Bab 7 Dampak dan Solusi Pandemi Terhadap Distorsi
7.2 Dampak
Fertilitas dan mortalitas merupakan diantara cara yang diperlukan untuk mengendalikan jumlah penduduk. Dinamisasi fertilitas dan mortalitas selama pandemi Covid-19 merupakan distorsi dari transisi demografi dikarenakan terjadinya perubahan pola fertilitas dan mortalitas selama pandemi merubah pola fertilitas dan mortalitas yang diharapkan yaitu penduduk dengan tingkat fertilitas dan mortalitas yang rendah.
7.2.1 fertilitas
Fertiltas dalam pengertian demografi dapat didefinisikan sebagai banyaknya bayi yang lahir hidup (Mahendra, 2019). Pada kondisi transisi demografi penurunan jumlah kelahiran (fertilitas) merupakan kondisi yang seharusnya terjadi. Namun, selama pandemi, jumlah kelahiran ini diprediksi akan mengalami kenaikan yang memungkinkan terjadinya baby boom, yang merupakan ledakan jumlah kelahiran akibat Covid-19 (Fuadi & Irdalisa, 2020;
Mahendra, 2019; Widiastuti et al., 2021). Apabila keadaan tersebut berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama, tentu angka kelahiran akan meningkat dan menjadi distrorsi dalam demografi (Puspa, 2020b)
Distorsi atau gangguan ini, jika terus terjadi, selanjutnya dapat mengganggu atau mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Terbatasnya akses kesehatan tidak hanya pada layanan kesehatan yang mengiringi jumlah kehamilan yang meningkat, memungkinkan terjadinya mekanisme dimana ibu-ibu dengan kehamilannya tidak memperoleh masukan gizi yang diperlukan.
Skenario lainnya yaitu bayi-bayi yang dilahirkan, para orang tuanya tidak memperoleh akses imunisasi yang seharusnya mereka dapatkan (Puspa, 2020a).
Berbagai kajian terdahulu menganalisis penyebab meningkatnya jumlah kelahiran selama pandemi, tentu asumsi ini menggunakan asumsi kondisi anomaly, yang berbeda dengan faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas jika pada kondisi normal (Mahendra, 2019). Beberapa penelitian terdahulu menyepakati bahwa yang menjadi pemicu terjadinya lonjakan fertilitas selama pandemi Covid-19 adalah berkurangnya akses terhadap layanan kesehatan, terutama terhadap layanan program perencanaan keluarga sebagai akibat dari berkurangnya akses terhadap fasilitas kesehatan (Chairani, 2020; Ertiana & Wulandari, 2021; Fuadi &
Irdalisa, 2020; Herawati et al., 2020; Tapscoot, 2009; Widiastuti et al., 2021; Yusita et al., 2020).
128
Berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terjadi penutunan jumlah layanan kesehatan reproduksi sebagaimana ditampilkan pada Tabel 7.1.
Berdasarkan data yang tertera pada Tabel 7.1, terjadi penurunan jumlah capaian peserta KB sebanyak 196524 atau sekitar 12,08%
di tahun 2020, jika dibanding capaian di tahun 2019. Tidak hanya capaian peserta KB, pelayanan KB selama periode Januari sampai dengan April 2020 juga mengalami penurunan sebesar 1179467, jika dibandingkan tahun 2019 (Mardiya, 2020).
Tabel 7.1 Data Layanan Kesehatan Reproduksi
No Tahun Capaian Peserta KB
1 2019 1823223
2 2020 1626699
Sumber:(Mardiya, 2020)
Selain capaian peserta KB dan pelayanan KB, kesadaran penggunaan penunda atau penjaga jarak kehamilan juga mengalami penuruan Data BKKBN menunjukan adanya penurunan penggunaan kontrasepsi di Bulan Maret 2020 jika dibandingkan penggunaannya di Bulan Februari 2020. Penurunan tersebut terjadi secara nasional pada periode yang sama, yaitu mengalami penurunan sekitar 35% - 47% (Mardiya, 2020).
Adanya penurunan pengguna layanan jasa kontrasepsi speperti dipaparkan menunjukkan berkurangnya pengguna kontrasepso selama periode awal terjadinya pandemic di Indonesia.
Hal ini membutuhkan evaluasi lebih lanju. Karena sebagaimana disebutkan sebelumnya kebutuhan menjaga kesehatan masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga juimlah kelahiran dan kematian.
Masih dalam periode yang sama, secara detail disampaikan penurunan peserta KB terlihat dari perubahan pemakaian beragam alat kontrasepsi sebagaimana ditampilkan pada Gambar 7.1. Jika dibandingkan penggunaan di Bulan Februari dan Maret 2020, pemakaian IUD di Bulan Februari sebanyak 36155, turun menjadi 23383 di Bulan Maret. Pemakaian implant di Bulan Februari
sebanyak 81062 menjadi 51536 di Bulan Maret. Pemakaian suntik dari 524989 di Bulan Februari turun menjadi 341109 dan Penggunaan pil dari 251619 turun menjadi 146767 (Puspa, 2020c).
Penelitian lainnya melihat fenomena kemunculan baby boomer selama pandemi dapat dikelompokan dari 2 (dua) persepektif, yaitu demografi dan sosiologi. Dimana secara demografis, kemunculan baby boomer didorong oleh faktor geografis dan struktur kependudukan, berupa kepadatan penduduk dan ketenagakerjaan. Sehingga untuk menghindari mobilitas penduduk, pada saat pembatasan sosial berskala besar banyak penduduk dan atau pekerja yang harus dirumahkan (Suswandari et al., 2021).
1000000 200000 300000 400000 500000 600000
IUD Implant Suntik Pil
IUD Implant Suntik Pil
Februari 2020 36155 81062 524989 251619 Maret 2020 23383 51536 341109 146767
Gambar 7.1: Data Penggunaan Alat Kontrasepsi Sumber: BKKBN, 2020 (Puspa, 2020c)
7.2.2 mortalitas
Mortalitas atau kematian merupakan peristiwa yang mengakhiri proses kehidupan, kehilangan nyawa dalam suatu organisme biologis (Fuadi & Irdalisa, 2020). Berdasarkan konsep tersebut, maka dapat dikatakan bahwa kematian terjadi ketika seseorang telah mengalami terlebih dahulu keadaan hidup (Ilpaj
130
& Nurwati, 2020). Mortalitas yang diharapkan rendah dalam kerangka konsep transisi demografi, justru mengalami pola kenaikan di Indonesia. Yogyakarta misalnya, terlaporkan bahwa terdapat 10 kematian dari 105 ibu hamil yang meninggal akibat Covid-19 berdasarkan data per Agustus 2021 (Biro Hubungan Masyarakat Kementrian Sosial Republik Indonesia, 2021)
Distorsi transisi demografi tersebut, menimbulkan dampak dari sudut pandang sosial, termasuk kependudukan.
Tidak sedikitnya jumlah kematian yang terjadi akibat Covid-19, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, menggunakan data yang dirilis UNICEF Indonesia dalam situs resminya, menyatakan bahwa Covid-19 telah menyebabkan lebih dari 25.000 anak telah kehilangan orang tuanya. Dari sejumlah anak yang kehilangan orang tua tersebut, sebagian besar kehilangan ayah, yaitu sebanyak 57%, dan sebanyak 37% kehilangan ibu, serta sekitar 5% kehilangan kedua orang tuanya. Lebih lanjut data dari UNICEF Indonesia tersebut memetakan bahwa mayoritas dari anak anak tersebut diasuh oleh anggota keluarga perempuan, dan lainnya sebanyak 114 anak tidak menerima pendampingan ataupun pengasuhan dari orang dewasa (Karana, 2021).
Informasi lain berhasil dikumpulkan dan diketahui dari sejumlah anak – anak yang tersebar di 7 Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Timur, per Agustus 2021, diketahui bahwa terdapat 166 anak yang saat ini kehilangan orangtua karena Covid-19, diantaranya mayoritas, yaitu 89 anak menjadi yatim, 58 anak menjadi piatu dan 12 anak menjadi yatim piatu. Sementara itu, di belahan Indonesia bagian lain yaitu Yogyakarta, teridentifikasi 142 anak yang kehilangan orangtuanya akibat Covid-19, berdasarkan pemetaan dari angka tersebut 92 anak kehilangan ayah, 31 anak kehilangan Ibu dan sisanya sebanyak 19 anak kehilangan kedua orang tuanya (Biro Hubungan Masyarakat Kementrian Sosial Republik Indonesia, 2021).
Dampak lanjutan dari kematian atau kehilangan orangtuanya, merujuk dari pemetaan UNICEF Indonesia (Karana, 2021), adalah:
Anak-anak yang masih bayi dan anak usia muda dari a)
keluarga berpendapatan rendah. Anak anak dengan kriteria tersebut diatas, berisiko dalam tumbuh kembang, korban penelantaran, kekerasan dan eksploitasi. Risiko lain adalah beban ekonomi yang dialami orang tua yang masih ada atau pengasuh pengganti dapat meningkatkan resiko anak-anak tersebut, terutama perempuan dan remaja, mengalami putus sekolah.
Anak–anak yang menjadi yatim piatu, serta kehilangan b)
pengasuhan.2nak-anak dengan kriteria tersebut diatas berisiko mengalami konsekuensi negatif berupa kemiskinan dan penempatan di lembaga pengasuhan.