Dalam pengambilan keputusan berobat, beberapa hal turut berperan seperti ketidaktahuan keluarga pada kedua partisipan pengasuh mengenai deteksi awal gangguan jiwa yang mengarahkan pada pemahaman dan tindakan yang kurang tepat seperti membawa ke pengobatan alternatif atau terlambat mendapat tritmen medis. Selain dari itu, sosial budaya, SES (Ismail, 2015), pengalaman masa lalu, pengetahuan, tradisi (Asi, Saragih, & Ranimpi, 2018), usia, jenis kelamin, sikap, sumber informasi dan ketersediaan serta keyakinan atau kepercayaan (Ervina & Ayubi, 2018) mengambil andil pada persepsi sakit dan memengaruhi pemilihan pengobatan alternatif pada masyarakat. Konsep penyakit menurut tradisi Jawa mengarahkan pada pemahaman penyakit karena adanya guna-guna (Yitno, 1985 dalam Sudardi, 2012), melakukan perbuatan amoral serta kurang iman (HRW, 2016), juga kerasukan setan dan kutukan yang sering dikaitkan dengan gangguan jiwa (Sarwono & Subandi, 2013). Masyarakat cenderung merespons masalah kesehatan berdasarkan kebiasaan masyarakat yang sesuai dengan norma dan nilai mereka (Singh, 2011). Banyak keluarga penderita yang mencari ahli agama, tokoh masyarakat, serta dukun dalam menghadapi masalah psikologis (Subandi & Utami, 1996). Pengalaman yang dimiliki oleh PK2 dan keyakinan karena pernah melihat langsung gangguan supernatural pada neneknya yang perot bahkan sampai meninggalnya dan muazin yang berhasil menyembuhkan penderitanya berperan dalam pengambilan keputusan ditempuhnya pengobatan alternatif. Selain itu, ketersediaan atau tersedianya pengobatan alternatif baik di dekat maupun jauh dari tempat tinggal juga memberikan peran, di mana kedua keluarga tetap menempuh pengobatan di daerah yang jauh dari rumah.
Ketika pertama kali mengetahui salah satu anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa macam respons keluarga dapat berupa bingung, susah atau sedih, kasihan, malu, kaget, jengkel, merasa terpukul dan tidak tenang, yang mana mereka tidak tahu bagaimana cara mengatasi situasi kritis yang dihadapi (Subandi & Utami 1996). Namun demikian, kedua keluarga partisipan tidak pasif dalam menghadapi situasi tersebut yang dapat disebabkan karena budaya Jawa
dan agama Islam yang mereka anut di mana ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa setiap “penyakit ada obatnya” yang mendorong manusia untuk berusaha mendapatkan kesembuhannya (Utami, 2017). Selain itu, peran orang sekitar seperti keluarga dan tetangga juga berpengaruh di mana seseorang dalam kondisi dan situasi ini umumnya sangat suggestible sehingga berbagai saran yang diberikan oleh sekitar akan dilakukan untuk memperoleh kesembuhan (Subandi & Utami 1996).
Pengalaman langsung PK2 mengenai kesembuhan penderita setelah mendapatkan bantuan penyembuh alternatif membentuk keyakinannya akan manfaat atau dampak yang baik ketika ia berperilaku sehat yang mana dipersepsikan dengan menempuh pengobatan alternatif, yang menurut teori yang dikembangkan Hochbaum, health belief model (Hayden, 2014) disebut dengan
perceived benefits. Suatu keyakinan akan manfaat atau memberikan dampak yang
baik untuk menurunkan risiko penyakit jika ia mengubah perilakunya. Tidak adanya riwayat dalam keluarga dan ketidaktahuan informasi mengenai gangguan jiwa, tidak mengarahkan kedua keluarga pada pengobatan medis melainkan pengobatan alternatif. Setiap ritual yang diminta oleh penyembuh alternatif dilakukan oleh pengasuh dan penderita, hal ini karena pengasuh mempersepsikan dampak positif (perceived benefits) yaitu kesembuhan ketika melakukan anjuran atau ritual yang diminta dilakukan oleh penyembuh alternatif seperti membagikan beberapa macam jajanan kepada anak-anak kecil di sekitar rumah keluarga 1, PK1 mengambil dan PP1 diminta untuk meminum air dari sumur masjid, meminum air yang sudah didoakan penyembuh alternatif, melakukan syukuran dengan syarat tertentu pada keluarga 1, mandi kembang setaman yang dilakukan oleh PP2, lalu berdoa di makam keramat oleh keluarga 2.
Informasi yang diperoleh merupakan suatu cues to action bagi kedua keluarga penderita untuk menempuh pengobatan, terutama pengobatan alternatif supernatural, yang hampir semua informasi diperoleh dari pihak keluarga dan tetangga, walaupun PK1 juga mengetahui dan menempuh pengobatan di penyembuh alternatif yang berada di dekat rumahnya. Cues to action dapat berupa
kejadian, orang, dan hal-hal yang mendorong seseorang untuk mengubah perilakunya, yang terjadi pada kedua keluarga penderita, informasi bersumber dari tetangga, begitu pula yang akhirnya mendorong PP1 memperoleh pengobatan medis. Sedangkan pada PK2, ia mempersepsikan keparahan (perceived severity), yaitu suatu keyakinan personal mengenai keseriusan atau keparahan dari suatu penyakit dan PK2 mempersepsikan kerentanan (perceived susceptibility), persepsi mengenai risiko yang akan diterima atau kerentanan mengenai suatu penyakit yang mana merupakan bentuk persepsi yang paling memberikan dampak untuk mengadopsi perilaku sehat. PK2 melihat kondisi penderita yang tidak mendapatkan hasil setelah menempuh beberapa pengobatan alternatif dan perilaku dipersepsikan semakin parah di mana penderita naik ke atas atap mobil dan hampir telanjang. Selain itu, pengasuh juga mempersepsikan penyakit saraf yang dapat dialami oleh penderita setelah beberapa pengobatan alternatif gagal membuahkan hasil.
Dalam mencari bantuan, seseorang dapat berpindah dari profesional satu ke profesional lain atau sebaliknya bagi pengguna bantuan non-profesional, dari dukun satu ke dukun lainnya. Namun pada akhirnya orang beralih ke tenaga profesional. Hal ini merupakan hasil evaluasi penderita terhadap pengobatan atau bantuan yang telah diperoleh (Subandi & Utami, 1996) yang disebut John Janzen (dalam Nyanto, 2015) dengan proses sosial. Hal ini juga nampak pada kedua keluarga penderita yang melibatkan peran orang sekitar dalam proses pengobatan yang ditempuh terutama pada keluarga penderita pertama pada hampir semua pengobatan yang ditempuh dan keluarga dua karena hasil evaluasi dari pengobatan alternatif yang tidak memberikan dampak yang akhirnya membawa penderita untuk memperoleh pengobatan secara profesional atau medis yang biasanya sudah dalam kondisi yang parah seperti yang disampaikan oleh PK2.
Kedua keluarga partisipan sudah menempuh dan mengusahakan pengobatan selama lebih dari 10 tahun dan bentuk perilaku coping pada umumnya akan berubah menjadi lebih emosional dan bersifat pasrah serta transendensi dengan anggapan bahwa gangguan merupakan cobaan dari Tuhan dan meyakini
bahwa gangguan tidak dapat disembuhkan secara total (Subandi & Utami, 1996). Mereka cenderung menumbuhkan sikap narimo ing pandum yang sesuai dengan nilai yang ada di Jawa yang mana bersyukur, sabar dan menerima sebagai unsur-unsurnya (Prasetyo & Subandi, 2014). Pengasuh kedua keluarga bersyukur atas kondisi penderita saat ini walaupun PK1 juga mengeluhkan penderita yang hanya main, makan dan tidur saja, namun ia bersyukur akan kondisi PP1 terlepas dari hal tadi. Keluarga lebih mencari makna positif dari pemasalahan dan fokus pada pengembangan diri dan hal-hal yang bersifat religius, mereka lebih berusaha menerima dengan ikhlas masalah yang muncul (Wanti, Widianti. & Fitria, 2016). PK2 yang mengarahkan penderita untuk mengaji dan sholat rutin dan PK1 yang juga rutin atau aktif mengikuti pengajian yang diadakan di kampungnya.
Dukungan keluarga memberikan dampak pada kemenurutan atau kerutinan minum obat pada penderita sehingga dapat mencegah kekambuhan (Yatiningsih, 2016). Pada keluarga ini, mereka meyakini bahwa dengan penderita minum obat kondisinya menjadi baik seperti tidak mudah marah, tidak pergi dari rumah dan tidak diam melamun, dan ketika terlambat dapat menyebabkan kekambuhan sehingga ia hanya memastikan obat tidak boleh terlambat yang serupa dengan temuan Subandi dan Utami (1996) pada keluarga penderita skizofrenia mengenai evaluasi mereka terhadap medikasi. Berdasarkan penjelasan Bandura (1989), dengan learning by doing, apakah tindakan atau aksi bekerja atau tidak, seseorang akhirnya menyusun suatu konsepsi dari pola-pola perilaku baru dan kapan itu tepat untuk dilakukan. Namun demikian, edukasi pada kedua keluarga mengenai gangguan yang dialami oleh penderita masih kurang yang mana mereka masih tidak tahu nama serta gejala dari gangguan yang dapat mengarahkan masyarakat tetap berdiri pada perspektifnya masing-masing (Putri, Wibhawa, & Gutama, 2015). Hal ini yang juga menjadi salah satu alasan mengapa PK1 meminta bantuan pada kiai ketika anaknya tidak mau minum obatnya.
Walaupun kedua penderita rutin mengonsumsi obat, PP1 nampak menghindar pada tenaga kesehatan seperti tidak mau mengikuti rawat jalan dan pergi keluar ketika hendak dijemput oleh pihak puskesmas untuk mengikuti
kegiatan puskesmas. Begitu juga PP2 yang walaupun rutin rawat jalan, namun ia takut menghadapi kondisi atau mengetahui informasi mengenai gangguannya dan cenderung tidak mau mencari informasi mengenai gangguannya. Minimnya informasi bahkan ketidaktahuan keluarga juga penderita mengenai gangguan penderita tentunya memberikan dampak pada perawatan dan rehabilitasi penderita. Mengingat pada gangguan skizofrenia terdapat gejala, terutama halusinasi di mana terdapat situasi atau pikiran tertentu yang menjadi pencetus munculnya gejala tersebut dan bersifat intermittent (Suryani, 2013). Untuk itu dengan mengetahui informasi mengenai gangguan dengan tepat terutama tanda gejala, pengasuh atau keluarga dapat mengontrol kondisi penderita (Suryani, Komariah, & Karlin, 2014).
Perspektif Penyembuh Alternatif
Keyakinan dan praktik penyembuhan merupakan bagian integral dalam kehidupan masyarakat (Nyanto, 2015), dan apa yang dilakukan oleh penyembuh saat menyembuhkan tak terpisah dari keyakinan dan praktik keagamaan mereka (Mbiti, 1969 dalam Nyanto, 2015). Mardliyah (2016) menerangkan seorang sufi atau penyembuh memberikan pelayanan kepada orang lain dengan rasa syukur karena mendapatkan kesempatan melayani orang lain, sehingga ketulusan dan keikhlasan menjadi dasar ataupun faktor utama kedua penyembuh dalam pengobatannya. Sikap dan perilaku penyembuh yang ramah, perhatian, mau mendengarkan keluhan serta rasa kekeluargaan menciptakan kenyamanan baik secara fisik maupun psikologis yang mendorong individu untuk melakukan pengobatan di tempat mereka (Pemana, 2012). Oleh karenanya, penyembuh (medicine men) memainkan peran penting dalam penyembuhan di suatu masyarakat (Feierman, 1990 dalam Nyanto, 2015).
Kedua penyembuh yakin bahwa gangguan supernatural merupakan penyebab utama gangguan jiwa atau disebut dengan faktor personalistik (Foster & Anderson dalam Sudardi, 2012) di mana gangguan disebabkan karena adanya agen seperti dewa, lelembut, makhluk halus, dan manusia. Kebiasaan buruk yang tidak diperbaiki menjadi lebih baik seperti mendekatkan diri pada Tuhan dan
meningkatkan religiusitasnya sampai memasuki akil balig, diyakini PA1 menjadi alasan mengapa individu mengalami gangguan jiwa. Masa dewasa yang sering disebut masa transisi di mana peristiwa-peristiwa yang sebelumnya tidak ditemukan akhirnya muncul dan dipandang tidak biasa yang membawa seseorang menghadapi tuntutan yang lebih besar dan berpotensi mengalami ketidakstabilan emosi (Jackson dalam Clarke, 2010). Keterlibatan spiritual pada tingkat kesadaran yang tinggi menjadi filter terhadap ketidakstabilan ini (Utami, 2016). Oleh karena itu, kedua penyembuh mendorong penderitanya untuk mendekatkan diri pada Allah, melakukan pendekatan keagamaan, selain mengeluarkan makhluk supernatural.
Upaya untuk mengeluarkan makhluk supernatural di antaranya dengan tenaga dalam, zikir dan ruqyah. Dalam surat al-Ra’ad 13:28 (dalam Utami, 2017) yang tertulis: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”. Beberapa tahun terakhir, peneliti kesehatan meneliti efek pembacaan Al-Quran pada menurunnya stres dan tritmen pada gangguan jiwa. Para peneliti menemukan pengaruh penghafalan Al-Quran pada kesehatan jiwa sebaik efek dari mendengar atau membacanya dengan keras (Mahjoob, dkk, 2016). Persepsi penderita terhadap pengobatan dengan zikir membawa seseorang pada sikap optimistis dan positif terhadap penyakit. Jalur perubahan dalam zikir mendorong syukur pada Allah sehingga membentuk sikap ikhlas, mampu meningkatkan spiritual value, memengaruhi kualitas karakteristik internal menjadi lebih baik dan optimis sehingga mampu beradaptasi terhadap stres (Utami, 2017). Oleh karena itu, penyembuh juga meminta penderita untuk melakukan doa-doa atau zikir di rumah. Utami (2016) menyebutkan peran spiritual pada tingkat kesadaran yang tinggi sebagai filter terhadap ketidakstabilan emosi di mana sistem tubuh yang seimbang memengaruhi keseimbangan hormon dalam keadaan fisiologis (normal) dan melalui zikir telah mengubah persepsi individu yang berdampak pada respons biologis berupa hormon kortisol. Hormon ini dipengaruhi oleh stres yang diterima tubuh dan respons otak yang menjadi peran kunci keseimbangan tubuh (Hokardi, 2013 dalam Utami, 2017). Hamsyah
dan Subandi (2016) menyebutkan bahwa intensitas zikir secara signifikan berhubungan dengan kesejahteraan secara subjektif. Peran penyembuh sebagai pemberi motivasi, doa untuk "menenangkan" penderita dan dimaknai oleh penderita sehingga dapat mengubah persepsinya yang negatif menjadi positif (Utami, 2017). Kedua penyembuh juga menekankan peran kepercayaan penderita, rasa “membutuhkan” dan penderita yang diminta menyerahkan ikhtiarnya pada penyembuh, sehingga hal ini dapat membantu dalam proses penyembuhan yang dilakukan.
Media air juga digunakan kedua penyembuh, di mana Dr. Masaru Emoto di awal kariernya mencobakan pengobatan alternatif dan menggunakan mesin yang disebut MRA (Magnetic Resonance Analyzer) untuk menghasilkan air hado atau vibrasi halus pada tritmen penyakit. Cara tercepat untuk memunculkan vibrasi, kesehatan dan kebahagiaan adalah dengan mengucapkan atau memberikan perlakuan dengan pesan positif terhadap air yang akan menghambat atau menggagalkan simptom-simptom penyakit. Pada semua eksperimennya, rasa cinta dan rasa syukur menciptakan kristal-kristal yang lebih indah dan akurat dari yang memiliki kekuatan terbesar dalam menghambat atau menangkal hal-hal negatif. Kristal heksagonal akan terbentuk sempurna dan timbul pada air, yang telah terpapar dengan kata-kata positif, doa, delicate music dan gambar-gambar yang indah, dan tidak dipertanyakan lagi bahwa air menyimpan informasi dari lingkungannya (AsiaSpa, 2013).
Dalam penelitannya mengenai kontribusi spiritual/religious (S/R) pada kemampuan coping individu dengan skizofrenia residual, Shah, dkk (2011) menunjukkan penderita yang memiliki pandangan secara spiritual menjadi faktor penting yang positif dalam hidup mereka dan memiliki simptom-simptom negatif yang rendah serta level tinggi pada penerapan strategi coping yang adaptif. Spiritualitas membantu pemulihan dengan memberikan sumber untuk coping terhadap simptom-simptom di mana penderita dengan helpful spirituality, arti-penting agama yang lebih tinggi dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan hasil yang lebih baik pada simptom-simptom negatif; arti-penting agama yang
lebih tinggi dalam memaknai hidupnya berasosiasi dengan hasil yang lebih baik pada kualitas hidup; dan arti-penting agama pada coping terhadap simptom-simptom berhubungan dengan hasil evaluasi klinis dan status fungsional yang lebih baik secara keseluruhan (Mohr, dkk, 2011). Banyak studi telah menunjukkan dampak positif dari tritmen inklusif S/R pada orang dengan depresi, kecemasan, PTSD, skizofrenia dan trauma sebaik untuk penderita yang menghadapi masalah seperti kanker (Kennedy, Macnab, & Ross, 2015).
Penyembuh alternatif, tradisional ataupun komplementer sering menggunakan kombinasi pada tritmennya dibandingkan hanya menggunakan satu saja (Thirthali, dkk, 2016). Metode yang digunakan oleh penyembuh selain tiga yang telah disebutkan sebelumnya adalah dengan mandi malam atau mandi taubat, mengonsumsi kurma Ajwa dan minyak Sidr atau daun Bidara sebanyak 7 buah. Kesembuhan menurut PA1 didasarkan pada apa yang dirasakan dan apa yang ia observasi, sedangkan PA2 berdasarkan hasil evaluasi penderita yang masih merasa tidak nyaman dan memiliki keluhan. Namun tidak dapat disangkal gangguan jiwa disebabkan oleh berbagai hal, sehingga PA2 terutama, menyerahkan pada tenaga medis ketika penyebab yang ia hadapi bukan dari gangguan supernatural melainkan gangguan pada sistem saraf, penyembuh tidak selalu berusaha menyembuhkan penyakit, mereka juga melihat bagaimana kondisi dari penderita berikut kondisi dari penyakit yang dideritanya. Bilamana dirasa masih bisa disembuhkan, maka penyembuh akan menyembuhkan penyakit tersebut (Permana, 2012).