• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Prosedur Pelaksanaan Pemberian Kredit Usaha

Dalam dokumen Esti Cahyaningtyas F3608091 (Halaman 63-83)

BAB III PEMBAHASAN

B. Pembahasan Prosedur Pelaksanaan Pemberian Kredit Usaha

Dengan diketahui bahwa peran UMKM sangat besar kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia, maka Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Inpres No.6 tanggal 8 Juni 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UMKM yang diikuti dengan adanya Nota Kesepahaman Bersama antara Departemen Teknis, Perbankan, dan Perusahaan Penjaminan yang ditandatangani pada tanggal 9 Oktober 2007 dengan ditandai peluncuran Penjaminan Kredit/Pembiayaan kepada UMKM. Akhirnya pada tanggal 5 November 2007, Presiden R.I Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan kredit bagi UMKM dengan pola penjaminan tersebut dengan nama Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebijakan penjaminan kredit ini diharapkan akan dapat memberikan kemudahan akses yang lebih besar bagi para pelaku UMKM dan Koperasi yang telah fea sible namun belum ba nka ble (Admin.

Peluncura n KUR. http://www.bni.co.id).

Berdasarkan hasil penelitian penulis di Bank Tabungan Negara (Persero) yang dilakukan pada tanggal 13 April serta hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan staff loa n administration, maka penulis dapat menggambarkan alur pemberian KUR dalam bentuk bagan yaitu sebagai berikut :

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Bagan Alur Pelaksanaan KUR pada PT.Bank Tabungan Negara

Sumber : Standar Operasional Prosedur Loan Administration BTN

Gambar III.2

Bagan Alur Pelaksanaan KUR pada PT.Bank Tabungan Negara Terbit

DUP

Nasabah Mengajukan Wawancara

Kredit Rakomdit Diterima Ditolak Dibuat SP3K Dibuat surat penolakan kepada debitur Terbitkan SPD5 dan SP3K Administrasi Pembentukan account debitur Selesai Memasukkan berkas permohonan dan dokumen lain ke dalam

dokumen pokok untuk dismpan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Berdasarkan bagan diatas, maka penulis dapat mengemukakan bahwa proses pemberian KUR dilakukan secara bertahap, yaitu sebagai berikut :

a. Tahap Permohonan Kredit

Calon debitur Individu (Perorangan/badan hukum), Kelompok, Koperasi yang melakukan usaha produktif yang berasal dari sektor industri, dagang, dan jasa yang termasuk dalam digolongkan dalam Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mengajukan permohonan kredit usaha rakyat (KUR) secara tertulis kepada pihak Bank Tabungan Negara (Persero). Calon debitur KUR datang ke Bank Tabungan Negara (Persero), kemudian dengan dibantu oleh Customer Service, calon debitur KUR mengisi formulir pendaftaran atau formulir pengajuan permohonan KUR yang sudah disediakan pihak bank, kemudian ditandatangani oleh pemohon.

Dengan keputusam Menteri Negara Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) yang baru maka nilai kredit sebesar Rp 20.000.000 tidak dikenai agunan serta menggunakan nilai tingkat suku bunga yang baru yaitu sebagai berikut :

Tabel III.1

Perbandingan Tingkat Suku Bunga

Besar kredit Tingkat suku bunga

Kurang dari Rp 5.000.000 24% menjadi 22%

Rp 5.000.000 s/d Rp 500.000.000 16% menjadi 14%

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Calon debitur kredit usaha rakyat diharuskan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam hal pengajuan permohonan kredit usaha rakyat. Syarat-syarat yang diperlukan antara lain

Tabel III.2 Persyaratan KUR

Dokumen Pemohon Usaha

Mikro UMKM perorangan UMKM berbadan Usaha

Menyerahkan surat permohonan

KUR yang ditandatangani

pemohon dan istri/suami pemohon (apabila telah menikah)

ü

ü

Menyerahkan surat permohonan KUR yang ditandatangani oleh Direksi atau Ketua Badan Usaha

ü

Akte pendirian usaha sampai

dengan perubahan terakhir

ü

KK (kartu keluarga), dan KTP

(kartu tanda penduduk)

ü

ü

Surat nikah

ü

ü

NPWP (nomor pokok wajib pajak)

ü

ü

SIUP,TDP

ü

ü

Perijinan usaha dari dinas pasar

bila usaha di pasar

ü

Surat keterangan ketua RT/RW

untuk lokasi usaha pemukiman

ü

Legalitas tempat usaha

ü

ü

Laporan keuangan terakhir

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Rincian peruntukan kredit

ü

ü

ü

Catatan keuangan usaha (kwitansi, faktur, bon pembukuan rekening Koran,dsb

ü

Pemohon belum pernah mendapat

fasilitas kredit dari bank

ü

ü

ü

Sumber: PT Bank Tabungan Negara Cabang Solo, 2011

Debitur dikenakan biaya-biaya pemrosesan KUR yang harus dibayar sekaligus dan seketika pada saat ditagih oleh bank, yaitu antara lain biaya-biaya sebagai berikut :

1) Biaya taksasi atas agunan 2) Biaya notaris/PPAT/Lega l Fee

3) Biaya asuransi atas agunan/jaminan

4) Biaya materai, pajak dan pungutan lainnya yang dikenakan oleh pemerintah ataupun apa saja yang harus dikeluarkan/dibayar berkenaan persiapan, pelaksanaan, tindakan penyelenggaraan perjanjian KUR.

5) Biaya cadangan pemasangan hak tanggungan, apabila pengikatan agunan ditunda pelaksanaanya dengan melakukan penandatanganan SKMHT (Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan) terlebih dahulu.

6) Biaya-biaya dan pengeluaran-pengeluaran lain-lainnya yang berkaitan dengan penyelenggaraan KUR selama periode KUR

Disamping itu, bank tidak diperkenankan mengenakan biaya komitmen (commitment fee) dan provisi atas penyediaan KUR

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Setelah persyaratan lengkap kemudian diadakan wawancara dengan menghadirkan calon pemohon (debitur). Account officer mempelajari berkas pemohon untuk mengadakan wawancara yang bertujuan untuk :

1) Mempelajari kemampuan dalam membayar angsuran

Menilai dan memastikan bahwa pemohon mempunyai jumlah pendapatan yang cukup untuk membayar angsuran.

2) Mengetahui kemampuan membayar angsuran

Menilai dan memastikan bahwa pemohon memang mempunyai tekat dan menunjukkan itikad baiuk untuk bertanggungjawab terhadap pembayaran kredit.

3) Kekuatan atau kehandalan dalam mengangsur

Menilai dan memastikan bahwa agunan kredit dapat menutup nilai kredit jika terjadi kemacetan.

Sedangkan untuk memperoleh keyakinan apakah nasabah mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya kepada bank secara tertib, baik pembayaran pokok maupun bunganya sesuai dengan kesepakatan dengan bank, maka Account officer harus menganalisis calon nasabah dengan menggunakan prinsip dasar dalam menganalisis kredit yang lazim disebut dengan prinsip 5C yang dilakukan baik pada saat wawancara di Bank BTN maupun pada saat on the spot atau survey lapangan, berdasarkan veithzal Rivai dan Andriana Permata Veithzal dalam bukunya yang berjudul Credit

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Chara cter adalah keadaan atau watak/sifat dari nasabah, baik dalam

kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usaha.kegunaan dari penilaian terhadap karakter ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana itikad/kemauan nasabah untuk memenuhi kewajibannya (willing to

pa y) sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.

2) Ca pita l

Ca pita l adalah jumlah dana/modal sendiri yang dimiliki oleh calon

nasabah. Semakin besar modal sendrir dalam perusahaan, tentu semakin tinggi kesungguhan calon nasabah dalam menjalankan usahannya dan bank akan merasa lebih yakin dalam memberikan kredit.

3) Ca pa city

Ca pa city adalah kemampuan yang dimiliki calon nasabah dalam

menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Kegunaan dari penilaian ini adalah untuk mengetahui/mengukur sampai sejauh mana calon nasabah mampu mengembalikan atau melunasi utang-utangnya

(a bility to pa y) secara tepat waktu dari usaha yang diperolehnya.

4) Colla tera l

Colla tera l adalah barang-barang yang diserahkan nasabah sebagai

agunan terhadap kredit yang diterimanya. Collateral tersebut harus dinilai oleh bank untuk mengetahui sejauh mana risiko kewajiban finansial

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id nasabah kepada bank. Penilaian terhadap jaminan ini meliputi jenis, lokasi, bukti pemilikan, dan status hukum.

5) Condition of Economy

Condition of economy yaitu situasi dan kondisi politik, sosial,

konomi, budaya yang mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang kemungkinannya mempengaruhi kelancaran perusahaan calon debitur.

c. Penerbitan daftar usulan pemohon (DUP)

Dengan adanya hasil wawancara antara calon debitur dengan bagian

loa n service maka bagian loa n service berketetapan untuk menerbitkan

daftar usulan pemohon (DUP) yang akan digunakan dalam rapat komisi kredit (rakomtit) dan dibuat rangkap 5, yang ditembuskan sebagai berikut : 1) DUP 1, diberikan kepada kasie loa n service unit.

2) DUP 2, diberikan kepada analisis loa n service unit. 3) DUP 3, diberikan kepada seksi loa n a dministration unit. 4) DUP 4, diberikan kepada kepala cabang.

5) DUP 5, diberikan kepada kepala seksi loa n recovery.

6) Berdasarkan DUP, kasie mengecek dan menganalisa DUP kemudian

dikembalikan kagi pada bagian loa n service unit. d. Rapat Komite Kredit (Rakomdit)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id yang selanjutnya dapat menghasilkan keputusan. Bila permohonan kredit disetujui oleh bank, maka bagian loa n service unit akan mengeluarkan surat penegasan persetujuan penyediaan kredit (SP3K) yang dibuat rangkap dan didistribusikan sebagai berkut :

1) SP3K 1, untuk calon debitur

2) SP3K 2, untuk bagian loa n service unit.

Namun bila permohonan kredit ditolak, maka diterbitkan surat penolakan dan dokumen permohonan yang ditolak dapat diambil kembali bila pemohon menghendaki atau diinformasikan via telepon. Surat penolakan tersebut dirangkap 2 yang didistribusikan sebagai berikut :

1) Surat penolakan 1, dapat diambil debitur dibagian loa n service unit 2) Surat penolakan 2, untuk diberikan kepada loa n service unit. e. Realisasi Kredit

Setelah diadakan rakomdit dan dikeluarkan SP3K, maka petugas calon debitur berkenan ke bank untuk mengumumkan hasil rakomdit dengan tidak memberikan alasan ditolak dengan kata lain permohonan kredit tersebut diterima. Langkah berikutnya adalan penandatanganan SP3K oleh calon debitur diatas materai Rp 6000,00 dan diserahkan kembali ke bank, selanjutnya diadakan realisasi kredit. Dengan menghadirkan debitur dan saksi, bagian loa n service selanjutnya dapat mengadakan akad kredit dengan notaris yang sudah ditentukan oleh bank. Akad kredit adalah suatu perjanjian untuk meminimumkan kemungkinan jika terjadi hal-hal yang sekiranya akan merugikan kedua belah pihak. Dalam realisasi kredit tersebut diterbitkan surat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id perjanjian rangkap lima (SDP5) sebagai dokumen bahwa realisasi telah dilaksanakan, selain itu juga menerbitkan Surat Perjanjian Kredit (SP3K) rangkap 3 dimana keduanya ditandatangani oleh debitur dihadapkan pejabat Bank Tabungan Negara dan notaris yang ditunjuk oleh bank yang selanjutnya pihak bank bertugas menyimpan Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3K) dari debitur dengan arsip yang urut. Kemudian SP3K rangkap 3 yang telah ditandatangani oleh debitur didistribusikan sebagai berikut :

1) SP3K 1, diberikan kepada debitur

2) SP3K 2, diberikan kepada loa n service unit

3) SP3K 3, diberikan kepada notaris

f. Loan Administration Unit

Setelah semua permohonan sampai realisasi kredit dila ksana ka n loan

a dministration unit melakukan pembentukan a ccount debitur. Cacatan

akuntansi yang digunakan untuk pemberian kredit adalah sebagai berikut :

1) Buku angsuran kredit

Berupa cacatan akuntansi yang fungsinya mirip dengan kwitansi dan dibagi menjadi dua bagian yang sama, bagian kiri untuk arsip debitur, sedangkan bagian kanan diserahkan ke bank sebagai slip untuk pembayaran angsuran yang telah jatuh tempo.

2) Rekening debitur

Rekening ini khusus untuk mencatat jurnal pembayaran angsuran setiap debitur pada file komputer dengan menggunakan kode-kode tertentu

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id alamat dan identitas lain debitur serta perincian biaya prarealisasi dan setelah realisasi kredit.

3) Jurnal rekening tabungan

Jurnal ini digunakan untuk mencatat jurnal pada saat penyediaan dana debitur dengan menggunakan rekening pada tabungan yang dilaksanakan oleh teller service.

4) Jurnal balik

Pencatatan yang dilakukan accounting, pada saat jatuh tempo angsuran ke-1 atau pertama, jurnal angsuran ke-2 dan seterusnya. Setelah semua prosedur dillaksanakan maka permohonan kredit KUR dapat dikatakan selesai dan dapat segera dilaksanakan

C. Permasalahan yang Timbul dari Pelaksanaan Pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR)

Adapun permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pemberian kredit usaha rakyat pada Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Solo adalah :

1 Kredit Bermasalah.

Pada dasarnya KUR bermasalah merupakan kondisi yang sering kali terjadi pada perbankan yaitu sebagai risiko dari penyaluran kredit bank yang

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id bersangkutan. Walaupun kredit bermasalah seringkali sulit untuk dihindari namun bank harus tetap mengelolanya secara hati-hati dan sedapat mungkin diminimalkan resiko sehingga dapat memberikan keuntungan bagi bank. Pengelolaan KUR bermasalah harus bersifat antipatif, proaktif dan berdisiplin dengan demikian KUR bermasalah dimulai dengan pengenalan dini dan

tindakan perbaikan segera. KUR bermasalah adalah KUR yang

diklasifikasikan kurang lancar (KL), diragukan (D), dan macet.

Penyebab kredit usaha rakyat bermasalah pada BTN Cabang Solo adalah kekurangtelitian pihak bank dalam melakukan analisis kredit. Selain itu dari pihak nasabah adalah menurunnya usaha debitur, pengelolaan usaha debitur tidak berjalan baik serta adanya anggapan dari nasabah bahwa kredit

usaha rakyat merupakan bantuan dari pemerintah. Bank selalu berusaha

untuk mencari jalan keluar yang lebih praktis, efisien dan efektif dalam hal terjadi kredit bermasalah agar lebih menghemat waktu dan biaya. Seperti halnya yang dilakukan BTN Cabang Solo yaitu dengan melakukan beberapa tindakan agar kerugian akibat kredit bermasalah dapat sedikit tertutupi. Upaya yang dilakukan BTN Cabang Solo dalam mengatasi kredit bermasalah adalah sebagai berikut :

a. Melakukan penagihan secara terus menerus.

Metode penagihan yang dilakukan bermacam-macam, yaitu :

1) AO datang sendiri ke lapangan atau rumah debitur dengan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 3) Penagihan melalui tim.

Penagihan secara terus menerus yang dilakukan pihak BTN adalah pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang masuk dalam kategori/klasifikasi dalam perhatian khusus dan kurang lancar.

b. Memperketat analisis kredit

Memperketat analisis kredit dilakukan dalam upaya pencegahan untuk menghindari adanya usaha yang fiktif. Maksudnya bahwa tujuan debitur mengajukan permohonan kredit usaha rakyat bukan untuk usahanya tetapi untuk tujuan lain.

Menghadapi debitur yang lalai dalam melaksanakan pembayaran adalah hal yang biasa terjadi, untuk itu AO mempunyai cara sendiri untuk menghadapinya, yaitu dengan pembicaraan dua pihak secara persuasif yang bersifat kekeluargaan. Apabila keadaan debitur memang tidak memungkinkan untuk melakukan pembayaran maka kredit usaha rakyat dapat diperpanjang jatuh tempo perlunasannya. Yang menjadi pertimbangan pihak BTN adalah program KUR ini ditujukan untuk rakyat kecil sehingga memperkecil kemungkinan untuk memberatkan mereka (wawancara,1 April 2011).

Kredit usaha rakyat ini adalah program pemerintah dengan adanya fasilitas penjaminan dalam rangka meningkatkan akses UMKM pada sumber pembiayaan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, untuk itu dalam kebijakan BTN Cabang Solo, tidak

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id memperkenankan adanya suatu denda dan somasi apabila debitur lalai. Di dalam prakteknya, kredit usaha rakyat (KUR) ini belum sampai bersangkutan dengan pengadilan, hal tersebut disebabkan karena pelaksanaan KUR ini masih baru, selain itu bisa jadi karena debitur KUR sebagian besar bergerak dalam bidang perdagangan, jasa, usaha/UMKM yang mempunyai karakter kooperatif.

Penggolongan kredit bermasalah menurut kriteria yang diberikan oleh Bank Indonesia yaitu sesuai Pasal 4 Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia Nomor 30/267/KEP/DIR, tanggal 27 Pebruari 1998, adalah sebagai berikut :

1) Kredit Lancar

a) Pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat, b) Memiliki mutasi rekening yang aktif,

c) Bagian dari kredit yang dijamin dengan jaminan tunai (ca sh colla tera l).

2) Dalam Perhatian Khusus (Specia l Mention)

a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/ atau bunga yang melampaui waktu 90 hari, atau,

b) Kadang-kadang terjadi cerukan atau tunggakan,

c) Mutasi rekening atau transfer uang angsuran relatif rendah, d) Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan, e) Didukung oleh pinjaman baru.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/ atau bunga yang telah

melampaui 90 hari,

b) Sering terjadi cerukan atau tunggakan,

c) Frekuensi mutasi rekening atau transfer uang angsuran relatif rendah,

d) Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari,

e) Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur, f) Dokumentasi pinjaman lemah.

4) Kredit Diragukan (Doubtful)

a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/ atau bunga yang telah melampaui 180 hari,

b) Terjadi cerukan atau tunggakan yang bersifat permanen, c) Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari,

d) Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun pengikatan jaminan.

5) Kredit Macet

a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 270 hari,

b) Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru,

c) Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Menurut Johannes Ibrahim sebaik mungkin bank dalam melakukan analisis kredit dalam pemberian kredit, kemungkinan kredit macet pasti ada. Hal ini disebabkan oleh dua unsur, yaitu (Johannes Ibrahim, 2004: 118-119):

1) Dari perbankan

Artinya dalam melakukan analisisnya, pihak yang melakukan analisis kurang teliti, sehingga apa yang terjadi, tidak diprediksi sebelumnya.

2) Dari nasabah/debitur

Dari pihak nasabah, kemacetan kredit dapat dilakukan akibat dua hal :

a) Adanya unsur kesengajaan. Dalam hal ini nasabah sengaja untuk tidak melakukan pembayaran kepada bank sehingga kredit yang diberikannya menjadi macet.

b) Adanya unsur ketidaksengajaan, artinya debitur mau membayar tetapi tidak mampu. Sebagai contoh kredit yang dibiayai mengalami musibah kebakaran, kena hama, dan kebanjiran sehingga berdampak kemampuan untuk membayar tidak ada.

Hasil wawancara dan pengamatan pada a ccount officer penulis dapat menyimpulkan bahwa kredit macet yang dilakukan oleh debitur yang mayoritas menggunakan fasilitas KUR modal kerja ini dari dikarenakan berbagai faktor, yaitu :

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id b) Sikap dari debitur sendiri yang kurang kooperatif

c) Adanya prioritas lain yang mendesak menyebabkan debitur

menunggak melakukan pembayaran.

2) Faktor yang datang dari pihak kreditur

a) Kurang telitinya a ccount officer dalam melakukan survey atau peninjauan dan menganalisis kredit

b) Pengawasan kredit yang kurang

Oleh karena kredit usaha rakyat merupakan program pemerintah dan merupakan kerjasama antara bank pelaksana dengan perusahaan penjaminan maka langkah yang diambil oleh BTN Cabang Solo dalam hal terjadi kredit macet adalah mengajukan klaim kepada PT Askrindo dan Perusahaan Sarana Pengembangan Usaha sebagai pihak penjamin dari Pemerintah untuk penjaminan sebesar 70 % dari plafon, sedangkan 30% ditutup oleh BTN Cabang Solo. (wawancara,1 April 2011)

.

2. Menurunnya Jumlah Debitur Kredit Usaha Rakyat.

Sejak diluncurkannya KUR pada tanggal 5 November 2007, posisi antara jumlah debitur serta realisasi Kredit Usaha Rakyat mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal tersebut dapat terlihat dalam tabel di bawah ini :

Tabel III.3

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Keterangan Jumlah Debitur Realisasi Kredit

2008 68 orang Rp 6.428.000.000

2009 53 orang Rp 2.907.000.000

2010 43 orang Rp 1.688.000.000

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat dilihat bahwa terjadi penurunan baik dari jumlah pendapatan maupun dari tingkat realisasi Kredit usaha Rakyat dari tahun 2008 s/d tahun 2010. Faktor penyebab menurunnya jumlah debitur maupun tingkat realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah :

a. Dari pihak bank :

1) Rata-rata nasabah sudah meminjam kepada pihak lain. 2) Banyak nasabah yang bermasalah.

b. Dari pihak nasabah :

1) Waktu tunggu lama (sekitar 7 hari apabila syarat-syarat serta dokumen lengkap) untuk memperoleh realisasi kredit.

2) Kurang jelasnya informasi untuk memperoleh Kredit Usaha Rakyat. Agar permasalahan dalam pelaksanaan kredit usaha rakyat ini tidak berlanjut terus-menerus maka BTN Cabang Solo melakukan usaha-usaha sebagai berikut :

a. Melaksanakan sosialisasi kredit usaha rakyat (KUR) kepada masyarakat dan pihak-pihak yang terkait, bahwa kredit usaha rakyat adalah untuk usaha produktif yang menekankan kelayakan usaha.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id b. Mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa Kredit usaha rakyat (KUR)

adalah merupakan pinjaman dari bank yang harus dikembalikan serta memberikan pemahaman bahwa kredit usaha rakyat bukan hibah atau pemberian dari Pemerintah.

c. Kepala Unit melakukan monitoring dan evaluasi atas pelayanan kredit usaha rakyat.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan dan hasil pembahasan yang dilakukan maka dapat diambil simpulan sebagai berikut :

1. Proses pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) dilakukan melalui beberapa tahap yaitu : tahap permohonan kredit, tahap wawancara, tahap penerbitan Daftar Usulan Pemohon (DUP), tahap Rapat Komisi Kredit (Rakomdit), dan tahap realisasi kredit.

2. Permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) ini pada BTN Cabang Solo adalah pertama kredit bermasalah. karena kekurangtelitian pihak bank dalam melakukan peninjauan atau analisis kredit dan menurunnya usaha debitur kredit usaha rakyat. Serta upaya yang dilakukan pihak BTN Cabang Solo dalam mengatasi kredit bermasalah Permasalahan kedua adalah menurunnya jumlah peminat Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tahun 2010 akibat nasabah sudah meminjam pada pihak lain serta waktu yang relatif lama (7 hari apabila syarat-syarat serta dokumen lengkap) dalam proses pencairan KUR dikarenakan tenaga yang minim serta kurang jelasnya informasi untuk memperoleh kredit sehingga calon nasabah merasa dipermainkan.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Berdasarkan simpulan di atas maka dapat disampaikan beberapa saran antara lain :

1. Dalam proses pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BTN Cabang Solo,

pihak Bank BTN sebaiknya lebih berhati-hati dalam proses pemberian kredit salah satunya dengan menggunakan prinsip 5C (Cha ra cter, Ca pita l,

Ca pa city, Colla tera l, Condition of Economy),untuk mengurangi resiko

terjadinya kredit bermasalah..

2. Bank BTN Cabang Solo sebaiknya menambah jumlah tenaga kerja serta mensosialisasikan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada masyarakat agar masyarakat mengenal sehingga masyarakat dapat memanfaatkan program Kredit usaha Rakyat (KUR) semaksimal mungkin sehingga tercapai

program pemerintah yaitu mempercepat pengembangan sektor riil dan

pemberdayaan UMKM, untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada UMKM dan Koperasis dan juga untuk penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja

3. Pemerintah diharapkan dapat menurunkan kembali tingkat bunga pada kredit usaha rakyat karena Kredit Usaha Rakyat (KUR) ini merupakan program

Dalam dokumen Esti Cahyaningtyas F3608091 (Halaman 63-83)

Dokumen terkait