BAB III METODE PENELITIAN
3.6 Teknik Analisis Data
4.1.4 Penyajian Data dan Pembahasan
4.1.4.2 Pembahasan
Dari hasil penelitian dapat kita ketahui bahwa dari para orang tua didalam penelitian ini selalu memberikan hukuman secara fisik jika anak tidak menuruti apa yang diperintah, dengan cara memukul maupun membentak agar anak mau menuruti apa yang di inginkan oleh orang tua. Disinilah peran orang tua seharusnya bisa menjalin komunikasi yang efektif dengan anak dan selalu memberikan masukan yang terbaik, tanpa perlu memberikan hukuman tetapi membangun komunikasi yang baik. Dan dapat merangkul semua permasalahan serta dapat menerima kekurangan yang dimiliki anak (hiperaktif).
Selain itu, dari secara dominan anak yang menjadi informan disini yang selalu diberikan hukuman fisik oleh orang tua ada 2 anak yang menjadi informan 1 diantaranya diberikan hukuman dan orang tua selalu bertindak tegas jika anak membantah apa yang diperintah oleh orang tuanya sedangkan informan 2 juga diperlakukan hal yang sama oleh orang tuanya.
Pesan komunikasi (nasehat) juga terdapat dalam penelitian ini, pesan komunikasi (nasehat) menjelaskan nasehat-nasehat yang disampaikan orang tua kepada anak tentang bagaiman harusnya agar anak tidak melakukkan tindakan yang salah dan selalu menuruti apa yang disampaikan oleh orang tua.
Respon komunikasi juga terdapat dalam penelitian ini, dari semua informan berbeda-beda. Disini terdapat respon positive dan respon negative.
respon negative yaitu ketika remaja tidak menuruti atau mematuhi nasihat orang tua. Ada dua informan (anak) yang menuruti nasihat orang tua dalam artian disini terdapat respon positive, dan ada satu informan (anak) yang tidak menuruti nasihat orang tua dalam artian disini terdapat respon negative.
Dari pernyataan semua informan, dapat kita ketahui dua dari tiga informan menerapkan pola komunikasi interpersonal orang tua dengan anak hiperaktif di Surabaya mengarah pada pola komunikasi Athoritarian (otoriter). Dalam pola komunikasi otoriter ini orang tua tidak mendengarkan dan mematuhi kehendak orang tuanya. Disini hubungan interpersonal terdapat penerimaan yang rendah dan terdapat kontrol yang tinggi. Orang tua bersikap memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa penjelasan, orang tua menangani anak cenderung emosional melakukan sesuatu tanpa penjelasan, orang tua menangani anak cenderung emosiaonal dengan cara hukuman yang akan didapatkan apabila anak tidak dapat mematuhi nasihat orang tua.
Dalam keluarga ini juga menerapkan satu pola komunikasi Authoritative (demokratif). Hubungan interpersonal orang tua dan anak dapat berkembang dengan baik. Terdapat timbal balik dari orang tua ke anak dan sebaliknya. Orang tua dapat memberikan kepercayaan kepada anaknya dan sebaliknya. Disni terjadi pola komunikasi yang efektif dimana orang tua bisa mendengarkan pendapat atau aspirasi anak dan anak juga mendengarkan nasehat dari orang tua nya tersebut. Orang tua dengan anak dapat bersifat sahabat dan anak pun mampu mengendalikan dirinya dalam dunia luar.
rupa sehingga mereka dengan mudah membayangkan banyak alternative pemecahan masalah serta kemungkingan akibat atau hasilnya. Para anak tidak lagi menerima informasi apa adanya tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Oleh karena itu dampak adanya pola komunikasi yang diterapkan menjadi tidak bersahabat akibat pola komunikasi yang diterapkan sehingga menyebabkan hubungan interpersonal tidak baik dan mengakibatkan kualitas interpersonal menjadi tidak baik.
Pada masa usia anak mulai ada tanda-tanda penyempurnaan pengembangan jiwa seperti moral, maksudnya masa anak adalah periode dimana seorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi disekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka, oleh karena itu peranan orang tua penting dalam membimbing anaknya dimasa transisi anak.
5.1 Kesimpulan
Dari analisis data diatas dan pembahasan yang ada maka bisa kita tarik kesimpulan ternyata anak (hiperaktif) yang tidak diberikan pengertian tentang sifat dan tingkah laku yang baik oleh orang tua nya dikarenakan kurang nya komunikasi orang tua. Selain itu orang tua juga kurang melakukan pendekatan dengan anak sehingga orang tua kurang mengetahui apa yang diinginkan oleh anak.
Tidak hanya masalah komunikasi dan pemberian informasi tentang seperti apa harusnya sifat yang baik, ternyata dengan adanya kekuasaan yang berlebih dalam keluarga (dari orang tua itu sendiri ataupun dari anggota keluarga dewasa yang lainnya). Juga mempengaruhi sikap anak dalam kehidupan sehari-hari, anak merasa terkekang,tidak bebas dan berontak hanya ingin mendapatkan perhatian dari orang tua.
Penerapan pola komunikasi Authoritarian (otoriter) terdapat pada informna 1, sikap orang tua cenderung mendominasi anak, orang tua tidak memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada anak. Anak harus menuruti semua keinginan orang tua, apabila tidak ada hukuman yang akan didapatkan anak dari orang tuanya.
Pada informan 2 pun juga menerapkan pola komunikasi otoriter, disini juga terdapat bahwa sikap orang tua cenderung mendominasi anak, orang tua tidak
keinginan orang tua, apabila tidak ada hukuman yang akan didapatkan anak dari orang tuanya.
Sedangkan pada informan 3 menerapkan pola komunikasi demokratis yaitu disini peran orang tua dan anak memiliki hubungan interpersonal yang baik, terjalin komunikasi yang efektif, orang tua mampu mendengarkan aspirasi anak dan anak juga mendengarkan pesan orang tua.Dimana seorang anak mempunyai prestasi yang tinggi untuk membanggakan orang tuanya.Anak bersikap bersahabat dan cenderung terbuka kepada orang tuanya.
5.2 Sar an
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disarankan sebagai berikut:
1. Pola komunikasi yang seharusnya digunakan antara orang tua dengan anak adalah pola komunikasi Authoritative (cenderung dari kegelisahan dan kekacauan) karena pola komunikasi ini dapat menciptakan komunikasi yang efektif antara orang tua dengan anak dan juga akan mengakibatkan hubungan keluarga yang harmonis, sehingga rasa memiliki, aman dan nyaman yang tercipta didalam keluarga.
2. Orang tua seharusnya lebih memberikan pujian kepada sang anak yang cenderung berlebihan dan tidak fokus, dengan cara menasehatinya saja dan mengarahkan ke arah yang lebih baik. Dan orang tua harus menciptakan
oleh orang tua tanpa perlu marah.
3. Komunikasi juga merupakan faktor yang terpenting dalam suatu keluarga untuk membangun rasa percaya diri dan tumbuh kembang bagi sang anak, dengan tidak adanya komunikasi dalam suatu keluarga akan menimbulkan efek-efek yang negative. Dalam hal ini diutamakan adalah kualitas komunikasi itu sendiri bukanlah kuantitasnya
Bahri, Syaiful Djamarah . 2004. Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam
Keluarga (Sebuah Perspektif Pendidikan Islam). Jakarta: PT. Remaja
Rosdakarya
Effendy, Onong Uchana, M. A. 2002. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti
Effendy, Onong Uchana, M. A. 2005. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Effendy, Onong Uchana, M. A. 2002. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Gunasa, Singgih D., Dra. Ny. Gunasa, Singgih D. (2001). Psikologi Praktis :
Anak, Remaja dan Keluarga. Jakarta. Penerbit : BPK Gunung Mulia.
Bahri, Syaiful Djamarah 2004. Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam
keluarag (sebuah Perspektif Pendidikan Islam). Jakarta: PT.Remaja
Rosdakarya.
Martin, Grant L. Ph.D. (1998). The Attention Deficit Child AD/HD. Seattle Washington . Jakarta : PT. Bhuana Ilmu Populer.
Trihandayani, dewi . (2012) . Berinteraksi Dengan Anak yang AD/HD . Jakarta : Yayasan Mimi Institute
Dariyo, Agoes. Psi (2002). Psikologi Perkembangan Remaja, Bogor : Ghalia Indonesia.
Yusuf, Syamsu L.N., M. Pd. (2001). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung. Penerbit : Penerbit : PT. Remaja Rosdakarya
Moleong, J.L. (2002) Metode Pendidikan Kualitatif, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Kriyantono, Rachmat (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Surabaya. Penerbit ; KENCANA Prenada Media Group
.
Sutopo, H. B. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas sebelas Maret.
Rakhmat, Jalaludin. (2002). Psikologi Komunikasi. Bandung. Penerbit : Penerbit: PT. Remaja Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaludin. (2002). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung. Penerbit : Penerbit : PT. Remaja Rosdakarya.
Muhammad, Arni. 2005. Komunikasi Organisasi. Jakarta: PT Bumi Aksara
Wright, H.N (1991). Menjadi Orang Tua yang Bijaksana. Penerjemah : Christine Sujana. Yogyakarta. Penerbit : Yayasan Andi.
Gerunga, W.A., (1988), Psikologi Sosial, PT. Ersco, Bandung. Irianto. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: BPFE.
Non Buku http://www.pelangibiru.net/2011/02/anak-pengertian-anak.html http://www.surabayapost.co.id /2013/09/18/index.htm http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20820/20345?8?chapter%. pdf http://www.duniapsikologi.com//pengertian-anak-sebagai-makhluk-sosial/