• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

C. Pembahasan Temuan Penelitian

1. Pelaksanaan Program Kelas Akselerasi

Dari hasil temuan penelitian di atas menunjukkan bahwa penyelenggaraan program kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen adalah berdasarkan tunjukan dari Departemen Pendidikan Nasional dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Nomor : 423/40746 tentang Penetapan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk menyelenggarakan program Penyelenggaraan Kelas Percepatan.

commit to user

Berdasar SK tersebut kemudian dibentuk tim pembuka Program Kelas Akselerasi. Dasar Pelaksanaan program kelas akselerasi di SMPN 1 Sragen secara hukum mempunyai dasar yang kuat dan legal. Langkah-langkah yang dilaksanakan sudah secara sistematis, yaitu dengan membentuk tim pembuka program kelas akselerasi dan kemudian membentuk tim pengelola program kelas akselerasi.

Tujuan diadakannya Program Akselerasi di SMPN 1 Sragen adalah : 1. Memenuhi kebutuhan peserta didik yang memiliki kecerdasan dan bakat-

bakat luar biasa.

2. Memenuhi hak asasi peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan bagi dirinya.

3. Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan peserta didik. 4. Memenuhi kebutuhan aktualisasi diri peserta didik.

5. Memberikan penghargaan untuk dapat menyelesaikan program pendidikan secara cepat.

6. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran peserta didik.

7. Memacu mutu peserta didik untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual secara optimal dan seimbang serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik.

8. Membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan keterampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tujuan program kelas akselerasi tersebut sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan

bahwa : “Warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus (Pasal 5 ayat 4).Pasal 12 ayat 1, Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: Mendapatkan pelayanan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing.

commit to user

a. Kurikulum

SMP Negeri 1 Sragen telah menggunakan kurikulum KTSP. Kurikulum yang digunakan di kelas akselerasi adalah kurikulum KTSP berdiferensiasi yaitu kurikulum yang dipercepat dari 3 tahun menjadi 2 tahun. Hal ini sudah sejalan dengan pedoman penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik CI/BI bahwa salah satu bentuk diferensiasi kurikulum adalah mempercepat waktu pembelajaran yaitu dari waktu yang seharusnya berdurasi 6 tahun menjadi 5 tahun (Untuk SD) dan waktu yang seharusnya berdurasi 3 tahun (SMP/SMA) dipercepat menjadi 2 tahun. Disamping itu juga dilakukan pengayaan dan pendalaman pada materi pelajaran tertentu.

Pada dasarnya diadakannya kelas akselerasi adalah untuk membentuk jiwa penemu bagi anak anak yang memiliki bakat istimewa dan cerdas istimewa.Yaitu dengan membentuk kelompok peserta didik dengan minat dan bakat serta kecerdasan tertentu untuk membuat usulan proyek yang akan digarap oleh anak-anak dengan bimbingan guru yang sesuai dengan usulan project tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Flieger bahwa inti dari mendidik anak berbakat adalah kurikulum berdiferensiasi. Diferensiasi tersebut berdasarkan kebutuhan dari setiap anak (Fliegler, 1962 dalam Coleman, 1985).

Dilihat dari judul usulan projek yang diusulkan oleh peserta didik akselerasi menunjukkan bahwa peserta didik akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen mempunyai bakat dan minat yang bervariasi yang menunjukkan potensi mereka sebagai manusia berjiwa penemu. Tindak lanjut dari usulan projek peserta didik akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen belum memperoleh pelayanan yang maksimal dari penyelenggara program kelas akselerasi, sehingga belum terealisasi dengan baik. Dalam hal ini kebutuhan peserta didik untuk belajar berkelanjutan serta menerapkan ketrampilan penelitian belum terlayani dengan baik, apabila dikaitkan dengan Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum yang mengacu pada Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan

commit to user

Pendidikan Dasar dan Menengah memang penting sebagai upaya mengembangkan kompetensi keilmuan pada anak-anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (CI/BI ). Anak-anak CI/BI tidak cukup menerima pembelajaran bidang sains dengan menyelesaikan standar kompetensi yang telah ditetapkan BSNP, yang fokusnya pada daya serap materi saja. Model pembelajaran semacam itu sangat sedikit sekali mengekplorasi kemampuan atau potensi anak CI/BI , yang tidak saja memiliki IQ kategori very superior, tetapi juga memiliki komitmen pada tugas serta kreativitas yang baik.

Diferensiasi kurikulum di SMP Negeri 1 Sragen untuk program kelas akselerasi yaitu kurikulum KTSP dengan durasi waktu 3 tahun dipercepat menjadi 2 tahun, disertai pendalaman dan pengayaan pada materi materi pelajaran tertentu, berdasarkan prioritas dan tingkat kebutuhannya yang terdiri dari bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Fisika merupakan langkah diferensiasi yang sejalan dengan pendapat Davis dan Rimm yaitu bahwa Diferensiasi kurikulum hendaknya dilakukan pada segenap elemen yang terdiri dari: materi, proses, produk, dan lingkungan belajar (Davis dan Rimm, 1998). Sejalan dengan pendapat tersebut pula adalah diferensiasi yang dilaksanakan pada mata pelajaran bahasa Inggris dan matematika yang menerapkan diferensiasi pada materi yaitu menambah materi pelajaran yang diperoleh dari buku paket sebagai sumber utama, ditambah dengan mengakses internet, kemudian materi tersebut dikomparasikan antara buku paket dengan materi yang bersumber dari internet bersama anak didik. Selanjutnya terdapat diferensiasi pada proses yaitu dengan proses belajar mengajar yang menekankan anak didik lebih aktif menggali sumber sumber belajar sendiri, terutama dari perpustakaan dan akses internet, serta pemberian tugas tugas yang harus dilaksanakan oleh peserta didik yang harus dipresentasikan di depan kelas.

commit to user

b. Peserta Didik

Peserta didik program kelas akselerasi adalah peserta didik yang mempunyai bakat istimewa dan cerdas istimewa, sehingga dalam rekruitmen peserta didik harus memenuhi syarat syarat sebagai anak yang berbakat istimewa dan cerdas istimewa. Proses penerimaan peserta didik program khusus PDCI/BI bersifat objektif, transparan, akuntabel dan dilakukan seleksi secara ketat.

Secara keseluruhan rekruitmen paserta didik kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen sudah memenuhi standart perekrutan peserta didik kelas akselerasi yang ditentukan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar biasa Depdiknas.

Adapun Standar yang ditentukan adalah sebagai berikut : 1. Seleksi Nilai

Nilai rata-rata SKHU minimal 9,0 Nilai rata-rata rapor SMP minimal 8,0

2. Tes Akademik (Bhs. Indonesia, Bhs. Inggris, Matematika danIPA) 3. Psikotes dengan mengacu pada Teori Keberbakatan Renzuli yang meliputi pengukuran aspek: intelegensi, kreatifitas dan komitmen pada tugas.

4. Tes Kesehatan (tidak buta warna dan bebas narkoba) 5. Wawancara

6. Observasi guru

7. Berminat dan mendapat persetujuan dari orangtua/wali siswa Sedangkan Seleksi yang dilakukan SMP Negeri 1 Sragen meliputi:

1. Seleksi administrasi, meliputi:

Hasil Ujian Nasional dari sekolah sebelumnya dengan nilai rata- rata 8,0

Tes kemampuan akademis dengan nilai rata-rata 8,0

2. Psikologis

Peserta didik yang lolos dalam seleksi administrasi harus mengikuti tes psikologis yang meliputi aspek:

commit to user

Kemampuan intelektual ( IQ ) Kreatifitas

Keterikatan dengan tugas

3. Tes Kesehatan

Peserta didik harus sehat jasmani yang ditunjukkan dengan surat keterangan dari dokter

4. Wawancara

Bertujuan untuk menggali minat dan kesediaan peserta didik dalam mengikuti Program Khusus PDCI/BI (Akselerasi) (CL05)

Dari data di atas, maka ada sedikit perbedaan dalam hal persyaratan Hasil Ujian Nasional yang disyaratkan SMP Negeri 1 Sragen dengan standar perekrutan yang telah ditentukan. Yaitu Hasil Ujian Nasional dari sekolah adalah dengan nilai rata-rata 8,0 dan Tes kemampuan akademis dengan nilai rata-rata 7,5, sedangkan menurut pedoman pelaksanaan pendidikan bagi PDCI/BI tentang seleksi administrasi bagi peserta didik menyebutkan bahwa nilai rata-rata SKHU minimal 9,0 dan nilai rata-rata rapor minimal 8,0. Maka ada penurunan standar nilai rata-rata dari minimal SKHU 9,0 menjadi 8,0 dan nilai rata-rata raport dari 8,0 menjadi 7,5. Penurunan standar nilai akan mempengaruhi input peserta didik kelas akselerasi dan secara otomatis mempengaruhi kelancaran Proses Belajar Mengajar.

c. Pendidik

Sesuai dengan pedoman penyelenggaraan sekolah bagi CI/BI, SMP Negeri 1 Sragen menentukan kriteria pemilihan guru sebagai berikut: 1. Lulusan perguruan tinggi minimal S1 yang sesuai dengan bidang ilmu

yang diajarkan.

2. Mampu berbahasa inggris aktif dan mampu menggunakan dalam pembelajaran.

3. Dapat menggunakan perangkat komputer dan teknologi informasi lainnya dalam proses pembelajaran.

commit to user

4. Memiliki karakteristik umum yang dipersyaratkan dengan mengacu pada aspek kepribadian dan kompetensi guru.

5. Memahami psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan .

Sebagaimana ketentuan dari pedoman penyelenggaraan sekolah bagi PDCI/BI tentang perekrutan tenaga kependidikan, kriteria tersebut di atas adalah merupakan kriteria dasar yang harus dimiliki oleh setiap pendidik. Disamping itu pendidik hendaknya ada upaya terencana untuk meningkatkan kompetensi , melalui pelatihan, seminar , penelitian, publikasi ilmiah dan studi lanjut. SMP Negeri 1 melaksanakan program tersebut untuk meningkatkan kompetensi pendidik. Dua hal yang belum dilaksanakan berkaitan dengan pendidik adalah Pendampingan dan konseling bagi Tenaga Pendidik dan penilaian terhadap tenaga pendidik. Keterlibatan psikolog bagi proses pengembangan tenaga pendidik sebaiknya dimulai sejak proses rekruitmen dan seleksi. Hal ini perlu dilakukan agar diperoleh gambaran aspek psikologis dan kompetensi yang dimiliki oleh tenaga pendidik yang bersangkutan.

Penilaian terhadap tenaga pendidik harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Penilaian dilakukan oleh tim yang dibentuk oleh kepala sekolah yang melibatkan guru bidang studi, orang tua, psikolog , dan siswa. Penilaian mencakup aspek aspek sebagai berikut: a) kepribadian, perilaku dan sikap kerja, b) kemutkhiran bahan ajar (kedalaman, keluasan, variasi), c) ketrampilan mengajar, dan d) evaluasi pembelajaran.

d. PBM

Proses belajar mengajar kelas akselerasi berlangsung selama 6 hari dalam satu minggu, dimulai dari jam 07.00 WIB sampai dengan pukul 13.30 WIB. Sebelum dimulai pelajaran, terlebih dahulu dilaksanakan pembiasaan, yaitu membaca Al- Qur-an bagi yang beragama Islam, dan membaca alkitab bagi agama lainnya sesuai agama masing masing, Kegiatan ini dimulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 07.20 WIB, yang dilaksanakan secara serentak, baik peserta didik regular, unggulan maupun

commit to user

peserta didik akselerasi. Kegiatan pembiasaan tersebut membentuk peserta didik menjadi insan yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan ajarannya masing masing. Kegiatan pembiasaan sejalan dengan Standar kompetensi yang diharapkan dapat dihasilkan melalui Program Akselerasi pada SMP Negeri 1 Sragen , yaitu Kualifikasi Kecerdasan Spiritual: beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, pemahaman dan pengalaman ajaran agama.

Proses belajar mengajar kelas akselerasi dilaksanakan secara klasikal di ruang kelas yang didesain sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan dibuat senyaman mungkin. Namun apabila materi pelajaran membutuhkan media lain yang tidak terdapat di kelas, maka dilakukan di luar kelas. Sebagai contoh adalah moving kelas ke lapangan atau ke sumber sumber pendidikan yang lain, yaitu ke perpustakaan dan akses internet. Hal itu sejalan dengan pendapat David and Rimm, bahwa bahwa diferensiasi kurikulum hendaknya meliputi materi, proses, produk, dan lingkungan belajar.

Pemberian Tugas peserta didik yang dilakukan oleh masing- masing guru mata pelajaran setelah selesai pembelajaran juga merupakan salah satu bentuk diferensiasi proses.

Selain mengikuti pelajaran secara formal, peserta didik kelas akselerasi juga diwajibkan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, bergabung dengan peserta didik program regular dan peserta didik program unggulan. Hal ini untuk mengimbangi kerja otak dengan kerja fisik, juga untuk meminimalkan dampak eksklusifisme bagi peserta didik akselerasi. Peserta didik diberi kebebasan untuk memilih kegiatan ekstra mana yang akan diikuti sesuai minat masing-masing peserta didik.

Disamping itu setiap setahun sekali diadakan kegiatan out bound yang diikuti seluruh peserta didik kelas akselerasi . Dengan diadakannya kegiatan out bound akan melatih siswa untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri, bebas berekspresi dan melatih kepekaan sosial. Hal ini

commit to user

sesuai dengan tujuan outbound menurut Adrianus dan Yufiarti, yang ditulis dalam jurnal Memupuk Karakter Siswa melalui Kegiatan Outbound (2006: 42) yaitu untuk:

1) Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri siswa; 2) Berekspresi sesuai dengan caranya sendiri yang masih dapat diterima lingkungan;3) Mengetahui dan memahami perasaan, pendapat orang lain dan menghargai perbedaan;4) Membangkitkan semangat dan motivasi untuk terus terlibat dalam kegiatan-kegiatan;5) Lebih mandiri dan bertindak sesuai dengan keinginan;6) Lebih empati dan sensitif dengan perasaan orang lain;7) mampu berkomunikasi dengan baik; 8) mengetahui cara belajar yang efektif dan kreatif;9) memberikan pemahaman terhadap peserta didik tentang pentingnya karakter yang baik;10) menanamkan nilai-nilai yang positif sehingga terbentuk karakter siswa melalui berbagai contoh nyata dalam pengalaman hidup;11)

mengembangkan kualitas hidup siswa yang

berkarakter;12) menerapkan dan memberi contoh karakter yang baik kepada lingkungan.

e. Sarana Prasarana

Sarana prasarana yang terdapat di SMP Negeri 1 Sragen untuk Program Kelas Akselerasi sudah memenuhi standar yang ditentukan pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 sehingga menunjang proses pembelajarannya, baik pemenuhan dari segi jenis dan macam sarana prasarana yang harus tersedia, maupun rasio minimum setiap ruang yang harus terpenuhi.

Ruang kelas di kelas akselerasi berukuran 7 x 9 = 63m2, sedangkan jumlah siswa setiap kelasnya adalah 20 anak. Jadi rasio ruang kelas adalah 3,15 m2/siswa. Jadi sudah memenuhi standar sarana prasarana pendidikan. Demikian juga meja kursi untuk siswa kelas akselerasi, dibuat dari bahan kayu yang kuat dan mudah diatur sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Beberapa fasilitas umum seperti perpustakaan umum, area host spot, kamar mandi/WC, kantin kejujuran, kantin umum, toko kejujuran dan halaman parkir serta halaman bermain disediakan dan digunakan bersama dengan program kelas unggulan dan kelas reguler. Hal ini tidak menghambat proses pembelajaran di kelas Akselerasi, manfaat positif

commit to user

yang bisa diambil dari penggunaan fasilitas umum bersama adalah interaksi sosial antara siswa program kelas akselerasi dengan siswa program unggulan dan reguler yang baik, sehingga mengurangi dampak eksklusif bagi siswa kelas akselerasi.

f. Pembiayaan

Pembiayaan untuk terselenggaranya program akselerasi diperoleh dari 3 sumber yaitu :

1. BOS

2. Swadana dari Orang Tua Siswa / Wali 3. Bantuan dari pusat.

Ada beberapa kendala yang dihadapi sekolah berkaitan dengan pelaksanaan program kelas akselerasi . Kendala ini meliputi berbagai aspek.

Kendala pertama adalah kendala yang berasal dari peserta didik. Rekruitmen Peserta didik yang masuk ke kelas akselerasi adalah berasal dari SD/MI yang menggunakan program regular yang telah memenuhi syarat. Di Kabupaten Sragen belum ada SD yang menerapkan program kelas akselerasi.Ada beberapa peserta didik yang belum siap mengikuti program kelas akselerasi. Mereka masih terbawa kondisi asal sekolah masing masing, sehingga sedikit banyak mempengaruhi kelancaran PBM di kelas akselerasi. Untuk mengatasi kendala ini maka pihak sekolah melakukan sosialisasi secara intensif dalam setiap kesempatan yang ada mengenai program kelas akselerasi yang berbeda dengan program kelas reguler. Adapun permasalahan secara psikologis yang ditimbulkan karena mengikuti program akselerasi tidak ditemukan.

Partisipasi guru mata pelajaran dalam mengatasi kendala individual sangat aktif sehingga membantu pemecahannya dengan baik. Disamping itu sekolah bekerjasama dengan yayasan psikologi Anava yang bertugas sebagai pendamping bagi peserta didik kelas akselerasi. Jadwal pendampingan dengan yayasan psikologi Anava setiap dua bulan sekali.

commit to user

Peserta didik yang mempunyai masalah secara psikologis bisa berkonsultasi untuk memperoleh pemecahan masalahnya.

Kendala kedua adalah berasal dari guru/pendidik. Kebiasaan memberi pelajaran pada program regular dan program unggulan yang lamanya 3 tahun menjadi 2 tahun memerlukan persiapan yang khusus . Kurangnya pemahaman konsep pendidik tentang program kelas akselerasi dan kurikuklum diferensiasi menimbulkan dampak psikologis, yaitu merasa dikejar waktu sehingga mempengaruhi juga dalam proses pembelajarannya. Hal itu juga mempengaruhi peserta didik yang selalu merasa dikejar kejar oleh tugas tugas yang beruntun . Untuk mengatasi hal ini sekolah bekerja sama dengan universitas terdekat yaitu UNS untuk mengadakan pendampingan bagi para guru. Disamping itu juga mengadakan workshop dengan mengundang para pakar dan IHT serta studi banding ke sekolah sekolah yang telah sukses melaksanakan program kelas akselerasi.Namun pendampingan yang dilakukan oleh UNS belum berjalan secara maksimal sehingga mempengaruhi kinerja dan kwalitas pelayanan guru terhadap peserta didik akselerasi.

Keterbatasan kemampuan guru berbahasa inggris aktif juga merupakan kendala tersendiri bagi para guru untuk membiasakan berbahasa inggris aktif bagi para peserta didiknya. Untuk mengatasi hal ini pihak sekolah membuat program pelajaran bahasa Inggris aktif bagi seluruh guru SMP Negeri 1 Sragen, yang dilaksanakan setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis pada jam 07.00 sampai jam 07.20 WIB., bersamaan dengan dilaksanakannya pembiasaan bagi para peserta didik membaca kitab sucinya masing-masing.

Dalam rentang dua tahun ajaran peserta didik kelas akselerasi mempunyai prestasi yang baik. Prestasi yang mendominasi adalah pelajaran Bahasa Inggris., prestasi pada mata pelajaran IPA belum menampakkan hasil.

Hasil UASBN di SMP Negeri 1 Sragen adalah sebagaimana terdapat dalam tabel berikut.

commit to user

Tabel 13. Hasil UASBN SMP Negeri 1 Sragen Kelas B.Indonesia B.Inggris Matematika IPA Akselerasi Tertinggi 9.60 9.80 10,00 9.75 Terendah 8,20 7,60 8,25 8,50 Rata-rata 8,86 8,62 9,37 9,16 Tertinggi 10,00 9,60 10,00 10,00 Reguler Terendah 6,60 4,00 5,25 6,00 Rata-rata 8,69 8,33 9,08 9,05

Kelas akselerasi memperoleh nilai rata-rata lebih tinggi untuk semua mata pelajaran yang di UAN kan dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas reguler. Namun nilai tertinggi beberapa mata pelajaran diperoleh oleh siswa dari kelas reguler, yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesi dan IPA. Siswa reguler nilai tertinggi masing masing 10,00, sedang siswa akselerasi nilai tertinggi Bahasa Indonesi 9,60 dan IPA 9,75. Untuk nilai tertinggi matematika siswa akselerasi dan reguler sama, yaitu 10,00. Dan nilai tertinggi mata pelajaran Bahasa Inggris siswa akselerasi memperoleh 9,80 dan siswa reguler 9,60.

Dokumen terkait