• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian dilakukan pada 2 kondisi lahan yang memiliki taraf kejenuhan aluminium yang berbeda, yaitu taraf kejenuhan Al-tinggi (74.78%) dan Al-rendah (25.51%). Untuk mendapatkan taraf kejenuhan Al sesuai dengan kebutuhan penelitian, digunakan kapur pertanian (CaCO3). Pada lahan kejenuhan Al-rendah

dilakukan pengapuran 1-Aldd atau setara dengan dosis pengapuran 4.6 ton/ha (1.8 kg CaCO3/petak). Pada lahan taraf kejenuhan Al-tinggi tidak dilakukan

pengapuran. Untuk mengetahui respon genotipe sorgum terhadap pemupukan P di lahan Al-tinggi maupun Al-rendah, digunakan 4 dosis pemupukan P. Penentuan dosis pemupukan P berdasarkan hasil uji erapan P (Lampiran 4).

Respon Genotipe Sorgum [Sorghum bicolor (L.) Moench] terhadap Pemupukan P pada Taraf Kejenuhan Al-Tinggi di Lahan Masam

Hasil pengamatan uji respon galur sorgum toleran dan peka cekaman aluminium terhadap pemupukan P pada berbagai taraf kejenuhan Al di lahan masam menunjukkan perbedaan respon pertumbuhan dan perkembangan. Pada taraf kejenuhan Al-tinggi, genotipe berpengaruh nyata terhadap semua peubah yaitu tinggi tanaman, bobot malai, panjang malai, bobot 100 butir, bobot biji per malai, bobot total, bobot batang, dan kadar kemanisan batang. Perlakuan dosis pemupukan P tidak berpengaruh nyata pada semua peubah pengamatan (Tabel 1). Tanaman di lahan taraf kejenuhan Al-tinggi menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang terhambat khususnya genotipe peka B-69. Pada taraf kejenuhan Al-tinggi tanaman tumbuh kerdil dan daun berwarna kuning kecokelatan. Menurut Sungkono (2010) cekaman Al menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil) dan produktivitasnya menurun.

Tabel 1. Rekapitulasi Sidik Ragam di Lahan Taraf Kejenuhan Al-Tinggi

Peubah Sumber

Keragaman

Kuadrat

Tengah Pr > F Tinggi tanaman Dosis pupuk P 1307.55 0.49tn

Genotipe 2841.83 0.04*

Dosis*Genotipe 932.57 0.45tn

Bobot Malai Dosis pupuk P 293.64 0.79tn

Genotipe 6861.86 0.00**

Dosis*Genotipe 352.72 0.62tn

Panjang Malai Dosis pupuk P 1.97 0.74tn

Genotipe 19.38 0.00**

Dosis*Genotipe 1.80 0.34tn

Bobot 100 Butir Dosis pupuk P 0.03 0.74tn

Genotipe 3.22 0.00**

Dosis*Genotipe 0.18 0.71tn Bobot Biji per Tanaman Dosis pupuk P 153.80 0.64tn

Genotipe 1518.70 0.00**

Dosis*Genotipe 105.32 0.76tn

Bobot Total Dosis pupuk P 427.33 0.98tn

Genotipe 256541.59 0.00** Dosis*Genotipe 5560.87 0.39tn

Bobot Batang Dosis pupuk P 717.93 0.91tn

Genotipe 151345.84 0.00** Dosis*Genotipe 2964.99 0.26tn Kadar Kemanisan Batang Dosis pupuk P 3.57 0.05*

Genotipe 38.64 0.00**

Dosis*Genotipe 0.73 0.96tn Ket : *) berbeda nyata pada kondisi 5%; **) berbeda sangat nyata pada kondisi 1%; tn = tidak berbeda nyata

Tinggi Tanaman (9 MST)

Tinggi tanaman merupakan salah satu indikator pertumbuhan yang merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan (Taiz and Zeiger, 2002). Tinggi tanaman juga merupakan salah satu peubah penting dalam menghasilkan bioetanol. Karakter tanaman yang tinggi merupakan karakter ideal untuk menghasilkan bobot batang yang tinggi sehingga mampu menghasilkan bioetanol yang banyak dari nira batang (stem juice). Perbedaan pertumbuhan genotipe sorgum ditunjukkan oleh peubah tinggi tanaman.

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa karakter tanaman yang tinggi dimiliki oleh genotipe Numbu dengan tinggi tanaman sekitar 187 cm. Varietas ini juga mempunyai kandungan total sugar sekitar 14,81% berdasarkan hasil uji Laboratorium B2TP, BPPT, Lampung Tengah pada tahun 2007 (Rahmi et al., 2009).

Pada taraf kejenuhan Al-tinggi, tinggi tanaman genotipe Numbu menghasilkan nilai tertinggi yaitu 188.78 cm sedangkan genotipe peka B-69 adalah yang terendah yaitu 154.83 (Tabel 2). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya. Pada penelitian Sungkono (2010), tinggi tanaman Numbu mencapai 183.83 cm pada taraf kejenuhan Al 30—33% sedangkan pada penelitian ini tinggi tanaman Numbu mencapai 188.78 cm pada taraf kejenuhan Al 74.78%. Hal ini menunjukkan bahwa genotipe Numbu mampu mempertahankan pertumbuhan vegetatifnya meskipun berada pada taraf kejenuhan yang sangat tinggi. Hasil ini membuktikan bahwa genotipe Numbu memiliki tingkat toleransi yang luas terhadap cekaman Al dalam menghasilkan pertumbuhan vegetatif yang baik.

Tabel 2. Rata-rata Tinggi Tanaman (cm) pada Taraf Kejenuhan Al-Tinggi Genotipe Rata-rata Tinggi Tanaman (cm) pada

Taraf Kejenuhan Al-Tinggi

Numbu (toleran) 188.78 a

Kawali (toleran) 157.65 ab

B-69 (peka) 154.83 b

B-75 (peka) 167.73 ab

Ket : angka yang diikuti huruf kecil yang sama dalam satu kolom menyatakan

tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf kepercayaan α =5%

Pada penelitian ini genotipe Kawali menujukkan keragaan yang tidak sebaik pada penelitian sebelumnya. Tinggi tanaman Kawali pada tingkat kejenuhan Al- tinggi, mendekati keragaan genotipe peka (Tabel 2). Pada penelitian sebelumnya pada taraf kejenuhan Al 30—33%, genotipe Kawali teridentifikasi sebagai genotipe toleran. Pada penelitian ini, tinggi genotipe Kawali mendekati tinggi genotipe peka B-69. Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf kejenuhan Al-tinggi, Kawali lebih bersifat peka.

Genotipe peka B-69 mengalami pertumbuhan yang terhambat akibat cekaman Al. Terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan genotipe peka disebabkan oleh cekaman aluminium yang tinggi. Tanah masam bercekaman Al tinggi dan defisiensi unsur hara menyebabkan tanaman menjadi kerdil (Kochian et al., 2004; Ma et al., 2005).

Gambar 2. Kondisi Tanaman pada Lahan Taraf Kejenuhan Al-Tinggi (6 MST) Bobot Malai

Bobot malai merupakan salah satu parameter produksi pada tanaman sorgum manis. Malai yang berat menunjukkan kemampuan tanaman untuk mengubah zat hara yang tersedia menjadi produk ekonomi. Namun, tidak semua tanaman mampu mempertahankan potensi hasil yang tinggi pada lingkungan tercekam aluminium. Pengamatan pada bobot malai penting untuk mengetahui kemampuan setiap genotipe tanaman sorgum mempertahankan potensi hasil di lingkungan bercekaman aluminium.

Pada taraf kejenuhan Al-tinggi, genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap bobot malai. Perlakuan dosis pemupukan P tidak berpengaruh nyata terhadap bobot malai pada taraf kejenuhan Al-tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan bobot malai hanya disebabkan oleh faktor perbedaan genotipe. Genotipe tidak responsif terhadap penambahan pemupukan P jika berada pada

kondisi tercekam Al-tinggi. Hal ini diduga karena pada kondisi Al-tinggi fiksasi Al terhadap P yang sangat kuat sehingga penambahan pupuk P tidak menyebabkan perbedaan bobot malai.

Tabel 3. Rata-rata Bobot Malai (g) pada Taraf Kejenuhan Al-Tinggi Genotipe Rata-rata Bobot Malai (g) pada

Taraf Kejenuhan Al-Tinggi

Numbu (toleran) 128.76 a

Kawali (toleran) 59.74 b

B-69 (peka) 63.57 b

B-75 (peka) 67.88 b

Ket : angka yang diikuti huruf kecil yang sama dalam satu kolom menyatakan

tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf kepercayaan α =5%

Tabel 3 menunjukkan bahwa genotipe toleran Numbu menghasilkan bobot malai yang tertinggi dibandingkan genotipe peka. Hal ini menunjukkan bahwa genotipe Numbu mampu mempertahankan hasil meskipun tercekam Al-tinggi. Genotipe Numbu dan Kawali merupakan genotipe toleran, tetapi keduanya menunjukkan bobot malai yang berbeda nyata. Bobot malai genotipe Kawali terendah dibandingkan dengan genotipe lain. Nilai bobot malai genotipe Kawali cenderung mendekati bobot malai genotipe peka bahkan lebih rendah (Tabel 3).

Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf kejenuhan Al-tinggi, perkembangan generatif genotipe Kawali terhambat oleh cekaman Al-tinggi. Hal ini disebabkan salah satunya oleh pertumbuhan vegetatif Kawali yang rendah sehingga berpengaruh terhadap perkembangan tanaman saat memasuki fase generatif. Berdasarkan uji korelasi ditemukan bahwa terdapat korelasi yang nyata dan positif antara tinggi tanaman dengan bobot malai genotipe sorgum (r=0.978*) (Tabel 11). Bobot malai genotipe peka B-69 dan B-75 nyata lebih rendah dibandingkan genotipe toleran Numbu pada taraf kejenuhan Al-tinggi. Tingginya tingkat kejenuhan Al (kejenuhan Al 74.78%) mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan genotipe peka.

Panjang Malai

Panjang malai adalah komponen penting pada sorgum karena berkorelasi dengan hasil, karena malai merupakan ruang tempat biji sorgum tumbuh dan berkembang (sink). Menurut Sungkono (2010) semakin panjang malai maka jumlah biji akan semakin banyak yang akan diikuti dengan peningkatan bobot biji per malai. Panjang malai juga merupakan bagian tanaman sorgum yang penting dalam mendukung besaran bobot malai.

Genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap panjang malai sedangkan perlakuan dosis pemupukan P tidak berpengaruh nyata terhadap panjang malai pada taraf kejenuhan Al-tinggi (Tabel 1). Hal ini menunjukkan bahwa panjang malai lebih ditentukan oleh genotipe. Pada taraf kejenuhan Al-tinggi, genotipe Kawali menghasilkan panjang malai yang tertinggi dan berbeda nyata dengan panjang malai genotipe lain termasuk Numbu (Tabel 4). Penelitian sebelumnya oleh Sungkono (2010) pada taraf kejenuhan Al 30—33%, panjang malai Kawali sebesar 27.9 cm sedangkan pada penelitian ini (kejenuhan Al 74.78%) panjang malai Kawali turun menjadi 21.87 cm. Hal ini membuktikan bahwa selain faktor genotipe, panjang malai juga dipengaruhi oleh cekaman Al. Pada cekaman Al yang lebih tinggi, perkembangan panjang malai menjadi terhambat.

Tabel 4. Rata-rata Panjang Malai (cm) pada Taraf Kejenuhan Al-Tinggi Genotipe Rata-rata Panjang Malai (cm) pada

Taraf Kejenuhan Al-Tinggi

Numbu (toleran) 19.44 b

Kawali (toleran) 21.87 a

B-69 (peka) 19.36 b

B-75 (peka) 19.30 b

Ket : angka yang diikuti huruf kecil yang sama dalam satu kolom menyatakan

tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf kepercayaan α = 5%

Panjang malai merupakan sink yang harus diisi oleh fotosintat sehingga menghasilkan bobot biji per malai atau bobot malai yang tinggi. Namun, pada penelitian ini panjang malai genotipe Kawali tinggi tetapi menghasilkan bobot malai yang rendah. Hal ini disebabkan oleh cekaman Al yang tinggi. Hal ini menunjukkan ketidakmampuan genotipe Kawali untuk mengisi sink yang besar

akibat toksisitas Al yang tinggi. Hasil ini sesuai dengan hasil uji korelasi yang dilakukan. Berdasarkan uji korelasi ditemukan bahwa panjang malai berkorelasi tidak nyata dan negatif terhadap bobot malai (r=-0.395tn) (Tabel 11). Perbedaan ini menunjukkan bahwa pada kondisi cekaman Al yang lebih tinggi, Kawali tidak mampu menghasilkan fotosintat yang cukup untuk mengisi sink yang besar. Hal ini disebabkan terhambatnya perkembangan tanaman oleh cekaman Al.

Bobot 100 Butir

Karakter bobot 100 butir biji merupakan ukuran yang menggambarkan ukuran biji yang dihasilkan oleh tanaman serealia. Pada percobaan ini, genotipe berpengaruh nyata terhadap bobot 100 butir pada taraf kejenuhan Al-tinggi tetapi perlakuan dosis pemupukan P tidak berpengaruh nyata. terhadap bobot 100 butir sorgum (Tabel 1). Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf kejenuhan Al-tinggi, genotipe tidak responsif terhadap pemupukan P dalam menghasilkan bobot 100 butir. Hal ini diduga karena fiksasi Al terhadap P yang sangat kuat sehingga penambahan pupuk P tidak menyebabkan perbedaan bobot 100 butir. Menurut Marschner (1995) P berperan penting dalam proses biokimia tanaman yaitu sebagai penyusun makro molekul dan sebagai unsur pembentuk senyawa penyimpan.

Bobot 100 butir genotipe Numbu menunjukkan nilai tertinggi dan berbeda nyata dengan genotipe lainnya (Tabel 5). Hal ini menunjukkan kemampuan genotipe Numbu dalam mengakumulasi fotosintat ke sink yang sangat baik meskipun tercekam Al-tinggi. Pada penelitian sebelumnya, bobot 100 butir genotipe Numbu mencapai 3.86 g. Pada taraf kejenuhan Al yang lebih tinggi, bobot 100 butir genotipe Numbu menjadi 3.51 g. Namun, hasil tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan dengan bobot 100 butir genotipe peka. Hal ini membuktikan bahwa genotipe Numbu memiliki tingkat tolerans yang tinggi dalam mempertahankan hasilnya meskipun berada pada kondisi cekaman Al yang lebih tinggi.

Tabel 5. Rata-rata Bobot 100 Butir (g) pada Taraf Kejenuhan Al-Tinggi Genotipe Rata-rata Bobot 100 Butir (g) pada

Taraf Kejenuhan Al-Tinggi

Numbu (toleran) 3.51 a

Kawali (toleran) 2.34 b

B-69 (peka) 2.51 b

B-75 (peka) 2.72 b

Ket : angka yang diikuti huruf kecil yang sama dalam satu kolom menyatakan

tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf kepercayaan α =5%

Hasil berbeda ditunjukkan oleh genotipe Kawali. Bobot 100 butir genotipe Kawali tidak berbeda nyata dengan genotipe peka (Tabel 5). Pada taraf kejenuhan Al yang rendah (kejenuhan Al 30—33%), bobot 100 butir Kawali mencapai 3.09 g. Namun, pada penelitian ini pada taraf kejenuhan Al yang lebih tinggi bobot 100 butir Kawali turun menjadi 2.34 g. Hal ini membuktikan bahwa Kawali lebih bersifat peka pada kondisi cekaman Al yang lebih tinggi sehingga bobot 100 butir yang dihasilkan lebih mendekati bobot 100 butir genotipe peka.

Genotipe peka B-69 dan B-75 menghasilkan bobot 100 butir yang rendah. Hal ini diduga disebabkan oleh cekaman Al-tinggi yang menghambat proses penyerapan hara penting untuk pembentukan fotosintat. Menurut Hardjowigeno (2003) konsentrasi Al terlarut yang tinggi menyebabkan penyerapan hara penting terhambat sehingga tanaman dapat mengalami defisiensi hara Ca, P, K, dan Mg. Akibatnya, proses metabolisme untuk menghasilkan fotosintat juga terhambat. Bobot Biji per Malai

Bobot biji per malai merupakan parameter pengamatan yang penting dilakukan di lahan masam. Tanaman yang mampu mempertahankan produksi tetap tinggi meski tercekam aluminium menunjukkan toleransi tanaman tersebut terhadap cekaman Al. Menurut Sungkono et al., (2009) bahwa bobot biji per malai mewakili akumulasi pertumbuhan dan perkembangan fase generatif dan merupakan hasil per individu tanaman sehingga menjadi karakter yang sangat penting dalam penentuan hasil biji per satuan luas. Oleh karena itu, karakter bobot biji per malai sangat menentukan toleransi tanaman di lahan masam. Toleransi

tanaman terhadap cekaman Al di lapang ditunjukkan oleh kemampuan tanaman mempertahankan daya hasil (Wang et al., 2006).

Tabel 6. Rata-rata Bobot Biji per Malai (g) pada Taraf Kejenuhan Al-Tinggi Genotipe Rata-rata Bobot Biji per Malai (g) pada

Taraf Kejenuhan Al-Tinggi

Numbu (toleran) 70.68 a

Kawali (toleran) 38.13 b

B-69 (peka) 37.97 b

B-75 (peka) 45.81 b

Ket : angka yang diikuti huruf kecil yang sama dalam satu kolom menyatakan

tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf kepercayaan α =5%

Genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap bobot biji per malai pada taraf kejenuhan Al-tinggi sedangkan perlakuan dosis pemupukan P tidak berpengaruh nyata terhadap bobot biji per malai setiap genotipe (Tabel 1). Hal ini menunjukkan bahwa bobot biji per malai lebih dipengaruhi oleh faktor perbedaan genotipe. Setiap genotipe menjadi tidak responsif terhadap pemupukan P pada taraf kejenuhan Al-tinggi dalam menghasilkan bobot biji per malai.

Pada taraf kejenuhan Al-tinggi, genotipe Numbu menghasilkan bobot biji per malai yang tertinggi yaitu 70.68 g (Tabel 6). Pada penelitian sebelumnya, bobot biji per malai Numbu pada taraf kejenuhan Al 30—33% mencapai 75.00 g (Sungkono, 2010). Hal ini menunjukkan toleransi genotipe Numbu yang tinggi meski berada pada taraf kejenuhan Al terbukti genotipe Numbu mampu menghasilkan bobot biji per malai yang tinggi.

Pada penelitian sebelumnya, pada taraf kejenuhan Al 30—33%, genotipe Kawali menghasilkan bobot biji per malai sebesar 64.45 g (Sungkono, 2010) tetapi pada penelitian ini dengan kejenuhan Al 74.78%, bobot biji per malai Kawali turun menjadi 38.13 g. Hal ini menunjukkan bahwa genotipe Kawali tidak toleran terhadap cekaman Al-tinggi dalam menghasilkan bobot biji per malai. Pada taraf kejenuhan Al-tinggi, genotipe Kawali menghasilkan bobot biji per malai yang rendah dan tidak berbeda nyata dengan genotipe peka (Tabel 6). Hal

ini menunjukkan bahwa pada taraf kejenuhan Al-tinggi, genotipe Kawali lebih bersifat peka.

Bobot Batang

Bobot batang merupakan salah satu parameter pengamatan yang penting diamati di lahan masam. Bobot batang terkait dengan produktivitas bioetanol yang bersumber dari nira batang. Bobot batang yang tinggi diharapkan mampu menghasilkan produktivitas bioetanol yang tinggi pula. Oleh karena itu diperlukan informasi mengenai respon genotipe sorgum terhadap bobot batang tanaman sorgum bila ditanam pada kondisi tercekam Al di tanah masam.

Pada percobaan ini, genotipe berpengaruh nyata terhadap bobot batang pada taraf kejenuhan Al-tinggi sedangkan perlakuan dosis pemupukan P tidak berpengaruh nyata terhadap bobot batang setiap genotipe (Tabel 1). Hal ini menunjukkan bahwa setiap genotipe tidak responsif terhadap pemupukan P dalam pembentukan bobot batang bila tercekam Al-tinggi.

Tabel 7. Rata-rata Bobot Batang (g) pada Taraf Kejenuhan Al-Tinggi Genotipe Rata-rata Bobot Batang (g) pada

Taraf Kejenuhan Al-Tinggi

Numbu (toleran) 427.47 a

Kawali (toleran) 187.88 b

B-69 (peka) 142.08 b

B-75 (peka) 151.49 b

Ket : angka yang diikuti huruf kecil yang sama dalam satu kolom menyatakan

tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf kepercayaan α = 5%

Genotipe Numbu menghasilkan bobot batang tertinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan bobot batang genotipe lainnya (Tabel 7). Hal ini menunjukkan bahwa genotipe Numbu mampu mempertahankan metabolismenya untuk menghasilkan fotosintat meski tercekam Al. Hal ini menunjukkan kemampuan Numbu dalam mengakumulasi fotosintat di batang. Meskipun tercekam Al-tinggi, fotosintat yang tersimpan di batang Numbu tetap tinggi.

Bobot Total

Bobot total merupakan parameter pengamatan yang penting di lahan masam. Bobot total merupakan salah satu indikator toleransi tanaman terhadap cekaman aluminium. Tanaman yang tercekam Al cenderung menghasilkan bobot total yang rendah. Bobot total juga merupakan karakter yang menentukan produktivitas bioetanol yang bersumber dari nira batang. Bobot total yang tinggi akan menghasilkan nira yang banyak sehingga bioetanol yang dihasilkan dari nira batang tersebut juga akan tinggi (Sungkono, 2010).

Tabel 8. Rata-rata Bobot Total (g) pada Taraf Kejenuhan Al-Tinggi Genotipe Rata-rata Bobot Total (g) pada

Taraf Kejenuhan Al-Tinggi

Numbu (toleran) 624.50 a

Kawali (toleran) 290.03 b

B-69 (peka) 241.48 b

B-75 (peka) 258.28 b

Ket : angka yang diikuti huruf kecil yang sama dalam satu kolom menyatakan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf kepercayaan α = 5%

Pada taraf kejenuhan Al-tinggi, genotipe berpengaruh nyata terhadap bobot total, tetapi perlakuan dosis pemupukan P tidak berpengaruh nyata terhadap bobot total genotipe sorgum (Tabel 1). Genotipe Numbu menghasilkan bobot total tertinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan bobot total genotipe lainnya. Hal ini disebabkan oleh tingginya bobot batang genotipe Numbu sehingga nilai bobot total Numbu juga meningkat. Bobot batang yang tinggi berkorelasi sangat nyata dan positif terhadap bobot total (r=0.999**). Dengan demikian semakin tinggi bobot batang maka nilai bobot total juga akan semakin tinggi. Selain itu, bobot total yang tinggi pada genotipe Numbu juga dipengaruhi oleh tingginya nilai bobot malai (Tabel 3). Berdasarkan uji korelasi ditemukan bahwa bobot total berkorelasi nyata dan positif terhadap bobot malai (r=0.964*) (Tabel 11). Dengan demikian semakin tinggi bobot malai maka bobot total juga akan semakin meningkat.

Respon berbeda ditunjukkan genotipe toleran Kawali dalam menghasilkan bobot total. Pada taraf kejenuhan Al-tinggi, bobot total Kawali rendah dan tidak berbeda nyata dengan bobot total genotipe peka. Hal ini menunjukkan bahwa Kawali bersifat lebih peka pada cekaman Al-tinggi sehingga menghasilkan bobot total yang mendekati bobot total genotipe peka. Bobot total genotipe Kawali dan peka (B-69 dan B-75) menunjukkan nilai yang rendah diduga disebabkan oleh toksisitas aluminium yang sangat kuat sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat terhambat.

Pada fase pertumbuhan, genotipe Kawali mengalami keterhambatan pertumbuhan. Hal ini terlihat pada rendahnya nilai rata-rata tinggi tanaman dan bobot batang sehingga nilai rata-ratra bobot total juga menjadi rendah (Tabel 10). Berdasarkan uji korelasi ditemukan bahwa bobot total dipengaruhi oleh bobot batang sehingga bila bobot batang rendah maka bobot total yang dihasilkan juga akan rendah (Tabel 11).

Kadar Kemanisan Batang (KKB)

Kadar kemanisan batang merupakan indikator penting untuk menghasilkan bioetanol yang berasal dari batang tanaman sorgum. Dengan mengetahui kadar kemanisan batang maka diperoleh data-data yang menunjang dalam pembuatan bioetanol yang berasal dari nira batang sorgum (stem juice). Pengukuran kadar kemanisan batang dilakukan pada ruas batang bagian tengah. Kadar kemanisan diukur dengan menggunakan hand-refraktometer.

Pada percobaan ini, perlakuan genotipe berpengaruh nyata terhadap kadar kemanisan batang (KKB) pada taraf kejenuhan Al-tinggi. Perlakuan dosis pemupukan P berpengaruh nyata pada genotipe B-69 di taraf kejenuhan Al-tinggi (Tabel 9). Genotipe Numbu menghasilkan KKB tertinggi dan berbeda nyata dengan genotipe lainnya. Genotipe Kawali menghasilkan KKB lebih rendah dan berbeda nyata dibanding genotipe peka. Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf kejenuhan Al-tinggi, Kawali bersifat peka

Tabel 9. Rata-rata Kadar Kemanisan Batang (%briks) pada Berbagai Dosis Pemupukan P di Taraf Kejenuhan Al-Tinggi

Genotipe

Rata-rata Kadar Kemanisan Batang (% briks) pada Berbagai Dosis Pemupukan P di

Taraf Kejenuhan Al-Tinggi

Rataan Kadar Kemanisan Batang (% briks) antar Genotipe P-25% P-50% P-75% P-100%

Numbu 6.68a 4.64a 6.64a 7.29a 6.65 a

Kawali 1.80b 1.34a 1.37b 1.53b 1.51 c

B-69 4.17ab(AB) 3.37a(B) 3.72ab(AB) 5.23a(A) 4.05 b

B-75 5.68a 4.29a 4.04ab 4.98a 4.75 b

Ket : angka yang diikuti huruf kecil yang sama dalam satu kolom dan huruf besar yang sama dalam satu baris menyatakan tidak berbeda nyata pada uji

DMRT taraf kepercayaan α = 5%

Berdasarkan Tabel 9, genotipe toleran baik Numbu dan Kawali tidak responsif terhadap pemupukan P pada cekaman Al-tinggi. Peningkatan dosis pemupukan P tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan KKB genotipe toleran. Hal ini diduga disebabkan mekanisme adaptasi yang digunakan oleh genotipe toleran dalam menghadapi cekaman Al. Pada kondisi tercekam Al-tinggi, genotipe toleran meningkatkan efisiensi penggunaan P sehingga peningkatan dosis pemupukan P tidak berpengaruh terhadap nilai KKB. Unsur P digunakan untuk metabolisme karbohidrat melalui proses fotosintesis, memperkuat batang, perkembangan akar, untuk menyimpan dan memindahkan energi berupa ATP dan ADP (Hardjowigeno, 2003; Susila, 2004).

Pada taraf kejenuhan Al-tinggi, perlakuan dosis pemupukan P berpengaruh nyata terhadap KKB genotipe peka B-69 (Tabel 9). Perlakuan dosis P-100% tidak berbeda nyata dengan dosis P-25% dan P-75% dalam menghasilkan KKB. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan KKB genotipe B-69 yang tinggi pada taraf kejenuhan Al-tinggi cukup dengan perlakuan dosis pemupukan P-25%. Hal ini diduga disebabkan oleh mekanisme adaptasi yang digunakan oleh genotipe peka yaitu peningkatan efisiensi penyerapan P. Efisiensi penyerapan P yang tinggi oleh genotipe peka mampu mengimbangi efisiensi penggunaan P oleh genotipe toleran dalam menghasilkan sukrosa.

Mekanisme adaptasi efisiensi penyerapan P yang diterapkan oleh genotipe peka mengakibatkan PO42- lebih ―disukai‖ atau lebih banyak diserap. Anion PO42-

di dalam sitoplasma berperan dalam proses dekarboksilasi asam organik. Dekarboksilasi asam organik tersebut menghasilkan CO2 dan OH- sebagai produk

sampingan. Untuk mempertahankan keseimbangan pH di dalam sitoplasma, maka OH- ditranspor ke eksternal sehingga pH eksternal naik. Penyerapan P yang tinggi oleh genotipe peka diduga digunakan untuk membentuk ATP sebagai energi transfer pada transport aktif sel. Menurut Sopandie et al., (1993) pH rendah (taraf kejenuhan Al-tinggi) mengakibatkan tanaman meningkatkan penyerapan anion dibandingkan kation. Dengan demikian, semakin banyak P yang diserap maka akan semakin banyak OH- yang dikeluarkan ke bagian eksternal sehingga pH larutan tanah meningkat dan kelarutan Al akan turun. Menurut Marschner (1995)

Dokumen terkait