panjang gelombang yang sesuai dengan kemampuan absorbsi camphorquinone, yaitu 470 nm, di mana halogen light curing unit (Litex 680A, Dentamerica) menghasilkan panjang gelombang dengan range antara 350-520 nm dan LED light curing unit (DioPower, CMS-Dental ApS) menghasilkan panjang gelombang dengan range 450-490 nm.
Demikian pula dengan perbandingan antara kelompok III (penyinaran dengan halogen light curing unit pada jarak penyinaran 5 mm) dan IV (penyinaran dengan LED light curing unit pada jarak penyinaran 5 mm) menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan. Hal ini mungkin dikarenakan pada jarak penyinaran yang sama, baik halogen light curing unit maupun LED light curing unit yang digunakan pada penelitian ini mempunyai kemampuan polimerisasi yang sama.
Perbandingan antara kelompok perlakuan dengan jarak penyinaran yang berbeda, yaitu antara kelompok I dan III, kelompok I dan IV, kelompok II dan III, serta kelompok II dan IV juga tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Tetapi apabila dilihat dari hasil data skor yang diperoleh dari keempat kelompok ada perbedaan jumlah sampel yang mengalami kebocoran mikro. Pada kelompok I
yang tidak mengalami kebocoran mikro, pada kelompok II dengan LED light curing unit pada jarak penyinaran 0 mm terdapat tiga sampel yang tidak mengalami kebocoran mikro, pada kelompok III dengan halogen light curing unit pada jarak penyinaran 5 mm hanya terdapat satu sampel yang tidak mengalami kebocoran mikro, dan begitu juga pada kelompok IV dengan LED light curing unit pada jarak penyinaran 5 mm hanya terdapat satu sampel yang tidak mengalami kebocoran mikro.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Radzi et al., di mana intensitas cahaya yang dihasilkan oleh light curing unit pada jarak 5 mm lebih rendah daripada intensitas cahaya yang dihasilkan pada jarak 0 mm.26 Semakin rendah intensitas cahaya yang dihasilkan oleh suatu light curing unit maka kemampuan polimerisasinya juga akan berkurang, sehingga hal ini akan mempengaruhi microleakage yang terjadi.