BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Pembangunan Berbasis Masyarakat
Pembangunan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan yang tidak pernah kenal berhenti, untuk terus menerus mewujudkan perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat dalam rangka mencapai perbaikan mutu hidup, dalam situasi lingkungan kehidupan yang juga terus menerus mengalami perubahan-perubahan.
Menurut Siagian (dalam Ndraha 1990:11), Pembangunan adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (Nation Building).
Riyadi (dalam Theresia,dkk 2015:2), mengemukakan bahwa pembangunan adalah suatu usaha atau proses perubahan, demi tercapainya tingkat kesejahteraan atau mutu-hidup suatu masyarakat (dan individu-individu di dalamnya) yang berkehendak dan melaksanakan pembangunan itu. Pembangunan dimaksudkan untuk menghasilkan individu-individu yang senantiasa memiliki kepekaan tentang keadaan-keadaan yang akan terjadi, masalah-masalah yang sedang dan akan terjadi, alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan untuk mengatasi atau memecahkan masalah tersebut, dan dengan kemampuan sendiri (swakarsa, swadaya, swadana) mengambil keputusan untuk memilih alternatif-alternatif terbaik yang dapat dilaksanakan demi perbaikan mutu hidup masyarakat.
Menurut Theresia (2015:4) Pembangunan merupakan sesuatu yang dari, oleh, dan untuk masyarakat, sehingga pembangunan mensyaratkan perlibatan atau
“partisipasi seluruh warga masyarakat”, sejak pengambilan keputusan tentang perencanaan pembangunan, sampai pada pelaksanaan dan pengawasan kegiatan, serta pemanfaatan hasil-hasilnya oleh masyarakat.
Pembangunan bukanlah kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk masyarakatnya, tetapi kegiatan yang dilaksanakan pemerintah bersama-sama seluruh warga masyarakatnya.
Mardikanto (dalam Theresia 2015:6) menyatakan bahwa Pembangunan adalah upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana, dilaksanakan terus menerus oleh pemerintah bersama-sama segenap warga masyarakatnya atau dilaksanakan oleh masyarakat dengan difasilitasi oleh pemerintah, dengan menggunakan teknologi yang terpilih, untuk memenuhi segala kebutuhan atau memecahkan masalah-masalah yang sedang dan akan dihadapi, demi tercapainya mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat dari suatu bangsa yang merencanakan dan melaksanakan pembangunan tersebut.
Theresia (2015:20-21) mengemukakan bahwa dalam rangka perkembangan teori ekonomi politik dan pembangunan, terdapat aspek ideologi dan politik yang turut mempengaruhi pemikiran-pemikiran yang sedang berkembang. Salah satu diantaranya adalah teori ketergantungan yang dikembangkan berdasarkan keadaan di Amerika Latin pada tahun 1950-an. Ciri utama dari teori ini adalah bahwa analisisnya didasarkan pada adanya interaksi antara struktur internal dan eksternal dalam suatu sistem. Dalam teori ketergantugan (dependency) terdapat dua aliran, yaitu aliran Marxis dan Neo-Marxis, serta aliran Non-Marxis. Aliran Marxis dan Neo-Marxis merupakan aliran yang tidak membedakan secara tajam mana yang termasuk struktur internal dan eksternal, karena kedua struktur tersebut dipandang sebagai faktor yang berasal dari sistem kapitalis dunia itu sendiri, yang dimana aliran ini mengambil perspektif kelas internasional antara para pemilik modal (para kapitalis) di satu pihak dan kaum buruh di lain pihak. Menurut Frank (dalam Theresia 2015:21) untuk memperbaiki nasib buruh, maka perlu mengambil prakarsa dengan menumbangkan kekuasaan yang ada, oleh karena itu menurut aliran ini, resep pembangunan untuk daerah pinggiran adalah Revolusi. Sedangkan aliran Non-Marxis melihat masalah ketergantungan dari perspektif nasional atau regional, yang dimana menurut aliran ini struktur dan kondisi internal pada umumnya dilihat sebagai faktor yang berasal dari
sistem itu sendiri. Oleh karena itu, subjek yang perlu dibangun adalah “Bangsa” atau
“Rakyat” dalam suatu Negara (Nation Building).
Dalam menghadapi tantangan pembangunan maka konsep negara atau bangsa ini perlu dijadikan landasan untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan. Akibat timbulnya ketidakpuasan terhadap pelaksanaan teori-teori pembangunan di Negara-negara berkembang serta untuk mencari jalan ke arah pembangunan yang berkeadilan Maka Korten (dalam Theresia 2015:22) memunculkan teori baru yang menyajikan potensi-potensi baru yang penting guna memantapkan pertumbuhan dan kesejahteraan manusia, keadilan dan kelestarian pembangunan itu sendiri, yang kemudian disebut sebagai teori Pembangunan yang Berpusat pada Rakyat (People Centered Development), yang dimana teori ini menyatakan bahwa pembangunan harus berorientasi pada peningkatan kualitas hidup manusia, bukan pada pertumbuhan ekonomi melalui pasar maupun memperkuat Negara. Dikarenakan teori ini berbeda dengan teori-teori pembangunan yang ada, maka teori ini disebut sebagai teori pembangunan alternatif. Seperti halnya Korten, Friedmann (dalam Theresia 2015:24) berpendapat bahwa pembangunan alternatif sangat berpusat pada rakyat (manusia) dan lingkungannya ketimbang pada produksi dan keuntungan, yang ditujukan untuk mendorong kemajuan dan HAM. Dalam pembangunan alternatif yang dilaksanakan melalui program pembangunan masyarakat seringkali menggunakan pendekatan participatory rural appraisal (PRA). Menurut Chambers konsep PRA (1996:32) merupakan bentuk yang lebih partisipatif, yang dimana artinya orang luar lebih berperan sebagai orang yang mengadakan pertemuan, katalis dan fasilitator yang memungkinkan masyarakat melakukan dan membagi penyelidikan dan analisis tentang mereka sendiri. Dalam pembangunan berbasis masyarakat/pembangunan alternatif, selain menggunakan pendekatan participatory rural appraisal (PRA), juga akan menggunakan model pembangunan berupa model pembangunan “top-down” dan “bottom-up”.
Theresia (2015: 28) menyatakan bahwa pembangunan berbasis masyarakat merupakan pembangunan yang mengacu kepada kebutuhan masyarakat, direncanakan, dan dilaksanakan oleh masyarakat dengan sebesar-besarnya memanfaatkan potensi sumber daya (alam, manusia, kelembagaan, nilai-nilai sosial-budaya,dll) yang ada dan dapat diakses oleh masyarakat setempat. Pembangunan berbasis masyarakat seringkali dihubungkan dengan “pembangunan dari bawah”
sebagai yang lebih baik dibanding “pembangunan dari atas”. Pembangunan dari atas (top-down) menempatkan pemerintah pusat dan atau elit masyarakat sebagai pencetus gagasan, dengan asumsi mereka tahu yang terbaik bagi masyarakatnya, tanpa harus
pembangunan dari bawah (bottom-up) memberikan kesempatan kepada masyarakat (bawah) untuk berinisiatif sejak perencanaan, dengan asumsi bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, kebutuhan, serta cara-cara terbaik yang cocok dengan kondisi mereka.
Menurut MacDonald (dalam Theresia 2015:29) model “dari atas” ini disusun seputar penggunaan kepemimpinan profesional yang diberikan oleh sumber daya eksternal yang merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program pembangunan, sedangkan menurut David (dalam Theresia 2015:31) model pembangunan “dari bawah” berfokus pada bagaimana orang-orang dalam masyarakat bisa mengarahkan proses pembangunan mereka sendiri. Dalam model pembangunan
“dari bawah” terdapat strategi pembangunan sosial yang dikembangkan oleh Billups (dalam Theresia 2015:30) meliputi: (1) Mengembangkan partisipasi masyarakat yang komprehensif, (2) Pengembangan memotivasi masyarakat lokal, (3) Perluasan kesempatan belajar, (4) Peningkatan pengelolaan sumber daya lokal, (5) Replikasi pembangunan manusia, (6) Peningkatan komunikasi dan pertukaran, (7) Lokalisasi akses keuangan.
Goulet (dalam Theresia 2015:22) mengemukakan bahwa proses pembangunan harus menghasilkan (1) terciptanya “solidaritas baru” yang mendorong pembangunan yang berakar dari bawah (grassroots oriented), (2) memelihara keberagaman budaya dan lingkungan, (3) menjunjung tinggi martabat serta kebebasan bagi manusia dan masyarakat. Sedangkan Rahim (dalam Theresia 2015:8) mengungkapkan bahwa didalam setiap proses pembangunan pada dasarnya terdapat dua kelompok atau “sub sistem” pelaku-pelaku pembangunan, yang terdiri dari: (1) Sekelompok kecil warga masyarakat yang merumuskan perencanaan dan berkewajiban untuk mengorganisasikan dan menggerakkan warga masyarakat yang lain untuk berpartisipasi dalam pembangunan, (2) Masyarakat luas yang berpartisipasi baik dalam bentuk: pemberian input (ide, biaya, tenaga,dll), pelaksanaan kegiatan, pemantauan, dan pengawasan, serta pemanfaatan hasil-hasil pembangunan.
Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis simpulkan bahwa pembangunan bukan hanya berbicara tentang ekonomi dan politik saja, tetapi juga berfokus kepada pembangunan berbasis masyarakat. Pembangunan berbasis masyarakat merupakan pembangunan yang mengutamakan peran masyarakat didalam pembangunan, yang dimana masyarakat bukan hanya terlibat dalam pelaksanaan pembangunan atau masyarakat hanya ditempatkan sebagai objek dalam pembangunan, melainkan harus
diikuti keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan dan proses perencanaan pembangunan, atau masyarakat juga ditempatkan sebagai “subjek” utama yang harus menentukan jalannya pembangunan. Peran yang dimaksud berupa partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dalam pembangunan. Dimensi partisipasi menjadi sangat penting, dikarenakan melalui partisipasi kemampuan masyarakat dan perjuangan mereka untuk membangkitkan dan menopang pertumbuhan kolektif menjadi kuat.
Sesuai dengan dimensi/bentuk-bentuk partisipasi masyarakat menurut Huraerah (2008:116) yang menjadi tolak ukur dalam penelitian ini, yang dimana Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) di Kelurahan Tegal Sari Mandala III berjalan sesuai dengan tujuan dan sasaran kegiatan. Keberhasilan Program SANIMAS di Kelurahan Tegal Sari Mandala III dapat dilihat dari partisipasi masyarakat dalam memberikan ide pikiran/saran, memberikan sumbangan berupa tenaga, menyumbangkan harta benda berupa makanan/minuman, mengikuti kegiatan sosialisasi maupun rapat, dan ikut serta dalam membangun Program SANIMAS tersebut. Selain dari indikator partisipasi masyarakat, keberhasilan Program SANIMAS di Kelurahan Tegal Sari Mandala III dapat juga dilihat dari Efektivitas menurut Gibson (1994:32) yang terdiri dari efisiensi, produksi, kepuasan, adaptasi, dan perkembangan.
2.4 Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS)