AROPT terhadap L. invasa sedikit berbeda dengan yang umum dilakukan Badan Karantina Pertanian. Sampai saat ini Barantan belum memiliki pedoman AROPT berdasarkan OPT. Pelaksanaan AROPT di Barantan saat ini umumnya dilakukan berdasarkan media pembawa yaitu melalui tembusan permohonan ijin pemasukan benih/bibit dan produk pertanian yang baru pertama kali dimasukkan ke wilayah RI. Pelaksanaan AROPT berdasarkan media pembawa penting untuk dilakukan, karena akan banyak OPT/OPTK yang terjaring untuk dilakukan penilaian potensi risiko. Hal tersebut akan memperpanjang daftar OPTK karena salah satu kesulitan pelaksanaan AROPT adalah pada saat memperkirakan kerugian ekonomi, dampak pada lingkungan dan sosial pada masyarakat.
AROPT berdasarkan OPT/OPTK juga sangat penting dilakukan. Penilaian risiko akan menjadi lebih rinci, dan komoditas yang berpotensi menjadi media pembawa dapat dipilih dan disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Pelaksanaan AROPT berdasarkan OPTK juga penting dilakukan untuk OPTK yang terdaftar dalam daftar OPTK Barantan, karena belum semua OPTK yang tercantum di dalam daftar tersebut telah melalui proses AROPT. Sehingga diharapkan setelah dilakukan AROPT berdasarkan OPTK melalui kajian ekonomi yang menyeluruh dapat ditentukan bahwa suatu OPT berpotensi sebagai OPTK, dan memungkinkan bahwa OPT yang awalnya tercantum dalam daftar OPTK tidak berpotensi sebagai OPTK.
Permentan No.09/Permentan/OT.140/2/2009 memuat tentang Tatacara Pelaksanaan AROPT. Proses inisiasi yang tercantum pada Lampiran III lebih sesuai digunakan untuk pelaksanaan AROPT berdasarkan media pembawa. Selain itu metode dan aspek-aspek yang dinilai pada tahap penilaian risiko dalam Lampiran III kurang menyeluruh. Atas dasar tersebut Barantan menerbitkan pedoman AROPT (Barantan 2011) terbaru menggantikan pedoman sebelumnya (Barantan 2008). Dengan diterbitkannya pedoman AROPT (Barantan 2011), maka tatacara pelaksanaan AROPT pada Lampiran III tidak relevan lagi dan harus disesuaikan dengan pedoman terbaru. Selain itu informasi mengenai tatacara pelaksanaan AROPT sebaiknya tidak bersifat umum, untuk itu akan lebih baik jika disusun dua versi yang berbeda yaitu tatacara pelaksanaan AROPT berdasarkan media pembawa dan berdasarkan OPT/OPTK.
44
Proses penyelesaian suatu AROPT dilakukan oleh suatu tim AROPT melalui tahap penyusunan yang selanjutnya akan dibahas oleh tim bersama para pakar dari disiplin ilmu yang berbeda-beda baik dari institusi pendidikan maupun NPPO terkait. Kendala dalam pelaksanaan AROPT di Barantan adalah kurangnya ketersediaan waktu untuk penyusunan AROPT. Waktu yang dibutuhkan sejak permohonan ijin pemasukan ditembuskan kepada Barantan dengan penerbitan rekomendasi pemasukan relatif singkat. Berbeda halnya dengan pelaksanaan PRA atau impor risk analysis (IRA) di negara lain yang tidak diberi batas waktu, pelaksanaan AROPT di Indonesia masih terikat waktu. Karena untuk menerbitkan suatu rekomendasi pemasukan benih atau bibit dan produk pertanian berhubungan dengan beberapa NPPO. Kendala lain dalam pelaksanaan AROPT adalah kesulitan memperoleh informasi dari NPPO negara calon pengekspor. Sulitnya mengakses data pendukung di Indonesia seperti luas area pertanaman, jumlah pekerja yang terlibat, informasi mengenai kerusakan lingkungan akibat aktivitas budidaya dan sebagainya, menjadi kendala dalam menentukan kerugian dibidang ekonomi, sosial dan lingkungan. Kesulitan memperkirakan dampak ekonomi jika dinilai dalam rupiah karena selama ini perkiraan kerugian masih dilakukan berdasarkan data dari negara lain. Penilaian terhadap kerusakan lingkungan dan dampak sosial bagi masyarakat juga masih sulit dilakukan. Indonesia harus belajar dari negara maju yang sangat memperhatikan masalah lingkungan, sehingga tidak sulit bagi mereka untuk menghitung kerugian yang ditimbulkan akibat kerusakan lingkungan. Mengingat pentingnya pelaksanaan AROPT bagi karantina, diharapkan agar diberikan ketersediaan waktu yang tidak terbatas bagi tim AROPT dan informasi sebanyak mungkin dari NPPO negara calon pengekspor.
L. invasa merupakan hama baru yang belum ditemukan di Indonesia. Hasil analisis risiko menunjukkan bahwa OPT ini memiliki potensi risiko tinggi untuk masuk, menyebar, menetap dan menimbulkan masalah ekonomi di Indonesia melalui media pembawa Eucalyptus spp. Setiap pemasukan Eucalyptus spp. harus memenuhi persyaratan umum karantina tumbuhan. Kewajiban tambahan yang ditetapkan terhadap pemasukan Eucalyptus spp. antara lain harus berasal dari area bebas atau tempat produksi bebas L. invasa. Untuk pemasukan dalam bentuk bibit eucalyptus harus dilengkapi dengan Surat Ijin Pemasukan dari Menteri Pertanian, diberi perlakuan dengan insektisida sistemik dan dibatasi volumenya. Peredaran bibit Eucalyptus spp. impor di dalam wilayah RI harus diawasi.
Untuk mengurangi risiko masuknya L. invasa ke dalam wilayah RI, bibit eucalyptus yang dimasukkan sebaiknya dalam bentuk benih atau kultur jaringan. Berdasarkan hasil penilaian risiko, L. invasa dapat diusulkan sebagai organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) Kategori A1.
47
DAFTAR PUSTAKA
Ananthakrishnan TN, Jesudasan RWA. 2009. Invasive insects in agriculture,
medicine and forestry. Current Science 97(3).
Anonim. 2011. Lawatan ke Riau pulp buka hati masyarakat Parmaksian.
[APF ISN] Asia-Pacific Forest Invasive Species Network. 2011. Pest Fact Sheet
[APHIS] Animal and Plant Health Inspection Service. 2000. Guidelines for pathway – initiated PRA assessment version 5.02. Riverdale (US): US Department of Agriculture.
Aytar F. 2003. Natural history, distribution and control method of Leptocybe invasa Fisher & La Salle (Hym: Eulophidae), Eucalyptus Gall Wasp in Turkey. J DOA 9: 47 – 66.
Aytar F. 2006. Natural history, distribution and host Eucalyptus gall wasps in Turkey [Poster presentasi pada European Congress Entomology VIII]. 17-
22 Sep 2006.
[Barantan] Badan Karantina Pertanian. 2008. Petunjuk Teknis Penyusunan Analisis Risiko Organisme Pengganggu Tumbuhan (AROPT) Berdasarkan Media Pembawa. Jakarta (ID): Departemen Pertanian. Badan Karantina Pertanian.
[Barantan] Badan Karantina Pertanian. 2011. Pedoman Teknis Penyusunan Analisis Risiko Organisme Pengganggu Tumbuhan (AROPT). Jakarta (ID): Departemen Pertanian. Badan Karantina Pertanian.
Branco M, Franco JC, Valente C, Mendel Z. 2005. Presence of an eucalyptus gall wasp Leptocybe invasa (Hymenoptera: Eulophidae) in Portugal. Nop 2011].
[CABI] CAB International. 2007. Crop Protection Compendium (CD-ROM). Willingford (UK): CABI. 2nd
[Deptan] Departemen Pertanian. 2002. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2002. Departemen Pertanian. Jakarta (ID).
CD-ROM dengan penuntun di dalamnya.
[Deptan] Departemen Pertanian. 2006. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 38/Permentan/OT.140/8/2006 tentang pemasukan dan pengeluaran benih. Jakarta (ID): Departemen Pertanian.
[Deptan] Departemen Pertanian. 2009. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 09/Permentan/OT.140/2/2009 tentang persyaratan dan tatacara tindakan karantina tumbuhan terhadap pemasukan media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. Jakarta (ID): Departemen Pertanian.
Dhahri S, Ben Jamma ML, Lo Verde G. 2010. First record of Leptocybe invasa
and Ophelimus maskelli eucalyptus gall wasps in Tunisia. Tunisian J Plant Prot 5:229-234.
Doganlar O. 2005. Occurence of Leptocybe invasa Fisher & La Salle (Hymenopetra: Chalcidoidea) on Eucalyptus camaldulensis in Turkey, with the description of the male sex. Zoo The Mid East 35:112-114.
Emery RN, Poole MC, Botha JH, Hardie DC. 2003. Semi-quantitative model for ranking exotic invertebrate pest threats to Western Australia. Proceeding of the Australia Postharvest Technical Conference 25 – 27 June 2003. Stored Grand Research Laboratory Canberra. Department of Agriculture, Fisheries, Forestry – Australia.
[FAO] Food and Agriculture Organization. 1995. International Standards for Phytosanitary Measures No. 1: Principles of Plant Quarantine as Related to International Trade. Secretariat of the International Plant Protection Convention of the Food and Agriculture Organization (FAO) of the United Nations. Rome (IT).
[FAO] Food and Agriculture Organization. 2001. International Standards for Phytosanitary Measures No. 21: Pest Risk Analysis for Regulated Non- Quarantine Pests. Secretariat of the International Plant Protection Convention of the Food and Agriculture Organization (FAO) of the United Nations. Rome (IT).
[FAO] Food and Agriculture Organization. 2009. International Standards for Phytosanitary Measures No. 11: Pest Risk Analysis for Quarantine Pest, including analysis of environtmental risks and living modified organisms. Secretariat of the International Plant Protection Convention of the Food and Agriculture Organization (FAO) of the United Nations. Rome (IT).
[FAO] Food and Agriculture Organization. 2011. Protection against South American leaf blight of rubber in Asia and the Pacific region. Food and Agriculture Organization of The United Nations, Regional Office for Asia and The Pacific. Bangkok (TH).
Gaskill DA, Hung SE, Smith TR. 2009. 2009 Florida CAPS blue gum chalcid survey repor 2011].
Gupta A, Poorani J. 2009. Taxonomic studies on a collection of Chalcidoidea (Hymenoptera) from India with new distribution records. J Threatened Taxa 1(5): 300-304
Hesami S, Alemansoor H, Seyedebrahimi S. 2006. Report of Leptocybe invasa
(Hym: Eulophidae), gall wasp of Eucalyptus camaldulensis with notes on biology in Shiraz vicinity. J Entomol Soc Iran 24: 99-108.
[ICFR]. 2011. Information s
[IFGTB] Institute of Forest Genetics & Tree Breeding. 2007. Gall insect problem in eucalyptus – present status and future course of action. [press note]. Tamil Nadu (IN): Indian Council of Forestry Research & Eduction.
49 Nop 2011].
Jacob JP, Devaraj R, Natarajan R. 2007. Outbreak of the invasive gall-inducing wasp Leptocybe invasa on eucalyptus in India. Newsletter of the Asia- Pacific Forest Invasive Species Network. 8: 4-5.
Jhala RC, Pateland MG, Vaghela NM. 2010. Effectiveness of insecticides against blue gum chalcid, Leptocybe invasa Fisher & La Salle (Hymenoptera: Eulophidae), infesting eucalyptus seedlings in middle Gujarat, India. Karnataka J Agric Sci 23(1): 84-86.
Karutnaratne WAIP, Edirisinghe JP, Ranawana KB. 2010. Rapid survey of damage due to gall wasp infestation in a coppiced Eucalyptus camaldulensis plantation in Maragamuwa, Naula in the Matale District of Sri Lanka. Cey J Sci (Bio Sci) 39(2): 157-161.
Kavitha Kumari N. 2009. Bioecology and management of eucalyptus gall wasp,
Leptocybe invasa Fisher & La Salle (Hymenoptera: Eulophidae) [tesis]. Department of Agricultural Entomology College of Agriculture, University of Agricultural Sciences, Dharward (IN).
Kavitha Kumari N, Kulkarni H, Vastrad AS, Basavana Goud K. 2010. Biology of eucalyptus gall wasp, Leptocybe invasa Fisher and La Salle (Hymenoptera: Eulophidae). Karnataka J Agric Sci 23(1): 211-212.
[KEFRI] Kenya Forestry Research Institute Nairobi. 2007. The current status on the newly identified eucalyptus tree insect pest. Forest Department, Tree Biotechnology Project & KEFRI, Kenya Forestry Research Institute Nairobi. 2011].
[Kementan] Kementerian Pertanian. 2011. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 93/Permentan/OT.140/12/2011 tentang Jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina. Kementerian Pertanian. Jakarta (ID).
Kim IK, Mendel Z, Protasov A, Blumberg D, La Salle J. 2008. Taxonomy, biologi and efficacy of two Australian parasitoids of the eucalyptus gall wasp,
Leptocybe invasa Fisher & La Salle (Hymenoptera: Eulophidae: Tetrastichinae). Zootaxa 1910:1-2.
Kliejunas JT, Burdsall Jr HH, DeNitto GA, Haverty MI, Micales JA. 2006. Pest risk assessment of the importation into the United States of unprocessed
Pinus logs and chips from Australia. Forest Health Protection. United States Department of Agriculture (USDA).
Kulkarni H, Kavitha Kumari N, Vastrad AS, Basavana Goud K. 2010. Release and recovery of parasiotoids in eucalyptus against gall wasp, Leptocyeb invasa (Hymenoptera: Eulophidae) under green house. Karnataka J Agric Sci 23(1): 91-92.
Kulkarni H, Kavitha Kumari N, Vastrad AS, Basavana Goud K. 2010. Biology of eucalyptus gall wasp, Leptocybe invasa Fisher and La Salle (Hymenoptera: Eulophidae). Karnataka J Agric Sci 23(1): 211-212.
Kumar SS, Kant SK, Emmanuel T. 2007. Emergence of gall inducing insect
Leptocybe invasa (Hymenoptera: Eulophidae) an Eucalyptus plantation in Gujarat, India, Indian Forester 133: 566-1568.
La Salle J, Kim IK, Mendel Z, Protasov A, Blumberg D. 2008. Taxonomy, biology, and efficacy of two Australian parasitoids of the eucalyptus gall wasp, Leptocybe invasa Fisher & La Salle (Hymenoptera: Eulophidae: Tetrastichinae). Zootaxa 1910: 1 – 20.
Maturana J. 2005. Biaya dan manfaat ekonomi dari pengalokasian lahan hutan tanaman industri di Indonesia. Bogor (ID): Center for International Forestry Research.
Mendel Z, Protasov A, Fisher N, La Salle J. 2004. Taxonomy and biology of
Leptocybe invasa gen. & sp. n (Hymenoptera: Eulophidae), an invasive gall inducer on Eucalyptus. Aus J Entomol 43:101-113.
Mutitu KE. 2003. A pest threat to Eucalyptus species in Kenya, KEFRI [technical report]. 12p.
Mutitu KE, Nyeko P, Day RK, Otieno BO, Oeba V. 2008. Distribution, incidence and severity patterns of blue gum chalcid, Leptocybe invasa in East Africa.
[20 Nop 2011].
Noyes JS. 2007. Universal Chalcidoidea Database. http://internet.nhtm. ac.uk/jdsm/perth/chalcidoids
Nyeko P, Mutitu KE, Day RK. 2007. Farmers knowledge, perceptions and management of gall-forming wasp, Leptocybe invasa (Hymenoptera: Eulophidae), on Eucalyptus species in Uganda. Int J pest mgt 53: 111-119.
. [14 Jan 2012].
Nyeko P, Mutitu KE, Day RK. 2009. Ecualyptus infestation by Leptocybe invasa
in Uganda. Afr J Ecol 47:299-307. DOI: 10.1111/j/13652028.2008.01 004.x.
Old KM, Wingfield MJ, Yuan ZQ. 2003. A manual of disease of Eucalyptus in South-East Asia. Center for International Forestry Research. Jakarta (ID). Pramono IB, Pudjiharta A. 1996. Research experiences on Eucalyptus in
Indonesia [FAO Corporate Document Repository.
Protasov A. Doganlar M, La Salle J, Mendel Z. 2008. Occurence of two local
Megastigmus species parasitic on the eucalyptus gall wasp Leptocybe invasa in Israel and Turkey. Phytoparasitica 36(5): 449-459
Roux J, Slippers B. 2007. Entomology and pathology survey with particular reference to Leptocybe invasa. Tree Protection Co-operative Programme. Forestry and Agricultural Biotechnology Institue. University of Pretoria, Pretoris (ZA).
Thu PQ, Dell B, Burgess TI. 2009. Susceptibility of 18 eucalypt species to the gall wasp Leptocybe invasa in the nursery and young plantations in Vietnam. ScienceAsia 35: 113-117. DOI: 10.2306/scienceasia15131874. 2009.35.113.
[TPCP] Tree Protection Co-operative Programme. 2005. Pest alert. Blue gum chalcid. Tree Protection News 10:13
51 Wiley J. 2008. Eucalyptus pest, Leptocybe invasa Fisher and La Salle
(Hymenoptera: Eulophidae), genus and species new to Florida and North America. 2011].
[WTO] World Trade Organisation.
54
Lampiran 1 Penilaian potensi risiko OPT
Penilaian potensi risiko OPT
No Kategori penilaian Faktor yang dinilai Total skor
Penilaian potensi masuk, menetap dan menyebar
1 Potensi masuk - Bentuk media pembawa dan
tujuan pemasukan media pembawa
- Frekuensi dan volume pemasukan media pembawa
- Kemungkinan OPT bertahan hidup selama transportasi dan lolos dari deteksi di tempat pemasukan - Kemampuan invasi
- Penyebaran OPT
- Cara hidup dan kemampuan bertahan
7 – 21
2 Potensi menetap - Strategi reproduksi dan jumlah individu yang dibutuhkan untuk membangun populasi yang mapan - Distribusi tanaman inang
- Kesesuiaian lingkungan
3 – 9
3 Potensi menyebar
setelah menetap
- Kemampuan menyebar segera setelah menetap
- Ketersediaan musuh alami - Kesulitan dilakukan eradikasi
3 – 9
Potensi menimbulkan masalah ekonomi, lingkungan dan sosial
4 Potensi
menimbulkan masalah ekonomi
- Potensi kerugian yang ditimbulkan - Potensi menimbulkan kerugian
dan kehilangan pasar
- Potensi sebagai vektor penyakit tanaman
- Potensi menimbulkan biaya tambahan akibat pengendalian
4 – 12
5 Potensi
menimbulkan masalah kerusakan lingkungan
- Potensi menimbulkan masalah lingkungan
1 – 3
6 Potensi
menimbulkan masalah sosial
- Potensi menimbulkan masalah
Lampiran 2 Parameter penilaian potensi risiko OPT
No Faktor yang
dinilai Respon Kategori Skor
Penilaian potensi masuk 1 Bentuk media
pembawa dan tujuan
pemasukan media pembawa
1. Media pembawa yang
dimasukkan ke dalam wilayah RI dalam bentuk hasil tanaman mati untuk bahan baku industri dan langsung diolah
2. Media pembawa yang
dimasukkan ke wilayah RI dalam bentuk bagian tanaman hidup atau mati yang masih dapat ditumbuhkan; bahan baku industri dan konsumsi yang tidak langsung diolah
3. Media pembawa yang
dimasukkan ke dalam wilayah RI dalam bentuk bibit maupun material vegetatif untuk
kepentingan perbanyakan atau ditanam kembali Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 2 Frekuensi dan volume pemasukan media pembawa
1. Pemasukan jarang terjadi dengan volume terbatas 2. Pemasukan jarang terjadi
dengan volume besar
3. Pemasukan bersifat rutin dengan volume besar Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 3 Kemungkinan OPT bertahan hidup selama transportasi dan lolos dari deteksi di tempat
pemasukan
1. Tidak mampu bertahan selama transportasi; lama perjalanan lebih panjang dari siklus hidup dan mudah dideteksi oleh petugas di tempat pemasukan 2. Mampu bertahan dalam alat
angkut; lama perjalanan lebih panjang dari siklus hidup dan dapat dideteksi oleh petugas di tempat pemasukan
3. Mampu bertahan selama transportasi; lama perjalanan lebih singkat dari siklus hidupnya dan sulit dideteksi oleh petugas di tempat pemasukan Rendah Sedang Tinggi 1 2 3
56
Lampiran 2 (lanjutan)
No Faktor yang
dinilai Respon Kategori Skor
Penilaian potensi masuk
4 Kemampuan
invasi
1. L. invasa terintroduksi di negara tetangga namun tidak mampu menetap dan menyebar
2. L. invasa diketahui menetap dan menyebar di negara tetangga dan terdapat lalu lintas manusia ke wilayah RI
3. L. invasa diketahui menetap dan menyebar di negara tetangga, negara tetangga mengekspor media pembawa dan komoditi serta terdapat lalu lintas manusia ke wilayah RI Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 5 Penyebaran OPT
1. L. invasa tidak diketahui telah menyebar di luar daerah aslinya
2. L. invasa diketahui telah menyebar di luar jangkauan aslinya dalam jangka waktu 10 – 15 tahun terakhir
3. L. invasa diketahui telah menyebar di luar jangkauan aslinya dalam jangka waktu 5 – 10 tahun terakhir Rendah Sedang Tinggi 1 2 3
6 Cara hidup dan kemampuan bertahan
1. Hidup di luar jaringan tanaman, merusak dari bagian luar tanaman dan dapat dengan mudah dibebaskan dengan perlakuan
2. Salah satu fase terjadi di dalam jaringan tanaman dan merusak dari bagian dalam tanaman dan dapat dibebaskan dengan perlakuan
3. Sebagian besar atau seluruh fase terjadi di dalam jaringan tanaman dan merusak dari bagian dalam dan luar tanaman dan sulit dibebaskan dengan perlakuan
Rendah Sedang Tinggi 1 2 3
Lampiran 2 (lanjutan)
No Faktor yang
dinilai Respon Kategori Skor
Penilaian potensi menetap 1 Tipe reproduksi dan jumlah individu awal untuk perkembang- biakan populasi
1. Reproduksi seksual; keperidian rendah
2. Reproduksi seksual; keperidian sedang
3. Reproduksi seksual dan aseksual; keperidian tinggi (1 individu partenogenetik atau 1 ekor betina kawin)
Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 2 Distribusi tanaman inang
1. Hanya memiliki 1 jenis tanaman inang dan persebaranya terbatas 2. Memiliki 1 atau beberapa jenis
tanaman inang dalam satu famili dan persebarannya terbatas 3. Memiliki banyak jenis tanaman
inang dalam lebih dari satu famili dan persebaranya terbatas atau luas Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 3 Kesesuaian lingkungan
1. Faktor biotik dan abiotik tidak banyak mendukung
perkembangan OPT
2. Sebagian faktor biotik dan abiotik mendukung perkembangan OPT 3. Seluruh faktor biotik dan abiotik
mendukung perkembangan OPT
Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 Penilaian potensi menyebar
1 Kemampuan menyebar segera setelah menetap (melalui media pembawa maupun menyebar secara independen)
1. OPT sangat bergantung dengan inangnya dalam penyebarannya 2. OPT dapat memencar secara
aktif (jarak dekat) dan menyebar secara pasif bersama inangnya 3. OPT dapat memencar secara
aktif (jarak jauh) dan secara pasif bersama inang, material lain, maupun sebagai kontaminan
Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 2 Ketersediaan musuh alami
1. Diketahui terdapat beragam jenis musuh alami di Indonesia yang bersifat polifag atau oligofag 2. Diketahui terdapat beberapa jenis
musuh alami di Indonesia yang bersifat monofag
3. Tidak tersedia musuh alaminya di Indonesia Rendah Sedang Tinggi 1 2 3
58
Lampiran 2 (lanjutan)
No Faktor yang
dinilai Respon Kategori Skor
Peniliaian potensi menyebar 3 Kesulitan
dilakukan eradikasi
1. Proses eradikasi mudah dilakukan dengan banyak alternatif perlakuan
2. Proses eradikasi dapat dilakukan dengan perlakuan tertentu 3. Proses eradikasi belum pernah
atau sulit dilakukan
Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 Potensi menimbulkan masalah ekonomi, lingkungan dan sosial 1 Potensi kerugian
yang ditimbulkan
1. Menyebabkan kehilangan hasil 1 – 2%
2. Kehilangan hasil mencapai . > 2 % sampai < 5%
3. Kahilangan hasil mencapai ≥ 5%
Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 2 Potensi menimbulkan kehilangan pasar
1. Serangan OPT tidak menurunkan kualitas media pembawa dan masih bisa dipasarkan 2. Serangan OPT menurunkan
kualitas media pembawa namun media pembawa masih dapat dipasarkan; peredaran media pembawa tidak dibatasi 3. Serangan OPT menurunkan
produksi dan kualitas media pembawa, tidak dapat
dipasarkan, peredaran media pembawa dibatasi Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 3 Potensi menimbulkan biaya tambahan akibat pengendalian
1. Menggunakan satu dari beberapa teknik pengendalian berikut: pengendalian hayati, fisik, mekanik, kultur teknis
2. Menggunakan dua dari beberapa teknik pengendalian berikut: pengendalian hayati, fisik,
mekanik, kultur teknis, karantina, dan kimiawi
3. Menggunakan lebih dari dua teknik pengendalian berikut: pengendalian hayati, fisik,
mekanik, kultur teknis, karantina, dan kimiawi Rendah Sedang Tinggi 1 2 3
Lampiran 2 (lanjutan)
No Faktor yang
dinilai Respon Kategori Skor
Potensi menimbulkan masalah ekonomi, lingkungan dan sosial 4 Potensi OPT
sebagai vektor penyakit tanaman
1. Bukan vektor bagi penyakit tanaman
2. Vektor dari satu jenis penyakit tanaman
3. Vektor dari dua atau lebih penyakit tanaman Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 5 Potensi menimbulkan kerusakan lingkungan
1. Mengancam biodiversitas atau menyebabkan pencemaran lingkungan atau menyebabkan masalah hidrologi (salah satu) 2. Mengancam biodiversitas atau
menyebabkan pencemaran lingkungan atau menyebabkan masalah hidrologi (dua dari tiga kerusakan berpotensi untuk terjadi)
3. Mengancam biodiversitas, menyebabkan pencemaran lingkungan dan menyebabkan masalah hidrologi Rendah Sedang Tinggi 1 2 3 6 Potensi menimbulkan masalah sosial pada masyarakat
1. Kerugian ekonomi akibat
serangan OPT tidak menimbulkan masalah sosial yang berarti pada masyarakat, perusahaan tetap dapat bertahan dan beroperasi seperti biasa
2. Kerugian ekonomi akibat serangan OPT menyebabkan perusahaan harus menekan biaya produksi sehingga
mengakibatkan berkurangnya produksi yang berimbas kepada pengurangan jam kerja
3. Kerugian ekonomi akibat serangan OPT menyebabkan gangguan kesehatan akibat aplikasi pestisida, gagal panen, hilangnya lapangan pekerjaan, jumlah anak putus sekolah bertambah, perceraian serta ketidakmampuan individu atau kelompok individu untuk
memenuhi kebutuhan pokoknya
Rendah Sedang Tinggi 1 2 3
60
Lampiran 3 Perkiraan kerugian yang ditimbulkan akibat serangan L. invasa Diketahui:
• Volume panen rata-rata bubur kertas 5 tahun terakhir = 536 983.29 ton/thn
• Luas areal tanam = 5000 ha
• Jarak tanam eucalyptus = 4 m x 4 m = 16 m
• Tingkat kerusakan (TK) pada bibit
2
= 20% (KEFRI 2007)
• Tingkat kerusakan (TK) pada tanaman di tegakan = 4% (KEFRI 2007)
• Harga bibit eucalyptus/batang = Rp. 20.000
• Harga jual ekspor bubur kertas (Anonim 2011) = USD 750/ton Jumlah bibit yang dibutuhkan dalam 1 ha (batang)
= 10 000 m2 : 16 m2
Jumlah bibit yang dibutuhkan untuk luas area tanam 5000 ha = 625 batang
= luas area tanam x jumlah bibit dalam 1 ha = 5000 x 625 = 3 125 000 batang
Jumlah bibit untuk penyulaman
= 20% x 3 125 000 = 625 000 batang Total bibit yang dibutuhkan untuk 5000 ha
= 3 125 000 + 625 000 = 3 750 000 batang
Jumlah bibit rusak = TK bibit x Jml total bibit = 20% x 3 750 000 batang = 750 000 batang
Jumlah bibit sehat = 3 750 000 – 750 000 = 3 000 000 batang
Jumlah tanaman rusak = TK tanaman di tegakan x jml bibit sehat = 4% x 3 000 000
= 120 000 pohon Jumlah tanaman sehat
di tegakan = 3 000 000 – 120 000
= 2 880 000 pohon (± luas area 4608 ha) Kerugian di pembibitan = Jumlah bibit rusak x harga bibit/batang
= 750 000 x Rp. 20 000 = Rp. 15 000 000 000
Luas area 5000 ha perkebunan eucalyptus dapat menghasilkan volume bubur kertas layak panen sebesar 536 983.29 ton/ tahun. Jika diketahui jumlah tanaman sehat yang tersisa di tegakan sebanyak 2 880 000 pohon (estimasi yang ditanami tanaman eucalyptus sehat adalah seluas 4609 ha), maka volume