KURA PELIHARAAN DAN KONSUMS
4 PEMBAHASAN UMUM
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar menyatakan bahwa tumbuhan dan satwa liar adalah bagian sumberdaya alam hayati yang dapat dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan pemanfaatannya dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar (Dephutbun 1999b). Demikian halnya dengan kura-kura sebagai satwa liar, maka pemanfaatannya pun harus senantiasa memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung dan keanekaragaman jenis kura-kura itu sendiri. Penangkaran merupakan salah satu bentuk pemanfaatan satwa liar secara berkelanjutan berupa perbanyakan populasi melalui usaha pembiakan (captive breeding) dan pembesaran (ranching) di luar habitat alaminya dengan tetap mempertahankan kemurnian genetiknya (Dephut 2006). Selain itu, penangkaran juga dapat memberikan keuntungan/pendapatan ekonomi dan sosial budaya bagi masyarakat (Masy’ud 2001) yang mengusahakannya.
Penangkaran satwa liar yang dibangun perlu diupayakan sedemikian rupa sehingga memiliki habitat yang hampir sama dengan kondisi aslinya di alam. Habitat merupakan fungsi penting bagi satwa liar sebagai tempat perlindungan, mencari makan, melakukan perkawinan, aktivitas bertelur dan pergerakan dalam mendukung tumbuh dan berkembangnya populasi. Populasi yang baik ditandai dengan stabilnya populasi di alam bahkan cenderung meningkat sampai batas kemampuan daya dukung habitatnya. Semakin tinggi populasi semakin tinggi pula persaingan dalam satu jenis atau antar jenis. Untuk mengatur keseimbangan habitat dan populasi satwa liar di alam maka dibutuhkan pengelolaan terhadap kawasan dengan baik. Sistem pengelolaan yang terencana, tersusun dan termonitoring dengan baik dapat mendukung konservasi satwa liar di alam. Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 menjelaskan bahwa kegiatan konservasi dilakukan melalui kegiatan: (1) perlindungan sistem penyangga kehidupan, (2) pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan (3) pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (Dephut 1990).
Manajemen penangkaran kura-kura yang dijalankan oleh setiap perusahaan mencerminkan karakteristik penangkarannya menurut skala unit usahanya, tergantung masing-masing perusahaan sesuai kiat, dasar, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang dimiliki. Skala unit usaha penangkaran ini dibedakan besar dan kecil berdasarkan jumlah populasi kura-kura yang dipelihara dan luasan kolam sebagai habitatnya. Penangkaran kura-kura jenis eksotik dapat diusahakan dalam skala besar, mengingat bibit cukup tersedia melalui impor dan banyak dibudidayakan karena memiliki keunggulan lebih banyak dibandingkan dengan kura-kura jenis asli terkait aspek bioekologi yang dimilikinya. Bahkan saat ini, keberadaan penangkaran kura-kura jenis eksotik berpeluang dapat menyediakan bibit sebagai indukan bagi usaha penangkaran di tempat lain.
Bentuk penangkarannya dikembangkan dan dibangun di luar habitat alami (ex-situ) atau berada di lingkungan sekitar manusia dengan sistem secara penuh diatur oleh pengelolanya untuk memenuhi kebutuhan mulai dari telur yang menetas menjadi anakan, memelihara dan membesarkannya hingga menjadi dewasa yang siap jual ataupun indukan yang bereproduksi menghasilkan telur.
47 Pola penangkaran kura-kura umumnya dengan pembiakan (captive breeding), hanya jenis labi-labi/bulus yang berbeda yaitu dengan pola pembesaran (ranching). Penangkaran labi-labi/bulus yang ada masih menggantungkan pada tangkapan dari alam yang dipelihara beberapa saat lamanya sebelum diekspor. Tukik/anakan labi-labi di penangkaran belum ada yang sampai menjadi indukan, karena masih membutuhkan waktu yang lama dipelihara hingga dewasa. Pola pembiakan ini merupakan upaya perbanyakan populasi kura-kura berdasarkan hasil pembiakan yang dipelihara mulai saat baru menetas hingga menjadi individu siap panen ataupun sebagai indukan sesuai dengan arahan Dephut (2006). Namun demikian, saat ini penangkaran labi-labi/bulus sudah diupayakan dengan pola pembiakan melalui uji coba. Upaya yang dilakukan adalah dengan menampung telur yang dihasilkan labi-labi/bulus dewasa selama masa pemeliharaannya sebelum diekspor ataupun sebagai indukan, kemudian ditetaskan menjadi individu dewasa untuk dipelihara. Kendala yang dihadapi adalah minimnya tenaga ahli, terampil dan berpengalaman di bidang penangkaran labi-labi menyebabkan upaya ini tidak berjalan secara optimal. Disamping itu, penangkaran kura-kura untuk konsumsi dengan pola pembiakan kurang diminati oleh pengusaha dibandingkan penangkaran kura-kura untuk pet, khususnya jenis-jenis lokal karena harus memeliharanya dalam jangka waktu yang relatif lama dan sulit diprediksi keberhasilan hidupnya sampai umur dewasa (resiko kematian).
Beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan terkait dengan keberlanjutan (sustainability) dari usaha penangkaran kura-kura baik untuk konsumsi maupun hewan peliharaan adalah:
• Kura-kura tumbuh sangat lambat, diperkirakan ukuran dewasa biasanya baru dicapai lebih dari 4 sampai 10 tahun (Iskandar 2000). Penangkaran kura-kura yang sesuai adalah untuk hewan peliharan (pet), karena produknya tidak perlu memeliharanya dalam jangka waktu yang relatif lama. Pemeliharaan rutin dilakukan pada kura-kura dewasa produktif sebagai indukan yang menghasilkan telur untuk ditetaskan menjadi individu baru, selanjutnya anakan dipelihara sampai laku dijual. Dengan demikian, prospek penangkaran kura-kura untuk hewan peliharaan lebih menjanjikan daripada untuk konsumsi.
• Investasi di bidang usaha penangkaran kura-kura memerlukan biaya tinggi dengan jangka waktu pengembalian modal usaha yang lama, sehingga kurang diminati oleh para pengusaha/masyarakat.
• Penangkaran labi-labi/bulus yang ada masih mengandalkan pola pembesaran (ranching) dari hasil tangkapan di alam dan pembiakannya masih dalam taraf uji coba dengan membesarkan tukik hasil penetasan telur dari labi-labi/bulus dewasa hasil tangkapan dari alam, sedangkan jenis asli lainnya yaitu kura-kura rote sudah dapat ditangkarkan dengan pola pembiakan. Berbeda halnya dengan jenis eksotik yang sudah mampu dibudidayakan dengan pola pembiakan (breeding) dalam skala usaha yang lebih besar.
Ditinjau dari aspek konservasi, hanya penangkaran labi-labi yang belum dapat menekan pemanfaatannya dari alam. Hal ini disebabkan tingginya permintaan labi-labi yang tidak seiring dengan lamanya waktu pemeliharaan di penangkaran saat anakan baru menetas hingga dewasa yang siap panen. Labi-labi cina, kura-kura brazil, dan kura-kura rote sudah mampu menekan pemanfaatan jenis dari alam karena populasinya di penangkaran mencukupi permintaan
48
konsumen. Sehubungan dengan hal tersebut maka diperlukan upaya untuk mewujudkan penangkaran kura-kura yang berkelanjutan sebagai kondisi ideal berdasarkan hasil penelaaahan kondisi aktual yang telah dijalankan saat ini oleh perusahaan penangkaran melalui manajemen populasi, persyaratan teknis pendukung, dan regulasi. Gambaran manajemen populasi, persyaratan teknis pendukung, dan regulasi yang diperlukan untuk mewujudkan penangkaran kura- kura yang berkelanjutan dapat dijelaskan berikut ini.
Manajeman Populasi
Menurut Bailey (1984), dalam praktek pengelolaan satwa liar diperlukan adanya dua kegiatan utama yaitu: manajemen populasi dan manipulasi/perbaikan habitat. Alikodra (2010) menyatakan bahwa populasi satwa liar berfluktuasi dari waktu ke waktu sesuai dengan fluktuasi keadaan lingkungannya. Fluktuasi populasi ini dapat berkembang, stabil, ataupun menurun. Pengelolaan populasi bertujuan untuk mendapatkan kondisi yang stabil dengan struktur populasi (komposisi kelamin dan umur) mampu menjamin keseimbangan jumlah anggotanya. Demikian pula halnya dengan manajemen populasi penangkaran kura-kura dilakukan bertujuan untuk meningkatkan populasi agar dapat dipanen sesuai dengan tujuan penangkarannya dan daya dukung kolam yang tersedia. Karena kelebihan populasi kura-kura akan berdampak negatif, seperti terjadinya persaingan ruang dan pakan yang semakin ketat sehingga menyebabkan kematian dan menurunnya populasi. Kondisi kualitas dan kuantitas habitat kura-kura di penangkaran akan menentukan produktivitas kura-kura (daya reproduksi tinggi dan tidak mudah terserang penyakit).
Penangkaran kura-kura merupakan salah satu solusi dalam rangka memenuhi dan mengantisipasi tingginya permintaan kura-kura jenis tertentu di pasaran domestik dan luar negeri baik untuk konsumsi maupun peliharaan. Mengelola spesies agar dapat terus dimanfaatkan dan sekaligus menjaga populasinya di alam tidaklah mudah, karena dituntut keterampilan dan keuletan menanganinya sehingga sedikit kesalahan mungkin menciptakan peluang percepatan penurunan populasi kura-kura. Peningkatan populasi kura-kura dapat ditempuh melalui peningkatan skala usaha yang dijalankan, salah satu diantaranya memperluas lokasi penangkaran sebagai habitat buatan bagi kura-kura yang ditangkarkan sehingga mampu menampung dalam jumlah yang lebih besar. Ketersediaan kura-kura yang mencukupi dari hasil penangkaran akan mengurangi ketergantungan dari alam, sehingga populasinya di alam stabil dan cenderung mengalami peningkatan. Oleh karena itu usaha-usaha untuk meningkatkan populasi di penangkaran guna mencukupi kebutuhan di pasaran harus menjadi prioritas, sehingga keberlanjutan usaha penangkaran dapat dipertahankan.
Perbedaan jenis kura-kura yang ditangkarkan akan mempunyai tujuan penangkaran yang berbeda (untuk konsumsi atau hewan peliharaan). Demikian juga dengan unit usaha penangkarannya tentu akan berbeda karena masing-masing memiliki kiat, dasar, pengetahuan dan pengalaman yang berbeda. Pada keempat jenis kura-kura yang ditangkarkan terdapat perbedaan, terlihat bahwa kura-kura jenis eksotik memiliki keunggulan yang lebih banyak dibandingkan jenis asli.
49 Penangkaran kura-kura yang berkelanjutan selalu menekankan adanya upaya pemanfaatan lestari terhadap populasi kura-kura agar tidak mengancam kelestarian populasinya yang ada di alam. Ini berarti ketersediaan kura-kura di penangkaran dapat mencukupi kebutuhan baik untuk konsumsi maupun pet di pasaran. Oleh karena itu manajemen populasi kura-kura di penangkaran haruslah benar-benar dijalankan. Upaya yang dapat ditempuh antara lain: menambah jumlah kura-kura indukan seiring dengan perluasan lokasi penangkaran sebagai habitat buatannya, tidak melakukan pemanenan yang berlebih, lebih selektif dalam melakukan pemanenan dengan prioritas kura-kura jantan khususnya untuk konsumsi yang siap panen di usia dewasa.
Persyaratan Teknis Pendukung
Pembangunan penangkaran kura-kura tergantung pada ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan,keterampilan dan keahlian teknis penangkaran kura-kura, fasilitas pendukung berupa sarana prasarana yang tersedia untuk kelangsungan proses usaha penangkaran, dana untuk pembiayaaan investasi dan operasional, teknik dan cara-cara penangkaran kura-kura yang dimiliki, dan bahan baku/bibit kura-kura yang memadai dari segi kuantitas dan kualitas. Penetapan lokasi penangkaran kura-kura dengan mempertimbangkan, antara lain: terletak di tempat yang tenang, aman dari gangguan, mudah dicapai atau ditempuh, tersedia air yang cukup sepanjang tahun untuk keperluan mengisi dan mengganti air kolam, topografi rata sampai bergelombang ringan, luas sesuai kebutuhan, terisolasi dari pengaruh binatang/hama, permukaan tanah bertekstur halus bukan batu karang, tersedia pohon-pohon peneduh karena kura-kura memerlukan tempat berteduh dan berlindung dari panas, dan mudah mendapatkan hijauan yang dijadikan sebagai pakan tambahan selain pakan utama.
Keberlanjutan suatu penangkaran kura-kura tidak terlepas dari aspek teknis manajemen penangkaran yang dijalankan, seperti: pengadaan bibit, adaptasi dan aklimatisasi, perkandangan, pakan dan air, penyakit dan perawatan kesehatan, reproduksi dan teknik penetasan telur, pemanenan, dan penunjang lainnya. Kemampuan pengelolaan penangkaran dalam memelihara dan membesarkan anakan hingga mencapai usia ekonomis secara terus menerus dan berkesinambungan sesuai standar ukuran permintaan konsumen di pasaran merupakan indikator keberlanjutan penangkaran. Beberapa persyaratan teknis yang harus dipenuhi dapat mendukung keberlanjutan penangkaran kura-kura baik untuk konsumsi maupun pet.
Pengadaan bibit yang dilakukan harus indukan dalam kondisi sehat dan normal dengan bobot yang memadai/matang reproduksi, sistem perkandangan/ kolam yang dibuat harus memisahkan antara anakan dan dewasa seperti layaknya kondisi habitat aslinya di alam seaman dan senyaman mungkin (termasuk untuk karantina/adaptasi), pakan yang diberikan harus memberikan pengaruh terhadap produktivitas dan daya tahan tubuh kura-kura yang dipelihara, sirkulasi air di kolam juga dilakukan secara teratur, perawatan dan penanganan kesehatan secara berlaku harus dilakukan, pemeliharaan dan penanganan telur hingga menetas menjadi individu baru secara profesional untuk meningkatkan daya tetas dan peluang hidup produk, penyediaan fasilitas penunjang yang mamadai, pembekalan
50
kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia pengelola di bidang penangkaran kura-kura akan sangat mendukung bagi terwujudnya penangkaran kura-kura yang berkelanjutan. Hal ini berarti penangkaran kura-kura tersebut secara terus menerus dan berkesinambungan menghasilkan produk berupa kura- kura baik dewasa maupun anakan tanpa menghabiskan populasi kura-kura dewasa yang dipelihara untuk dikembangbiakan di penangkaran. Deskripsi aspek teknis penangkaran kura-kura untuk konsumsi dan hewan peliharaan (pet) yang ideal sebagai hasil sintesis disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8 Deskripsi aspek teknis penangkaran kura-kura yang dipersyaratkan Aspek teknis Kura-kura untuk
konsumsi
Kura-kura untuk peliharaan (pet) Pengadaan bibit indukan dalam kondisi
sehat dan normal dengan bobot yang memadai/matang reproduksi
indukan dalam kondisi sehat dan normal dengan bobot yang memadai/matang reproduksi Adaptasi dan aklimatisasi tersedia kolam/ruang
karantina bagi individu yang sakit/ baru beradaptasi
tersedia kolam/ruang karantina bagi individu yang sakit/ baru beradaptasi Perkandangan
a. Sistem
perkandangan
pembagian kolam menurut kelas umur (anakan dan dewasa)
pembagian kolam menurut kelas umur (anakan dan dewasa) b. Ukuran kandang
-Anakan kondisional sesuai kebutuhan
kondisional sesuai kebutuhan
-Dewasa kondisional sesuai kebutuhan kondisional sesuai kebutuhan c. Pengayaan lingkungan kandang penyediaan vegetasi dan infrastruktur penunjang penyediaan vegetasi dan infrastruktur penunjang d. Konstruksi
-Anakan aman dan nyaman,
seperti kondisi habitat aslinya
aman dan nyaman, seperti kondisi habitat aslinya
-Dewasa aman dan nyaman, seperti kondisi habitat aslinya
aman dan nyaman, seperti kondisi habitat aslinya
e. Perawatan kandang rutin secara berkala dibersihkan
rutin secara berkala dibersihkan
Pakan dan air
a. Waktu pemberian pakan
-Anakan rutin setiap hari rutin setiap hari -Dewasa rutin setiap hari rutin setiap hari
51 Tabel 8 (lanjutan)
Regulasi
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam mewujudkan penangkaran kura-kura yang berkelanjutan adalah adanya regulasi yang ditetapkan sebagai payung hukum bagi penerapan di lapangan. Regulasi ditetapkan berkaitan dengan pengawasan dan pengendalian praktek penangkaran kura-kura, agar pengelolaan
Aspek teknis Kura-kura untuk konsumsi
Kura-kura untuk peliharaan (pet) b. Teknik pemberian
pakan
-Anakan tersebar tersebar
-Dewasa terkonsentrasi dan merata
terkonsentrasi dan merata
c. Jenis pakan
-Anakan pellet (pakan buatan) pellet (pakan buatan) -Dewasa kombinasi pelet dan
pakan alami
kombinasi pelet dan pakan alami
d. Jumlah pakan yang diberikan
-Anakan sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan -Dewasa sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan e. Bagian pakan yang
dikonsumsi
-Anakan seluruh bagian seluruh bagian -Dewasa seluruh bagian seluruh bagian Penyakit dan perawatan
kesehatan
rutin dikontrol dan ada penanganan
rutin dikontrol dan ada penanganan
Reproduksi dan teknik penetasan telur
a. Perlakuan telur selektif dalam sortasi telur fertil dan infertil
selektif dalam sortasi telur fertil dan infertil b. Perlakuan anakan selektif dalam sortasi
anakan cacat/sakit
selektif dalam sortasi anakan cacat/sakit
Pemeliharaan rutin rutin
Pemanenan selektif dalam
pemanenan
selektif dalam pemanenan Penunjang lainnya
a. Diversifikasi jenis minimal 5 jenis minimal 5 jenis b. Vegetasi minimal 30% di area
penangkaran
minimal 30% di area penangkaran
c. Ketenagakerjaan tersedia memadai sesuai kebutuhan
tersedia memadai sesuai kebutuhan
d. Sarana dan prasarana perlengkapan
pendukung
tersedia memadai sesuai kebutuhan
tersedia memadai sesuai kebutuhan
52
penangkaran kura-kura yang berkelanjutan menunjang upaya konservasi jenis, sehingga populasinya di alam tetap lestari meskipun permintaan di pasaran selalu meningkat dari waktu ke waktu. Pengawasan terhadap perusahaan penangkaran perlu secara intensif dilakukan agar kegiatan penangkarannya tetap terarah dan sesuai dengan tujuan. Pengendalian melalui tertib perizinan, terutama ditujukan bagi pengusaha satwa liar dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya alam dan memberikan kepastian hukum bagi pengelolaan usaha satwa liar.
Regulasi terkait aspek konservasi yang ditetapkan kiranya dapat mendukung upaya yang berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Mendukung usaha-usaha penangkaran kura-kura dengan menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuh kembangnya usaha ini, karena dapat konsekuensi bagi berkurangnya ketergantungan kura-kura jenis asli dari alam, menjadi restocking untuk menambah populasinya di alam, menghindarkan ancaman kepunahan jenis, tidak perlu memberlakukan kuota tangkap dari alam, reintroduksi (pelepasliaran) bagi kura-kura jenis asli dapat diterapkan untuk menambah populasinya di alam, terhindarkan inbreeding, terhindarkan ancaman meledaknya spesies invasif bagi kura-kura jenis eksotik dengan adanya keserasian kebijakan antar instansi yang berwenang (diharapkan ada satu instansi pemberi ijin penangkaran jenis kura-kura), pencegahan dan penanganannya di tingkat penangkar agar tidak keluar dan menyebar di lingkungan lokasi penangkaran, kontrol di tingkat konsumen dengan mengantisipasi pelepasliaran individu dewasa ke alam, serta pengendalian populasi yang beredar di pasaran agar tetap terpantau.
2. Diversifikasi jenis kura-kura yang ditangkarkan tetap dijalankan dengan menambah jumlah dan ragam jenis yang lebih banyak guna mendukung upaya konservasi jenis kura-kura.
3. Kesejahteraan satwa (kura-kura) tetap menjadi perhatian dan prioritas pengelolaan guna mendukung keberlanjutan penangkaran kura-kura melalui reproduksi yang berhasil, karena satwa yang ditangkarkan sudah mampu beradaptasi dengan lingkungannya, tercukupi kebutuhan pakannya, dan terpenuhi kesesuaian habitatnya, nyaman dan tenang dipelihara, serta terjaga kesehatannya.
4. Kualitas produk sesuai standar yang dipersyaratkan melalui seleksi produk hasil penangkaran tetap terjaga untuk mendukung pasokan di pasaran sehingga memperkecil peluang mengambil kura-kura jenis asli dari alam.
Upaya lain dalam mendukung konservasi kura-kura melalui penangkaran dapat ditingkatkan dengan mempermudah perijinan, penyediaan induk melalui pemanfaatan hasil sitaan dan penangkapan terbatas di alam, insentif pengurangan pajak, insentif pemberian kredit lunak (bunga 0%) sebagai penghargaan (reward) bagi perusahaan yang berhasil menangkarkan kura-kura, penerbitan aturan khusus yang mengijinkan penjualan kura-kura hanya hasil penangkaran dan tidak untuk hasil tangkapan dari alam. Kendala yang dihadapi bersifat internal sebagaimana diketahui bahwa kura-kura memiliki kematangan kelamin dan usia hidup yang lama, jumlah telur sedikit serta pertumbuhannya lambat sehingga akan mengurangi minat penangkar karena dapat menghabiskan biaya yang besar dan bersifat tidak ekonomis perlu dicarikan solusi pemecahannya, misalnya dengan penerapan teknologi reproduksi dan pertumbuhan kura-kura.
53
5 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Aspek teknis manajemen penangkaran kura-kura yang perlu diperhatikan adalah pengadaan bibit, adaptasi dan aklimatisasi, perkandangan, pakan dan air, penyakit dan perawatan kesehatan, reproduksi dan teknik penetasan telur, pemanenan, dan penunjang lainnya. Aspek-aspek teknis tersebut dapat mendukung bagi terwujudnya penangkaran kura-kura yang berkelanjutan dengan indikator produk berupa kura-kura baik anakan maupun dewasa dapat dihasilkan secara terus menerus dan berkesinambungan melalui proses pemeliharaan dan perkembangbiakan tanpa menghabiskan populasi kura-kura dewasa yang dipelihara di penangkaran. Pertumbuhan populasi kura-kura di penangkaran dipengaruhi oleh adanya kelahiran individu baru, kematian baik yang muda maupun dewasa dan panenan sebagai hasil produksi.
Analisis sistem dinamik penangkaran kura-kura dapat digunakan sebagai metode yang baik untuk mengetahui dan menganalisis keberlangsungan usaha penangkaran kura-kura baik dari aspek biologi maupun aspek teknis dengan mengidentifikasi berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi.
Penangkaran kura-kura yang berkelanjutan dapat terwujud dengan melakukan upaya yang mendukung diantaranya melalui pemenuhan persyaratan teknis pendukung, pelaksanaan manajemen populasi dan penetapan regulasi, serta dukungan pemerintah dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuh kembangnya usaha ini.
Saran
Penelitian lanjutan dengan memasukan faktor manajemen penangkaran dalam model sebagai faktor yang mempengaruhi dinamika populasi kura-kura di penangkaran secara lebih rinci dan komprehensif.
Peran pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi usaha penangkaran kura-kura yang berkelanjutan secara intensif sangatlah dibutuhkan bagi upaya pelestarian jenis terutama kura-kura jenis lokal dari ancaman kepunahan dan spesies invasif yang diintroduksi dari luar dengan keunggulan yang lebih banyak dibandingkan dengan jenis asli.
54