Bab VI TIPOLOGI PENDEKATAN RESPONSIF GENDER PADA SL-PPHP
D. Pembahasan
Faktor sosial budaya merupakan faktor penting yang mempengaruhi peranan perempuan dalam pekerjaan mencari nafkah. Sistem kekerabatan yang berbeda (patrilineal, matrilineal atau bilineal) yang mengenal pola adat menetap (setelah kawin) yang berbeda-beda mempunyai implikasi yang berbeda-beda pula terhadap peranan perempuan dalam pekerjaan mencari nafkah. Sistem kekerabatan patrilineal pada masyarakat Bali, dan pengaruh yang besar dari agama Hindu yang mengenal sistem kasta, mengembangkan adat istiadat yang khas pula bagi perempuan Bali. Dalam mengatasi tuntutan untuk bekerja keras pada perempuan Bali dan tak jarang pula disertai dengan imbalan kerja nafkah yang lebih kecil dan penilaian terhadap statusnya yang rendah, ternyata kebiasaan falsafah dan religi menyatakan semua pekerjaan itu adalah "dharma" dan baik, telah membenarkan peran serta perempuan Bali dalam pekerjaan mencari nafkah yang dianggap tidak pantas pada perempuan Jawa.
Bali kaya akan tradisi Hindu yang penuh dengan ajaran kebajikan dan harmonisasi dengan alam. Dalam tradisi agraris mereka terkenal dengan sistem pengairan atau irigasi subak. Air, sawah, tanaman padi mempunyai tempat penting dalam sistem subak bahkan dikaitkan dengan aspek religius. Oleh karena itu subak tak semata mengatur soal teknis pengaturan air semata, tetapi juga aspek sosial dan religi.
Pengaturan air ala subak telah diatur dalam semacam undang-undang yang disebut awig-awig. Dalam awig-awig inilah dimuat pokok-pokok aturan subak. Pembagian air disesuaikan dengan keanggotaan petani di subak, ada anggota aktif dan pasif, keduanya mendapat pembagian jatah air yang berbeda. Inilah prinsip keadilan dimana pembagian disesuaikan dengan kontribusi. Namun demikian, prinsip keadilan di sini lebih ditekankan kepada kontribusi dan bukan pada kesetaraan gender.
126 Laporan Kinerja Pengelolaan dan Tipologi Kelompoktani Responsif Gender Tahun 2012 Hasil survey terhadap peranan gender di propinsi Bali menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosial masyarakat Bali, upacara adat dan keagamaan sangat dominan.
Hal ini membawa konsekuensi terhadap pembagian waktu antara partisipasi aktif dalam upacara adat dan keagamaan dengan aktivitas lainnya. Khusus dalam industri pengolahan dan pemasaran ketiga komoditi yang dikaji terlihat bahwa jenis kegiatan/aktivitas menentukan peran gender. Kegiatan yang menuntut kekuatan fisik tentunya akan lebih didominasi oleh lelaki dibandingkan kaum perempuan.
Kegiatan Pengolahan dan Pemasaran Kakao, kontribusi berdasarkan gender
Kegiatan Perempuan Laki-laki
a. Panen
- Penentuan kemitraan dengan perusahaan dengan kulit dan pemeraman, yang dominan dilakukan oleh perempuan. Pada kegiatan panen ini terjadi gap atau kesenjangan gender baik pada laki-laki maupun wanita. Untuk mengurangi kesenjangan tersebut maka diperlukan tambahan alat
127 Laporan Kinerja Pengelolaan dan Tipologi Kelompoktani Responsif Gender Tahun 2012 pasca panen yang responsif gender, kegiatan pemisahan isi buah dari kulit dan pemeraman masih dilakukan secara tradisional oleh kaum wanita, untuk itu diperlukan tempat penyimpanan dan alat mesin pemeraman yang modern untuk mengefektifkan kegiatan tersebut. Untuk melatih menggunakan alat tersebut diperlukan pelatihan kepada laki-laki dan juga perempuan dan waktu pelatihannya dilaksanakan pada saat wanita atau ibu-ibu telah menyelesaikan pekerjaan rumahtangga dan persiapan upacara keagamaan. Dengan demikian laki-laki dan perempuan dapat melakukan kegiatan tersebut sehingga mengurangi kesenjangan gender.
Pada kegiatan penanganan pasca panen, kegiatan pemetikan, pengemasan ke dalam karung untuk langsung dijual dominan dilakukan oleh perempuan. Hal ini disebabkan pemetikan biji kakao masih menggunakan semacam bakulataukeranjang yang digendong oleh perempuan, laki-laki tidak banyak terlibat.
Untuk mengurangi kesenjangan tersebut maka diperlukan tambahan alat penanganan pasca panen yang responsif gender seperti trolley yang memakai roda dan mempunyai bak yang besar yang dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Dengan alat ini akan mengurangi tenaga perempuan dalam pemetikan dan laki-laki dapat terlibat menggunakan trolley tersebut untuk membantu pekerjaan kaum perempuan.
Pada kegiatan pemasaran, untuk kegiatan penentuan kemitraan dan kegiatan penentuan harga telah dilakukan secara bersama –sama oleh kaum perempuan dan laki-laki dalam rapat yang dinamakan subak. Jadi pada kegiatan ini tidak terjadi kesenjangan gender, karena partisipasi laki-laki maupun perempuan pada kegiatan tersebut adalah sama.
128 Laporan Kinerja Pengelolaan dan Tipologi Kelompoktani Responsif Gender Tahun 2012 Kegiatan Pengolahan dan Pemasaran Kopi, kontribusi berdasarkan gender
Kegiatan Perempuan Laki-laki
d. Panen - Pengeringan mekanis,
pendinginan/tempering, pengupasan kulit, penyangraian, blending (seluruh kegiatan dilakukan dengan mesin)
dominan
dominan
g. Pemasaran
- Pemasaran biji kopi basah, biji kopi kering, kopi bubuk
Sama-sama Sama-sama
Pada kegiatan panen, penentuan pelaksanaan waktu panen ditentukan oleh laki-laki, sedangkan pemetikan biji kopi dan dimasukkan ke dalam keranjang dominan dilakukan wanita. Untuk mengurangi kesenjangan gender pada kegiatan pemetikan biji kopi, sama seperti pada kegitan pemetikan kakao, diperlukan alat panen yang lebih modern seperti trolley yang memakai roda dan mempunyai bak yang besar yang dapat digunakan laki-laki maupun wanita. Dengan alat ini akan dapatmengurangi tenaga perempuan dalam pemetikan dan laki-laki dapat terlibat menggunakan trolley tersebut membantu kaum perempuan.
129 Laporan Kinerja Pengelolaan dan Tipologi Kelompoktani Responsif Gender Tahun 2012 Pada kegiatan pengolahan, pengeringan mekanis, pendinginan/tempering, pengupasan kulit penyangraian dan blending, semuanya menggunakan mesin yang dominan dilakukan laki-laki. Untuk mengurangi kesenjangan gender dan pekerjaan tersebut dapat dilakukan oleh kaum perempuan maka diperlukan pelatihan menggunakan alat-alat tersebut. Pelatihan sebaiknya dilaksanakan pada saat ibu-ibu/perempuantelah menyelesaikan pekerjaan rumahtangga dan persiapan upacara keagamaan. Dengan demikian kegiatan pengolahan ini dapat dilakukan oleh kaum perempuan karena sudah mampu menggunakan alat-alat mesin tersebut.
Pada pemasaran biji kopi basah, biji kopi kering serta kopi bubuk untuk penentuan harga telah dilakukan secara bersama-sama oleh kaum perempuan dan laki-laki dalam pertemuan yang dinamakan subak. Jadi pada kegiatan ini tidak terjadi kesenjangan gender, karena partisipasi laki-laki maupun perempuan pada kegiatan tersebut adalah sama.
Kegiatan Pengolahan dan Pemasaran Kacang, kontribusi berdasarkan gender
Kegiatan Perempu
an
Laki-laki h. PenangananPascaPanen
- Pembelian,pembersihandanpengupasankacang Dominan
i. Pengolahan
- Pengolahankacangdanpengemasanmenjadikacan gasin, kacangmanis, kacang rasa keju, kacangpedasdll
Pada kegiatan pengolahan kacang dan pengemasan masih mengunakan cara tradisional sehinggga lebih banyak didominasi kaum perempuan. Untuk mengurangi
130 Laporan Kinerja Pengelolaan dan Tipologi Kelompoktani Responsif Gender Tahun 2012 kesenjangan gender maka diperlukan alat-alat pengolahan yang lebih modern seperti alat penyangraian, blending dan pengeringan serta alat packaging dari mesin. Untuk dapat menggunakan alat tersebut diperlukan pelatihan yang pesertanya adalah laki-laki maupun kaum perempuan.Untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pelatihan, sebaiknya dilakukan pada saat ibu-ibu/perempuan telah selesai melaksanakan tugas-tugas rumahtangga dan persiapan upacara keagamaan. Dengan demikian kegiatan pengolahan kacang ini sama – sama dilakukan lakilaki dan perempuan.
Kontribusi dalam kegiatan pemasaranya itu penentuan harga kacang olahan serta mitra pemasaran dilakukan bersama-sama di dalam rapat subak.Pada kegiatan ini juga tidak terjadi Kesenjangan gender.