• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

PEMBAHASAN UMUM

Produksi perikanan budidaya difokuskan pada komoditas unggulan yang mudah dibudidayakan secara massal dengan teknologi sederhana dan prospek pasar yang jelas. Ikan lele merupakan salah komoditas utama yang menjadi fokus pada sasaran produksi budidaya nasional tahun 2010 – 2014 (KKP 2013).

terobosan yang sangat menjanjikan untuk lebih meningkatkan produksi ikan lele nasional. Ketahanan terhadap bakteri patogen merupakan salah satu target untuk menghasilkan induk dan benih tahan penyakit. Seperti halnya dengan usaha pertanian, sistem akuakultur mengalami hambatan yang cukup serius disebabkan adanya serangan penyakit. Perkembangan penyakit dipicu oleh berubahnya sistem budidaya dari tradisional menjadi intensif serta meningkatnya komersialisasi produk perikanan ke seluruh dunia (Bondad – Reantoso et al. 2005). Sistem budidaya intensif dengan kepadatan yang tinggi dan manajemen pakan yang jelek akan mengakibatkan ikan mudah stres sehingga rentan terserang penyakit, terutama bakteri A. hydrophila yang bersifat oportunistik di mana bakteri ini akan menginfeksi ikan dalam kondisi lemah (Li 2013). Kondisi ini berakibat pada menurunnya sistem imun ikan yang tentunya akan berimplikasi terhadap penurunan produksi. Oleh karena itu, perakitan strain ikan lele yang memiliki ketahanan terhadap bakteri A. hydrophila merupakan target dalam penelitian ini.

Untuk menghasilkan ikan lele tahan infeksi A. hydrophila dapat dilakukan melalui seleksi langsung secara konvensional, namun cara ini memerlukan waktu yang cukup lama karena dilakukan hingga beberapa generasi. Sebagai pembanding seleksi ikan mas tahan penyakit dropsy diperoleh pada generasi kesembilan atau sekitar 11.5 tahun (Kirpichnikov 1999). Aplikasi seleksi berbasis marka molekuler (SBMM) sangat membantu untuk seleksi ikan yang membawa gen tahan penyakit, disamping itu waktu seleksi yang digunakan sangat singkat. Beberapa penelitian yang telah dilakukan diantaranya: MHC II pada ikan salmon (Aguiler and Garza 2007), MHC I pada ikan rainbow trout, MHC I pada ikan zebraf (Bingulac 1997).

Sebagai tahap aplikasi SBMM pada ikan lele, telah dilakukan identifikasi kandidat marka MHC I pada penelitian tahap pertama. Ikan lele F0 dan F1 yang tahan terhadap infeksi bakteri A. hydrophila memiliki fragmen DNA produks PCR berukuran sekitar 300, 500, dan 930 bp. Ikan lele F0 yang hidup pascainfeksi bakteri A. hydrophila yang membawa marka MHCI sekitar 50%, sedangkan pada ikan keturunan pertama (F1) sebanyak 83% dari hasil perkawinan betina resisten dan jantan resisten, atau ada peningkatan sekitar 33% dibandingkan tetuanya. Demikian pula dengan kelangsungan hidup, ikan lele F1 memiliki tingkat kelangsungan hidup sekitar 37% lebih tinggi dibandingkan dengan tetuanya. Peningkatan respons imun terhadap infeksi bakteri A. hydrophila pada ikan lele F1, disebabkan oleh gen ketahanan penyakit yang diturunkan dari tetuanya. Di samping itu, sistem pertahanan spesifik yang mengenali bakteri patogen A. hydrophila telah dimiliki oleh ikan lele F1, sehingga kelangsungan hidup dan daya tahan terhadap infeksi A. hydrophila meningkat, hal tersebut didukung oleh gambaran darah ikan lele F1 pada penelitian tahap pertama.

Pada ikan yang terserang penyakit terjadi perubahan pada nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah dan jumlah sel darah putih (Bastiawan

et al. 1995). Pemeriksaan darah (hematologis) dapat digunakan sebagai indikator tingkat keparahan suatu penyakit (Bastiawan et al. 2001). Tubuh ikan merespons dengan meningkatnya produksi sel-sel darah putih atau leukosit untuk menghadapi infeksi A. hydrophila. Dalam penelitian ini Peningkatan jumlah leukosit ikan lele yang berfungsi dalam sistem kekebalan seluler ini terjadi satu hari pasca infeksi, kemudian pada hari kelima mulai menurun.

Secara umum penurunan jumlah leukosit pada ikan perlakuan maupun ikan kontrol setelah uji tantang menunjukkan bahwa leukosit tersebut diduga aktif dan keluar dari pembuluh darah menuju jaringan yang terinfeksi. Peran kekebalan selanjutnya diambil alih oleh kekebalan humoral yaitu oleh antibodi.

Pada penelitian ini, respons ikan lele F1 terhadap serangan infeksi A. hydrophila lebih baik dibandingkan tetuanya, hal ini diduga karena sistem imun spesifik dapat dengan mudah mengenali bakteri A. hydrophila sebagai antigen,

sehingga dengan cepat sistem imun spesifik bereaksi untuk menghasilkan antibodi guna melawan antigen yang masuk kedalam tubuh ikan lele. Sistem imun spesifik memiliki sifat antara lain ; a) kespesifikan, b) keheterogenan dan c) ingatan/memori imunologi. Kespesifikan adalah pemilihan yang tepat baik oleh antibodi maupun limfosit untuk bereaksi dengan antigen atau benda asing lain dengan konfigurasi yang sama dengan antigen tersebut. Sifat keheterogenan dari sistem imun spesifik adalah terbentuknya berbagai jenis sel maupun hasil sel yang dikeluarkan sewaktu tubuh inang tersebut dimasuki oleh antigen. Sel-sel yang beraneka jenis tersebut akan menghasilkan antibodi dan limfosit sensitif yang bersifat heterogen. Sifat ketiga adalah terbentuknya memori immunologi dalam sel-sel limfosit. Jadi apabila sewaktu-waktu inang tersebut dimasuki oleh antigen yang sejenis maka inang tersebut akan cepat bereaksi untuk membentuk antibodi. Dengan adanya memori imunologi ini akan mempercepat dan meningkatkan terbentuknya zat anti (antibodi) pada tubuh inang (Lamers danDe Haas 1985). Antibodi merupakan suatu senyawa protein yang terbentuk sebagai respon pertahanan terhadap masuknya benda asing ke dalam tubuh, yang dapat bereaksi dengan antigen khusus. Pada saat pertama kali ikan terpapar pada patogen atau protein asing (antigen), maka antibodi akan dibentuk dan akan berfungsi pada infeksi patogen sejenis berikutnya (Iwama dan Nakanishi 1996).

Primer MHClAh-01 untuk mendeteksi ikan lele yang membawa gen tahan penyakit akibat bakteri A. hydrophila telah berhasil ditemukan (penelitian tahap I). Namun demikian, produk PCR belum menunjukkan pita DNA tunggal, terdapat tiga pita DNA cukup jelas, yakni sekitar 300 bp, 500 bp, dan 930 bp, sedangkan sampel ikan yang mati pascainfeksi tidak memiliki pita DNA. Dengan demikian dapat diyakini bahwa ikan R dan L memiliki gen MHC I terkait daya tahan terhadap A. hydrophila. Mana yang betul-betul terkait dengan marka MHC I dari ketiga pita DNA tersebut, masih perlu dibuktikan pada penelitian selanjutannya. Keyakinan ini diperkuat dengan hasil analisis BLAST yang menunjukkan bahwa produk PCR ikan lele sangkuriang memiliki kemiripan tinggi dengan MHC I alel 09 dan 17 ikan lele Afrika. Kemudian pada penelitian tahap II, dengan primer yang sama juga digunakan untuk mendeteksi keberadaan gen MHC I pada keturunan (F1) dari hasil perkawinan induk yang membawa gen MHC I. Pada penelitian tahap III telah dilakukan uji tantang terhadap F1 hasil perkawinan ikan lele yang membawa marka MHC I, dan diperoleh tingkat kelulushidupan yang signifikan dibandingkan dengan F1 dari induk ikan lele yang tidak membawa marka MHC I.

Sebelum dirilis ke masyarakat, maka perlu penelitian lanjutan untuk mencari primer yang spesifik dengan pita tunggal sebagai marka molekuler untuk mendeteksi keberadaan marka MHC I pada ikan lele tahan A. hydrophila. Selain itu, perlu penelitian penggunaan marka MHClAh-01 pada ikan lele tumbuh cepat yang membawa marka MHC I, melalui penelitian seleksi secara konvensional

dari hasil perkawinan dari beberapa strain induk ikan lele (Lampiran 3), sehingga diperoleh ikan lele tumbuh cepat dan tahan infeksi A. hydrophila.

SIMPULAN

 Marka molekuler MHC I terkait daya tahan ikan lele terhadap infeksi bakteri

A. hydrophila berhasil diperoleh.

 Marka tersebut dapat diwariskan pada keturunan pertama (F1) dan persentase F1 tertinggi yang membawa marka MHC I terdapat pada persilangan induk resisten x resisten.

 Ikan lele F1 tahan infeksi A. hydrophila berhasil diproduksi, hasil perkawinan RR memiliki tingkat kelangsungan hidup tertinggi. Gambaran darah dan titer antibodi sejalan dengan daya tahan ikan F1 terhadap infeksi A. hydrophila.

SARAN

Perlu penelitian lanjutan untuk menguji konsistensi daya tahan pewarisan marka MHC I dan pertumbuhannya pada generasi selanjutnya. Untuk menghasilkan ikan lele yang tahan A. hydrophila sebaiknya menggunakan keturunan dari induk hasil perkawinan ikan lele Resisten x Resisten.

Dokumen terkait