• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembangunan Kependudukan Pada Wilayah Pengembangan Pusat- Pusat-Pusat Pertumbuhan Melalui Pengembangan Kawasan Strategis

Berdasarkan strategi pengembangan kewilayahan di dalam RPJMN 2010-2014 yang terkait dengan Provinsi Kepulauan Riau, Bintan dan Karimun merupakan salah satu lokasi Kawasan Perdagangan Bebas Pelabuhan Bebas (KPBPB) dari 4 lokasi di pulau Sumatera yang dilalui jalur perdagangan internasional dan menjadi buffer Negara maju di sekitarnya.

Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan melalui pengembangan kawasan strategis diarahkan untuk mencapai suatu pengelompokan kawasan fungsional yang memberikan backward dan forward linkages serta

multiplier effects bagi daerah di sekitar kawasan tersebut secara regional,

nasional, dan internasional untuk mengoptimalkan potensi pertumbuhan ekonomi daerah sehingga dapat meminimalisasi ketimpangan pembangunan antardaerah.

Dalam pembangunan dan pengembangan kawasan strategis sebagai pusat pertumbuhan, dibutuhkan sinergisme dan sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta badan pengelola kawasan dalam lingkup perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan. Dalam rangka optimalisasi pertumbuhan ekonomi dan menciptakan

multiplier effects bagi daerah sekitar baik dalam skala regional, nasional,

maupun internasional, dibutuhkan dukungan dan intervensi kegiatan pembangunan yang multisektor dalam mewujudkan pengembangan kawasan strategis dan dukungan terhadap pengembangan kawasan ekonomi khusus sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.

Laporan Akhir 4- 47

Dalam mendukung Kabupaten Bintan dan Karimun sebagai pengembangan pusat pertumbuhan melalui pengembangan kawasan strategis, maka perlu didukung dengan faktor produksi yang berkualitas. Diantara faktor produksi yang dibutuhkan bagi pengembangan pusat pertumbuhan tersebut adalah penduduk. Kinerja pembangunan sumberdaya manusia penduduk suatu wilayah dapat tercemin dari indeks pembangunan manusianya.

Wilayah Kabupaten Bintan dan Karimun yang berada disekitar Kota Batam dan Kota Tanjung pinang menjadikan penduduk diwilayah ini relatif lebih mudah untuk mengakses pelayanan pendidikan, kesehatan dan peningkatan daya belinya. Pada tahun 2010, Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Bintan mencapi 74,44 poin dan Kabupaten Karimun mencapai 73,64 poin. Tingkat pendidikan penduduknya yang relatif baik diharapkan akan mempermudah proses tranformasi daerah Kabupaten Bintan dan Karimun sebagai pengembangan pusat pertumbuhan melalui pengembangan kawasan strategis. Daya beli penduduk Kabupaten Bintan sebesar Rp. 646.570 dan Kabupaten Karimun Rp. 637.790 diharapkan mampu meningkatkan permintaan agregat wilayah yang akan mendorong penawaran agregat.

Tabel 4.26 : Indeks Pembangunan Manusia Wilayah Pengembangan Pusat-pusat pertumbuhan melalui Pengembangan Kawasan Strategis di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2010

Kabupaten/Kota Angka Harapan Hidup (Tahun) Angka Melek Huruf (%) Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun) Pengeluaran Perkapita Disesuaikan IPM Bintan 69,71 95,09 8,63 646,57 74,44 Karimun 69,91 95,82 8,09 637,79 73,64

Laporan Akhir 4- 48

1. Kondisi Umum

a. Kabupaten Bintan

Geografis

Kabupaten Bintan sebelumnya merupakan Kabupaten Kepulauan Riau, yang mempunyai ciri khas terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar di Lautan Cina Selatan dengan julukan kepulauan “Segantang Lada”. Berdasarkan UU No. 53 tahun 1999 dan UU No. 13 tahun 2000, Kabupaten Kepulauan Riau dimekarkan menjadi 3 kabupaten yang terdiri dari, Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Natuna. Berdasarkan PP No. 5 Tahun 2006, tanggal 23 Februari 2006 nama Kabupaten Kepulauan Riau berubah nama menjadi Kabupaten Bintan dengan ibukotanya Kijang, Kecamatan Bintan Timur.

Daerah Kabupaten Bintan merupakan bagian dari paparan continental yang terkenal dengan “Paparan Sunda” yang membentang dari Semenanjung Malaysia dibagian Utara sampai pulau Bangka dan Belitung dibagian Selatan. Berdasarkan PP No. 11 tahun 2007 dan Perda No. 12 tahun 2007 berisi tentang pembentukan kecamatan, desa/kelurahan baru di Kabupaten Bintan, hingga saat ini masih memiliki 10 wilayah kecamatan dengan 36 desa dan 15 kelurahan yang tersebar di Pulau Bintan dan pulau-pulau sekitarnya, serta terdiri dari 196 RW dan 592 RT.

Luas wilayah Kabupaten Bintan 88.038,54 km2, dan hanya 2,21% (1.946,13 km2) daratan dan luas lautan 86.092,41 km2. Kecamatan Gunung Kijang adalah daerah yang terluas 344,28 km dan yang terkecil adalah Kecamatan Tambelan 90,96 km. Kabupaten Bintan terdiri dari 240 pulau besar dan kecil daan hanya 39 pulau yang baru berpenghuni, namun pulau lainnya ada yang dimanfaatkan untuk pertanian khususnya untuk usaha perkebunan

Laporan Akhir 4- 49

Demografi

Distribusi penduduk Kabupaten Bintan Menurut wilayah terkonsentrasi di Kecamatan Bintan Timur sebanyak 39.006 jiwa atau 27,4 persen dan Bintan Utara sebanyak 21.193 jiwa. Sedangkan wilayah kecamatan dengan jumlah penduduk terendah terdapat di Kecamatan Mantang sebanyak 3.896 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 2.128 jiwa dan perempuan sebanyak 1.768 jiwa. Konsentrasi penduduk pada wilayah tertentu menyebabkan tingkat kepadatan penduduk pada wilayah tersebut meningkat. Tingkat kepadatan penduduk Kecamatan Bintan Utara pada tahun 2010 yaitu 97 jiwa/km, kepadatan tersebut lebih tinggi dari tingkat kepadatan penduduk di Kecamatan Bintan Timur yaitu 85 jiwa per Km2.

Tabel 4.27 : Jumlah Penduduk Kabupaten Bintan Menurut Luas, Jenis Kelamin, Kepadatan dan Kecamatan Tahun 2010

N0. Kecamatan Wilayah Luas

Penduduk

Total Jenkel Rasio Kepa-datan

Laki-laki Perem-puan

1 Teluk Bintam 185,00 4.755 4.179 8.934 114 48

2 Seri Kuala Lobam ..¹) 8.029 9.603 17.632 84 .. ¹)

3 Bintan Utara 219,25 10.643 10.550 21.193 101 97 4 Teluk Sebong 408,34 8.527 7.492 16.019 114 39 5 Bintan Timur 461,00 20.319 18.687 39.006 109 85 6 Bintan Pesisir .. ¹) 4.390 3.615 8.005 121 .. ¹) 7 Mantang .. ¹) 2.128 1.768 3.896 121 .. ¹) 8 Gunung Kijang 503,12 6.575 5.432 12.007 121 24 9 Toapaya .. ¹) 5.731 4.902 10.633 117 .. ¹) 10 Tambelan 169,42 2.568 2.407 4.975 107 29 Jumlah 1.946,13 73.665 68.635 142.300 107 73

¹) Bergabung dengan kecamatan induk Sumber : BPS, Bintan Dalam Angka 2011

Laporan Akhir 4- 50

Jumlah penduduk Kabupaten Bintan hasil regritasi penduduk yang dikeluarkan oleh BPS selama lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang terus meningkat, dimana pada tahun 2006 jumlah penduduk Kabupaten Bintan yakni 129.779 jiwa dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki yaitu 69.697 jiwa dan jumlah penduduk perempuan yaitu 60.082 jiwa. Kemudian pada tahun 2010 jumlah penduduk meningkat menjadi 142.300 jiwa dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki tetap lebih banyak yaitu 73.665 jiwa dibandingkan jumlah penduduk perempuan yaitu sebanyak 68.635 jiwa. Untuk lebih jelas tentang perkembangan penduduk Kabupaten Bintan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.28 : Jumlah Penduduk Kabupaten Bintan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2006 - 2010

Tahun Penduduk (Jiwa) Jumlah

(Jiwa) Pertumbuhan (%) Laju Laki-laki Perempuan 2006 69.697 60.082 129.779 2007 69.373 63.638 133.011 2,49 2008 70.097 66.124 136.221 2,41 2009 72.728 66.679 139.407 2,34 2010 73.665 68.635 142.300 2,08

Sumber: Bintan Dalam Angka 2011

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat perkembangan penduduk Kabupaten Bintan untuk beberapa tahun dan laju pertumbuhan penduduk yang tertinggi adalah pada tahun 2007 yaitu sebesar 2,49 persen dan rata-rata laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2006-2010 adalah sebesar 2,33 persen. Dapat dilihat bahwa setiap tahunnya terdapat pertambahan penduduk yang mungkin saja disebabkan oleh komponen demografi yakni kelahiran, kematian dan juga migrasi.

Laporan Akhir 4- 51

Penduduk dalam pembangunan mempunyai arti dan makna yang cukup mendalam. Di samping sebagai pelaku (subjek) penduduk juga merupakan tujuan (objek) dari pembangunan. Suatu pembangunan dapat dikatakan berhasil jika mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk dalam arti luas.

Dilihat dari struktur umur penduduk Kabupaten Bintan tergolong penduduk intermediate, Jika umur median antara 20 tahun sampai dengan 30 tahun. Sedangkan nilai median dari penduduk Kabupaten Bintan adalah dengan nilai 25,97. Atau dengan kata lain jumlah penduduk umur 0 – 14 tahun terletak antara 30–40 persen seperti terlihat pada tabel 2. Artinya Pemerintah Kabupaten Bintan dituntut untuk menyediakan sarana dan prasarana terutama pendidikan dasar dan pelayanan kesehatan yang lebih baik sehingga ke depan diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.

Kemudian persentase penduduk yang berumur antara 15–64 tahun berada di atas 60 persen menunjukkan jumlah penduduk usia produktif relative cukup tinggi sehingga di khawatirkan menimbulkan kerawanan pengangguran. Sedangkan dengan semakin meningkatnya persentase penduduk umur 65 tahun ke atas menunjukkan semakin meningkatnya angka harapan hidup, yang selanjutnya mencerminkan kualitas hidup yang semakin baik.

Struktur usia penduduk suatu wilayah akan mempengaruhi prioritas pembangunan yang dilaksanakan. Pada wilayah dengan penduduk usia muda, maka akan banyak membutuhkan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan dan terbukanya lapangan kerja. Sedangkan pada wilayah dengan struktur umur penduduk lebih banyak pada usia tua (lansia), maka prioritas pembangunannya lebih diarahkan pada penyediaan sarana dan prasaran kesehatan.

Laporan Akhir 4- 52

Tabel 4.29 : Jumlah Penduduk Kabupaten Bintan Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2010

Kelompok Umur

Penduduk

Jumlah Sex Ratio Laki-laki Perempuan 0-4 8.342 7.975 16.317 105 5-9 7.602 7.134 14.736 107 10-14 6.032 5.517 11.549 109 15-19 5.322 4.934 10.256 108 20-24 6.247 7.036 13.283 89 25-29 8.166 8.826 16.992 93 30-34 8.167 7.421 15.588 110 35-39 6.670 5.458 12.128 122 40-44 5.153 3.949 9.102 130 45-49 3.801 3.069 6.870 124 50-54 2.615 2.378 4.993 110 55-59 1.894 1.731 3.625 109 60-64 1.364 1.209 2.573 113 65-69 1.083 881 1.964 123 70+ 1.207 1.117 2.324 108 Jumlah 73.665 68.635 142.300 107

Sumber: Bintan Dalam Angka 2011

Dari tabel di atas dapat diketahui jumlah penduduk menurut kelompok umur dan juga dapat kita ketahui perbandingan antara penduduk laki-laki dan perempuan (sex ratio) dari penduduk Kabupaten Bintan adalah 107, yang artinya adalah setiap 100 orang penduduk perempuan terdapat 107 penduduk laki-laki. Dengan beban ketergantungan (dependency ratio) adalah 49, yang artinya bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung penduduk yang tidak produkstif sebanyak 49 orang.

Laporan Akhir 4- 53

Penduduk merupakan faktor produksi yaitu sebagai tenaga kerja yang digunakan sebagai faktor input dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Tenaga kerja merupakan penduduk usia 15 tahun ke atas. Pada usia ini penduduk dianggap telah mampu untuk berproduktivitas menghasilkan barang dan jasa. Jumlah penduduk usia kerja di Kabupaten Bintan pada tahun 2010 yaitu sebanyak 99.911 orang yang terdiri dari tenaga kerja laki-laki sebanyak 51.746 orang dan tenaga kerja perempuan sebanyak 48.165 orang.

Diantara penduduk usia kerja ada yang memutuskan untuk memilih bekerja dan ada yang masih bersekolah, mengurus rumah dan lainnya. Golongan yang bersekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya tersebut biasa disebut bukan angkatan kerja sedangkan yang memutuskan untuk bekerja disebut angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja pada tahun 2010 di Kabupaten Bintan sebanyak 62.736 orang. Dari jumlah angkatan kerja tersebut yang bekerja sebanyak 58.451 orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 4.275 orang.

Tabel 4.30 : Kondisi Ketenagakerjaan Kabupaten Bintan Tahun 2010

Keterangan Laki-Laki Perempuan Jumlah 1. Penduduk Usia Kerja (orang) 51.746 48.165 99.911 2. Angkatan Kerja 43.381 19.355 62.736

3. Bekerja 40.388 18.073 58.461

4. Mencari Pekerjaan 2.993 1.282 4.275 5 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) 83,83 40,18 62,79 6 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 6,9 6,62 6,81 7. Rata-Rata Jam Kerja (jam/minggu) 49 41 47

Laporan Akhir 4- 54

Perekonomian Daerah

Besarnya kontribusi sektor ekonomi terhadap perekonomian wilayah menunjukkan besarnya peranan sektor tersebut terhadap perekonomian wilayah. Kabupaten Bintan sebagai daerah yang dikembangkan untuk kawasan industri dan pariwisata, maka sektor-sektor yang terkait dengan pengembangan industri dan pariwisata cukup berkembang. Kontribusi sektor terhadap Produk Domestrik Regional Bruto atas dasar harga berlaku terbesar adalah sektor industri pengolahan dengan kontribusinya terhadap perekonomian Kabupaten Bintan sebesar 50,98 persen. Selain itu, Sektor kedua yang kontribusi cukup besar adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu sebesar 20,19 persen. Namun demikian berkembangnya sektor industri dan perdagangan kurang didukung oleh kertersediaan pasokan listrik, gas dan air bersih yang cukup, dimana kontribusinya hanya sebesar 0,32 persen.

Tabel 4.31 : Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Bintan Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2010

Lapangan Usaha Persentase

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 5,78

2. Pertambangan dan Penggalian 11,02

3. Industri Pengolahan 50,98

4. Listrik, Gas & Air Bersih 0,32

5. Bangunan 3,73

6. Perdagangan, Hotel & Restoran 20,19

7. Pengangkutan & Komunikasi 3,75

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 1,46

9. Jasa - Jasa 2,77

Jumlah 100

Laporan Akhir 4- 55

Pada tahun 2010 laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bintan sebesar 5,56 persen dengan laju pertumbuhan sektor antara 4 sampai dengan 8 persen. Laju pertumbuhan sektor tertinggi adalah sektor pertanian dengan laju pertumbuhan 7,89 persen. Sektor industri dan perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor yang banyak menggantungkan produksinya pada kebutuhan energi listrik. Sektor Listrik gas dan air bersih yang tumbuh sebesar 4,1 persen pada tahun 2010 mampu mendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan sebesar 4,61 persen dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 6,78 persen. Sektor tersier seperti pengangkutan dan komunikasi tumbuh sebesar 6,28 persen, sektor keuangan tumbuh sebesar 6,28 persen dan sektor jasa tumbuh sebesar 6,12 persen.

Tabel 4.32 : Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bintan Tahun 2010 atas Dasar Harga Konstan

Lapangan Usaha Persentase

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 7,89

2. Pertambangan dan Penggalian 6,11

3. Industri Pengolahan 4,61

4. Listrik, Gas & Air Bersih 4,1

5. Bangunan 6,85

6. Perdagangan, Hotel & Restoran 6,78

7. Pengangkutan & Komunikasi 5,84

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 6,28

9. Jasa - Jasa 6,12

Jumlah 5,56

Laporan Akhir 4- 56

b. Kabupaten Karimun

Geografi

Kabupaten Karimun merupakan sebuah kabupaten kepulauan yang terdiri dari 249 buah pulau, dimana semua pulau sudah bernama dan hanya sebanyak 54 pulau yang sudah berpenghuni (Data terakhir hasil verifikasi Pemerintah Daerah Kabupaten Karimun).

Secara geografis, Kabupaten Karimun terletak di antara 0o 35’ Lintang Utara sampai dengan 1o 10’ Lintang Utara dan 103o 30’ Bujur Timur sampai dengan 104o Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Karimun terdiri atas daratan dan perairan, yang secara keseluruhan kurang lebih seluas 7.984 Km2 . Batas-batas Kabupaten Karimun adalah :

Sebelah Utara : Philip Channel Singapura dan Semenanjung Malaysia

Sebelah Selatan : Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir

Sebelah Barat : Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Bengkalis dan Kecamatan Kuala Kampar Kabupaten Pelalawan

Sebelah Timur : Kota Batam

Secara umum Karimun mempunyai dataran yang datar dan landai dengan ketinggian antara 20 sampai 500 meter dari permukaan laut. Namun ada juga bagian yang berbukit-bukit dengan kemiringan sampai 40o serta ketinggian antara 20 sampai 500 meter. Di Karimun terdapat sebuah gunung yaitu Gunung Jantan dengan ketinggian 478 meter dan merupakan salah satu sumber mata air di Karimun. Kecamatan-kecamatan yang ada di Karimun ini juga mempunyai karakteristik yang hampir mirip.

Laporan Akhir 4- 57

Dari hasil pemantauan Stasiun Meteorologi Tanjung Balai Karimun, selama tahun 2010 kelembaban udara rata-rata harian berkisar antara 65 dan 87 persen dengan kelembaban maksimun tertinggi 100 persen sepanjang bulan, kecuali bulan Februari 92. Sedangkan kelembaban minimun terendah terjadi dibulan Maret sebesar 59 persen.

Sedangkan temperatur udara rata-rata berkisar 26,2o C dan 28,7oC, dengan suhu maksimum tertinggi 35,2oC pada bulan Mei dan minimum terendah sebesar 20,2o C di Bulan Januari.Jumlah hari hujan terbanyak yaitu selama 22 hari terjadi di bulan Juli.

Penduduk dan Ketenagakerjaaan

Jumlah penduduk Kabupaten Karimun pada tahun 2000 sebanyak 171.405 jiwa dan pada tahun 2010 meningkat menjadi sebanyak 212.561 jiwa. Dengan demikian, rata-rata pertumbuhan penduduk Kabupaten Karimun antara tahun 2000 sampai dengan 2010 setiap tahunnya sebesar 2,19 persen. Pertumbuhan penduduk menurut wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk Kabupaten Karimun terjadi pada Kecamatan Karimun (4,81 persen), Kecamatan Meral (3,32 persen), dan Kecamatan Tebing (2,99 persen).

Pertumbuhan penduduk pada Kecamatan Karimun yang cukup tinggi, selain disebabkan oleh faktor alamiah yaitu kelahiran dan kematian juga disebabkan oleh faktor migrasi penduduk. Mengingat kecamatan Karimun merupakan pusat pemerintahan, pendidikan, dan perdagangan serta industri bagi daerah-daerah lainya di Kabupaten Karimun. Infrastruktur dan aksesbilitas yang lebih lengkap mendorong penduduk melakukan migrasi ke kecamatan ini.

Laporan Akhir 4- 58

Tabel 4.33 : Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten Karimun, Hasil Sensus Penduduk 2000 dan 2010

Kecamatan Jumlah Penduduk Pertumbuhan 2000 2010 01. Moro 17.808 17.512 -0,17 02. Durai 4.831 5.821 1,9 03. Kundur 30.000 33.878 1,23 04. Kundur Utara 17.145 17.066 -0,05 05. Kundur Barat 14.210 16.146 1,3 06. Karimun 26.742 42.601 4,81 07. Buru 9.028 8.967 -0,07 08. Meral 32.269 44.627 3,32 09. Tebing 19.372 25.943 2,99 Jumlah 171.405 212.561 2,19

Sumber : BPS, Karimun Dalam Angka 2011

Pada tahun 2010 penduduk Kabupaten Karimun berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bawah penduduk laki-laki sebanyak 208.923 jiwa, lebih tinggi daripada perempuan yaitu sebanyak 103.638 jiwa sehingga total penduduk pada tahun 2010 sebanyak 212.561 jiwa. Dilihat menurut kecamatan pada umumnya penduduk laki-laki lebih banyak daripada penduduk perempuan kecuali pada Kecamatan Kundur, jumlah penduduk perempuan sebanyak 17.039 orang lebih banyak dari penduduk laki-laki yaitu 16.839 orang.

Laporan Akhir 4- 59

Tabel 4.34 : Penduduk menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin di Kabupaten Karimun, 2010

Kecamatan Jumlah Penduduk Jumlah Laki-Laki Perempuan 01. Moro 9.071 8.441 17.512 02. Durai 3.040 2.781 5.821 03. Kundur 16.839 17.039 33.878 04. Kundur Utara 8.815 8.251 17.066 05. Kundur Barat 8.289 7.857 16.146 06. Karimun 21.793 20.808 42.601 07. Buru 4.616 4.351 8.967 08. Meral 23.273 21.354 44.627 09. Tebing 13.187 12.756 25.943 Jumlah 108.923 103.638 212.561

Sumber : BPS, Karimun Dalam Angka 2011

Penduduk Kabupaten Karimun pada umumnya berada pada usia muda. Penduduk usia 15 – 64 tahun sebanyak 139.931 jiwa atau 65,83 persen. Komposisi penduduk pada usia muda tersebut menyebabkan prioritas pembangunan lebih diarahkan pada pengeluaran untuk membiayai usaha-usaha dalam upaya menciptakan kesempatan kerja sehingga dapat menekan tingkat pengangguran. Selain itu, penduduk Kabupaten Karimun yang berusia dibawah 15 tahun sebanyak 64.701 jiwa atau 30,44 persen dan usia diatas 64 tahun sebanyak 7.923 jiwa 3,73 persen. Kelompok usia tersebut sangat membutuhkan tersedianya fasilitas pelayanan pendidikan dan kesehatan.

Laporan Akhir 4- 60

Tabel 4.35 : Penduduk menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Karimun, 2010

Kelompok Umur Laki-Laki Perempuan Jumlah

0 – 4 11.370 10.601 21.971 5 – 9 11.360 10.862 22.222 10 – 14 10.534 9.974 20.508 15 – 19 9.375 8.683 18.058 20 – 24 8.581 8.269 16.850 25 – 29 9.826 10.285 20.111 30 – 34 10.077 10.072 20.149 35 – 39 9.022 8.269 17.291 40 – 44 7.334 6.603 13.937 45 – 49 6.337 5.586 11.923 50 – 54 5.011 4.765 9.776 55 – 59 3.829 3.326 7.155 60 – 64 2.325 2.356 4.681 65 – 69 1.818 1.769 3.587 70 – 74 1.211 1.143 2.354 75+ 910 1.072 1.982 TT 3 3 6 Jumlah 108.923 103.638 212.561

Laporan Akhir 4- 61

Jumlah penduduk usia kerja di Kabupaten pada tahun 2010 sebanyak 147.860 orang yang terdiri dari laki-laki sebanyak 75.659 orang dan perempuan sebanyak 72.201 orang. Dari jumlah penduduk usia kerja tersebut sebanyak 61,66 persen merupakan angkatan kerja dan sebanyak 38,34 persen merupakan bukan angkatan kerja. Penduduk usia kerja yang telah bekerja sebanyak 54,42 persen dan sebanyak 7,24 persen dengan status mencari pekerjaan.

Tabel 4.36 : Persentase Penduduk 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan Utama Selama Seminggu yang Lalu dan Jenis Kelamin di Kabupaten Karimun, 2010

Keterangan Laki-Laki Perempuan Jumlah 1. Angkatan Kerja 83,94 38,32 61,66

1.1 Bekerja 79,44 28,2 54,42

1.2 Mencari Pekerjaan 4,5 10,12 7,24 2. Bukan Angkatan Kerja 16,06 61,68 38,34

2.1 Sekolah 8,16 8,06 8,11

2.2 Mengurus rumahtangga 4,64 49,61 26,6

2.3 Lainnya 3,27 4,01 3,63

Jumlah 100 100 100

Penduduk 15 tahun keatas Tahun 2010 75.659 72.201 147.860

Sumber : BPS, Karimun Dalam Angka 2011

Penduduk Kabupaten Karimun sebagian besar (31,79 persen) bekerja pada sektor pertanian. Wilayah Kabupaten Karimun yang berada di antara Kota Batam, Singapura, Malaysia, Kepulauan Riau dan Riau. Hal ini menjadikan Karimun sebagai tempat yang sangat strategis terutama untuk berbagai kegiatan perekonomian. Namun demikian, peluang ini belum dapat diambil secara baik oleh tenaga kerja lokal, hal ini tercermin dari penduduk yang bekerja pada sektor industri sebesar 2,72 persen.

Laporan Akhir 4- 62

Tabel 4.37 : Persentase Penduduk 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Karimun tahun 2010

Lapangan Usaha Persentase

01. Pertanian 31,79

02. Pertambangan 4,25

03. Industri 2,72

04. Listrik, Gas dan Air 0,5

05. Konstruksi 12,03

06. Perdagangan 18,12

07. Angkutan dan Komunikasi 5,81

08. Keuangan 0,63

09. Jasa 20,1

10. Lainnya 4,05

Jumlah 100

Sumber : BPS, Karimun Dalam Angka 2011

Posisi strategis Kabupaten Karimun seharusnya dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh penduduk di Kabupaten Karimun. Mengingat kualifikasi kebutuhan tenaga kerja disektor industri lebih kompleks dibandingkan dengan sektor pertanian, maka kualitas tenaga kerja yang ada juga harus disediakan sesuai dengan spesialisasi yang dibutuhkan pada sektor industri.

Sebagai daerah otonom baru, Kabupaten Karimun terus melakukan pembangunan diberbagai bidang termasuk penyediaan infrastruktur yang dapat menyerap kesempatan kerja sebanyak 12,03 persen. Meningkatnya daya beli masyarakat juga telah mendorong aktifitas ekonomi masyarakat melalui kegiatan perdagangan yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 18,12 persen. Seiring berkembangnya aktifitas ekonomi masyarakat, kegiatan jasa kemasyarakatan juga terus berkembang dan mampu membuka kesempatan kerja sebesar 20,1 persen.

Laporan Akhir 4- 63

Perekonomian Daerah

Ekonomi Kabupaten Karimun pada tahun 2010 mampu tumbuh sebesar 6,56 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2009 yaitu sebesar 6,23 persen. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Karimun atas dasar harga berlaku tahun 2010 mampu menciptakan nilai tambah sebesar 4.287 milyar rupiah, dan atas dasar harga konstan tahun 2000 nilai PDRB tahun yang sama sebesar 2.041 milyar rupiah.

Tabel 4.38 : Distribusi Persentase PDRB atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha, 2008 dan 2010

Lapangan Usaha 2008 2010

1. Pertanian/ Agriculture 27,68 26,69 2. Pertambangan & Penggalian 7,84 7,09

3. Industri Pengolahan/ 8,24 8,71

4. Listrik & Air Bersih 0,33 0,34

5. Bangunan 7,54 9,22

6. Perdagangan, Hotel & Retoran 26,61 26,47 7. Pengangkutan & Komunikasi 13,62 13,18 8. Keuangan, Persewaan & Jasa 3,09 3,13

9. Jasa-jasa 5,05 5,17

Total 100 100

Sumber : BPS, Karimun Dalam Angka 2011

Pada tahun 2010 sektor-sektor yang menjadi andalan dalam perekonomian Kabupaten Karimun adalah sektor pertanian sebesar 26,69 persen, sektor perdagangan,hotel,restoran sebesar 26,47 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 13,18 persen, dan sektor industri pengolahan sebesar 8,71 persen.

Laporan Akhir 4- 64

2. Isu dan Permasalahan Pembangunan Kependudukan Pada Wilayah Pengembangan Pusat-Pusat Pertumbuhan Melalui Pengembangan Kawasan Strategis.

Isu dan permasalahan pembangunan pada wilayah pengembangan kawasan strategis antara lain sebagai berikut :

a. Belum optimalnya pemanfaatan lokasi Bintan, Karimun dan Batam yang dekat dengan Singapura sebagai pusat perdagangan dunia, juga dengan Asia Timur (Cina, Taiwan, Korea Selatan, Vietnam dan Malaysia) yang merupakan kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan perdagangan paling tinggi di dunia. Ini ditandai dengan masih minimnya upaya kerjasama pembangunan dengan negara tetangga terutama dalam aspek perekonomian, perdagangan dan budaya, seperti kawasan perdagangan bebas (free

trade zone, FTZ).

b. Belum adanya rencana tata ruang termasuk tata ruang laut yang terintegrasi dan detail bagi pembangunan infrastruktur yang berkualitas dan merata. Hal ini menyebabkan berkurangnya minat investor dalam membangun ekonomi dan mengelola potensi daerah. Selain itu belum adanya RTRW Batam, Bintan dan Karimun yang telah disahkan baik oleh pemerintah daerah (Perda) maupun keputusan pemerintah pusat mengakibatkan pelaksanaan kebijakan Free Trade Zone (FTZ) masih dirasa belum efektif

c. Masih minimnya dukungan sektor industri dalam meningkatkan nilai tambah hasil produksi tangkapan nelayan dan hasil panen petani

Laporan Akhir 4- 65

d. Masih rendahnya kualitas SDM yang meliputi keterampilan (kemampuan menerapkan IPTEK dan manajemen); jiwa wirausaha (entrepreneurship). Hal ini tercermin dari rata-rata lama bersekolah penduduknya masih dibawah 9 tahun. Artinya penduduk pada kawasan strategis rata-rata belum tidak tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

e. Masih rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, terutama untuk masyarakat di daerah perdesaan dan pulau-pulau kecil yang jauh dari pusat kota serta kawasan kumuh (slum areas) perkotaan. Hal ini disebabkan oleh biaya berobat dan perawatan kesehatan yang relatif mahal, rendahnya perluasan dan peningkatan mutu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin), terbatasnya ketersediaan tenaga medis dan fasilitas kesehatan terutama di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu serta kurangnya kemampuan, kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan.

f. Masih rendahnya perkembangan sektor listrik (pasokan energi listrik), gas dan air bersih yang dapat menekan laju pertumbuhan ekonomi terutama sektor industri, perdagangan hotel dan restoran sebagai akibatnya dapat mempengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja.

Dokumen terkait