Paratuberkulosis dan Peternakan Rakyat Sapi Perah di Bogor
Hingga tahun 2004 hanya ada 3 laporan berkaitan dengan kasus JD di Indonesia. Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor melaporkan serologi positif MAP pada tahun 1951, Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH) Medan tahun pada tahun 1998, dan Balai Besar Penelitian Veteriner (BBalitvet) Bogor pada tahun 2004 selain mendeteksi seropositif juga mendapat isolat bakteri yang diduga sebagai Mycobacterium avium subsp. paratuberculosis (Adji 2004). Hasil uji konfirmasi dengan metode PCR terhadap isolat terduga MAP tersebut menunjukkan hasil negatif (Nugroho et al. 2008c). Pada penelitian ini tidak ditemukan isolat MAP dari sapi namun diperoleh 15 isolat Mycobacterium sp. yang berasal dari 15 ekor sapi dan diidentifikasi bukan MAP ataupun
M.tuberculosis. Penelitian lain yang hampir bersamaan waktu dengan penelitian ini mengidentifikasi keberadaan MAP baik secara serologis, isolasi, dan PCR konvensional dari sapi perah di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat (Adji 2008). Data ini menegaskan bahwa keberadaan MAP di Indonesia adalah nyata.
Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis dikenal sebagai
patogen obligat pada ruminansia, namun bakteri memiliki kemampuan bertahan dalam lingkungan peternakan. Raizman et al. (2004) melaporkan frekuensi ditemukannya MAP pada lokasi tertentu di beberapa peternakan yaitu lorong/gang untuk jalan sapi mencapai 77%, pembuangan kotoran/pupuk sebasar 68%, kandang beranak 21%, kandang karantina hewan sakit 18%, selokan air limbah 3%, dan kandang penyapihan 3%. Diketahui adanya hubungan yang sangat kuat antara prevalensi ditemukannya MAP dalam feses dengan lorong/gang sapi dan penampungan kotoran/pupuk. Kemampuan MAP bertahan pada rumput dapat mencapai 24-55 minggu, selain itu pada lingkungan yang sangat terbatas/sulit baginya maka bakteri ini dapat bersifat dorman
sebagai mekanisme bertahan (Whittington et al. 2004).
Sanitasi peternakan sapi perah di lokasi penelitian sangat berpotensi sebagai sumber penularan seperti disebutkan oleh Raizman et al. (2004) tersebut. Kebiasaan peternak yang membuang kotoran sapi ke kebun atau dalam suatu kolam terbuka menjadi sumber agen penyakit. Tidak tertanganinya kotoran kandang dengan baik selain berpotensi menimbulkan penyakit pada ternak juga pada manusia di sekitar lokasi peternakan langsung atau tidak langsung.
Pencemaran susu akibat sanitasi perkadangan yang jelek ini dapat terjadi melalui peralatan yang digunakan, melalui peternak/pegawai, atau ternak itu sendiri. Perawatan peralatan perah seringkali terabaikan di kandang seperti menyimpan kan/tabung susu di dekat selokan kandang.
Penyimpanan kan susu dengan tutup terbuka atau ditengkurapkan sehingga terjadi kontak antara mulut dengan tanah/air kotor, peternak merokok saat memerah susu, baju kotor atau tanpa baju, perilaku-perilaku tersebut dapat mencemari susu hasil perahan dengan mikroba termasuk bakteri patogen. Hal ini terlihat dari hasil pengujian angka lempeng total (ALT) bakteri aerobik dari susu segar yang diperoleh yaitu rerata 2.28 x 105 CFU/ml masih lebih rendah dari ketentuan SNI nomor 01-6366-2000 tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Batas Maksimum Residu dalam Bahan Makanan Asal Hewan yaitu 106 CFU/ml (BSN 2000). Rentang ALT dari contoh susu segar yang diperiksa dari 7.9 x 103 CFU/ml sampai 1.3 x 10 CFU/ml (data tidak ditampilkan). Hasil tersebut 7 menggambarkan sangat beragamnya tatacara para peternak mengelola peternakannya termasuk proses pemerahan. Dapat diprediksi apabila proses pengangkutan susu tersebut kurang tepat maka industri pengolah susu akan menerima susu segar dengan jumlah bakteri sangat tinggi.
Hasil tersebut berbeda dengan gambaran hubungan Mycobacterium sp. dalam feses dengan kebersihan peternak/operator saat mengambil contoh yang dibuktikan dengan angka OR sebesar 0.3. Keterkaitan ini memperlihatkan bahwa kebersihan saat mengambil feses dari rektum sapi berpeluang sangat kecil untuk menimbulkan cemaran Mycobacterium sp. pada contoh feses. Para peternak menggunakan kaos tangan karet baru atau mencuci tangan mereka terlebih dahulu dengan sabun sehingga peluang pencemaran menjadi kecil.
Pemberian rumput yang tercemar MAP dapat menyebabkan ternak terinfeksi. Rute penularan MAP melalui mulut/sistem pencernaan. Mycobacterium
lain seperti M. bovis penyebab tuberkulosis sapi juga dapat menular pada pedet melalui susu (Galllagher & Jenkins 1998). Mycobacterium pada umumnya termasuk MAP bersifat tahan asam sehingga akan dapat bertahan dalam pencernaan inang. Bakteri akan menembus mukosa usus halus dan menuju
Peyer’ patch setelah masuk ke dalam makrofag (Kurade et al. 2004). Karakter MAP yang mampu menembus makrofag dan bermultipkiasi di dalamnya sangat berkaitan dengan sistem tanggap kebal inang. Bakteri selama berada di dalam
87 makrofag mampu menghindari mekanisme tanggap kebal humoral inang. Kondisi ini menyebabkan infeksi MAP dapat bersifat laten (Stabel 1996).
Perubahan fisiologis hewan yang sulit dideteksi dengan cepat, memberikan gambaran hubungan paradoksial antara penyakit dan produksi susu. Pada sapi berpotensi produksi tinggi dan beresiko terinfeksi MAP, apabila kemudian terinfeksi maka sapi tersebut masih akan memberikan produksi susu yang tinggi dari rerata produksi periode laktasi pertama dan mungkin juga yang kedua. Hal tersebut sering terjadi pada awal-awal infeksi yang tidak menimbulkan gejala klinis namun secara serologis ataupun biakan bakteri dapat ditemukan melalui feses. Pada periode laktasi selanjutnya akan terlihat kecenderungan produksi susu yang menurun (Johnson et al. 2001).
Reaksi serologi positif yang tidak dikuti temuan isolat MAP dari feses ataupun susu segar seringkali terjadi baik pada kasus subklinis bahkan klinis. Sweeney et al. (2006) menyatakan fluktuasinya hasil ELISA dapat terjadi karena hasil positif palsu atau fluktuasi antibodi dari sapi penderita. Perkembangan penyakit yang cukup lama dan bervariasi juga berpengaruh pada hasil isolasi MAP. Penelitian Kurade et al. (2004) memperlihatkan uji serologi dengan ELISA diperoleh reaksi positif secara konsisten mulai hari ke-90 setelah infeksi (SI).
Biakan MAP baru dapat terisolasi dari organ maupun feses secara konsisten mulai hari ke-150 setelah infeksi namun hal ini tidak konsisten ditemukan pada setiap kasus. Faktor umur dan rute infeksi mempengaruhi ekspresi penyakit ini. Domba umur 3 bulan merupakan fase optimal menimbulkan gejala JD secara cepat dengan rute infeksi melalui saluran pencernaan (Begg et al. 2005).
Pengaruh infeksi MAP terhadap penurunan produksi susu masih menjadi kajian yang menarik mengingat banyaknya hasil yang kontradiksi. Laporan Benedictus et al. (1987) menyatakan pada sapi-sapi yang terinfeksi MAP secara subklinis mengalami penurunan produksi sebesar 15% dari rerata produksi pertahun. Hal senada juga dikemukakan Nardlund et al. (1996) bahwa sapi pederita JD subklinis mengalami penurunan produksi susu sebesar 4%. Pendapat berbeda disampaikan beberapa peneliti seperti Buergelt dan Duncan (1978) yang menyatakan tidak ada perbedaan berarti pada produksi susu dari sapi-sapi afkir karena menderita MAP subklinis dibandingkan dengan sapi-sapi sehat dalam satu peternakan. Johnson et al. (2001) menegaskan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara produksi susu, kadar protein, dan kadar
lemak antara sapi penderita MAP subklinis dengan sapi sehat namun perbedaan antar kedua kelompok akan terlihat apabila dianalisis berdasarkan kelompok umur dan periode laktasi sapi. Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh oleh McNab et al. (1991) dan Wilson et al. (1993) yang justru menemukan bahwa produksi susu penderita infeksi MAP subklinis lebih tinggi dibanding hewan sehat namun hal ini tergantung pada kedewasaan dan stadium laktasi sapi. Berdasarkan informasi ini maka produksi susu dapat menjadi satu indikasi yang membantu mengarahkan diagnosis dan dugaan terjadinya JD. Penelitian ini memperlihatkan produksi susu di atas 13 liter per hari berpeluang 2 kali lebih besar akan ditemukan Mycobacterium sp. di dalam fesesnya.
Laporan Komite Ahli Kesehatan dan Kesejahteraan Hewan Komisi Eropa tahun 2000 menyatakan kerugian ekonomi peternak yang sapinya terinfeksi subklinis MAP pada tahun 1987 diperkirakan sebesar ₤ 209 dari setiap ekor karena hasil susu yang menurun. Diperkirakan kerugian tersebut karena penurunan produksi semakin meningkat berkisar $ 200-250 juta per tahun. Di Spanyol kerugian pada peternakan domba berkisar € 120 dan € 60 untuk kasus klinis pada domba perah dan pedaging. Selain itu kerugian juga disebabkan karena kekurusan dan kematian, adanya peningkatan infertilitas dan rentan terhadap berbagai penyakit lain (SCAHAW 2000).
Kerugian lain dari kasus paratuberkulosis adalah potensi penularan MAP ke manusia akibat mengkonsumsi susu yang tercemar. Meskipun peran MAP dalam kasus penyakit Crohn masih diteliti namun bukti keterkaitannya dengan produk susu sapi perlu diwaspadai. Keberadaan MAP dapat ditemukan pada susu sapi penderita JD klinis (Taylor et al. 1981) dan oleh Sweeney et al. (1992) disebutkan bahwa MAP dapat ditemukan pada susu segar dari sapi yang terinfeksi MAP subklinis dan akan semakin sering ditemukan bila sapi tersebut terinfeksi secara klinis.
Cemaran Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis pada Susu dan Penyakit Crohn
Tidak diperoleh isolat bakteri MAP dari susu segar, susu pasturisasi, maupun susu formula lanjutan di Bogor, namun berdasarkan uji PCR F57 nested
ditemukan 5 contoh positif dari susu formula lanjutan. Hasil ini memberikan kelegaan mengingat cukup banyak produk susu olahan yang bahan bakunya diimpor dari beberapa negara yang diketahui memiliki masalah JD seperti
89 Australia dan Selandia Baru, serta negara-negara Eropa. Ditemukannya pita DNA MAP dari uji PCR nested membuktikan bahwa MAP masih memungkinkan bertahan di dalam produk susu meski telah diproses menggunakan pemanasan yang tinggi sekalipun. Temuan ini sejalan dengan hasil yang diperoleh Hruska et al. (2005) yang memeriksa susu formula anak di Ceska dengan metode PCR konvensional menggunakan primer IS900 dan F57. Hasil pemeriksaan di Ceska tersebut menemukan 25 contoh susu formula terdeteksi menggunakan primer IS900 dan 18 contoh susu terdeteksi menggunakan primer F57. Isolat MAP juga pernah ditemukan pada makanan bayi selain terdeteksi dengan PCR (Akineden
et al. 2006). Kemampuan deteksi alat diagnostik MAP dalam penelitian ini masih terbatas pada konsentrasi ≥103 CFU untuk metode PCR dan 101 CFU/ml untuk isolasi. Keterbatasan ini membuka kemungkinan adanya MAP yang tidak terdeteksi apabila jumlahnya kurang dari jumlah tersebut.
Faktor-faktor yang menyebabkan MAP mampu bertahan dalam susu olahan belum banyak diketahui. Sung et al. (2004) mengidentifikasai keberadaan beberapa protein yang diduga berperan dalam kemampuan tahan panas MAP yaitu GroES heat shock protein, antigen 85 complex B, dan alpha antigen. Pemanasan susu segar, selain mempengaruhi komponen susu juga akan menyebabkan denaturasi protein membran sel bakteri. Pada MAP, denaturasi protein membran ini akan diperbaiki dengan segera oleh protein GroES. Antigen 85B dan antigen alfa diketahui berperan dalam proses pembentukan membran sel. Protein-protein tersebut diduga sebagai faktor yang menyebabkan MAP mampu tahan terhadap suhu tinggi pengolahan susu.
Banyak survei menemukan MAP dalam susu segar dan susu olahan. Pada pasturisasi skala komersial dengan kapasitas 2000 l/jam, pengaruh pasturisasi HTST susu sapi yang tercemar MAP secara alami ternyata sedikit sekali mengurangi kemampuan bakteri tersebut untuk bertahan dalam susu (Grant et al. 2002a). Grant et al. (2002b) selanjutnya menemukan 19 sampel susu segar dan 67 sampel susu pasturisasi dari total 241 sampel (segar dan pasturisasi) terdeteksi mengandung MAP. Sung dan Collins (2000) yang mengamati pengaruh pH, garam, dan pemanasan terhadap daya tahan MAP pada proses pembuatan keju. Mereka menginokulasikan bakteri MAP pada susu bahan baku yang akan diolah menjadi keju. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa tingkat inaktivasi MAP lebih tinggi pada pH rendah yaitu 4, 5, dan 6 sedangkan kadar garam (NaCl) hanya sedikit mempengaruhi. Pada pemanasan yang kemudian
diikuti dengan masa pemeraman selama 60 hari akan mampu mengurangi jumlah MAP dalam keju hingga 2 log (102 CFU /ml). Donaghy et al. (2004) mendapatkan MAP setelah pasturisasi pada suhu 72 °C selama 15 detik memperlihatkan sekitar 4% bakteri tersebut didapatkan pada whey selama pembuatan keju.
Keberadaan MAP dalam susu dan produk olahannya seringkali dikaitkan dengan penyakit Crohn (CD). Penyebab penyakit Crohn sendiri masih dalam perdebatan. Chamberlin dan Naser (2006) mengelompokkan 3 penyebab CD yaitu teori autoimun, teori defisiensi imun, dan teori mikobakterial. Teori mikobakterial dimulai setelah Dalziel menemukan kemiripan perubahan klinis dan histopatologi antara sapi penderita paratuberkulosis, tuberkulosis usus, dan randang granulomatosa usus kronis pada manusia (CD). Diduga terjadi interaksi antara MAP dengan sistem kekebalan tubuh manusia seperti halnya infeksi mikobakterial patogen lainnya. Manifestasi penyakit yang terjadi dari bentuk kolonisasi kecil dan tidak menimbulkan gejala sampai terjadinya keradangan granulomatosa parah pada usus besar. Teori MAP sebagai salah satu penyebab CD dikuatkan oleh beberapa laporan kasus dan penelitian. Hermon-Taylor et al. (1998) melaporkan seorang anak yang mengalami radang kelenjar limfe yang disebabkan MAP, lima tahun kemudian mengalami radang ileum terminal (terminal iIeitis) yang mirip kasus CD. Diduga dalam kasus ini penularan MAP terjadi melalui susu, kemudain bakteri masuk ke dalam kelenjar limfe leher dan ke ileum.
Naser et al. (2000) berhasil mengisolasi MAP dari air susu 2 orang ibu penderita CD sementara Richter et al. (2002) berhasil mengisolasi MAP dari penderita HIV di Jerman. Sebanyak 11 orang dari 13 pasien CD dapat diisolasi MAP dari darah mereka (Naser et al. 2004). Hasil pengujian Collins et al. (2000) berdasarkan pengujian IS 900 PCR, memperlihatkan bahwa MAP dideteksi pada 26.2% penderita UC dan 19% pada pasien CD sedangkan dari kelompok kontrol (sehat) hanya sebesar 6.3% yang dapat terdeteksi. Hasil uji serologi menunjukkan bahwa kelompok pasien CD memiliki seroprevalensi sebesar 20.7%, penderita UC 6.1% dan kelompok kontrol hanya 3.9%. Kondisi ini memperlihatkan adanya peran MAP baik sebagai agen penyebab utama ataupun sebagai infeksi sekunder dalam menimbulkan kasus IBD.
Kajian kasus-kontrol yang dilakukan Berstein et al. (2004) menyebutkan bahwa berdasarkan uji serologis (ELISA) untuk identifikasi MAP terhadap empat
91 kelompok observasi (pasien CD, ulcerativ colitis/UC, sehat, lain-lain) memperlihatkan prevalensi seropositif sebesar 35% dari seluruh kelompok. Prevalensi pada setiap kelompok tidak berbeda nyata dan rentang prevalensi masing-masing kelompok berkisar antara 33.6-37.8%. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa uji seropositif MAP tidak berbeda nyata di antara jenis kelamin, umur, sejarah radang usus (inflamatory bowel disease/IBD) dalam keluarga, asal kelahiran dari negara berkembang, penduduk asli atau pendatang, dan pernah tinggal di peternakan (unggas, sapi, babi) atau tidak. Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara kejadian CD dengan infeksi MAP.
Tindakan pasturisasi meskipun tidak menjamin mematikan MAP sepenuhnya namun hingga saat ini merupakan langkah pencegahan yang paling efisien. Belum ada perlakuan yang mampu mematikan secara total terhadap cemaran MAP dalam susu. Efektifitas pasturisasi mematikan MAP dipengaruhi oleh jumlah cemaran dalam susu (Grant et al. 1996) dan dalam pasturisasi skala komersial MAP masih mampu bertahan (Grant et al. 2002b). Penelitian Sung dan Collins (1998) menyebutkan bahwa D values (waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan konsentrasi bakteri sebanyak 1 log10) pada suhu pasturisasi 62 °C yaitu selama 228.8 detik; suhu 65 °C selama 47.8 detik, suhu 68 °C selama 21.8 detik dan pada suhu 71 °C selama 11.67 detik. McDonald et al. (2005) melakukan pasturisasi HTST dengan alat pasturisasi dengan aliran berputar (turbulent-flow pasteruizer) pada suhu 72 °C selama 15 detik, 75 °C selama 25 detik, dan 78 °C selama 15 detik cukup efektif mematikan MAP >104-106 CFU. Pendapat McDonald ini dikuatkan oleh Rademarker et al. (2007) yang menyarankan melakukan pasturisasi HTST pada suhu ≥72 °C selama 15 menit, menurutnya metode ini mampu mengurangi MAP hingga 107 CFU. Teknik yang berbeda ditawarkan oleh Lopez-Pedemonte et al. (2005) yang menggunakan tekanan hidrostatik tinggi/high hydrostatic pressure (HHP) pada suhu sedang (5- 20 °C), dengan memberikan tekanan HHP sebesar 500MPa mampu mengurangi MAP sebanyak 104 CFU /ml. Beberapa metode alternatif ini merupakan upaya
menurunkan jumlah MAP dalam susu dalam rangka menjamin keamanan pangan dari susu.
Potensi Kasus Infeksi Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis dan Kajian Terkait di Masa Mendatang di Indonesia
Tidak ditemukan isolat MAP maupun M. tuberculosis dari contoh feses sapi perah di Bogor. Keberadaan Mycobacterium sp. dalam feses merupakan satu peringatan dini berkaitan dengan penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan genus Mycobacterium. Sampai saat ini diketahui 54 spesies Mycobacterium dan hanya 14 yang menimbulkan penyakit pada manusia. Klasifikasi berdasar sifat patogennya dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu patogen obligat, patogen fakultatif, patogen oportunistik, dan saprofit. Mycobacterium fakultatif maupun oportunistik dapat ditemukan di lingkungan dan berpotensi menimbulkan penyakit bagi manusia maupun hewan. Mycobacterium yang tergolong oportunistik yang
dapat menyerang menimbulkan sakit pada manusia antar lain M. bovis, M. marinum, M. avium, M. avium, M. scrofulaeum.Mycobacterium yang termasuk
dalam kelompok oprtunistik antara lain M. smegmatis, M. gastri, M.fallax
(Shanahan 1994).
Isolat Mycobacterium sp. yang ditemukan dalam penelitian ini belum diidentifikasi sehingga sifat patogennya belum diketahui. Di Eropa tengah diketahui beberapa tuberkulosis sapi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis complex seperti M. tuberculosis, M. bovis, M. caprae, M. africanum, M. pinnipedii, M. microti, M. canettii. M. bovis dan M. caprae merupakan spesies yang sering diisolasi dari hewan-hewan yang menderita tuberkulosis (Pavlick et al. 2002). Lima belas isolat Mycobacterium sp. yang ditemukan dalam penelitian ini perlu diidentifikasi untuk mengetahui spesiesnya namun demikian dengan temuan ini akan memberikan alasan yang kuat bagi pemerintah untuk lebih aktif melakukan pemantauan kasus tuberkulosis sapi di Indonesia.
Kondisi peternakan sapi perah Indonesia saat ini harus lebih diperhatikan karena meningkatnya animo beberapa pihak yang tertarik berinvestasi pada industri peternakan sapi perah. Kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat semakin banyak ditemukan sapi-sapi yang seropositif terhadap MAP dan juga temuan isolat yang teridentifikasi sebagai MAP. Keberadaan MAP pada ternak merupakan salah satu ancaman besar bagi keberlangsungan usaha peternakan sapi perah nasional. Penyakit yang ditimbulkan tidak hanya merugikan secara ekonomi namun juga mengancam kesehatan masyarakat.
Jejak keberadaan MAP pada susu formula yang dijual di Bogor terdeteksi dalam penelitian ini. Bahan baku susu olahan di Indonesia sebagian besar
93 diimpor dari negara-negara yang endemis JD seperti Australia dan New Zealand. Prevalensi kasus JD di Australia mencapai 7%, New Zealand 60%, sedangkan Belanda 55% (Colllins & Manning 2004). Selama ini produk-produk olahan belum diuji status keberadaan MAP di dalamnya. Kondisi ini sangat berpotensi menjadi sumber masuk dan menyebarnya MAP baik kepada masyarakat dan ternak. Data penelitian ini menjadi informasi awal yang mengindikasikan untuk melakukan pengujian terhadap produk-produk susu olahan secara rutin. Beberapa fragmen protein MAP seperti protein 65 KDa (heat shock protein) yang bersifat imunogenik diduga juga dapat memicu proses autoimun dalan penyakit peradangan kronis (Hruska et al. 2005). Meskipun keterkaitan MAP terhadap kasus CD belum dapat disimpulkan secara tegas namun tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk menjamin kesehatan dan ketenteraman masyarakat Indonesia.
Temuan penelitian ini dan informasi peneliti lain berkaitan dengan MAP di Indonesia selayaknya ditindaklanjuti dengan kajian yang lebih komprehensif. Kajian ini bersifat deteksi dengan asumsi prevalensi 5%. Tidak ditemukannnya isolat MAP dapat disimpulkan bahwa prevalensi kasus MAP pada sapi perah di Bogor kurang dari 5%. Informasi ini dapat menjadi pedoman untuk kajian observasional untuk mengetahui prevalensi JD sebenarnya dan menganalisis faktor-faktor manajeman dan lingkungan yang mempengaruhinya. Data kajian ilmiah kasus JD yang komprehensif di Indonesia akan menjadi dasar yang kuat bagi pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya seperti pengusaha, peternak, koperasi, lembaga penelitian untuk membuat kebijakan berkaitan dengan JD dan implikasinya. Prevalensi sebenarnya dari hasil kajian observasi di Indonesia merupakan dasar dalam menyatakan status Indonesia terhadap penyakit paratuberkolusis. Status ini akan berdampak pada kebijakan pemerintah terhadap strategi penanganan penyakit di dalam negeri dan aspek ekonomi industri persusuan nasional. Pedoman pencegahan, penanggulangan, dan pemberantasan penyakit perlu dipersiapkan sebagai langkah antisipatif terhadap kasus paratuberkulosis.
Hambatan media diagnosis terutama untuk isolasi yang tergantung dari luar negeri perlu dikurangi. Salah satu langkah dalam rangka menyediakan media isolasi secara mudah dan lebih murah adalah dengan mengembangkan media ogawa yang dimodifkasi (MOM) untuk MAP. Penelitian ini belum berhasil mendapatkan formula MOM yang tepat untuk pertumbuhan MAP namun sudah
diperoleh bukti bahwa MOM memiliki kemampuan yang sama dengan media standar HEYM untuk menumbuhkan Mycobacterium avium subspesies avium. Hasil tersebut menunjukkan bahwa MOM dapat digunakan sebagai media
Mycobacterium namun perlu dikembangkan untuk kebutuhan MAP yang sangat
membutuhkan mycobactin untuk pertumbuhannya. Teknik penambahan
mycobactin yang tepat perlu dicari agar konsentrasi yang diperoleh dapat merata pada media dan daya kerjanya tidak berkurang akibat proses sterilisasi media. Tempat pembuatan MOM harus disesuaikan dengan volume media yang akan dibuat. Penambahan mycobactin dan kuning telur dapat dilakukan setelah komponen-komponen lainnya telah disterilisasi (121 °C, 15 menit) kemudian suhu diturunkan dan dijaga pada suhu 45-50 °C dalam kondisi diaduk menggunakan magnetik streerer. Setelah penambahan kuning telur dan
mycobactin, media tetap diaduk lebih kurang 5 menit untuk meyakinkan seluruh larutan tercampur dengan sempurna.
Selain dari mengembangkan media isolasi perlu juga mengembangkan alat deteksi serologis seperti purified protein derivate (PPD) Johnin dan enzyme-
linked immunosorbent assay (ELISA) untuk keperluan uji lapangan. Coussens
(2004) menggambarkan sebuah model tanggap kebal sapi yang terinfeksi MAP secara lengkap. Model tersebut menjelaskan perjalanan tanggap kebal hewan sejak permulaan infeksi, fase subklinis, dan fase klinis. Beberapa tanggap kebal spesifik genus ataupun spesies diharapkan dapat teridentifikasi dari model ini sehingga dapat dibuat suatu alat diagnosis MAP sedini mungkin. Waters et al. (2004) mencoba menggunakan early secretory antigenic target 6 (ESAT-6) dan
culture filtrate protein 10 (CFP-10) rekombinan untuk membedakan antara infeksi karena M. bovis atau MAP pada sapi. Hasil penelitian itu mengindikasikan bahwa rESAT-6:CPF-10 lebih spesifik mendeteksi M. bovis meskipun hewan juga terpapar MAV maupun MAP. Beberapa imunogenik yang teridentifikasi pada