Temuan Penelitian
Usia responden termasuk pada kategori usia produktif yang sangat ideal dalam bekerja. Hal ini merupakan aset sumber daya manusia yang sangat potensial untuk dikembangkan, mengingat penyuluhan agama memerlukan terobosan baru dalam meraih tujuannya. Usia muda tersebut memungkinkan bagi PAI untuk secara maksimal bekerja, terutama dalam hal kemampuan fisik menyuluh sampai ke tempat-tempat terpencil yang jauh dari pusat kecamatan. PAI dengan usia muda tersebut juga dapat memikirkan berbagai inovasi terkait pekerjaannya secara lebih baik tanpa dihambat oleh daya pikirnya yang menurun.
Pendidikan nonformal responden cenderung tinggi menunjukkan adanya dukungan kebijakan pusat. Secara kedinasan, kesempatan mengikuti pendidikan nonformal bagi para PAI berasal dari empat sumber, yaitu: (1) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat melalui bidang yang berbeda, (2) Balai Diklat Keagamaan Bandung yang khusus memberikan pendidikan nonformal yang bersifat peningkatan kemampuan menyuluh, (3) Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan (4) Pemerintah kota/kabupaten yang diperuntukkan bagi para PAI untuk ikut membantu sebagian tugas dinas terkait. Namun demikian kesempatan pendidikan nonformal ini bukanlah merupakan kesempatan mengikuti pembinaan yang memuaskan PAI, karena materi yang disampaikan belum sesuai dengan kebutuhan dan realitas kondisi kelayan penyuluhan di lapangan.
Tingkat orientasi belajar responden adalah tinggi. PAI dari hari ke hari semakin sadar perlunya meningkatkan kemampuan belajarnya yang dilandasi oleh beberapa motivasi pribadi maupun kepedulian untuk ikut berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan di masyarakat. PAI saat ini sudah banyak yang menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terutama LSM lokal dalam upaya memberdayakan masyarakat. Tujuan PAI sangat sederhana yaitu ingin belajar cara menyelenggarakan pemberdayaan masyarakat melalui cara-cara pihak swasta menanganinya yang nantinya diharapkan akan dapat ditiru dan dikembangkan oleh PAI.
Beberapa subpeubah karakteristik pribadi menunjukkan kondisi yang perlu penguatan. Masa kerja responden yang belum berpengalaman akan mempengaruhi tingkat kepercayaan kelayan penyuluhan agama terhadap solusi yang ditawarkan PAI. Pendidikan formal yang standar di tengah beragamnya latar belakang pendidikan responden akan mempengaruhi kepercayaan kelayan penyuluhan agama terhadap kompetensi PAI. Tingkat kekosmopolitan responden yang rendah akan mempengaruhi tingkat wawasan responden terhadap inovasi di dunia kepenyuluhan yang cenderung stagnan terutama menghadapi permasalahan peserta penyuluhan yang semakin meningkat kualitasnya.
Terdapat beberapa penyebab dorongan afiliasi PAI terkategori tinggi, yaitu: (1) responden menyadari bahwa menjalin hubungan yang baik dengan kelayan penyuluhan akan memudahkan memenuhi kepentingan internal berupa kemudahan pelaksanaan penyuluhan agama, (2) mempermudah pengadaan administrasi untuk kenaikan pangkat dan secara eksternal, (3) PAI akan
mendapatkan berbagai informasi yang diperlukan dalam pengembangan penyuluhan termasuk dalam mengumpulkan informasi perkembangan kehidupan beragama di masyarakat sekitar, dan (4) pengawasan pimpinan yang akan menanyakan kondisi wilayah binaan terutama menyangkut masalah kehidupan beragama.
Peran motivator merupakan peran yang paling sering digunakan karena beberapa hal, yaitu: (1) PAI berada pada usia relatif muda yang masih dipenuhi oleh idealisme (2) memiliki kepedulian yang besar untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat, sehingga sangat tergerak untuk bersentuhan dengan masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat. Peran konselor merupakan peran yang terendah. Hal ini disebabkan karena keterbatasan pengalaman PAI akibat usianya masih muda, serta ketidaktersediaan materi khusus dalam pendidikan dan latihan tentang konseling. Padahal PAI semakin dituntut untuk menguasai kemampuan konseling baik untuk kelayan individual maupun kelayan kelompok.
Dukungan kelembagaan penyuluhan selama ini hanya menempatkan PAI sebagai petugas bukannya sebagai seorang penyuluh profesional. Hal ini terkait dengan minimnya dukungan fasilitas dan sumber informasi penyuluhan. Responden merasakan kelembagaan penyuluhan pusat atau Direktorat Penyuluhan Agama Islam sebagai organisasi induk seluruh PAI belum secara maksimal mempersiapkan berbagai perangkat baik kebijakan, program kerja, hasil penelitian kepenyuluhan maupun evaluasi program. Demikian pula dengan berbagai alat (baik alat bantu menyuluh maupun alat peraga penyuluhan) dan sumber informasi penyuluhan yang dibutuhkan penyuluh.
Selama ini PAI berada di bawah kepemimpinan Kasie PENAMAS yang struktural. Atasan PAI ini banyak yang diangkat bukan berasal dari PAI melainkan dari berbagai bidang yang tidak memahami dunia kepenyuluhan agama. Seringkali posisi Kasie dijadikan sebagai batu loncatan untuk menduduki jabatan yang lain yang setingkat. Kenyataan ini menjadikan dukungan atasan di bawah Seksi PENAMAS tidak akan mengalami perkembangan karena PAI lebih senior dan menguasai di bidangnya dibandingkan dengan atasannya.
Responden sangat terbantu dengan adanya aktivitas berbagai organisasi
keagamaan. Bentuk dukungan yang diberikan organisasi keagamaan lebih kepada
menjalankan kepentingan masing-masing, sehingga tidak ada keseragaman pandangan dan kesatuan langkah dalam kerangka penyuluhan agama di masyarakat. Berjalannya kegiatan yang seperti ini, menjadikan masing-masing pihak hanya berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri. Dukungan sosial yang relatif tinggi namun dilaksanakan untuk kepentingan masing-masing telah menjadikan PAI merasa penyuluhan agama sudah berjalan. Penyuluhan agama juga dilakukan oleh berbagai pihak sehingga tidak mendorong upaya lebih dari PAI untuk melakukan penyuluhan.
Kebutuhan berkreativitas merupakan kebutuhan yang paling tinggi dirasakan responden. Hal ini menandakan responden lebih memprioritaskan fokus pekerjaannya pada berkembangnya kelompok binaan sehingga anggota menjadi berdaya. Responden menyadari tidak ada waktu untuk menunggu bantuan fasilitas dan inovasi kepenyuluhan dari lembaga penyuluhan pusat. Dari pada tidak sama sekali, responden mencari berbagai inovasi yang paling mungkin dibuat seperti mengembangkan suasana pembelajaran yang kreatif dan berbagai program lintas sektoral melalui kerjasama dengan berbagai pihak.
Kompetensi PAI menurut persepsinya sendiri yang terlemah terletak pada kompetensi mengembangkan profesionalisme dan kompetensi mengembangkan penyuluhan. Dengan demikian, PAI menilai bahwa kompetensi mereka dalam mengembangkan keilmuan masih tertinggal. Beberapa ketertinggalan pengembangan keilmuan di antaranya: melaksanakan berbagai kegiatan karya tulis bidang penyuluhan agama berupa; buku, makalah atau artikel populer, ulasan ilmiah dalam bentuk buku atau makalah, membuat terjemahan dari buku asing dan meresensi buku, melaksanakan penelitian kepenyuluhan, dan membimbing PAI yang berada pada jenjang di bawahnya. Kompetensi PAI yang masih perlu perbaikan dilihat dari sisi pengembangan penyuluhan agama adalah dalam menyusun berbagai petunjuk juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknis (petunjuk teknis) kepenyuluhan agama, mengembangkan metode bimbingan, materi penyuluhan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan kelayan penyuluhan, menyusun konsep kepenyuluhan, dan membuat media penyuluhan.
Kelayan penyuluhan menilai bahwa kompetensi terlemah PAI terletak pada kompetensi menyelenggarakan penyuluhan dan mengembangkan kelompok. Ini berarti bahwa PAI menurut persepsi kelayan penyuluhan belum dapat memenuhi kebutuhan kelayan penyuluhan. Belum terpenuhinya kebutuhan kelayan terutama dalam hal, yaitu: materi yang kurang sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan kelayan penyuluhan, kurang melibatkan kelayan penyuluhan dalam perencanaan maupun evaluasi, kurang mampu menyelesaikan permasalahan kelayan yang disampaikan pada sesi tanya jawab atau konsultasi. Kelayan penyuluhan juga menilai bahwa pembinaan PAI terhadap kelompok binaannya masih sangat jauh dari harapan terutama dalam mendinamiskan kelompok binaan, memperbaiki administrasi kelompok binaan dan menjembatani berbagai kepentingan dan permasalahan kelompok binaan.
Menurut responden PAI, kompetensi yang tertinggi terletak pada kompetensi kemampuan komunikasi dan kompetensi kepemimpinan. Dengan kata lain PAI merasa dalam menjalankan pekerjaannya yang berkaitan dengan komunikasi senantiasa menyajikan materi dengan: intonasi yang jelas, menarik perhatian, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, menggunakan humor, mengaktifkan dialog, tanya jawab, diskusi, dan menyesuaikan banyaknya materi penyuluhan dengan kebutuhan kelayan penyuluhan.
Kompetensi PAI yang tinggi menurut persepsi kelayan penyuluhan terletak pada kompetensi bidang keahlian dan kompetensi menerapkan pendidikan orang dewasa. PAI dinilai kelayan penyuluhan sangat menguasai metode pembelajaran, mampu menguasai materi bidang keagamaan dan materi bidang pembangunan yang menggunakan bahasa agama serta fasih mengucapkan ayat Al Qur’an dan hadist. PAI juga dinilai kelayan penyuluhan sangat terbuka terhadap masukan dari kelayan penyuluhan, selain seringnya PAI dalam memancing pertanyaan dan mendorong belajar mandiri dalam menyelesaikan masalah keagamaan, serta empati PAI dalam menggali harapan-harapan kelayan penyuluhan.
Perbedaan persepsi tentang kompetensi PAI ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: (1) kebutuhan utama PAI terletak pada transfer pengetahuan yang akan mengakibatkan bangkitnya kesadaran beragama masyarakat dan mengembangkan kemampuan kelayan penyuluhan untuk menyelesaikan permasalahan secara mandiri. Sebaliknya pada kelayan penyuluhan, kebutuhan
mereka terletak pada kesesuaian materi penyuluhan yang disuluhkan oleh PAI terhadap kebutuhan kelayan penyuluhan serta kebutuhan untuk mendapatkan pembelajaran yang praktis, yang bersifat pemecahan masalah dari pada sekedar mendapatkan informasi atau ilmu; dan (2) kelayan penyuluhan berharap akan mendapatkan solusi atas permasalahan berkenaan dengan masalah keagamaan melalui aktivitasnya mengikuti penyuluhan agama serta kesinambungan kelompok binaan tempat kelayan penyuluhan belajar selama ini. PAI berharap meningkatkan kemampuan mengembangkan keilmuan melalui penalaran ilmiah dan mengembangkan sarana dan prasarana penyuluhan yang efektif.
Tingginya kompetensi PAI berbeda dengan beberapa hasil penelitian kepenyuluhan lainnya yang menunjukkan bahwa kompetensi penyuluh berada pada kategori rendah (Sumardjo 2010). Hal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut : (1) penyuluhan agama selama ini masih berada pada pelaksanaan penerangan dibandingkan penyuluhan, dan (2) standar kompetensi bagi penyuluh agama masih didasarkan pada pedoman lama sehingga belum sesuai dengan perkembangan tuntutan kebutuhan kelayan penyuluhan.
Kontribusi Hasil Penelitian terhadap Kompetensi Penyuluh Agama Islam Sesuai PMA No. 13 Tahun 2013
Selama ini PAI telah berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan kelayannya terutama dalam memahami ajaran agama Islam sesuai syariah. sehingga pada akhirnya akan terwujud suatu masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Untuk dapat memenuhi kebutuhan kelayannya tersebut, diperlukan suatu kompetensi PAI yang ideal yang unsur-unsurnya terdiri atas kompetensi personal, kompetensi profesional dan kompetensi manajerial.
Dalam hal kompetensi personal, PAI idealnya memiliki keahlian profesional, memahami kepenyuluhan dan pembelajaran secara terus menerus, mampu mengembangkan dirinya, menguasai bidang kepakarannya dan menguasai materi kepenyuluhan agama. PAI secara personal diharapkan memiliki kompetensi komunikasi yaitu menciptakan hubungan baik, memfungsikan relasi publik dan mampu menerapkan komunikasi yang efektif dalam penyuluhan. PAI yang ideal adalah mereka yang memiliki kompetensi profesional yaitu mampu melaksanakan penyuluhan dalam segala aspeknya, mampu membuat administrasi penyuluhan sebagai bentuk kesempurnaan pekerjaan, dapat memelihara profesionalisme kerjanya, mampu mengembangkan dan memberikan pengayaan terhadap kegiatan penyuluhan serta mampu menjalin kemitraan orang dewasa dan menghargai keragaman. Kompetensi penting bagi PAI selanjutnya adalah kompetensi manajerial, yaitu mampu memimpin organisasi, memberikan teladan, membangun team work dan mampu mengelola kelompok.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi PAI berada pada kategori tinggi. Tingginya kompetensi tersebut lebih banyak terjadi dalam hal melaksanakan kegiatan penyuluhan (kemampuan komunikasi, kepemimpinan, bidang keahlian, menyelenggarakan kegiatan penyuluhan, menerapkan pendidikan orang dewasa dan mengembangkan kelompok) meskipun dari sisi kelayan
penyuluhan agama justru kompetensi menyelenggarakan kegiatan penyuluhan ini menunjukkan kompetensi yang terlemah.
Tabel 5.1 Perubahan nomenklatur kelembagaan penyuluhan agama di lingkungan Kementerian Agama
No Tahun
Landasan
Hukum Jenis Struktur
Nomenklatur Tingkat Provinsi dan Tingkat
Kota/Kabupaten Kelembagaan Penyuluhan di Tingkat Kota/Kabupaten 1 1952 KMA No. 9 Tahun 1952 Organisasi masing- masing berdiri sendiri di daerah Berbagai Jawatan tingkat Provinsi maupun Kota/Kabupaten yang terpisah satu sama lain Jawatan Penerangan Agama Islam 2 1967 KMA No. 91 Tahun 1967 Organisasi disatukan dan diberlakukan secara vertikal tanpa tipologi Perwakilan Departemen Agama tingkat Provinsi maupun Kota/Kabupaten Seksi Penerangan Agama Islam 3 1971 KMA No. 53 Tahun 1971 Organisasi disatukan dan diberlakukan secara vertikal tanpa tipologi Kanwil Departemen Agama untuk tingkat Provinsi dan Kantor Departemen Agama untuk tingkat Kota/Kabupaten Seksi Penerangan Agama Islam 4 1981 KMA No. 45 Tahun 1981 Organisasi disatukan dan diberlakukan secara vertikal dengan tipologi Kanwil Departemen Agama untuk tingkat Provinsi dan Kantor Departemen Agama untuk tingkat Kota/Kabupaten Seksi Penerangan Agama Islam 5 2002 KMA No. 373 Tahun 2002 Organisasi disatukan dan diberlakukan secara vertikal dengan tipologi struktur baku Kanwil Kementerian Agama untuk tingkat Provinsi dan Kantor Kementerian Agama untuk tingkat Kota/Kabupaten Seksi Pendidikan Agama Islam pada Masyarakat dan Pemberdayaan Masjid 6 2012 PMA No. 13 Tahun 2012 Organisasi disatukan dan diberlakukan secara vertikal dengan tipologi struktur proporsional Kanwil Kementerian Agama untuk tingkat Provinsi dan Kantor Kementerian Agama untuk tingkat Kota/Kabupaten
Seksi Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf di Kabupaten Bogor dan Seksi Bimbingan Masyarakat Islam di Kota Bandung dan Kabupaten Ciamis Sumber :
Diadaptasi dari beberapa sumber
Dapat ditarik kesimpulan bahwa: (1) antara kebutuhan kelayan dan pelaksanaan penyuluhan agama terjadi kesenjangan, (2) kompetensi lainnya
meskipun menunjukkan tinggi, namun dalam realitanya masih menunjukkan belum optimal, dan (3) kompetensi yang paling lemah terletak pada pengembangan penyuluhan dan pengembangan profesionalisme. Penelitian ini juga menghasilkan temuan bahwa kurang tersedianya berbagai fasilitas penyuluhan yang mengindikasikan rendahnya dukungan penyuluhan terhadap peningkatan kompetensi PAI. Namun di sisi lain PAI dituntut untuk melaksanakan berbagai tugas dengan cakupan yang lebih luas sebagaimana nomenklatur terbaru.
Adanya perubahan nomenklatur Kementerian Agama pada tahun 2012 (yaitu pergantian KMA No. 373 Tahun 2002 yang berlaku hingga Desember Tahun 2012 dengan PMA No. 13 Tahun 2012 yang mulai berlaku efektif mulai Januari 2013) merupakan bagian dari suatu bentuk antisipasi terhadap berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat. Keberadaan Seksi PENAMAS sebagai leading sector penyuluhan agama di tingkat kota/kabupaten sejauh ini ikut menyesuaikan diri dengan perubahan struktur organisasi. Melihat latar sejarah perkembangan kelembagaan penyuluhan, Kementerian Agama telah melakukan restrukturisasi organisasi yang secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 5.1. Setelah berlaku struktur organisasi sebagaimana PMA No. 13 Tahun 2012 yang mulai berlaku efektif mulai Januari 2013, di antara daerah penelitian (Kabupaten Bogor di satu sisi dengan Kota Bandung dan Kabupaten Ciamis di sisi lain) ternyata terbagi menjadi dua tipologi.
Kompetensi yang semakin dituntut untuk dimiliki PAI seiring berlakunya PMA No. 13 Tahun 2012 yang mulai berlaku efektif mulai Januari 2013 adalah kompetensi bidang keahlian, yaitu dibutuhkan PAI Spesialis terutama dalam bidang zakat dan wakaf karena terjadinya penambahan tugas dengan bergabungnya fungsi dan tugas penyelenggara zakat dan wakaf sebelumnya ke dalam Seksi PENAMAS yang baru ini. Kecenderungan ke depan, stakeholders penyuluhan menuntut peran yang lebih besar pada PAI untuk ikut serta menyelenggarakan kegiatan penyuluhan dalam bidang pembangunan dengan menggunakan bahasa agama pada beberapa bidang garapan, seperti: penyuluhan produk pangan halal, penyuluhan antisipasi bahaya penyakit menular, penyuluhan narkotika dan obat-obatan terlarang, penyuluhan kesehatan reproduksi, penyuluhan antisipasi dan penanganan kekerasan dalam rumah tangga. Tidak terkecuali spesialisasi PAI dalam membina kerukunan antar umat beragama.
PAI dituntut untuk semakin memperkuat kompetensi mengembangkan profesionalisme karena adanya tuntutan untuk dapat menghimpun data terkait keberadaan kehidupan keagamaan di masyarakat beserta dinamikanya, seperti: observasi tentang keberadaan aliran yang menyimpang, observasi kasus penodaan agama atau observasi pelanggaran terhadap perundang-undangan terkait kerukunan antar umat beragama dan lain sebagainya. Kompetensi ini merupakan jawaban atas tantangan penyuluhan agama kekinian yaitu masalah aliran sesat yang banyak meresahkan masyarakat. Sebagaimana juga disampaikan Umar (2008) bahwa masalah yang bersentuhan dengan bimbingan masyarakat adalah masalah aliran sesat dan radikalisme.
Kompetensi kemampuan komunikasi akan semakin dituntut seiring dengan peran strategis PAI untuk mendorong kerukunan hidup antar umat beragama sehingga tercipta suasana kehidupan yang harmonis dan saling menghormati dalam semangat kemajemukan melalui dialog antar umat beragama.
Salah satunya dalam hal pendirian rumah ibadah dan kerukunan antar umat beragama. Sebagaimana dinyatakan Kementerian Agama bahwa salah satu dari tiga tugas PAI adalah meningkatkan kerukunan hidup beragama (Departemen Agama Kantor Wilayah Jawa Barat 2009b). Mengingat bahwa arah relasi sosial yang akan dijalin PAI ke depan akan meluas sampai lintas agama, maka kemampuan komunikasi PAI perlu ditingkatkan selain pemahaman tentang perbandingan agama.
PAI dituntut untuk meningkatkan kompetensi dalam mengembangkan kelompok mengingat bahwa beberapa program pemerintah seperti Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji (GM3) mensyaratkan pengembangan kelompok binaan yang dapat melayani pengajian di waktu setelah maghrib. Program lainnya yang menuntut peran lebih besar adalah dalam penanganan rohani anak jalanan (baik pengamen jalanan atau peminta-minta dengan membawa bayi) agar sesuai harapan masyarakat. Peran lebih besar juga diharapkan dalam peningkatan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah melalui kelompok koperasi syariah yang selama ini telah berjalan di daerah penelitian Kota Bandung.
Mengacu pada temuan penelitian tentang arah penguatan kebutuhan kompetensi PAI menuju ke arah kompetensi bidang keahlian, kompetensi mengembangkan profesionalisme, kompetensi kemampuan komunikasi dan kompetensi mengembangkan kelompok, dipandang perlu untuk merumuskan kembali standar kompetensi PAI yang selama ini mengacu pada Keputusan Bersama Menteri Agama dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 574 dan Nomor 178 Tahun 1999 (sudah 14 tahun sampai tahun 2013 ini) ke dalam situasi kekinian yang lebih dinamis dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melalui rumusan itu kemudian akan dapat dipetakan kompetensi yang lebih sesuai dengan zaman dan sesuai juga dengan kebutuhan masyarakat pengguna jasa penyuluhan agama, sehingga akan mengarah pada penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Sektor Penyuluhan Agama agar menjadi setara dan maju sebagaimana penyuluhan pembangunan yang lainnya seperti penyuluhan pertanian, penyuluhan kehutanan dan penyuluhan perikanan.
Model dan Strategi Peningkatan KompetensiPenyuluh Agama Islam di Tiga Daerah, Provinsi Jawa Barat
Dari 28 peubah dan subpeubah yang diduga berpengaruh terhadap tingkat pemenuhan kebutuhan dan kompetensi PAI sebagaimana hasil analisis statistik telah menghasilkan sejumlah peubah dan subpeubah yang berpengaruh nyata maupun sangat nyata, baik positif maupun negatif. Peubah dan subpeubah yang kritis yaitu yang memiliki pengaruh besar terhadap tingkat pemenuhan kebutuhan dan kompetensi PAI, selanjutnya akan dipergunakan untuk mengembangkan suatu model peningkatan kompetensi PAI di Tiga Daerah, Provinsi Jawa Barat.
Model yang diusulkan sangat terbuka terhadap masukan, fakta dan data dari hasil-hasil penelitian yang relevan untuk mendapatkan suatu model yang lebih baik, karena model pada umumnya tidak pernah sempurna dan final. Dengan demikian, model yang ditawarkan ini bersifat dinamis, artinya responsif dan
adaptif terhadap perubahan selain juga memberi kesempatan bagi pengembangan yang lebih maksimal. Model pada dasarnya merupakan representasi suatu fenomena baik nyata maupun abstrak dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting dalam fenomena tersebut (Mulyana 2001). Model ini (Gambar 5.1) disusun dengan menggunakan pendekatan sistem yang terdiri atas input (masukan), process (proses), output (hasil), outcome (manfaat) dan impact (dampak).
Model ini merupakan penggambaran kondisi riil temuan di lapangan terkait hasil penelitian dengan mengutamakan peubah dan subpeubah yang memiliki nilai standardized besar, yaitu yang berperan besar dalam menentukan tingkat pemenuhan kebutuhan dan kompetensi PAI. Namun demikian bukan berarti peubah dan subpeubah yang memiliki nilai standardized yang kecil tidak memiliki pengaruh, karena peubah dan subpeubah tersebut secara bersama-sama dengan peubah dan subpeubah lainnya memberikan pengaruh terhadap tingkat pemenuhan kebutuhan dan kompetensi PAI.
Model yang menggambarkan hubungan semua peubah dan subpeubah yang mempengaruhi tingkat pemenuhan kebutuhan dan kompetensi PAI digambarkan sebagaimana Gambar 5.1. Sesuai dengan gambaran model yang diperoleh dari hasil analisis statistik, maka model ini menggambarkan tingkat pemenuhan kebutuhan PAI akan dapat ditingkatkan ketika didukung oleh usia muda, peran edukator yang menonjol, dukungan kebijakan pusat yang kontinyu dan dukungan kepemimpinan atasan yang memfasilitasi. Peningkatan kompetensi PAI akan dapat dicapai ketika didukung oleh tingkat orientasi belajar yang berwawasan ke depan, motivasi yang berkembang, peran motivator yang tinggi, dukungan fasilitas dan sumber informasi penyuluhan yang cukup tersedia, kebutuhan informasi yang tercukupi dan tingkat pemenuhan kebutuhan PAI yang tinggi.
Kompetensi PAI yang tinggi yaitu penyuluh yang ahli di bidang kepenyuluhan agama, memiliki kemampuan komunikasi yang mengesankan, dapat menyelenggarakan penyuluhan dengan efektif dan efisien, memiliki kemampuan mengembangkan konsep kepenyuluhan agama secara tepat, memiliki kompetensi mengembangkan keilmuan dan metode kepenyuluhan agama secara baik, menguasai pembelajaran orang dewasa, memiliki kepemimpinan yang tinggi dan memiliki komitmen yang kuat untuk memandirikan kelompok binaan.
PAI yang berkompetensi tinggi akan menimbulkan kepercayaan di hati masyarakat khususnya kelayan penyuluhan untuk mengamalkan ajaran agama yang disuluhkan oleh PAI. Pelaksanaan penyuluhan secara jangka panjang akan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih berperan dengan ikut berpartisipasi mensukseskan pembangunan nasional serta mewujudkan masyarakat sejahtera lahir dan batin. Untuk menerapkan model peningkatan kompetensi PAI di Tiga Daerah, Provinsi Jawa Barat, maka diperlukan sebuah strategi yang merujuk pada temuan di lapangan. Maka itu, strategi yang disusun merupakan penjabaran operasional dari model yang telah dirumuskan melalui kajian deduktif dan diuji secara empiris.
Strategi secara sederhana adalah rencana, pola, cara, posisi, dan perspektif (Mintzberg 2010). Umar (2005) mendefinisikan strategi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Dalam implementasinya, strategi dijabarkan kepada tindakan operasional untuk mencapai tujuan. Strategi menterjemahkan visi menjadi tindakan dan via perencanaan reguler dan proses analisis, adalah cara sumberdaya
milik perusahaan akan dipergunakan untuk memperoleh dan mempertahankan keunggulan bersaing dan menghasilkan laba bagi semua pihak yag