• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran-saran

Penelitian ini diharapkan ada penelitian lanjutan mengenai Fenomena Pernikahan Sirri Di Kalangan Kyai menurut Teori Mashlahah

Berdasarkan hasil temuan penelitian, maka dapat ditunjukkan beberapa saran antara lain:

1. Pada orang tua dan pendidik seyogyanya menanamkan jiwa moral dan agama terhadap anak-anaknya sebagai bekal untuk dalam hidupnya agar tidak sempit pemahamannya terhadap ajaran agama (dalam hal ini ajaran tentang hukum pernikahan sirri), dan nantinya diharapkan untuk tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan syariat Islam maupun hukum positif, salah satunya praktik nikah sirri.

2. Para ulama, kyai, dan ormas Islam seharusnya tidak mempraktekkan pernikahan sirri namun hendaklah menyebarluaskan jiwa keagamaan

dan aqidah dalam diri umat dan generasinya, yang pada gilirannya akan memperluas pengetahuan agama mereka, yang dalam hal ini pengetahuan tentang hukum pernikahan yang bukan hanya berdasarkan pada pemenuhan hukum syar'i saja tapi juga harus memenuhi hukum positif.

3. Pada pemerintah, hendaknya memberikan kebijakan-kebijakan yang dapat mencegah ataupun menghilangkan praktik nikah sirri, misalnya memberikan saksi yang tegas atau dengan mempermudah pernikahan dengan menghilangkan biaya pernikahan bagi orang-orang yang tidak mampu atau mempermudah dalam pengurusan akta nikah.

DAFTAR PUSTAKA

Abullah Abdul Gani, Himpunan Perundang-undangan dan Peraturan Peradilan Agama, Jakarta : PT. Intermasa

Aini Farhatul. 2009. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Nikah Sirri dan Dampaknya pada Masyarakat di Desa Pekong Kabupaten Pamekasan. Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga.

Ali Zainuddin, 2009, Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.

Asmuni A. Rahman,1976, Qoidah – Qoidah Fikih, Jakarta : Bulan Bintang

As Sidiqi Muhtar. 2007. Nikah Sirri di Kecamatan Klaten Utara (Sebuah Tinjauan Secara Yuridis Dan Normatif). Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

As Suyuti, 1995,Al-Asybah wa Al-Nazha’ir,Bairut: Dar al-Fikr

Az-Zuhaili Wahbah. 1989. Terjemah Al-Fiqh al-Islâmî wa Adilatuhu, Damaskus:

Dâr al-Fikr.

Baedowi Ahmad. 2006. Fenomena Nikah Sirri di Kalangan Mahasiswa. Jurusan Syari’ah STAIN Jember.

Bakri Asafri Jaya, 1996, Fiqh Maqashid Syariah menurut Al-Syartibi, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Bisri A. Mustofa, 2003, Percik-percik Keteladanan Kyai Hamid Ahmad Pasuruan (Rembang Lembaga Informasi dan Studi Islam (L‟ Islam) Yayasan Ma`had as-Salafiyah

Busrianti. 2013. Fiqih Munakahat, Jember, Stain Jember Press.

Bungin Burhan. 2001. Metodelogi Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta:Balai Pustaka.

Depdiknas. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga , Jakarta: Balai Pustaka.

Dhofier Zamakhsyari, 1982, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES

Djamas Nurhayati, 2008, Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia Pasca kemerdekaan, Jakarta: PT Raja Grafinda Persada

Happy Susanto, Nikah Sirri apa untungnya, Jakarta selatan: Transmedia Pustaka Hsubky Badruddin, 1995, Dilema Ulama dalam Perubahan Zaman, Jakarta:

Gema Insani Press

Ibn Taimiyah Al-‘Alamah Taqiyuddin, Ahkâm Zawaj. Kitab Digital: al-Maktabah asy-Syamilah.

Jalil Abdul (eds), 2000, Fiqh Rakyat (Pertautan Fiqh dengan Kekuasaan), Yogyakarta: LkiS.

Khalil Rasyad Hasan. 2009. Tarikh Tasyri’, sejarah legislasi hukum Islam,Jakarta:Amzah.

Lestari Wiwit Puput. 2012. Status Anak Hasil Perkawinan Sirri Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif. Skripsi mahasiswa Purwokerto,IAIN Purwokerto.

Lexy J. Moleong, 2016, Metodologi Penelitian Kualitatif ,Bandung, PT. Remaja Rosdakarya,

Lubis Saiful Akhyar, 2007, Konseling Islami Kyai dan Pesantren, Yogyakarta:ELSAQ Press

Majâh Ibnu, Al-Ahkâm, no 2341

Manan Abdul. 2006. Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.

Masduki Irwan, Nikah Sirri dan Istbat Nikah dalam Pandangan Lembaga Bahtsul Masail, Jurnal Musâwa, Vol. 12 No 2 Juli 2013, 194-195 / diakses pada 17 Maret 2018

Mawardi. 1984. Hukum Perkawinan dalam Islam. Yogyakarta: BPFE.

Mujib M. Misbahul, 2014 “Bisakah Lembaga Hukum Adat Meminimalisir Pernikahan Sirri?” jurnal al-Ahwâl vol. 7

Musfiqon. 2012. Panduan Lengkap Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta:

Prestasi Public Publisher.

Muhammad Tholchah Hasan dkk. 2002. Metodelogi Penelitian Kualitatif Tinjauan Teoritis dan Praktis, Malang: Lembaga penelitian Unisma.

Munawwir, 1984, Kamus al-Munawwir, Yogyakarta.

Narbuko Cholid, Abu Achmadi. 2010. Metodelogi Penelitian, Jakarta: PT Bumi Aksara.

Nasution Khoirun, 2005 Hukum Perkawinan 1, Yogyakarta : Academia+ Tazzafa Noeh Munawar Fuad dan Mastuki HS, 2002, Menghidupkan Ruh Pemikiran KH.

Ahmad Siddiq, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Pujiono, 2012, Hukum Islam dan Dinamika Perkembangan Masyarakat (Menguak Pergeseran Perilaku Kaum Santri), Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Rasyid Hamdan, 2007, Bimbingan Ulama; Kepada Umara dan Umat Jakarta:Pustaka Beta

Rasjid Sulaiman, 1992, Fiqh Islam, Bandung: CV Sinar Baru.

Sarwat Ahmad. 2011. fiqh al-hayat seri fikh kehidupan (8) pernikahan, Jakarta selatan: DU Publishing.

Syahrani Riduan, 1987, Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil Jakarta: PT. Media Sarana Press, Cetakan I

Team kajian ilmiah ahla_shuffah1 03. 2013. Kamus Fiqh, Kediri :Lirboyo press.

Tim Penyusun IAIN Jember. 2017.Pedoman Penelitian Karya Ilmiyah, Jember:IAIN Jember Press.

Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 1987 pasal 1 ayat 6 Tentang Protokol.

Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002, pasal 39 ayat 2 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Khallaf Abdul Wahab, 1983, Kaidah-Kaidah Hukum Islam, Bandung:Risalah

Zahro Ni’matuz. 2010. Fenomena Nikah Sirri Masyarakat Kuta. Fakultas Syari’ah: UIN Sunan Kalijaga.

Uraidy Ali, Pekawinan Sirri dan Akibat Hukumnya Ditinjau Dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, Jurnal Ilmiah FENOMENA, Volume X, Nomor 2, November 2012

Umar Musni Tanggung Jawab Pemimpin dan Tokoh Masyarakat terhadap Rakyat dan Pembangunan, musniumar.wordpress.com, dipostkan 12 Juni 2013, diakses pada Desember 2017

Mashlahah.

(Studi Kasus Di Kelurahan Kebonagung Kec. Kaliwates Kab.

Jember)

2. Kyai

3. Teori Mashlahah

4. Pendapat Ulama’

a. Pengertian

a. Pengertian b. Dasar hukum c. Macam-macam

mashlahah

a. Pendapat ulama’

tentang nikah sirri menurut teori mashlahah

2. Dokumentasi

3. Kepustakaan

data

a. Observasi b. Wawancara c. Dokumentasi 3. Teknik Analisis Data

a. Reduksi data b. Penyajian data c. Penarikan

kesimpulan 4. Keabsahan Data

a. Triagulasi Sumber b. Triagulasi Teknik

2. Apa yang Menjadi Latar

Belakang Kyai

Melakukan Nikah Sirri di Kebonagung?

3. Bagaimana Pendapat Ulama’ Mengenai Nikah Sirri menurut teori Mashlahah?

 Wawancara dengan Kyai Muhammad Nawawi pada tanggal 11 Mei 2018

 Wawancara dengan Kyai Abdullah Dafir pada tanggal 11 Mei 2018

 Wawancara dengan Kyai Ahmad Muchlis pada tanggal 12 Mei 2018

 Wawancara dengan Kyai Muhammad Malik pada tanggal 14 Mei 2018

 Wawancara dengan Kyai Amsin Abdillah pada tanggal 14 Mei 2018

 Wawancara dengan Kyai Abdurrahman pada tanggal 15 Mei 2018

Jember, 01 Agustus 1995. Mengawali pendidikan di SDN Kebonagung 1 Jember (lulus tahun 2008) dan melanjutkan pendidikan di SMP “Plus” Darus Sholah Jember (lulus tahun 2011). Setamat di SMP “Plus” Darus Sholah Jember langsung melanjutkan di MA Darus Sholah Jember dan mengambil jurusan IAGA (Ikatan Anak Generasi Agama) (lulus tahun 2014). Putra kedua dari pasangan Bapak Suryadi dan Ibu Siti Zainab. Mengawali Pendidikan Perguruan Tinggi di STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Jember yang sekarang IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jember Fakultas Syari’ah Jurusan Hukum Islam Program Studi Al-Ahwal Asy-Syakhsiyyah angkatan tahun 2014. Kegiatan nyantri dimulai ketika awal masuk pendidikan SMP di Pondok Pesantren Darus Sholah Jember yang didirikan oleh Almagfurlah. Drs. KH. Yusuf Muhammad LML. selama tiga tahun, kemudian setalah lulus SMP melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Al-Bidayah Tegal Besar Jember dibawah bimbingan Dr. KH. Abdul Haris, M. Ag ( Dekan Fakultas Usuluddin dan Humaniora IAIN Jember dan Ketua Komisi Fatwa MUI Jember).

Dokumen terkait