Status zat besi tiap individu bermacam-macam mulai dari excess zat besi sampai anemia defisiensi zat besi (Gleason & Scrimshaw 2007). Anemia terjadi apabila kepekatan hemoglobin dalam darah di bawah batas normal. Pada penelitian ini, status anemia ditentukan menggunakan indikator hemoglobin. Penggunaan konsentrasi hemoglobin dalam darah merupakan pengukuran anemia defisiensi besi yang paling luas. Penentuan kadar hemoglobin dilakukan dengan pengambilan sampel darah dan dianalisis menggunakan metode Cyanmethemoglobin. Sebaran contoh berdasarkan kadar hemoglobin disajikan pada Gambar 2. 0% 61.7% 32.3% 6.0% Normal ≥ 12.0 g/dl Ringan 10.0-11.9 g/dl Sedang 7.0- 9.9 g/dl Berat < 7.0 g/dl
Gambar 2. Sebaran contoh berdasarkan kadar hemoglobin
Konsentrasi hemoglobin contoh berkisar antara 7.2 hingga 16.0 g/dl dengan rata-rata kadar hemoglobin 12.4 ± 1.5 g/dl. Pada penelitian ini lebih dari separuh contoh (61.7%) tidak mengalami anemia. Terdapat 32.3 persen contoh yang mengalami anemia ringan dan 6.0 persen contoh yang mengalami anemia sedang (kadar Hb antara 7.0-9.9 g/dl).
Adanya contoh yang berada pada kondisi anemia sedang ini akan berdampak pada status imunitas dan fungsi kognitifnya (Ruel 2001). Menurut Soekirman (2000), anemia pada kelompok remaja dapat menimbulkan berbagai dampak antara lain menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena penyakit dan menurunkan aktivitas yang berkaitan dengan kemampuan kerja fisik dan prestasi belajar. Selain itu remaja yang menderita anemia mengalami penurunan kebugaran sehingga akan menghambat prestasi olahraga dan produktivitasnya.
Secara keseluruhan terdapat 38.3 persen contoh yang mengalami anemia yaitu keadaan kadar hemoglobin kurang dari 12.0 g/dl. Prevalensi ini lebih tinggi dari hasil penelitian Permaesih dan Herman (2005) yaitu sebesar 30 persen pada remaja wanita, namun termasuk rendah bila dibandingkan dengan prevalensi anemia di SD dan SMU di Jawa Tengah (57.4%) dan Jawa Timur (80.2%) (Depkes 2003 diacu dalam Briawan 2008). Berdasarkan klasifikasi masalah kesehatan masyarakat menurut WHO (2001), prevalensi anemia pada hasil penelitian ini termasuk kategori sedang (20-39%).
Usia dan Status Gizi Antropometri Usia
WHO mendefinisikan remaja sebagai bagian dari siklus hidup antara usia 10-19 tahun dan dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu 10-12 tahun, 13-15 tahun dan 16-18 tahun (Jahari & Jus’at 2004). Remaja memiliki pertumbuhan yang cepat (growth spurt) dan merupakan waktu pertumbuhan yang intens setelah masa bayi serta satu-satunya periode dalam hidup individu terjadi peningkatan velositas pertumbuhan (UNS-SCN 2006). Adanya kekurangan zat gizi makro dan mikro dapat mengganggu pertumbuhan dan menghambat pematangan seksual (DiMeglio 2000). Berikut adalah sebaran contoh berdasarkan usia dan status anemia.
Tabel 3 Sebaran contoh berdasarkan usia dan status anemia
Usia
Status Anemia
Total Anemia Tidak Anemia
n % n % n %
10 – 12 tahun 43 28.1 115 46.6 158 39.5
13 – 15 tahun 77 50.3 79 31.9 156 39.0
16 – 18 tahun 33 21.6 53 21.5 86 21.5
Total 153 100 247 100 400 100
Rata-rata usia contoh adalah 13.7 ± 1.9 tahun dengan kisaran usia antara 10-18 tahun. Rata-rata usia baik contoh yang anemia maupun tidak anemia hampir sama yaitu berturut-turut 13.9 ± 1.7 tahun dan 13.5 ± 1.9 tahun. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa secara umum proporsi terbesar contoh (39.5%) berusia antara 10-12 tahun dan hampir separuh contoh yang tidak anemia (46.6%) berada pada kisaran usia tersebut.
Tabel 3 menunjukkan bahwa lebih dari separuh contoh anemia (50.3%) berada pada kisaran usia 13-15 tahun. Hal tersebut memperlihatkan adanya kecenderungan siswi yang berusia antara 13-15 tahun untuk mengalami anemia
dibandingkan siswi yang berada diluar kisaran usia tersebut. Ini diduga karena pada kisaran usia 13-15 tahun, seseorang baru mengalami menstruasi sehingga kecenderungan anemia lebih besar akibat kehilangan darah yang dialami. Menurut Hanafiah (1999) diacu dalam Khaerunnisa (2005), rata-rata usia wanita pertama kali mendapat menstruasi (menarche) yaitu 12.5 tahun sedangkan menurut hasil penelitian Dillon (2005) terhadap remaja putri di Tangerang, rata- rata usia menarche adalah 12 tahun.
Hasil analisis Korelasi Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan status anemia (r = 0.131, p = 0.009). Hal ini memperlihatkan bahwa usia antara 13-15 tahun memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk mengalami anemia. Hasil penelitian Hulu (2004) pada siswi SMK menunjukkan kecenderungan anemia berada pada kelompok siswi yang berusia lebih tua. Ini diduga berkaitan dengan terjadinya menstruasi pada siswi yang berusia lebih tua. Pada penelitian ini, hampir separuh siswi SMP yang berusia antara 10-12 tahun belum mengalami menstruasi. Dillon (2005) menyatakan bahwa remaja terutama yang telah mengalami menstruasi, dibandingkan dengan yang belum menstruasi, lebih rentan terhadap anemia.
Persentase anemia terkecil terdapat pada kisaran usia 16-18 tahun. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Maharani (2001) yang menunjukkan bahwa usia 18 tahun ke atas memiliki kecenderungan lebih kecil untuk menderita anemia daripada usia kurang dari 18 tahun. Hal ini pun diperkuat dengan pernyataan Beard (2000) yang menunjukkan bahwa kebutuhan zat besi yang lebih besar diperlukan oleh early adolescence karena pada usia tersebut growth spurt lebih intens terjadi dibandingkan middle adolescence sehingga apabila intake zat besi kurang akan memicu terjadinya anemia. Hal ini juga diduga karena menurut FAO/WHO (2001), kebutuhan zat besi wanita usia 16-18 tahun lebih rendah.
Status Gizi Antropometri
Menurut Riyadi (2001), status gizi adalah keadaan seseorang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan, dan penggunaan zat gizi dari makanan dalam jangka waktu yang lama. Pengukuran antropometri banyak digunakan dalam penilaian status gizi dan pengukuran yang paling reliabel untuk menentukan status gizi pada masa remaja saat ini adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) yang ditentukan dengan membagi berat badan dalam satuan kg dengan
kuadrat tinggi badan dalam satuan meter. Status gizi kemudian dikategorikan menjadi kurus (IMT<18.5), normal (IMT 18.5-24.9), risiko gemuk (IMT 25.0-26.9), dan gemuk (IMT>26.9). Berikut adalah sebaran contoh berdasarkan status gizi dan status anemia.
Tabel 4 Sebaran contoh berdasarkan status gizi dan status anemia
Status Gizi
Status Anemia
Total Anemia Tidak Anemia
n % n % n % Kurus 75 49.1 117 47.4 192 48.0 Normal 76 49.7 113 45.7 189 47.3 Risiko gemuk 1 0.6 9 3.6 10 2.5 Gemuk 1 0.6 8 3.3 9 2.2 Total 153 100 247 100 400 100
Rata-rata berat badan contoh adalah 43.4±9.5 kg dengan kisaran nilai antara 19.9-95.9 kg. Rata-rata berat badan contoh yang anemia maupun tidak anemia hampir sama yaitu berturut-turut 43.6±7.6 kg dan 43.3±10.5 kg. Contoh memiliki rata-rata tinggi badan sebesar 1.5±0.1 m dengan kisaran nilai antara 1.3-1.7 m. Rata-rata tinggi badan contoh yang anemia maupun tidak anemia hampir sama yaitu berturut-turut 1.5±0.6 m dan 1.5±0.1 m. Rata-rata berat badan dan tinggi badan contoh termasuk normal bila dibandingkan dengan usia (Jahari & Jus’at 2004).
Rata-rata IMT contoh adalah 19.3±3.3 kg/m2 dengan kisaran IMT sebesar 11.9 kg/m2 hingga 37.5 kg/m2. Secara keseluruhan, status gizi contoh berada pada kategori kurus yaitu sebesar 48.0 persen. Proporsi terbesar contoh yang tidak anemia berada pada kategori kurus yaitu sebesar 47.4 persen sedangkan status gizi contoh yang anemia berada pada kategori normal (49.7%), walaupun proporsi tersebut tidak jauh berbeda dengan contoh anemia yang kurus (49.1%). Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki status gizi kurus memiliki kecenderungan untuk mengalami anemia.
Hasil penelitian Permaesih dan Herman (2005) menunjukkan bahwa remaja yang mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT) kurang atau tubuh kurus mempunyai risiko 1.5 kali untuk menjadi anemia. Thompson (2007) menyatakan bahwa IMT mempunyai korelasi positif dengan konsentrasi hemoglobin yang artinya jika seseorang memiliki IMT kurang maka akan berisiko menderita anemia. Meski demikian, hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan status anemia contoh (p>0.1).
Menstruasi
Anemia pada remaja putri disebabkan masa remaja adalah masa pertumbuhan yang membutuhkan zat gizi lebih tinggi termasuk zat besi. Selain itu pada masa remaja, seseorang akan mengalami menstruasi. Menstruasi ialah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus disertai pelepasan endometrium. Kebutuhan zat besi akan meningkat pada remaja putri sehubungan dengan terjadinya menstruasi. Menstruasi contoh digambarkan oleh belum atau sudah mengalami menstruasi, frekuensi, banyak, dan lama menstruasi setiap periodenya.
Status Menstruasi
Status menstruasi adalah keadaan sudah atau belumnya seorang wanita mengalami menstruasi. Saat menstruasi terjadi pengeluaran darah dari dalam tubuh. Hal ini menyebabkan zat besi yang terkandung dalam hemoglobin, salah satu komponen sel darah merah, juga ikut terbuang. Hal tersebut mengakibatkan pengeluaran besi meningkat dan keseimbangan zat besi dalam tubuh terganggu (Depkes 1998).
Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan status menstruasi dan status anemia
Status Menstruasi
Status Anemia
Total Anemia Tidak Anemia
n % n % n %
Sudah 125 81.7 177 71.7 302 75.5
Belum 28 18.3 70 28.3 98 24.5
Total 153 100 247 100 400 100
Berdasarkan hasil pada Tabel 5, sebagian besar contoh (75.5%) sudah mengalami menstruasi dan sisanya (24.5%) belum mengalami menstruasi. Pada penelitian ini, proporsi terbesar contoh berusia antara 10-12 tahun dan hampir separuh contoh yang tidak anemia berada pada kisaran usia tersebut. Menurut Hanafiah (1999) diacu dalam Khaerunnisa (2005), rata-rata usia wanita pertama kali mendapat menstruasi (menarche) yaitu 12.5 tahun sedangkan menurut hasil penelitian Dillon (2005) terhadap remaja putri di Tangerang, rata-rata usia menarche adalah 12 tahun.
Tabel 5 menunjukkan bahwa pada contoh yang sudah mengalami menstruasi, persentase yang lebih besar terdapat pada contoh yang anemia (81.7%) bila dibandingkan dengan persentase contoh yang tidak anemia (71.7%). Hal ini memperlihatkan kecenderungan terjadinya anemia pada
seseorang yang sudah mengalami menstruasi. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status menstruasi dengan status anemia contoh (r = 0.113, p = 0.023).
Hasil tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang telah menstruasi memiliki kecenderungan untuk mengalami anemia dibandingkan yang belum menstruasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Dillon (2005) yang menyatakan bahwa remaja terutama yang telah mengalami menstruasi, dibandingkan dengan yang belum menstruasi, lebih rentan terhadap anemia. Wanita pada umumnya cenderung mempunyai simpanan zat besi yang lebih rendah dibandingkan pria dan hal inilah yang membuat wanita lebih rentan mengalami anemia saat asupan zat besi kurang atau kebutuhan meningkat seperti saat menstruasi (Gleason & Scrimshaw 2007).
Frekuensi Menstruasi
Frekuensi menstruasi menggambarkan keteraturan menstruasi seorang wanita setiap bulannya. Frekuensi menstruasi dibedakan menjadi rendah (2-3 bulan sekali), normal (sebulan sekali), dan tinggi (sebulan dua kali). Berikut adalah sebaran contoh berdasarkan frekuensi menstruasi dan status anemia yang disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan frekuensi menstruasi dan status anemia
Frekuensi Menstruasi
Status Anemia
Total Anemia Tidak Anemia
n % n % n %
Rendah 8 6.4 7 3.9 15 5.0
Normal 111 88.8 167 94.4 278 92.0
Tinggi 6 4.8 3 1.7 9 3.0
Total 125 100 177 100 302 100
Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar contoh memiliki frekuensi menstruasi yang normal yaitu sebulan sekali (92.0%). Hasil yang serupa juga terlihat baik pada contoh anemia (88.8%) maupun tidak anemia (94.4%). Terdapat sekitar 3.0 persen contoh memiliki frekuensi menstruasi yang tinggi (sebulan dua kali). Frekuensi menstruasi yang tinggi lebih sering dialami oleh contoh yang anemia (4.8%). Hal ini menunjukkan bahwa contoh yang anemia cenderung mengalami frekuensi menstruasi yang lebih tinggi dibandingkan contoh yang tidak anemia.
Saat menstruasi terjadi pengeluaran darah dari dalam tubuh. Semakin sering menstruasi berlangsung, maka semakin banyak pengeluaran dari tubuh.
Hal tersebut mengakibatkan pengeluaran besi meningkat dan keseimbangan zat besi dalam tubuh terganggu (Depkes 1998). Adanya frekuensi menstruasi contoh yang tidak normal seperti rendah dan tinggi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mengganggu kelancaran siklus menstruasi diantaranya yaitu faktor stres, perubahan berat badan, olah raga yang berlebihan, dan keluhan menstruasi (Affandi 1990). Meski demikian, hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi menstruasi dengan status anemia contoh (p>0.1).
Banyaknya Menstruasi
Banyaknya menstruasi digambarkan dengan banyaknya pembalut yang digunakan contoh setiap hari. Menurut Affandi (1990), salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah darah menstruasi adalah dengan menanyakan volume berdasarkan jumlah pembalut yang digunakan.
Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan banyaknya menstruasi dan status anemia
Banyaknya Menstruasi
Status Anemia
Total Anemia Tidak Anemia
n % n % n % Ganti 1-2 kali/hari 54 43.2 87 49.1 141 46.7 Ganti 3-4 kali/hari 69 55.2 83 46.9 152 50.3 Ganti 5-6 kali/hari 2 1.6 6 3.4 8 2.7 Ganti > 6 kali/hari 0 0 1 0.6 1 0.3 Total 125 100 177 100 302 100
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jumlah darah yang hilang selama satu periode menstruasi berkisar antara 20-25 cc dan dianggap abnormal jika kehilangan darah menstruasi lebih dari 80 ml. Tabel 7 menunjukkan bahwa secara umum lebih dari separuh contoh (50.3%) mengganti pembalut 3-4 kali setiap hari. Lebih dari separuh contoh yang anemia (55.2%) mengganti pembalut 3-4 kali setiap hari sedangkan hampir separuh contoh yang tidak anemia (49.1%) mengganti pembalut 1-2 kali setiap harinya. Hal ini menunjukkan bahwa contoh yang anemia cenderung mengalami kehilangan darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang contoh tidak anemia dilihat dari jumlah pembalut yang diganti setiap hari. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara banyaknya menstruasi dengan status anemia contoh (p>0.1).
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan banyaknya menstruasi tidak mempengaruhi kecenderungan seseorang untuk menderita anemia. Namun
menurut pernyataan Affandi (1990), apabila darah yang keluar saat menstruasi cukup banyak berarti jumlah zat besi yang hilang dari tubuh juga cukup besar. Banyaknya darah yang keluar dapat berbeda-beda pada setiap orang dan bahkan pada seorang remaja wanita dapat berbeda setiap bulannya. Tidak adanya hubungan antara banyaknya menstruasi dengan status anemia diduga karena pengukuran banyaknya menstruasi menggunakan banyaknya pembalut masih dipengaruhi faktor subyektif sesuai dengan kebutuhan pembalut masing- masing individu.
Lama Menstruasi
Lama menstruasi biasanya antara 3-5 hari dan dianggap tidak normal jika lebih dari delapan atau sembilan hari. Saat menstruasi terjadi pengeluaran darah dari dalam tubuh. Hal itu menyebabkan zat besi yang terkandung dalam hemoglobin juga ikut terbuang. Lama menstruasi yang tinggi dapat menyebabkan darah yang dikeluarkan tubuh semakin banyak, sehingga kemungkinan kehilangan zat besi juga semakin tinggi (Affandi 1990). Sebaran contoh berdasarkan lama menstruasi dan status anemia disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan lama menstruasi dan status anemia
Lama Menstruasi
Status Anemia
Total Anemia Tidak Anemia
n % n % n %
Rendah 1 0.8 1 0.6 2 0.7
Normal 108 86.4 157 88.7 265 87.7
Tinggi 16 12.8 19 10.7 35 11.6
Total 125 100 177 100 302 100
Lama menstruasi dikatakan rendah jika kurang dari tiga hari dan normal apabila berada diantara 3-7 hari serta dikatakan tinggi jika lebih dari delapan hari. Tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar contoh (87.7%) memiliki lama menstruasi yang tergolong normal (3-7 hari). Hal ini terlihat dari sebagian besar contoh anemia (86.4%) dan tidak anemia (88.7%) yang juga memiliki lama menstruasi yang tergolong normal. Hanya sekitar 12.3 persen contoh yang memiliki lama menstruasi yang tergolong tidak normal yaitu lama menstruasi yang rendah (0.7%) dan tinggi (11.6%). Lama menstruasi yang tinggi lebih banyak dialami oleh contoh anemia.
Menurut Affandi (1990), beberapa penelitian menunjukkan bahwa jumlah darah yang hilang selama satu periode menstruasi normal berkisar antara 20-25 cc dan dianggap abnormal jika kehilangan darah menstruasi lebih dari 80 ml.
Jumlah 20-25 cc menyiratkan kehilangan zat besi sebesar 12.5-15 mg/bulan atau kira-kira sama dengan 0.4-0.5 mg/hari. Jika jumlah tersebut ditambah dengan kehilangan basal maka jumlah total zat besi yang hilang sebesar 1.25 mg/hari (Arisman 2002).
Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara lama menstruasi dengan status anemia contoh (p>0.1). Hasil tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan lama menstruasi tidak mempengaruhi kecenderungan seseorang untuk menderita anemia. Tidak adanya hubungan signifikan tersebut diduga karena rata-rata lama perdarahan setiap periode tiap wanita kurang lebih tetap. Banyaknya darah yang keluar dapat berbeda-beda pada setiap orang, bahkan pada seorang remaja wanita dapat berbeda-beda dari bulan ke bulan. Perbedaan lama menstruasi seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain lingkungan, lamanya menstruasi, usia, dan ovulasi (Affandi 1990).
Riwayat Penyakit
Anemia dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi (Permaesih dan Herman 2005). Infeksi merupakan faktor yang penting dalam menimbulkan kejadian anemia dan anemia merupakan konsekuensi dari peradangan dan asupan makanan yang tidak memenuhi kebutuhan zat besi (Thurnham & Northrop-Clewes 2007). Berdasarkan Tabel 9 dapat dilihat bahwa sebagian besar contoh (99.3%) tidak memiliki riwayat penyakit.
Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan riwayat penyakit dan status anemia
Riwayat Penyakit
Status Anemia
Total Anemia Tidak Anemia
n % n % n %
Ya 1 0.7 2 0.8 3 0.8
Tidak 152 99.3 245 99.2 397 99.3
Total 153 100 247 100 400 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar contoh anemia maupun tidak anemia tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan anemia seperti malaria, tuberculosis, dan kecacingan. Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa hanya terdapat sekitar 0.8 persen contoh yang memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan anemia. Penyakit yang pernah diderita oleh contoh tersebut adalah malaria dan kecacingan.
Penyakit infeksi terutama malaria, kecacingan, dan infeksi lainnya seperti tuberculosis merupakan faktor penting yang memberikan kontribusi terhadap tingginya prevalensi anemia di banyak populasi (WHO 2004). Menurut Dreyfuss et al (2000), adanya infeksi cacing tambang menyebabkan pendarahan pada dinding usus, meskipun sedikit tetapi terjadi terus menerus sehingga dapat mengakibatkan hilangnya darah atau zat besi. Malaria menyebabkan kehilangan darah secara langsung dan kehilangan darah tersebut mengakibatkan defisiensi besi (WHO 2001).
Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat penyakit dengan status anemia contoh (p>0.1). Hasil penelitian Permaesih dan Herman (2005) memperlihatkan bahwa sakit yang diderita baik pada satu tahun atau satu bulan sebelumnya berhubungan secara bermakna dengan status anemia. Sakit yang diderita, terutama penyakit infeksi mempengaruhi metabolisme dan utilisasi zat besi yang diperlukan dalam pembentukan hemoglobin dalam darah. Tidak adanya hubungan signifikan tersebut diduga karena jarangnya contoh menderita penyakit yang berhubungan dengan anemia seperti malaria, tuberculosis, dan kecacingan. Selain itu hal ini diduga karena pengukuran data yang kurang mendalam karena hanya mengukur riwayat penyakit yang pernah diderita contoh, dan bukan riwayat penyakit pada kurun waktu tertentu.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Menurut Depkes (2004), perilaku hidup sehat adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Perilaku hidup sehat sangat erat kaitannya dengan higiene perorangan (personal hygiene). Salah satu indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang digunakan dalam penelitian ini adalah kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dengan air bersih (Anonim 2003 diacu dalam Nurwulan 2003).
Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan perilaku hidup bersih dan sehat
PHBS
Status Anemia
Total Anemia Tidak Anemia
n % N % n %
Mencuci tangan 139 90.8 226 91.5 365 91.3
Tidak mencuci tangan 14 9.2 21 8.5 35 8.7
Tabel 10 menunjukkan bahwa sebagian besar contoh memiliki kebiasaan mencuci tangan baik dengan atau tanpa sabun sebelum makan (91.3%). Hasil yang serupa juga terlihat baik pada contoh anemia (90.8%) maupun tidak anemia (91.5%). Terdapat sekitar 8.7 persen contoh yang memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan.
Mencuci tangan sebelum makan merupakan salah satu faktor determinan status anemia. Penelitian yang dilakukan pada siswa SD menunjukkan bahwa seseorang yang rutin mencuci tangan ternyata mempunyai risiko yang lebih kecil untuk terkena anemia. Mencuci tangan sebelum makan merupakan salah satu faktor determinan status anemia dan melalui membiasakan mencuci tangan sebelum makan diharapkan kuman-kuman tidak ikut masuk ke dalam mulut, yang selanjutnya akan menyebabkan kecacingan sebab cacing di perut sebagai pemicu terjadinya anemia (Irawati et al 2000).
Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku hidup bersih dan sehat dengan status anemia contoh (p>0.1). Hasil tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan tidak mempengaruhi kecenderungan seseorang untuk menderita anemia. Hal ini diduga karena contoh remaja putri memiliki kebiasaan mencuci tangan yang cenderung sama sedangkan pada hasil penelitian Irawati et al (2000) contoh yang digunakan adalah siswa SD yang memiliki kebiasaan mencuci tangan yang berbeda-beda sehingga kecenderungan anemia juga akan berbeda.
Aktivitas Fisik
Pola aktivitas remaja didefinisikan sebagai kegiatan yang biasa dilakukan oleh remaja sehari-hari sehingga akan membentuk pola. Aktivitas fisik erat kaitannya dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan (Kartono 1992 diacu dalam Ratnayani 2005). Aktivitas fisik dikategorikan menjadi olahraga ringan. olahraga sedang, dan olahraga berat.
Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan aktivitas fisik dan status anemia
Aktivitas Fisik
Status Anemia
Total Anemia Tidak Anemia
n % N % n %
Olahraga ringan 77 50.3 131 53.0 208 52.0
Olahraga sedang 75 49.0 113 45.8 188 47.0
Olahraga berat 1 0.7 3 1.2 4 1.0
Tabel 11 menunjukkan bahwa lebih dari separuh contoh (52.0%) memiliki aktivitas fisik olahraga ringan (jalan santai, lempar cakram, tolak peluru, senam pernapasan). Hasil yang serupa juga terlihat baik pada contoh anemia (50.3%) maupun tidak anemia (53.0%). Terdapat hanya sekitar satu persen contoh yang melakukan olahraga berat (sepakbola, lari cepat >10 km, senam aerobik).
Persentase contoh anemia yang melakukan aktivitas olahraga sedang seperti basket, voli, lari, senam aerobik, dan jalan cepat (49.0%) sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan contoh yang tidak anemia (45.8%). Hal ini memperlihatkan bahwa contoh yang anemia cenderung lebih banyak kehilangan zat besi selama olahraga melalui keringat dibandingkan contoh yang tidak anemia.
Anemia dapat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang. Penelitian Permaesih (2002) diacu dalam Permaesih dan Herman (2005) menemukan 25 persen remaja di Bandung mempunyai kesegaran jasmani kurang dari normal. Keadaan ini dapat mempengaruhi produktivitas kerja remaja. Remaja yang memiliki aktivitas fisik yang tinggi mempunyai risiko defisiensi zat besi yang lebih besar. Olahraga berat dapat meningkatkan kebutuhan zat besi hingga 1-2 mg/hari. Hal ini dapat disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor seperti kehilangan zat besi melalui keringat, kehilangan darah dari sistem gastrointestinal, dan hemolisis (Zhu & Haas 1997). Menurut Akabas dan Dollins (2005), pengeluaran zat besi dapat melalui keringat, feses dan urine, atau hemolisis intravaskular. Hasil studi yang dilakukan pada atlet wanita yang menunjukkan bahwa kehilangan zat besi terjadi melalui keringat dan konsentrasi zat besi terbesar dalam keringat terjadi selama 30 menit pertama olahraga.
Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan status anemia contoh (p>0.1). Tidak adanya hubungan yang signifikan tersebut diduga karena intensitas aktivitas fisik yang dilakukan oleh contoh tidak sebesar intensitas aktivitas fisik secara teori yang dapat menyebabkan anemia seperti yang terjadi pada atlet wanita. Aktivitas olahraga contoh berupa olahraga ringan yang