commit to user
PELAKSANAAN PROGRAM KELAS AKSELERASI
DI SMP NEGERI 1 SRAGEN
TAHUN 2009-2010
TESIS
Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan Derajat Megister
Program Studi Teknologi Pendidikan
Diajukan oleh
HARITSATUL FITRIYAH
S 810908208
PROGRAM PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
commit to user
ii
PELAKSANAAN PROGRAM KELAS AKSELERASI
DI SMP NEGERI 1 SRAGEN
TAHUN 2009-2010
TESIS
oleh:
HARITSATUL FITRIYAH
S 810908208
Telah Disetujui oleh Tim Pembimbing
Jabatan Nama Tanda Tangan Tanggal
Pembimbing I Prof. Dr. Budiyono, MSc
NIP. 19530915 197903 1003
Pembimbing II Dr. Nunuk Suryani, MPd
NIP. 19661108 199003 2001
Mengetahui,
Ketua Program Studi Teknologi Pendidikan
Prof. Dr. Mulyoto, MPd
commit to user
iii
PELAKSANAAN PROGRAM KELAS AKSELERASI
DI SMP NEGERI 1 SRAGEN
TAHUN 2009-2010
TESIS oleh:
HARITSATUL FITRIYAH
S 810908208
Telah Disetujui oleh Tim Penguji
Jabatan Nama Tanda Tangan Tanggal
Ketua Prof. Dr. Mulyoto, M.Pd NIP. 194307121973011001
Sekretaris Prof. Dr. Samsi Haryanto, M.Pd NIP. 194404041976031001
Anggota Prof. Dr. Budiyono, M.Sc NIP. 19530915 197903 1003
Anggota Dr. Nunuk Suryani, M.Pd NIP. 19661108 199003 2001
Mengetahui,
Direktur Ketua Program Studi
Program Pascasarjana UNS Teknologi Pendidikan
commit to user
iv
PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini saya:
Nama : HARITSATUL FITRIYAH
NIM : S 810908208
Program Studi : Teknologi Pendidikan
menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang berjudul PELAKSANAAN
PROGRAM KELAS AKSELERASI DI SMP NEGERI 1 SRAGEN TAHUN
2009-2010 adalah betul-betul karya saya sendiri dan belum pernah diajukan
untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi.
Sepanjang pengetahuan saya, dalam tesis ini tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila di kemudian terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia
menerima sanksi akademik, berupa pencabutan gelar yang saya peroleh dari tesis
ini.
Surakarta, Januari 2011
yang membuat pernyataan
commit to user
v
PERSEMBAHAN
Untuk Ibunda tercinta, kakak kakak dan adik adik tercinta
Untuk anak-anakku tercinta:
Fuhaid Mujahidul Haq
Fathimah Nurul „Aziz Ni‟ma Ajrul Jannah
commit to user
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt. yang senantiasa memberi
rahmatNya kepada kita , sehingga penulis diberi kesempatan untuk menyelesaikan
tesis yang berjudul PELAKSANAAN PROGRAM KELAS AKSELERASI DI
SMP NEGERI 1 SRAGEN TAHUN 2009-2010. Penulisan tesis ini diajukan
untuk melengkapi sebagian persyaratan untuk meraih derajat Megister Program
Studi Teknologi Pendidikan Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini tidak lepas dari
bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak, maka dalam kesempatan
ini tak lupa penulis ucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada yang
terhormat:
1. Rektor UNS dan Direktur Program Pasca Sarjana UNS yang telah
memberi ijin penelitian kepada penulis.
2. Ketua program Studi Teknologi Pendidikan yang telah memberi kemu
dahan kepada penulis dalam mengadakan penelitian dan penulisan tesis
ini.
3. Prof. Dr. Budiono, M.Si sebagai Pembimbing I yang banyak memberikan
bimbingan dan pengarahan kepada penulis, dari awal sampai selesainya
penulisan tesis ini.
4. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd sebagai pembimbing II yang banyak memberi
kan bimbingan dan pengarahan kepada peneliti, dari awal sampai
selesai-nya penulisan tesis ini.
5. Kepala SMP Negeri 1 Sragen, yang telah memberi ijin penelitian di SMP
Negeri 1 Sragen.
6. Ibu dan anak-anak tercinta yang senantiasa memberi dorongan dan
motivasi demi terselesainya tesis ini.
Semoga amal kebaikan semuanya mendapat balasan dari Allah swt.
commit to user
vii
Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih banyak kekurangan
kekurangannya, maka saran dan kritik yang membangun untuk kebaikan tesis
ini sangat penulis harapkan.
Surakarta, Januari 2011
commit to user
viii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING...ii
HALAMAN PENGESAHAN TESIS...iii
PERNYATAAN...iv
PERSEMBAHAN...v
KATA PENGANTAR...vi
DAFTAR ISI...vii
DAFTAR GAMBAR...ix
DAFTAR TABEL...x
DAFTAR LAMPIRAN...xi
ABSTRAK...xii
ABSTRACT...xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... ..1
B. Fokus Masalah ... ..6
C. Rumusan Masalah ... ..6
D. Tujuan Penelitian ... ..6
E. Manfaat Penelitian ... ..7
BAB II ORIENTASI TEORITIK A. Pengertian Kelas Akselerasi...8
B. Landasan Hukum Pelaksanaan Kelas Akselerasi...9
C. Kurikulum Kelas Akselerasi...11
D. Kerangka Berpikir (optional)...34
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... .37
B. Jenis Penelitian ... .38
C. Data dan Sumber Data ... .39
D. Teknik Pengumpulan Data ... .40
E. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ... .42
commit to user
ix
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Latar Penelitian ... ..46
1. Sejarah SMP Negeri 1 Sragen ... ..46
2. Visi dan Misi SMP Negeri 1 Sragen ... ..48
3. Prestasi-prestasi yang dicapai SMP Negeri 1 Sragen ...50
B. Temuan Penelitian ... ..60
1. Pelaksanaan Program Akselerasi ... ..60
a. Kurikulum ... ..63
b. Peserta Didik ... .66
c. Pendidik ... .68
d. PBM ...70
e. Sarana dan prasarana...73
f. Pembiayaan ...74
2. Kendala yang Dihadapi dalam Pelaksanaan Program Kelas Akselerasi...75
3. Cara mengatasi Kendala yang Dihadapi dalam Pelaksanaan Program Kelas Akselerasi...77
4. Presrtasi yang Diraih` ... ..79
C. Pembahasan Temuan Penelitian ... ..82
D. Keterbatasan Penelitian...93
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... ..95
B. Implikasi ... ..96
C. Saran/Rekomendasi ... ..97
DAFTAR PUSTAKA
commit to user
x
DAFTAR GAMBAR
1. Gb.1. Komponen komponen analisis data...44
2. Gb 2. SMP Negeri 1 Sragen...48
3. GB. 3.Kegiatan Moving Klas Kelas Akselerasi di Pusat Perbelanjaan...71
4. Gb 4. Peserta Didik Akselerasi dalam Kegiatan Out Bound di
commit to user
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 01 : Prosedur Kegiatan dan Jadwal Penelitian ...37
Tabel 02: Jenis, Sumber dan Tehnik Pengumpulan Data...41
Table 03. Peringkat Ujian Nasional SMP Negeri 1 Sragen ...50
Table 04. Prestasi SMP Negeri 1 Sragen di Bidang Akademik Tahun Pelajaran 2007/2008 s/d2009/2010...50
Table 05. Prestasi SMP Negeri 1 Sragen di Bidang Non Akademik Tahun Pelajaran 2007/2008 s/d 2009/2010 ...57
Table 06. Daftar Materi Pelajaran yang Dideferensiasi di SMP Negeri Sragen...65
Tabel 07. Struktur Kurikulum Program Akselerasi SMP Negeri Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010...66
Tabel 08. Jadwal Kegiatan PPDB...68
Tabel 09 Daftar Guru yang Mengajar di Kelas Akselerasi SMP Negeri 1Sragen tahun 2009-2010 ...70
Table 10. Jadwal Kegiatan Extra Kurikuler SMP Negeri 1 Sragen Th.2009 - 2010...72
Tabel 11. Daftar Prestasi Peserta Didik Akselerasi Tahun 2008 – 2009 ... .80
Tabel 12. Hasil nilai UASBN Kelas Akselerasi ahun 2009/2010...81
commit to user
xii
DAFTAR LAMPIRAN
CATATAN LAPANGAN 1...103
CATATAN LAPANGAN 2...107
CATATAN LAPANGAN 3...111
CATATAN LAPANGAN 4...115
CATATAN LAPANGAN 5...118
CATATAN LAPANGAN 6...121
CATATAN LAPANGAN 7...125
CATATAN LAPANGAN 8...127
PROFIL SEKOLAH SMP NEGERI 1 SRAGEN...129
LOGO SMP NEGERI 1 SRAGEN...130
PETA KABUPATEN SRAGEN...131
STRUKTUR ORGANISASI SEKOLAH...132
FOTO FOTO DOKUMENTASI...133
SK KEPALA SMPN 1 SRAGEN PANITIA PEMBENTUKAN KELAS AKSELERASI………...141
LAMPIRAN SK KEPALA SMPN 1 SRAGEN……….………142
DAFTAR HASIL UASBN KELAS AKSELERASI TH 2009/2010...143
DAFTAR USULAN PROJECT SISWA KELAS AKSELERASI...145
HASIL NILAI UJIAN NASIONAL 5 TAHUN TERAKHI SMP NEGE RI 1- SRAGEN. ...147
SARANA PRASARANA...149
RINCIAN SARANA PRASARANA...151
DAFTAR KOLEKTIF HASIL UJIAN NASIONAL KELAS REGULER...152
SILABUS KELAS AKSELERASI UNTUK PELAJARAN INTI...160
commit to user
xiii
A
ABBSSTTRRAAKK
Haritsatul Fitriyah. S 810908208. Pelaksanaan Program Kelas Akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen. Penelitian Kualitatif di SMP Negeri 1 Sragen, Kabupaten Sragen. Tesis. Surakarta. Program Stusi Teknologi Pendidikan Pasca Sarjana. Universitas Sebelas Maret. Desember 2010.
Penelitian ini bertujuan untuk 1). Mengetahui Pelaksanaan program kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen yang meliputi kurikulum pembelajaran, perekrutan anak didik, tenaga didik, PBM, biaya pelaksanaan serta sarana prasarana. 2). Mengetahui kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen. 3). Mengetahui Cara mengatasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen.
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Sragen tahun pelajaran 2009/2010. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan deskriptif kwalitatif. Data yang dikumpulkan adalah dari Kepala Sekolah, Ketua Program Pelaksanan kelas Akselerasi, guru, siswa, dan Kurikulum. Data didapatkan dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan proses keabsahan data menggunakan trianggulasi data. Analisis data menggunakan model interaktif dengan kegiatan pokok yaitu mengumpulkan data, melakukan reduksi data , menyajikan data dan menarik kesimpulan.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: Pelaksanaan program kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen berjalan dengan baik, baik ditinjau dari kurikulum yang digunakan, perekrutan peserta didik, tenaga didik, PBM, pembiayaan dan Sarana Prasarana. Hambatan yang dialami dalam pelaksanaan program kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen adalah:
Pada Pendidik: kurangnya pemahaman guru terhadap kurikulum diferensiasi diatasi dengan diadakannya workshop tentang kurikulum diferensiasi, studi banding dan pendampingan guru oleh perguruan tinggi yang kompeten yaitu dari Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Pada anak didik: sulitnya adaptasi terhadap program akselerasi diatasi dengan sosialisasi, oleh sekolah dan khususnya oleh guru bidang studi yang mengajar di kelas akselerasi.
Hasil out come program akselerasi untuk lulusan pertama tahun 2009/2010 mencapai kelulusan 100% dengan hasil nilai yang relatif tinggi dibanding hasil nilai program reguler, dengan rincian:
commit to user
xiv ABSTRACT
Haritsatul Fitriyah. S 810908208. Held of axeleration Class Program In State Junior High School 1 Sragen; Qualitatif research in State Junior High School 1 Sragen. Sragen Regency, Thesis. Surakarta. Education Technologi Study Program. Post Graduate Program. Sebelas Maret University, Desember 2010.
This research aims to 1). Knowing the acceleration class program implementation in state Junior High School 1 Sragen about curriculum used, recruiting students, staff educates, Teaching and learning process, costs of implementation and infrastructure. 2). Knowing the constraints faced in implementation of accelerated classes program at Junior High School 1 Sragen 3) Knowing How to overcome obstacles encountered in implementation of accelerated classes program at Junior High School 1 Sragen
The research was held in State Junior High School 1 Sragen academic year 2009/2010. The approach wich used in this research was qualitative descriptive approach. Data of research were collected from head master, organizer leader of axeleration class program, , teacher, student and curriculum of axeleration class program. Data were collected from observing, interviewing , and documentation. While the process of data validity used data triangulation . data analysis used interactive modal with the main activity ewrw collecting data, reducing data, presenting data and made a conclusion.
The research concluded that: The implementation of accelerated classes program at Junior High School 1 Sragen goes well, in terms of curriculum used, recruiting students, staff educates, Teaching and learning process , costs of implementation and infrastructure. Barriers suffered in the implementation of accelerated classes program in Junior High School 1 Sragen is:
On Educators: lack of teacher understanding of curriculum differentiation addressed by the holding of a workshop on curriculum differentiation, comparative studies and mentoring teachers by a competent college of the University of Surakarta Sebelas Maret
On students : difficulty of adaptation to an accelerated program overcome by socialization, by school and especially by teachers who teach subjects in accelerated classes.
The results come out an accelerated program for graduates of the first year 2009/2010 achieve 100% graduation with the results of a relatively high value compared to the results of the regular program, with details:
Indonesian : 8.86
English : 8.62
IPA : 9.37
Mathematics : 9.16
commit to user
15 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan investasi yang paling utama bagi setiap bangsa,
terutama bagi bangsa yang sedang berkembang. Dalam arti kata pembangunan
hanya dapat dilakukan oleh bangsa yang telah dipersiapkan untuk membangun
negaranya melalui pendidikan, karena pada hakekatnya pendidikan merupakan
cermin peradaban suatu bangsa. Bangsa yang peradabannya tinggi ditandai
dengan tingkat pendidikan yang relatif tinggi bagi warga negaranya.
Tingkat pendidikan yang tinggi bergantung pada mutu pendidikan yang
mana berkaitan erat dengan proses belajar mengajar. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi harus segera direspon secara positif oleh dunia
pendidikan. Salah satu bentuk respon positif dunia pendidikan adalah dengan
mengadakan perubahan kurikulum. Sikap tersebut diwujudkan dalam bentuk
usaha sekolah dengan memberikan layanan terbaik bagi semua anak didiknya.
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 ayat 4
menyebutkan bahwa warga negara yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa
berhak memperoleh pendidikan khusus.
Penyelenggaraan kelas akselerasi (percepatan belajar) dianggap salah satu
alternatif bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata-rata.
Ini dilakukan untuk mengimbangi kekurangan yang terdapat pada kelas
klasikal yang bersifat massal. Melalui program ini memungkinkan siswa dapat
menyelesaikan waktu belajar lebih cepat dari yang ditetapkan.
Herry Widyastono mengelompokkan kecerdasan dan kemampuan siswa
dalam tiga strata: anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas
rata-rata, rata-rata-rata, dan di bawah rata-rata. Siswa di bawah rata-rata memiliki
kecepatan belajar di bawah kecepatan belajar siswa umumnya. Sebaliknya, siswa
yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata-rata memiliki kecepatan
belajar di atas kecepatan belajar siswa-siswa lainnya. Siswa yang memiliki
commit to user
pendidikan dengan mengacu pada kurikulum yang berlaku secara nasional. Itu
karena kurikulum tersebut disusun terutama diperuntukkan bagi anak-anak yang
memiliki kemampuan dan kecerdasan rata-rata.
(http://www.golkar.or.id/contents/isu , diakses 20 Juli 2009)
Siswa dengan kemampuan di bawah rata-rata, diberikan layanan
pengajaran remidi (remedial teaching). Herry yang berbicara dalam seminar
Program Percepatan Belajar bagi Pengawas dan Kepala SMP Negeri dan swasta di
Jakarta mengatakan siswa yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata belum
mendapat layanan pendidikan sebagaimana mestinya, bahkan, kebanyakan
sekolah memberikan perlakuan yang standar (rata-rata), bersifat klasikal dan
massal, terhadap semua siswa, baik siswa di bawah rata-rata, rata-rata, dan di atas
rata-rata, yang sebenarnya memiliki kebutuhan berbeda. Akibatnya, siswa di
bawah rata-rata yang memiliki kecepatan belajar di bawah rata-rata akan selalu
tertinggal dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Siswa di atas rata-rata akan
jenuh karena harus menyesuaikan diri dengan kecepatan belajar siswa-siswa
lainnya. Mengutip Yaumil (1991), bahwa sekitar 30 persen siswa SMA di Jakarta
yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berprestasi di bawah
potensinya. Herry juga menemukan ada 20 persen siswa SLTP dan SD di Jawa
Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Kalimantan Barat yang memiliki kemampuan
dan kecerdasan luar biasa, berisiko tinggal kelas karena nilai rata-rata rapornya
untuk semua mata pelajaran catur wulan 1 dan 2, kurang dari enam.
Bagi siswa dalam kategori ini, perlu ada pelayanan pendidikan khusus.
Salah satu alternatif yang bisa dilakukan, dengan menyelenggarakan akselerasi,
program percepatan belajar.
Akselerasi pendidikan baik di tingkat pendidikan dasar maupun
menengah merupakan suatu kebijakan yang dikeluarkan Depdiknas, yang tertuang
dalam Undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Esensi dari program akselerasi pendidikan adalah memberikan pelayanan kepada
siswa yang mempunyai bakat istimewa dan kecerdasan luar biasa untuk mengikuti
percepatan dalam menempuh pendidikannya. Untuk tingkat pendidikan dasar,
commit to user
menempuh pendidikannya selama 5 tahun, sedangkan untuk tingkat menengah
SMP dan SMU siswa dapat menempuh pendidikannya selama 2 tahun. Melalui
program akselerasi, anak akan mendapat keuntungan, karena memperoleh bantuan
pengajaran seusai dengan bakat dan intelektualnya. Dengan program percepatan
diharapkan siswa berbakat tidak bosan di kelas, sehingga tidak menganggu,
mengacau kelas, dan anak dapat maju terus dengan cepat. Secara konseptual,
program akselerasi ini cukup bagus relevansinya dalam pengembangan bakat dan
kecerdasan anak, yaitu memberikan perhatian yang lebih kepada anak didik
yang memiliki bakat istimewa dan kecerdasan yang luar biasa, sehingga mereka
bisa mengembangkan ilmu pengetahuannya secara luas. Tetapi secara praksis,
program akselerasi memiliki kelemahan yang sangat signifikan, yaitu cenderung
berorientasi pada tingkatan kognisi saja.
Bloom mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan
tiga kemampuan dasar, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga
aspek tersebut merupakan sebuah entitas integral yang tidak dapat
dipisah-pisahkan dan berdiri sendiri. Antara aspek yang satu dengan aspek lainnya saling
berkaitan. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan hanya akan dapat tercapai
manakala ketiga aspek tersebut dapat diaplikasikan oleh guru secara seimbang
dalam proses belajar mengajar.
Menurut Herry, berkaitan dengan program akselerasi, mau tidak mau
anak didik kita dipacu untuk terus mengejar "nilai". Agar anak didik dapat
mendapatkan nilai yang "baik", guru dituntut untuk dapat menyampaikan
materinya pada anak didik dengan metode yang tepat dan singkat. Itupun
ditambah dengan adanya pelajaran tambahan yang diharapkan dapat membantu
anak didik agar nilainya tetap stabil di samping dapat mengejar materi pelajaran
agar tidak tertinggal. Realitas ini mengindikasikan bahwa akselerasi hanya
berkutat pada tataran kognisi. Sehingga dalam konteks ini, anak didik yang
tingkat kognisinya lemah akan tertinggal, sebaliknya anak didik yang tingkat
kognisinya kuat akan melaju terus. Akselerasi tidak bisa melihat "prestasi" anak
didik yang sebenarnya, karena prestasi yang sudah ada didapat melalui suatu
commit to user
dalam sekolah penyelenggara program akselerasi adalah padatnya jam belajar
anak didik dan banyaknya muatan pelajaran yang harus dipelajari. Semua itu
bermuara pada "perampasan" hak-hak anak didik dalam kehidupannya. Anak
didik kehilangan waktu untuk bermain maupun berinteraksi dengan
lingkungannya. Hal ini pada akhirnya berakibat pada teralienasinya dan
termarjinalkannya anak didik dari lingkungannya. Anak didik tidak memiliki
kesempatan untuk belajar dengan dunianya atau dengan lingkungannya tentang,
bagaimana menghargai orang lain, berempati terhadap orang lain, mengendalikan
nafsu dan lain sebagainya, yang semuanya berkaitan dengan masalah
emosionalnya. Padahal semua yang berkaitan dengan masalah emosional sangat
penting sekali bagi seseorang apabila ia ingin berhasil. Aspek kemampuan kognisi
saja tidak cukup bagi seseorang untuk dapat berhasil dalam kehidupannya. Daniel
Goleman berpendapat bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh
aspek kecerdasan kognisi saja, tetapi aspek kecerdasan emosional memegang
peranan yang sangat penting. Intelektualitas tidak dapat bekerja dengan
sebaik-baiknya tanpa disertai dengan kecerdasan emosional. Antara kecerdasan kognisi
dan kecerdasan emosional merupakan satu kesatuan yang saling mengisi dalam
membentuk keberhasilan seseorang (Goleman, 1999). Akan tetapi, ketika aspek
kognisi lebih dominan dalam praksisnya, maka pertanyaan yang muncul dalam
pikiran kita relevansinya dengan program akselerasi adalah mau dibawa kemana
anak-anak kita yang mengikuti program kelas akselerasi.
Edy Junaedi, Sastradiharja, dari sekolah AlAzhar Syifa Budi Jakarta
dalam seminar menyebut beberapa cara: sekolah khusus, kelas khusus, dan
program khusus. Untuk mengantisipasi timbulnya sikap ekslusifisme dan
mendorong tumbuhnya keterampilan sosial (social skill), dapat dilakukan
manajemen kelas dengan beberapa pola sistem pelayanan belajar. Antara lain,
pengelompokan siswa dalam kelas khusus. Siswa yang memenuhi persyaratan
masuk kelas percepatan belajar di kelas tersendiri walaupun jumlahnya sedikit;
tidak seperti kelas lainnya, Bahkan apabila jumlah siswa yang terjaring cukup
banyak, misalnya melebihi 22 siswa, akan lebih baik dibuat dua kelas yang lebih
commit to user
Selain itu, dapat pula dilakukan pengelompokan siswa dalam kelas khusus dengan
semi inklusi. Yaitu, pada sebagian mata pelajaran siswa belajar bersama sama
dengan kelas reguler. Misalnya, pada mata pelajaran yang bersifat vokasional
seperti olahraga, kesenian, komputer, muatan lokal Alquran dan mata pelajaran
lain yang lebih banyak menekankan kepada kompetensi dasar keterampilan
psikomotorik maupun afektif. Menurut dia, pengembangan strategi pembelajaran
perlu diarahkan pada terwujudnya proses belajar tuntas melalui pendekatan siswa
belajar aktif dan kreatif dengan penekanan pada pemilihan materi esensial sesuai
indikator indikator hasil belajar pada setiap kompetensi dasar dalam kurikulum
yang berlaku (http://www.golkar.or.id/contents/isu , diakses 20 Juli 2009)
Perbedaan kualitas penyelenggara layanan pembelajaran cerdas
istimewa dan perbedaan penafsiran terhadap pedoman ditambah lagi munculnya
tujuan-tujuan lain dari penyelenggaraan sekolah cerdas istimewa menyebabkan
pelaksanaan di sekolah mengalami distorsi. Akibat adanya distorsi tersebut di
tanah air terdapat berbagai macam layanan pembelajaran cerdas istimewa dengan
bobot kualitas berbeda. Dikuatirkan keragaman layanan pembelajaran cerdas
istimewa menyimpang dari pedoman bahkan bertolak belakang dengan maksud
penyelenggaraan layanan pembelajaran tersebut. Kehadiran kelas akselerasi di
sekolah banyak dipersepsikan sebagai kelas khusus atau kelas unggulan sehingga
sekolah difungsikan sebagai bagian dari nilai jual sekolah bersangkutan.
Demikian halnya mengenai tenaga pengajar, banyak guru kelas akselerasi
beranggapan kelas akselerasi adalah kelompok homogen atau sama dengan kelas
lainnya. Anggapan seperti itu tentu menghasilkan salah identifikasi/rekruitmen.
Padahal siswa cerdas istimewa harus ditanggapi dengan penyediaan layanan
pendidikan yang berbeda sesuai dengan tingkat kecerdasannya, minat dan
kebutuhannya.
SMP Negeri 1 Sragen adalah sekolah yang telah diakui keberadaannya
oleh masyarakat di kabupaten Sragen dan memiliki bermacam macam prestasi
yang dimiliki oleh para siswanya. Berdasarkan perintah lisan dari Direktur Jendral
Pembinaan Sekolah Luar Biasa pada tanggal 17 Desember 2007, bahwa SMP
commit to user
Belajar (Akselerasi) maka mulai Tahun Pelajaran 2008/2009 SMP Negeri 1
Sragen menerima peserta didik baru kelas VII (tujuh) untuk Program Akselerasi.
Dengan latar belakang tersebut di atas maka peneliti membuat judul tesis
Pelaksanaan Program Kelas Akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen tahun
2009-2010.
B. Fokus Masalah
Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada masalah yang akan dibahas
yaitu bagaimana pelaksanaan program kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pelaksanaan program Kelas akselerasi di SMP negeri 1 Sragen
yang meliputi kurikulum, pembelajaran, tenaga didik, perekrutan anak didik,
biaya pelaksanaan serta sarana prasarana ?
2. Apa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program kelas akselerasi di
SMP N 1 Sragen?
3. Bagaimana cara mengatasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan
program kelas akselerasi di SMP N 1 Sragen?
4. Bagaimana prestasi yang telah dicapai dalam pelaksanaan program kelas
akselerasi di SMP N 1 Sragen?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian tesis ini bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi
berdasarkan fakta dan data yang benar serta dapat dipercaya tentang :
1. Pelaksanaan program kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen yang meliputi
kurikulum, pembelajaran, tenaga didik, perekrutan anak didik, biaya
pelaksanaan serta sarana prasarana.
2. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program kelas akselerasi di SMP
commit to user
3. Cara mengatasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program kelas
akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen.
4. Prestasi yang telah dicapai dalam pelaksanaan program kelas akselerasi di
SMP N 1 Sragen.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
Secara teoritis:
1. Sebagai salah satu rujukan bagi peneliti lain yang memiliki kesamaan dalam
jenis masalah, situasi dan kondisinya.
2. Memberikan motivasi dalam usaha meningkatkan budaya penelitian di dunia
pendidikan.
Secara Praktis:
1. Sebagai bahan kajian, refleksi dan evaluasi dalam usaha penyempurnaan
kualitas pelaksanaan program kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen yang
meliputi kurikulum, pembelajaran, tenaga didik, perekrutan anak didik, biaya
pelaksanaan serta sarana prasarana
2. Memberikan gambaran semua fihak yang berkepentingan tentang
implementasi peningkatan kompetensi siswa pada program kelas akselerasi
di SMP Negeri 1 Sragen.
3. Memberikan gambaran kepada semua fihak tentang hambatan dalam
pelaksanaan program kelas akselerasi di SMP Negeri 1 Sragen serta cara
commit to user
22 BAB II
ORIENTASI TEORETIK
A. Pengertian Kelas Akselerasi
Menurut SW Widodo, Istilah "akselerasi" dipahami dalam berbagai bentuk.
Kebanyakan istilah ini dimengerti sebagai lompat kelas, tetapi bagi para ahli pendidikan dapat berarti provisi individual dengan berbagai cara, sehingga siswa lebih cepat belajar. Montgomery mengidentifikasi berbagai bentuk akselerasi: masuk fase pendidikan lebih dini, lompat kelas, bergabung dengan kelas yang lebih tinggi, kelas vertikal siswa berbagai umur, pelajaran ekstra, belajar secara konkruen, misalnya anak SD belajar di SMP, penyelesaian silabus dalam sepertiga waktu yang seharusnya, mengorganisasi belajar sendiri berbeda dengan anak lain di kelas yang sama, belajar melalui mentor, misalnya nara sumber, dan kursus melalui korespondensi.( http://www.golkar.or.id/contents/isu , diakses 20 Juli 2009)
Secara spesifik kelas akselerasi yang diartikan kelas percepatan adalah
kelas yang terdiri dari sejumlah siswa yang mendapat pelayanan pendidikan
sesuai potensi kecerdasan dan bakat istimewa yang dimiliki, dengan memberi
kesempatan kepada mereka untuk dapat menyelesaikan program reguler dalam
jangka waktu yang lebih singkat dibanding teman-temannya.
(Depdiknas, 2003: 27).
Pelayanan pendidikan bagi siswa yang memiliki kecerdasan istimewa dan
bakat istimewa dapat berupa program pengayaan (enrichment) dan gabungan
program percepatan dengan pengayaan (acceleration – enrichment)
1. Program pengayaan adalah pemberian pelayanan pendidikan kepada peserta
didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa yang
dimiliki, dengan penyedian kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang
bersifat perluasan/pendalaman, setelah yang bersangkutan menyelesaikan
tugas-tugas yang diprogramkan untuk peserta didik lainnya. Program ini
cocok untuk peserta didik yang bertipe ”enriched learner”
Bentuk layanan ini antara lain dengan memperkaya materi melalui
kegiatan kegiatan penelitian dan sebagainya. Disamping itu ada kemungkinan
commit to user
terutama apabila ia akan mengikuti lomba kejuaraan untuk mata pelajaran
tertentu (misal: mengikuti olympiade matematika, biologi, fisika atau yang
lainnya). Penekanan atau fokus layanan untuk kelompok ini adalah pada
perluasan atau pendalaman materi yang dipelajari dan bukan kecepatan waktu
belajar di kelas. Artinya siswa kelompok tetap menyelesaikan pendidikan di
SD/MI dalam jangka waktu 6 tahun atau di SMP/MTS dan SMA/MA dalam
waktu 3 tahun.
2. Gabungan program percepatan dan pengayaan (acceleration-enrichment)
adalah pemberian pelayanan pendidikan peserta didik yang memiliki potensi
kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk dapat menyelesaikan program
reguler dalam waktu yang singkat dibanding teman teman yang tidak
mengambil program tersebut. Artinya peserta didik kelompok ini dapat
menyelesaikan pendidikan di SD/MI dalam jangka waktu 5 tahun, di
SMP/MTS atau SMA/MA dalam waktu 2 tahun.
Dalam progaram ini peserta didik tidak semata mata memperoleh
percepatan waktu penyelesaian studi di sekolah, tetapi sekaligus memperoleh
eskalasi atau pengayaan materi dengan penyediaan kesempatanan fasilitas
belajar tambahan yang bersifat perluasan/ pendalaman. Pemberian pelayanan
akselerasi tanpa palayanan eskalasi atau pengayaan materi pada dasarnya
sangat merugikan peserta didik (Stanley dan Semiawan C, dalam Depdiknas
2009: 33-34).
Dari aspek kurikulum, pendidikan untuk anak cerdas istimewa membutuhkan
diferensiasi kurikulum yaitu memberikan tugas dan kegiatan belajar yang
berbeda dari rata-rata anak seusianya sesuai dengan kebutuhan belajarnya.
Davis & Rimm berpendapat bahwa :
commit to user
Artinya : Diferensiasi kurikulum bagi peserta didik cerdas istimewa
dapat dilakukan melalui tiga jalur: enrichment (pengayaan) yaitu kegiatan
belajar yang memungkinkan perluasan materi kurikulum, extension
(pendalaman) yaitu kegiatan belajar yang memungkinkan investigasi bidang
studi secara lebih mendalam, dan acceleration (percepatan) yaitu kegiatan
belajar yang memungkinkan untuk menyelesaikan materi belajar dalam waktu
yang lebih singkat. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa,
“Enrichment means to enrich, expand, and develop: knowledge / information, understanding, application and integration, process thinking, strategies and skills, physical appearance, attitudes toward high-level abstract thinking, and / or performance at a level of complexity appropriate developmental level of learners”. (Davis & Rimm, 1998).
Artinya: Pengayaan berarti memperkaya, memperluas, dan
mengembangkan: pengetahuan/informasi, pemahaman, aplikasi dan integrasi,
proses berpikir, strategi dan keterampilan, tampilan fisik, sikap terhadap
pemikiran abstrak tingkat tinggi, dan/atau kinerja pada suatu tingkat
kompleksitas sesuai tingkat perkembangan peserta didik .
Kegiatan pengayaan dapat dilakukan dalam beberapa bentuk seperti
studi ekskursi, topik-topik pilihan, projek individual ataupun kelompok, serta
penelitian. Kegiatan pendalaman dapat dilakukan dalam bentuk pembelajaran
berbasis ICT, pusat-pusat pembelajaran (learning centre) sesuai bidang studi,
kontrak pembelajaran mandiri, mentoring, kompetisi bidang studi, ataupun
pembelajaran berbasis sumber daya belajar (resource based learning).
B. Landasan Hukum Pelaksanaan Kelas Akselerasi
Dasar hukum pelaksanaan program percepatan belajar siswa adalah
sebagai berikut:
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1989 tentang sistem
Pendidikan Nasional, Bab IV Peserta didik, Pasal 24 yang isinya:
Setiap peserta didik pada suatu pendidikan mempunyai hak-hak berikut:
commit to user
Mengikuti program pendidikan yang bersangkutan atas dasar pendidikan
berkelanjutan, baik untuk mengembangkan kemampuan diri maupun untuk
memperoleh pengakuan tingkat pendidikan tertentu yang telah dibakukan.
Menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang
ditentukan.
2. Undang-undang RI No. 2 Tahun 1998 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
BAB III Pasal 8 ayat 2 dinyatakan bahwa "Warga Negara yang memiliki
kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus
3. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
kembali menegaskan bahwa: “Warga Negara yang memiliki potensi kecerda san dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus” (Pasal 5 ayat 4). Pasal 12 ayat 1, Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:
Mendapatkan pelayanan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.
Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar
masing-masing.
4. Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 Pasal 8 Ayat 2
5. Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 Pasal 24 Ayat 1, Pasal 24 Ayat 2, Pasal
24 Ayat 6
6. Keputusan Mendiknas No. 048/U/1992 Pasal 16.
C. Kurikulum Kelas Akselerasi
1. Pengertian kurikulum secara umum
Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan
proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah
atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya. (S.Nasution, 2008: 5).
Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang
studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan
commit to user
dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang
telah ditetapkan dapat tercapai.
Kurikulum juga dapat diartikan sebagai suatu gagasan pendidikan yang
diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau
jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang
dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk
seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
2. Pengertian kurikulum menurut UU No. 20/2003
Menurut UU No. 20/2003 BAB I Pasal 1 Ayat 19, definisi kurikulum
adalah: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu”.
Kurikulum pendidikan khusus bagi PDCI/BI ( Peserta Didik Cerdas
Istimewa/ bakat Istimewa) dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah
serta melibatkan tenaga ahli dari lingkungan perguruan tinggi, berpedoman
pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan
kurikululum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan pada prisip
prinsip berikut.
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik dan lingkungannya
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prisip bahwa peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk
mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi
peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
commit to user
b. Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman
karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang serta jenis pendidikan,
tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status
ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan
wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu,
serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan
tepat antar substansi.
c. Tanggapan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,
dan seni.
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis dan oleh
karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk
mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni.
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku
kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan
kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan,
dunia usaha, dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan ketrampilan
pribadi, ketrampilan berpikir, ketrampilan sosial, ketrampilan akademik,
dan ketrampilan vokasional merupakan keniscayaan karena pada akhirnya,
peserta didik yang telah menyelesaikan seluruh pendidikan akan berkiprah
di masyarakat sebagai professional, akademisi dan sebagainya.
e. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi,
bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan
disajikan secara berkesinambungan antara semua jenjang pendidikan.
f. Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan pada proses pengembangan , pembudayaan
commit to user
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan
formal, non formal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan
tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan
manusia seutuhnya.
g. Seimbang antara kepentingan Nasional dan kepentingan Daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan
nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan
kepentingan daerah harus saling mengisi dan memperdayakan sejalan
dengan motto bhinneka tunggal ika dalam kerangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan
menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan
kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi
dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan
pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk
mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis, dan menyenangkan.
2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar,
yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar
untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar
untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar
untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
3) Pelasanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat
pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan
sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik
dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi
peserta didik yang berdimensi keTuhanan, keindividuan, kesosialan,
commit to user
4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan
pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan
hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madya mangun karsa,
ing ngarsa sung tulada ( di belakang memberi daya dan kekuatan, di
tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan
contoh dan teladan).
5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multi
strategi dan multi media, sumber belajar dan teknologi yang memadai,
dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan
prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan
berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan
alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial
dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan
dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata
pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam
keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan
memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan.
Kurikulum pendidikan khusus bagi PDCI/BI adalah kurikulum
tingkat satuan pendidikan yang berdiferensiasi dan dimodifikasi serta
dikembangkan melalui system pembelajaran yang dapat memacu dan
mewadahi integrasi antara pengembangan spiritual, logika, nilai nilai, etika
dan estetika, serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir holistik,
kreatif, sistemik dan sistematis, linear dan konvergen, untuk memenuhi
tuntutan masa kini dan masa mendatang.
Kurikulum pendidikan khusus bagi PDCI/BI dikembangkan secara
berdiferensiasi, mencakup 5 (lima) dimensi yang terintegrasi sebagai
berikut :
commit to user
Bagian kurikulum yang merupakan kurikulum inti yang
memberikan pengetahuan ketrampilan dasar, pemahaman nilai, dan
sikap yang memungkinkan peserta didik berfungsi sesuai dengan
tuntutan masyarakat atau tuntutan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Kurikulum inti merupakan kurikulum dasar yang diberikan pula kepada
peserta didik lain dalam jenjang pendidikan tersebut.
2) Dimensi diferensiasi
Bagian kurikulim yang berkaitan erat dengan ciri khas
perkembangan peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan
istimewa, yang merupakan program khusus dan pilihan terhadap bidang
studi tertentu serta diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat
tertentu lainnya. Peserta didik memilih bidang studi/bidang
pengembangan bakat yang diminati untuk dikuasai secara luas dan
mendalam.
3) Dimensi Media Pembelajaran
Implementasi kurikulum berdiferensiasi bagi peserta didik yang
memiliki potensi kecerdasan istimewa menuntut adanya penggunaan
media pembelajaran seperti belajar melalui radio, televisi,
internet,CD-ROM.Pusat Belajar dan Riset Guru ( Teacher Research and Resource
Centre ), wawancara pakar, dan sebagainya.
4) Dimensi suasana belajar
Pengalaman belajar yang dijabarkan dari lingkungan keluarga
dan sekolah harus nampu menciptakan iklim akademis yang
menyenangkan dan menantang, system pemberian apresiasi hubungan
antar peserta didik, antar guru dan peserta didik, antara guru dan orang
tua peserta didik, dan antara orang tua dan peserta didik yang saling
menerima dan menghargai, akrab, terbuka serta hangat dengan prinsip
tut wuri handayani.
5) Dimensi co-kurikuler
Sekolah memberi kesempatan kepada siswa untuk menambah
commit to user
kunjungan ke museum sejarah dan budaya, panti asuhan, pusat kajian
ilmu pengetahuan, cagar alam dan lain lain.
3. Kurikulum Diferensiasi
Pengertian kurikulum berdiferensiasi menunjuk pada kurikulum yang
tidak berlaku umum, melainkan dirancang khusus untuk kebutuhan tumbuh
kembang bakat tertentu.(Semiawan 1992 dalam Hawadi 2001)
Inti dari mendidik anak berbakat adalah kurikulum berdiferensiasi,
diferensiasi tersebut berdasarkan kebutuhan dari setiap anak . Kondisi
kebutuhan merupakan dasar dari pengembangan kurikulum yang merupakan
esensi dari berdiferensiasi.
Istilah diferensiasi memiliki arti yaitu isi pelajaran yang menunjuk
pada konsep dan proses kognitif tingkat tinggi, strategi instruksional yang
akomodatif dengan gaya belajar anak berbakat, dan rencana yang
memfasilitasi kinerja siswa (Clendening and Davies, 1983 dalam Hawadi
2001)
Diferensiasi kurikulum hendaknya dikembangkan dengan berfokus
pada:
a. Kecepatan belajar yang dipercepat dengan pengulangan(repetisi) minimal
b. Penguasaan kurikulum nasional dalam waktu lebih singkat
c. Materi lebih abstrak, lebih kompleks, lebih mendalam
d. Penggunaan ketrampilan belajar dan menerapkan strategi pemecahan
masalah
e. Beroreantasi pada peserta didik
f. Belajar berkelanjutan serta menerapkan ketrampilan penelitian
g. Bekerja secara mandiri
h. Adanya interaksi antar pakar
Diferensiasi kurikulum hendaknya dilakukan pada segenap elemen
yang terdiri dari: materi, proses, produk, dan lingkungan belajar (Davis &
Rimm, 1998)
Diferensiasi materi dilakukan dengan melakukan penyesuaian
commit to user
a. Tingkat abstraksi materi
b. Tingkat kompleksitas materi
c. Tingkat variasi materi
d. Melibatkan pengorganisasian nilai belajar
e. Memasukkan unsure studi tentang manusia, yakni tidak sekedar
mempelajari teori, tapi juga tokoh yang menemukan atau mengembangkan
suatu teori.
f. Studi tentang metode misalnya metode belajar dan metode penelitian.
Diferensiasi proses dilakukan dengan melakukan penyesuaian
kebutuhan belajar peserta didik dengan mempertimbangkan :
a. Penggunaan ranah kognitif tingkat tinggi
b. Tugas yang bersifat divergen
c. Memungkinkan penemuan penemuan
d. Menuntut bukti penalaran
e. Memberikan kebebasan utuk memilih pada peserta didik
f. Melibatkan interaksi kelompok
g. Menerapkan berbagai variasi kecepatan belajar sesuai kebutuhan peserta
didik
Diferensiasi produk dilakukan dengan melakukan penyesuaian
kebutuhan belajar peserta didik dengan mempertimbangkan :
a. Produk yang terkait dengan pemecahan masalah nyata dalam kehidupan.
b. Produk disajikan untuk narasumber yang nyata, misalnya: topik tentang
hutan dapat mengundang narasumber dari dinas kehutanan.
c. Transformasi produk dari satu bentuk ke bentuk lain, misal: produk verbal
berupa lukisan diubah menjadi berupa drama atau gambar.
d. Perlu dipertimbangkan produk dengan berbagai variasi, format produk
dapat ditentukan sendiri oleh peserta didik.
e. Dilakukan evaluasi produk yang tepat.
Diferensiasi lingkungan perlu dilakukan, karena lingkungan
memberikan pengaruh terhadap optimalisasi pengembangan potensi peserta
commit to user
a. Belajar dalam lingkungan yang aktual yakni belajar di lapangan sesuai
topik yang dipelajari.
b. Adanya batasan waktu yang fleksibel.
c. Lingkungan belajar hendaknya memungkinkan penelitian yang mendalam.
d. Jika memungkinkan peserta didik dapat bekerjasama dengan mentor.
Oleh karena itu penting bagi sekolah untuk menjalin jejaring dengan
mentor sesuai dengan kebutuhan peserta didik di sekolah tersebut.
4. Model Penyelenggaraan Pendidikan Khusus Bagi PDCI/BI
a. Pembelajaran
Penyelenggaran akselerasi harus dibedakan antara streaming dan setting.
Streaming berarti kategorisasi siswa pada kemampuannya secara
keseluruhan, sedangkan setting berarti kategorisasi yang didasarkan pada
assesmen independen dari kemampuan setiap subjek (SW Widodo
2007:1). Para ahli pendidikan berpendapat bahwa dalam akselerasi lebih
baik digunakan setting daripada streaming. Secara umum ada dua macam
setting akselerasi, yakni di kelas khusus dan di kelas campuran. Banyak
penelitian menunjukkan bahwa kelas khusus (hanya untuk siswa potensial)
lebih efektif untuk tujuan akselerasi. Namun kelas khusus ini harus
mendapatkan perlakuan berbeda dengan kelas lain, sesuai dengan tujuan
akselerasi. Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa akselerasi di kelas
khusus ini keberhasilannya lebih nyata untuk segmen kurikulum yang
lebih hierarkis dan abstrak, seperti dalam subjek-subjek matematika, ilmu
eksakta dan bahasa asing.
b. Bentuk Penyelenggaraan Pendidikan Khusus bagi PDCI/BI
Penyelenggaraan Pendidikan Khusus bagi PDCI/BI dapat
dilakukan dalam bentuk kelas khusus, kelas inklusi, dan satuan pendidikan
khusus.
1) Kelas khusus adalah kelas yang dibuat untuk kelompok peserta didik
yang memiliki potensi kecerdasan istimewa dalam satuan pendidikan
regular pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Mata pelajaran
commit to user
mata-mata pelajaran yang termasuk dalam rumpun matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
2) Kelas inklusi adalah kelas yang memberikan layanan kepada peserta
didik peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan istimewa dalam
proses pembelajaran bergabung dengan peserta didik program reguler.
Mata pelajaran yang diberikan pada saat peserta didik CI/BI di kelas
khusus adalah mata-mata pelajaran di luar rumpun matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
3) Satuan pendidikan khusus adalah lembaga pendidikan formal pada
jenjang pendidikan dasar (SD/MI, SMP/MTs) menengah (SMA/MA,
SMK/MAK) yang semua peserta didik yang memiliki potensi
kecerdasan istimewa dan/atau bakat istimewa.
c. Bentuk Program Pendidikan Khusus bagi PDCI/BI
Layanan pendidikan untuk peserta didik Cerdas Istimewa dapat
berupa program pengayaan (enrichment) dan gabungan program
percepatan dengan pengayaan (acceleration-enrichment).
1) Program pengayaan adalah pemberian pelayanan pendidikan kepada
peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan / atau bakat
istimewa yang dimiliki, dengan penyedian kesempatan dan fasilitas
belajar tambahan yang bersifat perluasan atau pendalaman , setelah
yang bersangkutan menyelesaikan tugas –tugas yang diprogramkan untuk peserta didik lainnya. Program ini cocok untuk untuk peserta
didik yng bertipe enriched learner.
Bentuk layanan ini antara lain dilakukan dengan memperkaya
materi materi melalui kegiatan penelitian dan sebagainya. Disamping
itu ada kemungkinan juga peserta didik tersebut mendapatkan
pengayaan dengan pendalaman, terutama bila ia akan mengikuti
lomba kejuaraan untuk mata pelajaran tertentu (misal : mengikuti
olympiade matematika, biologi, fisika atau yang lainnya). Penekanan
(focus) layanan untuk kelompok ini adalah pada perluasan/
commit to user
belajar di kelas. Artinya siswa kelompok ini tetap menyelesaikan
pendidikan di SD/MI dalam jangka waktu 6 tahun, atau di SMP/MTs
dan SMA/MA dalam waktu 3 tahun.
2) Gabungan program percepatan dengan pengayaan (
acceleration-enrichment) adalah pemberian pelayanan pendidikan peserta didik
yang memiliki potensi kecerdasan dan / atau bakat istimewa untuk
dapat menyelesaikan program regular dalam jangka waktu yang lebih
singkat dibanding teman-temannya yang tidak mengambil program
tersebut. Artinya peserta didik kelompok ini dapat menyelesaikan
pendidikan di SD/MI dalam jangka waktu 5 tahun, di SMP/MTS atau
SMA/MA dalam waktu 2 tahun.
Dalam program ini, peserta didik tidak serta merta
memperoleh percepatan waktu penyelesaian studi sekolah, tetapi
sekaligus memperoleh eskalasi atau pengayaan materi dengan
penyediaan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat
perluasan/pendalaman. Pemberian layanan akselerasi tanpa
melakukan eskalasi atau pengayaan materi pada dasarnya sangat
merugikan peserta didik (Semiawan, C., 1997 dalam Depdiknas:
2009)
Pengayaan dapat dilakukan secara horizontal maupun vertikal.
Pengayaan horizontal menunjuk pada pengalaman belajar di tingkat
pendidikan yang sama, tetapi bersifat lebih luas, sedangkan yang
vertikal makin meningkatkan dalam kompleksitasnya (Semiawan, C.
1997 dalam Depdiknas: 2009)
Bentuk layanan ini antara lain melalui kegiatan kegiatan
penelitian ketika peserta didik tersebut mengikuti lomba kejuaraan
untuk mata pelajaran tertentu, misal: mengikuti olimpiade
matematika, biologi, fisika atau yang lainnya.)
Penelitian memang penting sebagai upaya mengembangkan
kompetensi keilmuan pada anak-anak cerdas dan berbakat istimewa (CI/
commit to user
seperti yang selama ini terjadi di sekolah-sekolah, yaitu menyelesaikan
standar kompetensi yang telah ditetapkan BSNP, sehingga fokusnya pada
daya serap materi. Model pembelajaran semacam itu sangat sedikit sekali
mengekplorasi kemampuan atau potensi anak CI/BI , yang tidak saja
memiliki IQ kategori very superior, tetapi juga memiliki komitmen pada
tugas serta kreativitas yang baik.
d. Kelembagaan
Penyelenggaraan pendidian khusus bagi PDCI/BI dalam bentuk
kelas khusus dan kelas inklusi dilakukan pada satuan pendidikan yang
sudah beroperasi atau berjalan. Satuan pendidikan yang dapat membuka
dan menyelenggarakan pendidikan khusus bagi Pendidik CI/BI harus
memenuhi kriteria minimal sebgai berikut:
1) SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA negeri atau swasta yang bernaung di
bawah badan hukum dan memiliki ijin operasional di bidang
pendidikan.
2) Sekolah katagori mandiri
3) Telah melaksanakan kurikulum sesuai Permendiknas no. 22, 23, 24
tahun 2006.
4) Terakreditasi dengan katagori A
Sementara itu sekolah khusus yang ditujukan untuk
menyelenggarakan pendidikan khusus bagi PDCI/BI dapat didirikan oleh
pemerintah maupun masyarakat dalam bentuk badan hukum pendidikan.
Pemerintah menyelenggarakan sekurang kurangnya 1 (satu) satuan
pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus
bagi PDCI/BI. Lembaga swasta yang dapat mendirikan sekolah untuk
pendidikan khusus bagi PDCI/BI adalah badan hukum yang telah memiliki
kompetensi dan kapabilitas dalam bidang pendidikan.
Pendidikan khusus bagi PDCI/BI di satuan pendidikan SD/MI
melaksanakan program pendidikan dengan menggunakan system paket,
sedangkan pada satuan pendidikan SMP/MTs, SMA/MA menggunakan
commit to user
System paket adalah system penyelenggaraan program pendidikan
yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program
pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas
sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan.
Beban belajar setiap mata pelajaran pada System Paket dinyatakan dalam
satuan jam pembelajaran.
Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang
dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran
melalui system tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri
tidak terstruktur. Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang
berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang
oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian
penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. Kegiatan mandiri tidak
terstruktur adalah kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi
pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk
mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh
peserta didik.
System kredit semester adalah system penyelenggaraan program
pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan
mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan.
Beban belajar setiap mata pelajaran pada system kredit semester
dinyatakan dalam satuan kredit semester (SKS). Beban belajar satu SKS
meliputi satu jam pembelajaran tatap muka, satu jam penugasan
terstruktur, dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur.
e. Peserta Didik
Peserta Didik kelas akselerasi adalah siswa yang telah
diidentifikasi sebagai siswa berbakat dan berkemampuan tinggi, yang
diseleksi dari kelas 6 reguler melalui:
1) Seleksi Nilai
Nilai rata-rata SKHU minimal 90
commit to user
2) Tes Akademik (Bhs. Indonesia, Bhs. Inggris, Matematika dan IPA)
3) Psikotes dengan mengacu pada Teori Keberbakatan Renzuli yaitu
meliputi pengukuran aspek: intelegensi, kreatifitas dan komitmen
4) Tes Kesehatan (tidak buta warna dan bebas narkoba)
5) Wawancara
6) Observasi guru
7) Berminat dan mendapat persetujuan dari orangtua/wali siswa
Identifikasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan
bakat istimewa dalam Program Percepatan belajar adalah :
”Mereka yang oleh psikolog dan/atau guru diidentifikasikan
sebagai peserta didik yang telah mencapai prestasi memuaskan, dan
memiliki kemampuan intelektual umum yang berfungsi pada taraf cerdas ,
kreatifitas yang memadai, dan keterikatan terhadap tugas yang tergolong
baik” (Depdiknas, 2003: 14)
Berikut disampaikan 14 ciri ciri keberbakatan dalam
mengidentifikasikan peserta didik yang tergolong memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa (Balitbang Depdikbud: 1986, dalam
Depdiknas, 2003: 15)
1) Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pemikirannya )
2) Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan
3) Memiliki kemampuan tinggi dalam berfikir logis dan kritis
4) Mampu belajar/bekerja secara mandiri
5) Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa)
6) Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatan
7) Cermat dan teliti dalam mengamati
8) Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan
masalah
9) Mempunyai minat luas
10) Mempunyai daya imajinasi yang tinggi
11) Belajar dengan mudah dan cepat
commit to user
13) Mampu berkonsentrasi, dan
14) Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar.
Tes psikologis peserta didik akselarasi meliputi 3 jenis tes
psikologis, yaitu
1) Kemampuan intelektual
2) Kreatifitas
3) Keterikatan dengan tugas
Peralatan tes yang digunakan untuk menjaring calon peserta didik
pendidikan khusus bagi PDCI/BI untuk masing masing jenis tes psikologis
dapat dilihat pada tabel berikut. (Depdiknas 2009: 76-78).
Kemampuan Intelektual
Satuan Penjaringan Penyaringan
SD/MI Colour Progressive
Matrix
Wechsler Intelligence Scale for
Children, Stanford Binet atau Culture
Fair Intelligence Tes Skala 2A/2B
SMP/MTS Spearmen
Progressive Matrix
Wechsler Intelligence Scale for
Children atau Culture Fair
Intellignce Test Scale 2A/2B
SMA/MA Culture Fair
Intelligence Tes
Scale 3A / 3B
Wechler Adult Intelligence Scale
atau Intelligence Structure Test
No Jenis Tes IQ Minimal
1. Culture Fair Intelligence Tes
Skala 2A/2B
Culture Fair Intelligence Tes
Skala2A/2B
Culture Fair Intelligence Tes
Skala 2A/2B
VERY SUPERIOR = 130
VERY SUPERIOR = 130
commit to user
2. Colour Progressive Matrix GRADE 1 PERCENTIL 95
3. Stanford Binet Test VERY SUPERIOR = 140
4. Wechsler Intelligence Scale for
Children (SD?MI)
Wechsler Intelligence Scale for
Children(SMP/MTS)
Wechsler Adult Intelligence
Scale (SMA/MA)
VERY SUPERIOR = 130
VERY SUPERIOR = 130
VERY SUPERIOR = 130
5. Intelligence Structure Test
(SMA)
VERY SUPERIOR = 130
Kreativitas
No Satuan Tes Kreatifitas
1. SD/MI Tes Kreativitas Figural (yang disusun oleh
Utami Munandar)
2. SMP/MTs Tes Kreatifitas Figural dan Tes Kreatifitas
Figural (yang disusun oleh Utami Munandar)
3. SMA/MA Tes Kreatifitas Figural dan Tes Kreatifitas
Figural (yang disusun oleh Utami Munandar)
Skala task commitment, yang mengacu pada indikator :
1) Tangguh dan ulet
2) Mandiri dan bertanggung jawab
3) Menetapkan tujuan aspirasi yang realistis dengan resiko sedang
4) Suka belajar dan mempunyai oreantasi pada tugas yang tinggi
5) Konsentrasi baik
6) Mempunyai hasrat untuk meningkatkan diri ( working Improvement)
7) Mempunyai hasrat bekerja sebaik baiknya ( working the best he/she
can )
commit to user
Tes Penunjang ( Tes Proyektif)
No. Satuan Tes Grafis
1. SD/MI Draw A Peson, House Tree Person
2. SMP/MTs Draw A Peson, House Tree Person,
BAUM
3. SMA/MA Draw A Peson, Wartegg, Baum
Hak-hak peserta didik yang mengikuti program pendidikan khusus
CI/BI adalah sebagai berikut:
1) Mendapatkan pendidikan agama yang sesuai dengan agama yang
dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.
2) Memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat
kemampuan, kecerdasan dan kecepatan belajar, serta kebutuhan
khususnya.
3) Memperoleh fasilitas belajar dan bantuan lain sesuai dengan
persyaratan dan ketentuan yang berlaku.
4) Menyelesaikan program pendidikan lebih cepat dari waktu yang telah
ditentukan.
5) Mendapat beasiswa atau biaya pendidikan dari pemerintah, pemerintah
daerah, dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau
orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan.
6) Pindah ke program/sekolah regular yang sederajat.
7) Memeperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan
sarana fisik dan non fisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran.
8) Ikut serta dalam kegiaatan organisasi peserta didik di satuan
pendidikan yang bersangkutan.
9) Memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses
pembelajaran yang diikuti, termasuk hasil belajar.
10) Memperoleh jaminan hukum sama seperti peserta didik pada
commit to user
f. Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pengajar kelas akselerasi adalah guru yang memiliki kompetensi
paedagogik, profesional, sosial dan kepribadian yang baik.Walaupun
sudah tidak menjadi satu-satunya sumber ilmu dan pengetahuan, posisi
guru dalam proses pembelajaran masih dirasakan memegang peran yang
sangat penting. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, pertama adalah
sebagai orang yang diharapkan mampu memberikan makna dari setiap
materi yang disampaikan kepada siswa atau terhadap setiap obyek
pengetahuan yang telah diperoleh siswa.
1) Kepribadian
Seorang pendidik hendaknya memiliki kepribadian yang:
a) Mampu berempati
b) Percaya diri
c) Sabar
d) Objektif dan adil
e) Fleksibel dalam berpikir
f) Kreatif
g) Memiliki rasa humor
h) Mampu mengapresiasi peserta didik
i) Memiliki minat yang besar untuk mengembangkan kemampuan
belajar anak
j) Cerdas & berpengetahuan luas
k) Pekerja keras & berorientasi pada prestasi (achievement
motivation)
l) Antusias & dapat memotivasi siswa
m) Mampu bekerjasama dengan semua pihak yang terkait
2) Kompetensi
Kompetensi yang harus dimiliki seorang pendidik akselerasi adalah :
a) Menguasai substansi mata pelajaran yang diampu.
b) Mampu mengelola proses pembelajaran peserta didik yang