• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Rumusan Masalah

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 (UU Cipta Kerja) diterbitkan salah satunya untuk memberikan kepastian hukum bagi pengusaha untuk berinvestasi. Potensi ataupun prospek perubahan yang dapat terjadi dilihat dengan membandingkan UU Cipta Kerja beserta turunannya dengan aturan yang berlaku sebelumnya. Jika dielaborasi, tema kemudahan berusaha dalam UU Cipta Kerja dibahas dalam Bab III dan Bab IV. Dua isu terkait kemudahan berusaha dalam Bab III “Peningkatan Ekosistem Investasi dan Perizinan Berusaha” adalah penerapan perizinan berusaha berbasis risiko serta penyederhanaan perizinan dasar yaitu perizinan tata ruang, lingkungan dan bangunan. Terdapat Sembilan isu terkait kemudahan berusaha dalam Bab VI

“Kemudahan Berusaha” UU Cipta Kerja.

Kesembilan isu kemudahan berusaha terkait dengan tema imigrasi, paten, merek, Perseroan Terbatas (PT), penghapusan izin gangguan, Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa), larangan praktik monopoli dan persaingan usaha, perpajakan, serta Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).

Perbandingan UU Cipta Kerja beserta aturan turunannya dengan aturan yang berlaku sebelumnya dapat digunakan untuk memberikan penilaian apakah perubahan yang terjadi dapat dianggap mempermudah kegiatan berusaha di Indonesia atau belum. Berdasarkan paradigma Risk Based Approach (RBA), semakin tinggi potensi risiko kegiatan usaha, maka semakin banyak perizinan yang dibutuhkan, begitupula sebaliknya. UU Cipta Kerja menegaskan bahwa perizinan berusaha berbasis risiko dilakukan berdasarkan penetapan tingkat risiko dan peringkat skala usaha kegiatan usaha (Pasal 7 UU Cipta Kera).

Penilaian tingkat risiko yang dimaksud meliputi aspek Kesehatan, keselamatan, lingkungan serta pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya.

Penilaian tingkat risiko dilakukan dengan memperhitungkan jenis kegiatan usaha, kriteria usaha, lokasi kegiatan usaha, keterbatasan sumber daya dan risiko volatilitas. Hasil penilaian terhadap potensi terjadinya risiko memiliki empat kemungkinan yaitu: hampir tidak terjadi, terjadi, kemungkinan kecil terjadi, kemungkinan terjadi dan hampir pasti terjadi. Dari penilaian terhadap tingkat bahaya dan potensi terjadinya bahaya akan diketahui risiko dan peringkat skala kegiatan usaha, mulai dari kegiatan berisiko rendah, menengah, serta tinggi. Kegiatan usaha yang dinilai berisiko rendah hanya membutuhkan izin berupa Nomor Induk Berusaha (NIB). Selain berfungsi sebagai legalitas pelaksanaan kegaitan berusaha, NIB merupakan bukti pendaftaran pelaku usaha untuk melakukan kegiatan usaha sekaligus sebagai identitas pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatannya (Pasal 8 UU Cipta Kerja). Untuk mendukung perubahan paradigma perizinan, pemerintah juga menerapkan system perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik atau Online Single Submission (OSS). Penerapan OSS yang telah dibuat tahun 2018 diperluas dalam aturan turunan UU Cipta Kerja yaitu PP Nomor 5 Tahun 2021 untuk menyelenggarakan perizinan berusaha berbasis risiko.

Tabel 2.2

Perbedaan UU 11/2020 Beserta Turunannya dengan Aturan Lama terkait Perizinan Berbasis Risiko

Aturan

Lama UU 11/2020 (Cipta Kerja) Turunan UU Cipta Kerja

Pengaturan

Terkait perizinan pemanfaatan ruang, UU Cipta Kerja dan turunannya mengubah kewenangan pemberi dan pencabut izin dari sebelumnya oleh pemerintah pusat dan daerah menjadi kewenangan pemerintah pusat. Dalam UU 26/2007 tentang Penataan Ruang, disebutkan bahwa pemberi dan pencabut izin kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah (Pasal 27 UU 26/2007). Sedangkan UU Cipta Kerja mengubahnya menjadi pemberi dan pencabut izin pemanfaatan ruang dilakukan oleh pemerintah pusat.

Perizinan dasar yang juga diselenggarakan dalam UU Cipta Kerja adalah izin mendirikan bangunan. UU Cipta Kerja menghapus Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan menggantikannya dengan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Dalam aturan sebelumnya, yaitu PP 36/2005, perizinan untuk mengubah, memperluas, mengurangi dan atau merawat bangunan Gedung sesuai persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku adalah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Gedung. Sedangkan dalam UU Cipta Kerja dan aturan turunannya yaitu PP 16/2021, perizinan IMB

diganti dengan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Perbedaan definisi antara IMB dan PBG terletak dalam keterangan kesesuaian persyaratan. IMB memberlakukan kesesuaian dengna persyaratan administrative dan persyaratan teknis. Sedangkan PBG menggunakan kesesuaian dengan standar teknis bangunan Gedung.

Dalam hal paten, UU Cipta Kerja memberikan kelonggaran kewajiban pelaksanaan paten. Sebelumnya dalam UU 13/2016, pemegang paten diwajibkan membuat produk atau menggunakan proses di Indonesia (Pasal 20 UU 13/2016).

Kewajiban tersebut diperlonggar dalam UU Cipta Kerja terkait pelaksanaan paten- produk dan paten-proses. Pelaksanaan paten-produk diatur sebagai kegiatan yang meliputi membuat, mengimpor atau melisensikan produk yang diberi paten.

Sedangkan, pelaksanaan paten-proses diatur sebagai kegiatan yang meliputi:

membuat, melisensikan, atau mengimpor produk yang dihasilkan dari proses yang diberi paten. UU Cipta Kerja juga mempercepat keputusan permohonan paten, dari 12 bulan (Pasal 124 UU 13/2016) menjadi 6 bulan (Pasal 107 UU Cipta Kerja).

Terkait merek, UU Cipta Kerja menambahkan kriteria merek yang tidak dapat didaftarkan dan mempercepat proses pengajuan merek. Dalam aturan lama yaitu UU 20/2016, terdapat enam kriteria merek yang tidak dapat didaftarkan. Kriteria tersebut ditambah menjadi tujuh dalam UU Cipta Kerja. Kriteria yang ditambahkan adalah

“mengandung bentuk yang bersifat fungsional.” Selain itu, pemeriksaan substantif terkait permohonan merek dipercepat, dari paling lama 150 hari (Pasal 23 UU 20/2016) menjadi paling lama 90 hari (Pasal 108 UU Cipta Kerja).

Dalam Pasal 109, UU Cipta Kerja mengubah berbagai ketentuan dalam UU 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. UU Cipta Kerja mempermudah pendirian perseroan sehingga dapat didirikan oleh satu orang, namun perseroan tersebut harus

memenuhi syarat sebagai usaha mikro dan kecil. Dalam aturan sebelumnya, perseroan didirikan oleh dua orang atau lebih dengan akta notaris yang dibuat dalam Bahasa Indonesia (Pasal 7 UU 40/2007). Aturan tersebut kemudian diperlonggar oleh UU Cipta Kerja dengan memungkinkan pendirian Perseroan Terbatas oleh satu orang. UU Cipta Kerja mengatur bahwa perseroan yang memenuhi kriteria usaha mikro dan kecil dapat didirikan oleh satu orang (Pasal 109 UU Cipta Kerja). Hal tersebut ditegaskan dalam PP 8/2021 yang menyatakan bahwa perseroan perorangan termasuk dalam perseroran yang memenuhi kriteria untuk usaha mikro dan kecil (Pasa 2 PP 8/2021). Perseroan yang didirikan oleh satu orang tersebut akan memperoleh status badan hukum setelah didaftarkan kepada Menteri dan mendapatkan sertifikan pendaftaran secara elektronik (Pasal 6 PP 8/2021). Aturan terkait legalitas perseroan perseorangna tidak dibahas dalam UU 40/2007, namun secara umum UU 40/2007 menyatakan bahwa pendirian perseroan memerlukan akta notaris.

Upaya pemerintah semakin mempermudah kegiatan usaha dalam UU Cipta Kerja juga dapat dilihat dari larangan praktik monopoli dan persaingan usaha. UU Cipta Kerja mengubah tiga hal penting dari UU 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Perubahan pertama terkait dengan tempat pengajuan keberatan atas putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Dalam aturan sebelumnya, keberatan atas putusan KPPU diajukan ke Pengadilan Negeri (Pasal 44 UU 5/1999). UU Cipta Kerja mengubah ketentuan tersebut sehingga keberatan atas putusan KPPU diajukan ke Pengadilan Niaga (Pasal 118 UU Cipta Kerja). Ketentuan tersebut juga dipertegas dalam Pasal 19 PP 44/2021.

UU Cipta Kerja menyesuaikan beberapa UU Perpajakan yang ada, yaitu UU 36/2008 tentang Pajak Penghasilan, UU 42/2009 tentang PPN Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, UU 28/2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, serta UU 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Beberapa penyesuaian tersebut meliputi beberapa aspek seperti penghapusan PPh dividen bagi wajib pajak dalam dan luar negeri, perubahan subjek pajak dalam dan luar negeri serta ketentuan umum dan tata cara perpajakan. UU Cipta Kerja menghapus PPh dividen bagi wajib pajak badan dalam dan luar negeri. Dalam ketentuan sebelumnya, diatur PPh bagi dividen dari dalam negeri yang diterima oleh wajib pajak badan (WP badan) dalam negeri dengan kepemilikan saham paling rendah 25 persen dikenai PPh (Pasal 4 UU 36/2008). Dalam UU Cipta Kerja, dividen dari dalam negeri yang diterima wajib pajak badan dalam negeri dengan kepemilikan saham berapapun tidak dikenai PPh. UU Cipta Kerja juga menghapus dividen dari dalam negeri yang diterima oleh Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP) sepanjang dividen tersebut diinvestasikan di wilayah NKRI dalam jangka waktu tertentu. UU Cipta Kerja juga membukan kemungkinan penghapusan dividen yang diterima dari luar negeri yang memenuhi satu dari beberapa syarat tertentu (Pasal 111 UU Cipta Kerja).

Pembentukan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dilakukan dalam rangka mewujudkan reformasi hukum, yang saat ini dibutuhkan karena sudah terlalu banyak peraturan dengan peraturan lainnya saling bertabrakan.

Reformasi hukum dalam hal ini adalah adanya harmonisasi peraturan perundang - undangan. Perlunya harmonisasi hukum, yaitu dapat menyesuaikan peraturan dengan peraturan lainnya yang sebelumnya saling bertabarkan khusunya dalam klaster

kemudahan perizinan berusaha bagi Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMK-M).

Kemudian pasca dibentuknya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja untuk saat ini masih dalam tataran peraturan pelaksanaan yang bersifat normatif. dalam Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Kemudahahan, Perlindungan, dan Pemmberdayaan Koperasi dan Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah.

Negara Indonesia adalah negara yang mengakui supremasi hukum yang mengisyarakan adanya kebutuhan penegakan hukum yang adil, berintegritas, profesional, dan akntabel. Oleh sebab itu, sistem penegakan hukum yang dibangun haruslah juga bekerja dengan efektif untuk mengungkap dan menyelesaikan seluruh permasalahan hukum yang terjadi dimasyarakat. Hukum yang baik harus memuat unsur-unsur sistem hukum yang terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu struktur hukum, substansi hukum, dan budaya hukum..18

Melalui konsep omnibus law diinginkan akan dilakukan penyederhanaan dan penggabungan dari berbagai jenis perizinan kegiatan berusaha ke dalam satu jenis Izin Berusaha. Penerapan konsep omnibus law dilakukan melalui: (1) Pengaturan Kembali (re-design) proses perizinan ke dalam satu system perizinan secara elektronik. (2) Penyederhanaan (simplifikasi) dan harmonisasi regulasi dan perizinan dan (3) Pengaturan kegiatan berusaha dengan menitikberatkan pada pelaksanaan pengawasan, bukan pada instrumen perizinan. Perizinan berusaha dilaksanakan

18 Yopi Gunawan dan Kristian, Perkembangan Konsep Negara Hukum dan Negara Hukum Pancasila, Bandung: Refika Aditama, 2015, h. 1.

berdasar tingkat risiko kegiatannya. Penilaian tingkat risiko kegiatan dilakukan melalui pendekatan RBA (Risk Base Approach)19.

Jenis perizinan berusaha ditentukan berdasarkan tingkat risiko, terdiri dari:

(1) Tingkat risiko rendah - dalam bentuk NIB (legalitas) dengan Tipe Pengawasan 1, (2) Tingkat risiko menengah rendah - dalam bentuk Sertifikat Standar dengan Tipe Pengawasan 2, (3) Tingkat risiko menengah tinggi - dalam bentuk Sertifikat Standar dengan Tipe Pengawasan 3, (3) Tingkat risiko tinggi - dalam bentuk Izin dengan tipe pengawasan 4. Pada proses awal perizinan berusaha dipersyaratkan antara lain Lokasi dan kesesuaiannya dengan Rencana Tata Ruang atau Rencana Zonasi.

Investor akan dimudahkan dalam berinvestasi di Indonesia. Sejak diresmikannya Undang-Undang Cipta Kerja pada 2 November 2020, pemerintah telah mengubah prosedur perizinan usaha menjadi Risk-Based Licensing Approach (Pendekatan Perizinan Berbasis Risiko) yang dilakukan melalui satu platform, yaitu Online Single Submission (Perizinan Daring Terpadu atau OSS). Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Usaha Berbasis Risiko, sistem elektronik ini bertujuan untuk menyederhanakan dan mempercepat proses perizinan usaha20.

Dalam konteks UUCK, risiko inheren telah diadopsi sementara risiko manajerial diadopsi secara parsial. Secara umum terdapat dua dimensi risiko, walaupun pada prakteknya sering juga diperkenalkan dimensi atau unsur lain. Kedua dimensi, yang juga disebutkan dalam UUCK, adalah bahaya dan kemungkinan terjadinya bahaya. Naskah Akademik UUCK menuliskan bahwa “tingkat risiko = besarnya kerusakan × probabilitas”. Penghitungan kemungkinan terjadinya bahaya

19 Evaluasi Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK). 2020. UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah.

memerlukan data statistik perihal riwayat terjadinya suatu insiden dan kemungkinan terjadinya di masa datang. Dalam hal ini, peranan data sangat penting.

RBR dalam rangka penerapan UUCK berbeda dengan konsep asal RBR sebagaimana berkembang di Eropa, khususnya Inggris. RBR biasanya dilakukan secara sektoral, dari bawah ke atas (bottom-up), tidak secara generik sebagaimana dalam UUCK. Dalam konsep aslinya, RBR diterapkan secara spesifik oleh badan regulator sektoral yang diberi diskresi besar dan penetapan risiko pun ditentukan secara spesifik, tidak secara generik seperti dalam UUCK. Hal ini disebabkan badan regulator sektoral yang dianggap paling mengerti mengenai hal-hal yang menjadi resiko inheren dan resiko manajerial pada masing-masing sektor.

Rumit atau sulitnya berinvestasi di Indonesia berimplikasi pada rendahnya daya saing Indonesia dibandingkan negara tetangga. Kerumitan atau sulitnya berinvestasi, menjadikan perlunya terobosan dalam reformasi regulasi di Indonesia, melalui adopsi terhadap metode Omnibus Law dalam penataan regulasi. Metode ini tentunya berbeda halnya dengan metode yang seringkali digunakan untuk mengubah satu per satu Undang−Undang, sementara yang akan dilakukan perubahan dengan penataan regulasi melalui Omnibus Law ini sekitar 80 (delapan puluh) Undang−Undang. Satu Undang−Undang yang mengubah berbagai ketentuan yang diatur dalam berbagai Undang−Undang, menjadi inti dari penggunaan metode Omnibus Law. Omnibus Law merupakan sebuah praktik penyusunan peraturan perundang−undangan, yang banyak dilakukan di negara-negara yang menganut sistem Common Law atau Anglo Saxon seperti Amerika, Kanada, Inggris, Filipina dan lainnya.

Definisi risiko dalam RBR adalah risiko bagi regulator dalam mencapai tujuannya. Oleh karenanya, langkah pertama dalam RBR adalah mengidentifikasi tujuan regulasi. Tanpa adanya kejelasan tujuan regulasi maka identifikasi risiko tidak mungkin dilakukan karena identifikasi risiko sendiri merupakan turunan dari tujuan regulasi. Dalam konteks UUCK, risiko dapat ditafsirkan bermacam-macam. Apabila tujuannya adalah investasi, maka yang menjadi resiko dari tujuan itu misalnya adalah rendahnya kepercayaan investor, gejolak politik, rumitnya birokrasi dan sebagainya.

Pada saat pemeringkatan risiko dilakukan, regulator juga harus terlebih dahulu menentukan suatu jenis risiko yang bisa bersifat mudah berubah. Cara menangani resiko demikian diantaranya adalah dengan melakukan lebih sering melakukan peninjauan ulang peringkat risiko.

Pendekatan RBR dalam UUCK digunakan dalam hal (i) mengkategorisasikan perizinan atau pendaftaran dan (ii) melakukan pengawasan. Dalam konteks perizinan atau pendaftaran, Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Izin digunakan untuk kegiatan berisiko tinggi sedangkan untuk kategori rendah cukup dengan NIB saja. Apabila terdapat beberapa risiko yang mudah berubah maka kategori perizinan atau pendaftaran dan sasaran pengawasan semestinya dapat berubah. Artinya, akan ada kegiatan yang sebenarnya tidak perlu izin dan tidak perlu banyak diawasi karena risikonya berubah dari tinggi ke rendah. Sebaliknya, akan ada kegiatan yang seharusnya perlu izin, tetapi karena pada waktu pemeringkatan risiko dilakukan risikonya masih rendah sehingga dianggap tidak perlu izin.

Undang-Undang Cipta Kerja menekankan pada kemudahan untuk melakukan usaha. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penyederhanaan perizinan berusaha. Konsep Regulasi Berbasis Risiko menarik bagi program penyederhanaan

secara luas yang telah jauh berkembang dari pemaknaan sempit dalam wacana akademik di Indonesia yang mendefinisikannya sebatas peraturan perundang- undangan.

perizinan karena diasumsikan bahwa penerapannya dapat mengurangi jumlah perizinan. Namun, penerapan analisis resiko untuk menapis izin merupakan sesuatu yang berbeda dengan penerapan konsep Regulasi Berbasis Risiko di negara-negara lain. Selain itu, penerapan regulasi berbasis risiko juga perlu memperhatikan kritik yang tidak terakomodasi dalam Undang-Undang. Secara konseptual, penerapan regulasi berbasis risiko memantik diskursus akademik mengenai pengertian regulasi

Dokumen terkait